Tuesday, March 22, 2011

Masjid Islamic Center Washington DC, Amerika Serikat

Masjid Islamic Center Washington DC (Foto dari Flickr
Islam menjadi issue utama di Amerika Serikat paska serangan 11 September 2001. tragedi yang tak bisa dipungkiri meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban khsusunya, dan warga Amerika umumnya. Dunia tak pernah sama lagi setelah peristiwa itu. Islam dan ummatnya menjadi sorotan di berbagai belahan bumi. Berbagai perlakuan dan tindakan tak nyaman menerpa muslim yang tinggal di Amerika dan negara negara barat lainnya. Namun peristiwa itu juga yang kemudian membuat begitu banyak orang yang masih mau berfikir jernih untuk mulai bertanya tanya tentang Islam dan pada ahirnya beberapa dari mereka tidak saja sekedar bertanya tapi justru kemudian menjadikan Islam sebagai pegangan hidupnya, setelah menemukan kebenaran Islam.

Sejarah mencatat, hanya beberapa hari setelah peristiwa itu, di tanggal 17 September 2001, presiden Amerika Serikat kala itu George Walker Bush memilih Masjid Islamic Center Washington DC untuk menyampaikan pidatonya. Dalam pidato tersebut Presiden George Walker Bush menyampaikan bahwa Muslim Amerika adalah bagian dari Amerika dan mereka berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dan setara dengan warga Amerika yang lain.

George Bush Di Masjid Islamic Center Washington DC
tanggal 17 September 2001.
"Americans who mistreat Muslims should be ashamed,". "In our anger and emotion, our fellow Americans must treat each other with respect."

Namun serangan 11 September 2001 tersebut malah kemudian berujung kepada penyerbuan tentara Amerika ke Afganistan dengan dalih perang terhadap teroris dan bercokol disana hingga kini. (klik disini untuk membaca transkrip lengkap pidato George Walker Bush tersebut). Tek pelak tindakan tersebut membuat beberapa kalangan menyebutnya sebagai bentuk lain dari tindakan terorisme oleh sebuah negara berdaulat terhadap negara berdaulat lain nya.

Masjid Islamic Center Washington DC juga pernah mengalami sejarah kelam dalam peristiwa yang terkenal dengan 1977 Hanafi Siege. Ketika tanggal 9~11 Maret 1977, tiga orang bersenjata menyerbu ke dalam Masjid dan menyandera 11 orang. Tiga orang tersebut merupakan bagian dari kelompok  Hamaas Abdul Khaalis yang disaat hampir bersamaan menyerbu 3 tempat berbeda di Washington DC. Kelompok ini mengajukan beberapa tuntutan kepada pemerintah Amerika Serikat. Penyanderaan tersebut berahir setelah tiga orang duta besar negara Islam melakukan perundingan dengan kelompok tersebut.

Presiden Soekarno di Islamic Center Washington DC tahun 1956.
setahun sebelum masjid tersebut diresmikan pemakaiannya.
Di bawah pengawalan ketat dari aparat keamanan Amerika
ditambah penyambutan yang luar biasa kala itu.
Sejarah juga mencatat bahwa presiden pertama dan proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Ir. Ahmad Soekarno pernah singgah dan sholat di Masjid Islamic Center Washington DC ini selama kunjungan kenegaraannya selama 19 hari ke Amerika Serikat atas undangan dari Presiden Amerika ketika itu, David Dwight  Eisenhower di bulan Mei 1956. Cukup menarik karena ketika itu masjid Islamic Center Washington DC bahkan belum sepenuhnya selesai dibangun, dan baru secara resmi diresmikan setahun kemudian.

Dalam kunjungan itu Ir. Soekarno mendapatkan sambutan yang luar biasa dari pemerintah dan rakyat Amerika, Presiden Eisenhover bahkan menunjuk Wakil Presiden Richard Nixon untuk menjemput langsung Presiden Soekarno ke Bandara. Konon penyambutan terhadap presiden Soekarno ketika itu merupakan sambutan terbesar oleh Amerika terhadap pemimpin dari dunia ketika yang berkunjung ke Amerika.

Alamat dan Lokasi Masjid Islamic Center Washington DC

2551 Massachusetts Avenue Northwest,
Washington D.C., DC,  USA
Nomor Telepon : +1 202-332-8343 
Koordinat peta : 38° 55′ 1″ N, 77° 3′ 25″ W


Sejarah Pembagunan Masjid Islamic Center Washington DC

Gagasan untuk membangun masjid ini pertama kali lahir pada tahun 1944 saat perang dunia kedua sedang bergolak. Ditahun yang sama ditanggal 11 November 1944 Mehmet Münir Ertegün, Duta besar Republik Turki pertama untuk Amerika Serikat wafat, dan tidak ada satu masjid pun di washington DC untuk keperluan pelaksanaan sholat jenazah. Ketika itu sempat terjadi perbincangan antara A.J Howar, pengusaha muslim Amerika yang berasal dari Palestina dan bernama Asli Yusuf Al-Hawa dengan duta besar Mesir Mahmud Hasan Pasha yang mengatakan “sangat memalukan bahwa sholat jenazah untuk seorang yang sangat terhormat seperti almahum Munir Estegun, tidak diselenggarakan di masjid. Dan Dubes Mesir ketika itu meminta Howar untuk mendirikan masjid yang dimaksud, mengingat beliau adalah seorang kontraktor sukses di Amerika. Hal itulah yang menjadi awal keseluruhan porses pembangunan masjid Islamic Center Washington DC.

Bung Karno dan rombongan ketika sholat
di Masjid Islamic Center Washington DC.
Dengan prakarsa negara-negara Islam, proses pembangunan masjid Islamic center Washington DC dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 11 Januari 1949, di atas lahan yang dibeli tahun 1946. peletakan batu pertama itu bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ke 1420. Mengutip situs pemerintah Amerika Serikat, disebutkan bahwa dana pembangunan masjid dihimpun dari berbagai kalangan, seperti Komunitas Muslim Amerika, negara-negara Islam di seluruh dunia, termasuk Afghanistan, Mesir, Indonesia, Iraq, Iran, Syria, Turki, Pakistan dan Saudi Arabia.

Selain sumbangan dana, di masjid ini juga berhimpung material terpilih sumbangan dari berbagai Negara Islam. Mesir menyumbang lampu gantung besar yang sangat indah, termasuk para seniman yang mengukir kaligrafi Al-Qur’an di keseluruhan dinding dan kubah masjid. Iran menyumbang karpet rajutan yang luar biasa, Malaysia menyumbang kubah, Maroko kaca jendela, Turkey menyumbang keramik lantai dan dinding, dan Iraq menyumbang kaca kuning.

Pembangunannya sendiri berlangsung awal Desember 1949 dengan kontraktor lokal. Keterlambatan proses pembangunan ini disebabkan adanya kendala komunikasi antara arsitek dengan kontraktor. Di saat pembangunan tengah berjalan, penentuan arah kiblat sempat menjadi pro dan kontra, hingga pertengahan 1957. Sampai akhirnya diputuskan seorang ahli, kiblat menghadap timur laut.

Sejumlah penjelasan detail tentang arsitektur masjid terpaksa berulang kali harus diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Inggris. Gambar bangunan berikut interiornya, dibuat oleh tenaga-tenaga arsitek dari Kementerian Agama, Kairo, Mesir. Menariknya, selama proses pembuatan gambar, ada keterlibatan seorang arsitek dari Italia, Professor Mario Rossi.

Keramik/porselen sumbangan Turki di Islamic Center Washington DC 
(foto dari Flickr)
6 tahun lebih sejak dibangun, atau tepatnya 28 Juni 1957, Islamic Center akhirnya diresmikan. Presiden Amerika Serikat Eisenhower turut hadir dan memberikan sambutan dalam acara peresmian tersebut. Pemerintah Amerika kini melindungi bangunan ini dengan memasukkannya ke dalam daftar bangunan-bangunan historis di Amerika.

Masjid Islamic Center ini menjadi masjid pertama dan tertua di ibukota negara Amerika Serikat, dan pada saat selesai dibangun menjadi masjid terbesar di kawasan Amerika bagian Barat. Keindahan ornamen di Islamic Center ini, sebagian buah karya sang profesor, terinpsirasi kemegahan masjid-masjid kuno Kairo. Professor Rossi akhirnya menjadi seorang muslim, dan berganti nama menjadi Muhammad Mahdi.

Arsitektur Masjid Islamic Center Washington DC

Di masjid itu, ruangan laki-laki dan perempuan terdapat pada lantai yang terpisah. Lantai atas masjid diperuntukkan bagi jemaah laki, sedangkan jemaah wanita di ruangan bawah. Pemisahan letak lantai antara laki-laki dan perempuan yang baru diterapkan bulan Juli 2010 menjelang Ramadhan di tahun tersebut. Keputusan sempat sempat menimbulkan kontroversi karena sebagaian kaum perempuan menganggap hal itu sebagai diskriminasi.

Namun, pihak masjid mengatakan penetapan baru itu dibuat karena kapasitas ruangan di lantai atas yang sudah tidak memadai. Hampir 50-an warga Indonesia secara aktif beribadah di masjid Islamic Center ini, yang datang dari berbagai kota di sekitar Washington DC terutama selama bulan Ramadhan.

Aktivitas Masjid Islamic Center Washington DC

Fasad depan masjid Islamic Center Washington DC, tempat dimana -
Foto Bung Karno di ambil di foto sebelumbya (foto dari Panoramio)
Selain sholat jum`at berjama`ah, aktivitas seperti pengajian, Sunday School bagi anak-anak atau kajian-kajian tentang Islam, rutin digelar. Keberadaan Islamic Center di ibukota negara adidaya ini, sungguh berarti bagi kaum muslim. Masjid bersejarah ini senantiasa membuka diri untuk dikunjungi oleh siapapun, setiap hari masjiid ini menerima tamu antara 100 hingga 600 orang. Non-Muslim dari Amerika dan luar Amerika datang bergabung dalam sebuah tur. Beberapa tur dilakukan bagi para pejabat Departemen Luar Negeri Amerika yang akan berdinas di dunia Islam atau para pelajar yang akan belajar di negara-negara Muslim.

Mereka datang untuk mengikuti ceramah serta seminar mengenai situasi di Timur Tengah dan apa yang diharapkan dan bagaimana berperilaku di sebuah negara Islam. Selama tur, para pejabat masjid juga memberikan informasi tentang Islam, ajaran-ajarannya dan Nabi Muhammad SAW dan menjawab pertanyaan dari pengunjung yang masih penasaran soal Islam.

Ornamen Interior di bawah kubah, lukisan dan ukiran Kaligrafi Al-Qur'an
tersebut merupakan karya para seniman Mesir
Perpustakaan dengan koleksi lengkap

Masjid Islamic Center Washington DC juga dilengkapi dengan perpustakaan besar dengan segala macam buku tentang Islam, dan memiliki kelas-kelas untuk pelajaran Bahasa Arab, Al-Qur'an, hukum Islam dan mata pelajaran lain yang terkait agama Islam. Meski tak tidak memungkinkan untuk membangun sekolah, tapi Masjid ini berhasil mengatur kelas Sabtu dan Minggu untuk enam kelas.

Layanan Pemakaman Gratis

Masjid ini juga terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat dengan memberikan konseling perkawinan, membantu memahami prosedur pemakaman dan penguburan. Pengurus masjid juga sudah membeli sebuah kuburan pemakaman dan tersedia bagi umat Islam untuk menguburkan orang yang meninggal secara gratis, karena biaya pemakaman di sini di Amerika Serikat adalah sangat mahal.

Dakwah kepada Narapidana di Penjara

Layanan Islamic Center yang paling membanggakan adalah program da`wah. Ada sejumlah besar orang yang masuk Islam di sini setiap bulan, seminar bagi para mualaf, dilaksanakan secara rutin untuk membantu mereka terlibat dalam agama baru mereka, sehingga mereka memahami dan memiliki visi yang jelas, bukan hanya mengikuti metode-metode tertentu.

