Thursday, August 19, 2010

Masjid Mantingan, Jepara



Masjid Tua Mantingan, Jepara, Jawa Tengah


Masjid Mantingan adalah salah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia. Terletak di di Desa Mantingan, Kecamatan TahunanKabupaten JeparaJawa Tengah. 5 km kearah selatan dari pusat kota Jepara. Dibangun dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok, undak-undakannya didatangkan dari Makao. Sedangkan bangunan atap hingga bubungan-nya bergaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief persegi bergambar margasatwa, dan penari penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua.

Sayangnya beberapa kali renovasi terhadap masjid tersebut tanpa mempertimbangkan kaidah pemugaraan bangunan cagar budaya, sehingga banyak mengubah keaslian masjid tua ini. Mantingan ini banyak disebutkan dalam naskah sejarah kerajaan Mataram Islam, tentang keberadaan tempat ini.

Gerbang Ke Makam Sultan Hadiri
Di dalam komplek masjid Mantingan, di sebelah timur masjid terdapat makam Sultan Hadiri (Adipati Jepara), Ratu Kalinyamat (Istri dari Sultan Hadiri yang juga merupakan adik Sultan Trenggono, Sultan Demak terahir). Patih Sungging Badar Duwung, pembantu Sultan Hadiri, Saudaranya Sultan Hadiri keturunan China Cie Gwi Gwan, Selain itu terdapat pula makam waliullah Mbah Abdul Jalil, yang disebut-sebut sebagai nama lain Syekh Siti Jenar. Sultan Hadiri adalah orang Adipati Jepara tahin 1536-1549 yang memimpin penyebar luasan agama Islam di pesisir utara Jawa. Di komplek pemakaman tua ini masih dapat ditemui batu batu nisan dengan lambang kerajaan Majapahit yang disebut sinar majapahit (Bentuknya seperti lambang organisasi Islam Muhammadiyah saat ini)

Sejarah Masjid Mantingan

Masjid Mantingan didirikan pada tahun 1481 Saka atau tahun 1559 M, sesuai dengan pernyataan yang terdapat didalam masjid RUPA BRAHMANA WANASARI yang ditulis oleh Raden Toyib yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hadiri, Adipati Jepara, yang juga adik Ipar dari Sultan Trenggono (Sultan Demak).


Lihat Masjid Mantingan, Jepara di peta yang lebih besar

Raden Toyib berasal dari Aceh,  beiau merpakan utusan Sultan Aceh, setelah mempelajari agama Islam di Mekah lalu bersyiar di Cina, kemudian berlabuh di tanah Jawa, bermukim di Jepara dan menikah dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), saudara perempuan dari Sultan Trenggono Penguasa Kesultanan Demak Terahir. Dinobatkan sebagai Adipati Jepara dengan gelar Sultan Hadiri berkuasa pada periode 1536-1549 sampai beliau meninggal dan dimakamkan disebelah Masjid yang dia dirikan yaitu Masjid Mantingan. Kekuasaan pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Hadiri, Ratu Kaliyamat tahun 1549-1579.

Mitos di Komplek Masjid Mantingan

Makam Mantingan sampai sekarang masih dianggap sakral dan mempunyai tuah bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya. Pohon pace yangtumbuh disekitar makam, konon bagi Ibu-ibu yang sudah sekian tahun menikah belum di karunia putra diharapkan sering berziarah ke Makam Mantingan dan mengambil buah pace yang jatuh untuk dibuat rujak kemudian dimakan bersama suami istri, maka permohonannya insya Allah akan terkabulkan.

Tuah lain yang ada dalam cungkup makam mantingan adalah “AIR MANTINGAN atau AIR KERAMAT” yang menurut kisahnya ampuh untuk menguji kejujuran seseorang dan membuktikan hal mana yang benar dan yang salah, biasanya bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya air keramat ini digunakan bila sedang menghadapi suatu sengketa, dengan cara air keramat ini diberi mantra dan doa lalu di minum. Tapi ini hanyalah sebuah kepercayaan, Anda boleh percaya atau tida

Keunikan Masjid Mantingan

Ukiran Kuno di Masjid Hadiri
Sesuai dengan literatur, arsitektur masjid ini sangat unik. Dari relief-relief yang ada di bangunan masjid menggambarkan pada masa pembangunannya, budaya hindu masih kental mewarnai perkembangan budaya masyarakat saat itu. Ini terlihat dari motif-motif ornamen yang ada pada hiasan masjid.

Ornamen relief beraneka bentuk menunjukkan sebuah hasil seni berkualitas sangat tinggi pada masanya. Motif binatang seperti kijang, gajah dan kera dengan stilasi sulur-sulur tercetak sangat halus pada batuan sejenis kapur yang keras. Dari beberapa relief juga tergambar epos tentang cerita Ramayana, dengan tokohnya Hanoman, Rama dan Shinta. Keunikan lain arsitektur Masjid Mantingan yang sampai saat ini bisa dilihat adalah adanya bangunan gapura candi bentar. Lagi-lagi ini menunjukkan masih adanya pengaruh budaya Hindu pada masa itu.

Konon hiasan-hiasan tersebut dibuat sendiri oleh Patih Sungging Badar Duwung, pembantu Sultan Haldirin, yang pada saat itu terkenal dengan kemampuan memahatnya. Sungging Badar Duwung, juga selalu dikait kaitkan dengan kemasyhuran para pematung dan pengukir di Jepara.

Pemugaran dan Benda Peninggalan Sejarah

Gerbang Tua
Bangunan yang sekarang tidak semuanya asli, karena telah beberapa kali mengalami pemugaran. Aslinya Masjid Mantingan terbuat dari bata merah, atapnya bersusun tiga, dan memiliki tiga pintu yang masing-masing berdaun pintu ganda; ketiga pintu ini menyebabkan dinding di bagian depan terbagi menjadi empat bidang. Pada dinding ini terdapat relief rendah, dalam panel-panel. Pada setiap bidang tembok terdapat tujuh panel berelief yang tersusun dari atas ke bawah, sehingga dalam empat bidang seluruhnya ada 28 panel. Di kiri kanan masing-masing deretan panel berelief terdapat hiasan berbentuk kelelawar, demikian juga di tiap-tiap pintu, sehingga jumlah seluruhnya 64 buah. Hiasan medalion bulat yang juga terdapat di dinding yang terletak di kiri kanan tangga naik menuju masjid, pada masing-masing sisi terdapat empat panel.

Tahun 1927 Kompleks Mantingan dipugar, menggunakan semen dan kapur sehingga merusak kekunaan dan keasliannya. Bangunan baru ini telah ditempelkan pada panel relief yang berasal dari masjid lama yang dibangun pada 1559 Masehi. Papan-papan batu berelief ini sebagian besar diletakkan di kanan-kiri atas tiga pintu yang terdapat pada dinding serambi masjid, kemudian ada yang dipasang di dinding bawah, dinding luar dan sudut-sudut bangunan.

Sekitar tahun 1978-1981, Masjid Mantingan kembali dipugar. Dalam kegiatan pemugaran berhasil ditemukan enam panel yang berelief di kedua belah sisinya, sejumlah besar balok-balok batu putih dan juga suatu fondasi bangunan kuno. Pemugaran yang terakhir ini telah mengakibatkan perubahan bentuk masjid yang atapnya dahulu bersusun tiga, kini beratap satu, tiang serambi depan dibongkar dan reliefnya dipindah. Di sisi kanan dan kiri terdapat tambahan ruangan sehingga bidang dindingnya menjadi enam bidang dan masing-masing bidang terdapat panel berelief.

Ornamen yang jumlahnya begitu banyak ditemukan selama pemugarab itu, beberapa di antaranya dipasang di tembok serambi masjid. Sedangkan yang lainya disimpan di gudang milik masjid, di Museum Kartini Jepara dan sebagian lagi tersimpan di Museum Ronggowarsito Semarang, Jawa Tengah.

Tradisi di Masjid Tua Mantingan, Jepara

Pemakaman ini ramai dikunjungi pada saat Khaul, hari dimana masyarakat memperingati hari meninggalnya Sultan Hadiri. Ritual ini diadakan setahun sekali pada tanggal 17 Rabiul Awal (Kalender Muslim) di hari itu ada tradisi "Ganti Luwur" atau (Ganti Kelambu).  Peringatan Hari Jadi Kabupaten Jepara oleh Pemkab Jepara Setiap tahun yang jatuh pada 10 April, puncak peringatan ritualnya selalu berpusat di masjid ini.

Referensi

* Masjid Mantingan

* History and Legend of Mantingan Mosque and Grave

2 comments:

Dilarang berkomentar berbau SARA