Saturday, August 20, 2016

Masjid Jamik Hopong Benang Merah Masuknya Islam ke Tapanuli Utara

Masjid Jami' Kampung Hopong 

Masjid Jami’ Hopong dibangun sekitar tahun 1816 oleh Laskar Paderi dari Sumatera Barat, memiliki benang merah dengan sejarah masuk–nya Islam ke Tapanuli dan Sumatera Utara. Semula terbuat dari bangunan tepas bambu beratap ilalang. Beberapa tahun kemudian diperluas oleh Tuanku Rao. Dalam perjalanan berikutnya, Masjid tersebut dibangun kembali dengan bentuk rumah panggung dari kayu. Kemudian sekitar tahun 1950, diganti atapnya menjadi seng.

Karena itu banyak pendapat mengatakan, Masjid Hopong memiliki benang merah terhadap masuknya Islam ke Tapanuli Utara. Namun perkembangan Islam di daerah itu tidak lancar, terutama seteah masuknya pengaruh Kristen yang dikembangkan Missionaris  Jerman Pendeta Nommensen dari arah kawasan Toba. Begitupun, di desa itu pernah  bermukim tokoh tasawuf yang punya berpengaruh seperti Lobe Pohom Pospos, Lobe Zakaria Sigian dan lainnya.

Lokasi Masjid Jami’ Hopong

Masjid Jamik Hopong
Dusun Hopong, Desa Dolok Sanggul
Kecamatan Simangumban
Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Koordinat Geografi : 1°44'13.12"N 99°13'41.18"E


View Masjid Jamik Hopong in a larger map

Dusun Hopong adalah satu dari lima dusun dalam wilayah Desa Dolok Sanggul bersama dengan dusun Hopong, Panongkaan, Hapundung, Pansinaran, Lumban Garaga. Masuk dalam wilayah kecamatan Simangumban. Kecamatan seluas 150 km persegi dan merupakan satu dari 15 kecamatan di dalam wilayah kabupaten Tapanuli Utara, provinsi Sumatera Utara. Dusun ini dikenal sebagai dusun terpencil, tertinggal dan termiskin di wilayah propinsi Sumatera Utara. Lokasinya jauh dari keramaian kota, 40 kepala keluarga warga dusun ini yang semuanya beragama Islam, tak terjangkau kendaraan bermotor, belum ada penerangan listrik PLN, tak terjangkau siaran TVRI, tak terjangkau sarana telekomunikasi telepon maupun sinyal telepon genggam.

Dusun Hopong hanya dapat dicapai dengan bejalan kaki tidak kurang 24 KM dari jalan beraspal. Dapat ditempuh melalu jalur pekan Simangumban. Atau dari desa Padang Mandailing, kecamatan Saipar Dolok Hole melalui hutan belantara. Satu satunya kendaraan yang dapat sampai disana adalah kendaraan Jip gardan ganda itupun hanya pada musim kemarau dengan resiko kecelakaan yang sangat tinggi karena medan yang terlalu sulit untuk di lalui kendaran.

Jalan yang dibuka  Pemkab Taput dengan pasir dan batu (Sirtu) sepanjang 8 KM, warga setempat melilih jalan kaki menuju dusun tersebut melewati dusun Lumban Garaga, Pansinaran, Panongkalan, dengan menelusuri celah-celah bukit barisan yang terjal dengan panorama alam yang asri, hutan perawan yang hijau dan hamparan lahan tidur yang luas.

Rehabilitasi Masjid Jami’ Hopong

Idul fitri 1413 H Masjid Jami’ Hopong sudah tampak Marhilong (mengkilap) begitu muslim setempat menyebutnya. Masjid tua ini sudah di rehabilitasi, lantainya sudah dikeramik, beratap seng, bertikar karpet, berlampu listrik tenaga surya dengan pengeras suara (TOA) yang dapat mengumandangkan azan radius  5 KM. Setelah direhap, tak ada lagi suara “Rukrek” saat  orang masuk Masjid karena strukturnya yang sudah reot.

Sajadah kumal yang terbuat dari tikar pandan sudah berganti dengan karpet, Mimbar yang kumuh dimakan rayap  sudah terbuat dari papan yang sudah dihaluskan. Atap yang sering bocor jika turun hujan sudah diganti seng baru berwarna putih. Tidak lagi  seperti rumah panggung yang menunggu rubuh. Kegiatan mengaji atau membaca Al-Qur’an dikalangan anak-anak, sudah dapat dilaksanakan malam hari berkat penerangan lampu listrik tenaga surya.

Bahkan air wudhu yang daholoe sering “mellep” (tak jalan), kini sudah lancar. Pancuran dekat masjid itu, kini juga sudah menjadi tempat mandi yang mengasikkan dengan air yang jernih dan deras. Warga dusun Hopong pun sudah dapat menggunakan pancuran itu sebagai tempat MCK utama. Malam takbiran disana pun, sudah semarak.

Perubahan masjid Jamik Hopong dari yang reot menjadi “marhillong” tidak terjadi begitu saja. Ini perjuangan panjang ummat islam dan perantau desa itu.  Ummat islam disana, sudah bertahun-tahun mendambakan  pembangunan masjid itu, betapa sulitnya menggalang dana untuk membuat Masjid Jamik Hopong seperti kondisi saat ini. Maklum, walau 100 persen penduduknya beraga Islam, tapi hanya petani tradisional yang miskin. Perantau desa itu pun belum ada yang berhasil.

Adalah Mayjen Simanungkalit yang merupakan salah satu pribumi setempat yang hidup diperantauan di tahun tahun 2009 bincang-bincang dengan Sigit Praono Asri SE, (kala itu) Ketua Fraksi PKS DPRD Sumut. Atas advokasi beliaulah, Masjid Jamik Hopong mendapat alokasi bantuan dari Biro Sosial dan kemasyarakatan Pemprovsu sebesar Rp 50 juta tahun anggaran 2010.

Sajadah dari karpet di masjid ini merupakan bantuan pribadi Arifin Nainggolan SH,MSi, yang saat itu juga anggota Fraksi PKS DPRD Sumut dan kini Ketua Komisi C DPRD Sumut. Dialah yang membeli dua gulungan karpet dan mengirimkan sendiri sampai ke Hopong. Sedangkan pasilitas sambungan air minum sepanjang 4 KM lebih yang kini sudah lancar hingga mampu melayani dusun Hopong dan tiga dusun di sekitarnya, berkat advokasi Daudsyah MM yang saat itu Kepala Biro Pemberdayaan Masyarakat Pemprovsu melalui program PNPM Mandiri yang merupakan program pemerintah melalui Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), guna mengatasi permasalahan pembangunan di tengah-tengah masyarakat.

Dengan direhapnya Masjid Jamik Hopong, warga sangat bersyukur. Walau hanya rehap sederhana, masih berdinding papan, ummat Islam disana sudah berterima kasih. Dalam ukuran desa itu, Masjid Jamik Hopong saat ini sudah merupakan nikmat luar biasa. Mereka merasa masih berkesempatan menikmati pembangunan walau setelah 65 tahun Indonesia merdeka. Mereka berharap, jika pemerintah berkenan, bantuan rehap untuk Masjid Jamik Hopong kiranya dilanjutkan. Karena masjid itu belum memiliki kamar dan bak wudhu, dan bagian teras belum di kramik. Warga Hopong juga masih berharap kiranya jalan ke desa dibangun pemerintah, sehingga dapat dilalui kenderaan roda empat dengan mulus. (disadur dari Catatan Mudik Mayjen Simanungkalit).***


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA