Saturday, September 8, 2012

Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta (Bagian 2)

masjid Agung Mataram Kotagede (foto : kotajogja.com

Catatan sejarah kekuasaan Sultan Agung, Raja terbesar Kesultanan Mataram terukir indah sebagai salah satu raja Jawa yang melakukan peperangan sengit melawan penjajahan Belanda. Beliau melakukan dua kali ekspedisi militer menyerang pusat kekuatan Belanda di Batavia. Meski dua serangan tersebut mengalami kegagalan namun jejak yang ditinggalkan masih dapat ditelusuri hingga kini terutama disekitar kota Batavia atau kini kita kenal sebagai kota Jakarta.

Beberapa kawasan dan masjid masjid tua di kota Jakarta tak dapat dilepaskan dari pasukan Kesultanan Mataram yang tergabung dalam ekspedisi militer yang dilakukan oleh Sultan Agung ke Batavia. Diantaranya adalah Masjid Jami’ Matraman, Masjid Jami al-Mansyur di Sawah lio – Jembatan lima, Masjid Al-Ma’mur di Tanah Abang, dan bila membaca sejarah Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur kita akan menemukan fakta bahwa Raden Saleh yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid tersebut beristrikan seorang putrid dari keraton Mataram.

Masjid Agung Mataram Kotagede (foto : yogyes.com
Tak hanya masjid masjid di Jakarta yang memiliki sentuhan sejarah dengan kebesaran Kesultanan Mataram. Masjid Agung Karawang di pusat kota Karawang pun pernah menjadi tempat persinggahan pasukan Mataram dalam penyerbuan ke Batavia mengingat kala itu Karawang merupakan wilayah bawahan Kesultanan Mataram dan turut membantu penyediaan logistik bagi pasukan tersebut.

Sultan Agung wafat tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri, ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat-I. Sejak naik tahtanya Amangkurat I Kesultanan Mataram mengalami konflik internal akibat berbagai ketidakpuasan. Sunan Amangkurat I wafat di Tegalarum tahun 1677. Perselisihan dan pertikaian internal kerajaan tak kunjung usai sampai ahirnya Kesultanan Mataram terpecah menjadi dua kerajaan dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755.

Pembagian wilayah Mataram di tahun 1830. Awalnya terdiri dari dua wilayah, Yogya dan Surakarta lalu pecah lagi menjadi empat dengan eksisnya Mangkunegaran dan Pakualaman. Wilayah Yogya sendiri memiliki beberapa exclave dari negeri tetangganya.
Perjanjian Giyanti tersebut membagi dua Kesultanan Mataram menjadi Kesultanan Ngayogyakarta dengan Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama bergelar Sultan Hamengkubuwana-I dan Kasunanan Surakarta dengan Sunan Pakubuwana III sebagai raja pertama. Dan Berakhirlah era Kesultanan Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah.

Sejarah Masjid Agung Mataram Kotagede

Masjid Besar Mataram, atau Masjid Agung Mataram, semula merupakan sebuah langgar yang di bangun Ki Ageng Pemanahan. Artinya Masjid ini sudah eksis sejak masa Kesultanan Pajang, dan wilayah kotagede (Mataram/Alas Mentaok) masih merupakan wilayah swatantra di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang, sebelum Kesultanan Mataram Bediri ditandainya dengan dilantiknya Sutawijaya menjadi Panebahan Senapati (berkuasa 1588-1601), sebagai pertama raja Kesultanan Mataram, di tahun 1588M. 

Monumen peringatan pembangunan Masjid oleh Kasunanan Surakarta berdiri megah di halaman masjid ini, menandai bahwa Pakubuwono X penguasa Kasunanan Surakarta penah membangun masjid ini saat Kotagede menjadi exclave Surakarta. Dibagian belakang terlihat gerbang yang sangat bercorak Hindu (foto : Panoramio)
Sutawijaya atau Panebahan Senapati mengembangkannya langgar yang dibangun ayahnya itu menjadi sebuah masjid dengan kerangka bangunan seluruhnya dari kayu jati, ditopang empat buah saka guru berukuran 0,3 x 0,3 x 5 m, serta membuat liwan (ruang utama masjid) dan mihrab. Disebutkan pula bahwa Sultan Agung (memerintah tahun 1613-1645) turut membangun bangunan inti masjid ini.

Paska Perjanjian Giyanti hingga tahun 1952 sebagian wilayah Kotagede dan Imogiri menjadi ekslave Kasunanan Surakarta di dalam wilayah Kesultanan Ngayokyakarta. Pada 1796, Kasunanan Surakarta melakukan perluasan serambi Masjid Agung Mataram, dan pada 1867 dilakukan perbaikan lagi setelah terjadi gempa hebat.

dua tanda tahun di fasad depan masjid ini menandakan dua periode pembangunan masjid ini (foto : profesirandi)
Di fasad depan masjid terukir angka tahun 1856 dan 1926, merupakan tahun dilakukannya penambahan emperan dan tempat wudhu, serta pengantian atap sirap dengan genteng. Sedangkan angka 1926 merupakan tahun dibangunnya pagar masjid, serta tugu ketika Kasunanan Surakarta diperintah oleh Paku Buwono X.

Pada 1997, dilakukan pemasangan teraso pada liwan. Kemudian pada 2002 dilakukan renovasi besar dengan memasang marmer Italia di liwan dan pawestren, pelapisan dinding jagang (kolam air yang mengelilingi serambi) dengan terakota, penggantian dinding dan alas bak wudhu, serta perbaikan gapura dan dinding pagar masjid. Sedangkan menara pengeras suara Masjid Besar Mataram dibangun pada 2003.

Lanjutkan membaca ke bagian 3 (habis)
Kembali ke Bagian 1

Referensi

id.berita.yahoo.com – mengolah iman di masjid kotagede
kotajogja.com - Masjid-Kotagede
uun-halimah.blogspot.com - masjid-besar-mataram-kotagede-daerah

----------------------------

Baca Juga Masjid Masjid di Yogyakarta Lainnya


Artikel Terkait


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA