Friday, September 24, 2010

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo (foto dari onthelpotorono)
Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo merupakan salah satu dari Lima Masjid Pathoknegara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Tulisan ini merupakan bagian ahir dari 6 tulisan serial 5 masjid pathok negara kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Lokasi Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta, Indonesia. Masjid Taqwa berdiri di atas tanah kesultanan (Sultan Ground) seluas 5000 meter persegi. Luas bangunan masjid saat didirikan adalah 420 meter persegi dan hingga kini telah dilakukan pengembangan sehingga luasnya menjadi 750 meter persegi. Bagian serambi luasnya 250 meter persegi, dan ruang perpustakaan seluas 90 meter persegi, dan halaman seluas 4000 meter persegi.


Lihat Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo di peta yang lebih besar

Sejarah Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Taqwa, Wonokromo didirkan pertama kali oleh Kyai Mohammad Fakih. Beliau adalah seorang guru agama Islam Bertempat tinggal di desa Ketonggo. Dan terkenal juga dengan panggilan "Kyai Welit". Karena kesenangannya menganyam daun alang alang menjadi atap atau disebut welit. Welit yang dibuatnya tidaklah untuk dijual tapi hanya dibagi bagikan ke mereka yang membutuhkan.

Kyai Muhammad Fakih merupakan guru sekaligus kakak ipar dari Sultan Hamengkubuwono I (Raja Yokyakarta) Karena Sultan Sultan Hamengkubuwono menikah dengan putri kedua Ki Derpoyudo sedangkan Kyai Muhammad Fakih menikah dengan putri pertama Ki Derpoyodo yang merupakan seorang tokoh masyarakat Laweyan Surakarta.

Ketika menjadi murid dari Kyai Muhammad Fakih Sultan pernah meminta nasihat kepada Kyai Muhammad Faqih bagaimana agar negara senantiasa aman. Kyai Muhammad Faqih memberikan nasihat agar sultan agar Sultan melantik orang-orang yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti yang disebut "Pathok". Dan memilih "Kenthol" (kepala pedesaan/desa). Sultan setuju dengan nasihat Kyai Muhammad Faqih dan mengangkat Pathok yang ditempatkan di desa Mlangi, Plosokuning, Babadan Gedong Kuning,Ringinsari Genthan, Demak Ijo, Klegum, Godean dan Jumeneng.

Gerbang, Lambang Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat di fasad depan Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo (foto dari onthelpotorono)
Tahun 1774 M Kyai Moh. Fakih dilantik menjadi kepala Pathok, dan dianugerahi tanah perdikan di sebelah selatan Ketonggo, yang masih berupa hutan yang banyak ditumbuhi pohon awar-awar, karenanya disebut alas awar-awar. Tanah anugrah Sultan yang masih berupa hutan awar-awar itu dibuka dan kemudian didirikan sebuah masjid kecil. Setelah selesai, Kyai Moh. Fakih menghadap Sultan menyampaikan laporan bahwa di atas tanah perdikan itu sudah didirikan sebuah masjid.  Atas amanat Sultan Hamengkubuwono maka hutan awar-awar yang sudah di buka dan sudah didirikan masjid itu diberi nama "WA ANA KAROMA" yang maksudnya "Supaya benar-benar Mulya" atau "Agar Mulya Sungguh-sungguh"

Kyai Muhammad Fakih ini juga disebut juga Kyai Sedo Laut (meninggal di laut) karena sepulang dari tanah suci pada tahun 1757, kapal yang ditumpanginya karam di selat Malaka. Kyai Muhammad Fakih karam di laut, sedang putranyaKH Abdullah terdampar di selat Malaka.

Arsitektural Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Arsitektur asli bangunan induk masjid Taqwa berbentuk kerucut (lancip) dengan mustaka dari kuwali yang terbuat dari tanah liat. Sedang bangunan serambi berbentuk limasan dengan satu pintu di depan. Semua bahan bangunannya dari bambu, atapnya terbuat dari welit, dan dindingnya dari gedhek. Sebelum kemudian mengalamai beberapa kali renovasi dan perluasan hingga ke bentuknya saat ini.

Renovasi Dan Perluasan Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Tahun 1867M Bentuk asli Masjid Pathok Negara Taqwa direnovasi oleh Kyai Muhammad Fakih II bentuk bangunan masjid dibongkar diganti dengan bentuk atap tumpang. Serambi tetap berbentuk limasan. mustoko yang dulu hanya dari kuwali yang dibuat dari tanah liat kemudian diganti dengan bentuk bawangan yang dibuat dari kayu nangka.

mihrab dan serambi masjid Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo (foto dari onthelpotorono)
Kerangka yang semula bambu sebagian besar diganti dengan kayu nangka dan sebagian dengan gelugu. Tembok anyaman bambu diganti dengan batu bata yang direkatkan dengan tanah liat diplester dengan adukan aci gamping dengan tumbukan bata dan pasir. lantainya dibuat dari bata yang ditata lalu diplester dengan adonan yang sama seperti membuat tembok.

Ruangan di dalam masjid ditambah. Di sisi kiri dan kanan bangunan masjid dibuat ruangan untuk jamaah sholat bagi muslimah yang disebut pawestren. Tempat wudhu yang semula dari padasan, dibuatkan kolam di depan serambi masjid. Air dialirkan dari sungai Belik.

Tahun 1958, masjid kembali di renovasi atas biaya dari H. Prawiro Suwarno.Atap tumpang tetap dipertahankan, malah ditambah dengan gulu melet sebagai penyela antara atap tumpang sebelah atas dan atap tumpang sebelah bawah.  Serambi masjid diperluas. Kolam di tempat wudhu ditimbun tanah dijadikan halaman masjid. Tempat wudhu dibuat kulah yang berada di sisi utara dan selatan serambi masjid. Pawestren tempat jamaah sholat untuk muslimah dipertahankan. Bangunan masjid diganti tembok yang disemen. Empat tiang utama di dalam masjid menjadi terlihat jelas. Tempat khotib dibuatkan rumah-rumahan semacam gazebo ukuran 2 x2 m. Di bagian serambi ada beberapa tiang dari cor beton dan di dalam serambi tiang dibuat dari balok kayu jati. Di depan serambi masjid dibuat kanopi. Lantai ruangan masjid maupun serambi diganti dengan tegel. Ruangan dalam masjid, tegel dibuat warna warni dengan corak ornamen kembang-kembang.

Tahun 1973 M, warga Wonokromo, Muhammad Asnawi Muslikh, menyumbangkan seperangkat pengeras suara yang digerakkan dengan accu 12 volt untuk mengumandangkan adzan. Tahun inilah pertama kali adzan dikumandangkan dengan pengeras suara di masjid Taqwa.

tempat berwudhu, bedhug dan kenthongan, serta parit dengan air jernih di Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo (foto dari onthelpotorono)
Tahun 1976 M, mustoko dalam bentuk bawangan yang dibuat dari kayu nangka, diganti dengan mustoko dalam bentuk bawangan yang dibuat dari aluminium dengan ukuran yang lebih besar.

Pada tahun 1986 M, masjid mendapat bantuan dari Presiden RI sejumlah Rp. 25.000.000,- Karena kondisi masjid sudah banyak yang rusak, terutama kayu penyangga yang lapuk karena terkena tetesan air hujan, atas izin tertulis dari Keraton, bangunan masjid dibongkar dan diperluas.

Secara total, masjid dibangun dengan konstruksi beton bertulang, dengan tidak meninggalkan arsitektur masjid Jawa Yogyakarta. Termasuk dalam pemilihan warna catnya antara komposisi hijau, kuning dan merah serta kuning emas karena warna-warna ini mengandung nilai filosofis yang dalam. Keinginan masyarakat membuat menara dari konstruksi beton tidak mendapatkan ijin dari keraton karena corak masjid Yogyakarta tidak ada menaranya.

Tahun 2003 M, masjid ini mendapat bantuan pengembangan dari Dinas Pariwisata Yogyakarta. Dengan membangun gedung pertemuan di utara serambi masjid. Kulah dibikin simetris antara kulah di sebelah utara serambi masjid dan di sebelah selatan serambi masjid. Ada penambahan bangunan kanopi dan dihidupkannya kolam di depan di sisi kiri dan kanan serambi masjid. Juga penyempurnaan dapur untuk memasak air pada saat dilaksanakan hari-hari besar Islam di masjid taqwa.

Nama Masjid Taqwa

Sejak masjid ini didirikan oleh Kyai Muhammad Fakih, masjid ini tidak ada namanya. Saat itu, masyarakat mengenalnya dengan sebutan masjid Wonokromo. Pada saat kepengurusan masjid dipegang oleh Kyai Makmun,masjid diberi nama Masjid Taqwa, bukan Masjid at-Taqwa.

Ada argumen yang diberikan Kyai Makmun kenapa masjid ini diberi nama masjid Taqwa dan bukan Masjis at-Taqwa. Kata taqwa adalah bentuk isim nakiroh, yang mengandung pengertian umum untuk siapa saja. Siapa saja dari tingkatan kyai sampai dengan tingkat orang awam sekalipun boleh beribadah di masjid ini, tak ada bedanya dengan siapa pun. Termasuk yang boleh masuk ke masjid ini tidak hanya warga Wonokromo, tapi juga warga lainnya. Lain dengan kata at-Taqwa dalam bentuk isim ma'rifah, yang mengandung pengertian khusus, bahwa yang boleh masuk masjid hanya para kyai saja. Atau masjid ini hanya khusus untuk warga Wonokromo saja.

Pemberian nama ini dilakukan secara resmi dengan membuka selubung papan nama yang lakukan oleh Kyi Makmun, selubung papan nama Masjid Taqwa pada saat itu digantung di kanopi di serambi masjid.

Tradisi Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Hukuman untuk yang salah membunyikan beduk
Zaman dulu, di depan masjid dibangun tempat wudhu. Airnya diambil dari sungai Belik yang dialirkan melalui parit. Fungsi kolam selain untuk berwudhu juga berfungsi unuk menghukum orang yang salah dalam memukul kentongan dan beduk, dengan diceburkan di dalam kolam.

Bunyi Beduk dan kentongan yang khas
Untuk tanda waktu masuk sholat, selain azan, dibuat kentongan dan beduk. Suara dan irama beduk di hari-hari biasa berbeda dengan saat tanda masuk sholat ashar di hari Kamis. Suara irama beduk disebut dengan sarwo lemah, asar dowo malem jemuah. Bila tiba waktu ashar di hari Kamis, beduk itu dipukul dengan nada dan irama yang khas dan panjang. Artinya apabila terdengar suara beduk dipukul panjang menandakan bahwa nanti malam adalah malam Jum'at.

Di hari Jum'at, setengah jam sebelum tiba waktu sholat jum’at, beduk ditabuh bertalu-talu. Di akhir pemukulan bedhuk sisipi pemukulan kenthongan. Ini menandakan bahwa pelaksanaan ibadah Jum'ah sudah akan dimulai.

Azan Limo
pada saat sholat Jum'at, pelaksanaan adzan dilakukan dua kali. Adzan pertama dilakukan sebagai tanda saat masuknya waktu sholat dhuhur (masuk waktu sholat Jum'at). Pada saat adzan pertama, baik petugas untuk adzan subuh, dzuhur, 'asar, maghrib, isya' berjajar-jajar di depan mimbar, mengumandangkan adzan bersama-sama. Hal ini dimaksudkan supaya ada keadilan, bersatu dan bertemunya para muadzin dari masing-masing waktu, maka di sini dikenal dengan istilah adzan limo

Bodho Kupatan
Adalah tradisi saling memaafkan setelah puasa sunat Syawal bulan syawal

Peran Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Pada zaman penjajahan Belanda, masjid ini untuk jama'ah sembahyang Jum'at bagi penduduk Wonokromo dan dari desa-desa sekitarnya, karena masjid merupakan masjid tertua di wilayah Kecamatan Pleret dan sekitarnya.

Di masa revolusi fisik, masjid Wonokromo disamping untuk sholat jama'ah para gerilyawan RI juga sebagai tempat koordinasi untuk menggempur Belanda yang berkedudukan di Pleret. Daerah ini merupakan basis kekuatan militer dan pejuang serta kekuatan masyarakat dalam ketahanan berjuang melawan Belanda yang bermarkas di Pleret maupun di Bantul

Masjid ini juga menjadi tempat kekuatan militer kompi III Batalion I Brigade 10yang saat itu dipimpin Letda Komarudin. Di makam yang terlatak di sebelah barat masjid juga terdapat beberapa orang pahlawan yang disemayamkan di sana dan hingga sekarang selalu diziarahi banyak orang pada bulan Agustus untuk mengenang jasa-jasanya.

Pengurus Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Otoritas Kyai
Pada awal berdirinya, belum dikenal istilah takmir masjid untuk mereka yang mengurusi masjid. Urusan masjid mutlak berada di tangan otoritas Kyai, baik untuk urusan fisik masjid maupun urusan peribadatannya.

Khodimul Ummah
Tahun 1913 M orang-orang yang mengurus segala urusan masjid baik fisik maupun peribadatan disebut dengan istilah khodimul ummah. Perangkat pengurus masjid memiliki nama dan peran masing masing misalnya : khotib disebut abdidalem kaji selosin. Muadzin disebut abdidalem muadzin. Masing masing muadzin memiliki tugas masing-masing di masing masing 5 waktu sholat. Adapun orang-orang yang mengurus urusan fisik masjid dari menyapu lantai hingga menggelar tikar untuk sholat dan mengisi air wudhu disebut dengan abdidalem merbot. Semua yang mengurus fisik masjid ini mendapat Surat Keputusan (SK) dari Kraton Ngayogyokarto yang disebut dengan Serat Kekancingan.

Imamah
Tahun 1969 M, pola kepengurusan masjid diganti dengan sistem imamah. Segala sesuatu yang menyangkut urusan masjid secara mutlak keputusannya di tangan imam. Pada periode itu imamnya adalah Kyai Makmun.

Takmir
Paska wafatnya Kyai Makmun tanggal 2 Mei 1990 M. pola kepengurusan masjid diganti dengan takmir masjid sampai sekarang.

Berikut daftar kepengurusan masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo sejak awal hingga tahun 2007.

Kyai Muhammad Fakih
(1755 1763 M)
Kyai Abdullah
(1763 1808 M)
Kyai Ibrahim   
(1708 1863 M)
Kyai Muhammad Fakih II
(1863 1913 M)
Kyai Moh Dahlan atau K.R.T. H. Badaruningrat
(1913 1953 M)
Kyai Dimyati   
(1953 1969 M)
Kyai Makmun
(1969 1990 M)
Kyai Moh Syifak
(1990 1994 M)
R. Zaenuri Isma'il       
(1994 1997 M)
Drs. Muhammad Wakhid
(1997 2000 M)
Kyai Isma'il     
(2000 2003 M)
Kyai Ismail      
(2003 2006 M) 
Kyai Ismail      
(2006 sekarang).
             

Referensi


-------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya 


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA