Selasa, 07 Juni 2016

Islam di Senegal

Peta Republik Senegal
Pernah mendengar tentang ajang balap lintas gurun ekstrim Paris-Dakar ?. Dakar yang disebut dalam judul ajang balap tersebut adalah Ibukota negara Republik Senegal. Republic of Senegal atau dalam bahasa Prancis disebut République du Sénégal adalah salah satu negara di pantai barat benua Afrika bekas jajahan Prancis. Semasa penjajahan oleh bangsa Eropa, Wilayah ini terbagi dalam dua kekuasaan, wilayah disepanjang sungai Ghambia yang tak lebih luas dari propinsi Gorontalo merupakan wilayah jajahan Inggris dan dikemudian hari menjadi Republik Gambia beribukota di Banjul di muara sungai Ghambia di tepian Samudera Atlantik. Seluruh wilayah daratan Ghambia berada ditengah tengah Negara Republik Senegal.

Sebagai negara bekas jajahan Prancis, Senegal menggunakan Bahasa Prancis sebagai bahasa resmi negara, namun mengakui bahasa Wolof, Soninke, Seres dan bahasa lokal lainnya sebagai bahasa nasional. Suku Wolof merupakan suku terbesar di Senegal dengan rasio sekitar 43.3% dari keseluruha populasi penduduknya, menyusul kemudian suku Pular (23.8%), Serer (14.7%), Jola (3.7%), Mandinka (3.0%) Soninka (1.1%), Eropa (1.0%) dan keturunan Lebanon sekitar 9.4%.

Senegal merdeka dari Prancis pada tanggal 20 Juni 1960, sempat bergabung dalam Federasi Mali namun tak berlangsung lama kemudian keluar dari Federasi pada tanggal 20 Agustus 1960. Senegal juga pernah membentuk Federasi bersama dengan Ghambia dengan nama Senghambia namun juga tak berlangsung lama dan bubar di tahun 1989. Luas keseluruhan wilayah Senegal sekitar 196,723 km2 ditambah dengan wilayah perairan seluas 76,000 sq mi. Jumlah penduduk Negara ini di tahun 2011 sekitar 12,855,153. Iklim di Senegal hampir sama dengan di Indonesia, hanya memiliki dua musim, kemarau dan musim hujan. Wilayah negara Senegal berbatasan dengan Mauritania di utara, Mali disebelah timur, Guyana dan Guyana Bissau disebelah selatan dan sisi sebelah baratnya menghadap ke Samudera Atlantis. Di bagian dalam wilayahnya berbatasan dengan negara Ghambia.

Masjid masjid besar di Senegal rata rata dibangun untuk menghormati tokoh tokoh Islam terkenal disana, seperti para wali bila di Indonesia. Seperti Masjid Agung Touba yang ada di foto ini dibangun disebelah makam Syeikh Amadou Bamba yang merupakan pendiri Tharikat Mouridiyyah. Hingga kini Kota Touba merupakan kota suci pusat aktivitas Thariqat Mouridiyah.
Ibukota negara Senegal berada di kota Dakar yang berada di bagian ujung paling timur wilayah negara di semenanjung Cap Vert yang menjorok ke Samudera Atlantik. Sekitar 500 kilometer dilepas pantai Dakar ini terdapat pulau Cape Verde. Sepanjang abad ke 17 hingga abad ke 18 wilayah ini menjadi pos perdagangan bagi berbagai dinasti hingga kemudian Prancis mendirikan pusat kekuasaannya di kota St. Louis sebagai ibukota Prancis Afrika Barat (Afrique occidentale française, or AOF) sebelum kemudian dipundahkan ke Dakar di tahun 1902.

Berawal dari Salah Sebut

Nama Senegal diambil dari nama sungai yang kini menjadi batas wilayah alami negara tersebut dengan Mauritania dan Mali di sebelah utara dan timur. Menurut kepada teori David Boilat (1853) Kata Senegal sebenarnya berasal dari bahasa Wolof “Sunu gaal” yang berarti “Kanu (sampan) Kami” namun terjadi miskomunikasi antara pelaut Portugis dengan para nelayan suku Wolof sehingga Para pelaut Portugis di sekitar abad ke 15 yang menyebut daerah itu dengan nama Senegal. Namun para sejarawan modern menyebutkan teori yang lain bahwa Nama Senegal berasal dari nama suku Zenaga yang tinggal disebelah utara sungai Senegal saat ini, teori lainnya mengambil dari catatan geografer arab yang menuliskan nama Sanghana sebagai sebuah kota di abad pertengahan namun secara umum teori pertama jauh lebih populer. Namun dalam kepercayaan suku Serer mereka yakin bahwa Sene Gall adalah dua kata yang berarti “badan air” alias Sungai.

Islam di Senegal

Islam merupakan agama mayoritas di Senegal, diperkirakan sekitar 95% penduduk negara tersebut merupakan pemeluk agama Islam. Islam sudah hadir di Senegal lebih dari satu mileniemum. Kelompok etnik pertama yang masuk Islam adalah orang orang dari suku Toucouleur di sekitar abad ke 11 masehi, dan dengan cepat Islam berkembang disana sehingga di awal abad ke 20 hampir seluruh orang Senegal sudah beragama Islam. Sebagaian besar muslim disana menganut aliran Tharikat Sufi Islam dan dalam rasio sekitar 1% dari mereka menganut Ahmadiyah.

Masjid Sheikh Oumar Foutiyou di kota Dakar, perhatikan bentuk menaranya yang sangat khas.
Ajaran sufi sangat kental dalam kehidupan muslim Senegal, karena memang menilik sejarah masuk dan berkembangnya Islam disana tak lepas dari peran para tokoh sufi. Hingga kini tradisi sufisme merupakan arus utama dan pimpinan masing masing Tharikat menjadi sosok yang teramat penting di dalam masyarakat.

Sejarah Islam di Senegal

Islam masuk ke wilayah yang saat ini dikenal sebagai negara Senegal pada permulaan abad ke sebelas masehi dengan mualafnya orang orang dari suku Toucouleurs, yang pada mulanya dimulai kepala suku (dalam bahasa setempat disebut Damel) Kerajaan Cayor yang bernama Lat Dyor Diop yang masuk Islam. Setelah ber-Islam beliau bersatu dengan kerajaan kerajaan dari suku Wolof dan Fulani lainnya untuk menentang kolonialisasi oleh Prancis disana.

Perubahan mendasar dilakukan oleh kepala suku (almamy) Rip, bernama Maba Diakhou , Selain mengubah sistem tata negara ke dalam sistem Islam, beliau juga berupaya menghapus sistem tradisional keningratan Etnis Wolof siste aristokrasi Serer dalam upaya bergabung dengan kekuatan kekuatan muslim lainya, termasuk menjaiin kerjasama dengan Kekaisaran Islam di Mali dibawah pimpinan El Hadj Umar Tall.

Di penghujung abad ke 19, Tharikat tharikat Sufi Islam di Senegal termasuk Tharikat Tijani dan Mouridiyyah berjuang membebaskan diri dari penjajahan Prancis dan Inggris di tanah air mereka. Namun seiring dengan ditangkapnya para tokoh masing masing Tharikat seperti Syeikh Malick Sy dan Syeikh Amadou Bamba, perlawanan para pengikut Tharikat disana berubah menjadi perjuangan kebebasan menjalankan agama.

Prancis yang menjajah Senegal menjadikan wilayah itu sebagai sebuah negara dengan sistem Sekuler dan bertaha hingga kini meski sudah merdeka dari penjajahan Prancis namun negara menjamin kebebasan beragama bagi warganegaranya. Meski demikian pengaruh Tharikat Sufi Islam dalam dunia politik sangat kuat di negara ini.

Tharikat Islam di Senegal

Muslim di Senegal hampir seluruhnya merupakan anggota dari salah satu Tharikat Sufi Islam. Dua Tharikat Sufi Islam terbesar dinegara itu adalah Tharikat Maouridiyyah dan Tharikat Tijaniyyah, termasuk juga Tharikat Qodiriyyah serta beberapa tharikat tharikat lainnya meski dengan pengikut yang relatif sedikit. Tharikat Tijaniyyah memiliki basis pengikut di Kota Tivaouane dan Kaolack, sedangkan Tharikat Maouridiyyah berbasis di kota Touba. Masing masing Individu bergabung dengan salah satu Tharikat karena faktor keturunan ataupun karena pilihan pribadi masing masing.

Syeikh Amadou Bamba, pendiri dari Tharikat Mouridiyyah sendiri berasal dari keluarga pengikut Tharikat Qoddiriyyah. 
Tharikat Mouridiyyah merupakan Tharikat asli dari Senegal yang berpusat di kota Touba sedangkan Tharikat Tijaniyyah berasal dari Kawasan Afrika utara kemudian menyebar ke Afrika barat termasuk wilayah Mali, Mauritania dan Senegal. Tharikat Qodiriyyah awalnya berdiri di Mauritania kemudian menyebar hingga ke Senegal. Tharikat Qodirriyah merupakan Kelompok Tharikat pertama dan tertua di Senegal. Syeikh Amadou Bamba, pendiri dari Tharikat Mouridiyyah sendiri berasal dari keluarga pengikut Tharikat Qoddiriyyah. Dari jumlah pengikut, Tharikat Tijaniyyah sebenarnya merupakan Tharikat dengan pengikut terbesar di Senegal namun dari sisi Organisasi dan kapasitasnya mereka kalah populer dibandingkan dengan Tharikat Moudridiyyah. Masjid Tharikat Tijaniyyah di kota Tivaouane merupakan tempat kedua yang paling banyak dikunjungi jemaah di Senegal setelah masjid Agung Touba.

Syeikh Amadou Bamba merupakan tokoh sentral dari Tharikat Mouridiyyah yang dibentuknya seja masa penjajahan Prancis di sekitar tahun 1887. Setelah dua kali mengalami penangkapan dan pengasingan oleh Penguasa Prancis ahirnya beliau dibebaskan dan diberikan hak untuk membentuk komunitas sendiri di Kota Touba. Di tahun 1918 pemerintah Prancis bahkan menganugerahinya Bintang kehormatan Legion atas jasanya mengizinkan pengikutnya membela Prancis dalam perang dunia pertama.

Kota Touba kemudian berkembang menjadi pusat Tharikat Maouridiyah. Sebuah masjid berukuran sangat besar bernama Masjid Agung Touba dibangun disamping makamnya 40 tahun setelah beliau wafat, dan sekali dalam setahun, pada  hari ke 48 setelah tahun baru hijriah, hampir dua juta pengikut Tharikat Mouridiyah membanjiri kota tersebut memperingati hari kembalinya Syeikh Bamba dari pengasingan yang disebut peringatan Grand Magal. Kota Touba sendiri memiliki status khusus di Senegal sejak masa penjajahan Prancis, mirip seperti sebuah negara di dalam negara. Di Touba penguasanya hanya satu yakni Khalifah dari Tharikat Mouridiyah yang merupakan keturunan dari Syeikh Bamba ataupun salah satu dari pengikut setianya yang terpilih. Tak ada gubernur, walikota atau pejabat pemerintahan lainnya bahkan tidak ada polisi ataupun tentara, semua sektor kehidupan dibawah kendali Khalifah Tharikat dan para aparaturnya.

Menara Masjid Rabbani di daerah Oakam, pinggiran kota Dakar. dengan bentuknya yang unik. Bangunan masjid masjid di Senegal nyaris tidak ada pola tertentu yang menjadi trend atau gaya nasional seperti di Indonesia. 
Tharikat Mauridiyyah Memiliki pengaruh yang sangat kuat di Senegal bahkan hingga mendominasi ranah politik, pengikutnya tersebar hingga ke Paris dan New York city dan berbagai kota dunia, secara rutin mereka mengirimkan sejumlah uang kepada pemimpin mereka di Touba. Salah satu anggota Tharikat ini yang terkenal adalah Presiden Senegal Abdoulaye Wade yang menang dalam pemilihan presiden setelah mengalahkan pesaingnya Abdou Diouf dari Tharikat Tijaniyyah. Sehari setelah terpilih, Abdoulaye Wade langsung berangkat ke Touba untuk meminta restu dari Khalifah Tharikat Mauridiyyah, Serine Saliou Mbacke (Sëriñ Falilou, Khalifah kedua 1945-1968)

Di kota Touba nyaris tak pernah terjadi tindak kriminal disepanjang sejarahnya, aturan Islam secara ketat diberlakukan di kota itu. Alkohol dan sejenisnya, rokok dan sejenisnya, tarian dan musik bahkan bermain game pun terlarang di kota itu. (mirip dengan di Indonesia) Mushola dan masjid merupakan bangunan yang lumrah terlihat dimana mana. Seperti di kota suci Mekah, di kota Touba-pun denyut nadi perekonomian dan semua aktivitas terhenti saat terdengat suara azan. Muslim disana bergegas menuju mushola atau masjid terdekat untuk melaksanakan sholat berjamaah.***

-------------------

Baca Juga


2 komentar:

Dilarang berkomentar berbau SARA