Sunday, December 4, 2016

Islam di Zanzibar

Zanzibar adalah wilayah semi otonom Republik Persatuan Tanzania, terdiri dari Pulau Zanzibar, Pulau Pemba dan Pulau Mafia. Hampir seluruh penduduk Zanzibar adalah pemeluk agama Islam.

Zanzibar adalah sebuah pulau yang terletak di lepas pantai timur benua Afrika, secara administratif Zanzibar merupakan Wilayah Semi Otonom dari Negara Republik Persatuan Tanzania (United Republic of Tanzania) yang merupakan gabungan wilayah daratan Tanzania dengan wilayah pulau Zanzibar dan sekitarnya. Sebagai Wilayah semi otonom Zanzibar memiliki hak Istimewa untuk memiliki pemerintahannya sendiri dibawah kendali seorang Presiden yang dipilih secara demokratis secara periodik.

Islam memainkan peran penting diantara satu juta penduduk Zanzibar, 99% penduduknya merupakan penganut agama Islam. Bertolak belakang dengan wilayah Tanzania daratan yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan hanya 35% dari penduduknya yang beragama Islam. Zanzibar memiliki sejarah panjang begitu juga dengan sejarah Islam di pulau itu.

Pulau Zanzibar cukup lama berada dibawah kendali Sultan Oman sampai kemudian membentuk kesultanan sendiri dibawah kendali Oman hingga ahirnya bangsa Eropa mendarat disana dan mengambil kendali wilayah tersebut, perjuangan kemerdekaan dan gejolak politik dalam negeri mengantarkan wilayah pulau itu kepada pembentukan negara persatuan dengan Republik Persatuan Tanzania hingga saat ini. meskipun gaung kemandirian sebagai sebuah negara merdeka masih menggema hingga hari ini.

  
Zanzibar Dalam Konteks Sejarah

Pulau Zanzibar, Unguja dan Pemba pada awalnya dihuni oleh orang orang Arab dan Persia kebanyakan berasal dari wilayah Shiraz (Iran) tanpa kehadiran orang orang dari benuda Afrika. Dimasa perbudakan orang orang arab dan Shiraz di Zanzibar melakukan bisnis perdagangan budak, gading dan rempah rempah.

Penjelajah Portugis baru tiba disana pada ahir abad ke 15 Miladiyah, kemudian mengambil alih kendali di wilayah tersebut selama hampir 200 tahun. Di tahun 1689 pulau Zanzibar jatuh ke tangan Kesultanan Oman yang kemudian mengendalikan pulau tersebut selama lebih dari 130 tahun. Kekuasaan Oman kemudian diteruskan oleh Kesultanan Zanzibar yang secara dominan dikendalikan oleh komunitas Arab di Zanzibar.

Sementara itu ada sebagian kecil pemukim disana yang merupakan pembauran bangsa Arab dan Afrika melalui perkawinan yang kala itu merupakan hal yang biasa terjadi. Pembauran bangsa Afrika dan pencampuran suku bangsa tersebut dikemudian hari dikenal sebagai orang orang Shirazi

Meskipun secara resmi pelarangan perdagangan budak sudah disyahkan tahun 1822, namun faktanya hingga pertengahan abad ke 19 Miladiyah, Zanzibar tetap secara aktif menjadi pusat perdagangan budak di kawasan timur benua Afrika bersamaan dengan boomingnya perdagangan rempah rempah.

Masjid Kizimkazi diketahui merupakan masjid tertua di Zanzibar dan dibangun oleh keturunan Rosulullah

Orang orang Afrika tidak saja dijadikan objek perbudakan melalui pelabuhan Zanzibar, namun juga dipekerjakan sebagai pekerja pelabuhan dan di perkebunan rempah rempah disana. Baru di tahun 1878 dibawah tekanan militer Britania Raya, Sultan Zanzibar menandatangani dekrit anti perbudakan dan perdagangan budak secara resmi berahir, meskipun nyatanya perdagangan budak secara rahasia tetap terjadi hingga beberapa dekade setelah itu.

Jerman mengambil alih wilayah Tangayika melalui sebuah perjanjian dengan Britania Raya pada tahun 1886 namun tetap memberikan kemerdekaan kepada Zanzibar. Protektorat Britania atas Pulau Zanzibar ditambahkan lagi pada ahir perang dunia pertama melaui kendali wilayah Tangayika. Di Zanzibar, Britania masih memberikan kekuasaan otonom kepada sultan namun perdagangan budak sudah sama sekali dihentikan. Para budak Afrika yang bekerja di perkebunan Rempah pun mendapatkan sedikit perubahan setelah sekian lama bekerja keras hingga kurus kering.

Kemerdekaan Zanzibar

Zanzibar memperoleh kemerdekaannya pada bulan Desember 1963 sebagai sebuah Monarki Konstitusional dibawah kepemimpinan seorang Sultan, namun partai politiik terbesar disana saat itu, Afro-Shirazi Party (ASP) memboikot pemerintahan dengan dukungan dari dua partai kecil lainnya yang memiliki keterkaitan dengan elite Arab dan kepentingan Inggris.

Hanya satu bulan setelah kemerdekaan, partai ASO dibawah pimpinan John Okello melakukan pemberontakan menggulingkan Sultan dan mengakibatkan korban jiwa ribuan orang arab dan sebagian besar lainnya melarikan diri keluar dari pulau Zanzibar. Segera setelah itu pemerintahan dikuasi oleh ASP yang mengangkat Abeid Karume sebagai perdana menteri baru dan segera setelah itu menandatangani perjanjian dengan Presiden Tangayika Julius Nyerere untuk menyatukan duan negara tersebut menjadi Republik Persatuan Tanzania yang bertahan hingga hari ini.

Masjid Malindi dengan menaranya yang unik merupakan salah satu masjid tertua di Zanzibar

Dengan sejarahnya yang demikian tak lazim, Zanzibar seringkali berada di situasi merugi di dalam jalinan Negara Persatuan Tanzania. Meskipun satu negara namun terbelah dalam garis etnis dan politik tidak pernah sama dan sebangun. Kelompok Arab Zanzibar memiliki keinginan yang kuat bagi pemisahan negara dibandingkan dengan kelompok Shirazi yang lebih bertendensi bagi sebuah penguatan otonomi bagi Zanzibar.

Sebagai bagian dari sebuah negara Federasi, sesungguhnya Zanzibar telah menikmati kekuasaan sendiri secara terbatas, namun undang undang Tanzania melarang setiap partai politik untuk menentang persatuan nasional, artinya melarang segala upaya pemisahan diri Zanzibar dari Tanzania. Hanya saja yang terjadi bahwa partai oposisi Tanzania, Civic United Front (CUF) telah lama memiliki basis politik yang kuat diantara kelompok Arab Zanzibar dan mengupayakan perluasan kekuasaan pemerintahan sendiri bagi Zanzibar.

Seiring kekalahan di Pemilu tahun 1995, para pendukung partai CUF mengalami tindakan keras dari pihak berwenang, penahanan hingga penganiayaan. Pada pemilu tahun 2000 partai CUF melakukan boykot yang berakibat lebih parah lagi, pendukung dan simpatisan partai turun ke jalan di jawab dengan turunnya militer dan polisi Tanzania yang melakukan pembubaran paksa hingga aksi damai tersebut berubah menjadi peristiwa berdarah, sebagaimana dilaporkan oleh lembaga HAM, 35 orang tewas dalam peristiwa itu dan 600 orang lebih terluka.

Tanzania daratan dan Pulau Zanzibar memang memiliki perbedaan yang mencolok, bila di zanzibar muslim merupakan mayoritas sementara di daratan hanya sekitar 35% saja, sedangkan partai berkuasa justru melakukan pengawasan ketat bagi semua lembaga Islam. Seperti teradi di tahun 2001,  ada 20 tokoh muslim Zanzibar yang ditahan aparat karena merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda dengan hari yang ditetapkan oleh pemerintah. Masih ditahun yang sama pemerintah pusat yang dikuasai oleh partai CCM, lagi lagi membuat marah muslim setempat dengan tindakan pemerintah yang mengeluarkan Peratuan Kemuftian yang memberikan wewenang kepada pemerintah untuk mengawasi semua organisasi Islam.

Dalam pemilu yang diselenggarakan bulan Oktober 2005, partai CCM yang berkuasa menuai serangkaian protes dari para pemantau pemilu karena kedapatan adanya warga dari Tanzania daratan yang justru masuk dalam daftar pemilih di pulau Zanzibar. Dua pulau lainnya justru memiliki perbedaan politik yang mendalam, pulau Unguja memberikan dukungan kepada partai pemerintah CCM sementara pulau Pemba justru mendukung kepada partai oposisi CUF.

Kendatipun terjadi kekhawatiran akan tindak kekerasan atas kemenangan partai CCM namun tidak terjadi kerusuhan seperti yang terjadi di tahun 2001. Kemungkinan terjadi karena begitu banyaknya aparat keamanan yang diterjunkan ke lokasi selama proses pemilu berlangsung.

Pihak partai CUF menolak mengakui presiden Baru Zanzbar, namun menyerukan agar masyarakat tetap tenang. Pemerintahan partai CCM di Zanzibar justru mengeluarkan larangan bagi media swasta di Zanzibar. Presiden Tanzania yang baru hasil pemilu –Kikwete- berjanji untuk sebuah dialog guna menjembatani perbedaan yang terjadi dan menyelenggarakan pembicaraan antara CCM dan CUF di bulan Januari 2007.

Islam di Zanzibar

Islam merupakan agama yang dianut mayoritas penduduk Zanzibar. Merujuk kepada data Factbook, lebih dari 99% atau hampir seluruh penduduk pulau ini merupakan pemeluk Islam. Sebagian besar muslim Zanzibar merupakan muslim Suni, meskipun ada sedikit penganut Ahmadiyah.

Salah satu Masjid di pusat keramaian pulau Zanzibar dengan ukiran pintu utamanya yang cukup impresif.

Islam di Zanzibar memiliki akar sejarah yang teramat panjang, Islam sudah masuk dan berkembang di Zanzibar sejak abad ke delapan miladiyah. Dimasa penjajahan Inggris, Zanzibar memainkan peranannya sebagai satu satunya Pusat Intelektual bagi gerakan islamisasi di kawasan negara negara Afrika Timur dibawah kesultanan Zanzibar. Di masa itu, masjid Gofu dan Masjid Barza mempersilahkan para santri dari negara negara Afrika Timur untuk mendapatkan pendidikan Islam disana. Zanzibar Muslim Academy juga memberikan getaran kuat bagi Islam di Afrika Timur.

Kesultanan Zanzibar kala itu membentang dari Cape (Rãs) Asir di pantai Banadir Somalia hingga ke sungai Ruvuma river di Cape Delgado, hingga membentang ke wilayah danau Great Lake dan pengaruhnya jauh lebih luas dari itu. Di masa kejayaan itu terkenal sebuah idiom “bila saja kau mainkan flute di Zanzibar maka seluruh Afrika akan menari”, menunjukkan begitu kuatnya pengaruh kesultanan Zanzibar di masa itu.

Kuatnya pengaruh kesultanan Zanzibar juga merasuk ke ranah bahasa. Bahasa Swahili diketahui merupakan bahasa Afro-Islam merupakan salah satu yang pertama dari tujuh bahasa yang paling banyak digunakan di dunia berkembang dari kesultanan Zanzibar hingga ke Congo, India Barat dan Madagaskar. Tata bahasa Creole yang digunakan di Mauritius meskipun banyak menyerap bahasa Perancis namun sangat bercirikan Bahasa Swahili karena memang ada banyak orang yang berasal dari Zanzibar yang kini menjadi bagian dari bangsa Creole di Mauritius.

Bahasa swahili kini digunakan sebagai bahasa pengantar bagi kaum muslim di kawasan Afrika Timur sama seperti bahasa arab yang digunakan sebagai bahasa pengantar diantara negara negara Islam. Salah satu faktornya adalah dikarenakan bahasa swahili begitu banyak menyerap kata kata dari bahasa arab dibandingkan dengan bahasa Inggris yang justru lebih banyak menyerap dari bahasa latin.

Tokoh tokoh muslim Zanzibar

Sh Abdullah Saleh Farsy dikenal luas sebagai seorang penulis puisi, sejarawan dan ilmuwan Islam di Zanzibar. Beliau dikenal dengan kontribusinya terhadap pengetahuan Islam dan merupakan orang pertama yang menterjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Swahili. 

Tokoh berikutnya adalah Sh. Nassor Bachoo yang dikenal luas sebagai tokoh muslim di kawasan Afrika Timur, khususnya di Tanzania dan Kenya, di Zanzibar sendiri beliau dikenal sebagai tokoh yang kontroversial. Tokoh muslim lainnya yang cukup dikenal adalah (alm) Sh. Amir Tajir yang merupkan mantan kepala Qadi Zanzibar. Sementara para tokoh Muslim yang tergabung dalam organisasi Uamsho yakni organisasi yang bergerak di bidang mobilisasi dan propaganda umat Islam Zanzibar dikenal luas dengan misinya untuk kemandirian Zanzibar sebagai negara mandiri terpisah dari Republik Persatuan Tanzania.***


1 comment:

Dilarang berkomentar berbau SARA