Wednesday, August 18, 2010

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Al-Hilal Katangka di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.
Mesjid Tua Al-Hilal Katangka disebut juga Masjid Agung Syeh Yusuf merupakan mesjid pertama dan tertua di Pulau Sulawesi dan di wilayah waktu Indonesia bagian tengah, sekaligus masjid tertua ke sembilan di Indonesia. Penamaan mesjid ini dari nama Syufi Kharismatik yang dipuja masyarakat Sulawesi Selatan. Syufi tersebut adalah Syeh Yusuf Al Makkasari yang merupakan kerabat raja Gowa.

Syekh Yusuf lahir 3 Juli 1626 di Kabupaten Gowa, gigih melawan penjajah Belanda, diasingkan ke Capetown, Afrika Selatan dan meninggal dunia dalam usia 73 tahun pada tanggal 23 Mei 1699, dimakamkan di daerah pertanian Zanvliet di Distrik Stellenbosch, Afrika Selatan. Atas permintaan Raja Gowa, Abdul Djalil, 5 April 1795, makam Syekh Yusuf dipindahkan ke Lakiung, tak jauh dari Masjid Katangka.

Pemerintah Indonesia menetapkan Syekh Jusuf sebagai pahlawan nasional dan di Afrika Selatan, ia mendapat tempat yang sangat istimewa di hati rakyat sebagai pahlawan pembebasan kaum tertindas dan juga dianugerahi gelar pahlawan nasional di negara itu.

Sejarah Masjid Al-Hilal Katangka

Pada foto zaman Belanda (atas)
terlihat bangunan ini  memiliki
menara yang kini sudah tak ada-
lagi.
Masjid Tua Al-Hilal dibangun pada masa pemerintahan raja Gowa XIV bernama Aku Manga'ragi Daeng - Manrabbiakaraeng Lakiung (Sultan Alauddin I) tahun 1603, Sultan Alauddin adalah Raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam. Sultan Alauddin adalah kakek dari I Mallombassi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Tumenanga ri Balla Pangkana atau yang dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke enam belas.

Arsitektur masjid Tua Al-Hilal Katangka ini telah menginspirasi gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo pada tahun 2009 untuk mendirikan masjid masjid dengan bentuk yang sama di 24 kabupaten/kota di Sulsel. Dimulai dengan pembangunan masjid di kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep (Pangkajene kepulauan) Sulawesi Selatan

Lokasi

Masjid ini Terletak di Jl. Syeh Yusuf, Desa Katangka, Kecamatan Sumba Ompu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Masjid ini berada di perbatasan antara Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Jarak lokasi sekitar 10 kilometer sebelah selatan pusat Kota Makassar (Lapangan Karebosi).  Terletak di koordinat S5 11 27.0 E119 27 05.5.  dan hanya 1,5 kilometer (km) dari Sungguminasa, ibu kota Kabupaten Gowa atau sekitar 9 km dari Kota Makassar, tak jauh dari makam Pahlawan Nasional Syekh Jusuf atau tokoh yang dijuluki Tuanta Sa-lamaka, pemimpin yang membawa keselamatan ummat.



View Masjid Al-Hilal Katangka in a larger map

Status

Masjid Tua Al-Hilal terdaftar sebagai benda cagar budaya pemerintah propinsi Sulawesi Selatan dengan nomor urut inventaris 98. dan sudah ditetapkan sebagai  benda cagar budaya nasional melalui surat keputusan Nomor : 240/M/1999, tanggal 4 Oktober 1999, oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Juwono Sudarsono

Arsitektur

Luas bangunan 212,7 m2 dan dikelilingi pagar besi, dengan tiang pagar dari tembok. Arsitektur bangunan merupakan campuran seni bangunan Makassar dan Islam. Dalam bangunan terdapat tiang soko guru, mimbar dan mihrab. Pintu masuk menuju ke beranda mesjid hanya sebuah terletak di muka. Pada dinding depan sebelah kiri-kanan pintu terdapat hiasan terawang yang berfungsi sebagai lubang angin.

