Wednesday, May 8, 2013

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Rangkaian bangunan di komplek Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini ditandai dengan tembok pagarnya yang berwarna merah dengan tiga gerbang paduraksa. Bangunan aslinya adalah bangunan dengan atap paling tinggi seperti terlihat pada foto di atas. Langgam bangunan Jawa sangat kental pada bangunan masjid ini.  


Pembauran Seni Arsitektural di Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Bangunan utama masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon dibangun dalam bentuk atap bersusun tiga meski tidak berbentuk piramida (prisma) seperti Masjid Agung Demak. Makna mendalam terselip dalam susunan atap yang bersusun tiga ini. kepercayaan lama ditanah air memaknainya sebagai tiga tahapan kehidupan manusia mulai dari kehidupan di dalam Kandungan, di alam dunia dan di alam setelah kematian. Sedangkan dalam makna Islami diterjemahkan sebagai Iman, Islam dan Ikhsan.

Selain bentuk atap limas bersusun, di masjid ini juga menyerap bentuk punden berundak pada pagar batanya yang mengitari kawasan masjid. Menilik jauh ke belakang, kamus besar bahasa Indonesia memaknai punden berundak ini sebagai “bangunan pemujaan tradisi megalitikum yg bentuknya persegi empat dan tersusun bertingkat-tingkat”. Dan nyatanya makna tersebut tak bergeser hingga kini meski dalam kontek yang berbeda.

Bentuk Gerbang paduraksa dimasjid agung Cirebon, digunakan pada tiga gerbangnya termasuk gerbang utama. Bentuk gerbang seperti ini merupakan warisan budaya sebelum Islam.
Selain itu tiga gerbang depan masjid Agung Sang Cipta Rasa ini mengadopsi bentuk gerbang Paduraksa yang biasa digunakan pada bangunan bangunan candi, dengan berbagai modifikasi, namun ornamen punden berundak tak hilang dari gerbang ini, termasuk ornamen yang ditempelkan menjadi penghias gerbang dan pintu besarnya.

Interior Masjid Agung Sang Cipta Rasa


Perbedaan mendasar antara Masjid Agung Demak dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini baru terasa pada saat kita masuk ke dalam bangunan utama yang merupakan bangunan asli. Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki sokoguru tidak hanya empat tapi dua belas. Semua tiang tersebut terbuat dari kayu jati dengan diameter sekitar 60cm dan tinggi mencapai 14 meter. 


seluruh dua belas sokoguru utama di dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa sudah di topang dengan besi baja untuk menjaga keutuhan struktur kayu bangunan masjid tua ini. Hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian.
Mengingat usianya yang sudah sangat tua, seluruh sokoguru di dalam masjid ini sudah ditopang dengan rangkaian besi baja untuk mengurangi beban dari masing masing pilar tersebut, hanya saja kehadiran besi besi baja tersebut sedikit mengurangi estetika. Keseluruhan sokoguru masjid ini berdiri di atas umpak batu kali. Umpak pada tiang-tiang utama berbentuk bulat dan di bagian serambi berbentuk kotak.

Rangkaian rumit saling silang pasangan kayu konstruksi di dalam masjid ini benar benar melemparkan kita ke masa lalu mengingat teramat sulit untuk menemukan bangunan baru dengan rancangan yang serupa. Atap puncak masjid (wuwungan) ditopang oleh dua sokoguru paling tengah. Dan diantara dua sokoguru ini yang menjadi titik tengah bangunan utama sekaligus menjadi titik berdirinya muazin saat mengumandangkan azan termasuk azan pitu (azan tujuh) saat sholat Jum’at.

::Maksurah::



Maksurah. Di dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa ada dua Maksurah. Satu maksurah ditempatkan di shaf paling depan bersebelahan dengan mimbar, satu maksurah lagi ditempatkan pada shaf paling belakang disebelah kiri pintu masuk utama.
Layaknya sebuah masjid kerajaan, di masjid Agung Sang Cipta Rasa ini juga disediakan tempat sholat khusus bagi keluarga kerajaan atau Maksurah berupa area yang dipagar dengan pagar kayu berukir. Ada dua Maksurah di dalam masjid ini. satu maksurah di shaf paling depan sebelah kanan mihrab dan mimbar diperuntukkan bagi Sultan dan Keluarga keraton Kasepuhan. Serta satu Maksurah di shaf paling belakang disamping kiri pintu utama diperuntukkan bagi Sultan dan keluarga keraton Kanoman.

Maksurah, banyak ditemui di masjid masjid tua Arabia, Afrika Utara hingga wilayah wilayah bekas kekuasaan emperium Turki Usmani. Fungsi awalnya adalah sebagai perlindungan bagi Sultan dan pejabat tinggi kerajaan selama melaksanakan sholat di masjid dari kemungkinan serangan fisik terhadap petinggi kerajaan. Di dalam maksurah ini pada masanya juga dilengkapi dengan senjata ringan pembelaan diri seperti tombak dan lainnya.

::Mihrab dan Mimbar Masjid Agung Sang Cipta Rasa::

Ada dua mimbar di dalam masjid ini yang bentuk dan ukurannya sama persis. Mimbar yang kini dipakai merupakan mimbar pengganti, disebelah kanan mimbar ini terdapat maksurah dan disebelah kanan maksurah mimbar lamanya ditempatkan.
Menjadi lebih menarik manakala kita masuk ke dalam bangunan masjid ini. nyaris tak ada ornamen Islami seperti yang biasa kita temukan di dalam sebuah bangunan masjid bergaya Arabia. Mihrab dan mimbar di masjid ini sepi dari ukiran ayat ayat suci Al-Qur’an. Mihrab nya sendiri dibangun dari batu batu pualam berukuran floral, yang berpusat pada bentuk yang menyerupai bunga matahari pada bagian puncak mihrab.

Adanya bentuk bunga matahari di mihrab masjid ini mengingatkan kita pada bentuk Surya Majapahit yang merupakan lambang kebesaran Kerajaan Majapahit. Memang tak mengerankan, karena konon memang proses pembangunan masjid ini turut melibatkan Raden Sepat yang tak lain adalah panglima pasukan Majapahit yang kalah perang dalam serangannya ke Demak di masa kekuasaan Raden Fatah dan kemudian memeluk Islam.

Pola ukiran diatas mimbar masjid Agung Cipta Rasa ini sangat mirip dengan bentuk mahkota raja raja Jawa. Lebih menariknya lagi adanya ornament bunga matahari di bagian tengahnya itu mengingatkan kita pada bentuk Surya Majapahit yang merupakan lambang kerajaan Majapahit.
Maka wajar bila kemudian ada banyak kemiripan antara Masjid Agung Demak dengan Masjid Sang Cipta Rasa ini termasuk Masjid Agung Banten di Banten Lama, provinsi Banten karena memang melibatkan orang yang sama dalam proses pembangunannya. Sampai sejauh ini belum ditemukan catatan tentang Raden Sepat dan sisa pasukannya yang dibawa ke Cirebon termasuk dimana beliau dimakamkan.

Seluruh bagian mihrab masjid ini menggunakan batu pualam putih. Selain ukiran floral dibagian atas mihrab, juga terdapat dua pilar pualam disisi kiri dan kanannya. Konon pilar ini di ukir oleh Sunan Kali Jaga dalam bentuk kelopak bunga teratai. Selain ukiran floral di sisi kiri dan kanan bagian depan mihrab ini terdapat ukiran geometris yang sangat menarik serupa dengan ukiran pada dinding depan masjid. Di bagian mihrab juga terdapat tiga buah ubin bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Ubin tersebut dipasang oleh Sunan Gunung JatiSunan Bonang, dan Sunan Kalijaga pada awal berdirinya masjid.

Balok balok penghubung antara satu tiang dengan tiang lainnya di masjid ini bersusun hingga lima balok penghubung antara masing masing tiang untuk saling menguatkan, sedangkan dibagian bawah masing masing sokoguru ini berupa umpak batu berbentuk bundar.
Ada dua mimbar yang serupa di dalam masjid ini. dua duanya penuh dengan ukiran yang sangat indah. Satu mimbar diletakkan di sisi mihrab yang digunakan saat sholat Jum’at dan dua hari raya sedangkan mimbar yang lainnya diletakkan disebelah maksurah merupakan mimbar lama yang sudah tidak dipakai lagi. Pada bagian kaki mimbarnya ada bentuk seperti kepala macan, mengingatkan pada kejayaan Prabu Siliwangi raja Padjajaran yang tak lain adalah Kakek dari Sunan Gunung Jati dari garis Ibu.

::Masjid dengan Sembilan Pintu::

Bangunan utama (asli) Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki Sembilan Pintu menyimbolkan Sembilan Wali (Wali Songo) yang turut berkontribusi aktif dalam proses pembangunannya. Pintu utama nya berada di sisi timur sejajar dengan mihrab, namun pintu utama ini nyaris tak pernah dibuka kecuali pada saat sholat Jum’at, sholat hari raya dan peringatan hari hari besar Islam. Delapan pintu lainnya ditempatkan di sisi utara dan selatan (kanan dan kiri) bangunan utama dengan ukuran sangat kecil dibandingkan ukuran normal sebuah pintu.

Bungkukkan badan, rendahkan hati. Adalah pesan tak tertulis setiap kali kita akan masuk ke dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini melalui salah satu dari delapan pintu sampingnya yang sengaja dibuat dalam ukuran kecil.
Pada hari biasa hanya ada satu pintu yang senantiasa dibuka oleh pengurus masjid yakni satu pintu di sisi kanan bangunan. Seluruh delapan pintu samping masjid ini sengaja dibuat dalam ukuran kecil dan sempit memaksa setiap orang dewasa untuk menunduk saat akan masuk ke dalam masjid, meyimbolkan penghormatan dan merendahkan diri dan hati manakala memasuki masjid.

Delapan pintu samping ini juga dilengkapi dengan daun pintu yang ukurannya juga kecil di cat warna hijau dan sepi dari ukuran. Berbeda dengan pintu utamanya yang berukuran besar dan penuh dengan ukiran yang sangat indah.ruang dalam masjid ini juga tidak digunakan untuk sholat berjamaah lima waktu. Pelaksanaan sholat lima waktu dilaksanakan di pendopo depan. Sebuah partisi berukir dari kayu jati di sisi depan area pendopo sebagai penanda tempat bagi imam.

::Masjid Benteng atau Benteng Masjid ?::

Latar belakang merah pada foto interior masjid di atas merupakan tembok bata yang mengelilingi seluruh bangunan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Tembok bata ini dibangun hanya tak sampai setengah dari tinggi keseluruhan bangunan-nya menyisakan sisi atasnya tetap terbuka sebagai ventilasi udara dan cahaya. Namun bagian itu kini sudah ditutup dengan kaca dan anyaman kawat.
Tembok bangunan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dibangun dari susunan bata merah yang sama sekali tidak diplester, namun memiliki ketebalan hampir 70cm. tembok yang sangat tebal layaknya tembok sebuah benteng. Tembok ini hanya dibangun setengah saja tidak sampai ke atap, bagian atasnya dibiarkan terbuka sebagai ventilasi udara dan cahaya. Hanya saja bagian terbuka di sisi atas tembok ini kini sudah ditutup dengan kaca dan anyaman kawat untuk menghindari masuk dan bersarangnya burung dan hewan lainnya di dalam masjid.

Namun kehadiran dinding kaca dan anyaman kawat tersebut justru menghilangkan salah satu ciri khas masjid ini yang memang dirancang terbuka sebagai sebuah bangunan tropis. Ditambah lagi dengan bentuk ornamen kaligrafi yang digunakan untuk menghias dinding kaca tersebut tak senada dengan arsitektural keseluruhan bangunan asli. Ditambah lagi dengan konsekwensi rusaknya sirkulasi udara hingga harus dikonpensasi dengan pemasangan beberapa kipas angin di bagian dalam.***

Bersambung ke bagian-3

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA