Tuesday, August 17, 2010

Masjid Agung Keraton Buton

Masjid Agung Keraton Buton Dengan Tiang Tiang Bendera Keraton Kesultanan Buton 

Masjid Agung Keraton Buton terletak di dalam Lingkungan Benteng Kesultanan Buton, Benteng tua terluas di dunia menurut catatan rekor MURI. Masjid ini dibangun berbentuk empat persegi panjang berukuran 20,6 x 19,40 m dengan atap berjumlah dua lapis berbentuk limas. Masjid terdiri dari tiga lantai, mengikuti struktur bangunan rumah panggung yang menjadi ciri khas rumah adat masyarakat Sulawesi Tenggara. Bahan yang digunakan untuk membangun masjid itu sama dengan bahan untuk benteng keraton.

Lantai satu yang lebih luas sebagai ruang shalat, sementara lantai dua yang lebih kecil berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan. Di atas bangunan lantai dua itu duduk bangunan empat persegi yang lebih kecil dan merupakan puncak kerucut dari keseluruhan bangunan Masjid Agung. Puncak kerucut itu adalah kubah bagi umumnya model masjid di Tanai Air.

Masjid Agung Keraton Buton Dengan Jangkar Kapal VOC yang karam di Buton di latar depan dan di belakang adalah Tiang Tiang Bendera Keraton Kesultanan Buton

Struktur bangunan masjid yang belum pernah diganti sejak didirikan adalah fondasi dan bangunan dinding yang bahannya menggunakan batuan kapur dengan spesimen pasir dan kapur. Ukuran masjid juga masih tetap seperti aslinya, 20,6 meter x 19,4 meter. Masjid Agung Keraton Buton merupakan salah satu dari sembilan Masjid kuno di Indonesia dan telah ditetapkan oleh pemerintah RI sebagai benda cagar budaya atau situs cagar budaya berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No : KM.8/PW.007/MKP.03 Tanggal 04 Maret 2003

Lokasi

Masjid Agung Keraton Buton terletak di komplek Keraton Kesultanan Buton yang dikenal dengan sebutan Keraton Wolio di dalam tembok Benteng Kesultanan Buton. Masuk dalam wilayah Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Dapat dicapat dari dari Kota Kendari ke Bau-Bau menggunakan pesawat perintis selama 1 jam penerbangan atau kapal laut selama 4 jam pelayaran.


Sejarah

Masjid Agung Keraton Buton pertama kali didirikan pada tahun 1538 M. Tidak lama berselang, masjid ini terbakar akibat perang saudara yang terjadi di Kesultanan Buton dalam perebutan kekuasaan. Pembangunan masjid tersebut baru dimulai lagi pada tahun 1712 M dengan lokasi yang tidak begitu jauh dari tempat semula pada masa pemerintahan Sultan Zakiyuddin Darul Alam (La Ngkariyri, Sultan Buton XIX)

Renovasi

Renovasi mesjid ini sudah dilakukan sebanyak 4 kali, tahun 1929, 1978, 1986 dan 2002. Renovasi pertama dilakukan tahun 1930, di masa Sultan Hamidi (Sultan Buton ke-37). Struktur asli bangunan tetap dipertahankan dan hanya mengganti sebagian rangka kayu karena sudah lapuk dimakan usia, lantainya disemen. Sedangkan atap yang semula menggunakan atap rumbia diganti dengan seng. Pemugaran kedua dan ketiga masing masing tahun 1978, dan 1986 juga untuk mengganti atap seng yang sudah usang. Renovasi terahir dilakukan tahun 2002. Dengan merenovasi lantai masjid menggunakan marmer atas bantuan Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri.

Didalam Masjid Agung Kraton Buton

Megawati pernah berkunjung ke masjid tua itu menjelang Pemilu 1999. dan kemudian memberikan bantuan untuk merenovasi Masjid terebut ketika beliau sudah menjadi Presiden. Pelaksanaan renovasi masjid itu ditangani Gubernur Sultra Laode Kaimuddin dan Ketua PDI-P Sultra Laode Rifai Pedansa.

Keunikan

Masjid Agung Keraton Buton tidak memiliki menara. Tetapi, di sisi bangunan sebelah utara berdiri sebuah tiang bendera yang ujungnya lebih tinggi dibandingkan puncak kerucut masjid. Menurut Buya Hamka dalam buku tafsirnya, Al Azhar, tiang bendera itu juga berfungsi sebagai tempat pelaksanaan hukuman gantung berdasarkan syariat Islam.

Menurut Buya Hamka, Tiang bendera di areal Masjid Agung ini difungsikan juga sebagai tiang gantungan untuk pelaksanaan hukuman gantung di masa pemerintahan Kesultanan Buton

Tiang bendera itu didirikan tidak lama setelah masjid dibangun. Kayu yang digunakan untuk tiang bendera tersebut dibawa oleh pedagang beras dari Pattani, Siam (sekarang Thailand). Perahu dagang selalu membawa kayu untuk persiapan mengganti bagian perahu yang rusak di perjalanan, Setelah dagangan mereka habis dan hendak kembali ke Pattani, sultan meminta agar kayu tersebut ditinggalkan untuk dijadikan tiang bendera. Dahulu, setiap Jumat dipasang bendera kerajaan yang berwarna kuning, merah, putih, dan hitam di tiang tersebut. 

Total perangkat pengurus masjid Keratorn itu berjumlah 60 orang, terdiri dari lakina agama, imam, empat khatib, 12 moji, dan 40 mukimi. Khatib dan moji melakukan tugasnya secara bergilir. Perangkat semacam itu tak dimiliki masjid lain di Nusantara.

Masjid Agung Kraton Buton di malam hari

Terdapat 12 pintu masuk ke dalam masjid yang salah satu di antaranya berfungsi sebagai pintu utama. Pada bagian depan masjid - di sebelah timur masjid, terdapat serambi terbuka. di dalam masjid terdapat sebuah mihrab dan mimbar yang terletak secara berdampingan. Keduanya terbuat dari batu bata yang di bagian atasnya terdapat hiasan dari kayu berukir corak tumbuh-tumbuhan yang mirip dengan ukiran Arab.

kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berjumlah 313 potong yang diidentikkan dengan jumlah tulang pada tubuh manusia. Jumlah anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat umat Islam dalam sehari. Bedug masjid yang berukuran panjang 99 cm dianalogikan dengan asmaul husna (99 sifat Allah), dan diameter 50 cm dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Rasulullah. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali.

Drs. AS Tamrin, MH dan Wa Ode Maasra Manarfa, S.Sos, M. Si saat doa bersama perangkat Masjid Agung Keraton Buton, dalam rangkaian pelantikannya sebagai Walikota dan Wakil Walikota Baubau periode 2013-2018

Di depan pintu utama di antara dua selasar terdapat sebuah guci bergaris tengah 50 sentimeter dengan tinggi 60 sentimeter. Guci itu terhunjam ke lantai semen berlapis marmer. Guci tersebut telah ditempatkan di situ sejak adanya masjid ini sebagai penampungan air untuk berwudu

Sebuah lampu antik yang terbuat dari perunggu bercabang tiga yang digantung tepat di tengah ruangan masjid ini. Pada tiap-tiap cabang lampu gantung tersebut, tersedia tiga tempat untuk bola lampu. Konon, lampu-lampu dengan model itu hanya terdapat di tiga tempat di Indonesia, dua lagi terdapat di dalam Istana Negara Jakarta dan Keraton Yogyakarta.

Masjid Agung Kraton Buton

Tak jauh dari masjid, terdapat makam raja terakhir sekaligus Sultan pertama Buton, Murhum yang juga dikenal dengan Sultan Kaimuddin dan Halu Oleo (dalam bahasa Muna berarti delapan hari). Nama Halu Oleo diberikan karena Murhum mampu menyelesaikan perang saudara antara Konawe dengan Mekongga dalam waktu delapan hari. 

Murhum adalah raja Buton pertama yang menganut ajaran Islam. Sejak itu pula, sistem pemerintahan berubah dari Kerajaan menjadi kesultanan. Makam Murhum terletak di belakang Baruga Keraton Buton (balai pertemuan) yang berada di hadapan Masjid Agung Keraton Buton.

Tradisi Ramadahan di Masjid Agung Kraton Buton

Pelaksanaan Shalat Tarwih di beberapa malam Ramadhan, seperti malam pertama (Tembaana Bula), Malam Nuzul Quran ke-17 (Qunua), malam 27 (Qadiri/ lailatur Qadar). Pada malam tersebut shalat tarwih dilaksanakan tepat pada pukul 00.00 malam yang dirangkai dengan sahur bersama yang dilakukan perangkat Syara Masjid Agung Keraton Buton bersama pemerintah daerah. Tradisi itu masih terjaga hingga kini.***


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA