Sunday, October 2, 2016

Masjid Agung Bangkalan Madura

Masjid Agung Bangkalan dengan air mancur alun alun di latar depan

Antara Madura dan Ruben Island

Mungkin terlalu sulit bagi anda menemukan hubungan antara Robben Island di Afrika Selatan dengan Masjid Agung Bangkalan di Pulau Madura provinsi Jawa Timur. Namun sejarah masjid Agung Bangkalan di pulau Madura ini justru terkait dengan Pulau Kecil di lepas pantai kota Tanjung Harapan di Republik Afrika Selatan tersebut. Robben Island dikenal dunia iternasional sebagai pulau penjara bagi tahanan politik sejak masa penjajahan Belanda hingga semasa rezim apartheid berkuasa di Afrika Selatan. Tokoh pembebasan Afrika Selatan (alm) Nelson Mandela pernah mendekam dalam dinginnya penjara di pulau ini selama 29 tahun.

Di pulau itu, di dalam lingkungan penjara ada sebuah makam tokoh yang sangat di hormati hingga makamnya pun dikeramatkan hingga kini. Di makam tersebut tertulis “the grave of Shaikh Mathura, the first man who reading the Holy Qur’an in South Africa” (Makam Syech Madura, orang pertama yang membaca ayat suci Al-Qur’an di Afrika Selatan”.

Pangeran Cakraningrat IV
Di hari pembebasannya dari penjara tersebut, Nelson mandela menyempatkan diri mampir ke makam tersebut dan berujar “Apalah artinya saya dipenjara di pulau ini selama 29 tahun, dibanding orang ini, sambil menunjuk ke kubur keramat itu!”. “Orang ini!” kata Mandela, “saya tidak tahu dari mana asalnya. Nampaknya dia seorang pejuang di negerinya sehingga dia begitu dihormati.” “Orang ini,” kata Mandela, “dipenjarakan penjajah sampai dia mati di pulau ini. Dia tak pernah pulang ke negerinya.” Sebuah ungkapan jujur dari pejuang Pembebasan Afrika Selatan itu, sebagai pengakuan bahwa Sosok yang bermakam disana turut memberikan semangat padanya untuk tetap bertahan dalam perjuangannya.

Lalu siapakah gerangan Shaikh Mathura yang dimaksud ?. Shaikh Mathura (dibaca Syeich Madura) atau Sayyid Abdurrahman Makuto adalah nama lain dari Pangeran Cakraningrat IV yang bernama asli Tumenggung Suroadiningrat. Beliau adalah penguasa Madura Barat di pertengahan abad ke 16, naik tahta pada tahun 1718 menggantikan kakaknya (Cakraningrat III) yang wafat di tahun yang sama.

Dimasa kekuasaan Cakraningrat IV, wilayah kerajaan Madura meluas hingga ke wilayah Jawa timur, namun setelah kekalahannya dalam perang untuk melenyapkan kekuasaan VOC (Belanda) beliau sempat menyelamatkan diri ke Banjarmasin sebelum kemudian tertangkap disana dan kemudian dibuang ke Robben Island di Afrika Selatan hingga ahir hayatnya dan dimakamkan disana pada tahun 1753. Di Madura beliau juga disebut dengan Sidingkap, dari kalimat Sido-ing-Kaap atau wafat di kota Kaap. Kaap yang dimaksud adalah Kaap de Goede Hoop / Cape of Good Hope atau Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Foto lama Masjid Agung Bangkalan, masih dalam bentuk aslinya

Perpindahan ibukota Kerajaan Madura & Pembangunan Masjid

Setelah Cakraningrat IV tertangkap dan dibuang ke Afrika Selatan, kekuasaan Madura diteruskan oleh Pangeran Adipati Setjoadiningrat dengan gelar Panebahan Cakraningrat V. Beliau kemudian memindahkan ibukota kerajaan dari Desa Sembilangan ke Desa Kraton Bangkalan di tahun 1747 di awali dengan membangun tiga bangunan utama yakni, Kraton, Paseban dan Masjid.

Sejak dibangun hingga masa pemerintahan Panebahan Adipati Cakraningrat VII masjid yang dibangun dilingkungan Kraton Madura ini hanya di khususkan bagi keluarga Kraton. Barulah pada masa kekuasaan Sultan R. Abd. Kadirun (Sultan bangkalan ke II) tepatnya pada hari Jum’at Kliwon tanggal 14 Jumadil Akhir 1234H bertepatan dengan tanggal 10 April 1819 Miladiah, setelah sholat Jum’at dilakukan pemancangan tiang agung dalam proses pemugaran pertama masjid kraton berukuran 30 x 30 meter dan diresmikan sebagai wakaf dan dijadikan masjid untuk umum atau masjid Agung.

Gapura Masjid Agung Bangkalan

Penghargaan Afrika Selatan Untuk Cakraningrat IV

Pangeran Cakraningrat IV dikenal sebagai imam pertama di Cape Town. Sejak tiba di Afrika dipertengahan tahun 1740-an beliau melanjutkan perjuangan dengan mengajarkan islam disana hingga dikenal sebagai orang pertama yang membacakan ayat suci Al-Qur’an di Afrika Selatan dan dikenal juga sebagai Imam Pertama bagi kota Cape Town. Disana beliau dikenal dengan Sayid Abdurrahman Moturu ataupun Shaikh Mathura. Pangeran Cakraningrat IV wafat tahun 1754 dalam status sebagai tahanan politik penjajah Belanda. Sejak itu makam beliau dikeramatkan dan menjadi tujuan ziarah bagi tahanan politik Islam yang ditahan disana sebelum meninggalkan pulau tersebut.

Sejak tahun 1999 Robben Island telah menjadi destinasi wisata warisan sejarah Afrika Selatan dan sudah di akui sebagai herritage oleh Unesco, menjadikan pulau ini sebagai salah satu tujuan wisata sejarah pavorit di Cape Town termasuk Makam Keramat Pangeran Cakraningrat IV atau Sayid Abdurrahman Moturu ataupun Shaikh Mathura atau Moturu Kramat.

Tanpa nama arab mekipun ditulis dengan hurup arab

Masjid Agung Bangkalan

Masjid Agung Bangkalan ini berada ditengah kota Bangkalan, tepatnya di sebelah barat alun-alun Kota Bangkalan sehingga mudah diakses bagi para wisatawan yang sempat berkunjung ke berbagai wisata di kabupaten bangkalan. Hingga sekarang Masjid ini telah mengalami beberapa kali pemugaran.

Alamat Masjid Agung Bangkalan
Jl. Sultan Abd. Kadirun No.5 kecamatan Bangkalan
Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur
Indonesia. Kode Pos 69115



Masjid Agung Bangkalan terdaftar di sistem informasi masjid (simas) Kemenag RI dengan nomor ID 01.2.16.26.01.000001. Lahan tempat masjid ini berdiri seluas 11.527 m2, sedangkan luas bangunannya mencapai 3000 m2. Bangunan utama masjid Agung Bangkalan ini tetap mempertahankan bentuknya sebagai sebuah masjid dengan arsitektur asli Indonesia berupa bangunan masjid dengan atap limas bersusun tiga, meskipun telah mengalami dua kali renovasi.

Dua menara tinggi menjulang dibangun jauh setelah bangunan masjid berdiri. Dua menara ini dibangun terpisah dari bangunan utama, menghadirkan sentuhan asitektur masjid modern bergaya masjid masjid Eropa (Turki) dengan menaranya yang tinggi lansing dan meruncing. 


Di sebelah kiri masjid terletak tempat wudlu dan MCK untuk putra sedangkan di sebelah kanan tempat wudlu dan MCK diperuntukkan untuk kaum wanita. Di serambi masjid terdapat bedug yang sangat besar, Di dalam masjid pun bangunan sangat artistik menambah kekhususkan setiap orang yang melaksanakan sholat.

di belakang masjid ini terdapat komplek pemakaman keluarga kraton Bangkalan termasuk makam dari Raden Maulana Abdul Kadir, salah seorang Raja Kerajaan Bangkalan yang dikenal trengginas di medan tempur itu wafat pada hari Kamis Legi 11 Safar 1775 Rahun Jawa, atau identik dengan tanggal 28 Januari 1847 Masehi. Jasad beliau disemayamkan di sebuah cungkup ukuran besar dengan konstruksi dan seni arsitektur bangunan bernuansa perpaduan Eropa (Belanda) dan Islam.Beliau adalah Sultan yang membangun masjid ini pertama kali menjadi masjid untuk masyarakat umum.

Interior Masjid Agung Bangkalan yang sangat Indonesia

Atas prakarsa seorang pengusaha besar asal Kabupaten Bangkalan, Drs H Hoesein Soeropranoto, yang kemudian bekerja sama dengan Yayasan Ta’mirul Masjid Agung setempat, Masjid Agung Bangkalan peninggalan Raden Maulana Abdul Kadir atau Sultan Abdul Kadirun menjalani rehabilitasi dan perluasan. Berbekal plavon dana sebesar Rp 545,5 juta lebih, proses rehabilitasi dan perluasan Masjid Agung Bangkalan itu akhirnya bergulir mulai tanggal 28 Oktober 1990 s/d tanggal 16 April 1991.

Sekarang, suasana dan kondisi bangunan Masjid Agung yang bersebarangan dengan dua komplek alun-alun Kota Bangkalan itu jadi semakin luas, artistik dan elegant setelah menjalani renovasi untuk kali kedua ketika era pemerintahan Bupati Bangkalan, RKH Fuad Amin,Spd.***

----------------

Baca Juga Masjid di Jawa Timur Lainnya



No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA