Tuesday, December 21, 2010

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang (Bagian I)

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, 
Bagian depan adalah bundaran air mancur, titik nol kota Palembang
Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang ini dapat dijadikan contoh konservasi bangunan kuno peninggalan kejayaan masa lalu namun tetap mengakomodir kebutuhan ummat masa kini. Bangunan asli Masjid ini tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya. Sementara kebutuhan ummat akan masjid yang lebih luas diakomodir dengan menambahkan bangunan baru bernuansa senada, namun lebih modern dan terhubung langsung dengan bangunan asli.

Usia nya yang sudah lebih dari dua abad justru menjadikan masjid ini begitu berkharisma dan dicintai. Berkunjung dan sholat di bagian asli Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II ini sedikit mengobati kerinduan akan kejayaan kesultanan Palembang di masa lalu. Masjid ini juga menjadi salah satu bangunan bersejarah yang tersisa dari penghancuran besar besaran peninggalan Sultan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Bangunan masjid tua Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang (panoramio)
Lokasi Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II masuk dalam wilayah Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, provinsi Sumatera Selatan. Tepat berada di pertemuan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, gerbang utama Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II berhadapan langsung dengan Bundaran air mancur yang menjadi titik nol Kilometer Kota Palembang.

Dari arah Bandara (di bagian utara kota) menuju ke Jembatan Ampera anda harus berputar di bundaran air mancur ini ke arah Jalan Merdeka sebelum masuk ke halaman Masjid Agung dari Gerbang barat. Sementara dari arah selatan, anda dapat melihat keindahan bangunan masjid kebanggaan warga Palembang dan Sumatera Selatan ini dari atas Jembatan Ampera, jembatan yang diabadikan di lambang provinsi Sumatera Selatan sekaligus landmark Kota Palembang. Letak Masjid yang berada di pusat kota ini sangat memudahkan untuk menemukan dan mencapainya, sekalipun bagi mereka yang pertama kali berkunjung ke ibukota Sriwijaya di masa lalu ini.

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang
Jl Cik Agus Kiemas No 1 Palembang
Telp 0711-319767, 0711-350332, dan 0711-356233
Fax 0711-350332



Nama Masjid

Pemberian nama masjid ini merupakan penghormatan dan untuk mengenang jasa jasa Sultan Mahmud Badaruddin II yang begitu gigih melawan pasukan Inggris dan Belanda sampai ahirnya beliau di asingkan ke Ternate, Provinsi Maluku Utara hingga wafat dan dimakamkan disana. Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di Kesultanan Palembang Darussalam tahun 1803 hingga tahun 1821.

Lukisan Wajah Sultan Mahmud Badaruddin II di Mata Uang
Republik Indonesia nominal Rp. 10.000.
Lahir di Palembang tahun 1767 dengan Nama Raden Hasan Pangeran Ratu merupakan putra dari Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803). Wafat di Ternate tanggal 26 September 1852. Pemerintah Republik Indonesia memberikan kehormatan kepada beliau sebagai Pahlawan Nasional, bahkan foto beliau di abadikan dalam uang kertas Republik Indonesia yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

Status Masjid

Pada awalnya masjid ini merupakan masjid Kesultanan Palembang Darussalam. Sehingga masyarakat terbiasa menyebutnya sebagai Masjid Sultan. Kemudian berubah menjadi Masjid Agung Palembang, dan setelah perluasan besar besaran tahun 2003 Masjid ini diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri sebagai Masjid Nasional. Status Masjid Agung Palembang sendiri kemudian di alihkan ke Masjid Al Fathul Akbar di kawasan Jakabaring.

Sejarah Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II  didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo. Peletakan batu pertama pendiri Mesjid Agung pada 1 Jumadil Akhir 1151 H (1738 M) berlokasi di belakang Benteng Kuto Besak, didalam komplek keraton Kesultanan Palembang Darussalam yang dikelilingi oleh Sungai Musi, Sungai Sekanak, Sungai Tengkuruk, dan Sungai Kapuran. Sungai Kapuran dan Sungai Tengkuruk kemudian di timbun oleh pemerintah Penjajahan Belanda.

Masjid Agung SMB II, masih dalam bentuk asli sebelum perluasan
masih terlihat teras bergaya eropa di masing masing sisi masjid
Pembangunan Masjid ini selesai dan diresmikan pada tanggal 28 Jumadil awal 1161H atau 26 Mei 1748 M. Sebagaimana masjid-masjid tua di Indonesia, Mesjid Sultan ini pada awalnya tidak mempunyai menara, ukuran bangunan mesjid waktu pertama dibangun berukuran 30 x 36 meter atau seluas 1080 meter persegi dengan daya tampung 1200 jemaah, menjadikannya sebagai bangunan masjid terbesar di Nusantara pada saat itu.

Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (1758-1774) dibangun menara di sebelah barat, terpisah dari bangunan masjid. Bentuk menaranya seperti menara bangunan kelenteng dengan bentuk atap berujung melengkung. Pada bagian luar badan menara terdapat teras berpagar yang mengelilingi bagian badan.

Tahun 1848 diadakan perbaikan Masjid Sultan dilakukan oleh pemerintah Penjajahan Belanda setelah terjadi perang besar tahun 1819 dan 1821. Menara asli dengan atapnya yang bergaya Cina tidak dirobohkan hanya atapnya yang berganti atap sirap dan penambahan tinggi menara yang dilengkapi dengan beranda melingkar. Diadakan perubahan bentuk gerbang serambi masuk dari bentuk tradisional menjadi bentuk Dorik.

foto tahun 1867 memperlihatkan masjid Agung SMB II dengan
bentuk yang sama dengan foto sebelumnya
Pada tahun 1879 telah diadakan perubahan masjid, perluasan bentuk gerbang serambi masuk di bongkar ditambah serambi yang terbuka dengan tiang beton bulat sehingga bentuknya seperti Pendopo bergaya bangunan kolonial.

Renovasi dan Perluasan

Perluasan pertama dilakukan dengan wakaf Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab tahun 1897 dibawah pimpinan Pangeran Nataagama Karta mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin.

Perluasan kedua kali pada tahun 1930 dengan menambah jarak antara pilar dengan atap menjadi 4 meter. Perluasan ketiga dilakukan di masa kemerdekaan oleh Yayasan Masjid Agung di tahun 1952 dengan menambahkan bangunan berkubah yang tidak harmonis dengan bangunan asli.

Di tahun 1966 -1969 Pengurus yayasan masjid agung meneruskan penambahan ruangan dengan menambah bangunan lantai dua. Pada tanggal 22 Januari 1970 dimulai Pembanguan menara baru bersegi 12 setinggi 45 meter, yang dibiayai oleh Pertamina Sumbagsel dan di resmikan pada Tanggal 1 Februari 1971.

Masjid Agung SMB II mengalami perubahan yang sangat signifikan
di tahun 1970-an, dengan perluasan bangunan tambahan ditambah
dengan menara baru sumbangan dari Pertamina. bentuk ini bertahan
 hingga penghujung 1990an
Tahun 2000 Bangunan tambahan masjid ini di renovasi dan dan diperluas, Proses pembangunan selesai dan diresmikan oleh Presiden RI Hj. Megawati Soekarno Putri pada tanggal 16 Juni 2003. Bangunan masjid tambahan yang ukurannya berkali lipat dari bangunan asli yang kita lihat sekarang ini adalah bangunan yang diresmikan oleh Presiden Megawati tersebut.

Saksi Sejarah

Masjid Agung Sultan Palembang ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kota Palembang sejak dari masa kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam, perjuangan melawan pasukan Inggris, menjadi saksi keberingasan penjajahan Belanda yang berusaha keras menghapuskan kharisma Sultan hingga melakukan penghancuran secara terstruktur dan sistematis bangunan bangunan peninggalan sultan termasuk menghancurkan keraton Kuto Besak, aset aset kesultanan hingga rumah rumah para bangsawan. Belanda bahkan merasa perlu membongkar bangunan peninggalan Sultan hingga mencabut pondasi bangunan bangunan tersebut, dalam upaya mereka melenyapkan pengaruh Sultan.

Peristiwa pertempuran 1 Januari 1947 di depan Masjid Agung
SMB II Palembang di abadikan dalam perangko tahun 1975
 (koleksi pribadi)
Masjid ini juga menjadi saksi perlawanan gigih rakyat Palembang dan Sumatera Selatan menentang penjajahan Belanda. Sebuah peristiwa bersejarah yang terkenal dengan perang lima hari lima malam di Kota Palembang berlokasi di depan masjid ini. Peristiwa tersebut kemudian di abadikan dalam perangko Republik Indonesia tahun 1975. Sedangkan lokasi pertempuran tersebut kini dibangun Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Sumatera Selatan.

Masjid ini juga telah melahirkan begitu banyak tokoh tokoh Tokoh-tokoh intelektual Islam nusantara antara lain Fakhruddin Al-Falimbani, Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani, dan Abdus Shomad Al-Falimbani yang ajarannya meluas hingga ke Thailand selatan, Kalimantan, dan Maluku Utara pada masa abad ke-18. Serta masih banyak lagi.  (Bersambung ke bagian II)


Foto Foto Masjid Agung SMB II Bagian I

Denah Komplek Keraton tahun 1811, memperlihatkanlokasi Masjid Agung SMB II
di pojok kanan atas denah
Masjid Agung SMB II Palembang tahun 1970 bentuk ini bertahan hingga renovasi
dan perluasan tahun 2000
Foto di tahun yang sama, diabadikan oleh sang fotografer dari atas jembatan Ampera
di latar depan adalah terminal angkutan umum yang memanfaatkan ruang dibawah
jembatan Ampera. (terminal tersebut kini sudah dipindah ke lokasi baru, dan kawasan
sekitar jembatan Ampera kini di tata sebagai kawasan wisata tepian Sungai Musi)
Bentuk terahir Masjid Agung SMB II yang diresmikan Presiden Megawati
tahun 2003 yang lalu. Disebelah kanan adalah bangunan baru yang direnovasi
dan diperluas. sebelah kiri adalah bangunan asli.
Seorang Multiplyer mengabadikan Masjid ini dari atas jembatan Ampera tahun 2007
dapat dibandingkan dengan foto sebelumnya yang juga di abadikan dari atas jembatan
Ampera di tahun 1970.
Masjid Agun SMB II Palembang dari arah Jalan Jenderal Sudirman. 

2 comments:

  1. terima kasih infoonya

    ReplyDelete
  2. http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1416/masjid-agung-sultan-mahmud-badaruddin-palembang

    ReplyDelete

Dilarang berkomentar berbau SARA