Friday, June 17, 2016

Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah

Perpaduan tradisional dan modern di Masjid Menara Kudus

Salah Satu Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Menara Kudus sebenarnya bernama Masjid Al-Aqso, merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Bangunan aslinya masih bisa dijumpai hingga kini meski sudah mengalami perbaikan dan perluasan berkali kali sejak pertama kali dibangun sekitar tahun 1549 oleh Sunan Kudus, sekitar sepuluh tahun lebih dulu dari Masjid Mantingan Jepara (1559) yang dibangun oleh Sultan Hadiri, atau sekitar 70 tahun setelah Masjid Agung Demak (1479) yang dibangun pada masa Raden Fatah, atau kira kira sezaman dengan Masjid Kesultanan Banjar di Banjarmasin yang dibangun oleh Sultan Suriansyah (1526-1550).

Kudus Berasal dari kata Al-Quds

Menurut antropolog dari Universitas Udayana - Bali, mendiang Prof. Purbacaraka, nama kota Kudus berasal dari bahasa Arab, “Al-Quds” (kini Jerusalem - Ibukota Palestina). Sedangkan para sejarawan Islam percaya bahwa pelaut muslim arab-lah yang memberikan nama tersebut untuk mengenang tanah kelahiran mereka di Al-Quds – Palestina. Tak mengherankan bila kemudian masjid tua di kota kudus yang terkenal dengan menara berbentuk candi-nya itu pun kemudian diberi nama Masjid Al-Aqso, sebagaimana nama masjid suci ketiga Ummat Islam di kota Al-Quds.

Foto tua masjid Menara Kudus
Masjid Al Aqsa dan Menara Kudus merupakan tempat bersejarah peninggalan salah satu Walisongo, Ja’far Shodiq atau lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus yang makamnya terdapat di komplek itu. Tempat tersebut kini menjadi destinasi andalan wisata reliji kota Kudus, terutama bagi para peziarah, disamping makam Sunan Muria yang berada di kawasan wisata Colo, Kecamatan Dawe Kudus, pegunungan Muria. Nama Jafar Shodiq terukir pada batu di atas mihrab masjid ini. konon batu bertulis tersebut berasal dari Al-Quds (Baitul Maqdis) di Palestina.

Lokasi Masjid Menara Kudus

Masjid menara kudus berada di pusat kota Kudus. Secara administratif masuk ke dalam wilayah Desa Kauman Kulon kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Propinsi Jawa Tengah. Lingkungan yang mengelililingi masjid menara kudus ini berupa rumah rumah penduduk desa Kauman kulon yang sudah tidak jelas lagi batas batas yang memisahkan antara rumah penduduk dengan komplek masjid karena antara dinding komplek masjid dengan rumah penduduk telah menjadi satu.



Sebelumnya Adalah Candi ?

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Masjid ini sebenaranya bernama Masjid Al-Aqso sebagaimana tertulis di papan nama masjid yang diletakkan di gerbang utama masjid dengan aksara arab. Hanya saja masyarakat luas lebih mengenalnya sebagai Masjid Menara Kudus merujuk kepada bangunan menaranya yang unik itu. Pendapat umum dan cerita tutur yang beredar luas menyebutkan bahwa Masjid Menara Kudus sebelumnya adalah sebuah candi yang kemudian di konversi (di alih fungsi) menjadi sebuah masjid. Benarkah Masjid Menara Kudus ini merupakan konversi dari sebuah Candi ?, Apa nama candi itu sebelumnya ?. Menjadi menarik untuk sekedar bertanya.

Sudah di fahami secara umum bahwa metoda da’wah yang dijalankan para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara termasuk di tanah Jawa dengan melalui pendekatan budaya. Mereka tidak serta merta menentang atau menghapus budaya yang sudah berkembang di dalam masyarakat namun secara perlahan melakukan editing secara cermat dengan memasukkan ajaran Islam kedalam setiap pernik budaya yang sudah ada. Perubahan yang perlahan namun pasti mengubah wajah budaya menjadi sesuatu yang Islami.

KEBANGGAAN NASIONAL. Gambar Masjid Menara Kudus diabadikan di uang kertas pecahan lima ribu Rupiah.
Tidak hanya di masa para wali, di masa kini pun metoda yang memiliki kemiripan diterapkan oleh kaum muslimin minoritas yang tinggal di wilayah non muslim. Seperti contoh pada saat saudara saudara kita itu akan membangun masjid mereka tidak memaksakan diri untuk membangun masjid dengan bentuk masjid umumnya yang memiliki kubah dan menara serta kumandang azan dari menara. Misalnya saja Muslim di Estonia yang minoritas membangun masjid dengan bentuk yang serupa dengan gedung gedung bertingkat disekitarnya, dan sama sekali tidak seperti masjid yang biasa kita kenal yang memiliki kubah besar, simbol bulan sabit di ujung kubah dan menara serta kumandang azan berpengeras suara dari menara-nya. Tidak hanya di Estonia yang berada di Eropa sana, saudara saudara muslim di Tolikara pun membangun masjid mengikuti bentuk bangunan disekitarnya agar tidak terlalu mencolok demi toleransi.

Menilik hal hal yang demikian, bukan tidak mungkin toh, bila dulu Ja’far Shodiq dan kaum muslimin awal di Kudus membangun masjid dengan mengikuti bentuk / arsitektur tempat ibadah ummat mayoritas yang ada disana. Bukankah tata letak bangunannya pun sudah persis menghadap kiblat, termasuk tata letak bangunan menaranya. Bukankah sejarah mencatat bangunan yang awal sekali dibangun sudah mengalami beberapa kali perluasan, menunjukkan bahwa bangunan awalnya memang tidak terlalu besar, dan pembangunan masjid sudah barang tentu sesuai dengan kebutuhan jemaah nya, alias disesuaikan dengan jumlah jemaahnya. Wallohuwa’lam.

DA GAPURA DI DALAM MASJID. Ini salah satu keunikan yang ada di Masjid Menara Kudus, ada gapura / gerbang paduraksa di dalam masjid, tak ada di masjid lain.

Keunikan yang Menarik Perhatian

Ke-unikan arsitektural menjadi daya tarik utama masjid ini. Sejauh ini Masjid Menara Kudus merupakan satu satunya masjid dengan paduan arsitektural bangunan candi dengan bangunan masjid modern sebagaimana biasa dikenal. Telah difahami secara umum bahwa masjid ini sebelumnya memang merupakan bangunan candi yang kemudian di alih fungsi menjadi masjid seiring dengan telah muslim nya masyarakat disana. Menara setinggi 17 meter yang berada di sisi kiri gerbang utama masjid ini yang berbentuk bangunan candi dibangun dengan susunan bata merah tanpa semen, berdiri megah hingga kini dengan bentuk aslinya, dengan fungsi sebagai menara masjid lengkap dengan perangkat pengeras suara terpasang disana. Gaya arsitektur Menara masjid ini disebut sebut menyerupai candi-candi di Jawa Timur pada masa Majapahit dan juga memiliki kemiripan dengan Menara Kukul di Bali.

Menara ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian kaki, tubuh dan puncak. Kaki menara berbentuk bujur sangkar berukuran 6.3 meter. Sedangkan puncak menara berupa ruangan mirip pendopo berlantai papan. Di atas menara di beri atap tumpang bertingkat dua dari sirap. Menurut G.F. Pijpet dan A.J. Bernet Kemperes, menara masjid kudus ini mirip dengan menara Kul Kul di Bali dan pada awalnya bukanlah menara masjid melainan sebuah bangunan candi pada masa Hindu yang kemudian disesuaikan kegunaannya sebagai menara masjid ini. Beberapa peneliti lain seperti Soekmon, Syafwandi dan Parmono atmadi menghubungkan bentuk menara masjid Kudus dengan candi candi di Jawa Timur seperti candi jago dan candi singasari berkaitan dengan bentuk arsitektural dan ragam hiasnya.

Restorasi menara
Keunikan bangunan masjid ini tidak hanya pada menaranya. Beberapa bagian kuno dari bangunan masjid ini masih dapat ditemui dengan pola dan bahan bangunan yang sama, termasuk empat bangunan gapura (gerbang), terdiri dari dua gerbang berbentuk paduraksa dan dua gerbang berbentuk candi bentar. Gerbang gerbang tersebut tetap di konservasi keberadaan dan keasliannya meski kini sudah berada di dalam bangunan masjid. Bentuk dan keberadaannya yang tak biasa di dalam masjid membuat gerbang gerbang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Gerbang gerbang tersebut sejatinya merupakan pembatas antar halaman di komplek masjid ini. komplek masjid menara kudus ini terbagi menjadi sebelas halaman yang dibatasi dengan pagar dan gapura dari bata yang berbentuk candi bentar maupun padureksa. Fitur dari masa lalu yang tak kalah menarik yang masih bisa dijumpai, terdapat disebelah selatan masjid, ada kolam berwudhu kuno yang cukup unik, ada delapan pancuran dihiasi ukiran batu berbentuk kepala kala. Sekarang pancuran tersebut ditambah dengan keran untuk memudahkan Jemaah berwudhu.

Terhimpit. Masjid Menara Kudus dari udara terlihat terjepit diantara padatnya rumah penduduk di sekitarnya.

Pembangunan dan Perluasan Masjid Menara Kudus

Sejak dibangun oleh Ja’far Shodiq alias Sunan Kudus pada tahun 956 Hijriah atau 1549 M. Masjid menara kudus sudah beberapakali mengalami perbaikan dan perluasan. Pada awal tahun 1918 sampai ahir tahun 1919 telah diadakan pembongkaran dibeberapa bagian masjid. Tahun 1925 bagian depan masjid ditambah dengan serambi untuk menampung jemaah khususnya di hari Jum'at yang semakin membludak. Tahun 1933 serambi tersebut diperluas dengan serambi tambahan menyebabkan gapura kori agung atau gapura lawang kembar menjadi ternaungi atap serambi depan masjid. Di atas serambi itupun dibangun kubah. Perubahan terahir tahun 1960 saat terjadi pergantian mustaka.

Bagian yang masih asli di masjid ini berupa tembok sisi timur, sebagian tembok sisi utara dan selatan, gapura paduraksa, tembok luar mihrab, delapan buah pancuran tempat wudhu serta menara. Seperti  bangunan lainnya di komplek masjid ini, tembok timur masjid juga dibangun dari batu bata tanpa perekat. Pada tembok sisi timur ini terdapat empat buah gapura, dua buah gapua berbentuk candi bentar dan dua gapura berbentuk paduraksa.

Pintu menuju menara

Legenda Masjid Menara Kudus

Dikisahkan bahwa pada waktu Sunan Kudus berhaji beliau terserang penyakit kudis. karena penyakitnya itu beliau di hina dan disingkirkan dari pergaulan sehari hari, Sunan kudus pun membalas dengan kesaktiannya dan timbullah wabah penyakit yang menimpa negeri arab. Berbagai upaya dilakukan oleh pera pemuka negeri arab untuk mengatasi wabah tersebut namun tak membuahkan hasil. Ahirnya sunan kudus diminta mengatasi wabah tersebut. Atas jasanya para pemuka negeri arab tersebut memberikan berbagai hadiah menarik tapi sunan kudus menolaknya dan justru memilih batu yang kemudian digunakan untuk memperingati pendirian masjid menara kudus. Batu tersebut kini ada di mihrab masjid bertuliskan nama Sunan Kudus.

Banyu Panguripan

Masih menurut cerita tutur, dahulu dibawah bangunan menara terdapat dua buah sumber air. oleh penduduk sumber air itu disebut sumber banyu panguripan. Disebut demikian karena apabila seseorang meminum air itu maka orang itu akan hidup abadi. Sunan Kudus sangat khawatir jika khasiat air sumber panguripan itu disalahgunakan oleh orang orang berwatak jahat. Oleh karenanya sumber air itu ahirnya ditutup dan di atasnya didirikan bangunan menara. Dari legenda ini jelas disebutkan bahwa bangunan menara tersebut dibuat atas perintah atau setidaknya atas prakarsa Sunan Kudus. Bisa jadi legenda itu sebenarnya adalah potongan cerita dari proyek pembangunan Masjid di tempat itu yang kini dikenal sebagai Masjid Menara Kudus.

Tradisi Beduk Dhandhang

Ada kebiasaan unik Sunan Kudus dalam berdakwah dengan mengadakan beduk dhandhang yakni tradisi memukul beduk bertalu talu menjelang ramadhan untuk mengundang jemaah datang ke masjid. Setelah jamaah berkumpul, Sunan Kudus pun mengumumkan kapan persisnya hari pertama puasa. Beduk sendiri merupakan salah satu pernik tradisi Nusantara, sama halnya dengan kentongan atau pun digunakan berpadanan. Namun kemudian diserap menjadi salah satu tradisi Islam Nusantara.***

----------ooo000ooo----------

Artikel Masjid Masjid Tertua Di Nusantara Lainnya
Masjid Saka Tunggal                                                                                     

No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA