Jumat, 07 Juni 2013

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-1)

Jutaan muslim dari seluruh penjuru dunia mengunjungi masjid ini setiap tahun dalam rangkaian ibadah Haji ataupun Umroh. Kubah hijau masjid Nabawi memiliki makna yang begitu dalam bagi setiap muslim di seantero dunia.
Sejak pertama kali dibangun oleh dinasti Mamluk, kubah hijau Masjid Nabawi di kota Madinah, Saudi Arabia telah menjadi ikon penting bagi Masjid Nabawi dan kota Madinah secara keseluruhan. Dan sejak dibangun pula kubah ini senantiasa menuai silang pendapat dikalangan umat Islam sendiri, dan sangat menarik bahwa, kubah hijau tersebut turut menjadi perhatian ulama Indonesia di tahun 1926, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Kubah hijau yang dikemudian hari menginspirasi banyak orang untuk membangun kubah yang mirip, di masjid masjid di kampung halaman mereka untuk sekedar mengobati kerinduan akan Masjid Nabi yang pernah mereka kunjungi dalam rangkaian ibadah haji atau umroh yang pernah mereka lakukan. Namun, ada golongan umat Islam yang menginginkan agar kubah tersebut dirobohkan karena dianggap tak sesuai dengan syariat, atau setidaknya akan mengganggu keyakinan ummat Islam.

Ada Apa di Bawah Kubah Hijau Masjid Nabawi

Kubah hijau Masjid Nabawi dibangun untuk menaungi makam Rosulullah Muhammad S.A.W, Makam Khalifah Abu Bakar Asy-Sidik dan Makam Khalifah Umar Bin Khattab. Ketiga makam ini sesungguhnya berada di dalam rumah baginda Rosulullah bersama istri Beliau Aisyah r.a. yang seluruhnya kini dikelilingi tiga lapis dinding, sebagai pemisah-nya dari Masjid Nabawi.
Kubah hijau masjid Nabawi ini menjadi begitu penting bagi ummat Islam dunia karena dibawah kubah inilah tempat dimakamkannya jenazah Baginda Rosululullah Muhammad S.A.W, Nabi penutup para nabi, junjungan kita semua, bersama dua sahabatnya Khalifah Abu Bakar Asy-Siddik r.a. dan Khalifah Ummar Bin Khattab r.a.

Tempat yang kini dinaungi dengan kubah hijau itu, semasa Rosulullah hidup, merupakan rumah beliau yang sangat sederhana. Di rumah tersebut beliau tinggal bersama Ummul Mu’minin Aisyah, hingga menutup mata di ahir hayatnya. Ditempat itu juga jenazah beliau dimakamkan. Rumah kediaman Rosulullah tersebut sering juga disebut sebagai rumah Aisyah.

Apakah Makam Baginda Rosulullah berada di Dalam Masjid Nabawi ?

Tertutup rapat
Rumah Rosulullah dan Aisyah yang menjadi tempat bermakamnya Rosulullah ini dibangun menempel dengan dinding Masjid Nabi (Masjid Nabawi). Dibangun setelah pembangunan Masjid Nabi selesai dilaksanakan. Masjid Nabawi sendiri merupakan bangunan pertama yang dibangun oleh Rosulullah  bersama sama dengan ummat Islam di Kota Madinah sekitar tahun 622 masehi, ketika pertama kali sampai di kota Madinah dalam perjalanan hijrah dari kota Mekah.

Saat beliau wafat, jenazah beliau dimakamkan di rumah tersebut. Aisyah r.a kemudian membangun sekat dinding, sebagian untuk makam Rosulullah dan sebagian lagi sebagai tempat tinggal Aisyah. Dan ketika Khalifah Abu Bakar Wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Rosullullah, Aisyah berpindah tempat tinggal dan ketika Khalifah Umar Bin Khattab wafat, jenazah beliau pun turut dimakamkan berdampingan dengan makam Rosulullah S.A.W

Raudhah atau Raudhatul Jannah. adalah tempat diantara rumah Rosulullah dengan Mimbar beliau. tempat ini senantiasa menjadi incaran para jemaah dari mancanegara untuk berdoa di tempat ini karena sesuai dengan sabda Rosulullah bahwa tempat ini merupakan salah satu tempat yang makbul.
Makam Rosulullah, Khalifah Abu Bakar r.a dan Khalifah Umar tetap berada di luar kawasan Masjid Nabawi hingga tahun ke 88 Hijriah atau tahun 707 masehi. Sampai kemudian pada bulan Rabiul Awwal tahun 88H, Khalifah Al-Walid (705-715) dari bani Ummayah yang berkedudukan di Damaskus, memerintahkan kepada gubernur Hijaz (kini Saudi Arabia) Umar Bin Abdul Aziz, untuk membongkar bangunan lama Masjid Nabawi dan membangunnya menjadi masjid yang lebih besar dan megah serta menyatukan rumah Aisyah dengan masjid Nabawi.

Sempat terjadi pertentangan dikalangan fuqaha yang menolak upaya tersebut dengan alasan bahwa rumah tersebut merupakan lambang dari khidupan zuhud Rosulullah. Said bin al-Musayyab tidak menyatakan ketidaksetujuannya kerana takut makam Nabi s.a.w dan dua sahabat Baginda dijadikan sebagai kawasan masjid. Namun, para tabiin rahiamahumullah memahami perkara ini lalu mereka memisahkan kubur Nabi s.a.w dan dua sahabat baginda dengan tiga lapis dinding sebagai pemisah dengan kawasan Masjid Nabawi.

Kubah hijau Masjid Nabawi diantara kubah kubah kecil di atas bangunan Masjid Nabawi yang dibangun pada era Dinasti Usmaniyah (Turki).
Umar bin Abdul Aziz menambahkan tembok pemisah terluar dari tembok rumah Aisyah sebagai pembatas kawasan rumah Aisyah yang menjadi Makam Rosulullah dengan kawasan Masjid Nabawi. Ada jarak yang cukup jauh antara tembok Umar Bin Abdul Aziz dengan tembok rumah Aisyah. 

Maka dinding Umar ini sekaligus mengeluarkan kawasan perkuburan Rasulullah s.a.w dan dua sahabat Baginda dari kawasan masjid untuk menghindari jemaah yang sholat menghadap ke kuburan. Sejak saat itu seluruh area rumah Aisyah tertutup rapat tanpa pintu dan jendela untuk menuju kesana.

Siapa Yang Membangun Kubah Hijau Masjid Nabawi

Kubah Hijau Masjid Nabawi saat ini.
Dinasti Mamluk yang pertama kali membangun kubah di atas makam Nabi Muhammad dalam proyek pembangunan Masjid Nabawi. Lalu ketika Madinah berada di bawah kekuasaan Dinasti Usmaniyah (Turki) sejak tahun 1517 hingga perang dunia pertama, Sultan Sulaiman (1520-1566) membangun mihrab baru disebelah Mihrab Nabi serta memasang kubah baru di atas Rumah dan makam Nabi. Kubah dari tembaga dan di cat dengan warna hijau.

Kubah tersebut dibangun ulang di masa pemerintahan Mahmud II bersamaan dengan pembangunan Ar-Raudah di tahun 1817 dan kembali di cat dengan warna hijau tahun 1839 hingga ahirnya dikenal dengan kubah hijau hingga hari ini. Sisi dalam kubah kemudian di hias dengan kaligrafi Al-Qur’an dimasa pemerintahan Sulan Majid II (1839-1861) dari dinasti Usmaniyah.

Bersambung ke Bagian-2


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang berkomentar berbau SARA