Saturday, August 20, 2016

Masjid Jamik Hopong Benang Merah Masuknya Islam ke Tapanuli Utara

Masjid Jami' Kampung Hopong 

Masjid Jami’ Hopong dibangun sekitar tahun 1816 oleh Laskar Paderi dari Sumatera Barat, memiliki benang merah dengan sejarah masuk–nya Islam ke Tapanuli dan Sumatera Utara. Semula terbuat dari bangunan tepas bambu beratap ilalang. Beberapa tahun kemudian diperluas oleh Tuanku Rao. Dalam perjalanan berikutnya, Masjid tersebut dibangun kembali dengan bentuk rumah panggung dari kayu. Kemudian sekitar tahun 1950, diganti atapnya menjadi seng.

Karena itu banyak pendapat mengatakan, Masjid Hopong memiliki benang merah terhadap masuknya Islam ke Tapanuli Utara. Namun perkembangan Islam di daerah itu tidak lancar, terutama seteah masuknya pengaruh Kristen yang dikembangkan Missionaris  Jerman Pendeta Nommensen dari arah kawasan Toba. Begitupun, di desa itu pernah  bermukim tokoh tasawuf yang punya berpengaruh seperti Lobe Pohom Pospos, Lobe Zakaria Sigian dan lainnya.

Lokasi Masjid Jami’ Hopong

Masjid Jamik Hopong
Dusun Hopong, Desa Dolok Sanggul
Kecamatan Simangumban
Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Koordinat Geografi : 1°44'13.12"N 99°13'41.18"E


View Masjid Jamik Hopong in a larger map

Dusun Hopong adalah satu dari lima dusun dalam wilayah Desa Dolok Sanggul bersama dengan dusun Hopong, Panongkaan, Hapundung, Pansinaran, Lumban Garaga. Masuk dalam wilayah kecamatan Simangumban. Kecamatan seluas 150 km persegi dan merupakan satu dari 15 kecamatan di dalam wilayah kabupaten Tapanuli Utara, provinsi Sumatera Utara. Dusun ini dikenal sebagai dusun terpencil, tertinggal dan termiskin di wilayah propinsi Sumatera Utara. Lokasinya jauh dari keramaian kota, 40 kepala keluarga warga dusun ini yang semuanya beragama Islam, tak terjangkau kendaraan bermotor, belum ada penerangan listrik PLN, tak terjangkau siaran TVRI, tak terjangkau sarana telekomunikasi telepon maupun sinyal telepon genggam.

Dusun Hopong hanya dapat dicapai dengan bejalan kaki tidak kurang 24 KM dari jalan beraspal. Dapat ditempuh melalu jalur pekan Simangumban. Atau dari desa Padang Mandailing, kecamatan Saipar Dolok Hole melalui hutan belantara. Satu satunya kendaraan yang dapat sampai disana adalah kendaraan Jip gardan ganda itupun hanya pada musim kemarau dengan resiko kecelakaan yang sangat tinggi karena medan yang terlalu sulit untuk di lalui kendaran.

Jalan yang dibuka  Pemkab Taput dengan pasir dan batu (Sirtu) sepanjang 8 KM, warga setempat melilih jalan kaki menuju dusun tersebut melewati dusun Lumban Garaga, Pansinaran, Panongkalan, dengan menelusuri celah-celah bukit barisan yang terjal dengan panorama alam yang asri, hutan perawan yang hijau dan hamparan lahan tidur yang luas.

Rehabilitasi Masjid Jami’ Hopong

Idul fitri 1413 H Masjid Jami’ Hopong sudah tampak Marhilong (mengkilap) begitu muslim setempat menyebutnya. Masjid tua ini sudah di rehabilitasi, lantainya sudah dikeramik, beratap seng, bertikar karpet, berlampu listrik tenaga surya dengan pengeras suara (TOA) yang dapat mengumandangkan azan radius  5 KM. Setelah direhap, tak ada lagi suara “Rukrek” saat  orang masuk Masjid karena strukturnya yang sudah reot.

Sajadah kumal yang terbuat dari tikar pandan sudah berganti dengan karpet, Mimbar yang kumuh dimakan rayap  sudah terbuat dari papan yang sudah dihaluskan. Atap yang sering bocor jika turun hujan sudah diganti seng baru berwarna putih. Tidak lagi  seperti rumah panggung yang menunggu rubuh. Kegiatan mengaji atau membaca Al-Qur’an dikalangan anak-anak, sudah dapat dilaksanakan malam hari berkat penerangan lampu listrik tenaga surya.

Bahkan air wudhu yang daholoe sering “mellep” (tak jalan), kini sudah lancar. Pancuran dekat masjid itu, kini juga sudah menjadi tempat mandi yang mengasikkan dengan air yang jernih dan deras. Warga dusun Hopong pun sudah dapat menggunakan pancuran itu sebagai tempat MCK utama. Malam takbiran disana pun, sudah semarak.

Perubahan masjid Jamik Hopong dari yang reot menjadi “marhillong” tidak terjadi begitu saja. Ini perjuangan panjang ummat islam dan perantau desa itu.  Ummat islam disana, sudah bertahun-tahun mendambakan  pembangunan masjid itu, betapa sulitnya menggalang dana untuk membuat Masjid Jamik Hopong seperti kondisi saat ini. Maklum, walau 100 persen penduduknya beraga Islam, tapi hanya petani tradisional yang miskin. Perantau desa itu pun belum ada yang berhasil.

Adalah Mayjen Simanungkalit yang merupakan salah satu pribumi setempat yang hidup diperantauan di tahun tahun 2009 bincang-bincang dengan Sigit Praono Asri SE, (kala itu) Ketua Fraksi PKS DPRD Sumut. Atas advokasi beliaulah, Masjid Jamik Hopong mendapat alokasi bantuan dari Biro Sosial dan kemasyarakatan Pemprovsu sebesar Rp 50 juta tahun anggaran 2010.

Sajadah dari karpet di masjid ini merupakan bantuan pribadi Arifin Nainggolan SH,MSi, yang saat itu juga anggota Fraksi PKS DPRD Sumut dan kini Ketua Komisi C DPRD Sumut. Dialah yang membeli dua gulungan karpet dan mengirimkan sendiri sampai ke Hopong. Sedangkan pasilitas sambungan air minum sepanjang 4 KM lebih yang kini sudah lancar hingga mampu melayani dusun Hopong dan tiga dusun di sekitarnya, berkat advokasi Daudsyah MM yang saat itu Kepala Biro Pemberdayaan Masyarakat Pemprovsu melalui program PNPM Mandiri yang merupakan program pemerintah melalui Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), guna mengatasi permasalahan pembangunan di tengah-tengah masyarakat.

Dengan direhapnya Masjid Jamik Hopong, warga sangat bersyukur. Walau hanya rehap sederhana, masih berdinding papan, ummat Islam disana sudah berterima kasih. Dalam ukuran desa itu, Masjid Jamik Hopong saat ini sudah merupakan nikmat luar biasa. Mereka merasa masih berkesempatan menikmati pembangunan walau setelah 65 tahun Indonesia merdeka. Mereka berharap, jika pemerintah berkenan, bantuan rehap untuk Masjid Jamik Hopong kiranya dilanjutkan. Karena masjid itu belum memiliki kamar dan bak wudhu, dan bagian teras belum di kramik. Warga Hopong juga masih berharap kiranya jalan ke desa dibangun pemerintah, sehingga dapat dilalui kenderaan roda empat dengan mulus. (disadur dari Catatan Mudik Mayjen Simanungkalit).***


Wednesday, August 17, 2016

Masjid Lawang Kidul (MLK) Palembang (Bagian 3)

Pelataran depan Masjid Lawang Kidul dengan prasasti wakaf di bagian depan mihrab nya

Wakaf Kyai Marogan

Seperti telah disebutkan sebelumnya, l
ahan seluas 2104 meter persegi tempat masjid Lawang Kidul ini bediri beserta bangunan masjid dan seisinya merupakan wakaf dari Kiai Merogan yang aslinya di Ikrarkan di depan Paduka Pangiran Penghulu Fatih Agama Muhammad ‘Aqil disaksikan empat penghulu lainnya, pada hari Ahad tanggal 6 Syawal 1310H. Kemudian dijelaskan lagi didalam akta pengganti ikrar wakaf nomor W.3/001/BA.03.2/05/1990 tanggal 4 Jumadil Awal 1411H / 22 Nopember 1990M.

Pengesahan Nadzir Nomor W.5/001/BA032/05/1990 Tanggal 4 Jumadil Awal 1411H / 22 Nopember 1990M. Sertifikat Nomor 953/1993 tanggal 10 Maret 1993. Tanggal 6 Syawal 1310H atau bertepatan dengan tahun 1890M yang merupakan tanggal dari pernyataan wakaf dari Kyai Merogan yang kini dijadikan rujukan sebagai tahun pembangunan masjid ini.

Prasasti Salinan Akta wakaf Kiai Marogan

Salinan Akta Wakaf

Berikut ini adalah salinan akta wakaf yang sudah kami alih aksara. Ada beberapa bagian kata dan kalimat bewarna merah adalah bagian yang kami belum fahami atau bahkan bisa jadi kami salah dalam membacanya, termasuk beberapa perlengkapan atau perabot di dalam masjid yang disebutkan dalam akta yang bertanggal 6 Syawal 1310H/1890 M.

Cap Penghulu
Tandatangan
Penghulu Muhammad ‘Aqil

Surat Tanda Munjaz Wakaf Lillahita’ala Nomor Empat Belas

Kepada hari Ahad tanggal enam Syawal Seribu Tiga Ratus Sepuluh, betul berhadap di muka Roada Agama Paduka Pangiran Penghulu Fatih agama Muhammad ‘Aqil serta empat khotib Penghulu yang berteken di bawah ini yaitu Kiagus Haji Ma’ruf Haji Akhmad Haji Abdul Rokhman Kiagus Haji Abdul Karim – Alih seseorang laki laki nama Masagus Haji Abbdul Hamid Bin Masagus Mahmud Alias Kanang, umur delapan puluh tahun lebih kurang.

Orang ‘alim mengajar di Palimbang, Jiwa di Kampung empat ulu – karena dia orang akan membuwat surat keterangan nazar Munjiz wakaf lillahita’ala – maka Roada agama periksa (menerima) kepadanya yang diya orang di dalam Sihat badan nya dan simpurnah Aqalnya lagi ja’zal tashrif min ghoir ‘akroha wal ajbar – kemudian maka terikrarlah uleh Masagus Haji Abdul Hamid Al-Mazkur

dari aku ada punya milik yaitu duwa masjid di negeri Palimbang, Satu masjid di Kampung karang Baru marogan, dan lagi satu masjid di kampung lima ilir Lawang Kidul sarat pekakas pekakas yang ada di dalam itu masjid yang tersebut seperti Setulub setulub dan lampu lampu dan kandil kandil dan satrun satrun dan Gerubuk gerubuk semuanya pada yang ada di dalam itu duwa masjid yang tersebut pada masa sekarang”.

“Juga aku nazarkan dengan nazar manjiz aku ‘abdikan waqaf lillahita’ala selama lamanya. Di tempat orang orang berbuat ibadah dan sembahyang. Tidak harus lagi ahli waris yang kubuwat juwal atau gadaikan atau bahagi waris aku tidak rhido duniya akhirat. Sehadangan catang sarot Aku Masagus Haji Abdul Hamid Al-Muzakir berteken dibawah ini dihadapan roada agama yang tersebut demikianlah adanya.

Khotib Penghulu, tanga tangan, Ki Agus Haji Ma’ruf
Khotib Penghulu, tanda tangan, Haji Akhmad
(Haji Masagus Abdul Hamid)
Khotib Penghulu, tanda tangan, Haji Andul Rohman
Khotib Penghulu, tanda tangan, Ki Agus Abdul Karim

Kiri depan adalah adalah prasasti salinan akta wakaf dari Kiai Marogan

Sejarah Pembangunan Masjid Lawang Kidul (MLK)

Rumah ibadah ini dibangun dan diwakafkan ulama Palembang Kharismatik, Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang pada tahun 1310 H (1890 M), angka tahun pembangunan ini merujuk kepada tanggal di akta wakaf dari Kyai Merogan di depan Penghulu Muhammad ‘Aqil pada hari Ahad tanggal 6 Syawal 1310 Hijriah, yang bertepatan dengan tahun 1890 Miladiah (masehi).

Beliau lebih dikenal sebagai Kiai Merogan, merujuk kepada tempat tinggal dan pusat aktifitas da’wah beliau yang berada di muara sungai Ogan di Kawasan Seberang Ulu, tak jauh dari stasiun Kereta Api Kertapati. Sungai Ogan merupakan salah satu dari sekian banyak anak Sungai Musi.

Plakat Renovasi bangunan tambahan Masjid Lawang Kidul

Sejak dibangun tahun 1890 masjid Lawang Kidul telah dilakukan pemugaran tahun 1983-1987. Meskipun sebagian besar materialnya asli, ada beberapa bagian yang terpaksa diganti, terutama bagian atapnya yang semula genteng belah bamboo, kemudian diganti dengan genteng kodok. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Material bangunan asli bangunan masjid ini terdiri atas campuran kapur, telur, dan pasir. Sedangkan bahan kayunya –tiang, pintu, atap, dan bagian penunjang lainnya- terbuat dar kayu Ulin atau dalam bahasa Palembang disebut Kayu Onglen.

Sebagaimana disebutkan di plakat yang dipasang di beberapa bagian masjid ini, Renovasi bangunan tambahan Masjid Lawang Kidul dilasanakan mulai tanggal 7 Januari 2008 dan selesai pada tanggal 20 Juni 2012 dengan dana sebesar lebih kurang Rp. 1 (satu) Milyar Rupiah dari sodaqoh jariyah muslim dan muslimat.

Ornamen atap mihrab dan dan puncak atap masjid Lawang Kidul dengan bentuk yang unik

Siapakah Kiai Merogan

Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang atau Kiai Merogan dilahirkan tahun 1811 dan wafat pada tanggal 31 Oktober 1901. Ayahnya adalah seorang ulama dan pedagang sukses. Beliau cukup lama menetap di Mekkah, kemudian pulang ke kampung halaman – bersama murid-muridnya, Kiai Merogan berda’wah menggunakan perahu hingga ke daerah pelosok di Sumatera Selatan.

Selama tinggal di Mekah beliau sempat membangun Tiga pemondokan jemaah haji bagi para jemaah dari Nusantara dan sekitarnya. Di tanah air beliau, selain Masjid Lawang Kidul dan Masjid Kiai Merogan di Palembang, Kiai Merogan masih memiliki peninggalan berupa masjid di Dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir (Ogan Ilir). Sayang, kebakaran hebat pernah menghaguskan Kampung Karangberahi pada antara tahun 1964-1965. Kebakaran ini juga, diduga menghanguskan peninggalan berupa karya tulis Kiai Merogan. Makam beliau berada di areal Masjid Kiai Merogan, di kawasan Seberang Ulu, Kota Palembang dan hingga kini makam beliau terawat baik dan senantiasa ramai peziarah. 

Kiai Marogan diketahui juga mempunyai seorang Adik Laki Laki bernama KH. Masagus Abdul Aziz lebih dikenal dengan sebutan Kiai Mudo karena usianya yang lebih muda dari Kiai Marogan. Bila Masagus Abdul Hamid lebih dikenal sebagai Kiai Marogan karena pusat aktivitasnya yang berada di Muara Sungai Ogan, adik beliau, KH Masagus Abdul Aziz lebih dikenal luas di daerah Belida yang membentang di sepanjang aliran Sungai Belida seperti Gelumbang, Gumai, Kartamulia, Betung, Sukarame, Lembak dan sekitarnya. Baik Sungai Belida maupun Sungai Ogan merupakan anak sungai Musi yang sama sama bermuara ke sungai Musi. (selesai)

---------------------------

Artikel Terkait



Masjid Lawang Kidul (MLK) Palembang (Bagian 2)

Mimbar dan mihrab Masjid Lawang Kidul

Interior Masjid Lawang Kidul

Di hari biasa, masjid ini dapat di akses dari pintu sebelah utara atau bila dari arah gerbang ke sebelah kiri bangunan. Area tempat wudhu dan kamar mandi juga berada di sisi ini. Di sebelah utara ini juga sudah ditambah dengan bangunan tambahan menyatu dengan bangunan utama masjid. Sisi selatannya yang merupakan area bangunan tambahan ditutup di hari biasa, karena disana juga merupakan tempat kantor pengurus masjid dan madrasah. Secara keseluruhan bagian dalam masjid ini di dominasi warna putih di bagian atap, soko guru hingga lantai marmernya, sedangkan dindingnya seluruhnya ditutup dengan keramik dinding bewana hijau lumut.

Ada enam pintu berukuran besar di masing masing sisi masjid ini. masing masing pintu berukuran besar dengan dua daun pintu dari kayu di cat putih polos tanpa ornamen. Engsel besi di masing masing pintu itu benar benar tampak tua dan kuno dan pastinya agak sulit untuk menemukannya di pasaran saat ini.

Interior Masjid Lawang Kidul Palembang

Ada empat jendela besar di sisi mihrab. Masing masing jendela terdiri dari dua bagian atas dan bawah. Jendela bagian atas berupa jendela terbuka tanpa jaun jendela hanya ditutup teralis besi lurus, fungsinya sebagai ventilasi udara, namun kini di tutup permanen dengan kaca. Jendela bagian bawah juga di beri teralis namun dilengkapi dengan sepasang daun jendela yang juga polos tanpa ornamen.

Di dalam masjid ini terasa lega dengan atap limasnya yang begitu tinggi di topang oleh empat sokoguru utama setinggi 8 (delapan) meter menopang kayu alang (penyanggah) sepanjang 20 (dua puluh) meter. Disekeliling sokoguru utama ini di tambah dengan 12 (dua belas) pilar tambahan yang berukur lebih kecil masing masing setinggi lebih kurang 6 (enam) meter. Semua pilar tersebut dibuat dari kayu dan dibentuk bersegi delapan. Seluruh struktur atap masjid ini dibuat dari kayu Ulin termasuk 16 (enam belas) sokogurunya.

Cahaya matahari senja menerobos masuk lewat jendela MLK Palembang

Ruangan utama dari bangunan asli masjid ini berukuran 20 x 20 meter, ditambah dengan bangunan tambahan sehingga luas seluruhnya menjadi 40 x 41 meter. Seluruh dinding bagian dalamnya di lapis dengan keramik dinding bermotif natural bewarna hijau lumut. Berbeda dengan masjid masjid tradisional Indonesia di tanah Jawa yang rata rata memiliki sumber cahaya dari jendela jendela kecil yang diletakkan diantara susunan atap bertingkatnya. Di masjid ini bagian atap-nya tertutup seluruhnya. Sumber cahaya matahari hanya dari jendela masjid. Seluruh plafon masjid juga dibiarkan polos bercat putih tanpa banyak ornamen selain kayu kayu kaso-nya yang dihaluskan dan di profil seragam.

Ada satu lampu gantung berukuran besar di tengah masjid, dan beberapa lampu lampu gantung berukuran kecil di bagian lainnya. Hanya ada satu ornamen lukisan di kayu Alang Panjang (kayu penopang atap yang di sokong oleh 12 soko guru yang lebih kecil) berupa lukisan bermotif flora bewarna kuning tua, hijau, merah dan merah muda. Ornamen yang sama juga ditempatkan di pertemuan atap dan sisi teratas dinding bagian dalam. Lukisan floral ini sama persis dengan ormanen di Masjid Agung (Sultan) Palembang.

Interior Masjid Lawang Kidul Palembang yang sangat khas

Mimbar Masjid Lawang Kidul (MLK)

Bagian yang paling menarik perhatian di dalam masjid ini adalah mimbar dan mihrabnya. Sejatinya ruang mihrab ini merupakan tempat imam memimpin sholat, namun di masjidi ni sama seperti di Masjid Agung Palembang, posisi Imam tidak di dalam mihrab tapi sedikit di depan mihrab agak disamping mimbar, ditandai dengan sebuah pembatas berukir. Ruang mihrabnya digunakan untuk menempatkan beberapa perangkat pengeras suara dan peralatan lainnya. Ruang mihrabnya dilengkapi dengan dua pintu akses keluar masuk di sisi kiri dan kanannya, dan dihubungkan ke masjid dengan dua akses berbentuk gapura disisi kiri dan kanan mimbar.

Mimbar masjid ini dibangun dari susunan batu bata dan semen berupa susunan undakan anak tangga, khatib akan berdiri di anak tangga tertinggi saat menyampaikan khutbah. Sisi atas mimbar berbentuk kubah bagian puncaknya diberi oranmen seperti lampu aladin dari bahan metal bewarna emas. Sedangkan di sisi depan kubahnya ditempatkan dua ornamen berbentuk kuncup kembang. Sekelilingnya diberi profil dari semen, dengan sedikit strip bewarna emas. Ada dua bendera segitiga bewarna hijau bertuliskan kalimat tauhid “Laa Ila ha Illallah” dan beberapa kalimat lainnya dipasang di bagian atas mimbar.

Detail Mimbar Masjid Lawang Kidul Palembang

Di sisi depan tangga mimbar diberi gapura dari kayu berukir khas Palembang berbalut warna emas dengan dua tiang bulat sebagai penopangnya. Ukirannya di dominasi ukiran bermotif flora. Ukiran floral warna emas juga menghias bagian tempat duduk khatib. Ornamen di ujung dua tiang mihrab ini memang tak biasa, mirip sepasang buli buli dengan bagian ujungnya berbentuk batangan bewarna kuning yang sengaja dibengkokkan. Reiling tangga mimbar ini juga dihias dengan ukiran floral bewarna emas. Sedangkan bagian lain dari mimbar di tutup dengan keramik dinding bewarna hijau lumut sama seperti dinding bagian dalam masjid.

Bangunan tambahan di masjid ini menambah luas masjid di disi utara dan selatan serta bagian belakang masjid. Tangga menuju ke lantai dua masjid ini diberada di area tambahan dibelakang masjid. Pintu ke lantai dua ini di kunci di hari biasa. Terlihat jelas upaya untuk membuat bangunan tambahan ini semirip mungkin dengan bangunan aslinya, meski tidak sepenuhnya identik.

Detail Mimbar Masjid Lawang Kidul Palembang

Pengurus Masjid Lawang Kidul

Pengurus Masjid Lawang Kidul berbadan hukum dengan nama Yayasan Masjid Lawang Kidul. Dibentuk berdasarkan Akta Notaris Haji Gunata Ibrahim, SH. Nomor 066 tertanggal 13 Juli 2012. Struktur kepengurusan Yayasan Masjid Lawang Kidul Palembang Masa Khidmat 2012- 2017 adalah sebagai berikut :

Pembina :       

Kemas Komarudin, A. Halim, S.Pd (Ketua) 0821 8212 5853
Kiagus H.M. Kamil Abu Mansur 0811 7860 69
Masagus H. Memet Ahmad, SE.  0711 7061 250
Yahya Zagladi
Kiagus M, Janaluddin A. Syukur 0852 7344 7070

Area Tamabahan (baru) di Masjid Lawang Kidul Palembang. Dua pilar kayu pada foto kiri atas adalah tiang asli menara masjid ini. 

Pengurus:       

Mansur Husen, S.Pd (Ketua Umum) 0711 7929 306
Kiagus H.M. Thoyyib A. Roni (wakil ketua) 0711 7371 828
Hendrik Junior Ibrahim (sekretaris) 0813 6749 2589
Asep Kokasih Mahdi (Wakil Sekretaris) 0821 8418 2210
Kiagus Lukmanul Hakim (Bendahara) 0711 777 9849
Bunyamin Bahruddin (wakil Bendahara) 0813 7324 0014

Pengawas:     

M. Syukur H. Alwi (Ketua
Muhammad Yusuf Atma 0711 5313 863
Ardianto Abus
A. Sofiyan Sarmanik 0853 6670 3037
Kiagus Abdullah Amin 0812 7307 2174

Detil Interior Masjid Lawang Kidul Palembang

Khsusus untuk pelaksanaan sholat Jum’at, masjid Lawang Kidul sudah mengatur Jadwal Imam, Khatib serta Imam, Khatib cadangan selama satu tahun penuh. dalam jawal yang sudah disusun tersebut dimuat juga himbauan yang menghimbau kepada para imam dan khatib serta cadangannya untuk hadir lebih awal paling telat 15 menit sebelum waktu zuhur, kemudian di atur juga bahwa penyampaian khutbah jum’at antara 10-15 menit saja mengingat kepentingan Jemaah yang sangat beragam

Para imam dan khatib yang berhalangan hadir untuk memberitahukan kepada pengurus dan tidak perlu memberikan mandat kepada orang lain sebagai pengganti. ditambahkan pula bahwa bagi Imam dan Khatib yang bertugas pada Jum’at awal bulan diharapkan untuk mengisi acara “cawisan” (ceramah agama) pada pukul 11.30 WIB sampai dengan beduk dibunyikan sebagai tanda waktu sholat Zuhur/Jum’at telah tiba, selama ± 30 Menit. ****

-----------------------------

Bersambung ke bagian 3

Artikel Terkait



Masjid Lawang Kidul (MLK) Palembang (Bagian 1)

KAWASAN MENUTUP AURAT. Masuk ke pekarangan masjid ini terpampang tulisan besar "kawasan menutup aurat".  Bagian yagn dipagar besi itu adalah prasasti yang bertuliskan akta wakaf masjid ini dari Kyai Marogan.

