Rabu, 24 November 2010

Masjid Raya Cipaganti Bandung

Masjid Raya Cipaganti Bandung (foto dari panoramio)
Bandung, kota yang terkenal dengan sebutan Paris Van Java, Kota Kembang, juga dikenal dengan kota mode. Segudang artis dan seniman lahir dari kota ini meramaikan kesenian tanah air. Sepakbola turut mewarnai sejarah kota ini. PERSIB klub bola yang bertarung di Liga Super Indonesia itu berasal dari kota ini dan menjadi salah satu klub pendiri PSSI di masa lalu. Tak hanya itu kota ini juga kotanya Kyai kondang Ustadz Abdullah Gymnastiar atau lebih dikenal dengan nama Aa’ Gym dengan Pondok Pesantren Daarut Tauhid nya di kawasan Geger Kalong Girang, Bandung Utara.

Bukan hanya itu kota sejuk ibukota provinsi Jawa Barat ini juga menyimpan pemandangan alam yang mempesona, wajar bila kemudian Bandung menjadi salah satu kota primadona penghuni Jakarta untuk menghabiskan waktu di ahir pekan. Salah satu kawasan yang menjadi tujuan pelancong di kota Bandung ini adalah kawasan Cihampelas dengan Ciwalk nya, tempat dimana berjejer para penjual jin made in Bandung. Tentu saja jin yang dimaksud adalah jenis pakaian, bukan jin mahluk tak kasat mata itu.

Tak jauh dari jalan Cihampelas ini berdiri megah sejak dari jaman feodal Belanda, Masjid Raya Cipaganti, di jalan Cipaganti. Jalan Cipaganti ini letaknya berjejeran dengan jalan Cihampelas, bagi anda yang berkunjung ke Cihampelas cukup berjalan kaki menuju masjid tua ini.

Lokasi Masjid Raya Cipaganti


Masjid Raya Cipaganti berada di Jalan Raden AA Wiranatakusumah (Jalan Cipaganti) No 85, Bandung, Indonesia. Nama Jalan Cipaganti kini menjadi Jalan AA Wiranatakusumah, di era penjajahan dulu jalan itu bernama Banana Street. Tidak sulit menemukan masjid ini karena letaknya tepat dipinggir jalan yang jadi jalur utama menuju Lembang, kawasan wisata di utara kota Bandung.

Dari kawasan belanja Cihampelas dapat dicapai hanya beberapa menit berjalan kaki melewati jalan sastra, masjid raya Cipaganti ini berada diposisi tusuk sate jalan sastra dan Jalan Cipaganti. Sedangkan untuk pengendara kendaraan bermotor dapat berputar di bawah jalan layang dan kemudian mengambil arah ke jalan Cipaganti. Kendaraan umum yang melewati masjid ini diantaranya angkot jurusan Ciroyom-Cicaheum, Kebon Kalapa-Ledeng, dan Margahayu Raya-Ledeng. Biasanya angkot-angkot tersebut juga “ngetem” didepan masjid untuk menaikkan penumpang.

Sejarah Masjid Raya Cipaganti, Bandung

Masjid Raya Cipaganti di tahun 1934 dengan latar belakang 
gunung Tangkuban Perahu (foto dari lecturer)
Masjid Raya Cipaganti Bandung, Dirancang oleh arsitek Belanda Prof Charles Prosper Wolff Schoemaker dibantu oleh Het Keramische Laboratorium Bandung. Het Keramische Laboratorium Bandung merupakan institusi pemerintah Belanda untuk pengembangan keramik. Institusi ini kemudian dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia dan kini menjadi Balai Besar Keramik atau BBK. Sedangkan Profesor Schoemaker sendiri terkenal sebagai arsitek kondang Indonesia semasa penjajahan Belanda dengan hasil rancangannya yang masih eksis hingga kini adalah Hotel Preanger dan Villa Isola, Villa Isola kini menjadi kampus UPI (Universitas Pendidikan Indonesia dahulu dikenal dengan IKIP Bandung). Profesor Schoemaker juga merupakan guru dari Ir. Soekarno semasa kuliah di ITB (institut Teknologi Bandung).

Sebagaimana disebutkan dalam prasasti berbahasa sunda yang dipasang di tembok masjid, disebutkan bahwa Masjid Raya Cipaganti Bandung ini dibangun pada 11 Syawal 1351H atau 7 Januari 1933 dan diresmikan pada tanggal 11 Syawal 1352H atau 27 Januari 1934. Peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan oleh Bupati Bandung Raden Temenggung Hassan Soemadipradja bersama sama dengan Patih Bandung Raden Rc Wirijadinata dan Penghulu Bandung, Reden Hadji Abdoel Kadir.

papan nama Masjid Raya Cipaganti
Dibangun di tengah-tengah kawasan elit Een Westerns Enclave (Koloni pemukiman orang Barat) di kota Bandung pada masa itu, Di atas tanah seluas 2.025 meter persegi. Sumber pembiayaan pembangunan  masjid didapat antara lain dari bantuan Raden Temenggung Hasan Soemadipraja yang juga menjabat sebagai Bupati Bandung kala itu, Disamping itu, terkumpul pula sumbangan golongan bumiputera yang peduli terhadap keberadaan masjid tersebut. Masjid Raya Cipaganti merupakan salah satu tempat pembicaraan penting ketika Ir. Soekarno berada di Bandung tahun 1950-an dan juga pernah menjadi markas tentara PETA ( Pembela Tanah Air).

Pada era awal pendirian masjid, kondisi kawasan cipaganti dan Bandung utara belum seramai sekarang ini, sehingga keindahan panorama Bandung utara dan Gunung Tangkuban Perahu dapat terlihat dengan jelas dari Masjid Raya Cipaganti. Sebagaimana terekam dalam foto tua masjid tersebut. Sebagai satu-satunya masjid yang cukup representatif di zaman Belanda, letaknya yang persis di tepi jalan raya Cipaganti yang kala itu masih bernama Banana Street, membuat Jamaah yang datang tidak hanya dari lingkungan sekitar Cipaganti, tapi juga dari kawasan Dago, ITB (Institut Teknologi Bandung), dan wilayah Bandung lainnya.

Plakat Pembangunan Masjid
Tahun 1965, Masjid Raya Cipaganti diperluas untuk menampung jemaah yang semakin membludak, Masjid Raya Cipaganti yang awal nya hanya berukuran 19 x 15 meter diperluas ke bagian kiri dan kanan masjid masing masing masing seluas 19 X 15 meter. Tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya yang masih terawat dengan baik hingga kini.

Renovasi kembali dilakukan pada 2 Agustus 1979 hingga 31 agustus 1988 di masa pemerintahan Walikota Bandung dijabat oleh Ateng Wahyudi, renovasi tersebut mengubah bagian lantai bangunan asli yang tadinya berwarna merah, ditutup dengan warna putih untuk menyeragamkan warna dengan bangunan baru. Di bagian depan di buat dinding keramik yang memisahkan tempat imam dan makmum. Untuk membedakan antara bangunan asli dan bangunan baru diberikan pembatas. Di mana area bangunan lama dibuat 20 centimeter lebih tinggi dari lantai bangunan baru.

Arsitektur Masjid Raya Cipaganti Bandung

Bagian depan Masjid Raya 
Cipaganti (foto dari Mediaku)
Pada awal pembangunannya Masjid Raya Cipaganti Bandung ini tak seluas bangunan yang sekarang. Bangunan yang pertama didirikan adalah bangunan bagian tengah masjid tempat dimana mihrab dan gerbang utama masjid berada. Masjid dengan design dasar Arsitektur asli Indonesia dengan atap tajug atau berbentuk limas bersusun 3, dengan penutup atap menggunakan sirap. Empat sokoguru penyanggah atap dibagian tengah masjid, sebagaimana masjid masjid tua di pulau jawa yang dibangun mengikuti gaya arsitektur era kejayaan Majapahit, yang tak mengenal bangunan menara dan kubah bentuk bawang, dipadu sedikit sentuhan Eropa, karena sang arsitek Prof Charles Prosper Wolff Schoemaker memang orang Belanda.

Filosofi atap tajuk bersusun tiga, diasosiasikan sebagai jamaah yang bertumpuk-tumpuk memadati masjid untuk beribadah kepada Allah.  Selain itu atap bersusun tiga ini senantiasa di identikkan kepada 3 dasar kepribadian muslim yakni : Iman, Islam dan Ikhsan. Empat sokoguru masjid Cipaganti diukiran lafadz hamdallah dengan warna hijau toska, perpaduan warna hijau dan biru laut yang terlihat begitu indah. Langgam arsitektur Jawa lainnya terdapat pada detail ornamen seperti bunga maupun sulur-suluran yang tersebar ditiap ukiran.

Bagian depan Masjid Raya Cipaganti 
lengkap dengan hijab berukir dari bahan
kayu jati diletakkan pintu utama
(foto dari Mediaku)
Ciri khas arsitektur Eropa terlihat pada tata letak masjid yang ditempatkan pada posisi tusuk sate jalan Sastra di depan masjid membuat membuat tampakan masjid begitu anggun dipandang dari jalan sastra atau dari jalan Cihamplas, terlihat berbingkai pepohonan rindang. Mengingat posisi masjid yang terletak di pinggir jalan raya, maka dibagian dalam setelah pintu utama dipasang pembatas berelief motif bunga dari bahan kayu jati, berwarna hijau. Dijadikan hijab  untuk menghalangi pandangan dari luar masjid kepada jemaah di dalam masjid.  Hijab seperti ini banyak dijumpai pada bangunan bangunan bangunan Gereja dengan fungsi yang sama. Di dalam masjid masih terpasang lampu gantung bergaya Eropa klasik, yang menggayut di tengah langit-langit ruang utama tempat shalat.

Karena Masjid Raya Cipaganti tidak memiliki menara, maka pengeras suara di pasang pada bagian bawah kubah limas masjid. Meski tak terpasang di sebuah menara, suara azan dari Masjid Raya Cipaganti ini mampu mencapai kawasan sekitarnya termasuk kawasan Cihampelas. Oleh Dinas Pariwisata Kota Bandung masjid yang dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya yang harus di jaga kelestarian nya.

Aktivitas Masjid Raya Cipaganti

Sejarah Masjid Cipaganti menjadi salah satu alasan datangnya pengunjung dari luar kawasan Cipaganti termask dari luar negeri. Bahkan menurut pengurus masjid, pernah ada warga Belanda yang mengaku keturunan Profesor Schoemaker datang untuk memastikan keberadaan bangunan hasil karya nenek moyangnya ini. Uang pemeliharaan masjid dihasilkan dari swadaya dibantu infaq dari pengunjung

Lafazd Hamdallah di sokoguru 
Masjid Raya Cipaganti 
(foto dari Mediaku)
Karena letaknya yang ada di tepi jalan, masjid ini menjjadi cikal bakal penyebaran agama islam di kawasan Bandung Utara yang dimasa penjajahan Belanda diperuntukkan bagi orang orang Belanda dan sedikit saja orang pribumi. Jamaah masjid ini pada mulanya hanya masyarakat sekitar Cipaganti. Makin lama, banyak mahasiswa ITB berbondong-bondong beribadah disini (yang akhirnya memotivasi mahasiswa mendirikan Masjid Salman). Seiring berjalannya waktu, masyarakat dari berbagai wilayah lain turut menghidupkan suasana masjid ini.

Selain jadi tempat ibadah, banyak kegiatan yang dilakukan pengelola masjid seperti pengajian ibu-ibu, pembinaan rohani bagi remaja dan pendidikan untuk anak-anak. Banyaknya pengunjung, didukung oleh suasana masjid yang nyaman dan teduh, membuat masjid ini tidak pernah sepi dari kegiatan, apalagi di ahir pekan atau liburan. Acara acara semisal tabligh akbar, lomba-lomba seputar keislaman ataupun bazaar-bazaar yang menjual aneka macam barang. Selain masyarakat
Bandung, banyak  wisatawan dari luar kota yang singgah di masjid ini untuk sekedar, beristirahat dalam perjalanan, atau yang sengaja datang untuk berkunjung.

Masjid ini mempunyai fasilitas yang cukup memadai seperti toilet, tempat wudhu, tempat penitipan barang, toko yang menjual aneka barang, termasuk penyediaan sarung bagi laki-laki ataupun mukena bagi wanita. Di bulan Ramadhan suasana masjid ini  menjadi lebih meriah dengan kegiatan kegiatan dakwah, mulai dari pesantren ramadhan, Pekan studi Islam, bazaar dan sebagainya. Tak lupa juga masjid ini menyediakan buka puasa bagi para jemaah, tidak saja sajian ringan atau biasa disebut ta’jil tapi juga menyediakan makan malam lengkap bakda sholat magrib, berkat sokongan penuh dari warga sekitar masjid.

Foto foto Masjid Raya Cipaganti Bandung
Lampu antik dari era kolonial masjid berfungsi di Masjid Raya 
Cipaganti (foto dari Mediaku)
Jemaah di dalam Masjid Raya Cipaganti (foto dari flickr)
Mihrab Masjid Raya Cipaganti (foto dari Mediaku)
Masjid Raya Cipaganti (foto from flickr)
Masjid Raya Cipaganti (foto from flickr)
Masjid Raya Cipaganti dulu dan kini
Masjid Raya Cipaganti tampak depan dari jalan sastra 
(foto dari parasphoto)
Video Masjid Raya Cipaganti Bandung


Referensi

Referensi

Mediaku-Masjid Raya Cipaganti, Sumbangan Peradaban Islam di Bandung

Alhikmahonline- Masjid Raya Cipaganti, Bandung: Masjid Klasik di 'Banana Street'

 

1 komentar:

  1. waw artikel yang sangat menarik dan bermanfaat .
    saya senang membaca artikel anda karena selain artikelnya yang menarik tampilan halamannya juga bagus .
    Ditunggu postingan berikutnya yaa ....terima Kasih

    BalasHapus

Dilarang berkomentar berbau SARA