Islamic Center juga menegaskan bahwa penjangkauan mereka melampaui bangunan masjid. masjid memiliki peserta untuk membantu kami mengirimkan paket buku ke lembaga-lembaga di seluruh AS, khususnya di penjara-penjara di mana orang ingin tahu tentang Islam. Dan hasilnya sungguh luar biasa, beberapa kepala penjara berkirim surat ke masjid Islamic Center dan berterima kasih karena setelah menerima Islam para tahanan terdapat perubahan perilaku mereka dan mereka menjadi manusia yang lebih baik.

Kontroversi yang tak berkesudahan

Imam Al-Asi dan jemaah nya
Di bulan November 1981, untuk pertama kali Masjid Islamic Center Washington DC melakukan pemilihan Imam secara langsung, ketika itu terpilihlah Muhammad Al-Asi sebagai imam Masjid Islamic Center Washington DC. Namun kemudian Imam Muhammad Al-Asi berselisih faham dengan pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Pada tanggal 5 Maret 1983 Imam Muhammad Al-Asi beserta keluarganya diminta keluar dan meninggalkan Masjid Islamic Center Washington DC.

Namun Imam Muhammad Al-Asi enggan menanggalkan jabatan imam nya dan meneruskan menjalankan tugasnya sebagai imam dengan memimpin jemaah diluar gedung Masjid, di halaman rumput bahkan di trotoar seberang jalan Masjid Islamic Center Washington DC.

Idul Fitri bulan Juli tahun 1983, Muhammad Al-Asi beserta 50 jemaah pengikutnya memaksa masuk ke dalam Masjid untuk menjalankan ibadah sholat idul fitri, tindakan ini kemudian memicu pengelola Islamic Center memanggil aparat keamanan, akibatnya Imam Muhammad Al-Asi beserta 50 jemaahnya di ciduk aparat berwajib meski kemudian dibebaskan kembali. Namun juri di pengadilan Amerika Serikat memutuskan mereka bersalah karena telah mengganggu jalannya peribadatan yang dipimpin oleh imam yang lain. Dan pengadilan kemudian memutuskan Imam Muhammad Al-Asi beserta jemaahnya dilarang untuk memasuki Masjid Islamic Center.

Menurut Imam Abdullah Muhammad Khouj (imam masjid saat ini) jemaah sholat lima
waktu di masjid ini meningkat dari ratusan menjadi ribuan jemaah sejak tahun 1984
Hingga kini Imam Muhammad Al-Asi masih mengukuhkan dirinya sebagai Imam Masjid Islamic Center Washington DC meskipun pihak Masjid Islamic Center sudah mengumumkan bahwa beliau sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Masjid Islamic Center Washington DC. Upaya upaya rekonsiliasi sudah dilakukan oleh berbagai pihak namun tak membuahkan hasil, hingga kini pun Imam Al-‘Asi masih senantiasa memimpin jemaahnya menjalankan sholat Jum’at di trotoar diseberang Masjid Islamic Center Washington DC, beliau dan jemaahnya juga mengelola situs sendiri untuk Islamic Center Washington DC.


Video Masjid Islamic Center Washington DC


Foto Foto Masjid Islamic Center Washington DC

Street view Masjid Washington DC

Bendera negara negara islam di depan Islamic Center Washington DC
(foto dari Panoramio)
Bendera Merah Putih Berkibar diantara bendera negara negara Islam Lainnya
di depan Masjid Islamic Center Washington DC, Amerika Serikat.
Foto dari Flickr
Foto dari Flickr
Bung Karno di Masjid Islamic Center Washington DC, melintasi petugas kemanan
yang bersiaga penuh selama kunjungan kerja beliau ke Amerika Serikat.
Interior Masjid Islamic Center Washington DC (foto dari Flickr)
Referensi

sacret-destination.com – Washington DC Islamic Center
situs resmi Islamic Center Washington DC –http://www.theislamiccenter.com/
islamiccenterdc.com – whathappened
shahzadraza.com – A Tale of two Friday prayers

No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA