Saturday, July 2, 2016

Dinayet Center of America

Mengahdirkan Turki di Amerika. Komplek Kuliye ini selain berdiri bangunan masjid khas Turki juga dibangun rumah tempat tinggal dan bangunan pendukung lainnya yang semuanya berarsitektur khas Turki, sehingga seakan akan menghadirkan Turki di Amerika.

Masjid Agung Bergaya Usmaniyah Terbesar Pertama di AS

Sabtu 2 April, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan meresmikan Islamic Center pertama di wilayah Maryland-Amerika dengan pendanaan 100% dari pemrintahTurki. Komplek Islamic center yang dalam istilah Turki disebut Kulliye ini mencerminkan pemikiran dari dunia Islam. Dengan pemahaman untuk membangun sebuah kota Islam Turki kuno di Amerika. Struktur kota klasik dari masa Emperium Islam Usmaniyah menjadi unggulan bagi masjid yang menjadi pusat untuk kota yang dibangun di sekitarnya.

9704 Good Luck Rd
Lanham, MD 20706
Amerika Serikat
Telepon:+1 301-459-9589)


Keseluruhan komplek Kuliye ini seluas 60.000 meter persegi (64.600 kaki persegi). Bangunan masjid menjadi pusatnya dibangun di atas lahan seluas 879 meter persegi (9.461 kaki persegi) dan dilengkapi dengan halaman yang cukup besar untuk menampung sekitar 3.000 jamaah pada waktu yang sama, dilengkapi juga dengan taman Islam khas Turki di depannya, tepat di sebelahnya, ada pusat budaya, yang merupakan harmoni antara arsitektur klasik dan modern. Pusat kebudayaan meliputi perpustakaan, ruang konferensi dan pameran, sebuah aula pertemuan dan ruang penyambutan.

Bangunan masjid megah dalam komplek Islamic Center ini dibangun dengan arsitektur Imperium Usmani abad ke 16 yang sangat khas ditandai dengan bangunan berukuran tinggi besar dengan Kubah berukuran besar di atapnya ditambah dengan dua bangunan menara lancip tinggi menjulang seperti sebatang pensil yang diraut runcing di bagian ujungnya. Ornamen Bulan Sabit menjadi ciri khas lainnya dari semua bangunan masjid Khas Turki Usmani.

Taman di depan masjid
Sedangkan Gedung Pusat Budaya yang terdapat di dalam komplek Islamic Centers ini dibangun dengan model khas arsitektur Imperium Islam Seljuk abad ke 11, yang terdiri dari ruang perpustakaan, ruang konferensi, ruang-ruang pameran, ruang-ruang meeting, dan ruang khusus untuk penyambutan para tamu.

Ada juga Pusat Penelitian Islam dalam gedung yang akan memberikan layanan konsultasi untuk mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang berasal dari Turki di  AS. Ada juga Museum Seni Islam seluas 300 meter persegi (3.229 kaki persegi)  di bawah masjid dan 10 rumah tradisional Usmaniyah, di mana para tamu dapat menginap. Rumah-rumah di kompleks dibentuk seperti lingkungan Islam Turki. Komplek ini juga dilengkapi dengan pemandian tradisional Turki (Hamam) untuk pria dan wanita, kolam renang, ruang serbaguna, dan sebuah kompleks olahraga dalam ruangan. Masjid di komplek islamic center atau Diyanet Center atau kuliye ini menjadi masjid terbesar di Amerika Serikat.

Riwayat Pembangunan

Pembangunan komplek ini dimulai tahun 1990 dengan pembelian tanah rawa rawa oleh Turkish Presidency of Religious Affairs, sedangkan rancangan bangunnannya ditangani oleh arsitek Turki, Muharrem Hilmi Senalp. Proyek konstruksinya dimulai tahun 2009 dengan proses pembangunan

Pelataran tengah lengkap dengan area tempat wudhu nya
Dalam membangun masjid, Dinasti Usmaniyah menggunakan sistem pengukuran yang disebut yard Turki yang digunakan selama beberapa masa bahkan oleh Republik Turki yang baru didirikan setelah keruntuhan Dinasti Usmani. Sistem satuan pengukuran tersebut digunakan dalam pembangunan komplek kulliye di Maryland ini disebut sebut untuk mematuhi gaya tradisional.

Meskipun bekerja sama dengan perusahaan AS untuk pembangunan kulliye, semua bahan material diangkut melalui laut atau udara dari Turki. Semua tenaga ahli juga datang dari Turki untuk membangun kompleks ini. Bahkan seni dan kerajinan pada kulliye dikerjakan oleh pengrajin Turki yang sangat istimewa dengan menggunakan teknik kuno dan hampir punah.

Ada banyak koordinasi dengan otoritas AS tentang rincian arsitektur dalam membangun kompleks dimana struktural seperti ini belum pernah ada sebelumnya di Amerika, yang menjadikan proyek pembangunan komplek ini terbilang cukup unik.

Di dalam masjid 
Wapres JK Ikut Meresmikan

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla hadir dan ikut meresmikan Dinayet Center of America ini bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Sabtu, 2 April 2016. Kehadiran Wapres Jusuf Kalla dalam peresmian Dinayet Center of America ini usai mengikuti Nuclear Security Summit (NSS/KTT Keamanan Nuklir) yang berlangsung di Washinton DC pada 31 Maret-1 April 2016. Dimana Erdogan juga ikut dalam KTT tersebut. NSS saat ini beranggotakan 52 negara (termasuk Indonesia) dan 4 Organisasi Internasional.

Kritik Erdogan

Dalam upacara peresmian yang dipadati ribuan orang di halaman masjid ini, Erdogan sempat melontarkan penyataan yang cukup keras dengan menyebut “masih ada orang orang yang berjalan berkeliling dan menyebut muslim sebagai teroris” sebuah pernyataan yang oleh banyak pihak disebut sebut sebagai kritisi terhadap para elit dan masyarakat Amerika.

Beliau menyalahkan kandidat presiden yang disebutnya turut menyebarkan sentimen anti Islam dalam masyarakat Amerika. Pernyataan tersebut mengesankan ditujukan kepada capres dari pantai Republik, Donald Trump yang dalam kapanyenya menyerukan “pelarangan sementara bagi masuknya muslim ke Amerika”. Bahkan kolega dekatnya. Ted Cruz – meminta polisi di negara tersebut untuk berpatroli di lingkungan muslim di Amerika.

Pak JK bersama Erdogan meresmikan masjid Turki di Amerika
“suatu yang sangat menarik perhatian dan sangat mengejutkan, bahwa beberapa kandidat presiden di Amerika Serikat menggunakan Alegasinya dan menggunakan Label yang melekat pada diri mereka untuk melawan Ummat Islam secara terbuka dan secara berkelanjutan.” Ungkapnya. “tidak ada kaitan terorisme dengan komunitas muslim, bahkan faktanya komunitas muslim justru berkontribusi membangun kekuatan Amerika Serikat” imbuhnya dan “komunitas muslim sudah menjadi elemen primer masyarakat Amerika” tambahnya.

Pemerintah Turki dibawah pemerintahan Erdogan tekenal sangat agresif mengkampanyekan Islam ke seluruh dunia, salah satunya dengan mendanai proyek pembangunan masjid di berbagai negara termasuk di negara negara dengan komunitas muslim yang minoritas. Di dalam negeri Turki sendiri pemerintahannya gencar mengupayakan mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid setelah lebih dari 80 tahun di alih fungsi menjadi museum oleh Kemal Attaturk paska penggulingan Khalifah Islam terahir yang berpusat di Istambul pada tanggal 3 Maret 1922, dan kemudian mendirikan Republik Turki yang sekuler.***

Sisi Kiblat 
------------------------

Baca Juga



Friday, June 24, 2016

Masjid Sarang Singa, Tertua di Turki

Aslanhane begitu orang orang menyebut bangunan masjid ini, artinya gedung singa atau sarang singa, karena dulu ada banyak patung singa disekitar termpat ini namun kemudian semuanya dikubur disekitar tembok pagar masjid ini. nama asli masjid ini adalah Masjid Ahi Şerafettin

Masjid Aslanhane atau Aslanhane Mosque adalah salah satu masjid tertua yang masih eksis keberadaanya hingga saat ini di kota Ankara, Ibukota Turki, bahkan merupakan salah satu masjid tertua di Negara Turki. Dibangun tahun 1290 pada masa kekuasaan Dinasti Seljuk. Masjid ini menyimpan sejarah keindahan seni bina bangunan dari masa Seljuk, dan merupakan salah satu masjid tua di Turki yang menggunakan pilar pilar penopang dari kayu yang masih utuh hingga saat ini. Berdiri kokoh di kawasan kota tua Ankara dekat dengan bangunan Kastil Ankara sekitar 3 Km dari pusat kota Ankara, di wilayah dengan ketinggian 947 meter dari permukaan laut, dari tempat ini pengunjung dapat melihat panorama kota Ankara dari ketinggian.

Aslanhane Bila di-Indonesia-kan artinya cukup menyeramkan – Gedung atau Sarang Singa – nama yang terlalu sangar untuk sebuah nama masjid. Nama tersebut bukanlah nama sebenarnya dari masjid ini, disebut Masjid Sarang Singa semata mata karena banyaknya patung singa disekitar tempat itu, yang kemudian seluruhnya dikubur di bawah tembok pagarnya. Selain Aslanhane Masjid ini juga seringkali disebut dengan Masjid Lion Den. Aslinya Masjid ini bernama Masjid Ahi Şerafettin tokoh pemimpin muslim setempat yang pernah memperbaiki masjid ini, makam beliau berada di dekat Masjid ini.

Address: İzmir Caddesi Ihlamur Sokak No:9/19 Kızılay – Ankara
Phone: +90.312 419 9203
39°56′12″N 32°51′55″E



Ebubekir Mehmet selaku arsitek masjid ini merancang masjid ini dengan gaya Seljuk yang kental, selesai dibangun tahun 1290 dengan material utama berupa batu batu kali yang disusun sebagai dinding bangunan, bagian lantai dan ubin nya menggunakan batu kali yang diratakan, sesuatu yang sangat unik dan antik, ditambah lagi dengan pilar pilar penopang atapnya yang terbuat dari balok kayu utuh berukuran besar dengan sentuhan seni ukir batu di bagian atasnya. 

Sejarah Masjid Aslanhane

Masjid Aslanhane merupakan salah satu masjid tertua di Turki yang masih berdiri hingga saaat ini. Dibangun pada masa kekuasaan Sultan Mesud II dari kerajaan Seljuk Anatolia tahun 1290. Arsitek yang merancang masjid ini adalah Ebubekir Mehmet. Pembangunannya dilaksanakan oleh dua orang pemimpin suku Ahi bernama Hüsamettin dan Hasaneddin. Masjid ini sempat diperbaiki tahun 1330 oleh pemimpin suku Ahi lainnya bernama Ahi Şerafettin. Nama beliau lah yang kemudian di abadikan menjadi nama masjid ini.

Struktur kayu mendominasi bangunan masjid ini. dibagian dalamnya berjejer tiang tiang kayu utuh menopang struktur atapnya yang juga terbuat dari kayu. 

Setelah mengalami beberapa perbaikan kecil bangunan masjid ini ahirnya di restorasi secara keseluruhan oleh pemerintah Turki tahun 2010-2013. Direktorat purbakala Turki menurunkan tim khusus untuk restorasi masjid ini untuk melakukan restorasi total namun tetap mengkonservasi ke-asliannya. Hasilnya seperti terlihat saat ini bangunan masjid tersebut berhasil dipulihkan dari kerusakan tanpa merusak ke-asliannya, termasuk struktur atapnya yang terbuat dari kayu serta bangunan menaranya yang terbuat dari batu bata.

Bangunannya berdenah segi empat berukuran 400m2 dilengkapi dengan satu bangunan menara. Dindingnya menggunakan susunan batu batu koral berukuran besar, sedangkan struktur atapnya seluruhnya dari kayu. Ada 24 tiang besar dari kayu utuh menopang struktur  atap masjid tua ini. sedangkan aksesnya dilengkapi dengan 3 pintu utama dan 12 jendela. Bagian menarik dari masjid ini ada di mihrabnya yang kental dengan langgam seni masjid masa kejayaan Dinasti Seljuk Anatolia.

Mihrab masjid Aslanhane, indah dengan ukiran khas masa kejayaan dinasti Seljuk

Bangunan masjid masjid di Turki terkenal dengan bangunannya yang besar dilengkapi dengan kubah besar di atap masjid ditambah dengan satu atau lebih menara ramping yang lancip menjulang seperti pensil berdiri. dengan interior megah yang mengagumkan. tapi hal itu tidak berlaku di masjid ini dan masjid masjid peninggalan dinasti Seljuk lainnya. Masjid Aslanhane memang memiliki ukuran yang cukup besar dengan dinding yang kokoh, namun tanpa plester, temboknya dibiarkan memperlihatkan susunan batu batu koral yang berjejer rapi.

Tidak ada kubah besar di atap masjid, karena seluruh struktur atap masjid ini berbahan kayu. atapnya dibangun sama dengan atap bangunan lainnya. Seni pertukangan dan seni ukir kayu menjadi daya tarik tersendiri. Tiang tiang kayu berukuran besar dibiarkan polos tanpa sentuhan seni namun dibagian ujungnya yang menopang strtuktur atap dihias dengan ukiran stako bewarna putih, kontras dengan tiangnya. sementara plafon masjid ini terdiri dari susunan kayu  berukir indah.***

Pilar pilar kayu dan struktur atap masjid Aslanhane. 
Masjid Aslanhane dari kejauhan
Interior Masjid Aslanhane
Eksterior masjid Aslanhane

Sunday, June 19, 2016

Masjid Agung Keraton Liya Togo, Waktobi

Masjid Mubarok di dalam Benteng Liya Togo

Masjid tua ini bernama masjid Mubarok namun lebih dikenal sebagai Masjid Agung Keraton Liya Togo atau Masjid tua Benteng Liya karena berada di dalam benteng Liya yang terbuat dari batu koral di pulau Wangi Wangi dalam lingkup wilayah desa Liya Togo, kecamatan Wangi wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, propinsi Sulawesi Tenggara. Masjid tua ini dibagun tahun 1546 atau delapan tahun setelah pelantikan Sultan Buton Pertama – Sultan Marhum di tahun 1538.  Masjid ini merupakan masjid tertua kedua di Kabupaten Waktobi yang masih berdiri hingga kini, setelah masjid Agung Keraton Wolio. Masjid Keraton Liya yang berjarak 8 Km atau 15 menit dari Ibukota Kabupaten, dapat ditempuh menggunakan alat transportasi roda dua dan empat.

Benteng Liya dibangun di atas bukit, jarak benteng dari pinggir laut adalah sekitar 1,5 km. Dengan bentuk jalan yang menyerupai angka 9. Dari benteng terlihat jelas wilayah laut utara, timur dan selatan. Benteng Liya terdiri dari empat lapis dengan 12 Lawa (Pintu), 12 lawa tersebut merupakan pintu keluar yang digunakan masyarakat kerajaan untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya.



Masjid Mubarok menjadi saksi penyebaran Islam di Pulau Wangi-Wangi, yang saat ini masuk menjadi bagian dari Kabupaten Wakatobi. Dinas Pariwisata Wakatobi, memasukannya sebagai salah satu destinasi wisata yang sedang dikembangkan. Salah satu program yang akan digelar adalah membuat sinopsis sejarah tentang Masjid Liya Togo. Pemda juga menyiapkan program pelatihan kepada masyarakat setempat agar dapat memandu para tamu yang datang.

Di hadapan sisi kiri masjid, sebuah tanah pemakaman terhampar. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah makam yang letaknya di dataran paling tinggi.  Bentuknya tidak seperti bangunan makam pada umumnya. Makam cukup lebar ditandai dengan barisan batu karang yang ditanam ke tanah. Sementara, area makam dikelilingi pagar batu. Menurut cerita legenda, makam tersebut adalah tempat peristirahatan terakhir seorang pemuda bernama Talo-Talo,  pemuda sakti yang diberi daerah kekuasaan Liya Togo oleh Kesultanan Buton.

Sebagian besar bangunan masjid ini masih asli 

Talo-Talo diberi kekuasaan di Liya Togo karena dianggap berjasa terhadap Sultan Buton ketika diberi tugas menyelesaikan konflik di salah satu  negeri bagian. Liya Togo sendiri berdiri di dataran tinggi sebelah selatan Pulau Wangi-Wangi. Letaknya kira-kira 8 kilometer dari ibukota kabupaten. Selain bangunan masjid dan makam, Sebuah tempat pertemuan berbentuk rumah panggung yang disebut baruga juga berdiri tak jauh dari halaman depan masjid.

Versi lainnya disampaikan oleh Forum Komunikasi (Forkom) Kabali yang giat mengumpulkan data data sejarah di daerah tersebut menyatakan bahwa gundukan batu yang ditinggikan (Ditondoi) yang ada di depan Masjid 'Al Mubaraq' Keraton Liya seperti tersebut diatas adalah makam Mahisa Cempaka yang pernah bersama Rangga Wuni memimipin pemerintahan di Kerajaan Singosari di Pulau Jawa. Di bawah gundukan batu Ditindoi yang di sekelilingnya ditumbuhi banyak Pohon Kamboja yang telah berusia sekitar 800 tahun, diperkirakan terdapat sekitar 5 anggota dinasti Ken Arok, selain Mahisa Cempaka yang dimakamkan disitu. Model penguburan satu liang terdiri atas beberapa anggota keluarga, hingga saat ini masih terus terjadi di wilayah Liya, Wangiwangi.

Masih menurut hasil penelusuran sejarah yang dilakukan oleh Forkom Kabali, jauh sebelum dibangun Masjid 'Al-Mubaraq' Keraton Liya, sudah ada sebuah masjid di wilayah Liya Togo dikenal dengan nama Masjid Togo Lamantanari. Masjid itu diperkirakan dibangun tahun 1238 masehi oleh 8 orang Persia dipimpin Haji Muhammad yang terhempas gelombang ke Pulau Wangiwangi setelah kapalnya remuk melabrak karang dalam pelayaran menuju Filipina.

Kubah limas masjid, beduk dan batu makam

Kini masjid tersebut sudah tidak ada lagi, namun demikian, menurut keterangan yang dihimpun oleh Forkom Kabali pada saat waktu shalat dhuhur dan masuk waktu shalat ashar setiap hari masih selalu terdengar suara kumandang azan dari sekitar lokasi masjid tua ini. Kumandang azan yang sama sampai saat ini masih selalu terdengar dari sekitar makam H.Muhammad yang terletak di sekitar permandian Kohondao Liya Togo, Desa Woru, sekitar 800-an meter dari lokasi bekas masjid tua Togo Lamantanari.

Pemugaran

Dalam perjalanan sejarah Mesjid Mubaroq ini telah mengalami empat kali pemugaran, yakni tahun 1924, 1970, 1973 dan tahun 2005. Pemugaran Pertama tahun 1924 oleh Lakina Liya La Ode Taru yang melakukan perbaikan-perbaikan pada sebagian dinding dan bagian atap yang sudah lapuk. Pemugaran kedua dilakukan oleh Lakina Liya La Ode Bula yang mengganti dinding yang terdiri dari pasangan kayu yang sudah lapuk dengan pasangan batu, termasuk juga mengganti mimbar kayu yang kala itu sudah lapuk.

Pemugaran di tahun 1973 dilaksanakan pada masa camat Wangi-Wangi dijabat oleh Andi Sultan. Dilaksanakan perombakan Mimbar/Mihrab yang semula terbuat dari Kayu Ukir dari Jenis kayu Jati dengan model atap dari susunan atap nipah sebanyak 2 helai dipasang di bagian kisi luar atap penutup Mimbar/Mihrab, kemudian diganti lagi dengan Mimbar/Mihrab dari pasangan batu.

Pemugaran terahir pada tahun 2005 di masa Gubernur Sulawesi tenggara dijabat oleh Ali Mazi SH. Pemugaran dengan mengganti empat sokoguru ditengah mesjid dengan pilar cor beton karena sulitnya mendapatkan kayu berukuran besar sebagaimana tiang asli masjid yang sudah lapuk tersebut. Plafon masjid juga diganti dari sebelumnya terdiri dari pasangan papan yang disusun bertingkat.***

Saturday, June 18, 2016

Masjid Hunto Sultan Amay, Mahar Untuk Sang Permaisuri

Masjid Hunto Sultan Amay Gorontalo

Di kota Gorontalo, ibukota propinsi Gorontalo berdiri sebuah masjid tua yang merupakan masjid tertua sekaligus menandai dimulai berkembang pesatnya Islam di Gorontalo. Masjid tua ini pertama kali dibangun pada tahun 1495M oleh Sultan Amay. Legenda masyarakat Gorontalo menyebutkan bahwa masjid ini merupakan hadiah perkawinan Sultan Amay kepada istrinya.

Sultan Amay sebelumnya adalah seorang raja penganut animisme begitupun seluruh rakyat dikerajaannya. Begitu beliau masuk Islam seluruh rakyatnya pun mengikuti langkah sang raja dan berbondong bondong masuk Islam. Kisah ini dituturkan turun temurun dari generasi ke generasi terutama setiap tahun di bulan ramadhan.

Lokasi Masjid Hunto Sultan Amay

Masjid Hunto Sultan Amay
Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan
Kota Gorontalo, Propinsi Gorontalo
Indonesia


Sejarah Masjid Hunto Sultan Amay

Mungkin anda merasa aneh dengan kata hunto pada nama masjid ini. Hunto merupakan singkatan dari kata Ilohuntungo berarti basis atau pusat perkumpulan agama Islam. Memang masjid ini merupakan basis perkembangan dan penyebaran Islam di Gorontalo ketika itu. Sedangkan nama Sultan Amay sendiri diambil dari nama pendirinya yang membangun masjid ini bersama rakyatnya ketika beliau resmi masuk Islam.

Menurut penuturan Haji Syamsuri Kaluku, Pengurus Badan Ta'mirul Mesjid Hunto Sultan Amay, Islam sebenarnya sudah masuk di Gorontalo semenjak tahun 1300-an Masehi. Hanya saja Islam berkembang pada tahun 1490-an pada saat masjid ini berdiri. Sejarah masjid ini bermula ketika raja Amay masuk Islam.

Interior bangunan asli Masjid Hunto Sultan Amay

Demi Cinta

Raja Amay adalah raja yang memerintah di Kerajaan Gorontalo pada tahun 1472-1550 M, beliau merupakan sosok seorang pemimpin muda, ganteng, dan masih lajang. Raja dan para pengikutnya, saat itu, menganut kepercayaan animisme. Patung, pohon, dan hal-hal yang dianggap mistik merupakan persembahan masyarakat saat itu. Sang raja kemudian jatuh cinta pada putri raja, Raja Palasay, Putri Boki Antungo, yang merupakan gadis cantik asal Mautong Sulawesi Tengah.

Raja Amay mendatangi langsung Raja Palasay untuk meminang Putri Boki Antungo. Dia menyampaikan ingin memimang putri raja dan Raja Palasay menerima baik niat Raja Amay. Raja Palasay yang ketika itu merupakan pengikut agama Islam yang taat, mengajukan satu syarat kepada Raja Amay. Jika persyaratan itu disetujui, Raja Palasay merestui anaknya dinikahi Raja Amay.

Satu syarat yang diajukan yaitu Raja Amay harus masuk Islam dengan bukti Raja Amay harus mendirikan masjid. Permintaan Raja Palasay disetujui Raja Amay. Pembangunan masjid pun dilakukan di Gorontalo pada tahun 899 Hijriah atau 1495 Masehi. Masjid tersebut kemudian diberi nama Hunto Sultan Amay. Hunto singkatan dari Ilohuntungo berarti basis atau pusat perkumpulan agama Islam ketika itu.

Detil interior masjid Hunto Sultan Amay

Masjid Hunto Sultan Amay, Mahar untuk mempelai Wanita

Sebelum menikah, Raja Amay mengumpulkan seluruh rakyatnya. Raja Amay dengan terang-terangan mendeklarasikan diri telah memeluk agama Islam. Raja meminta seluruh pengikutnya untuk menggelar pesta yang meriah. Pada pesta tersebut Raja Amay meminta kepada rakyatnya untuk menyembelih babi disertai dengan pelaksanaan sumpah adat.

Tepatnya di halaman masjid ini digelar pesta dan sumpah adat dengan hidangan babi. Darah babi kemudian dijadikan simbol sumpah adat yang diteteskan dibagian kepala (jidat) dengan isi sumpah pada hari tersebut merupakan hari terakhir rakyatnya memakan babi. Usai proses sumpah adat, Raja Amay kemudian meminta rakyatnya untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat.

Pernikahan Raja Amay dan Putri Boki Antungo pun dilakukan di Mautong dan Masjid Hunto Sultan Amay menjadi hadiah pernikahan Raja Amay kepada istrinya. Syekh Syarif Abdul Aziz ahli agama Islam dari Arab Saudi didatangkan oleh Raja Amay untuk mengajar dan menyebarluaskan agama Islam di Gorontalo. Dan sampai saat ini masih terbukti sebagian besar masyarakat Gorontalo menganut agama Islam atas upaya dari Raja Amay, hingga kini masjid Hunto Sultan Amay ramai dikunjungi jemaah.

Gerbang baru Masjid Hunto Sultan Amay

Dikeramatkan Warga Gorontalo

Masjid Hunto Sultan Amay Gorontalo diyakini keramat oleh warga sekitar sehingga banyak yang datang berkunjung dan berziarah untuk mendapatkan berkah.Berdasarkan pengalaman peziarah, di mimbar masjid ini terkadang terdengar suara orang menangis dan ada juga peziarah yang melihat orang banyak yang lagi salat padahal tidak ada orang yang masuk masjid.

Bahkan ketika salat sendiri, tiba-tiba ada makmum yang mengeraskan suara dari belakang membalas kata amin atau salam. Cerita-cerita seperti itu dikisahkan oleh orang-orang yang berkunjung ke Mesjid Hunto Sultan Amay. Dikatakan setiap orang yang datang berkunjung ke masjid ini akan diuji tingkat keimanannya. Jika tujuannya ibadah akan terdengar suara-suara ibadah tetapi jika datang dengan tujuan untuk istirahat atau tidur maka akan diganggu dengan hal-hal aneh seperti gempa.

Di mihrab berbatasan dengan tempat posisi berdirinya imam, masjid tua ini terdapat makam Raja Amay. Ada batasnya dan sudah diatur antara kuburan Sultan Amay dan posisi berdirinya imam biar tidak terkesan kita menyembah Raja Amay. di mimbar masjid tua tersebut sering mengeluarkan aroma yang harum alami tanpa pewangi buatan. Sedangkan dibagian belakang masjid merupakan kuburan tua termasuk Syekh-Syekh zaman dulu yang turut serta menyebarkan agama Islam di Gorontalo.

Sumut tua di Masjid Hunto Sultan Amay

Di masjid ini juga ada sumur tua yang hingga kini masih digunakan oleh jemaah dan masyarakat sekitar. Posisinya terletak di samping kiri mesjid, berdekatan dengan tempat wudhu. Sumur tua tersebut terbuat dari kapur dan putih telur Maleo dengan diameter lebih dari satu meter dan kedalaman air mencapai tujuh meter. Kondisi cuaca Gorontalo yang sering dilanda musim panas berkepanjangan tidak mempengaruhi kondisi airnya yang terus melimpah dan jernih. Masyarakat setempat meyakini air sumur tua Mesjid Hunto Sultan Amay keramat dan sering digunakan untuk mengobati berbagai penyakit.

Renovasi dan Perluasan

Saat ini bentuk dan ukuran Mesjid Hunto Sultan Amay telah dipugar dan diperbesar tanpa menghilangkan keasliannya. Diantaranya mimbar yang biasa digunakan untuk berkhotbah dan tiang-tiang Mesjid yang masih kokoh berdiri serta ornamen-ornamen beraksen kaligrafi Arab. Adapula bedug yang terbuat dari kulit kambing yang sudah mulai menipis dengan kondisi telah dihiasi lubang-lubang kecil tetapi masih digunakan hingga saat ini. Posisinya terletak dibagian dalam, tepatnya di sudut kanan depan Mesjid. Semuanya asli.

Luas asli masjid ini adalah 144 meter persegi tapi sekarang sudah lebih besar. Ukuran aslinya itu merupakan wilayah pusatnya dan masih tetap asli sampai sekarang. Dilakukan perbaikan dikarenakan sudah rusak dan dipercantik kembali tanpa menghilangkan keasliannya. Area Mesjid yang telah diperlebar diantaranya dibagian depan dan sebelah kanan Mesjid yang dijadikan ruang shalat  wanita. Serta ada penambahan bangunan di lantai dua juga untuk wanita.

Referensi

makassar.tribunnews.com - ini-masjid-tertua-di-gorontalo
wisatasejarah.wordpress.com - masjid-sultan-amay

Friday, June 17, 2016

Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah

Perpaduan kuni, tradisional dan modern di Masjid Menara Kudus

Salah Satu Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Menara Kudus sebenarnya bernama Masjid Al-Aqso, merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Bangunan aslinya masih bisa dijumpai hingga kini meski sudah mengalami perbaikan dan perluasan berkali kali sejak pertama kali dibangun sekitar tahun 1549 oleh Sunan Kudus, sekitar sepuluh tahun lebih dulu dari Masjid Mantingan Jepara (1559) yang dibangun oleh Sultan Hadiri, atau sekitar 70 tahun setelah Masjid Agung Demak (1479) yang dibangun pada masa Raden Fatah, atau kira kira sezaman dengan Masjid Kesultanan Banjar di Banjarmasin yang dibangun oleh Sultan Suriansyah (1526-1550).

Kudus Berasal dari kata Al-Quds

Menurut antropolog dari Universitas Udayana - Bali, mendiang Prof. Purbacaraka, nama kota Kudus berasal dari bahasa Arab, “Al-Quds” (kini Jerusalem - Ibukota Palestina). Sedangkan para sejarawan Islam percaya bahwa pelaut muslim arab-lah yang memberikan nama tersebut untuk mengenang tanah kelahiran mereka di Al-Quds – Palestina. Tak mengherankan bila kemudian masjid tua di kota kudus yang terkenal dengan menara berbentuk candi-nya itu pun kemudian diberi nama Masjid Al-Aqso, sebagaimana nama masjid suci ketiga Ummat Islam di kota Al-Quds.

Foto tua masjid Menara Kudus
Masjid Al Aqsa dan Menara Kudus merupakan tempat bersejarah peninggalan salah satu Walisongo, Ja’far Shodiq atau lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus yang makamnya terdapat di komplek itu. Tempat tersebut kini menjadi destinasi andalan wisata reliji kota Kudus, terutama bagi para peziarah, disamping makam Sunan Muria yang berada di kawasan wisata Colo, Kecamatan Dawe Kudus, pegunungan Muria. Nama Jafar Shodiq terukir pada batu di atas mihrab masjid ini. konon batu bertulis tersebut berasal dari Al-Quds (Baitul Maqdis) di Palestina.

Lokasi Masjid Menara Kudus

Masjid menara kudus berada di pusat kota Kudus. Secara administratif masuk ke dalam wilayah Desa Kauman Kulon kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Propinsi Jawa Tengah. Lingkungan yang mengelililingi masjid menara kudus ini berupa rumah rumah penduduk desa Kauman kulon yang sudah tidak jelas lagi batas batas yang memisahkan antara rumah penduduk dengan komplek masjid karena antara dinding komplek masjid dengan rumah penduduk telah menjadi satu.



Sebelumnya Adalah Candi ?

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Masjid ini sebenaranya bernama Masjid Al-Aqso sebagaimana tertulis di papan nama masjid yang diletakkan di gerbang utama masjid dengan aksara arab. Hanya saja masyarakat luas lebih mengenalnya sebagai Masjid Menara Kudus merujuk kepada bangunan menaranya yang unik itu. Pendapat umum dan cerita tutur yang beredar luas menyebutkan bahwa Masjid Menara Kudus sebelumnya adalah sebuah candi yang kemudian di konversi (di alih fungsi) menjadi sebuah masjid. Benarkah Masjid Menara Kudus ini merupakan konversi dari sebuah Candi ?, Apa nama candi itu sebelumnya ?. Menjadi menarik untuk sekedar bertanya.

Sudah di fahami secara umum bahwa metoda da’wah yang dijalankan para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara termasuk di tanah Jawa dengan melalui pendekatan budaya. Mereka tidak serta merta menentang atau menghapus budaya yang sudah berkembang di dalam masyarakat namun secara perlahan melakukan editing secara cermat dengan memasukkan ajaran Islam kedalam setiap pernik budaya yang sudah ada. Perubahan yang perlahan namun pasti mengubah wajah budaya menjadi sesuatu yang Islami.

KEBANGGAAN NASIONAL. Gambar Masjid Menara Kudus diabadikan di uang kertas pecahan lima ribu Rupiah.
Tidak hanya di masa para wali, di masa kini pun metoda yang memiliki kemiripan diterapkan oleh kaum muslimin minoritas yang tinggal di wilayah non muslim. Seperti contoh pada saat saudara saudara kita itu akan membangun masjid mereka tidak memaksakan diri untuk membangun masjid dengan bentuk masjid umumnya yang memiliki kubah dan menara serta kumandang azan dari menara. Misalnya saja Muslim di Estonia yang minoritas membangun masjid dengan bentuk yang serupa dengan gedung gedung bertingkat disekitarnya, dan sama sekali tidak seperti masjid yang biasa kita kenal yang memiliki kubah besar, simbol bulan sabit di ujung kubah dan menara serta kumandang azan berpengeras suara dari menara-nya. Tidak hanya di Estonia yang berada di Eropa sana, saudara saudara muslim di Tolikara pun membangun masjid mengikuti bentuk bangunan disekitarnya agar tidak terlalu mencolok demi toleransi.

Menilik hal hal yang demikian, bukan tidak mungkin toh, bila dulu Ja’far Shodiq dan kaum muslimin awal di Kudus membangun masjid dengan mengikuti bentuk / arsitektur tempat ibadah ummat mayoritas yang ada disana. Bukankah tata letak bangunannya pun sudah persis menghadap kiblat, termasuk tata letak bangunan menaranya. Bukankah sejarah mencatat bangunan yang awal sekali dibangun sudah mengalami beberapa kali perluasan, menunjukkan bahwa bangunan awalnya memang tidak terlalu besar, dan pembangunan masjid sudah barang tentu sesuai dengan kebutuhan jemaah nya, alias disesuaikan dengan jumlah jemaahnya. Wallohuwa’lam.

DA GAPURA DI DALAM MASJID. Ini salah satu keunikan yang ada di Masjid Menara Kudus, ada gapura / gerbang paduraksa di dalam masjid, tak ada di masjid lain.

Keunikan yang Menarik Perhatian

Ke-unikan arsitektural menjadi daya tarik utama masjid ini. Sejauh ini Masjid Menara Kudus merupakan satu satunya masjid dengan paduan arsitektural bangunan candi dengan bangunan masjid modern sebagaimana biasa dikenal. Telah difahami secara umum bahwa masjid ini sebelumnya memang merupakan bangunan candi yang kemudian di alih fungsi menjadi masjid seiring dengan telah muslim nya masyarakat disana. Menara setinggi 17 meter yang berada di sisi kiri gerbang utama masjid ini yang berbentuk bangunan candi dibangun dengan susunan bata merah tanpa semen, berdiri megah hingga kini dengan bentuk aslinya, dengan fungsi sebagai menara masjid lengkap dengan perangkat pengeras suara terpasang disana. Gaya arsitektur Menara masjid ini disebut sebut menyerupai candi-candi di Jawa Timur pada masa Majapahit dan juga memiliki kemiripan dengan Menara Kukul di Bali.

Menara ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian kaki, tubuh dan puncak. Kaki menara berbentuk bujur sangkar berukuran 6.3 meter. Sedangkan puncak menara berupa ruangan mirip pendopo berlantai papan. Di atas menara di beri atap tumpang bertingkat dua dari sirap. Menurut G.F. Pijpet dan A.J. Bernet Kemperes, menara masjid kudus ini mirip dengan menara Kul Kul di Bali dan pada awalnya bukanlah menara masjid melainan sebuah bangunan candi pada masa Hindu yang kemudian disesuaikan kegunaannya sebagai menara masjid ini. Beberapa peneliti lain seperti Soekmon, Syafwandi dan Parmono atmadi menghubungkan bentuk menara masjid Kudus dengan candi candi di Jawa Timur seperti candi jago dan candi singasari berkaitan dengan bentuk arsitektural dan ragam hiasnya.

Restorasi menara
Keunikan bangunan masjid ini tidak hanya pada menaranya. Beberapa bagian kuno dari bangunan masjid ini masih dapat ditemui dengan pola dan bahan bangunan yang sama, termasuk empat bangunan gapura (gerbang), terdiri dari dua gerbang berbentuk paduraksa dan dua gerbang berbentuk candi bentar. Gerbang gerbang tersebut tetap di konservasi keberadaan dan keasliannya meski kini sudah berada di dalam bangunan masjid. Bentuk dan keberadaannya yang tak biasa di dalam masjid membuat gerbang gerbang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Gerbang gerbang tersebut sejatinya merupakan pembatas antar halaman di komplek masjid ini. komplek masjid menara kudus ini terbagi menjadi sebelas halaman yang dibatasi dengan pagar dan gapura dari bata yang berbentuk candi bentar maupun padureksa. Fitur dari masa lalu yang tak kalah menarik yang masih bisa dijumpai, terdapat disebelah selatan masjid, ada kolam berwudhu kuno yang cukup unik, ada delapan pancuran dihiasi ukiran batu berbentuk kepala kala. Sekarang pancuran tersebut ditambah dengan keran untuk memudahkan Jemaah berwudhu.

Terhimpit. Masjid Menara Kudus dari udara terlihat terjepit diantara padatnya rumah penduduk di sekitarnya.

Pembangunan dan Perluasan Masjid Menara Kudus

Sejak dibangun oleh Ja’far Shodiq alias Sunan Kudus pada tahun 956 Hijriah atau 1549 M. Masjid menara kudus sudah beberapakali mengalami perbaikan dan perluasan. Pada awal tahun 1918 sampai ahir tahun 1919 telah diadakan pembongkaran dibeberapa bagian masjid. Tahun 1925 bagian depan masjid ditambah dengan serambi untuk menampung jemaah khususnya di hari Jum'at yang semakin membludak. Tahun 1933 serambi tersebut diperluas dengan serambi tambahan menyebabkan gapura kori agung atau gapura lawang kembar menjadi ternaungi atap serambi depan masjid. Di atas serambi itupun dibangun kubah. Perubahan terahir tahun 1960 saat terjadi pergantian mustaka.

Bagian yang masih asli di masjid ini berupa tembok sisi timur, sebagian tembok sisi utara dan selatan, gapura paduraksa, tembok luar mihrab, delapan buah pancuran tempat wudhu serta menara. Seperti  bangunan lainnya di komplek masjid ini, tembok timur masjid juga dibangun dari batu bata tanpa perekat. Pada tembok sisi timur ini terdapat empat buah gapura, dua buah gapua berbentuk candi bentar dan dua gapura berbentuk paduraksa.

Pintu menuju menara

Legenda Masjid Menara Kudus

Dikisahkan bahwa pada waktu Sunan Kudus berhaji beliau terserang penyakit kudis. karena penyakitnya itu beliau di hina dan disingkirkan dari pergaulan sehari hari, Sunan kudus pun membalas dengan kesaktiannya dan timbullah wabah penyakit yang menimpa negeri arab. Berbagai upaya dilakukan oleh pera pemuka negeri arab untuk mengatasi wabah tersebut namun tak membuahkan hasil. Ahirnya sunan kudus diminta mengatasi wabah tersebut. Atas jasanya para pemuka negeri arab tersebut memberikan berbagai hadiah menarik tapi sunan kudus menolaknya dan justru memilih batu yang kemudian digunakan untuk memperingati pendirian masjid menara kudus. Batu tersebut kini ada di mihrab masjid bertuliskan nama Sunan Kudus.

Banyu Panguripan

Masih menurut cerita tutur, dahulu dibawah bangunan menara terdapat dua buah sumber air. oleh penduduk sumber air itu disebut sumber banyu panguripan. Disebut demikian karena apabila seseorang meminum air itu maka orang itu akan hidup abadi. Sunan Kudus sangat khawatir jika khasiat air sumber panguripan itu disalahgunakan oleh orang orang berwatak jahat. Oleh karenanya sumber air itu ahirnya ditutup dan di atasnya didirikan bangunan menara. Dari legenda ini jelas disebutkan bahwa bangunan menara tersebut dibuat atas perintah atau setidaknya atas prakarsa Sunan Kudus. Bisa jadi legenda itu sebenarnya adalah potongan cerita dari proyek pembangunan Masjid di tempat itu yang kini dikenal sebagai Masjid Menara Kudus.

Tradisi Beduk Dhandhang

Ada kebiasaan unik Sunan Kudus dalam berdakwah dengan mengadakan beduk dhandhang yakni tradisi memukul beduk bertalu talu menjelang ramadhan untuk mengundang jemaah datang ke masjid. Setelah jamaah berkumpul, Sunan Kudus pun mengumumkan kapan persisnya hari pertama puasa. Beduk sendiri merupakan salah satu pernik tradisi Nusantara, sama halnya dengan kentongan atau pun digunakan berpadanan. Namun kemudian diserap menjadi salah satu tradisi Islam Nusantara.***

----------ooo000ooo----------

Artikel Masjid Masjid Tertua Di Nusantara Lainnya
Masjid Saka Tunggal