memandang dunia dari teras masjid

Minggu, 23 Juni 2019

Menjejak Islam di Bhutan

Kerajaan Bhutan dikenal sebagai kerajaan Budha di sisi timur pegunungan Himalaya berbatasan dengan China di Utara dan India di Selatan. Kerajaan ini memiliki alam yang masih perawan dan mempesona dan kehidupan tradisional yang kuat hingga kerap kali digelari sebagai Kerajaan Shangri-La terahir di bumi.

Bhutan; The Last Shangri-La Kingdom

Bhutan merupakan salah satu dari sedikit Negara asia yang masih berbentuk kerajaan, bahkan bisa jadi menjadi satu satunya kerajaan yang masih eksis di bumi dengan tatanan tradisionalnya yang masih sangat kental. Modernisasi nyaris tak menyentuh kerajaan ini, namun penduduknya terkenal sebagai rakyat yang paling bahagia di Asia dan dunia. Indeks pembangunan negaranya didasarakan kepada indeks Gross National Happiness yang takkan ditemukan di GBHN Negara lain.

Wilayah kerajaannya terhimpit diantara India dan Tibet (yang kini dikuasai China). India menjadi satu satunya pintu masuk dan keluar dari Bhutan melalui kota Phuentsholing yang berbatasan langsung dengan kota Jaigaon di provinsi Benggala Barat, India. Perbatasan mereka di utara dengan Tibet sudah lama ditutup rapat sejak Tibet di kuasai China dan berujung sengketa perbatasan antara Bhutan dengan China.

Karena posisi strategisnya kota Phuentsholing menjadi ibukota perdagangan bagi Bhutan, bank Negara bahkan berkantor di kota itu. Gerbang perbatasan Bhhutan dan kantor imigrasi kedua Negara berdiri disana, meski penduduk kedua Negara memiliki hak istimewa dalam melintasi perbatasan, berbeda dengan pengunjung dari Negara lain yang harus mengurus izin yang cukup rumit untuk bisa masuk ke wilayah Bhutan.

Kehidupan masyarakat begitu kental dengan dogma agama Budha sebagai agama resmi Negara dan mereka sangat menghormati raja dan keluarganya. Alam mereka masih perawan, dengan landscape pegunungan Himalaya timur yang memukau, kehidupan sederhana pedesaan dapat ditemukan dibagian manapun Negara ini yang terkenal dengan ribuan kuil kuil kuno bertebaran dari puncak gunung hingga dinding dinding batu terjal pegunungan.

wilayah Kerajaan Bhutan berada diperbatasan antara China dan India.
Keindahan panorama kerajaan ini dipadu dengan kehidupan tradisional penduduknya tak pelak memuatnya mendapatkan julukan dengan berbagai nama negeri dongeng. Bhutan sendiri secara harpiah bermakna “Negeri Naga Petir’ sedangkan penduduknya menyebut Negara mereka “Rakyatnya menyebut kerajaan mereka sebagai “Druk Yul” yang berarti “Negeri Naga”, kamu akan dengan mudah menemukan gambar naga di bendera dan lambang kerajaannya. Dan diantara para pengelana dan pengembara tak segan segan menyebut Kerajaan Bhutan sebagai “The Last Shangri-La Kingdom” atau “Kerajaan Shangri-La terahir”

Angin perubahan di negeri Naga Petir

Raja Jigme Singye Wangchuk menjadi raja Bhutan terahir yang berkuasa dengan kekuasaan mutlak sebagai raja pemegang tampuk kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan. Namun secara mengejutkan beliau mengumumkan akan melepaskan jabatannya di tahun 2008, tak hanya itu, beliau juga berencana memangkas kekuasaan absolut raja, membuka jalan bagi pemilihan umum untuk memilih perdana menteri dan DPR sebagai penggerak roda pemerintahan.

Keputusan yang diumumkannya di hadapan 8.000 penggembala hewan yak, biksu, petani, dan siswa pedesaan pada 18 Desember 2005 dan disebarkan melalui harian Kuensel itu justru menuai keberatan dari rakyatnya yang mengkhawatirkan akan terjadinya praktek KKN oleh para pejabat dikemudian hari. Nyatanya, Dasho Jigme Khesar Namgyal Wangchuck, benar benar menyerahkan kekuasaan kepada putra tertuanya yang masih bujangan ditahun 2006.

Raja Jigme Singye Wangchuk sudah menjadi raja sejak usia 17 tahun menggantikan ayahandanya yang wafat di tahun 1972 sangat dicintai rakyatnya dan senantiasa hidup sederhana bersama ke empat istrinya, lebih suka tinggal di rumah kayu khas Bhutan ketimbang tinggal di Istana kerajaan di dalam benteng, tak pernah menjelaskan alasannya mundur dari kekuasannya sebagai raja yang harusnya berkuasa seumur hidup.

Thimpu, ibukota dan kota terbesar di Bhutan. Gedung tertinggi di foto itu adalah pusat pemerintahan Bhutan.
Dasho Jigme Khesar Namgyal Wangchuck kini memerintah kerajaan Bhutan yang sudah mulai menerapkan sistim demokrasi yang di inisiasi oleh ayahnya. Raja baru ini baru menemukan permasurinya di tahun 2011, pernikahan mereka menjadi Royal Weding yang menginspirasi kebahagiaan seisi negeri, foto pernikahan mereka bahkan diabadikan dalam uang kertas 100 ngultrum Bhutan.

Seperti Apakah Kerajaan Bhutan

Kerajaan Bhutan adalah salah satu dari sedikit Negara di dunia yang benar benar tidak pernah mengalami penjajahan oleh bangsa asing sepanjang sejarahnya. Wilayah mereka bahkan tak sempat tersentuh oleh silih bergantinya emperium besar yang pernah berkuasa di India maupun di China. Dinasti Islam Mughal yang merupakan dinasti Islam terbesar yang pernah berkuasa di hampir seluruh wilayah anak benua India itu pun, wilayahnya tak sampai menyentuh wilayah Bhutan.

Secara geografis, Bhutan hanya bertetangga dengan Tibet (China) di Utara dan India disebelah selatan. Muka buminya di dominasi pegunungan, mulai dari rata rata ketinggian 200 meter dari permukaan laut di sebagian selatan negaranya hingga ke ketinggian 7000 meter dari permukaan laut di bagian utara-nya yang merupakan sisi timur Himalaya. Tak salah bila menyebut kerajaan ini sebagai kerajaan gunung atau bahkan ada yang menjulukinya sebagai salah satu negeri diatas awan.

Luas keseluruhan wilayahnya hanya 38.394 km2 atau setara dengan luas daratan provinsi Sulawesi Tenggara (38.067 km2). Sedangkan jumlah penduduknya sebanyak 727.145 (tahun 2017) jiwa atau sekitar 20% lebih sedikit dibandingkan seluruh penduduk di provinsi Papua Barat (915.400 jiwa)

Gangkar Puensum (7,570mdpl) di Dochula pass merupakan puncak tertinggi di Bhutan. Gunung ini terkenal sebagai gunung yang belum pernah ditaklukkan manusia pendaki manapun.
Penduduknya diwajibkan menggunakan busana tradisional dalam kehidupan mereka sehari hari. Orang asing tidak dapat berkunjung ke Bhutan melalui agen wisata yang ditunjuk oleh pemerintah dengan prosedur yang cukup rumit dan tidak dapat bebas berkelana sesuka hati kecuali ketempat tempat yang sudah diatur. Budha Vajrayana yang dianut oleh 74.8% penduduk merupakan agama resmi satu satunya yang diakui oleh Negara, disusul kemudian oleh Hindu (22,6%) yang menjadi minoritas utama di Negara itu. Ajaran Budha memang sudah dikenal oleh masyarakat Bhutan sejak abad ke 7 Miladiyah.

Adakah Muslim di Bhutan?

Sedikit sekali informasi yang tersedia mengenai keberadaan muslim di Bhutan. Kebijakan negaranya yang semi tertutup turut andil kepada kurangnya informasi menyangkut hal itu.   Menurut Adherents,com, muslim di Bhutan mencapai 5%. Sedangkan CIA factbook mengklaim bahwa ummat islam di Bhutan hanyalah kurang dari 1% dari total penduduknya di tahun 2009. Sedangkan lembaga riser Pew Reseach Centre memperkirakan bahwa muslim di Bhutan ada sekitar 1% atau sekitar 7000 jiwa dari keseluruhan penduduk negara terebut.

Perkembangan Islam di Bhutan cukup menarik bila mencermati data dari Pew Reseach Forum  yang menyebutkan bahwa pada 1990 terdapat sekitar 6.000 Muslimin di Bhutan. Kemudian, pada 2010 meningkat menjadi 7.000 jiwa dan pada 2030, diprediksi akan meningkat menjadi 9.000 jiwa.

Merujuk kepada republika, perkembangan Islam di Bhutan cukup sulit mengingat kebijakan Negara yang melarang dakwah Islam di wilayah Negara itu. Ditambah lagi dengan buruknya citra yang dimunculkan oleh media (barat) berdampak buruk terhadap pandangan masyarakat setempat terhadap Islam.

Haa Valey atau lembah Haa, salah satu landscape Bhutan yang menawan.
Menurut US Library of Congress, komunitas Muslim Bhutan baru mulai terlihat eksis pada 1989. Angkanya sangat kecil dan tak banyak mendapatkan hak kebebasan beragama. Sebagai negara yang menjadikan Buddha sebagai agama resmi negara, Bhutan tak banyak menerapkan kebebasan beragama bagi rakyatnya. Namun seiring dengan mulai diterapkannya sistim demokrasi, Bhutan mulai mengakui keberadaan agama Hindu disana sedangkan pemeluk agama lainnya termasuk Muslim Bhutan masih harus berjuang untuk mendapatkan pengakuan resmi dari Kerajaan.

Meski Islam tak diakui, bukan berarti Islam dilarang. Muslimin hidup sebagaimana rakyat Bhutan pada umumnya. Mereka memiliki hak sebagai warga negara serta memiliki hak untuk bekerja. Tradisi vegetarian masyarakat Bhutan justru memudahkan muslim disana mendapatkan makanan halal.

Baiknya tatanan masyarakat yang sudah berabad abad hidup taat pada raja di kehidupan tradisional, ditambah lagi dengan kebijakan pemerintahnya yang telah sejak lama secara resmi melarang peredaran tembakau dan kebijakan lain yang sejalan dengan ajaran Islam justru menjadi nilai tambah tersendiri bagi kehidupan muslim di Bhutan. Sehingga secara umum Muslim di Bhutan dapat menjalani kehidupan mereka dengan nyaman.

Namun demikian, dengan tidak diakuinya Islam oleh kerajaan berdampak langsung kepada tidak adanya organisasi induk yang mengayomi muslim disana, tidak ada lembaga verifikasi halal ataupun lembaga lembaga Islam lainnya yang menopang kehidupan muslim disana apalagi untuk mendirikan lembaga dakwah yang memang secara jelas dakwah Islam dilarang dinegara itu, dan sepertinya kebijakan itu juga berlaku bagi semua agama lain nya.***

Selanjutnya “Apakah Ada Masjid di Bhutan?”

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sabtu, 22 Juni 2019

Masjid Andalusia Islamic Center, Bogor


Berdiri megah di kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor, Masjid Andalusia menjadi salah satu masjid pavorit warga Bogor Raya. Dengan arsitektur bangunan yang menawarn ditambah dengan fasilitasnya yang cukup lengkap.

Masjid Andalusia adalah masjid megah yang berada di dalam komplek Islamic Center Andalusia di Jalan H. Juanda kawasan Sentul City, Desa Citaringgul, kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Masjid Andalusia dibangun tahun 2006 yang lalu, pembangunan masjid ini merupakan bagian dari komplek Islamic Center Andalusia yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung termasuk kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Andalusia.

Sebagaimana dijelaskan di situs resminya, Andalusia Islamic Center (AIC) hadir karena kepedulian akan masalah besar bangsa dan umat Islam Indonesia yang di dominasi oleh kemiskinan, keterbelakangan pendidikan serta rendahnya moralitas baik ditingkat birokrasi maupun swasta. Besar harapan dengan segala kekurangan Andalusia Islamic Center (AIC) dapat menjadi Oase Spiritual, Intelektual dan pemberdayaan penguaatan finansial umat yang berdasarkan pada nilai-nilai luhur spiritual Islam.

Masjid Andalusia Islamic Center
Masjid Andalusia STIE Tazkia, Jl. Ir H Juanda No.78 Sentul City
Citaringgul, Kec. Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat 16810



Masjid dan kompleks Islamic Center ini digagas oleh Yayasan Tazkia yang dipimpin oleh M. Syafii Antonio (beliau adalah seorang mu’alaf yang merupakan pakar ekonomi syariah). Beliau menyampaikan bahwa pembangunan Andalusia Islamic Center ini terinspirasi akan kejayaan peradaban kekhalifahan islam di Andalusia (kini Spanyol). Selain kemakmuran rakyat di wilayah tersebut pada waktu itu, kesuksesan mencetak ribuan ilmuwan muslim di berbagai bidang adalah menjadi inspirasi utama.

AIC diharapkan bisa wadah pendidikan dan pencerahan umat Islam di Indonesia, khususnya di Jadebotabek. Keberadaannya, sebagai oase spiritual dan intelektual yang dilandasi nilai-nilai Islam yang sejuk, damai, ramah, progresif, mendorong kemajuan ekonomi dan bisnis sebagai bagian dari ibadah, serta pemberdayaan umat berwawasan rahmatan lil ‘aalamiin.

Ruang sholat utama Masjid Andalusia.
Sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Andalusia Islamic Center, Syaripudin Kusin Sardi, Masjid Andalusia berdiri di atas lahan seluas 1 hektare dengan luas bangunan masjid 1.250 meter dan dapat menampung sekitar 2.500 jema’ah sekaligus. Bangunan masjidnya terdiri dari tiga lantai, ruang perubadatan utama berada di lantai dua dan tiga sedangkan di lantai satu merupakan area pendukung lainnya termasuk ruangan Alhambra. Dan saat ini (Juni 2019) Masjid Andalusia ini sedang dalam proses perluasan di sisi timurnya dan sudah dalam tahap finishing.

Salah satu keunikan masjid Anadalusia ini adalah disediakannya area istirahat bagi para Jemaah. Lantai tiga masjid ini di hari hari biasa digunakan sebagai tempat istirahat bagi Jemaah laki laki, sedangkan untuk Jemaah wanita disediakan tempat istirahat di ruang Alhambra di lantai dasar. Untuk tempat berwudhu tersedia di tiga lokasi. Ada tempat berwudhu di samping kolam di taman samping tempat parkir sepeda motor. Lalu ada area berwudhu dan toilet di lantai dasar, dan area berwudhu dan toilet di lantai mezanin, setelah menaiki tangga pertama menuju ruang sholat utama.

Ornamen indah di bagian dalam kubah Masjid Andalusia.
Ruang Al-Hambra di lantai dasar masjid Andalusia ini merupakan sebuah aula yang cukup besar dengan kapasitas mencapai 600 orang dan juga disewakan untuk umum untuk berbagai keperluan termasuk acara pernikahan. Selain itu masjid ini juga dilengkapi dengan kantin, minimarket, miniatur ka’bah, toko buku, hingga ruang Ruang 4T Quran & Gedung Abdurrahman Bin Auf.

Ruang 4T Qur’an maksudnya adalah ruang tahsin, tahfidz, tarjamah dan tafsir. Ruang belajar 4T Quran terletak disebelah kanan masjid andalusia, bangunan berlantai 2 dengan bentuk memanjang kearah timur ini juga memiliki nama lain yakni Tazkia Quranic and Business Center. nama ini mengemuka sebab gedung abdurrahman bin auf ini memiliki area minimarket, ATM Center dan Toko Buku yang teletak di lantai 1 gedung.

Gedung Abdurrahman bin Auf, Terhubung langsung dengan Masjid Andalusia di sisi selatan.
Sedangkan lantai 2 gedung Abdurrahman bin auf digunakan untuk ruang pembelajaran comprehensive quranic learning andalusia yang dinamai 4T Quran Andalusia. meliputi tahsin, tahfidz, tarjamah dan tafsir. ruang dengan AC dan puluhan kursi kuliah ini sengaja disiapkan untuk mendukung kenyamanan belajar dalam kelas. Kajian untuk umum di masjid ini diselenggarakan setiap bakda sholat Subuh, Zuhur dan Magrib. Di dalam kompleks yang sama juga berdiri kampus STIE Tazkia (Tazkia University College Of Islamic Economics), TK Islam Terpadu Tazkia (Tazkia Global Islamic School).

Meski berada di lingkungan kampus, masjid ini terbuka untuk umum. Area parkirnya cukup luas, parkir kendaraan roda empat ada di sebelah kiri gerbang utama, parkir kendaraan roda dua berada di belakang masjid, berdekatan dengan lapangan tempat miniatur Ka’bah berada dan tidak ada tarif parkir dan petugas petugas disini pun cukup ramah terhadap pengunjung. Hanya saja selayaknya tempat ibadah, ada himbauan tertulis untuk berbusana Islami / sopan, dan dilarang merokok di lingkungan masjid.

Lantai mezanin, sebelah kiri tempat wudhu jemaah wanita, sebelah kanan tempat wudhu jemaah pria. naik ke tangga menuju ke ruang sholat utama di lantai dua.
Bangunan masjid Andalusia ini dibangun dalam arsitektur masjid modern. Dengan bentuk dasar bangunan kubus, beratap beton. Sebuah kubah besar dengan dominasi warna biru dihias dengan ornamen geometris perpaduan bewarna biru, kuning emas dan putih. Puncak kubah hanya dihias dengan satu bentuk lancip tanpa ornament tambahan.

Empat menara menjulang tinggi dibangun di empat sudut atap masjid. Ke empat menara yang dibangun ramping ber-ujung lancip. Fasad bangunan menaranya di hias dengan jendela jendela kaca dengan hiasan mozaik warna warni. Ujung lancip menara dihias dengan ornament zigzag berwarna putih dan biru. Bangunan masjid yang sangat menawan.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 15 Juni 2019

Masjid Terapung Al-Alam Kota Kendari

Masjid terapung Al-Alam Kota Kendari dibangun ditengah laut teluk Kendari. Pembangunannya dimulai tahun 2010, mulai dipakai tahun 2017 dan diresmikan tahun 2018. Masjid ini menjadi masjid pertama di Indonesia yang dibangun begitu jauh ditengah laut dan dalam ukuran yang cukup besar, meski sebelumnya telah ada masjid masjid serupa di tanah air.

Berdiri megah ditengah laut teluk kendari, Masjid Al-Alam pada saat air pasang masjid ini benar benar tampak seolah olah terapung diatas laut teluk Kendari. Rancang bangunnya mengingatkan kita kepada bangunan bangunan megah dunia. Perhatikan empat menara di empat penjuru masjid yang mirip dengan menara Burj Al-Arab di Jumeirah-Dubai, Uni Emirat Arab, sedangkan fasad masjid ini mengingatkan kita pada Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin atau juga terkenal dengan sebutan masjid besi di Putrajaya, ibukota (baru) Malaysia.

Masjid Al-Alam kini menjadi Ikon baru kota Kendari dan Provinsi Sulawesi Tenggara, dan menjadi salah satu objek wisata pavorit warga di kota itu. Kehadiran masjid ini menambah deretan masjid masjid megah di Kendari setelah Masjid Raya Al-kautsar Kendari dan Masjid Raya Kendari atau biasa juga dikenal dengan nama Masjid Raya Kota lama yang sudah berdiri terlebih dahulu.

Masjid Al-Alam diperkiirakan mampu menampung hingga 10.000 Jemaah sekaligus dengan asumsi dilantai satu mampu menampung lebih dari 5000 jemaah ditambah lantai dua dan lantai tiga yang diperkirakan masing masing mampu menampung lebih dari 2000 jemaah sekaligus. Untuk menampung kendaraan Jemaah, masjid Al-Alam dilengkapi dengan lahan parkir yang mampu menampung hingga 700 kendaraan roda empat.

Dari sisi ukuran dan jarak dari bibir pantai, masjid Al-Alam Kendari ini memang masjid pertama di Indonesia yang dibangun dengan ukuran dan posisi seperti ini. Selain ukurannya yang besar, jarak dari pantai pun cukup jauh.

Tentang Al-Alam

Secara harfiah, Al-Alam berasal dari bahasa arab yang berari alam semesta, namun masyarakat akan langsung mengaitkan nama masjid ini dengan nama inisiator pembangunannya, Gubernur ke 7 Sulawesi Tenggara, Nur Alam. Masjid Al-Alam atau lebih dikenal juga sebagai Masjid Terapung Al-Alam adalah masjid megah yang dibangun ditengah laut teluk Kendari, kota Kendari, provinsi Sulawesi Tenggara. Tak tanggung tanggung, lokasi masjid ini dibangun sejauh 1,6 kilometer dari bibir pantai kota Kendari.

Dari kejauhan bangunan masjid ini tampak mengapung di permukaan laut teluk Kendari, dengan posisinya yang demikian itu yang menjadikannya disebut sebagai masjid terapung. Meskipun sebenatnya tidak benar benar mengapung di atas air laut melainkan berdiri diatas tiang tiang panyanggah beton bertulang yang ditancapkan ke dasar  laut.

Dari segi tata letaknya masjid terapung Al-Alam kota Kendari ini memang bartu satu satunya di Indonesia dan di dunia yang dibangun begitu jauh di tengah laut. Meskipun masjid masjid yang serupa ini sudah begitu banyak dibangun di Indonesia dan di dunia, dan seolah menjadi trend baru dalam pembangunan masjid saat ini.

Masjid Al Alam Kendari
Jalan Masjid Al-Alam, Teluk Kendari
Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
Indonesia


Sebelumnya di Indonesia sudah ada beberapa bangunan Masjid Terapung, sebut saja daintaranya adalah Masjid Masjid Raya Al-Munawaroh di Ternate, Masjid Amirul Mu’minin kota Makasar, dan lain lain, sementara yang paling terkenal di luar negeri diantaranya adalah Masjid Terapung Ar-Rahmah yang mengapung di laut merah kota Jeddah, Arab Saudi dan Masjid Hassan II, Casablanca - Maroko.yang seolah mengapung di samudera Atlantik Utara.

Proyek Pembangunan Masjid Al-Alam

Proyek pembangunan Masjid Terapung Al-Alam Kota Kendari ini mulai dibangun tahun 2010 yang lalu dan baru selesai dan diresmikan delapan tahun kemudian di tahun 2018 yang lalu. Proses pembangunan yang cukup lama dengan segala kendala dan masalahnya sendiri. Sebuah mega project yang cukup ambisius, sempat menuai kontroversi dan penolakan dari berbagai lapisan masyarakat.

Sejak awal pengumuman pembangunannya, telah menuai berbagai komentar di masyarakat hingga para tokoh di Kendari dan Sulawesi Tenggara termasuk nilai proyeknya yang diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar Rp. 230 Milyar Rupiah. Nilai sebegitu besar dinilai akan lebih bermanfaat bila dimaksimalkan untuk kesejahteraan masyarakat, ditambah lagi dengan keberatan dari para pemerhati dan penggiat pelestarian lingkungan.

Interior Masjid Al-Alam, terang benderang dan lega. dari tiga lantai masjid ini, mampu menampung hingga 10 ribu jamaah.
Proses pembangunannya dimulai dengan pemancangan tiang pertama pada hari Selasa 17 Agustus 2010 dipimpin oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam, dihadiri oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Saleh Lasata, Walikota Kendari Ir Asrun, Wakil Ketua DPRD, La Pili, pejabat muspida dan mantan Menteri Agama, Prof DR Said Agil Al Munawar.

Upacara pemancangan tiang pertama itu bertepatan dengan tanggal 7 Romadhon, dan tanggal 7 tersebut dikait kaitkan dengan jabatan Gubernur Nur Alam yang merupakan Gubernur Sulawesi Tenggara Ke 7.

Sumber pendanaan

DPRD bersama pemkab mengalokasikan dana APBD sebesar 10 Miliar untuk keperluan pemancangan tiang penyanggah masjid ini yang keseluruhannya mencapai 509 tiang yang akan ditancapkan di teluk Kendari hingga kedalaman 30 meter. Tahap pertama di tahun 2010 dikerjakan penancapan 37 tiang pancang.

Masjid Al-Alam nantinya akan dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung termasuk taman masjid yang kini sedang dalam proses reklamasi (terlihat di belakang masjid) dan sarana pendukung lainnya.
Total waktu yang direncanakan untuk menyelesaikan pembangunan masjid adalah empat tahun. Selain bangunan masjid, sebuah jalan penghubung sejauh 1,6 Kilometer juga dibangun menghubungkan daratan kota kendari ke kompleks masjid ini. Berbeda dengan konstruksi masjid yang menggunakan tiang pancang, causeway atau jalan penghubung ini dibangun dengan metoda menimbun laut atau reklamasi.

Adapun nilai proyek pembangunan masjid ini memang cukup fantastis, sampai dengan saat diselenggarakannya Sholat subuh perdana di masjid ini, pembangunannya telah menghabiskan dana sekitar Rp. 250 Milyar Rupiah, dan pada saat pertama kali digunakan, Gubernur Nur Alam bahkan menyebut proyek tersebut menghabiskan dana hingga RP. 250 Milyar Rupiah seluruhnya bersumber dari APBD provinsi Sulawesi Tenggara.

Prakarsa Gubernur Nur Alam

Proyek pembangunan masjid ini di prakarsai oleh Gubernur ke 7 provinsi Sulawesi Tenggara, Nur Alam, dimulai dengan pemancangan tiang pertama pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2010 yang lalu. Menjelang ahir masa jabatan Gubernur Nur Alam masjid ini baru mencapai progress 75% namun sudah dapat digunakan untuk peribadatan ditandai dengan penyelenggaraan sholat subuh berjamaah pertama yang dihadiri Gubernur Nur Alam, pejabat daerah dan masyarakat muslim setempat pada tanggal 28 Mei 2017.

Pembangunan masjid ini dilanjutkan hingga selesai dan dresmikan oleh Pejabat Gubernur Sulawesi Tenggara Teguh Setyabudi, pada hari Jumat 27 April 2018 bertepatan dengan ulang tahun provinsi Sulawesi Tenggara ke 54. Peresmian tersebut juga ditandai dengan penyelenggaraan sholat jum’at bersama di masjid Al-Alam. Upacara peresmian tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Sulawesi Tenggara, Abdurrahman Saleh yang juga merupakan Ketua DPW PAN Sulawesi Tenggara, para pejabat dan masyarakat muslim kota Kendari.

Letaknya yang tak lazim dan bangunan ma jidnya pun elok, menjadikan masjid ini sebagai salah satu objek wisata favorit warga.

Objek wisata baru kota Kendari

Pembangunan di kompleks masjid terapung ini masih dilanjutkan untuk dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan prasarana pendukung. Termasuk didalamnya pembangunan taman di ulau reklamasi di depan masjid, causeway atau jalan hubung di sisi selatan dan sarana sarana pendukung lainnya.

Meski beberapa poin berbeda dengan rencana awal, Masjid Terapung Al-Alam ini kini bediri begitu megah di tengah tengah laut teluk Kendari dan menjadi Ikon baru kota Kendari dan provinsi Sulawesi Tenggara. Selain menjadi tempat ibadah kompleks masjid ini kini juga menjadi objek wisata baru bagi masyarakat Kendari dan sekitarnya.

Ruas jalan hubung ke masjid ini yang cukup panjang, menjadi tempat pavorit warga untuk berolah raga atau sekedar melepas lelah menikmati pemandangan laut teluk kendari dengan Masjid Al-Alam sebagai Ikon nya. Setiap hari tempat ini selalu ramai dikunjungi warga termasuk mereka yang datang untuk sekedar ber-selfie ria, di luar waktu sholat.(dari berbagai sumber, data diolah).***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga