Saturday, November 19, 2011

Masjid di Atap dunia, Masjid Chaqchan – Pakistan

Masjid Chaqchan, Khaplu, Baltistan, Pakistan (foto dari Panoramio)

Dimanakah letak masjid Chaqchan

Pernah dengar nama Himalaya ?, pernah dong, itu loh pegunungan tertinggi di muka bumi itu. Pegunungan Himalaya membentang dibeberapa Negara termasuk Pakistan. Masjid Chaqchan yang akan kita bahas dalam tulisan ini berada di daerah Khaplu, Distrik Ghangche, kawasan Gilgit Baltistan di Propinsi Paling utara Republik Islam Pakistan. Kawasan Gilgit Baltistan satu dari kawasan paling spektakuler di utara Pakistan. Kawasan yang berada di pertemuan tiga puncak tertinggi di dunia masing masing Pegunungan Karakorum, Hindukush dan Himalaya. Menjadikan kawasan ini sebagai salah satu kawasan yang berada di atap dunia.

Keseluruhan kawasan Gilgit-Baltistan merupakan sorga bagi para pendaki gunung, pemanjat tebing, trekker dan hiker. Kawasan ini juga merupakan kawasan bersejarah yang kaya dengan warisan budaya dan beragam flora dan fauna langka. Kawasan bersejarah Gilgit-Baltistan, sekian lama menjadi pusat perebutan kekuasan politik maupun militer antara emporium Russia, Inggris Raya dan China. Sampai kemudian berahirnya kekuasaan Inggris di Anak Benua India tahun 1947, warga di kawasan ini memilih untuk bergabung dengan Pakistan melalui sebuah pemberontakan lokal yang begitu terkenal melawan Maharaja Kashmir.

Posisi koordinat geografi : 35°9'24"N 76°19'45"E


Sekedar informasi, wilayah Kashmir kini tercabik cabik ke dalam territorial tiga Negara, sebagian besar masuk ke dalam wilayah India sebagai Negara bagian Jammu & Kasmir (termasuk wilayah Ladakh) sebagian besar lagi masuk ke dalam wilayah Pakistan menjadi propinsi Northern Area termasuk Baltistan, serta sebagian kecil lagi masuk ke dalam teritori China menjadi propinsi Aksai Chin, bertetangga dengan wilayah otonomi Tibet. Namun hingga kini, Salah satu negeri atap dunia ini terus saja menjadi titik ketegangan antara Pakistan, India dan China.

Lokasi Baltistan di peta Kashmir (peta dari fravahr.org)
Diantara bangunan warisan sejarah masa lalu di Gilgit – Baltistan adalah bangunan masjid masjid kuno dengan arsitektural Tibet yang sangat antik, salah satunya adalah masjid Chaqchan di daerah Khaplu. Masjid ini dipercaya sebagai tempat ibadah yang pertama hadir sejak muncul nya peradaban manusia di kawasan tersebut. Arsitektural masjid ini sangat unik menggambarkan sebuah seni Islam yang sangat kuno.

Tentang Khaplu (Ghangche)

Khaplu merupakan gerbang menuju beberapa puncak tertinggi di bumi termasuk Himalaya, diantaranya ; puncak Masherbrum 1 & 2 (7821 mdpl), Puncak K7 (6921 mdpl), K6 (7281 mdpl), puncak Gondogoro (5650 mdpl) ,Puncak K2 (8611 mdpl) dan kawasan lainnya yang menyajikan pemandangan yang begitu indah dengan lintasan hiking, rafting, rock climbing, dan kegiatan alam liar lainnya. Menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tempat paforit bagi para peminat kegiatan petualangan di alam terbuka. K2 merupakan puncak tertinggi di bumi setelah puncak Himalaya.

Khaplu memiliki banyak nama seperti “Lembah Shyok”, “Ghangche” dan “Little Tibet”. Khaplu juga menjadi ibukotanya Distrik Ghangche. Khaplu menjadi rumah bagi begitu banyak tempat dan bangunan bersejarah termasuk masjid tua Chaqchan yang sudah berumur 700 tahun lebih, Istana Raja (Raja Palace) sebuah bangunan istana dengan arsitektur Tibet terahir dan terbaik di Pakistan, merupakan penghormatan kepada Muhammad Shah yang dibangun tahun 1712M / 1124H. serta begitu banyak bangunan berasrsitektur penuh sejarah lainnya di Khaplu.

masjid Cahqchan dari sisi depan (foto dari my.opera.com)
Islam di Baltistan

Islam masuk ke kawasan Baltistan, Kargil dan beberapa desa di Ladakh (kini masuk ke dalam wilayah Negara India) hasil dari dakwah Islam yang disampaikan oleh Syed Ali Hamdani  (714 AH/1314M -786H/1384M) seorang ulama sufi. Dakwah beliau kemudian dilanjutkan oleh Syed Muhammad Nurbakhsh (795H/1393M – 859H/) yang merupakan murid dari Khawaja Ishaq Khatlani yang juga beraliran sufi. Penduduk setempat yang tadinya beragama Budha kemudian masuk Islam dan membentuk komunitas muslim pertama di bagian utara anak benua India. Syed Mohammad Nurbakhsh mengajarkan Qur’an dan Sunnah termasuk juga menulis buku fiqh, furu, usuluddin. Aliran sufi disana kemudian dikenal dengan nama Sufi Nurbakshia.

Syed Ali Hamdani semasa hidupnya menulis 170 buku, dan materi cetakan lainnya yang 70 diantaranya dapat ditelusuri baik yang sudah di publikasikan atau tidak. Begitu juga dengan Syed Muhammad Nurbakhsh menulis setengah satu setengah lusin buku dalam bahasa Parsi dan Arab. Pengaruh dua guru besar ini menyebar hingga ke kawasan Kashmir (yang masuk wilayah China maupun India) hingga ke Tajikistan, Siangkang dan propinsi Yarqand di China hingga ke Kurdistan dan Iran. Materi materi ajaran beliau berdua masih dapat ditemui di perpustakaan “Barat” di Khaplu dan perpustakaan Islam Suffa, di Madrasah Shah-e-Hamdani..

Masjid Chaqchan saat sebelum di restorasi, sangat mengkhawatirkan 
(foto dari  tibet-encyclopaedia)
Masjid Chaqchan

Masjid chaqchan merupakan salah satu masjid tertua di kawasan Khaplu yang dibangun oleh Syed Ali Hamdani (714 AH/1314M -786H/1384M) sebagai bagian dari dakwah beliau di daerah tersebut. Beliau begitu dihormati muslim setempat sebagai seorang waliullah. Dan senantiasa ditambahkan gelar R.A (RodiAllohu Anhu) di belakang namanya. Masjid ini menjadi salah satu tempat suci di kawasan Khaplu, muslim dari berbagai negeri datang ke masjid ini untuk menikmati keindahan dan penyegaran keimananan mereka. Masjid ini dipercaya sebagai salah satu masjid yang sudah eksis sejak awal peradaban Islam di kawasan Khaplu.

Masjid Chaqchan ini sempat mengalami kerusakan karena termakan usia. Maklum, sebagian besar bahan bangunan yang dipakai untuk masjid ini berbahan kayu. Kayu kayu pilihan yang kemudian diukir sedemikian rupa dengan ukiran khas Tibet, sangat indah. Untuk mencegah ambruknya bangunan tersebut dan hilangnya salah satu warisan budaya dunia, lembaha Aga Khan melakukan restorasi total terhadap masjid ini dan berhasil mengembalikan bentuknya kepada bentuk aslinya dan tetap berdiri kokoh di lokasi awalnya dan terus menjadi pusat peribadatan muslim setempat, dan para pengembara dunia yang singgah ke Khaplu.