Di beranda ini terdapat tembok dan di bagian atasnya berterawang dari keramik yang semula dipergunakan pembatas tempat wudhu. Tiga buah pintu masuk ke ruang tengah tempat sholat memiliki hiasan tulisan Arab dan berbahasa Makassar. Tulisan ini terdapat di ambang pintu bagian atas. Atap mesjid bertingkat tiga dari bahan genteng. Antara atap mesjid tingkat dua dan tiga terdapat pemisah berupa ruangan berdinding tembok dengan jendela di keempat sisinya. Di puncak mesjid terdapat mustaka.

Bila dilihat dari foto tua Dari sumber KITLV Leiden, disebut dengan tulisan: Grote moskee van Gowa, vermoedelijk te Makassar 1910. dengan keadaan sekarang. Ternyata bahwa masjid tua Al-Hilal dulunya memiliki Menara dan sekarang menara di masjid itu telah hilang.

Luasnya 174,24 meter persegi. Pada zamannya, masjid ini termasuk besar, mewah, dan dianggap penting karena konstruksinya terbuat dari batu bata. Hanya bangunan penting yang dibuat dari batu bata saat itu, seperti istana dan benteng. Fungsi utamanya tentu sebagai tempat ibadah. Setiap datang waktu salat, masjid ini ramai dipenuhi jamaah. Tetapi, ada beberapa makam di halaman masjid. Itu adalah makam para pemuka agama dan kerabat pendiri masjid. Khusus makam para pendiri masjid memiliki atap di atasnya berbentuk kubah.

Masjid Al-Hilal dari sudut yang sedikit berbeda
Salah satu yang mencirikan masjid ini merupakan bangunan kuno adalah dindingnya. Dinding yang terbuat dari batu bata itu cukup tebal, mencapai 120 centimeter. Struktur atapnya mirip bangunan joglo. Memiliki empat tiang penyangga yang dalam arsitektur Jawa disebut soko guru. Hanya saja terbuat dari susunan batu, bukan kayu. Terdapat dua lapis atap. Atap bagian atas berbentuk segi tiga piramida dengan bahan dari genting. Masjid ini juga memiliki serambi sebagaimana umumnya masjid di Jawa.

Pengaruh kebudayaan Cina terlihat pada atap mimbar yang mirip bentuk atap klenteng. Di sekitar mimbar juga masih terpasang keramik dari Cina yang konon dibawa oleh salah satu arsiteknya yang berasal dari sana.

Renovasi

Sejak didirikan tahun 1603M, oleh Raja Gowa ke-24, Sultan Alauddin (I Manga’ragi Daeng Manrabbia Karaeng Lakiung). Kemudian ditahun 1605M dijadikan sebagai masjid kerajaan dengan nama Masjid Katangka, Masjid tua Katangka sudah beberapa kali mengalami perombakan dan renovasi. Berikut catatan renovasi yang pernah terjadi terhadap masjid tua Katangka.

  1. Tahun 1818 oleh Mangkubumi Gowa XXX, Sultan Kadir
  2. Tahun 1826 Oleh Raja Gowa XXX, Sultan Abdul Rauf
  3. Tahun 1893 oleh Raja gowa XXXIV , Sultan Muhhamad Idris
  4. Tahun 1948 oleh Raja Gowa XXXVI, Sultan Muhammad abdul Aidid dan Qadhi Gowa H. Manysur Daeng Limpo
  5. Tahun 1962 oleh Mangkubumi Gowa Andi Baso Daeng Rani Karaeng Bontolangkasa
  6. Tahun 1979 oleh Depdikbud RI, selanjutnya masjid ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai masjid  Al Hilal Katangka. Dan
  7. Terahir direhabilitasi pada tahun 2007 oleh pengurus masjid sendiri dengan dana yang bersumber dari swadaya masyarakat dan sebagian dari bantuan pemerintah. Kondisi terkini bagian dalam masjid bersejarah tersebut telah jauh lebih modern. 

Dindingnya meski tidak dilapisi keramik atau porselin tampak sangat terjaga. Tiang penyangga berbentuk pilar, berwarna putih. Lantai dasar telah dihiasi keramik berwarna krem. Lalu ada beberapa kipas angin gantung, sebagai pemberi hawa sejuk saat beribadah. 

Referensi

------------------------------------ooOOOoo------------------------------


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA