Saturday, September 3, 2011

Masjid Agung Karawang (bagian I)

Masjid Agung Karawang. berdiri di kawasan alun alun kabupaten Karawang. disekitar
alun alun di depan masjid ini banyak terdapat warung warung berbagai jenis kuliner.

Berdiri megah di kawasan alun alun kota Karawang, masjid Agung Karawang menyimpan sebuah sejarah panjang penyebaran Islam di wilayah propinsi Jawa Barat. Sejarah masjid agung ini tidak dapat dilepaskan dari peran Sheikh Quro, yang bernama asli Sheikh Hasanuddin, seorang ulama besar yang begitu berjasa bagi masuk dan berkembangnya syiar Islam di wilayah Karawang khususnya dan propinsi Jawa Barat umumnya. Bangunan masjid yang kini berdiri megah itu memang bukan lagi bangunan asli yang dulu pertama kali dibangun oleh Sheikh Quro. Renovasi, perbaikan hingga pembangunan kembali oleh para Bupati Karawang tempo dulu hingga para bupati di era Kemerdekaan turut andil dalam mempermegah dan memperindah masjid bersejarah ini.

 

Lokasi Masjid Agung Karawang

 

Jalan Brigadir Jenderal Polisi Nasuha
Telukjambe, Karawang, Indonesia


View Masjid Agung Karawang in a larger map

 

Karawang, Tarumanagara, Padjajaran dan Sheikh Quro


Nama Karawang berasal dari Bahasa Sunda Karawa-an, adalah Nama suatu kesatuan wilayah dan juga nama salah satu pelabuhan yang terletak ditepi kali Citarum pada masa pemerintahan Kerajaan Pajajaran.  Sebagai suatu Wilayah, Karawang sudah memegang peranan penting pada masa Pemerintahan kerajaan Tarumanegara yang berkuasa pada abad IV - VI M.  Tim Arkelogi Nasional  yang melakukan penelitian sejak tahun 1952 sampai sekarang, banyak menemukan peninggalan kerajaanTarumanegara seperti bekas bangunan candi dan lain-lainnya di sekitar Desa Seragan, Batu Jaya dan Desa Cibuaya. Demikian juga adanya nama Pataruman sebuah kampung di dekat Rengasdengklok, diduga bakas salah satu pelabuhan Tarumanegara.

Kala itu pelabuhan Karawang menjadi pelabuhan penting di kerajaan Tarumanegara hingga era kerajaan Padjajaran. Posisi Karawang yang berada di sepanjang kali Citarum yang merupakan jalur utama perdagangan di kawasan tersebut menjadikan nya teramat penting pada era Padjajaran sama pentingnya dengan pelabuhan Banten, Bekasi, dan Sunda Kelapa. Pentingnya peranan pelabuhan Karawang, bukan saja pada masa pemerintahan Pajajaran dari abad VIII sampai abad XVI  M, yakni hampir 800 tahun, akan tetapi sampai juga masa pemerintahan Sultan Agung Mataram yang telah mengangkat  Bupati Karawang pertama Adipati Singaperbangsa dan Aria Wirasaba. Bahkan sampai berakhirnya masa pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang.

Sisi depan Masjid Agung Karawang, menghadap ke alun alun
Pelabuhan Karawang dengan kesibukan seperti dijelaskan itulah, rombongan Syeh Quro dengan 2 perahunya singgah kesana. Syekh Quro atau yang bernama asli Syekh Hasanudin yang datang dari Champa (Kamboja) dan mendirikan pesantren pada tahun 1418 M pada saat kunjungan yang ke dua di pulau Jawa dan memulai menyebarkan Islam di kawasan tersebut Mushola yang dibangun oleh Syekh Quro inilah yang kini kita kenal sebagai masjid Agung Karawang.

Sheikh Quro, Masjid Agung Karawang dan Keruntuhan Padjajaran

Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syeh Quro menyampaikan Da'wahnya di Musholla yang dibangunnya penuh keramahan. Uraiannya tentang Agama Islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan,  Karena Ia bersama santrinya langsung memberi contoh. Pengajian Al Qur'an  memberikan daya tarik tersendiri, karena Ulama Besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatkan masuk Islam.

Menara Masjid Agung Karawang, diresmikan
tahun 2006 lalu
Dakwah Syeikh Quro di Karawang ini terdengar Prabu Angga Larang yang pernah melarang Syeikh Quro melakukan kegiatan yang sama  ta'kala mengunjungi pelabuhan  Muara Jati Cirebon, ia mengirim utusan yang dipimpin oleh putera mahkotanya yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syeh Quro. Namun ta'kala Raden Pamanah Rasa ini tiba di tempat tujuan, hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al Qur'an yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Karancang.

Raden Pamanah Rasa mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Karancang. Lamaran tersebut diterima dengan syarat mas kawinnya harus "Bintang Saketi" yaitu simbol dari "tasbeh" yang berada di Negeri Mekah. (Sumber lain menyatakan bahwa, hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu harus masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam). Selain itu, Nyi santri juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan-nya kelak harus ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, dan beberapa waktu kemudian pernikahan pun dilaksanakan, di mushola Pesantren Syeikh Quro dan Syeh Quro sendiri yang bertindak sebagai penghulunya. Raden Pamanah Rasa setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran kemudian bergelar Prabu Siliwangi.

Perkawinan di musholla yang senantiasa mengagungkan asma Allah SWT itu memang telah membawa hikmah yang besar. Dari pernikahan tersebut lahirlah putera bernama Raden Walangsungsang, lalu seorang puteri bernama Raden Nyi Rara Santang dan putra bungsu bernama Raden Kian Santang.

Setelah melewati usia remaja, bersama adiknya Raden Nyi Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran untuk mendapat bimbingan dari Ulama Besar yang bernama Syeh Dzatul Kahfi di Paguron Islam di Cirebon. Sedangkan Raden Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Mubaligh dan menyebarkan Agama Islam di daerah Garut.

Setelah kakak beradik Raden Walangsungsang dan Nyi Rara Santang menunaikan ibadah Haji, Raden Walangsungsang  memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang (Cirebon) bergelar Pangeran Cakrabuana . Sedangkan Raden Nyi Mas Rara Santang waktu di Mekah diperistri oleh Sultan Mesir, Syarif Abdillah. Raden Nyi Rara Santang kemudian diganti namanya menjadi Syarifah Muda’im.

Dari pernikahan Raden Nyi Mas Rara Santang dengan Syarif Abdillah, mereka dikaruniai dua orang putera masing-masing bernama Syarif Hidayatullah, dan Syarif Nurullah. Setelah ayahnya meninggal dunia jabatan sultan diserahkan kepada Syarif Nurullah, sebab Syarif Hidayatullah setelah menimba ilmu Agama yang luas dari para Ulama Mekah dan Bagdad, ia bertekad untuk menjadi Mubaligh di Cirebon.

Tahun 1475, Syarif Hidayatullah bersama ibundanya berlayar ke Cirebon, setibanya disana disambut dengan suka cita oleh Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat atau pangeran Walangsungsang yang tak lain adalah kakak tertua dari ibundanya. Syarif Hidayatullah kemudian dipercaya untuk menggantikan Pangeran Cakraningrat untuk memimpin negeri Caruban, dengan gelar Susuhunan atau Sunan. Syarif Hidayatullah ini yang kemudian kita kenal sebagai Sunan Gunung Jati.

reka gambar Sunan Gunung Jati
Pengangkatan Syarif Hidayatullah tersebut mendapat dukungan terutama dari Raden Fatah, Pemimpin Pesantren dan Sunan Bintoro, putera Raja Majapahit Brawijaya V, yang diangkat menjadi Sultan Kerajaan Islam Demak I. Dalam rangka pembangunan Mesjid Agung Demak, Sunan Cirebon diundang untuk menetapkan kebijaksanaan tentang penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Sidang para Sunan yang dikenal Wali Songo itu juga menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah diangkat menjadi ketua atau pimpinan dari Wali Songo, dengan gelar Sunan Gunung Jati.

Sejarah Nasional kita mencatat bahawa pasukan gabungan kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak dibawah pimpinan Fatahillah berhasil mematahkan kekuasaan Portugis di Sunda Kelapa, kemudian berubah nama menjadi Jayakarta, Batavia dan kemudian menjadi Jakarta yang kini kita kenal. Keturunan Sunan Gunung Jati juga yang kemudian mendirikan kesultanan Banten dan secara tuntas menghapus sisa sisa kekuasaan Pajajaran, ketika tahun 1579 Syeh Yusuf, Putera Sultan Hasanuddin atau cucu Sunan Gunung Jati melumpuhkan secara total sisa sisa kekuatan Pajajaran. Peristiwa heroik penaklukan Sunda Kelapa oleh gabungan pasukan Demak dan Cirebon terhadap pasukan Portugis itu kini setiap tahun diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Sejarah besar itu bermula dari mushola kecil sheikh Quro yang kini menjadi Masjid Agung Karawang. Apa yang dikatakan Sheikh Quro bahwa keturunan pajajaran kelak akan ada yang menjadi Waliullah dan permohonan Nyi Subang Karancang (Subang Larang) agar keturunannya dari perkawinan dengan Prabu Siliwangi ada yang menjadi raja, pun ahirnya terwujud.

Bersambung ke bagian II

Menara Masjid Agung Karawang
Sisi depan Masjid Agung Karawang
dari arah alun alun
enam pilar Majsid Agung Karawang
interior Masjid Agung Karawang

No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA