Sabtu, 15 Juni 2019

Masjid Terapung Al-Alam Kota Kendari

Masjid terapung Al-Alam Kota Kendari dibangun ditengah laut teluk Kendari. Pembangunannya dimulai tahun 2010, mulai dipakai tahun 2017 dan diresmikan tahun 2018. Masjid ini menjadi masjid pertama di Indonesia yang dibangun begitu jauh ditengah laut dan dalam ukuran yang cukup besar, meski sebelumnya telah ada masjid masjid serupa di tanah air.

Berdiri megah ditengah laut teluk kendari, Masjid Al-Alam pada saat air pasang masjid ini benar benar tampak seolah olah terapung diatas laut teluk Kendari. Rancang bangunnya mengingatkan kita kepada bangunan bangunan megah dunia. Perhatikan empat menara di empat penjuru masjid yang mirip dengan menara Burj Al-Arab di Jumeirah-Dubai, Uni Emirat Arab, sedangkan fasad masjid ini mengingatkan kita pada Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin atau juga terkenal dengan sebutan masjid besi di Putrajaya, ibukota (baru) Malaysia.

Masjid Al-Alam kini menjadi Ikon baru kota Kendari dan Provinsi Sulawesi Tenggara, dan menjadi salah satu objek wisata pavorit warga di kota itu. Kehadiran masjid ini menambah deretan masjid masjid megah di Kendari setelah Masjid Raya Al-kautsar Kendari dan Masjid Raya Kendari atau biasa juga dikenal dengan nama Masjid Raya Kota lama yang sudah berdiri terlebih dahulu.

Masjid Al-Alam diperkiirakan mampu menampung hingga 10.000 Jemaah sekaligus dengan asumsi dilantai satu mampu menampung lebih dari 5000 jemaah ditambah lantai dua dan lantai tiga yang diperkirakan masing masing mampu menampung lebih dari 2000 jemaah sekaligus. Untuk menampung kendaraan Jemaah, masjid Al-Alam dilengkapi dengan lahan parkir yang mampu menampung hingga 700 kendaraan roda empat.

Dari sisi ukuran dan jarak dari bibir pantai, masjid Al-Alam Kendari ini memang masjid pertama di Indonesia yang dibangun dengan ukuran dan posisi seperti ini. Selain ukurannya yang besar, jarak dari pantai pun cukup jauh.

Tentang Al-Alam

Secara harfiah, Al-Alam berasal dari bahasa arab yang berari alam semesta, namun masyarakat akan langsung mengaitkan nama masjid ini dengan nama inisiator pembangunannya, Gubernur ke 7 Sulawesi Tenggara, Nur Alam. Masjid Al-Alam atau lebih dikenal juga sebagai Masjid Terapung Al-Alam adalah masjid megah yang dibangun ditengah laut teluk Kendari, kota Kendari, provinsi Sulawesi Tenggara. Tak tanggung tanggung, lokasi masjid ini dibangun sejauh 1,6 kilometer dari bibir pantai kota Kendari.

Dari kejauhan bangunan masjid ini tampak mengapung di permukaan laut teluk Kendari, dengan posisinya yang demikian itu yang menjadikannya disebut sebagai masjid terapung. Meskipun sebenatnya tidak benar benar mengapung di atas air laut melainkan berdiri diatas tiang tiang panyanggah beton bertulang yang ditancapkan ke dasar  laut.

Dari segi tata letaknya masjid terapung Al-Alam kota Kendari ini memang bartu satu satunya di Indonesia dan di dunia yang dibangun begitu jauh di tengah laut. Meskipun masjid masjid yang serupa ini sudah begitu banyak dibangun di Indonesia dan di dunia, dan seolah menjadi trend baru dalam pembangunan masjid saat ini.

Masjid Al Alam Kendari
Jalan Masjid Al-Alam, Teluk Kendari
Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
Indonesia


Sebelumnya di Indonesia sudah ada beberapa bangunan Masjid Terapung, sebut saja daintaranya adalah Masjid Masjid Raya Al-Munawaroh di Ternate, Masjid Amirul Mu’minin kota Makasar, dan lain lain, sementara yang paling terkenal di luar negeri diantaranya adalah Masjid Terapung Ar-Rahmah yang mengapung di laut merah kota Jeddah, Arab Saudi dan Masjid Hassan II, Casablanca - Maroko.yang seolah mengapung di samudera Atlantik Utara.

Proyek Pembangunan Masjid Al-Alam

Proyek pembangunan Masjid Terapung Al-Alam Kota Kendari ini mulai dibangun tahun 2010 yang lalu dan baru selesai dan diresmikan delapan tahun kemudian di tahun 2018 yang lalu. Proses pembangunan yang cukup lama dengan segala kendala dan masalahnya sendiri. Sebuah mega project yang cukup ambisius, sempat menuai kontroversi dan penolakan dari berbagai lapisan masyarakat.

Sejak awal pengumuman pembangunannya, telah menuai berbagai komentar di masyarakat hingga para tokoh di Kendari dan Sulawesi Tenggara termasuk nilai proyeknya yang diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar Rp. 230 Milyar Rupiah. Nilai sebegitu besar dinilai akan lebih bermanfaat bila dimaksimalkan untuk kesejahteraan masyarakat, ditambah lagi dengan keberatan dari para pemerhati dan penggiat pelestarian lingkungan.

Interior Masjid Al-Alam, terang benderang dan lega. dari tiga lantai masjid ini, mampu menampung hingga 10 ribu jamaah.
Proses pembangunannya dimulai dengan pemancangan tiang pertama pada hari Selasa 17 Agustus 2010 dipimpin oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam, dihadiri oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Saleh Lasata, Walikota Kendari Ir Asrun, Wakil Ketua DPRD, La Pili, pejabat muspida dan mantan Menteri Agama, Prof DR Said Agil Al Munawar.

Upacara pemancangan tiang pertama itu bertepatan dengan tanggal 7 Romadhon, dan tanggal 7 tersebut dikait kaitkan dengan jabatan Gubernur Nur Alam yang merupakan Gubernur Sulawesi Tenggara Ke 7.

Sumber pendanaan

DPRD bersama pemkab mengalokasikan dana APBD sebesar 10 Miliar untuk keperluan pemancangan tiang penyanggah masjid ini yang keseluruhannya mencapai 509 tiang yang akan ditancapkan di teluk Kendari hingga kedalaman 30 meter. Tahap pertama di tahun 2010 dikerjakan penancapan 37 tiang pancang.

Masjid Al-Alam nantinya akan dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung termasuk taman masjid yang kini sedang dalam proses reklamasi (terlihat di belakang masjid) dan sarana pendukung lainnya.
Total waktu yang direncanakan untuk menyelesaikan pembangunan masjid adalah empat tahun. Selain bangunan masjid, sebuah jalan penghubung sejauh 1,6 Kilometer juga dibangun menghubungkan daratan kota kendari ke kompleks masjid ini. Berbeda dengan konstruksi masjid yang menggunakan tiang pancang, causeway atau jalan penghubung ini dibangun dengan metoda menimbun laut atau reklamasi.

Adapun nilai proyek pembangunan masjid ini memang cukup fantastis, sampai dengan saat diselenggarakannya Sholat subuh perdana di masjid ini, pembangunannya telah menghabiskan dana sekitar Rp. 250 Milyar Rupiah, dan pada saat pertama kali digunakan, Gubernur Nur Alam bahkan menyebut proyek tersebut menghabiskan dana hingga RP. 250 Milyar Rupiah seluruhnya bersumber dari APBD provinsi Sulawesi Tenggara.

Prakarsa Gubernur Nur Alam

Proyek pembangunan masjid ini di prakarsai oleh Gubernur ke 7 provinsi Sulawesi Tenggara, Nur Alam, dimulai dengan pemancangan tiang pertama pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2010 yang lalu. Menjelang ahir masa jabatan Gubernur Nur Alam masjid ini baru mencapai progress 75% namun sudah dapat digunakan untuk peribadatan ditandai dengan penyelenggaraan sholat subuh berjamaah pertama yang dihadiri Gubernur Nur Alam, pejabat daerah dan masyarakat muslim setempat pada tanggal 28 Mei 2017.

Pembangunan masjid ini dilanjutkan hingga selesai dan dresmikan oleh Pejabat Gubernur Sulawesi Tenggara Teguh Setyabudi, pada hari Jumat 27 April 2018 bertepatan dengan ulang tahun provinsi Sulawesi Tenggara ke 54. Peresmian tersebut juga ditandai dengan penyelenggaraan sholat jum’at bersama di masjid Al-Alam. Upacara peresmian tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Sulawesi Tenggara, Abdurrahman Saleh yang juga merupakan Ketua DPW PAN Sulawesi Tenggara, para pejabat dan masyarakat muslim kota Kendari.

Letaknya yang tak lazim dan bangunan ma jidnya pun elok, menjadikan masjid ini sebagai salah satu objek wisata favorit warga.

Objek wisata baru kota Kendari

Pembangunan di kompleks masjid terapung ini masih dilanjutkan untuk dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan prasarana pendukung. Termasuk didalamnya pembangunan taman di ulau reklamasi di depan masjid, causeway atau jalan hubung di sisi selatan dan sarana sarana pendukung lainnya.

Meski beberapa poin berbeda dengan rencana awal, Masjid Terapung Al-Alam ini kini bediri begitu megah di tengah tengah laut teluk Kendari dan menjadi Ikon baru kota Kendari dan provinsi Sulawesi Tenggara. Selain menjadi tempat ibadah kompleks masjid ini kini juga menjadi objek wisata baru bagi masyarakat Kendari dan sekitarnya.

Ruas jalan hubung ke masjid ini yang cukup panjang, menjadi tempat pavorit warga untuk berolah raga atau sekedar melepas lelah menikmati pemandangan laut teluk kendari dengan Masjid Al-Alam sebagai Ikon nya. Setiap hari tempat ini selalu ramai dikunjungi warga termasuk mereka yang datang untuk sekedar ber-selfie ria, di luar waktu sholat.(dari berbagai sumber, data diolah).***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Minggu, 09 Juni 2019

Masjid Agung Asmara, Eritrea

Masjid Agung Asmara dengan nama resmi yang terpampang di serambi nya itu "Masjid Al-khulafaur Rasyidin".

Asmara adalah Ibukota Negara Eritrea, salah satu Negara yang berada di timur laut Afrika dan menghadap ke laut merah. Eritrea merupakan salah satu Negara termuda di dunia, baru memproklamirkan kemerdekaanya pada tanggal 24 Mei 1993 dari Ethiopia. Sejarah perjuangan kemerdekaan Eritrea begitu panjang sejak wilayah ini berturut turut dikuasai oleh kerajaan Aksum, Italia, Inggris dan pemerintah federal Ethiopia.

Dimasa pemerintahan federal Ethiopia, Eritrea dijadikan provinsi ke 14 di Ethiopia, sekaligus juga sebagai satu satunya provinsi di Ethiopia yang memiliki akses ke laut tengah. Perseteruan panjang dengan Ethiopia berahir dengan kemenangan dalam referendum yang disponsori oleh PBB ditahun 1993. Seiring dengan kemerdekaan Eritrea, secara geografis seluruh wilayah Negara Eritrea ini mengunci dan mengurung wilayah Ethiopia dari akses ke laut merah.

Islam dianut oleh 52% dari total penduduk Eritrea. Islam masuk pertamakali ke Eritrea pada abad ke-7 Hijrah, sebagaimana di Ethiopia, ketika Nabi Muhammad s.a.w. melakukan hijrah beliau yang pertama ke negara tersebut (615 Masehi). Namun spesifikasi masuknya Islam di Eritrea terjadi pada abad ke-8, ketika para pembawa misi Islam memasuki Kepulauan Dahlak dan kota pantai Massawa.

Pelataran di depan masjid agung Asmara.
Meskipun mayoritas, secara politis, ummat Islam di Eritrea mengalami tekanan-tekanan, karena kekuasaan pemerintahan didominasi oleh kaum Krsten Ortodox, sehingga muncul parpol-parpol Islam yang bertujuan untuk menekan pemerintahan Isaias Afwerki, agar berlaku adil dan proporsional terhadap Islam. Karena kegigihan ummat Islam Eritrea, akhirnya mereka dicap sebagai kaum Islam fundamentalis dan teroris.

Masjid Agung Asmara

Masjid Agung Asmara atau dalam bahasa Italia disebut Grande Moschea di Asmara, dan beberapa nama lainnya yang digunakan adalah Al Kulafah Al Rashidan, Al Kulafah Al Rashidin, Al Kuaka Al Rashidin or Al Khulafa Al Rashiudin, adalah salah satu bangunan dengan nilai seni tinggi di pusat kota Asmara. Dibangun tahun 1938 pada saat wilayah Eritrea dan Ethiopia masih menjadi wilayah jajahan Italia. Pembangunannya atas perintah Bennito Mussolini untuk menghormati keberadaan muslim suni di kota tersebut.

Khulafa al-Rashidun Mosque
Selam Street, Asmara, Eritrea
Koordinat : 15°20'20"N   38°56'29"E


Lokasi masjid ini berada di Harnet Avenue (sebelumnya dikenal sebagai Viale Mussolini) di pusat kota Asmara. Masjid Agung Asmara merupakan dari 3 bangunan paling terkenal di Asmara bersama sama dengan Gereja Our Lady of the Rosary dan Katedral Enda Mariam Coptic Cathedral. Masjid Agung Asmara berada di ruas jalan Selam street, berdekatan dengan komplek pasar di kota Asmara.

Masjid ini rancangannya ditangani oleh Guido Ferrazza, dengan maksud untuk menghormati muslim suni yang merupakan 50% dari seluruh penduduk Eritria. Pengaruh arsitektur Romawi terasa kental pada bangunan masjid ini terutama pada bagian kubah besar danmenaranya. Bangunan masjid dan menaranya ini terlihat hampir dari seluruh penjuru kota.

Jemaah masjid agung Asmara yang meluber hingga pelataran depan dan jalan jalan akses di depan masjid.
Bangunan masjid ini dibangun dua lantai dan dua balkoni dengan gaya rococo italia atau kemudian dikenal dengan gaya baroque. Dibagian bawah menara masjid terdapat ekterior galeri yang dibagi menjadi tiga bagian. Sedangkan pilar pilar ganda di beranda masjid ini dibuat dari dekemhare travertine yang dipadu padan dengan Pualam Carrara.

Fitur lainnya dari masjid ini tentu saja adalah adanya ruang mihrab yang juga menggunakan bahan bangunan pualam carara, begitupun area area lainnya di dalam masjid. Sedangkan halaman terbuka di depan masjid ini ditutup dengan potongan potongan batu hitam dalam ukuran besar yang disusun apik dalam pola geometric. Arsitektur masjid agung Asmara ini memancarkan ruh rasionalime, klasik dan Islami dan Asmara telah menerima anugerah dari UNESCO sebagai cagar budaya dunia.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga