Wednesday, May 9, 2012

Masjid Batu Al-Ikhsaniyah, Masjid Tertua di Jambi

Masjid Jami' Ikhsaniyah, Jambi (foto dari wikimapia)

Masjid al-Ikhsaniyah atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Masjid Batu adalah Masjid tertua di kota Jambi, Provinsi Jambi. Masjid ini terletak di seberang Kota Jambi yang dibelah sungai Batanghari, tepatnya Masjid ini berada di Jalan KH. Ibrahim, RT 05 Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk Kota Jambi. Bangunan masjid ini telah mengalami perluasan oleh pemerintah Belanda semasa penjajahan dengan mempertahankan ciri ciri khas utamanya demi menjaga nilai historis-nya.

Lokasi Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Jambi

Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah
Jalan KH. Ibrahim, RT 05
Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk
Kota Jambi, Propinsi Jambi
Indonesia

Koordinat geografi berada di : 1°35'7"S   103°36'8"E






Masuknya Islam Ke Jambi

Berdasarkan penuturan tokoh ulama Jambi, penyebaran Islam di Jambi diawali kedatangan rombongan kapal dari Kesultanan Turki untuk menyebarkan agama Islam yang dipimpin Ahmad Ilyas (sumber lain menyebut namanya Ahmad Salim atau Ahmad Barus atau Barus II). Kapalnya terdampar di Pulau Berhalo  pada 1120 H. Oleh rakyat Jambi, Ahmad Ilyas diberi gelar Datuk Paduka Berhalo. Karena keberhasilan beliau menyebarkan Islam di wilayah Jambi dimulai dari Pulau berhala. Konon beliaulah yang menghancurkan berhala berhala sembahan di pulau berhala.

Ahmad Ilyas lalu menikah dengan Putri Selaras Pinang Masak, Putri bangsawan kerajaan Minangkabau yang berkuasa di Jambi, sebuah pernikahan politik yang kemudian memasukkan beliau ke dalam keluarga bangsawan. Tahun 1138, Ahmad Ilyas mendatangkan ulama dari Hadramaut keturunan Ahlul Bait Rasulullah, Sayyid Husin bin Ahmad bin Abdurahman. Kedatangan beliau disambut hangat oleh rakyat Jambi. Dari sanalah kemudian lahir kerajaan Islam di Jambi sampai ahirnya menjadi kesultanan, hingga ke Sultan Jambi terahir Sultan Thaha Syaifuddin yang menghabiskan masa kekuasaannya menentang penjajahan Belanda di wilayah Jambi hingga ahir hayatnya.

Foto tua Masjid Jami’ Ikhsaniyyah (foto dari id.wikimapia)

Sejarah Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Jambi

Masjid ini didirikan pada tahun 1880 oleh Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri. Sayyid Idrus, seorang tokoh penyebar Islam di Jambi dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo, beliau merupakan seorang ulama keturunan Yaman. Masjid Batu ini didirikan Sayyid Idrus untuk memenuhi fungsi tempat ibadah bagi masyarakat seberang kota Jambi. Masyarakat kota Jambi waktu itu yang sudah fanatik keislamannya memanfaatkannya sebagai tempat ibadah dan kegiatan sosial lainnya.

Habib Idrus bin Hasan Al Jufri wafat tahun 1902 dan dimakamkan di depan masjid Ikhsaniyah yang didirikannya. Kini sekali dalam setahun keluarga besar beliau menyelenggarakan peringatan wafatnya Habib Idrus bin Hasan Al Jufri yang dipusatkan di masjid ini. peringatan tersebut di agendakan sekali dalam setahun, oleh pihak keluarga dan masyarakat muslim Sekoja (seberang kota Jambi) sebagai bentuk penghormatan atas jasa jasa beliau. Peringatan tersebut setiap tahun turut juga dihadiri oleh tokoh agama, alim ulama, cendikiawan, gubernur dan undangan lainnya.

Makam Sayid Idrus di depan Masjid Ikhsaniyah (amalimuadz.blogspot.com)

Mengenal Habib Idrus bin Hasan Al Jufri (Said Idrus)

Tanggal pasti kelahiran Said Idrus ini tidak diketahui, satu satunya informasi dari dokumen Belanda yang menyebutkan bahwa pada tahun 1879, Said Idrus berumur lebih dari 40 tahun. Bisa dikatakan bahwa beliau dilahirkan di Jambi sebelum tahun 1839 dari seorang ayah asli Arab. Masih berdasarkan dokumen Belanda, disebutkan bahwa Said Idrus wafat di tahun 1905 meskipun di makam beliau dicantumkan angka 1902 sebagai tahun kematian-nya.

Said Idrus merupakan salah satu keluarga Al-Jufri di Jambi yang berasal dari golongan Said (sayyid). Dan merupakan satu dari sembilan keluarga terhormat dan terpandang dari keluarga ahlul bait (keluarga Rosulullah), karena silsilah keluarga beliau dapat ditelusuri hingga ke Nabi Muhammas S.A.W dari garis Putri dan menantu Baginda Rosullullah. Keluarga Al-Jufri di jambi turut memainkan peran mereka dalam perpolitikan disana sejak tahun 1812. Keluarga Al-Jufri yang datang ke Nusantara kemudian menikah dengan putri dari kalangan bangsawan karena memang wanita Arab tidak turut serta bermigrasi ke Nusantara.

Papan Nama Masjid Ikhsaniyah, sangat tua (Foto dari wikimapia)
Kelauarga Arab memainkan peran penting sebagai mediator antara penguasa lokal dengan penguasa penjajahan Belanda. Selain itu juga menjadi juru bicara antara keluarga Al-Jufri terhadap keraton Jambi dan Penguasa penjajahan Belanda. Said Idrus memegang peran unik tersebut direntang waktu 1860 hingga wafatnya di tahun 1902 atau 1905. Said Idrus menikah dengan Putri Sultan Nazaruddin dan mendapatkan gelar Pangeran Wiro Kusumo langsung dari Sultan.

Gelar Pangeran ini juga memberi kekuasaan kepada said Idrus untuk menjadi “pepati dalam” di keraton Jambi yang mengambil peran Sultan pada saat Sultan tidak ditempat. Menurut dokumen Belanda, pangeran Wiro Kusumo memainkan peran yang sangat penting ini di tahun 1858-81 ketika Sultan Nazaruddin lebih banyak memilih mengasingkan diri ke tempat yang jauh dari keraton untuk menjaga jarak dengan penguasa penjajah Belanda di Jambi. Mungkin itu sebabnya beberapa penulis bahkan sempat menyebut pangeran Wiro Kusumo sebagai Sultan Jambi. Bisa di maklumi, karena Pangeran Wiro Kusomo memang memiliki pengaruh yang begitu besar di keraton Jambi, selain sebagai menantu dari Sultan Nazaruddin beliau juga merupakan besan dari Sultan Thaha Syaifuddin, Sultan Jambi Terahir yang tak lain juga merupakan ipar-nya sendiri.


Ciri khas Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Jambi

Bangunan dalam Masjid dipenuhi dengan hiasan kaligrafi berbagai rupa. Mimbar asli berdiri anggun di sisi kanan mihrab. Sementara beduk peninggalan terdahulu berada di bagian belakang ruang salat. Ciri mencolok dari Mesjid ini adalah banyaknya jendela. Jendela-jendela yang dipasang berpasangan itu mengelilingi Mesjid. Hanya tembok mihrab yang tak berjendela.

Hingga kini, kebisaaan dan adat istiadat yang dilakukan Pangeran Wiro Kusumo semasa hidup masih  dilakukan keturunan dan pengikutnya. Salah satunya adalah menyantap makan dalam tempeh (wadah besar)  ramai-ramai. Tradisi seperti itu memang merupakan salah satu tradisi para ulama yang berasal dari Yaman yang kemudian berkembang di tanah air. Tadisi yang sama dapat juga dijumpai di masjid masjid tua lainnya di tanah air seperti di Masjid Sultan Palembang ataupun Masjid Al-Hawi di Condet – Jakarta.

Mimbar dan Mihrab Masjid Ikhsaniyah (Foto dari wikimapia)

Tradisi Sumpah di Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Jambi

Sekitar tahun 60-an, Masjid Ikhsaniyah merupakan tempat orang menyelesaikan sengketa. Jika ada orang berselisih perihal kepemilikan tanah, tuduhan mencuri, dan lain sebagainya orang akan membawa perkara itu ke Mesjid dan mengambil sumpah dengan disaksikan para pendudk dan pemuka agama.

Masjid ini diyakini memiliki keramat tersendiri karena jika ada yang berani bersumpah palsu di dalamnya, maka dia akan mengalami bala atau hal lainnya. Karenanyalah, pada masa itu Mesjid Batu amat masyhur dan tak ada seorang pun yang berani mengambil risiko bersumpah palsu di dalamnya. Banyak orang-orang yang berdusta yang awalnya berani bersumpah di dalamnya. Namun, setelah sampai mereka tak berani dan mengakui perbuatannya. Jika ada yang bersalah dan tak mengakui perbuatannya sampai diambil sumpahnya, orang itu akan menggelepar tak sadarkan diri. Dan jika ia sudah sadar biasanya orang yang bersalah itu akan mengakui perbuatannya.

Mimbar Masjid Ikhsaniyah
(Foto dari wikimapia)
Namun sayang, tradisi itu sudah hilang sama sekali. Tak ada lagi orang yang menjadikan Mesjid itu sebagai sarana mempertemukan kebenaran dan mencari keadilan. Tradisi sumpah itu mulai terlupakan, hanya kalangan tua saja yang mengetahui kisah tersebut.

Dipugar Belanda

Di tahun-tahun awal abad ke-20, perkembangan Islam di Jambi maju pesat. Hal ini seiring dengan majunya pendidikan keislaman di Jambi yang ditandai dengan berdirinya empat pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, Pesantren Saadatuddarein, Pesantren Jauharein, dan Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini membuat kesadaran keislaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan kawasan seberang kota Jambi banyak didatangi orang dari berbagai daerah untuk belajar.

Keadaan ini tentu saja berpengaruh bagi Masjid Batu. Makin lama jamaah Masjid itu semakin penuh hingga akhirnya tak lagi mampu menampung jamaah yang terus membludak, terlebih pada Salat Jumat. Maka tokoh-tokoh masyarakat lalu menggelar musyawarah dan bermufakat untuk memperbaharui Mesjid. Disepakati dana pembangunan Mesjid dikumpulkan dari sedekah dan infaq masyarakat sampai akhirnya terkumpul dana yang cukup untuk memugar Mesjid pad tahun 1935.

Beduk tua di masjid Al-Ikhsaniyah (foto dari amalimuadz.blogspot.com)
Karena berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. para tokoh masyarakat meminta izin kepada Belanda. lalu masuklah permohonan pemugaran Mesjid ke pemerintah Belanda yang ada di Jambi dengan menceritakan latar belakang dan sejarah berdirinya Mesjid.

Tahulah Belanda bahwa Masjid Batu tersebut merupakan peninggalan Sayyid Idrus yang merupakan salah seorang sultan Jambi yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo. Karena menganggap bahwa Mesjid tersebut bernilai sejarah sebagai Mesjid sultan, tahun 1937 pihak kolonial mengambil alih pembangunan Mesjid. Dana pun turun dari pihak kolonial dan pembangunan sepenuhnya berada dalam pengendalian Belanda. Padahal awalnya para tokoh masyarakat hanya perlu izin karena dana sudah tersedia. Jadilah dana dari masyarakat itu tidak terpakai yang akhirnya digunakan untuk membuat pagar mengelilingi Masjid.

Update Desember 2016

Agustus 2015

Berdasarkan image dari google street view yang direkam pada bulan Agustus tahun 2015, bentuk masjid Batu Al-Ikhsaniyah ini sudah kembali berubah. Bentuk Ekteriornya mengalami perubahan disana sini membuatnya lebih tampak sebagai bangunan masjid modern. Perubahan paling signifikan pada bagian atapnya, kubah dengan bentuk atap limasnya yang merupakan salah satu ciri khas masjid masjid tua Nusantara, sudah tidak ada lagi berganti dengan kubah parabola dari beton. Perubahan signifikan lainnya tampak pada bangunan makam Sayid Idrus yang kini dibuat terbuka.***

Foto Foto Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Jambi

Masjid Al-Ikhsaniyah sekitar tahun 1920.
Tempat wudhu Masjid Ikhsaniyah (foto dari amalimuadz.blogspot.com)

Referensi

amalimuadz.blogspot.com - mesjid-batu-al-ikhsaniyah
Majalah Hidayah edisi 58, Mei 2006 halaman 126-129
jambi.tribunnews.com - hari-ini-haul-pangeran-wiro-kusumo
jambiekspres.co.id - menelusuri-jejak-penyebar-islam
sumatfeet.wordpress.com - list-of-of-jambi-leaders
sumatfeet.wordpress.com - sayyid-idrus-bin-hasan-al-jufri

------------------------------------------------

Baca juga artikel masjid masjid di pulau Sumatera lainnya


4 comments:

  1. Assalamualaikum. U narasumber yang dimuliakan allloh.sdh sampai generasi kah kturunan sayyid idrus hasan aljufri skrang ini? Makasih ya infonya.wassalamualaikum

    ReplyDelete
  2. Ada yg tahu nasab Sayyid idrus bin hassam aljufri.

    ReplyDelete

Dilarang berkomentar berbau SARA