Tuesday, May 21, 2013

Sepuluh Masjid Tertua di Indonesia Versi Bujangmasjid (Bagian-2)

Sepuluh Masjid Tertua di Indonesia Jilid-2

Bila dalam posting sebelumnya di bagian -1 sudah di ulas lima dari sepuluh masjid tertua di Indonesia versi bujangmasjid masing masing adalah 1. Masjid Saka Tunggal, 2. MasMasjid Saka Tunggal, (2). Masjid Wapauwe, (3). Masjid Sunan Ampel, Surabaya, (4). Masjid Agung Demak dan (5). Masjid Agung Sang Ciptarasa. jid maka dalam posting berikut ini akan kita ulas lima masjid tua berikutnya.

Lima masjid tua berikut ini terdiri sangat menarik karena dua diantaranya merupakan masjid di luar pulau Jawa yakni dua masjid di pulau Sulawesi, tepatnya di provinsi Sulawesi Selatan. Lima masjid tersebut adalah (6). Masjid Menara Kudus , (7). Masjid Agung Banten, (8). Masjid Mantingan, (9). Masjid Tua Al-Hilal Katangka, dan (9). Masjid Jami’ Tua Palopo.

6. Masjid Menara Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (1549)

Masjid Al-Aqso atau Masji Menara Kudus. Masjid tertua nomor 6 di Indonesia
Nama asli masjid ini sebenarnya adalah Masjid Al-Aqso, didirikan oleh Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus pada tahun 956H atau bertepatan dengan tahun 1549M. Namun lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai Masjid Menara Kudus, Karena memang bangunan menaranya yang berupa sebuah bangunan candi itu yang menjadi ciri khas dari masjid tua satu ini. Di dalam komplek masjid ini juga terdapat Makam Sunan Kudus.

Sejarah Masjid Menara Kudus tak bisa dilepaskan dari sejarah Kota Kudusnya sendiri. Menurut (alm) Profesor Purbacaraka, seorang antropolog dari Universitas Udayana, Bali, nama kota Kudus berasal dari kata Al-Quds. Al-Quds adalah nama asli kota Jerusalem di Palestina tempat bedirinya Masjid Al-Aqso yang merupakan kiblat pertama umat Islam. Hal tersebut sejalan dengan pendapat para sejarawan yang mengatakan bahwa kota Kudus didirikan oleh para pelaut Arab Palestina, maka wajar bila kemudian masjid yang mereka bangun pun menggunakan nama Al-Aqso, untuk mengenang tanah kelahiran mereka.

Masjid Menara Kudus ini awalnya memang merupakan sebuah bangunan candi pada masa Hindu yang kemudian disesuiakan kegunaanya sebagai menara masjid. Dari bentuknya bangunan menaranya memiliki kemiripan dengan menara Kul Kul di Bali. Sedangkan ragam hiasnya memiliki kemiripan dengan candi candi di Jawa Timur seperti Candi Jago dan Candi Singosari. Kehadiran Menara Candi di komplek Masjid Al-Aqso di Kudus ini memberikan gambaran betapa baiknya akulturasi budaya yang dilakukan oleh Sunan Kudus saat menyebarkan Islam disana.

7.Masjid Agung Banten, Kota Serang, Provinsi Banten (1552)

Masjid Agung Banten, di kawasan Banten Lama, kota Serang propinsi Banten merupakan masjid tertua ke 7 di Indonesia.
Masjid Agung Banten dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Banten yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon. Masjid ini dikenali dari bentuk menaranya yang sangat mirip dengan bentuk sebuah bangunan mercusuar.

Masjid Agung Banten dirancang oleh 3 arsitek. Yang Pertama adalah Raden Sepat, Arsitek Majapahit yang sebelumnya telah berjasa merancang Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. Arsitek kedua adalah arsitek China bernama Cek Ban Su ambil yang  memberikan pengaruh kuat pada bentuk atap masjid bersusun 5 mirip layaknya pagoda China. Karena jasanya dalam membangun masjid itu Cek Ban Su memperoleh gelar Pangeran Adiguna.

Lalu arsitek ketiga adalah Hendrik Lucaz Cardeel, arsitek Belanda yang kabur dari Batavia menuju Banten di masa pemerintahan Sultan Haji tahun 1620, dalam status mualaf dia merancang menara masjid serta bangunan tiyamah di komplek Masjid Agung Banten. Karena jasanya tersebut, Cardeel kemudian mendapat gelar Pangeran Wiraguna. Menilik bentuk dan denah bangunannya menunjukkan bahwa Masjid Agung Banten tidak dibangun yang kini berdiri tidak dibangun sekaligus melainkan secara berkelanjutan sejak sultan pertama hingga ke masa pemerintahan Sultan Haji.

8. Masjid Mantingan, Jepara, Jawa Tengah (1559M)

Masjid Mantingan di Kabupaten Jepara provinsi Jawa Tengah, Masjid tertua ke 8 di Indonesia
Masjid Mantingan adalah salah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia. Terletak di di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. 5 km kearah selatan dari pusat kota Jepara. Dibangun dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok, undak-undakannya didatangkan dari Makao. Sedangkan bangunan atap hingga bubungan-nya bergaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief persegi bergambar margasatwa, dan penari penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua.

Masjid Mantingan didirikan pada tahun 1481 Saka atau tahun 1559 M, sesuai dengan pernyataan yang terdapat didalam masjid RUPA BRAHMANA WANASARI yang ditulis oleh Raden Toyib yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hadiri, Adipati Jepara, yang juga adik Ipar dari Sultan Trenggono (Sultan Demak).

Raden Toyib berasal dari Aceh,  beiau merupakan utusan Sultan Aceh, setelah mempelajari agama Islam di Mekah lalu bersyiar di Cina, kemudian berlabuh di tanah Jawa, bermukim di Jepara dan menikah dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), saudara perempuan dari Sultan Trenggono Penguasa Kesultanan Demak Terahir. Dinobatkan sebagai Adipati Jepara dengan gelar Sultan Hadiri berkuasa pada periode 1536-1549 sampai beliau meninggal dan dimakamkan disebelah Masjid yang dia dirikan yaitu Masjid Mantingan. Kekuasaan pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Hadiri, Ratu Kaliyamat tahun 1549-1579.***

9. Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Gowa, Sulawesi Selatan (1603)

Masjid Al-Hilal di desa Katangka, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Masjid tertua di Indonesia nomor delapan.
Nama resmi masjid ini adalah Masjid Al-Hilal, karena berada di desa Katangka maka disebut sebagai Masjid Al-Hilal Katangka, sebagian lagi masyarakat setempat menamainya dengan nama Masjid Agung Syeh Yusuf. Ulama Kharismatik yang merupakan pahlawan nasional di Indonesia dan juga pahlawan nasional di Afrika Selatan.

Masjid Tua Al-Hilal dibangun pada masa pemerintahan raja Gowa XIV bernama Aku Manga'ragi Daeng - Manrabbiakaraeng Lakiung (Sultan Alauddin I) tahun 1603, Sultan Alauddin adalah Raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam. Sultan Alauddin adalah kakek dari I Mallombassi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Tumenanga ri Balla Pangkana atau yang dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke enam belas.

Arsitektur masjid Tua Al-Hilal Katangka ini telah menginspirasi gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo pada tahun 2009 untuk mendirikan masjid masjid dengan bentuk yang sama di 24 kabupaten/kota di Sulsel. Dimulai dengan pembangunan masjid di kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep (Pangkajene kepulauan) Sulawesi Selatan

10. Masjid Jami’ Tua Palopo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan (1604M)

Masjid Jami' Tua Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan. Masjid tertua ke sepuluh di Indonesia
Masjid Jami’ Tua Palopo merupakan masjid peninggalan Kerajaan Luwu berada di kota Palopo,  Sulawesi Selatan. Masjid ini didirikan oleh Raja Luwu tahun 1604 M. Di beri nama Tua, karena usianya yang sudah tua. Sedangkan nama Palopo diambil dari kata dalam bahasa Bugis dan Luwu yang memiliki dua arti, yaitu: pertama, penganan yang terbuat dari campuran nasi ketan dan air gula; kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna ini memiliki relasi dengan proses pembangunan  Masjid Jami’ Tua Palopo ini.

Masjid ini merupakan masjid kerajaan yang didirikan ketika Kerajaan Luwu sedang berada dalam masa kejayaannya dibawah kekuasaan Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe. Ketika ia naik tahta menggantikan ayahnya tahun 1604 M, ia memindahkan ibukota kerajaan dari Patimang ke Ware, dengan alasan Ware berada di pantai dan lebih dekat dengan pelabuhan, sehingga aktifitas ekonomi bisa lebih mudah dilakukan. Sumber sejarah lain ada juga yang mengkaitkan perpindahan ibukota kerajaan ini dengan kepentingan untuk penyebaran Islam.

Hal ini bisa dilihat dari konstruksi kompleks ibukota kerajaan yang baru, di mana masjid dan istana dibangun berdekatan membentuk satu komplek kerajaan. Satu unsur lagi yang dibangun dalam kompleks kerajaan Luwu adalah lapangan luas yang terbuka (alun-alun). Struktur dan tata letak pusat pemerintahan yang seperti ini mirip dengan struktur dan tata letak kerajaan Islam di Jawa. Seiring dengan penamaan masjid ini dengan Masjid Palopo, daerah tersebut kemudian juga disebut sebagai daerah Palopo. Maka, sejak tahun 1604 M tersebut, daerah Ware ini berubah nama menjadi Palopo.

Kembali ke bagian-1

Artikel Terkait


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA