Thursday, September 23, 2010

Masjid Jami' An-Nur Mlangi

Masjid Pathok Negara An-Nur Mlangi (foto dari wijna.web)

Masjid Jami' An-Nur Mlangi, merupakan salah satu dari lima masjid Pathok Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat dan menjadi batas negara di bagian barat. merupakan bangunan paling legendaris di dusun Mlangi karena dibangun pada masa Kyai Nur Iman, sekitar tahun 1760-an. Warga setempak menyebut masjid ini sebagai Masjid Gedhe.

Gapuro Masjid Pathok Negara
An-Nur Mlangi (foto dari tembi.org)
Meski telah mengalami renovasi dan beberapa perubahan, arsitektur aslinya masih dapat dinikmati. Diantaranya adalah gapura masjid dan dinding sekitar masjid yang didesain seperti bangunan di daerah Kraton. Di dalam masjid juga tersimpan sebuah mimbar berwarna putih yang digunakan sejak Kyai Nur Iman mengajar Islam.

Disekeliling Masjid juga terdapat pemakaman dan satu dari makam yang paling banyak dikunjungi oleh para peziarah adalah makam dari makam Kyai Nur Iman yang memiliki nama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo merupakan kerabat dari Sultan Hamengku Buwono I.

LOKASI

Masjid Jami’ Pathok Negara An-Nur Mlangi terletak di Desa Mlangi, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

SEJARAH MASJID PATHOK NEGARA AN-NUR MLANGI

Masjid Jami' Mlangi dibangun pada masa Kyai Nur Iman sekitar tahun 1760-an.

Nama Mlangi tak lepas dari sosok Kyai Nur Iman. Kyai Nur Iman / RM. Sandeyo/ KGHP. Kertosuro  adalah putra dari RM. Suryo Putro/ Amangkurat Jawa / Amangkurat IV, Raja Mataram (Islam) yang berkuasa antara tahun 1719-1726, dari Istri pertamanya. Beliau lahir dan dibesarkan di Pondok Pesantren Gedangan asuhan Kyai A. Muhsin

Kyai M. Nur Iman juga merupakan kakak dari 3 Raja di 3 Kerajaan Jawa yaitu Pangeran Sambernyowo / RM. Said/ Adipati Mangkunegara I (penguasa pertama Puro Mangkunegaran), Pangeran Mangkubumi / RM. Sujono/ Sultan Hamengku Buwana I (Sultan pertama Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat) dan Susuhunan Pakubuwono III (penguasa pertama Keraton Surakarta)

Kyai Nur Iman sudah lama membina pesantren di Jawa Timur diberi hadiah sebidang tanah oleh Sultan Hamengku Buwono I. Tanah itulah yang kemudian dinamai 'mlangi', dari kata bahasa Jawa 'mulangi' yang berarti mengajar. Dinamai demikian sebab daerah itu kemudian digunakan untuk mengajar agama Islam.

Pada masa pemerintahaan Hamengku Buwana II (yang merupakan keponakan dari Kyai Nur Iman), Kyai Nur Iman Mlangi mengarahkan agar Raja membangun Empat Masjid besar untuk melengkapi dan mendampingi masjid yang sudah berdiri terlebih dahulu yaitu masjid yang berada di kampung Kauman , di samping kraton. Masjid yang akan dibangun tersebut disaranklan oleh Kyai Nur iman dibangun di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari

Keempat masjid tersebut adalah : di sebelah Barat terletak di dusun Mlangi, di sebelah Timur terletak di desa Babadan, di sebelah Utara terletak di desa Ploso Kuning, Di sebelah Selatan terletak di desa Dongkelan.

Pengurus masjid tersebut adalah putra - putra Kyai Nur Iman Mlangi yakni :

Masjid Ploso Kuning di urus oleh Kyai Mursodo, Masjid babadan diurus oleh kyai Ageng Karang Besari, Masjid Dongklelan diurus oleh Kyai Hasan Besari, Masjid Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman Mlangi sendiri. Masjid - masjid tersebut kemudian terkenal dengan Masjid Kagungan Dalem atau Masjid Kasultanan, dan pengurus takmir pada saat itu termasuk abdi dalem kraton.

WISATA ZIARAH DI MASJID PATHOK NEGARA MLANGI

Masjid Pathok Negara An-Nur Mlangi (foto dari gudeg.net)
Makam Kyai Nur Iman senantiasa ramai di ziarahi oleh para peziarah terutama pada tanggal 15 Suro yang merupakan tanggal wafatnya Kyai Nur Iman dan bulan Ruwah. Hanya pada bulan ramadan saja makam itu agak sepi. Biasanya, para peziarah membaca surat-surat Al-Qur'an dengan duduk di samping atau depan cungkup makam.

Makam Kyai Nur Iman dapat dijangkau dengan melewati jalan di sebelah selatan masjid atau melompati sebuah kolam kecil yang ada di sebelah tempat wudlu. Makam itu terletak di sebuah bangunan seperti rumah dan dikelilingi cungkup dari bahan kayu.

ARSITEKTUR MASJID PATHOK NEGARA MLANGI

Mastoko Masjid Pathok Negara
An-Nur Mlangi (foto dari yulibean.multiply)
Masjid Mlangi berdiri di atas sebidang tanah Kasultanan seluas 1.000 meter persegi, yang terdiri atas bagian ruang utama 20 x 20 meter persegi, serambi masjid 12 x 20 meter persegi, ruang perpustakaan 7 x7 meter persegi, dan halaman seluas 500 meter persegi. 

Memasuki gapura halaman masjid, terdapat beberapa tangga menurun. Dengan begitu dilihat dari tinggi tanah pada umumnya, lokasi masjid ini lebih rendah dibanding tanah sekitarnya. Sisi kiri dan halaman masjid terdapat tembok beteng mengelilingi masjid. Di halaman bagian utara terdapat bangunan ruang pertemuan. Namun bangunan ini dibuat pada masa belakangan seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

Di sisi barat, utara dan timur laut terdapat makam. Mereka yang dimakamkan di sana adalah keluarga keraton. Di sisi barat dimakamkan Pangeran Bei. Di utara masjid terdapat makam Pangeran Sedo Kedaton, yaitu Patih Danurejan pada masa Sultan Hamengkubuwono II. Di sisi timur adalah makam keluarga Pangeran Prabuningrat.

Arsitektur masjid Mlangi pada asalnya sama dengan masjid keraton yang lain. Bentuknya seperti Masjid Pathok Nagari Plosokuning. Bangunannya mengikuti gaya arsitektur Jawa dengan penyangga-penyangga kayu. Konon pada masa dulu, soko masjid ini berjumlah 16 buah termasuk empat soko utama di ruang utama masjid. Di sisi masjid dibangun pawestren, tempat khusus untuk sholat kaum putri. Di bagian depan, sisi depan, kanan dan kiri masjid terdapat blumbang sebagai tempat membersihkan kaki jamaah sebelum memasuki masjid.

RENOVASI DAN PERLUASAN

Sayangnya, bentuk Masjid ini sudah banyak mengalami perubahan. Blumbang yang dulu mengelilingi masjid, sekarang sudah tidak ada lagi. Pada waktu itu, air blumbang diambil dari bendungan Mlangi di wilayah timur. Namun pada perkembangan selanjutnya, jika air dialirkan untuk mengairi blumbang masjid, sawah-sawah di sekitarnya menjadi kering. Akhirnya, blumbang ini ditutup supaya tidak mengganggu kepentingan irigasi sawah.

Hal ini terjadi bersamaan dengan renovasi yang dilakukan tahun 1985. Panitia pembangunan, pada saat itu sowan dulu ke Kraton meminta izin untuk renovasi. Keraton memberikan izin dengan syarat tidak mengubah bentuk aslinya. Namun karena tuntutan untuk memperluas bangunan, masjid Mlangi kemudian ditingkat. Konstruksi bangunannya pun diganti dengan pilar-pilar beton. Sekalipun demikian, bentuk masjid aslinya dipertahankan dengan dinaikkan di lantai atas. Di sisi depan sebelah utara ditambah menara setinggi 20m ; sesuatu yang tidak lazim dalam arsitektur masjid Kasultanan.

Hanya beberapa bagian masjid yang masih terjaga kasliannya. Diantaranya adalah mustoko masjid. Bentuk mustoko ini konon sama dengan mustoko masjid Demak. Di sisi kanan kiri terdapat bunga-bunga melati berjumlah 17 buah. Di bagian atas terdapat sebuah godho dengan posisi berdiri.

Mimbar yang ada di masjid ini juga masih asli. Di sisi depan ada tangga bertingkat. Di bagian luarnya diberi kain mori putih, seperti mimbar-mimbar di masjid kerajaan Mataram tempo dulu. Beduknya juga mempertahankan replika aslinya. Sekalipun tidak menggunakan kayu yang utuh, diameter beduk ini sama dengan ukuran bedug yang asli, yakni 165 cm.

PENGELOLA MASJID

Pada zaman dulu, pengelolaan masjid ini langsung di bawah Kesultanan Ngayogyokarta Hadiningrat. Dalam perkembangannya, kepengurusan masjid ini pada tahun 1955 oleh Kasultanan resmi diserahkan masyarakat Mlangi. Hal ini berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX. Pada tahun itu, masjid Kasultanan Mlangi diserahkan kepada masyarakat diwakili KH Zainudin dan KH. Masduki. Sejak itu masjid yang dulunya bernama Masjid Kasultanan Mlangi berubah nama menjadi Masjid Jami' Mlangi.

