Thursday, December 27, 2012

Masjid Arrahmah, Masjid Terapung kota Jeddah

Masjid terapung laut merah di kota Jeddah Saudi Arabia, dulunya bernama Masjid Fatimah, lalu diganti dengan nama Masjid Arrahmah. (foto dari imageplanet)

Masjid satu ini boleh jadi adalah masjid paling popular di kota Jeddah bagi para jemaah haji ataupun jemaah umroh, termasuk jemaah dari Indonesia. Nama ‘masjid terapung laut merah’ seolah telah melekat dalam daftar kunjungan yang disiapkan oleh para penyelenggara ibadah haji dan umroh di tanah air, walaupun sebenarnya tak ada keistimewaan apapun dalam kaitannya dengan ibadah haji ataupun umroh dengan masjid satu ini, tak ada kaintannya juga dengan sejarah Islam serta tak ada keistimewaan pahala sholat di masjid ini, kunjungan ke sini hanya sebatas wisata.

Awalnya masjid ini sempat diberi nama masjid Fatimah, dikemudian hari pengunjung ke masjid ini se-akan terpeleset lidah menyebut nama masjid ini menjadi Masjid Fatimah Az-Zahra, dan dikait kait kan dengan Nama putrid Rosulullah S.A.W tersebut, sampai kemudian pemerintah Saudi Arabia mengubah nama masjid ini menjadi Masjid Arrahmah hingga hari ini. penggantian nama tersebut memang disengaja, salah satu alasannya adalah untuk menghindari salah pengertian diantara para jemaah terkait dengan keberadaan masjid ini.

Masjid Arrahmah
Corniche Road, Al Shati Jeddah 23613 Arab Saudi


View Masjid Arrahmah Jeddah in a larger map

Masjid Arrahmah ini berdiri di kawasan Jeddah Corniche atau Jeddah Kurnis, kawasan baru yang dikembangkan oleh otoritas setempat sebagai kawasan wisata disepanjang pantai laut merah. Laut merah-nya sendiri memang disebutkan dalam Al-Qur’an dalam kisah Nabi Musa A.S. yang dikejar oleh Fir’aun dan tentaranya kemudian atas izin Allah S.W.T beliau berhasil menyeberangi laut merah yang terbelah hingga selamat sampai ke Palestina bersama para pengikut setianya, sedangkan Fir’aun dan bala tentaranya tewas ditelah oleh laut merah.

Kota Jeddah sendiri sudah berdiri sejak sebelum Islam, namun titik awal perkembangan pesat kota ini terjadi pada masa pemerihan Khalifah Usman Bin Affan, Khalifah ke-tiga dari jajaran Khulafaur Rasyidin. Di tahun ke 26 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 647M. Beliau yang pertama kali menjadikan kota Jeddah sebagai kota pelabuhan laut internasional bagi jemaah haji yang yang datang dari seluruh penjuru dunia, menjadikan Jeddah sebagai gerbang utama bagi para calhaj untuk menuju ke Mekah dan Madinah karenanya kota Jeddah juga mendapatkan julukan sebagai “pintu gerbang dua tanah haram”.

Masjid Arrahmah dari udara (foto dari Hatim AL-harbi)
Kota Jeddah juga sangat terkenal sebagai tempat peristirahatan terahir ibu semua manusia, Siti Hawa, Istri dari Nabi Adam A.S. karenanya Jeddah sendiri seringkali diartikan sebagai ‘nenek’ dalam kaitannya dengan sejarah tersebut. Makam Bunda Hawa berada di kawasan pemakaman kuno di pusat kota Jeddah. Makam ini dikenal sebagai Moqbara Umna Hawwa (makamnya bunda Hawa). Meskipun begitu banyak aturan yang harus dipatuhi saat berziarah ke makam ini, diantaranya adalah dilarang membawa kamera, video dan alat perekam lainnya dan wanita dilarang masuk ke areal pemakaman tersebut.

Seperti halnya kota metropolitan lainnya di bagian dunia yang lain, kota Jeddah juga senantiasa bersolek, kawasan kurnis kota Jeddah tempat masjid terapung ini berada merupakan salah satu kawasan yang di tata begitu indah dan sangata menawan. Wajar bila kemudian kota Jeddah pun mendapat julukan sebagai “pengantin perempuannya laut merah”, dan mengingat kota ini begitu ramai sejak masa ke khalifahan, kota Jeddah pun mendapat julukan sebagai "Kota di tengah Pasar".

Kawasan Kurnis Kota Jeddah

Satu lagi foto masjid Arrahmah dari udara, Masjid Arrahmah di kurnis kota Jeddah. satu dari beberapa masjid terapung yang ada di kawasan yang sama. (foto dari julycool di panoramio
Pemerintah Saudi Arabia menyulap kawasan pantai kota Jeddah yang menghadap ke Laut Merah menjadi sebuah kawasan kota baru yang terkenal dengan sebutan Jeddah cornice. Kata Kurnis atau Corniche berasal dari bahasa Prancis route à corniche yang bermakna ruas jalanan ditepian terjal.  Namun kemudian kata kurnis itu sendiri bergeser makna menjadi sebuah kawasan terbuka yang luas di tepian badan air. Ada banyak tempat seperti ini yang terkenal diantaranya adalah Corniche of beirut di Libanon, corniche of Alexandria di Mesir, dan tentu saja adalah Corniche of Jeddah ini.

Proyek pengembangan kawasan kurnis kota Jeddah ini berhasil menyabet penghargaan ‘Big Project Middle East Award” di bulan Desember 2012 yang diselenggarakan oleh Big Project Middle East Magazine, yang memberikan penghargaan bagi perusahaan ataupun individu yang telah berkontribusi bagi pembangunan dan industry yang berkelanjutan di negara negara teluk.

Bila anda berharap menemukan masjid yang benar benar terapung di atas laut merah ketika akan berkunjung kemari, pastinya anda akan kecewa. Karena memang bangunan masjid ini tidaklah benar benar mengapung di atas air, melainkan dibangun diatas tiang pancang yang ditancapkan ke laut. kesan pandangan mata dari arah seberangnya lah yang menampilkan pemandangan seakan akan masjid ini mengapung di atas air (foto oleh dari Ayah ku).
Masjid Ar-Rahmah ini bukanlah satu satunya masjid yang ada di kawasan Kurnis kota Jeddah. Tapi ada beberapa masjid lainnya yang berukuran lebih kecil dibangun di sepenjang pantai tersebut sebagai fasilitas keagamaan bagi muslim mana saja yang sedang berada di kawasan tersebut. Diantara masjid masjid tersebut adalah Island Mosque atau Masjid Pulau, Masjid Ruwais dan masjid Kurnis yang semuanya berhasil mendapatkan penghargaan dari Aga Khan Award of Architecture.

Masjid Terapung Kota Jeddah

Meskipun begitu banyak ulasan terkait masjid terapung kota Jeddah yang satu ini. namun sangat sedikit informasi yang menjelaskan lebih detil tentang sejarah pembangunannya. Berbagai sumber tulisan yang ada di dunia maya menyebutkan bahwa masjid ini dibangun oleh seorang janda kaya kota Jeddah, namun sama sekali tak menyebut siapa namanya, kapan dibangunnya dan berapa biaya yang dihabiskan untuk proyek pembangunannya. Namun satu hal yang pasti bahwa pembangunan masjid ini telah menjadi inspirasi banyak negara untuk membangun masjid serupa.

Sisi mihrab di masjid Arrahmah. Saya tidak melihat adanya mimbar di bagian ini, hanya ada mihrab bergaya mughal dengan denah setengah lingkaran. Ayahku yang mengabadikan foto ini juga berada disana tidak bertepatan diwaktu sholat Jum'at jadi tidak sempat membuktikan apakah masjid ini juga dipakai untuk sholat Jum'at atau hanya untuk sholat lima waktu saja. ada yang tahu info nya ? silahkan ditulis dibagian komentar ya.
Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa ‘masjid terapung’ yang dibangun. Diantaranya adalah Masjid Munawaroh di Ternate, Masjid Terapung Kota Palu, dan Masjid Terapung Kota Makasar. belum lagi yang masih dalam tahap pembangunan seperti Masjid terapung Al-Alam di Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara dan Masjid Terapung Banten (MTB) yang baru saja dicanangkan oleh pemerintah provinsi Banten. Satu decade belakangan ini pembangunan masjid terapung seakan menjadi trend baru di berbagai negara Islam.

Meskipun sebenarnya semua masjid yang disebut sebagai masjid terapung tersebut mulai dari Masjid Hasan II di Maroko, masjid masjid terapung kota Jeddah termasuk Masjid Arrahmah ini, masjid masjid masjid terapung di Malaysia (barat dan timur) hingga ke masjid Al-Munawwaroh di Ternate, Masjid terapung kota Palu hingga Makasar, tak satupun yang benar benar mengapung di atas air. Namun sebuah masjid yang dibangun di atas landasan yang di tancapkan ke dasar laut tempatnya berdiri atau sebagian landasannya berada di dalam air laut.

Panorama Masjid Arrahmah foto dari Sakhr Abdullah di panoramio.

Nama Masjid Terapung kota Jeddah

Masjid Terapung kota Jeddah yang kita ulas ini pada awalnya diberi nama “Masjid Fatimah”. Fatimah yang dimaksud adalah nama Ibunda dari pembangun masjid ini, tak kaitannya dengan Fatimah Az-Zahra putrid Nabi dan tak ada kaitannya dengan sejarah Islam ataupun sejarah Saudi Arabia. Namun dikemudian hari masyarakat luas mengait ngaitkan nama tersebut dengan ‘Fatimah Az-Zahra” putri Rosulullah S.A.W. Keberadaan masjid ini pun seakan akan ada kaitannya dengan putri nabi dan sejarah Islam.

Untuk mencegah salah penafsiran yang berkepanjangan, ditambah dengan kenyataan bahwa masjid ini telah menjadi salah satu kunjungan pavorit jemaah dari Asia (termasuk Indonesia) serta terutama dari Iran, serta untuk meluruskan informasi, maka pada bulan Desember tahun 2010 lalu pemerintah kota Jeddah mengubah nama masjid ini dari “Masjid Fatimah” menjadi “Masjid Arrahmah”.

Seringnya jemaah Asia (terutama yang paling banyak dari Indonesia) melaksanakan sholat berjamaah ganda di dalam masjid ini, sampai sampai pengurus masjid memasang larang melakukan sholat berjamaah ganda di dalam masjid ini. (Foto dari Faruk Ramzi di Kompasiana)

Jemaah Sholat Ganda di Masjid Arrahmah

Boleh jadi masjid ini satu satunya masjid di dunia yang pengurusnya sampai sampai memasang larangan sholat berjamaah lebih dari satu kelompok, menggunakan pengumuman permanen yang dipasang di dalam masjid. mungkin karena jemaah haji dan umroh yang datang ke Saudi Arabia datang dalam kelompok kelompok sesuai dengan agen perjalanannya sehingga masing masing mereka melaksanakan sholat berjamaah di dalam masjid dalam masing masing kelompok dan enggan bergabung dengan jemaah yang sudah ada dan sedang berlangsung di dalam masjid. Padahal hal tersebut tidak diperbolehkan. Semestinya jika didalam masjid tersebut telah ada group sholat berjammah maka anda tinggal mengikuti jammaah tersebut, jika tertinggal rakaatnya tinggal (masbuk) tinggal melanjutkan sejumlah rakaat yang telah tertinggal.

Daya Tarik Masjid Arrahmah

Masjid berukuran sekitar 20 x 30 meter ini memang cukup menarik untuk dikunjungi. Bagian dalam masjid dihias dengan banyak tulisan kaligrafi. Bukan hanya Masjid Terapung yang bisa dinikmati, air Laut Merah pun menjadi objek favorit jemaah. Bangunan masjid yang menggabungkan arsitektur modern dan seni bangunan Islam kuno. Memiliki ruang sholat yang luas dengan dekorasi sangat indah, dilengkapi peralatan berteknologi terbaru terutama dalam hal sound system. Sementara  selama musim dingin,  disediakan keran-keran air hangat.

Interior masjid Arrahmah ini memang cukup menawan, cahaya alami matahari masuk ke dalam ruang utama dengan lembut melalui celah diantara kubah utama dan atapnya. Bukaan jendela yang lebar, penyejuk udara, karpet lembut dan suasana yang nyaman (foto dari arminarekajatim)
Dekorasi interior yang fantastik, gaya arsitektur dan pencahayaan atap yang sempurna, memberikan kenyamanan  tersendiri bagi pengunjung Masjid Terapung Jeddah. Saat subuh, masjid terlihat mengagumkan,  dimana sinar matahari yang masih sangat redup menjadi latar bagi masjid dengan lampu-lampu yang terlihat berkilauan. Sementara, posisinya yang tepat di pantai Laut Merah membuat atmosfir Masjid Terapung terasa menyenangkan di malam hari.***

Referensi

jafariyanews.com - saudis_change_Masjid_Fatimah
scta.gov.sa - historical jeddah
spirithaji.com - jeddah-dan-masjid-terapung

----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Dunia Arab Lainnya


2 comments:

  1. Subhanallah. Kapan lagi kami bisa berkunjung ke Masjid terapung di Laut Merah Jeddah

    ReplyDelete

Dilarang berkomentar berbau SARA