Berkunjung ke masjid ini terasa terlempar kembali ke masa perkembangan Islam di Palembang. Terlebih saat masuk ke dalam masjid dengan langgam masa lalu yang teramat kental. Masjid Lawang Kidul adalah satu dari tiga masjid tua di Kota Palembang dengan arsitektur yang serupa dan masih terawat apik ke asliannya hingga kini. Masjid Agung Palembang atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II yang kini berstatus sebagai masjid nasional, Masjid Ki Marogan dan Masjid Lawang Kidul, adalah tiga masjid tua saksi bisu perkembangan Islam di Palembang dan sekitarnya serta perjalanan peradaban-nya.

Masjid Lawang Kidul sangat identik dengan Masjid Kiai Merogan karena memang sama sama dibangun oleh Kiai Merogan di era yang nyaris bersamaan. Masjid Lawang Kidul berada di tepian Sungai Musi, di kawasan Kelurahan Lawang Kidul, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang. Lokasinya persis bersebelahan dengan Kawasan Pelabuhan Boom Baru, pelabuhan tua di tepian Sungai Musi di kota Palembang yang masih berfungsi hingga kini. Dan juga tidak terlalu jauh dari Pasar Kuto.

Lokasi Masjid Lawang Kidul (MLK)
Jalan Selamet Riyadi, Lorong Masjid Lawang Kidul
Kecamatan Ilir Timur II, kota Palembang
Sumatera Selatan, Indonesia


Lokasi masjid ini berada di tengah tengah pemukiman warga di tepian Sungai Musi, Untuk menuju ke Masjid ini dari Jalan Slamet Riyadi dari arah pasar Kuto, beberapa meter sebelum gerbang Pelabuhan Boom Baru ada Lorong Masjid Lawang Kidul yakni sebuah Gang Sempit di sisi kanan jalan raya lengkap dengan gerbangnya dengan tulisan “MASJID LAWANG KIDUL” berukuran cukup besar. Ruas gang tersebut hanya cukup untuk dilalui satu kendaraan roda empat. 

Bila dengan angkutan umum, dari pusat Kota Palembang (Pasar 16 Ilir) naik angkot tujuan Sayangan – Lemabang. Jangan lupa bilang ke sang sopir angkot, minta turun di Masjid Lawang Kidul. Bila menginginkan perjalanan yang berbeda anda dapat menggunakan moda angkutan air menyusuri Sungai Musi dengan menyewa perahu dari kawasan BKB (Benteng Kuto Besak) menuju ke dermaga Masjid Lawang Kidul di belakang masjid ini, dengan moda angkutan air ini anda juga dapat berwisata menikmati pemandangan kota Palembang dari sungai Musi termasuk melihat Jembatan Ampera yang melegenda itu dari sungai musi.

Papan nama di muara gang masjid Lawang Kidul di Jalan Slamet Riyadi, lengkap dengan keterangan tentang status masjid tersebut.

Untuk Tarif angkutan umum sebaiknya ditanyakan langsung di lokasi sebelum menggunakan salah satu jasa angkutan umum tersebut. Dari ruas Jalan Slamet Riyadi, masjid ini dapat dicapat dengan berjalan kaki melalui lorong (gang) Masjid Lawang Kidul sambil menikmati suasana kampung disana yang beberapa rumah penduduknya masih berupa bangunan asli khas Palembang. Sebelum masuk kawasan masjid, ada baiknya terutama bagi pengunjung perempuan agar menutup aurat (mengenakan jilbab). Himbauan ini berdasarkan plang bertuliskan “Kawasan Menutup Aurat” di area halaman masjid.

Ruas jalan sempit ini tidak terlalu panjang, di ujung jalan kita akan langsung bertemu dengan gerbang masjid ini dengan pekarangan yang cukup luas untuk parkir kendaraan. Warga disana pun cukup ramah, saat berkunjung kesana, warga setempat yang kebetulan sedang berada di lokasi dengan ramah menunjukkan arah ke masjid ini, termasuk mengarahkan kendaraan masuk dan keluar gang sempit tersebut kembali ke jalan raya.

Gerbang Masjid Lawang Kidul diantara rumah rumah penduduk 

Warisan Masa Lalu Yang Masih Terawat

Patut di acungi jempol kepada otoritas dan muslim kota Palembang yang mampu mempertahankan salah satu warisan sejarah Islam di kota ini. Meski telah beberapa kali mengalami pemugaran, keaslian masjid ini masih dapat kita nikmati hingga kini. Bangunan Masjid Lawang kidul dibangun sangat mirip dengan bangunan asli Masjid Sultan Palembang (Masjid Agung Palembang) yang merupakan masjid resmi Kesultanan pada masanya.

Bangunan utamanya berdenah segi empat dengan atap limas bersusun tiga seperti halnya dengan masjid Agung Demak. Kemiripan arsitektur masjid masjid di wilayah kesultanan Palembang dengan Bentuk Masjid Demak dapat dimaklumi karena memang dibangun setelah Majid Demak dan Kenyataan sejarah pun menunjukkan keterikatan yang kuat antara muslim Palembang dengan Kesultanan Demak, mengingat bahwa Raden Fatah, selaku Sultan pertama di Kesultanan Demak adalah putra Prabu Brawijaya dari Majapahit yang lahir dan besar di Palembang.

Masih Asli

Meski demikian. Masjid masjid tua di Palembang memiliki ciri khasnya sendiri terutama pada bagian atapnya yang dibentuk sedemikian rupa sehingga memiliki penampilan mirip dengan atap bangunan kelenteng. Ornamen seperti tanduk atau seperti taji atau duri menjadi ciri khas bangunan atapnya dengan jumlah rata rata 12 buah di masin masing sisi. Ornamen khas Palembang juga ditemukan dibagian lisplang atau sisi bawah bagian ujung atap, dan bagian bawah atap tertinggi yang ditutup seluruhnya dengan kayu membuat susunan atap teratas masjid ini sebagai sebuah kubah utuh.

Ornamen di puncak tertinggi atap masjid ini juga sangat khas. Sebuah bentuk kubah berukuran kecil yang juga dilengkapi dengan ornamen tanduk tanduk kecil berjumlah masing masing 3 buah di tiap sisi, ada beberapa bentuk sulur sulur berbentuk bunga di masing masing sisi. Di puncaknya dilengkapi dengan ornamen bulan bintang yang juga sangat khas. Ornamen Bulan sabitnya simetris ke atas seperti ornamen bulan sabit di masjid masjid Turki namun dengan bentuk yang lebih lebar tidak ramping seperti bulan sabit di masjid masjid Turki, sedangkan ornamen bintangnya digunakan bintang bersegi delapan yang sepertinya menyimbolkan delapan penjuru mata angin.

Ornamen di Puncak atap Masjid Lawang Kidul

Mihrabnya dibangun menjorok keluar bangunan utama sebagai sebuah bangunan yang menempel ke bangunan utama namun dilengkapi dengan sebuah pintu akses sendiri. Atap bangunan mihrab ini juga dibangun dengan bentuk yang khas, dengan beberapa ornamen unik di bagian puncak atapnya. Bangunan masjid ini dilengkapi dengan sebuah menara yang tidak terlalu tinggi, bertingkat empat dengan ukuran makin megecil makin mengecil. Tiga tingkatan menara dilengkapi dengan balkon kecuali tingkat teratas.

Dahulunya menara ini difungsikan sebagai tempat muazin mengumandangkan azan dari balkoninya di tingkat paling atas. Kini menara ini masih berfungsi sebagaimana semula hanya saja muazin tidak lagi memanjat ke atas menara diganti dengan beberapa unit pengeras suara yang di tempatkan dibagian paling atas menara.

Menara Masjid Lawang Kidul

Sebelum dibangun bangunan tambahan di sisi selatan bangunan utama, menara masjid ini masih dapat dilihat dengan jelas dari sisi selatan masjid. Namun kini menara ini sudah masuk ke dalam bangunan tambahan meski masih tetap dijaga seperti aslinya. Lantai dasar menara kini sejajar dengan lantai cor di bangunan tambahan. Dari dalam bangunan hanya dapat dilihat dua buah pilar kayu berukuran besar yang merupakan tiang asli dari menara ini. sedangkan tangga dan bagian lainnya dari menara ini dibagian bawah sudah dibongkar.

Di depan bangunan mihrab, di halaman depan masjid di terdapat prasasati yang berisikan salinan surat akta wakaf dari Kiai Merogan yang seluruhnya ditulis menggunakan aksara Arab Gundul atau aksara Arab Melayu yang ditulis tanpa tanda baca. Di sekeliling masjid ini juga dipasang beberapa penanda batas batas tanah wakaf dimaksud.

Mihrab Masjid Lawang Kidul dari sebelah luar, tampak prasasti wakaf disebelah kiri foto

Sebagai masjid yang dibangun di tepian sungai, masjid Lawang Kidul ini aslinya dilengkapi dengan dermaga kecil di tepian sungai musi yang dikenal dengan nama tangga raja, karena dulunya memang digunakan oleh Sultan dan keluarganya bila ke Masjid ini dari jalur sungai. Tangga itu juga menjadi tempat berlabuhnya Kiai merogan, namun tangga itu kini sudah tidak difungsikan lagi, sebagai gantinya dibangun satu dermaga kecil di belakang masjid ini. disamping masjid ini memang ada ruas jalan kecil untuk pejalan kaki sebagai jalan akses ke dermaga dan jalan akses bagi warga yang tinggal disana. Ruas jalan kecil itu juga masih merupakan lahan masjid Lawang Kidul walaupun berada diluar pagar masjid. 

Dari bagian belakang Masjid Lawang Kidul ini kita bisa melihat jejeran kapal laut yang sedang bersandar di Pelabuhan Boom baru atau kapal dan perahu masyarakat setempat yang sedang wara wiri di sungai Musi. Sungai Musi merupakan salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Indonesia. Lebar sungai ini rata rata mencapai satu kilometer atau lebih, sebuah pemandangan yang jarang ditemui di tanah Jawa.  Dari dermaga di belakang masjid ini kita juga bisa melihat jembatan Ampera yang menjadi Ikon kota Palembang di kejauhan dibalik SPBU terapung milik pertamina beberapa meter ke arah hulu dari masjid ini.

Memandang masjid ini dari arah dermaga menyajikan pemandangan unik tersendiri, tampak menara masjid ini menjulang diantara menara pengawas di Pelabuhan Boom Baru yang kini sudah dibangun lebih moderen, dan menara telekomunikasi dengan berbagai peralatannya yang bergelantungan. Menyiratkan perkembangan peradaban di tempat itu bergandengan dengan warisan masa lalu yang masih terawat baik. Dihalaman masjid ini juga dipasang papan peringatan larangan bagi anak anak untuk bermain bola di halaman masjid ini demi menjaga ketertiban.

Bersambung

Dermaga Masjid Lawang Kidul di lihat dari jendela masjid
MLK dari arah Sungai Musi
Pelabuhan Boom Baru dilihat dari pelataran belakang Masjid Lawang Kidul 

Sunday, August 14, 2016

Mesjid Raya Sultan Akhmadsyah Tanjung Balai, Warisan Kesultanan Asahan

Diantara Ruko dan sarang walet. Masjid Raya Sultan Akhmadsyah dibangun tahun 1886, jauh lebih tua dibandingkan dengan Masjid Raya Al-Mahsun di Kota Medan (1909) maupun Masjid Raya Sulaimaniyah (1894) di kabupaten Serdang Bedagai. Kini bangunan tua bersejarah ini berhimpitan dengan jejeran pertokoan dan bangunan bangunan beton sarang walet yang menjulang menandingi tingginya menara masjid.

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah terletak di jalan Masjid, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan, Kota Tanjung Balai, Provinsi Sumatera Utara. Masjid dibangun di atas tanah wakaf Kesultanan Asahan dengan luas 10.000 meter persegi dan luas bangunan 1000 meter persegi. Masjid Raya ini merupakan bangunan masjid bersejarah yang sudah berumur lebih dari satu abad, warisan dari kesultanan Asahan yang pernah berjaya di Sumatera Timur. Selesai dibangun tahun 1886 digagas oleh Sultan Akhmadsyah yang namanya di-abadikan sebagai nama masjid raya ini. Beliau merupakan Sultan Asahan ke sembilan.

Alamat Masjid Raya Sultan Akhmadsyah
Jalan Mesjid, kelurahan Indra Sakti
Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjung Balai
Provinsi Sumatera Utara, indonesia


Saksi Sejarah Tragedi Pembantaian di Sumatera Timur 1946

Penampilan Masjid Raya Sultan Akhmadsyah di kota Tanjung Balai ini jelas menyiratkan sebuah perjalanan panjang dari sebuah bangunan masjid yang menjadi saksi bisu sebagian perjalanan sejarah kesultanan Asahan dan kota Tanjung Balai khususnya. Masjid ini juga menjadi saksi bisu kerusuhan sosial di bulan Maret tahun 1946, yang meluluhlantakkan kesultanan kesultanan di wilayah Sumatera Timur termasuk Kesultanan Asahan. Di halaman masjid ini terdapat satu makam yang merupakan pemakaman massal 73 korban tewas dalam kerusuhan sosial tersebut.

Kuburan tersebut ditandai dengan batu prasasti berpahatkan 73 nama nama korban penyerbuan dan pembantaian yang terjadi di Asahan, bulan Maret 1946. Jasad-jasad yang ada di kuburan ini pada mulanya ditemukan dalam bentuk tulang belulang yang terserak di Sungai Lendir tahun 2003, sebuah kampung di Asahan, yang untuk mencapainya harus menggunakan perahu atau motor boat. Mereka adalah para petinggi Kesultanan Melayu Asahan beserta cerdik pandai dan masyarakat umum, termasuk dua orang orang Mandailing bermarga Siregar dan Nasution.

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah dengan gerbangnya. Gerbang ini merupakan bangunan baru begitupun dengan satu bangunan menara nya yang lebih tinggi.

Selain Kuburan tersebut, di halaman masjid ini juga terdapat makam para Sultan Asahan dan kerabatnya serta kuburan kuburan keluarga imam dan nazir masjid. Kuburan kuburan tersebut rata rata dilengkapi dengan batu nisan dari batu pualam yang kebanyakan didatangkan dari Penang, Malaysia, berpahatkan nama nama para mendiang dengan hurup Arab Melayu (Arab Gundul) dengan khat yang cukup indah.

Salah satu sultan Asahan yang dimakamkan di halaman masjid ini adalah Tengku Muhammad Husain Syah yang lahir 3 Dzulhijjah 1278 dan wafat 25 Sya'ban sanah 1333, beberapa nisan bahkan bertuliskan tahun yang lebih tua ratusan tahun dari itu. Saat ini di pendopo masjid juga terdapat tiga buah meriam peninggalan Kesultanan Asahan. Sultan Asahan lainnya yang dimakamkan di halaman masjid ini adalah Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah, Sultan terakhir Asahan yang wafat tahun 1980.

Kesultanan Asahan Selayang Pandang

Sejarah Kesultanan Asahan dimulai dengan penobatan Sultan Abdul Jalil sebagai Sultan pertama yang berlangsung meriah disekitar kampung Tanjung pada tanggal 27 Desember 1620. Kesultanan Asahan pernah diperintah oleh delapan orang Sutan yang sejak Sultan Abdul Jalil pada tahun 1620 sampai dengan Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah yang naik tahta sebagai sultan Asahan di tahun 1933. Kejayaan Kesultanan Asahan berahir kelam di bulan Maret tahun 1946. Tujuh bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan di Jakarta.

Mimbar dengan bendera hijau Kesultanan

Pada Bulan Maret tahun 1946 pecahlah apa yang dinamakan Revolusi Sosial di Sumatera Timur yang dimotori oleh PKI dalam sebuah aksi yang disebutnya perlawanan terhadap feodalisme. Kelompok masyarakat bersenjata membantai keluarga Kesultanan Melayu di Asahan, Kualuh, Langkat, Bilah, dan Kotapinang. Pembantaian serupa juga terjadi di Karo serta Simalungun. Konon pada saat itu berita proklamasi kemerdekaan Indonesia yang baru berumur tujuh bulan, bahkan belum sampai ke wilayah Sumatera Timur, termasuk wilayah Kesultanan Asahan.

Massa yang dimotori PKI melakukan penyerbuan terhadap pihak kesultanan yang berujung kepada aksi penjarahan, penghancuran aset aset kesultanan, penculikan dan pembunuhan massal terhadap keluarga Kesultanan dan para tokoh tokoh nya. Meskipun selamat dari tragedi tahun 1946 tersebut, Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah, praktis sudah kehilangan sebagian besar anggota keluarga dan para petinggi kesultanan yang menjadi korban genosida serta kehilangan aset kesultanan yang menjadi korban perampasan dan penghancuran. Beliau wafat di kota Medan pada tanggal 17 April 1980 dan dimakamkan di kompleks Mesjid Raya Tanjungbalai.

Pembangunan Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai mulai dibangun tahun 1884 dan selesai dibangun pada tahun 1886. Penggagas pembangunannya adalah Sultan Ahmadsyah yang bergelar Marhum Maharaja Indrasakti memerintah Kesultanan Asahan mulai tahun 1854 hingga 1888, Sultan Ahmadsyah naik tahta menggantikan ayahanda-nya Sultan Muhammad Hussein Syah (1813-1854). Dari tahun pembangunannya, Masjid Raya Sultan Akhmadsyah ini jauh lebih tua dibandingkan dengan Masjid Raya Al-Mahsun di Kota Medan (1909) maupun Masjid Raya Sulaimaniyah (1894) di kabupaten Serdang Bedagai.

Sentuhan Eropa di masjid ini ditandai dengan jejeran pilar pilar besar di teras masjid.

Fungsi didirikannya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah bukan hanya sebagai sebuah tempat ibadah, tetapi juga merupakan tempat strategis bagi pengembangan masyarakat, Selain sebagai tempat ritual, masjid juga sebagai pusat tumbuh dan perkembangnya kebudayaan Islam. Di dalamnya dilakukan penyusunan strategi, perencanaan dan aksi di dalam kerangka penyebaran Islam di tengah kehidupan masyarakat. Selain sebagai kepentingan ritual ibadah keagamaan, juga memiliki kepentingan politis untuk melawan hegemoni penjajah.

Arsitektur

Ciri utama dari masjid ini adalah bangunan Melayu. Hal ini terlihat dari bentuk bangunannya yang berbentuk persegi panjang seperti kebanyakan bangunan Melayu. Pada pinggir atapnya juga terdapat ciri khas bangunan Melayu yaitu ukiran pucuk rebung. Keunikan masjid ini adalah tidak terdapat pilar di bagian dalam masjid yang bermakna Allah tidak memerlukan penyangga untuk berdiri. Padahal bangunan dasar dari masjid ini hampir tidak memakai semen melainkan pasir dan tanah liat serta batu bata. Keunikan lainnya yaitu kubah masjid tidak terletak di tengah bangunan melainkan di bagian depan masjid sehingga jika dilihat dari depan, masjid ini terkesan biasa namun menyembunyikan keunikannya.

Ruang sholat utama yang lega tanpa tiang tiang penopang di tengah ruang sholat

Di dalam masjid terdapat mimbar yang berornamen Cina. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan dari Cina. Panji hijau kembar terpancang kokoh di bagian belakang mimbar, seperti kebanyakan di masjid masjid kesultanan lainnya. Di bagian depan mimbar, terpahat kaligrafi dengan gaya khat tsuluts yang amat indah. Kaligrafi ini bertuliskan dua bait syair yang berisi ajaran tentang rukun khutbah Jum'at dalam mazhab imam Syafi'i. Dua bait syair itu kira-kira  bermakna:

Rukun khutbah Jum'at menurut imam-imam kita
Seluruh ada 5, ketahulah wahai sidang Jumat yang mulia
Yaitu membacan pujian, kemudian sholawat dan berwasiat takwa
Lalu membaca ayat, dan doa sebagai penutup khutbah kita

Selain itu juga ada tangga putar untuk naik ke menara masjid yang terletak tepat di belakang mimbar. Bangunan utama Masjid Raya Sultan Ahmadsyah belum pernah direnovasi. Namun bangunan pendukungnya banyak yang diganti maupun ditambah. Seperti tempat wudhu’ yang berbentuk qullah dan dapur masjid diganti dengan pendopo. Sedangkan gerbang dan menara utamanya dibangun kemudian sehingga masjid ini memiliki dua menara.

Aktivitas Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Fungsi Masjid Raya Ahmadsyah saat ini adalah sebagai tempat ibadah masyarakat muslim Tanjung Balai. Selain itu, di Masjid Raya Ahmadsyah juga dilakukan pengajian-pengajian mingguan, pengajian bulan ramadhan, pengajian remaja masjid dan pengajian anak-anak. Masjid Raya Ahmadsyah juga berfungsi sebagai tempat latihan manasiq haji serta tempat sosial kemasyarakatan seperti pemotongan hewan kurban dan khitanan massal serta penyolatan jenazah.

Sejarah Singkat Kota Tanjung Balai

Sebelum kemerdekaan, Kota Tanjung Balai merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Asahan (1620 – 1946). Statusnya sebagai kotapraja di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia disyahkan melalui UU No. 1 Tahun 1957. Namun demikian peringatan hari jadi Kota Tanjung Balai diperingati setiap tanggal 27 Desember, didasarkan kepada sejarah penobatan Sultan Pertama Kesultanan Asahan pada tanggal 27 Desember 1620. Penetapan hari jadi tersebut disyahkan melalui keputusan DPRD Kota Tanjungbalai Nomor 4/DPRD/TB/1986 Tanggal 25 November 1986.

Kuburan masal korban Tragedi di Bulan Maret 1946. 

Di masa penjajahan Belanda, Kota Tanjungbalai berstatus sebagai Gementee berdasarkan Besluit G.G. tanggal 27 Juni 1917 dengan Stbl.1917 No. 284. Sebagai kota pelabuhan dan berstatus sebagai Gementee, Kota Tanjung Balai menjadi tempat kedudukan bagi Assisten Resident dan Ketua Dewan (Voorzitter van den Gemeen-teraad). Tanjung Balai juga menjadi tempat kedudukan Sultan Kerajaan Asahan. Kota ini menjadi kota bandar yang sangat penting bagi Belanda terlebih dengan dibukanya perkebunan-perkebunan di derah Sumatera Timur termasuk daerah Asahan seperti H.A.P.M., SIPEF dan lain-lain, menjadikan Tanjungbalai sebagai kota pelabuhan dan pintu masuk ke daerah Asahan.

Dengan telah berfungsinya jembatan Kisaran dan dibangunnya jalan kereta api Medan – Tanjungbalai, maka hasil-hasil dari perkebunan dapat lebih lancar disalurkan atau diekspor melalui kota pelabuhan Tanjungbalai. Untuk memperlancar kegiatan perkebunan, maskapai-maskapai Belanda membuka kantor dagangnya di kota Tanjungbalai antara lain: kantor K.P.M., Borsumeij dan lain-lain, maka pada abad XX mulailah penduduk bangsa Eropa tinggal menetap di kotaTanjungbalai.

Setelah proklamasi kemerdekaan, berahir pula kekuasaan politik Asahan sebagai sebuah kesultanan ditambah lagi dengan kerusuhan sosial di tahun 1946. Di tahun 1956 Pemerintah Republik Indonesia mengerluarkan Undang-Undang Darurat No. 9 Tahun 1956 kemudian di-umumkan dalam Lembaran Negara nomor 60 tahun 1956 nama Hamintee Tanjungbalai diganti menjadi Kota Kecil Tanjungbalai. Kemudian jabatan Walikota Tanjung Balai dipisahkan dari Bupati Asahan berdasarkan Surat Mentri Dalam Negeri No. UP 15/2/3 tanggal 18 September 1956. Selanjutnya dengan UU No. 1 Tahun 1957 nama Kota Kecil Tanjungbalai diganti menjadi Kotapraja Tanjungbalai.

Walikota Termuda 2016

Walikota Tanjung Balai memegang rekor sebagai Walikota termuda di Indonesia. Adalah Muhammad Syahrial, Walikota Tanjungbalai yang dilantik di Lapangan Merdeka Medan pada hari Rabu 17 Februari 2016, ternyata masih berumur 26 tahun. Dengan usia tersebut, Syahrial didaulat menjadi Wali Kota termuda di Indonesia. Muhammad Syahrial dilantik sebagai Walikota Tanjung Balai bersama dengan 14 Kepala Daerah Se-Sumut lainnya oleh Plt Gubernur Sumatera Utara, T Erry Nuradi, sebagai hasil dari Pilkada serentak di provinsi Sumatera Utara tahun 2016.***

Referensi


Related post