Namun, hubungan dengan keraton tetap terjaga. Takmir masjid Mlangi ini dulu diberi bengkok (sawah) oleh keraton. Di lokasi masjid juga terdapat abdidalem keraton. Abdidalem yang ada di sana ada dua yaitu abdidalem pamethakan, dan abdidalem surakso. Yang disebut terakhir ini adalah abdidalem yang berperan sebagai juru kunci pesarean. Pada bulan maulud, para abdidalem dikumpulkan dan dilakukan pasowanan ke keraton.

Semenjak masjid ini diserahkan ke masyarakat, pengelolaan masjid semakin longgar sekalipun tetap berkordinasi dengan keraton. Semenjak diserahkan kepada masyarakat, telah dilakukan pemugaran beberapa kali. Diantaranya pemugaran tahun 1970 dan tahun 1985. Setelah itu juga dilaklukan pemugaran secara berkala sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

MASYARAKAT MLANGI YANG ISLAMI

Berkeliling ke dusun Mlangi, anda akan menjumpai begitu banyak Pondok Pesantren. Diantaranya Pondok Pesantren As-Salafiyah merupakan yang paling tua, dibangun sejak 5 Juli 1921 oleh K.H. Masduki.

Cara berpakaian penduduk. Di Mlangi, para lelaki biasa memakai sarung, baju muslim, dan peci meski tidak hendak pergi ke masjid. Sementara hampir semua perempuan di dusun ini mengenakan jilbab di dalam maupun di luar rumah. Pengamalan ajaran Islam seolah menjadi prioritas bagi warga Mlangi. Konon, warga rela menjual harta bendanya agar bisa naik haji.

Meski banyak warga punya kesibukan dalam mendalami agama Islam, tak berarti mereka tidak maju dalam hal duniawi. Dusun Mlangi sejak lama dikenal sebagai salah satu penghasil tekstil terkemuka, hanya jenis produknya saja yang berubah sesuai perkembangan jaman. Pada tahun 1920-an, usaha tenun dan batik cetak marak di kampung ini hingga tahun 1965-an.

Beberapa Ponpes di wilayah Mlangi dipimpin oleh para kyai keturunan K. H. Nur Iman. Tidak kurang dari 1.000 santri yang belajar di pondok-pondok tersebut. Para santri datang ke Masjid pada saat-saat sholat jama'ah dan jum'atan. Pondok pondok Pesantren tersebut adalah PP al-Huda, dipimpin KH Muhtar Dawam, PP. as-Salafiyah dipimpin KH Sujangi, PP al-Miftah dipimpin KH Munahar, PP an-Nasat dipimpin KH Samingun, PP al-Ikhlas dipimpin KH Bahaudin, PP Hidayatul Mubtadi'in dipimpin KH Nur Iman Mukim, PP al-Falahiyah dipimpin Ny. Hj Rubaiyah, PP as-Salimiyah dipimpin KH Salimi, dan PP al-Furqon dipimpin KH Imanuddin.

TRADISI MASJID AN NUR MLANGI

Bimbingan Agama Islam ba’da magrib dan ba’da subuh
Untuk memberi bimbingan keagamaan dan meningkatkan ketaqwaan setiap ba'da subuh dan ba'dal maghrib diadakan ceramah oleh kyai-kyai pimpinan pondok pesantren seluruh Mlangi secara bergiliran.

Kegiatan di bulan Ramadhan
Selama Bulan Ramadhan dilaksanakan Madrasah Diniyah dengan santri yang mayoritas berasal dari lain wilayah.

Budaya Mercon
Daerah Mlangi juga dikenal dengan budaya mercon khususnya pada saat bulan Ramadhan. Budaya ini diyakini oleh masyarakat Mlangi sebagai sarana minta maaf. Unine mercon kanggo sarono njaluk ngapuro (suara mercon sebagai sarana untuk meminta maaf). Semakin keras suara mercon dan jumlahnya banyak maka dosa yang diampuni juga semakin banyak. Kebiasaan ini memang telah berlangsung sejak dulu, hingga kini masih berlanjut. Namun semakin hari, mengingat resiko bahaya yang mungkin ditimbulkan, budaya ini sudah sedikit berkurang.

Jenang manggul
Di Mlangi juga dikenal tradisi jenang manggul. Tradisi ini bermula sejak Sultan Hamengkubuwono I, saat memberikan tanah perdikan Mlangi. Pada saat Kyai Nur Iman hendak mendirikan pesantren, Hamengkubuwono I saat peletakan batu pertama dilakukan tradisi jenang manggul. tradisi jenang manggul, yang dilakukan dengan memasak bubur dalan jumlah besar, dimaksudkan untuk mengingatkan akan beban tanggungjawab yang tidak ringan ini.

Masjid Pathok Negara Mlangi
Melongok Nuansa Islami di Dusun Mlangi
Riwayat Mbah Kyai Nur Iman Mlangi Yogyakarta : Tarikh Nur Iman Mlangi RM. Sandeyo
Jelajah Desa Wisata II


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA