Friday, February 5, 2010

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas


Masjid Tua Patimburak, Kokas, Kabupaten Fak Fak, Papua Barat.

Bila anda berkesempatan berkunjung ke distrik Kokas kabuten Fakfak, Provinsi Papua Barat, jangan lupa mampir ke Masjid Tua Patimburak. Masjid kecil, tua nan indah dari masa lalu menandai hadirnya Islam di tanah papua sejak tahun 1700 yang lalu.

Distrik kokas, terkenal dengan objek wisata lukisan di tebing bebatuan terjal. Oleh masyarakat setempat, tebing bebatuan terjal ini biasa disebut Tapurarang. peninggalan sejak zaman prasejarah ini bisa dijumpai di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras. Masih ada objek menarik yang  lain yaitu sisa-sisa peninggalan Perang Dunia ke-II yang terdapat di kota ini. Kota yang dijadikan basis pertahanan tentara Jepang melawan sekutu di periode 1942/1945. Bangunan goa atau benteng Jepang yang terdapat di pusat kota Kokas. Menjadi saksi bisu peristiwa sejarah itu.


Meski belum ada literatur yang melukiskan asal usul kehadiran kaum Muslim di Fakfak. Tetapi, kenyataan, hampir 60 persen warga Fakfak dan sekitarnya menganut agama Islam. Menjadikan Fak Fak sebagai kabupaten dengan pemeluk Islam terbesar di Papua Barat. Tak hanya warga pendatang, tetapi penduduk asli dengan warna kulit hitam dan rambut keriting sudah sejak ratusan tahun silam menganut agama Islam. Mesjid Patimburak yang didirikan tahun 1700-an adalah bukti sejarah Islam di Fakfak. 

Tokoh muslim Fakfak, Syamsu ZA Tukuwain, mengatakan, kehadiran Islam di Fakfak bukan impor dari luar Papua. "Mesjid tertua di daerah ini adalah masjid Patimburak sekitar 100 km dari Fakfak. Mesjid ini dibangun persis di bibir pantai Kampung Patimburak dengan mengambil arsitektur seperti kebanyakan bangunan tua di Eropa," kata Tukuwain.

Kaum Muslim di Fakfak datang dari masa kesultanan Tidore dan Ternate yang berkuasa pada tahun 1200-1400. Masjid Tua Patimburak yang berlokasi di Kokas, Fak-Fak, Papua Barat. Masjid ini menjadi bukti sejarah syiar Islam sesungguhnya telah menyentuh tanah Papua beratus tahun lampau. Bangunan masjid seluas tak lebih dari 100 meter persegi ini didirikan pada 1870 oleh Imam Abuhari Kilian.

Jika bertandang ke masjid tua ini, terselip atmosfer religi yang menyembul di antara belantara. Masjid ini berada di kampung yang dihuni tak lebih dari 36 kepala keluarga. Kesederhanaan terasa menyatu antara masjid dan kehidupan masyarakatnya. 

Masjid Patimburak yang telah beberapa kali direnovasi ini memiliki keunikan pada arsitekturnya. Perpaduan bentuk masjid dan gereja terlihat jelas. Ini menunjukkan toleransi sudah tumbuh lama di Kokas. Empat pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid masih menggunakan material yang asli.

Penyebaran Islam di Kokas tak lepas dari pengaruh Kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua. Pada abad ke-15, Kesultanan Tidore mulai mengenal Islam. Sultan Ciliaci adalah sultan pertama yang memeluk agama Islam. Sejak itulah sedikit demi sedikit agama Islam mulai berkembang di daerah kekuasaan Kesultanan Tidore termasuk Kokas.

Pada masa penjajahan, masjid ini pernah diterjang bom tentara Jepang. Hingga kini, kejadian tersebut menyisakan lubang bekas peluru di pilar masjid.

Untuk mencapai lokasi Masjid Tua Patimburak, Anda sebelumnya harus menempuh perjalanan darat dari Fakfak ke Kokas. Tersedia angkutan luar kota dari terminal kota Fakfak. Sekitar dua jam, menyusur jalanan berkelok dan segarnya udara pegunungan bisa dinikmati. Tiba di Kota Kokas, perjalanan menuju Kampung Patimburak harus dilanjutkan menggunakan longboat sewaan sekitar satu jam. Pulau-pulau karang menawan menjadi pemandangan yang tersaji.

Menurut cerita turun temurun masjid tersebut dibangun dimasa Raja Wertuer I bernama kecil Semempe. Saat itu, tahun 1870, Islam dan Kristen sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Papua. Ketika dua agama ini akhirnya masuk ke wilayahnya, Wertuer sang raja tak ingin rakyatnya terbelah kepercayaannya.

Maka ia membuat sayembara: misionaris Kristen dan imam Muslim ditantang untuk membuat masjid dan gereja. Masjid didirikan di Patumburak, gereja didirikan di Bahirkendik. Bila salah satu di antara keduanya bisa menyelesaikan bangunannya dalam waktu yang ditentukan, maka seluruh rakyat Wertuer akan memeluk agama itu. 

Masjid lah yang berdiri pertama kali Maka raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan sang raja kemudian menjadi imam juga, dengan pakaian kebesarannya berupa jubah, sorban, dan tanda pangkat di bahunya. Masjid itu kini masih berdiri megah di pinggir teluk Kokas, dan masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang tinggal di sekitarnya.

Dari berbagai sumber, photo photo dari citizentimage.kompas

----------------------ooOOOoo---------------------------

Baca Juga Artikel Majid Tertua Lainnya



No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA