Selasa, 14 September 2010

Masjid Babussalam Gelumbang

Masjid Babussalam Gelumbang (lihat di Panoramio)
Masjid Babussalam Gelumbang ini mungkin mewakili kebanyakan masjid di Indonesia yang tak memiliki sejarah tertulis tentang keberadaannya, baik berupa prasasti pembangunan ataupun dokumen dokumen pembangunan yang bisa di jadikan rujukan sejarah pendirian masjid tersebut. Tulisan ini boleh jadi menjadi catatan pertama tentang masjid Babussalam ini.

Tak ada yang istimewa dengan bangunan masjid Babubassalam ini, hanya saja masjid ini adalah masjid tempat dimana dulu penulis dan pengelola Blog ini menghabiskan masa kecil belajar mengaji di masjid ini setiap sore, dengan para guru disana yang bekerja tanpa gaji dan penghasilan tetap. Bayaran dari murid muridnya pun beragam mulai dari bayaran berupa uang hingga beras dan sembako lain nya.

Dari atap masjid (lihat di Panoramio)

LOKASI

Masjid Babussalam Gelumbang ini terletak di Kelurahan Gelumbang, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Tepat berada di jalur lintas tengah Sumatera, diantara kota Prabumulih dan Kota Palembang. Dapat di capai dengan kendaraan umum dari Kota Prabumulih lebih kurang setengah jam perjalanan ke utara atau selama satu hingga satu setengah jam dari Kota Palembang ke arah selatan.

Meski terletak di dalam wilayah kabupaten Muara Enim, tapi Gelumbang yang tadi nya berstatus sebagai sebuah desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa (Kades) tapi sejak beberapa tahun lalu di ubah statusnya menjadi sebuah Kelurahan yang di kepalai oleh seorang Lurah ditunjuk langsung oleh pemerintah tanpa melewati proses pemilihan layaknya kepala desa.



SEJARAH MASJID

Seperti disebutkan di awal, bahwa tak ditemukan (setidaknya sampai saat artikel ini ditullis) dokumen dokumen atau prasasti yang menjelaskan secara pasti kapan dan oleh siapa Masjid Babussalam Gelumbang pertama kali di didirkan. Namun demikian bangunan Masjid  yang kini berdiri, mulai dibangun tahun 1978 setelah bangunan lama sudah tak lagi mampu menampung jumlah jamaah dan mengalami kerusakan struktur atap sudah demikian parah, ditambah lagi dengan kondisi arah kiblat masjid yang tidak akurat, membuat para tokoh masyarakat Gelumbang waktu itu memutuskan untuk merobohkan masjid tersebut dan menggantinya dengan masjid yang lebih besar di lokasi yang sama.

Bentuk masjid Babussalam yang kini ada bukanlah bentuk awal masjid tersebut. Dulunya bentuk masjid tersebut serupa dengan masjid masjid di desa desa lain di sekitar Kelurahan Gelumbang yang meniru bentuk dari Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II di Kota Palembang. Masjid dengan atap bersusun tanpa kubah, disangga oleh empat tiang (sokoguru) dari kayu, struktur atap juga dari kayu, berdinding batu bata, berjendela besar, dengan sebuah menara berdiri sendiri yang tak terlalu tinggi.

Masjid Tua Talang Menerai (Desa Sukamenang) tak jauh dari Kalurahan Gelumbang, Perluasan masjid sudah nyaris menghilangkan bentuk asli masjid ini. (lihat di Panoramio)
Hal yang menarik ketika Bangunan pertama Masjid Babussalam Gelumbang di robohkan di tahun 1978, ditemukan fakta bahwa batu bata yang dipakai untuk membangun tembok masjid itu ukuran nya jauh lebih besar dari batu bata biasa. Ukuran batu bata yang sama persis dengan batu bata yang ditemukan di reruntuhan bangunan Belanda di sekitar Sekolah Dasar Negeri-1 dan disekitar Stasiun Kereta Api Gelumbang serta daerah daerah lain nya. 

Menilik ukuran batu bata tersebut boleh jadi bangunan pertama masjid Babussalam Gelumbang sejaman dengan bangunan bangunan yang sudah runtuh tersebut. Atau setidaknya sejaman dengan bangunan stasiun kereta api Gelumbang yang dibangun di jaman kolonial Belanda dan masih kokoh berdiri hingga kini.

Interior Masjid Babussalam Gelumbang
Di puncak atap masjid dihiasi dengan mahkota berupa kayu berukir dengan tambahan ornamen ormanen kawat baja sebagai aksesoris. Sementara di bagian ujung empat penjuru atap dihiasi dengan ornamen ornamen mirip ornamen atap bangunan kelenteng. Sejujurnya bangunan masjid Babussalam Gelumbang yang dulu pertama dibangun memang lebih indah dan artistik dibanding kan dengan bangunan masjid yang sekarang ini.

Sejak dirubuhkan tahun 1978 lalu dimulai pembangunan masjid yang kini berdiri, seluruh dana pembangunan masjid berasal dari swadaya masyarakat membuat pembangunan masjid ini memakan waktu cukup lama sampai membentuk bangunan yang kini berdiri. Bangunan dengan banyak tiang beton untuk menyangga atap, Kubah, serta empat menara kecil di setiap penjuru atap masjid. Setidaknya dua kali dalam setahun bagian atas masjid itu juga dijadikan tempat sholat bagi jamaah sholat idul fitri dan idul qurban.

Menara Masjid Babussalam Gelumbang (lihat di Panoramio)

ARSITEKTUR MASJID

Masjid Babussalam Gelumbang berbentuk segi empat, dengan satu kubah di bagian tengan disanggah oleh 12 tiang beton di dalam masjid, di lengkapi dengan 4 menara kecil berkubah di bagian atap. Bagian kubah utama di hiasi dengan ornamen disekililingnya dengan ornamen seperti undakan candi borobudur. Bagian dalam masjid di balur dengan warna kuning.

Menara masjid yang kini masih berdiri merupakan menara dari bangunan masjid lama yang kemudian di pertinggi. Tadinya menara ini berada terpisah dari masjid tapi kini sudah menyatu setelah masjid diperlebar dan menjadi bentuknya yang sekarang. Pembangunan tahun 1978 tetap mempertahankan bentuk mimbar untuk khutbah jum’at hanya berupa tangga sederhana untuk memberikan tempat lebih tinggi bagi khatib yang menyampaikan khutbah. Sementara ruang mihrab tidak dilengkapi pintu samping, aktifitas Imam dan pengurus masjid mau tidak mau harus melewati pintu utama.

Salah Satu Pintu dari Empat Pintu Masjid Babussalam Gelumbang
Pintu utama masjid terdiri dari empat pintu. Masing masing satu pintu di bagian kiri dan kanan masjid dan dua pintu di bagian depan yang menghadap ke tempat parkir. Daun pintu dubuat dari kayu menggerawan (merawan) sementara kusen pintu bagian atas dibuat melengkung lengkap dengan lambang bulan sabit dan bintang di atasnya. Secara keseleruhuhan fasad masjid dihias dengan lengkungan lengkungan besar. Dengan dominasi warna hijau dipertegas dengan garis warna biru.

MENUJU BENTUK KE TIGA

Beberapa tahun terahir tokoh masyarakat Gelumbang berencana untuk membangun kembali masjid Babussalam Gelumbang, menggantinya dengan masjid yang lebih luas dan lebih merepresentasikan kedudukan Kelurahan Gelumbang yang sedang dipersiapkan menjadi ibukota bagi calon kabupaten baru yang akan di bentuk di wilayah tersebut memisahkan diri dari Kabupaten Muara Enim.

Menara kecil di atap Masjid arah barat laut (lihat di Panoramio)
Peletakan batu pertama pembangunan Masjid baru tersebut sudah dilakukan oleh Bupati Kabupaten Muara Enim pada Bulan April 2010 yang lalu, dan proses pembangunannya kini sedang berlangsung. Kucuran dana dari Pemkab Muara Enim ditambah dengan Sumbangan dana dari para tokoh Masyarakat setempat diharapkan akan mampu mewujudkan impian masyarakat Kelurahan Gelumbang untuk memiliki sebuah Masjid yang membanggakan.

Lahan disamping masjid tempat kini sedang di dirikan bangunan awal masjid baru Babussalam, tadinya adalah rumah penduduk yang kemudian dibeli oleh DKM Babussalam. (beberapa sumber menyebutkan bahwa uang untuk membeli lahan tersebut justru berasal dari sumbangan pemilik lahan itu juga). Sementara lahan dibagian depan yang dipakai untuk areal parkir itu adalah lahan bekas Kantor Kepala Desa Gelumbang yang kemudian dirobohkan untuk memberikan halaman yang lebih luas bagi Masjid Babussalam.

Mimbar dan Mihrab yang sederhana

TRADISI MASJID BABUSSALAM GELUMBANG

Dua Kali Azan

Tradisi sholat Jum’at di Masjid Babussalam Gelumbang ini tak jauh berbeda dengan tradisi sholat Jum’at di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II di pusat Kota Palembang. Dua kali azan, dan Khatib yang akan menyampaikan khutbah akan dibekali sebuah tongkat oleh Bilal sebelum naik ke Mimbar. Dan sebelum khutbah di sampaikan, setelah Azan ke dua, bilal akan mengingatkan kepada seluruh jemaah sholat jum’at untuk tidak berbicara ataupun berbisik bisik saat khutbah disampaikan, agar mendengarkan isi khutbah dengan seksama. Azan pertama sebagai pertanda bahwa waktu sholat jum’at sudah tiba sedangkan Azan kedua sebagai pertanda bahwa Khatib sudah naik ke atas mimbar dan sudah siap menyampaikan khutbahnya.

Dua Kali Beduk (Beduk Mandi & Beduk Azan)

Di hari Jum’at, menjelang waktu sholat Jum’at akan terdengar dua kali bunyi beduk di tabuh. Pertama sekitar pukul 11.00 siang atau lebih sedikit akan terdengar suara beduk dari masjid dan dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Bedok Mandik atau Beduk Mandi, maksudnya bunyi beduk sebagai peringatan kepada seisi kampung bahwa sudah tiba waktunya  mempersiapkan diri untuk sholat jum’at termasuk untuk mandi sunnah sholat jum’at, berpakaian rapi dan persiapan persiapan lain nya.

fasad depan Masjid Babussalam
Beduk kedua, diperdengarkan sebagai tanda bahwa waktu sholat jum’at sudah tiba. Segera setelah  bunyi beduk kedua ini, bilal akan mengumandangkan azan pertama. Setelah itu dilanjutkan dengan sholat qobliah Jum’at. Setelah itu bilal bersiap untuk memulai prosesi khutbah jum’at.

Tradisi Marhaba

Marhaba adalah sebutan bagi prosesi Aqikah dan pemberian nama kepada bayi laki laki ataupun bayi perempuan. Biasanya masyarakat Gelumbang akan melaksanakan prosesi Aqikah dan pemberian nama bagi putra putri mereka di Masjid. Prosesi di mulai dengan pembacaan Kitab Albarzanji, lalu dilanjutkan dengan prosesi pemotongan rambut bayi oleh para hadirin yang berdiri berjejer rapi sambil melantunkan puji pujian kepada Nabi kita yang mulia Muhammad S.A.W.

Salah satu syair dari puji pujian itu berbunyi “Marhaban ya Nuroaini….marhaaabaaa”…. itu sebabnya prosesi ini terkenal dengan sebutan acara Marhaba. Selama puji pujian itu dilantunkan bayi yang di Marhabai (di Aqikah dan di beri nama) akan di gendong oleh ayahnya atau pamannya atau kakeknya, atau oleh kerabatnya yang laki laki, berkeliling menghampiri para jamaah untuk di potong rambutnya. Rambut yang sudah di potong akan dimasukkan ke dalam kelapa muda yang sudah di potong bagian atas nya. Sementara jamaah yang sudah melakukan pemotongan rambut akan dihadiahi semprotan wangi wangian dari salah pengiring bayi, dan satu buah telok abang dari pengiring bayi yang lain nya.

Masjid Babussalam di penghujung tahun 2012
Telok abang adalah setangkai lidi kawung yang besar, di hias dengan kertas warna warni, di ujungnya dipasangi bendera Merah putih, dibawah bendera digantungkan uang kertas (mulai dari seribu hingga sepuluh ribu rupiah tergantung seberapa mampu dan ridho si empunya hajat) dibagian bawah nya lagi kadang kadang di gantungi nama  bayi bersangkutan dan dibagian paling bawah terdapat telor ayam rebus yang sudah diberi warna merah (Abang = Merah). Masing masing jemaah akan diberi satu telok abang sebagai oleh oleh.

Seluruh acara adat Gelumbang di lakukan di masjid ini, mengingat 100% penduduk Gelumbang, Suku Belida dan suku suku lain nya di Sumatera Selatan beragama Islam. Termasuk di dalam nya upacara pengukuhan kepala adat dan pemberian gelar kehormatan kepada para tokoh masyarakat, semuanya dilakukan di masjid Babussalam Gelumbang. Beberapa waktu lalu dilakukan pemberian gelar kehormatan masyarakat suku Belida kepada Bupati Kabupaten Muara Enim dengan gelar Ketua Gugok Gelumbang. Dan upacara pemberian gelar itu juga dilakukan di Masjid Babussalam Gelumbang.*** [last updated : 12-Juni-2013]

6 komentar:

  1. mak ini ari mesjid gelumbang lah blagak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aok. . . Mak Kari Masjid ne memang lah blagak Niun. beca disika bie yo http://bujanglanang.blogspot.com/2013/04/masjid-jami-babussalam-gelumbang.html

      Hapus
  2. Aok mangkone sholat di Masdjid Babusalam rasa2 sholat di kota2 cak di Pelembeang,mana lagik imam & khotbah budak2 gelumbang yg asli bepak/umakne deri gelumbang, jedi mak kari bangga nian ade mesigit ne ringkeh nian, petugas budak2 isi dusun tulah




    BalasHapus
  3. nah. rumah nenek aku sebelah mesjid itu nian..

    BalasHapus
  4. Skarang lah lebeh ringkeh,,,,maklom taon 2014...ai bangga nian aku,,,bkn cma aku,,,tapi kito jgo bangga,,,,Gelumbang dak kalah ringkeh dengan kota kota laen(y)

    BalasHapus

Dilarang berkomentar berbau SARA