Interior masjid Chaqchan (foto dari pakwheels.com)
Arsitektural Masjid Chaqchan

Sekilas pandang, siapapun (selain penduduk setempat) tak kan mengira bangunan tua nan antic ini adalah sebuah masjid. Butuh pengamatan lebih untuk menemukan bukti bahwa bangunan ini adalah bangunan masjid. Bangunan kayu yang pondasi nya berupa susunan batu alam dan semen ini memang kental dengan sentuhan seni tradisional Tibet. Bentuk bangunan hingga ornament di atap bangunan benar benar identik dengan bangunan bangunan peribadatan Budha di Tibet.

Hal tersebut dapat difahami karena memang wilayah Khaplu 700 tahun lalu sebelum kedatangan Islam merupakan wilayah yang penduduknya beragama Budha, sama seperti di kawasan Tibet (kini menjadi wilayah otonomi China) yang memiliki kedekatan geografis. Lain halnya dengan Tibet yang kini penduduknyamasih mayoritas beragama Budha, di wilayah wilayah Kashmir baik yang masuk ke dalam wilayah China, India dan Pakistan, mayoritas penduduknya beragama Islam.

Detil ukiran interior masjid Chaqchan (foto dari pbase.com)
Warisan budaya Tibet di kawasan tersebut masih eksis hingga kini dalam seni bangunannya. Tidak hanya masjid berusia tua di pedalaman seperti masjid Chaqchan ini tapi juga masjid masjid agung di pusat kota seperti Jama Masjid Srinagar, India, seni bangunan nya pun turut dipengaruhi oleh budaya Tibet. Sangat menyolok terlihat pada ornamen atap utama bangunan masjid.

Masjid Chaqchan di Khaplu ini penuh dengan ukiran kayu khas Tibet yang menghias hampir keseluruhan fasad bangunan. Ekterior maupun interior bangunan. Ukiran dengan pola geometris dan floral warna warni dapat ditemui di dinding bagian luar dan dalam masjid. Ventilasi bangunan menggunakan jalinan kayu juga berpola geometris. Masjid Chaqchan ini terdiri dari dua lantai yang dipakai di musim yang berbeda. Lantai dasar masjid digunakan semasa musim dingin sedangkan lantai atas di gunakan semasa musim panas.

Masjid Chaqchan dari sisi yang berbeda (foto dari panoramio)
Empat tiang kayu berukir menopang struktur atap bangunan ini. ukiran geometris warna warni juga memenuhi keseluruhan plafon masjid ini. namun tak ditemui ukiran di jendela dan pintu masjid ini. mihrab masjid ini begitu kecil hanya berupa sebuah ceruk yang dipenuhi dengan hiasan ornamen geometris.  Tampilan sederhana sebuah mimbar disebelah mihrab, mimbar yang juga dari kayu, Satu anak tangga ditinggikan dari permukaan lantai, satu tingkatan lagi untuk tempat duduk khatib. Sebuah mimbar yang sederhana.

Penutup

Dilihat dari lokasinya, Masjid ini memang menjadi tempat yang begitu nyaman untuk beribadah, terutama bagi para pengembara yang sengaja datang ke daerah ini. tempat yang begitu terpencil, di kawasan ketinggian, salah satu atap dunia, sunyi dan jauh dari hiruk pikuk dunia. Ditambah lagi dengan penduduknya yang ramah dan suasana Islami di kawasan tersebut. Dan jangan lupakan bahwa Khaplu dipeluk oleh berjejer puncak puncak gunung tertinggi dibumi. Tempat yang ideal untuk merenungi kecilnya diri dihadapan kekuasaan Allah Subhanahuwata’ala, Tuhan Yang Maha Esa pemilik alam semesta beserta isinya.

Foto Foto Masjid Chaqchan

Foto dari panoramio
Foto dari pbase.com
(foto dari  tibet-encyclopaedia)
(foto dari  tibet-encyclopaedia) 
Referensi

gilgit-skardu-baltistan.blogspot.com – historic places of gilgit baltistan
en.wikipedia – skardu district
khaplu.yolasite.com – place to visit
wikimapia – chaqchan mosque
baltistantours.com - balstistan
globalsecurity.org - skardu
wikitravel.org - skardu
visitgilgitbaltistan.gov.pk - brocure
tibet-encyclopaedia.de – moscheen baltistan

No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA