Thursday, October 14, 2010

Masjid Kobe (The Kobe Muslim Mosque), Jepang

Masjid Kobe (Kobe Muslim Mosque)
Bertahan dari Hempasan dua bencana besar

Masjid Kobe (神戸モスク), Kobe Muslim Mosque (神戸ムスリムモスク), Kobe-kaikyo-jiin atau Kobe-mosuku, i Jepang merupakan bangunan Masjid pertama yang berdiri di negeri sakura itu. Menjadi salah satu masjid yang bertahan terhadapi kehancuran dari dua bencana dasyat sepanjang sejarah. Hujan Bom tentara sekutu selama perang dunia kedua meluluhlantakkan kota Kobe, menyisakan bangunan Masjid Kobe sebagai satu satu nya bangunan yang masih tegar berdiri di area tersebut.

Peristiwa dasyat terjadi lagi untuk kedua kalinya tahun 1995. peristiwa yang terkenal dengan sebutan Great Hanshin earthquakeManakala gempa berkekuatan 7.3 pada skala richter mengguncang kota Kobe pukul 5:46:46 pagi waktu setempat tanggal 17 Januari 1995, meratakan 180-ribu bangunan, menelan korban ribuan jiwa, 35 ribu orang terluka parah sementara 300 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Tapi untuk kedua kalinya masjid Kobe menjadi satu satunya bangunan yang tersisa dan berdiri kokoh diantara puing puing kehancuran kota Kobe dan menjadi tempat perlindungan sementara bagi mereka yang selamat.


Alamat Masjid Kobe

THE KOBE MUSLIM MOSQUE
2-25-14, Nakayamate Dori, Chuo-ku, Kobe 650-0004, Japan
Tel: 078-231-6060, Fax: 078-231-6061

E-mail : kobe_muslim_mosque@hotmail.com
Situs Resmi : www.kobemosque.org

Masjid Kobe dibalik Sakura
Sejarah Muslim Kobe

Nama Kobe dalam Bahasa Jepang bermakna Gerbang Tuhan, dengan nama itu menjadi wajar bila sejarah mencatat bahwa masjid pertama yang berdiri di Jepang adalah masjid Kobe. Sejarah masjid Kobe tak terlepaskan dari peran keluarga Kirky, keluarga migran yang berasal dari wilayah berbahasa Turki di daerah Tatar, asia tengah dan Rusia, serta komunitas muslim pertama di Kota Kobe. Keluarga tersebut pindah ke Jepang dan meminta suaka politik disana akibat Revolusi Bolshevik selama perang dunia pertama (1914-1918). Pemerintahahan komunis pimpinan Stalin yang anti agama dengan tentara merahnya memberikan tekanan luar biasa kepada ummat islam disana kala itu.

Farid Kirky lahir di Nagoya tahun 1926, tempat tinggal pertama keluarga Kirky di Jepang tahun 1922. hidup ditengah komunitas kecil bersama 13 keluarga membentuk sebuah sekolah kecil disana. Tak lama disana Hussein Kirky, ayah dari Farid Kirky memutuskan untuk bergabung dengan 200 orang tatar yang biasa berbahasa Turki di Kobe. Disana mereka membentuk Turkish Tatar Accotiation di Kobe.

Penduduk muslim pertama di Kobe ini adalah para pedagang. Pada mulanya saat komunitas mereka masih sedikit, untuk melaksanakan sholat berjamaah mereka lakukan dari rumah ke rumah. Baru kemudian di tahun 1920-an ketika banyak orang orang kaya India datang kesana, mereka membentuk Kobe Indian Club yang menjadi tempat bagi mereka melaksanakan sholat berjamaah. Sedangkan untuk sholat berjamaah di hari hari besar mereka menyewa aula di Hotel Tor.

Dipertengahan tahun 1920-an diantara mereka ada komunitas warga asing terkemuka dari kalangan pengusaha India, Muslim dan Hindu yang meraih sukses menjalankan bisnis skala besar di Kobe, kebanyakan di bidang tekstil. Sedangkan anggota komunitas muslim lain nya merupakan muslim Arab, termasuk Musa, staff dari kedutaan Mesir yang berprofesi sebagai tukang potong hewan. Beliau memiliki sebuah toko di lokasi berhadap hadapan dengan masjid kobe saat ini. Pak Musa inilah yang kemudian menjadi pemasok daging daging halal kepada komunitas muslim disana. Kala itu dia melakukan pemotongan hewan di tokonya, termasuk untuk hewan kurban. Kegiatan tersebut kemudian dilarang oleh pemerintah dan semua proses pemotongan hewan harus dilaksanakan di rumah potong hewan. Sebagai gantinya komunitas muslim yang hendak berkurban mengirimkan dana sebesar biaya kurban ke Negara Negara muslim yang membutuhkan. Selama di Jepang Pak Musa ini tidak menikah dan kemudian kembali ke mesir setelah perang dunia kedua usai.

Sejarah Berdirinya Masjid Kobe

Mr. Ferozuddin, Ketua 
Komite Masjid Kobe 
pertama
Kebutuhan akan perlunya sebuah masjid bagi komunitas muslim di Kobe mulai terasa di penghujung tahun 1920-an ketika ummat Islam disana sudah makin bertambah. Saat itu diputuskankah untuk membangun sebuah masjid. Tahun 1928 dibentuklah Komite Masjid Kobe. Beberapa muslim India dan pengusaha timur tengah dari Mesir dan Saudi Arabia yang secara rutin melakukan perjalanan ke luar negeri, memutuskan untuk membantu meminta donasi dari kaum muslimin yang berada dimanapun yang mereka temui untuk turut menyumbang bagi pembangunan masjid dimaksud.

Butuh waktu 5 sampai 6 tahun untuk mendapatkan dana yang cukup. Dan ahirnya Ketua Komite Masjid, Ferozuddin, Pengusaha Kaya India mendonasikan sejumlah besar uang senilai 66 ribu Yen, sebuah angka yang sangat besar kala itu. Lahan yang cocok untuk pendirian masjid pun dibeli di hari Jum,at tanggal 30 November 1934. peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan oleh Muhammad Bochia, orang yang paling bertanggung jawab atas inisiasi dan memandu terlaksananya proyek tersebut. Masjid Kobe dirancang oleh Arsitek dari Republik Czech, Jan Josef Švagr (1885 Czech – 1969) dengan gaya traditional Turki.
Mr. MA Bochia
Inisiator Masjid Kobe

Pekerjaan pembangunan masjid dilaksanakan oleh perusahaan Jepang Takenaka Construction Company selama satu tahun, dibawah pengawasan secara ketat oleh Vallynoor Mohamed. Dan pada hari Jum’at 2 Agustus 1935 masjid tersebut secara resmi di buka oleh ketua Komite Masjid, Ferozuddin disaksikan oleh sejumlah besar jemaah muslim pria dan wanita dari berbagai bangsa termasuk India, Russia, Mansuria, Cina, Turkistan, Jawa, Jepang, Mesir dan Afghanistan. Setelah menyampaikan sambutan singkat, Ketua Komite Masjid Kobe, Ferozuddin membuka masjid dengan kunci perak dan langsung menuju menara masjid guna mengumandangkan azan untuk sholat Jum’at. Bertindak sebagai imam pada sholat pertama di masjid Kobe tersebut adalah Imam Pertama Masjid Kobe Imam Mohamed Shamguni.

Karena saat itu masih di musim panas, Komite Masjid Kobe memutuskan untuk melakukan perayaan di tanggal 11 Oktober 1935, dengan mengundang pejabat pejabat pemerintah dan pimpinan komunitas agama lain yang ada di Kobe saat itu untuk mengunjungi masjid Kobe. Perayaan dihadiri sekitar 600 undangan, acara perayaan hari itu kemudian dilanjutkan di Hotel Tor.

Imam Muhammed 
Shamguni Imam pertama
Masjid Kobe
Walikota Kobe saat itu, Ginjira Katsuda, dalam sambutannya menyampaikan pesan kepada komunitas muslim Kobe dalam kesempatan itu bahwa dia turut berbahagia bersama kaum muslimin Kobe dan berharap masjid yang baru diresmikan itu akan menjadi salah satu instrumen bagi mempromosikan persahabatan antar suku bangsa.

Karena saat itu Islam bukanlah agama yang diakui oleh pemerintah Jepang, maka akte kepemilikan masjid tersebut tidak dapat didaftarkan dengan nama masjid, tapi harus di daftarkan atas nama pribadi yang dianggap sebagai pemilik, dan Ferozudin yang sudah menyumbang begitu banyak bagi pendirian masjid tersebutlah yang kemudian mengambil tanggung jawab untuk mendaftarkan akte masjid Kobe, dengan nama nya. Dan menjadi salah satu tugas pertama komunitas muslim Kobe kala itu adalah memperjuangkan Islam agar diakui oleh pemerintah Jepang sebagai agama resmi sehingga ummat Islam juga dapat menikmati keistimewaan sebagaimana pemeluk agama lain nya di Jepang.

Pekerjaan konstruksi masjid menghabiskan dana 118.774,73 Yen. Sebagian besar dana tersebut adalah sumbangan para pengusaha dari perusahaan di India dan juga termasuk sumbangan dari Konsulat Mesir dan Afganistan, serta Turko-Tatar Association. Sedangkan pembangunan gedung, sekolah, pagar, furnitur, dan lain lain nya menghabiskan dana 87.302,25 Yen.

Dan Komite Masjid secara bijaksana memutuskan untuk menginvestasikan sisa dana di bidang real estate. Komite Masjid membeli 3 properti sekaligus, properti terkecil yang dibeli adalah properti di Yamato-dori yang kini menjadi lahan parkir. Lalu sebuah gedung yang kemudian menjadi sekolah, tempat dimana Farid Kirky Kecil menjalani masa sekolahnya. Serta properti terbesar yang dibeli adalah gedung berlantai 5 bergaya eropa di 160 tsubo plot di Kitano-cho, dibeli dari orang Jerman yang bermukim di Kobe. 

Bigilitzi, salah satu orang Turko-Tartar, naik menjadi ketua komite masjid Kobe di tahun 1938, pindah ke lantai dua Kitano property bersama keluarganya. Keluarga Kirky juga pindah ke bangunan tersebut menempati lantai dasar. Itu terjadi menjelang meletusnya perang dunia kedua, dan komunitas muslim Kobe saat itu sedang berkembang dengan baik, sebagian besar terdiri dari orang orang India dan Turkish Tartars serta beberapa orang Arab,. Selama bulan Ramadhan, Iftar jama’i dilaksanakan di lantai dasar masjid setiap hari, dan hari raya idul fitri menjadi peringatan yang benar benar semarak.

Masjid Kobe dengan Nama nya dalam
aksara Jepang
Meja meja makan di atur dilantai dasar dan setiap keluarga berkontribusi dengan membawa makanan untuk jemaah setempat dan jemaah yang kebetulan singgah ke masjid tersebut saat buka puasa, atau saat idul fitri diajak turut serta berbuka dan merayakan idul fitri bersama sama. Komunitas Tatar kala itu sangat dekat satu dengan yang lain nya, di hari raya idul fitri mereka saling kunjung mengunjungi satu sama lain nya.

Kala itu yang bertindak sebagai muazin adalah Ahmedy Muhammad, orang Turki yang tiba di Jepang tahun 1920-an. Beliau tinggal di masjid dan sangat tegas menegakkan disiplin masjid. Di era 1980-1990-an di kondisi tubuhnya yang sudah renta dimakan usia, beliau masih sanggup naik ke menara masjid untuk mengumandangkan azan. Sampai kemudian aktivitas tersebut di tentang oleh warga non muslim sekitar lokasi karena dianggap mengganggu ketentraman, aktivitas tersebut dihentikan. Azan kemudian hanya diperdengarkan di dalam masjid menggunakan speaker dengan volume rendah. Ahmedy Muhammady dikarunia berkah umur yang panjang, beliau wafat di usia 102 tahun.

Imam pertama masjid Kobe Imam Shamguni wafat di tahun 1938, dan Hussein Kirky secara alamiah memegang tanggup jawab itu sebagai imam kehormatan sampai imam pengganti tiba di Kobe. Namun ternyata imam yang dinanti tak kunjung datang, Hussein Kirky menjalankan kewajiban itu selama 40 tahun.

Tahun 1939 pecah perang dunia kedua, setelah penyerangan Pearl Harbor, jepang pun terlibat dalam perang. Komunitas India di kobe kemudian di evakuasi, kebanyakan orang Tatar pun demikian. Bom pertama Amerika dijatuhkan di Tokyo dan Yokohama lalu pelabuhan laut Akashi, pelan tapi pasti dentuman Bom mulai terdengar di Kota Kobe. Dan komunitas muslim yang tersisa mulai bersiap untuk menghadapi perang serta berupaya menyelamatkan masjid.

Guna mencegah kebakaran serta melindungi lantai masjid yang dibuat dari kayu yang begitu indah dari kemungkinan efek ledakan bom, jemaah menutupi permukaan lantai menggunakan kertas minyak dan tatami bekas, kemudian di taburi dengan pasir. Selama perang, komunitas muslim Kobe yang masih tersisa disana tidak dapat melakukan sholat di masjid tersebut.

Masjid Kobe Masih berdiri kokoh
diantara puing puing kota Kobe
Paska Perang Dunia Ke Dua.
Tahun 1943 masjid kobe di ambil alih oleh pasukan angkatan laut Jepang yang sedang membutuhkan gudang penyimpanan bagi persenjataan khusus mereka. Kendatipun tak satupun dari anggota komite masjid yang tahu jenis senjata apa yang akan disimpan disana, mereka tak punya pilihan selain menyetujui hal tersebut. Masjid Kobe sama sekali tak bisa digunakan untuk kegiatan ibadah, masjid dijaga oleh puluhan tentara Jepang bersenjata lengkap hingga perang usai.

Ketika perang berahir, menyisakan kota Kobe yang luluh lantak dihajar ledakan bom dan mortir tentara sekutu. Hampir seluruh kota hancur lebur, tak ada bangunan yang tersisa di sekitar area masjid. Tapi diantara reruntuhan dan puing itu masjid Kobe masih berdiri kokoh di lokasinya, di kelilingi tumpukan puing dan reruntuhan gedung dan bengunan disekitarnya.

Foto dari sudut yang lain memperlihatkan masjid Kobe
diantara reruntuhan Kota Kobe Juni-1945
Salah satu orang Jepang asli yang mengunjungi masjid, suatu hari memberikan foto kenangan koleksi foto milik mendiang kakeknya, foto yang menjadi saksi dan memperlihatkan kondisi kota Kobe yang luluh lantak seusai perang dunia kedua menyisakan Masjid Kobe yang masih berdiri. Foto itu diabadikan oleh mendiang kakeknya dari puncak Gunung Rokko di tahun 1945. Selama hujan bom menghajar kota kobe lantai basemen masjid itu menjadi sorga perlindungan ter-aman bagi terntara Jepang di wilayah tersebut.

Di tahun 1947, ketika perang sudah berahir. Muslim kobe yang mengungsi mulai kembali ke Kobe secara  bertahap. Muslim tatar membengkak hingga 360KK. Termasuk para pebisnis India dan keluarganya, menemukan rumah mereka yang sudah hancur tak bersisa.

Masjid kobe dikembalikan ke komunitas muslim. Hanya karena rahmat Allah semata yang membuat masjid itu masih berdiri dan selamat dari terjangan bom tentara sekutu. Beberapa bagian dinding luar masjid retak dan menghitam oleh kepulan asap. Semua jendela lumer oleh hawa panas ledakan bom. Gedung sekolah yang terbuat dari kayu berikut kamar mandi di samping masjid sama sekali tak bersisa.

Perang juga meluluhlantakkan kantor perusahaan pembangun masjid Kobe, hingga tak sepotongpun blue print masjid yang tersisa. Akibatnya ketika beberapa tahun setelah itu peruhahaan tersebut cukup kesulitan untuk membuat estimasi biaya perluasan dan perbaikan masjid akibat ketiadaan catatan apapun terkait pembangunan masjid tersebut.

Negara kaya minyak Saudi Arabia dan Kuwait kemudian dimintain tolong, dan kuwait segera mengucurkan dana 2000 pund sterling yang kemudian digunakan untuk merestorasi bangunan masjid. Kaca untuk jendela baru di import langsung dari Jerman. Abdul Hadi Debbs, tokoh terkemuka anggota Komite masjdi yang juga seorang pengusaha kaya yang telah datang ke Jepang sejak tahun 1935 tak lama setelah masjid selesai dibangun, turut menyumbang dana untuk restorasi, sedangkan Al-Bakir menyumbang sebuah Candelier dan membiayai instalasi air conditioner untuk masjid tersebut.

Bangunan pendukung disamping
Masjid Kobe
Sekolah Islam yang telah hancur disamping masjid karena ledakan bom kemudian dirasa perlu untuk dibangun kembali ketika komunitas muslim sudah semakin bertambah, bagi pendidikan anak anak mereka. Pengumpulan dana dikalangan jemaah mulai dilakukan untuk keperluan dimaksud. Setelah 3 tahun, komunitas Turki disana berhasil mengumpulkan 1,3 juta yen, cukup untuk membeli sepetaklahan di samping masjid. Di lokasi 150 tsubo plot, yang kini menjadi lahan parkir. Sebelumnya adalah rumah orang asing yang hancur karena perang. Sekolah Islam kemudian dibangun di lahan tersebut. Dilengkapi dengan aula yang luas, bangunan kecil untuk toilet dan tempat wudhu didirikan di belakang masjid. Beberapa wanita dari Komunitas Turki mengajar di sekolah itu termasuk saudari dari Farid Kirky. Serta putra dan putri farid Kirky belajar bahasa Turki dan Bahasa Arab di tempat tersebut.

Mimbar, Mihrab dan Candilier di 
Masjid Kobe
Komunitas muslim di Kobe semakin bertambah dan mereka mulai membutuhkan pemakaman umum yang lebih luas. Sebelumnya pemakaman umum untuk orang asing berada di Gunung Rokko, pemakaman muslim pertama berada di sisi gunung sekitar 1 KM dari Stasiun Shin Kobe disebelah Kuil di jalan Kasogono. Ibunda dari Farid Kirkky, Zahra Husein Kirky dimakamkan disana. Dan ketika pemakaman umum untuk orang asing sudah siap, seluruh makam kaum muslimin yang ada di gunung Rokko sekitar 50 atau 60 makam kemudian dipindahkan kesana.

Imam Hussein Kirky mengawasi secara langsung proses pemindahan tersebut yang memakan waktu sampai beberapa bulan. Dia begitu hati hati dan penuh rasa hormat mengurus pemindahan kerangka jenazah para pendahulunya itu ke lokasi pemakaman yang baru. Lokasi pemakaman baru tersebut berada di lereng bukut dibawah lokasi pemakaman sebelumnya.

Tempat Wudhu Masjid Kobe
Farid Kilky putra dari Imam Hussein Kirky, sangat dihormati di komunitasnya baik oleh sesama muslim ataupun oleh non muslim dan orang jepang asli dan orang asing sekalipun. Dia pernah menjalankan bisnis franchise dengan menjadi agen Ford motor cars, bahkan sempat bertemu langsung dengan Henry Ford beberapa kali. Karena Henry ford kesulitan untuk mengingat namanya beberapa kali henry ford memanggil beliau dengan sebutan Turki.

Menteri perdangan dan industri Jepang kemudian memiliki tugas untuk membangun kembali ekonomi Jepang yang hancur lebur membantu perusahaan perusahaan dagang untuk bertahan kemudian menjadi besar, dan di tahun 1950-an mulai mengambil alih perdagangan export. Sayangnya perusahaan kecil tak mampu bertahan.  Bisnis pengusaha muslim mulai menurun, banyak dari orang Tartar kemudian pinsah ke ke Turki, Amerika dan Australia. Tetangga Keluarga Kirky, Bigilitzi yang sudah menjadi Ketua kedua dari Komite Masjid Kobe hingga tahun 1960-an kemudian memutuskan untuk pindah dari Jepang.

Dengan sendirinya gedung berlantai lima di Kitano House menjadi telalu besar hanya untuk satu keluarga Kirky saja. Itu sebab nya kemudian keluarga kirky pindah dari sana dan menyewa sebuah rumah kecil. Ketika Bigilitzi pindah, maka Enver Starkow, juga orang Tartar yang merupakan sekretaris dari komite masjid sejak awal dipromosikan menjadi ketua komite masjid, sedangkan Farid Kirky menjadi anggota komite masjid di tahun tersebut.

Salah satu ruang di Masjid Kobe
Segera setelah itu tersisa beberapa keluarga saja di Kobe. Termasuk keluarga Kirky yang kemudian malah menjadi korban ekspansi perusahaan milik orang jepang asli. Dan terpaksa menjual perusahaan franchise Ford nya ke perusahaan Jepang Kintetsu Company. dan dia melanjutkan bisnis galangan kapal miliknya yang mempekerjakan sekitar 200 pekerja.

Ketika anggota komunitas semakin menurun, begitu juga dengan murid murid di sekolah islam masjid Kobe, ditambah dengan kurangnya dana, membuat segala nya dibuat semurah mungkin, kemudian di sewakan untuk pergudangannamun kemudian bangunan tersebut sudah terlalu rapuh sampai kemudian diruntuhkan dan lahannya diserahkan ke masjid Kobe untuk lahan parkir.

Starkow, Ketua Komite masjid Kobe, Wafat di tahun 1978. dan Farid Kirky yang sudah menjadi anggota senior di dalam Komite Masjid naik menjadi Ketua. Tahun 1987 Imam Husein Kirky (ayahanda dari Farid Kirky) mulai sakit sakitan di usia 84. beliau di diagnosa mengidap kanker paru paru, setelah menjalani serangkaian operasi beliau wafat di tahun 1986. dan dimakamkan di areal muslim pemakaman orang asing di gunung Rokko.

Saat itu dua orang Muslim Philiphina lulusan universitas Al-Azhar, Kairo di utus ke Kobe atas biaya dari Pemerintah Libya. Mereka adalah Mahid Mutilan dan Yahya mereka ditugasi sebagai Da’i di kota Kobe. Mahid Mutilan yang lebih senior memegang tanggung jawab sebagai Imam sedangkan Yahya mengambil tanggung jawab sebagai Muazin, mengajar bahasa arab dan Allqur’an di sekolah milik masjid.

Di ahir 1980-an gedung kitano kosong melompong, sementara pajak nya semakin tinggi. Komite masjid memutuskan untuk menyewakan gedung tersebut sebagai asrama kepada Kobe Women's College yang bersebelahan dengan masjid. Selama 2-3 tahun penyewaan dilaksanakan sampai kemudian dinas pemadam kebakaran menyatakan bahwa gedung tersebut tidak aman lagi mengingat kondisinya yang sudah tua banyak pintu yang macet. Kala itu pemerintah belum memberikan subsidi bagi perbaikan fasilitas pribadi. Biaya untuk perbaikan terlalu tinggi, sekali lagi gedung tersebut dibiarkan kosong. Sementara pajaknya semakin tinggi. Di ahir 1980-an komite masjid memutuskan untuk meruntuhkan gedung tersebut.

Mendengar bahwa gedung tersebut akan diruntuhkan dewan kota Kobe meminta Komite masjid untuk menyumbangkannya ke warga kota karena keunikan serta design nya yang bersejarah. Komite setuju dan gedung itupun dipindahkan bagian perbagian menelan biaya hingga 25 juta Yen ke Sorakoen, taman kota seluas lebih dari 10 ribu Tsubo (1 Tsubo = 3,30 meter persegi) milik Walikota Kobe sebelumnya. Setelah lebih dari 100 tahun bangunan itu kini masih berdiri megah di Sorakoen setelah direstorasi ke kemegahannya yang asli.

Mahid Mutilan yang berasal dari Philippina kembali ke negara asalnya di tahun 1988, kemudian membangun sekolah Islam disana. Dan kemudian menjadi gubernur di provinsi Mindanao . Rekannya yang lebih muda, Yahya menempati posisi sebagai imam sementara. Komite Masjid menerima tawaran bantuan imam dari Al-Azhar Kairo yang akan mengirimkan Imam dari Kairo, kemudian Al-Azhar mengirimkan Imam Muhammad tiba di Kobe sekitar tahun 1993.

Farid Kirky dan Imam 
Mohsen di makam Imam
M. Shamguni, imam 
pertama Masjid Kobe.
Lahan di kitano yang sudah diratakan terbengkalai selama 10-15 tahun karena komite masjid tidak memiliki dana cukup untuk mengelolanya. Sementara pajaknya semakin tinggi dan menjadi beban tersendiri bagi masjid. 

Komite masjid membuat kesepakatan dengan pemerintah kota, pemerintah kota setuju untuk menggunakan lahan tersebut sebagai arena bermain bagi anak anak selama masjid tak menggunakan nya dan masjid pun dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Taman bermain itu eksis selama beberapa tahun.

Masih di erah 1990-an Farid Kirky yang sudah sepuh menyerahkan tampuk pimpinan Komite Masjid kepada anggota komite yang lain Fouad Debbs pengusaha kaya pemilik beberapa properti di pusat kota Kobe dan putra dari Abdul Hadi Debbs yang turut menyumbang perbaikan masjid paska perang dunia ke dua.

Tahun 1992 Komite masjid berencana membangun gedung tambahan di sekitar masjid, dan Fouad Debbs menyumbang hingga 50 Juta Yen untuk biaya konstruksi. Dan bangunan Kobe Mosque Cultural Center yang menjadi tempat fasilitas pencucian, ruang kelas, kantor dan perpustakaan serta apartemen selesai dibangun dengan total biaya 100 juta Yen.

17 Januari 1995, pukul 5:46:46 pagi waktu setempat, Kobe di guncang gempa 7.3 skala richter. Gempa dasyat selama 20 detik itu menghancurkan seisi kota Kobe. Sekitar 5000 jiwa tewas, 35 ribu luka parah, merusak lebih dari 180 ribu bangunan sementara 300 ribu jiwa kehilangan tempat tinggal. Tapi sekali lagi Allah melindungi Masjid Kobe. Ketika gempa behenti, masjid Kobe masih berdiri kokoh ditempatnya diantara puing puing kehancuran bangunan disekitarnya. Masjid Kobe menjulang sendirian di pusat kota Kobe diantara bangunan bangunan lain yang hancur lebur. Masjid Kobe kemudian menjadi pusat perlindungan sementara  bagi para korban gempa.

Untuk menutup pengeluaran masjid, ketua komite masjid, Fouad Debbs memiliki jurus jitu. Bersama anggota komite lain beliau menyewakan lahan masjid kepada perusahaan spesialis parkir otomatis, yang sudah teruji kehandalannya menangani lahan perparkiran milik beliau pribadi di kota Kobe. Keputusan ini ternyata mampu memberikan penghasilan kepada masjid sebesar 550 ribu Yen perbulan, sangat berharga untuk menutupi pengeluaran masjid.

Masalah baru muncul ketika Farid Kirky, sedang mengurus balik nama lahan parkir milik masjid untuk mengubah nama di akte lahan tersebut ke nama masjid. Beliau baru menyadari bahwa akta masjid tersebut masih atas nama Ferozuddin (imam pertama Masjid Kobe) yang sudah lama tidak tinggal di Jepang tanpa ada satupun perwalian nya diantara anggota komite masjid. Tak terbayangkan bahwa bangunan masjid tersebut tidaklah benar benar milik masjid karena terdaftar atas  nama pribadi Ferozuddin.

Masjid Kobe diantara deretan bangunan lain
Proses balik nama masjid tersebut ternyata menjadi hal yang mustahil tanpa persetujuan dari Ferozuddin, yang secara hukum adalah pemilik syah dari bangunan masjid tersebut. Komite Masjid Kobe mencoba menghubungi pihak keluarganya namun tak berhasil mengundangnya datang ke Jepang. Penasehat hukum masjid yang kemudian menyarankan untuk menggunakan pengacara luar negeri guna bernegosiasi dengan Ferozudin. Ferozudin ahirnya setuju untuk mengganti nama di akte ke nama masjid dengan satu syarat, agar putranya dimasukkan ke dalam susunan komite masjid meskipun dia tidak tinggal di Jepang. dan masalahpun selesai.

Ketika kontrak Imam Muhammad dengan Al-Azhar telah berahir, beliau memutuskan untuk menetap di Jepang, karena beliau telah menikah dengan wanita muslim Jepang. dan ingin melanjutkan pengabdiannya di masjid Kobe. Beliau dibantu oleh beberapa orang kaya di kawasan Teluk yang melanjutkan membayar gajinya meski tak lagi menerima tunjangan gaji dari Al-Azhar. Dalam kondisi sakit, beliau masih menjalankan tugasnya sebagai imam sampai kemudian kondisi beliau benar benar parah. Beliau di diagnosa terkena kangker tenggorokan, di rujuk untuk dirawat di Rumah sakit umum Kobe. Disana beliau ditemani istrinya dan senantiasa dikunjungi oleh para jemaah nya. Tondisi beliau tak membaik, dan beliau berkeinginan untuk bertemu dengan saudara maranya di Mesir. Dan beliaupun diberangkatkan ke Mesir, Namun takdir telah menuliskan bahwa  beliau harus wafat dan dimakamkan di tanah kelahirannya sendiri.

Imam Mohsen Shaker
Al-Bayoumi
Universitas Al-Azhar mengirimkan Imam Mohsen Shaker al-Bayoumi dari Mesir sebagai pengganti imam Muhammad, ke Kobe. Dan tiba disana di bulan Januari 2000. setahun sendirian di Jepang kemudian beliau ditemani Istri dan anak nya dan tinggal di masjid. Ketika kontrak kerjanya dengan Al-Azhar berahir, beliau diminta oleh komunitas dan komite masjid untuk tetap tinggal di Jepang menjadi guru bagi masyarakat muslim disana. Beliau setuju untuk tetap tinggal di Jepang dengan Gaji dari Komite Masjid.

Yahya, tetap tinggal di Jepang sebagai muazin masjid Kobe, merangkap sebagai guru dan imam sementara bekerja atas nama pemerintah Libya sampai beliau masuk usia pensiun di tahun 2002. Di masa pensiun beliau kembali ke Philipina dan mendirikan masjid serta pesantren dan melanjutkan kegiatannya mengajar disana.

Pengeluaran masjid terus bertambah dan usia masjid yang sudah semakin tua membutuhkan dana lebih untuk perbaikan dan perawatan nya. Ditambah lagi dengan pajak yang terus melambung. Tahun 2004 Fouad Debbs selaku ketua Komite Masjid Kobe, membangun sebuah apartemen kecil di area masjid dengan uang nya sendiri untuk disewakan dan seluruh uang sewa yang di peroleh masuk ke dalam kas masjid. Dana tersebut sangat membantu perawatan dan perbaikan masjid yang ketika itu sudah memasuki usia 70 tahun sejak didirikan tahun 1935. Fouad Debbs wafat karena sakit di usia tuanya tahun 2005, saat  beliau mengunjungi karib kerabatnya di Lebanon, dan dimakamkan disana.

Sepeninggal Fouad Debbs Yusuf Badhelia, seorang saudagar kaya dari keluarga India menjadi ketua Komite Masjid Kobe, sedangkan putra dari Fouad Debbs yang bernama Soubhi Debbs melanjutkan apa yang telah dirintis ayahnya dengan menjadi anggota Komite Masjid Kobe Hingga hari ini.

Farid Kirky mengabdi di masjid Kobe sebagai anggota Komite Masjid selama 45 tahun, setelah menjabat sebagau Ketua Komite masjid di tahun 1970-an, kemudian mengundurkan diri karena usia. Namun kharismanya tetap berpengaruh terhadap komite masjid dan memberi inspirasi kepada komunitasnya. Beliau benar benar menjadi Duta bagi Islam di Jepang, beberapa mengisi acara interview di televisi dan koran lokal tentang sejarah komunitas muslim disana.

Kegiatan Masjid Kobe

Kaum muslimin dapat menghubungi masjid Kobe untuk berkonsultasi masalah Zakat, Pernikahan, pemakaman, serta nasihat nasihat terkait dengan masalah Islam. selain tersedia sekolah Islam untuk anak anak, teredia juga kelas khusus untuk orang dewasa.

Pengurus Masjid Kobe dari masa ke masa

Ketua Komite Masjid Kobe
·         Ferozuddin, India (1928 – 1938) tahun 1938 pindah dari Jepang
·         Bigilitzi, Turko – Tatar (1938 – 1960) tahun 1960 pindah dari Jepang
·         Enver Starkow, Turko-Tatar (1960- 1978) Wafat tahun 1978
·         Farid Kirky, Turko – Tatar (1978 – 1990) tahun 1990 mengundurkan diri
·         Fouad Debs, Lebanon (1990 – 2005) wafat tahun 2005 di Lebanon
·         Yusuf Badhelia, India (2005 – Sekarang)

Imam Masjid Kobe

·         Imam Mohamed Shamguni (1935 – 1938) wafat di tahun 1938

·         Imam Hussein Kirky, Ayah dari Farid Kirky (1938–1984) wafat tahun 1984

·         Imam Mahid Mutilan (1984 – 1988) orang Philipina, bekerja atas nama pemerintah Libya, kembali ke Philipina tahun 1988
·         Imam Yahya, imam sementara dari Philipina bekerja atas nama pemerintah Libya (1988 - 1993)
·         Imam Muhammad, dari Mesir (1993 - 2000) Wafat di tahun 2000
·         Imam Mohsen Shaker al-Bayoumi, dari Mesir (2000 – 2010)

Muazin Masjid Kobe
·         Ahmedy Mohammady, Turki (1935 – 1993) wafat di tahun 1993
·         Yahya, dari Philipina (1993 – 2002) tahun 2002 kembali ke Philipina.

Khutbah Jum'at di ahir masa
tugas Imam Mohsen di 
Masjdi Kobe
Pada hari Jum’at 16 April 2010, Imam Mohsen Shaker al-Bayoumi menyampaikan khutbah perpisahan kepada jamaah Masjid Kobe. Masa tugas beliau di Masjid Kobe sudah berahir dan beliau akan menjalani tugas baru nya sebagai imam di Masjid Osaka. Setelah bertugas selama 10 tahun di masjid Kobe, beliau begitu dicintai oleh jemaah dan komunitas Kobe. Namun beliau dan istrinya yang sudah sekian lama tinggal di Kobe tetap melanjutkan kegiatan dakwah nya di Kobe dari rumah mereka di Kobe dan sekolah islam untuk anak anak yang beliau dirikan disana.

Video terkait Masjid Kobe, Jepang dari Youtube


Foto Foto Masjid Kobe






Referensi


--------------------------ooOOO----------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA