Sunday, May 1, 2016

Islamic Center Al-Nour Hamburg

Setelah selama 20 tahun sholat berjamaah di garasi, muslim di Horn, Hamburg, ahirnya memiliki sebuah masjid yang layak dari sebuah bangunan gereja yang sudah tidak digunakan lagi karena sepi Jema'ah.

Gereja Menjadi Masjid

Masjid Islamic center Al-Nour Hamburg Jerman, pada awalnya adalah Gereja Lutheran Capernaum (Kapernaumkirche) yang berada di distrik Horn pusat kota Hamburg, Jerman. Bangunan yang merupakan salah satu situs budaya kota Hamburg sudah terbengkalai sejak tahun 2002 dikarenakan masalah finansial karena merosotnya jumlah jema’ah. Piano serta lonceng Gereja sudah diserahkan ke komunitas lain. Di tahun 2004 bangunan gereja tersebut kemudian dibeli oleh komunitas muslim Harmburg yang tergabung dalam Al-Nour Islamic Center dan di konversi menjadi masjid.

Perubahan fungsi bangunan dari bangunan Gereja menjadi Masjid memang bukan hal yang mudah terlebih lagi bangunan tersebut merupakan salah satu cagar budaya, Konsultasi dengan otoritas cagar budaya senantiasa dilakukan sebelum dan selama proses rekonstruksi bangunan. Perubahan mendasar mau tidak mau dilakukan di bagian dalam bangunan, altar serta ornamen lainnya dibongkar diganti dengan kaligrafi Islam, orientasi bagian dalam pun berubah menghadap ke arah kiblat setelah sebelumnya ber-orientasi ke arah utara. Pembangunan area mihrab dan mimbar, perubahan sistem pemanas ruangan, tata cahaya dan tata suara, pembuatan tempat wudhu, pemasangan karpet dan sebagainya. Ditambahkan juga area mezanin sebagai tempat khusus untuk jemaah akhwat untuk memisahkannya dari jemaah Ikhwan.

Sekeliling dinding bangunan ini dilengkapi dengan jendela jendela kecil dengan hiasan mozaik kaca patri,

Beberapa pernik bangunan ini tetap dipertahankan seperti mozaik abstrak kaca patri karya seniman Claus Wallner (1926 - 1979 suami dari Ursula Querner) tetap dipertahankan di bagian celah lobang angin bebentuk sarang lebah di hampir sekeliling tembok bangunan, yang juga berfungsi sebagai jendela jendela kecil. Namun demikian simbol Salib di puncak menara setinggi 44 meter di izinkan untuk diganti dengan simbol Allah. Keseluruhan proses rekonstruksi bangunan tersebut menghabiskan dana hingga 1,5 juta Euro yang di berasal dari sumbangan para jema’ah.

Meski telah dilakukan pengalihan kepemilikan sejak tahun 2004, baru pada pertengahan Agustus 2014 proses rekonstruksi besar besaran terhadap bangunan ini dilakukan. Setelah persetujuan dari pihak berwenang keluar pada bulan Januari 2014. Beberapa kendala terjadi termasuk penolakan dari sekelompok masayarakat setempat.

Lokasi dan Alamat Islamic Center Al-Nour

Kantor Islamic Center Al-Nour eV
Small Pulverteich 17
20099 Hamburg
Telephone: 040/280 539 14

Masjid Al-Nour
Sievekingsallee 191 22111 Hamburg-Horn



Islamic Centre Al-Nour Sebagai sebuah Organisasi berbadan hukum, juga dikenal luas sebagai Masjid Al-Nour didirikan pada tahun 1993 di St. George kota Hamburg, Jerman. Sebagaimana pusat ke-Islaman lainnya  masjid Al-Nour ini pun terbuka untuk jemaah dari kalangan manapun, hingga kini jemaah masjid ini berasal dari tak kurang 30 kebangsaan yang berbeda yang tinggal di kota Hamburg. Diantara para jemaah-nya merupakan orang Arab dari Timur Tengah dan Afrika utara, muslim kulit hitam Afrika, muslim dari Asia termasuk dari Afganistan dan Indonesia serta tentu saja warga Jerman.

Bahasa pengantar yang digunakan di masjid menggunakan bahasa Jerman atau diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman termasuk Khutbah Jum’at, pengajian, proses belajar mengajar hingga festival yang diselenggarakan oleh masjid. Selain jemaah yang berasal dari suku bangsa yang berbeda beda, latar belakang propesi jemaah masjid ini pun beragam mulai dari mahasiswa, buruh, dokter, pengacara, insinyur hingga para pengusaha.

Masjid Al-Nour juga membuka diri bagi aktivitas non peribadatan termasuk menerima kunjungan dari para murid sekolah, mahasiswa, kelompok masyarakat yang berminat, hingga kunjungan dari instansi pemerintah. Sekali setahun masjid ini menyelenggarakan Open Mosque Day, semacam acara open house di setiap tanggal 3 Oktober dengan menyelenggarakan beragam acara acara menarik termasuk kunjungan masjid dan kuliah umum.

Video masjid al-noor


Sebagai sebuah organisasi, Islamic Centre Al-Nour merupakan anggota dari SCHURA – Dewan Komunitas Islam di Hamburg, dan salah satu Chief Executive Officer (CEO) SCHURA adalah Daniel Abdin yang merupakan CEO dari Islamic Center Al-Nour. Beliau mendapatkan kehormatan atas nama SCHURA untuk menandatangai fakta antara the Free and Hanseatic City of Hamburg dan the Islamic religious communities SCHURA, DİTİB dan VIKZ.  

Pada bulan November 2012, setelah tujuh tahun perjuangan dengan begitu banyak penolakan untuk pembelian bangunan untuk masjid. Januari 2014 pemerintah setempat ahirnya mengeluarkan persetujuan untuk alih fungsi bekas bangunan Gereja Capernaum Church menjadi masjid.

Imam Masjid

Imam Masjid Al-Nour adalah Samir El-Rajab. Beliau sudah menikah dan sudah dikaruniai 3 anak. Sosok yang memiliki kepribadian terbuka dan bersahabat. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana di tahun 1992 di Universitas Al-Azhar di Beirut, Lebanon. Di Universitas yang sama beliau juga memperoleh gelar master di bidang syariah.

Aktivitas Masjid AL-Nour

Sejak masih melakukan semua aktivitas di St. George, Islamic Center A-Nour sangat aktif dengan berbagai aktivitas termasuk di dalamnya adalah:

  • Pelaksanaan sholat berjamaah lima waktu termasuk sholat Jum’at
  • Islamic festival untuk anak anak dan keluarga
  • Konseling pernikahan dan keluarga termasuk penyelesaian perselisihan rumah tangga
  • Pelaksanaan prosesi pernikahan dan perceraian
  • Pengurusan kematian dan pemakaman
  • Membuka dialog dengan pihak otoritas dan institusi terkait
  • Panduan masjid untuk sekolah
  • Open Mosque Day
  • Acara traveling untuk anak muda
  • Pelajaran bahasa Arab untuk anak anak
  • Pelajaran Islam untuk anak anak, pemuda dan dewasa
  • Pelaran Al-Qur’an
  • Ceramah umum oleh tokoh tokoh Islam 

Interior Islamic Center Al-Nour, sebelum di rombak menjadi ruangan masjid

The Open Mosque Day

The Open Mosque Day menjadi kegiatan pertama yang dilakukan di Masjid ini diselenggarakan untuk memperkenalkan masjid baru kepada masayarakat luas lintas agama. Acara yang cukup menarik perhatian masyarakat sekitar termasuk dari kalangan non muslim yang turut hadir memberikan apresiasi. Panitia penyelenggara dengan telaten memberikan penjelasan terhadap pertanyaan pertanyaan dari para tamu termasuk pertanyaan mendasar seperti ; kenapa lambang salibnya kok diganti dengan lambang bulan sabit, mengapa masuk ke masjid harus membuka alas kaki dan lain lain.

20 Tahun Sholat di Garasi

Dengan resminya penggunaan Masjid Al-Nour di bekas Gereja ini, tentu saja memberikan nuansa baru bagi muslim dan perkembangan islam di Hamburg. Sebelumnya, selama 20 tahunan muslim disana beraktivitas termasuk melakukan sholat berjamaah Jum’at di bekas bangunan garasi dengan atap yang rendah bersebelahan dengan pintu masuk tempat pembuangan sampah. Lebih dari 600 muslim dari 30 negara secara reguler berkumpul disana untuk sholat Jum’at berjamaah. Tempat yang tidak terlalu buruk untuk melaksanakan sholat berjamaah, hanya saja masyarakat sekitar meminta kaum muslim disana untuk terbuka namun memang agak sulit untuk terbuka sementara untuk sholat berjamaah saja terpaksa dilakukan di garasi.

Alih fungsi gereja tersebut menjadi masjid memang harus berkompromi dengan dengan beberapa hal penting, termasuk bahwa bangunan tersebut sudah masuk dalam cagar budaya sehingga keseluruhan bentuk bangunan tampak luar tetap dipertahankan sebagaimana aslinya, perubahan yang terjadi dari bentuk bangunan hanya mengganti simbol salib di ujung menara lonceng dengan simbol Asma Allah. Sedangkan bagian dalam bangunan memang mau tidak mau harus di rombak total sesuai dengan fungsi sebagai masjid seperti yang sudah di uraikan sebelumnya. Seperti yang jelaskan oleh Imam masjid bahwa pembelian bangunan Gereja untuk dijadikan masjid bukanlah sesuatu yang direncanakan namun memang terjadi begitu saja, Hadir pada saat benar benar dibutuhkan. Alhamdulillah.***

Referensi

kulturkarte.de - Al-Nour-Moschee [diakses 26/4/2016]
kulturkarte.deDer Umbau zur Moschee beginnt [diakses 26/4/2016]
koptisch.wordpress.com - tag-der-offenen-moschee-in-einer-kirche [diakses 26/4/2016]
situs resmi - www.alnour-moschee.com

------------------ZZZ--------------------

Artikel Terkait



Baca juga artikel masjid masjid di Eropa


Friday, April 29, 2016

Masjid Bibi Heybat Baku – Azerbaijan

Berlatar belakang pelabuhan di tepian laut at kaspia Masjid Bibi Hebat menyuguhkan pemandangan yang cukup menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke sana.
Masjid Bibi Heybat adalah Masjid Megah di pinggiran kota Baku, Azerbaijan. Masjid dengan kisah teramat panjang. Masjid ini dibangun di tepian laut Kaspia di sekitar abad ke 13 untuk menghormati seorang muslimah yang diyakini muslim setempat sebagai masih keturunan Nabi Muhammad S.A.W. Awalnya hanya sebuah bangunan kecil dan kemudian dibangun sebuah masjid besar yang indah. Bibi Heybat yang menjadi nama masjid ini ternyata memang Berarti Bibi atau Tante Hebat. Sempat dihancurkan dimasa Uni Soviet kemudian dibangun lagi dengan bentuk yang serupa setelah Azerbaijan merdeka.

Dibangun Abad ke Tiga Belas

Masjid Bibi-Heybat didirikan pada abad 13 di pinggiran kota Baku – Ibukota Azerbaijan, dekat makam Ukeyma Khanum, yang diyakini oleh masyarakat setempat masih  merupakan keturunan Nabi  Muhammad SAW. Legenda masjid ini jauh mundur ke belakang ke Masa Khalifah Harun Ar-Rasyid yang kekuasaannya berpusat di kota Bagdad (Iraq). Kala itu terjadi perselisihan antara Khalifah dengan Ali Ibnu Musa yang diyakini sebagai imam ke delapan oleh para pengikut Syi’ah. Pertikaian yang berujung hijrahnya Ali Ibnu Musa beserta pengikutnya keluar dari Bagdad ke provinsi Khorasan (kini Iran) dan menetap di sebuah desa kecil disana. Setelah wafat beliau di dimakam di tempat tersebut sebagai martir oleh para pengikutnya. Dikemudian hari makam beliau menjadi salah satu tempat tujuan ziarah utama bagi para penganut Syi’ah. Kota Mashad kemudian berkembang pesat disekitar lokasi tersebut dan menjadi salah satu kota Utama bagi Kaum Syi’ah.


Putri dari Ali Ibnu Musa yang bernama Okuma Khanim pindah ke kota Baku – Azerbaijan dalam upaya untuk menghindari perhatian dari pihak penguasa, menetap tak jauh dari pantai Laut Kaspia di kota Baku dan menjalani hidup sebagai wanita sholehah sesuai dengan keyakinan yang di anutnya. Beliau wafat dan dimakam disana, masyarakat setempat kemudian mendirikan bangunan kecil di atas pusaranya. Beberapa tahun berlalu, kabar tersebar kemana mana tentang makam seorang muslimah keturunan Nabi di kota Baku dan kemudian tempat tersebut-pun begitu dihormati.

Para Syeikh kemudian mulai menetap di sekitar lokasi makam dan tempat itu kemudian diberi nama Sheikhovo lalu menjadi Shikhovo. Disebutkan bahwa muslim dari berbagai daerah termasuk luar negara mulai datang berziarah makam Okuma Khanim. Kemudian sebuah bangunan masjid kecil dibangun dengan satu ruangan dengan satu tulisan kecil “dibangun oleh Mahmud ibnu Sa’ad." Plakat lainnya mengindikasikan bahwa bangunan masjid tersebut dibangun antara tahun 663H dan 665H atau bertepatan dengan tahun 1264-1266M. Mahmud ibnu Sa’ad  (adalah seorang arsitek, beliau juga yang merancang Benteng Kuno Nardaran, tak jauh dari kota Baku serta Masjid Mullah Ahmad di bagian kota tua Baku.

Komplek pemakaman di belakang masjid (dari arah jalan raya) 
Pada tahun 1911, Pelindung kota Baku bernama Alasgar Agha Dadashov dengan arsitek Haji Najaf Kemudian membangun masjid baru yang megah di lokasi tersebut termasuk merekonstruksi bangunan makam. Bangunan masjid yang lama berbentuk kubus. Di dekat masjid ini terdapat komplek pemakaman muslim, dan salah satunya dikenal dengan nama Haji Syeikh Sharif, yang datang ke kota Baku untuk menyebarkan faham sufisme dan menghabiskan hidupnya di masjid ini.

Di tahun 1840 masjid ini dikunjungi oleh seorang petualang dan penulis dari Prancis bernama Alexander Dumas dan menceritakan masjid ini didalam bukunya yang berjudul "The World" dan mendeskripsikan masjid ini dalam buku nya sebagai “tempat peribadatan bagi para wanita mandul, mereka datang dengan berjalan kaki, berziarah dan dalam setahun mereka pun kemudian mampu memiliki keturunan”. Alexander Dumas bukan satu satunya yang menulis tentang masjid ini dalam buku perjalanan nya, diantaranya juga ada Abbasgulu Bakikhanov, Ilya Berezin, Johannes Albrecht Bernhard Dorn, Nicholas Khanykov dan Yevgeni Pakhomov.

Asal Muasal Nama Bibi Heybat

Nama Bibi Heybat berasal dari Bahasa Azerbaijan yang maknanya nyaris sama persis dengan Bahasa Indonesia. Bibi yang dimaksud dalam nama ini memang berarti Tante. Sedangkan Heybat yang dimaksud adalah nama pembantu dari Okuma Khanim. Kala itu di kalangan masyarakat setempat sangat tabu untuk memanggil seorang wanita dengan menyebut nama depannya. itu sebabnya kemudian masyarakat disana menyebut masjid ini dengan sebutan Masjid Bibi Heybat alias Masjidnya Si Bibi atau Tante Hebat.

Selain membangun ulang, pemerintah Azerbaijan juga mempercantik dan menambahkan fasilitas baru di area masjid ini salah satunya adalah pelataran luas lengkap dengan pancurannya.
Dimasa Uni Soviet

Masjid Bibi Heybat pernah mengalami kerusakan parah pada saat Azerbaijan berada di bawah kekuasaan Uni Soviet. Uni Soviet masuk ke Azerbaijan tahun 1920, Bolsheviks mulai melancarkan gerakan anti keagamaan. Masjid Bibi-Heybat menjadi target pertama serta Katedral Ortodoks Rusia Alexander Nevsky dan Gereja Katholik Roma Immaculate Conception menjadi sasaran penghancuran berikutnya menggunakan bahan peledak. Beberapa tempat ibadah lainnya yang tidak dihancurkan di alih fungsi menjadi gudang, museum, bengkel ataupun menjadi fasilitas militer.

Ironisnya, setelah penghancuran masjid tahun 1934, di tahun yang sama di Moskow, pemerintah Uni Sovyet memutuskan untuk melakukan konservasi terhadap bangunan bangunan bersejarah sebagai monumen arsitektur yang mengandung nilai sejarah penting.  Menyusul putusan itu, ketua Azkomstarisa Salamov dihukum 20 tahun di pengasingan di Siberia, karena telah menghancurkan masjid masjid bersejarah.

Rekonstruksi Masjid Bibi Heybat

Tahun 1994, setelah Azerbaijan merdeka, Presiden Azerbaijan, Heydar Aliyev memerintahkan pembangunan kembali masjid baru Bibi-Heybat  persis di tempat masjid asli yang sudah hancur. Denah dan ukuran kompleks masjid yang dipugar tahun 1980, didasarkan pada foto-foto yang diambil sesaat sebelum  masjid diledakkan, termasuk catatan dari sejumlah penjelajah yang menggambarkan  kondisi masjid hingga pertengahan tahun 1920an juga turut memberikan kontribusi teramat penting dalam restorasi Masjid Bibi-Heybat adalah artikel singkat yang ditulis oleh Sadig tahun 1925.

Keindahan Masjid Bibi Heybat di malam hari
Rekonstruksi masjid dan komplek disekitarnya selesai dan diresmikan pada tanggal 11 Juli 1997 dalam sebuah acara resmi yang dihadiri presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev. 63 Tahun setelah dihancurkan masjid penuh legenda itu ahirnya berdiri kembali. Di tahun 2005 bangunan masjid ini diperluas dengan menambahkan ruangan baru dalam ukuran besar dan selesai di tahun 2008, untuk memastikan kenyamanan Jema’ah.

Objek Wisata

Masjid berukuran besar ini menjadi salah satu daya Tarik wisata Azerbaijan terutama di Kota Baku. beberapa rumah makan khas kuliner setempat berdiri tidak jauh dari masjidi ini yang memang letaknnya tidak terlalu jauh dari bibir panta. Bangunan Masjid Bibi Heybat ini serta beberapa bangunan masjid lainnya di Azerbaijan memang lebih terlihat indah di senja dan malam hari dengan taburan cahaya lampu yang menyinarinya. sementara disiang hari yang tampak kemegahan bangunan dengan warna yang senada.

Aritektural Masjid Bibi Heybat

Interior masjid ini di dekorasi dengan keramik bewarna biru. sebuah lampu Kristal besar mengantung di ruang utama. Manakala angina kencang kota baku berhembus masuk ke dalam masjid, Kristal pada lampu gantung masjid ini mengeluarkan bunyi gemerincing. Bangunan masjid ini dilengkapi dengan Menara setinggi 20 meter sebagai tempat muazin menyuarakan azan. ada 40 anak tangga dari batu yang menghubungkan masjid ini dengan pelabuhan kecil terdekat di pantai laut Kaspia sebagai tempat pengunjung menambatkan perahu atau kapal mereka. Legenda menyebutkan bahwa dinding tebal masjid Bibi Heybat ini teramat sulit untuk dihancurkan dengan cara manual termasuk bangunan menaranya, itu sebabnya kemudian diledakkan dengan dinamit oleh rezim komunis sPage 3 of 4aat itu.

dari arah yang lain
Di tahun 1903 seorang seniman membuat lukisan masjid ini. Orang Inggris pernah berupaya membujuk seniman tersebut untuk menjual lukisan itu padanya. namun kemudian kabar itu terdengar oleh seorang pengusaha minyak kaya raya bernama Taghiyev menemukannya dan membawa kembali lukisan tersebut hingga tidak keluar dari Azerbaijan. Semasa revosulis Bolshevik (1920) saat seluruh kekayaan Taghiyev's disita penguasa komunis, lukisan tersebut lenyap tanpa jejak. 40 tahun kemudian atau di tahun 1964 setelah Stalin Wafat, seseorang yang tidak disebutkan namanya menyumbangkan lukisan dimaksud ke Musium Seni Azerbaijan dan masih tersimpan disana hingga kini.

Setelah di restorasi masjid ini menjadi lebih besar dan lebih megah namun tetap dengan bentuk arsitetur awal. Proses rekonstruksi melibatkan arsitek terkenal Sanan Sultanov yang merancang masjid ini dengan gaya Arsitektur Shirvan, dengan mempertahankan pola tradisional bangunan aslinya. Bangunannya dilengkapi dengan tiga kubah dan dua Menara mengapit bangunan utama. bagian dalam kubah dihias dengan kaligrafi Al-Quran dengan paduan warna hijau dan biru kehijauan.

Legenda Masjid Bibi Heybat

Legenda masyarakat setempat menyebutkan bahwa dua malam setelah masjid tersebut dihancurkan. masyarakat disana tidak bisa tidur akibat menahan rasa marah karena tempat ibadah mereka sudah dihancurkan. saat fajar tiba terdengar suara teriakan keras diiringi suara benda jatuh yang begitu keras dari arah reruntuhan masjid. Masyarakat yang kaget berlarian ke arah reruntuhan masjid tersebut dan mendapati pasukan merah yang ditugaskan menjaga tempat itu berdiri dengan mata  terbelalak dalam ketakutan teramat sangat, mereka menunjuk ke arah laut Kaspia sambil menyeracau dengan suara keras.

Orang orang yang berkumpul disana melihat seorang wanita berkerudung putih sedang berjalan turun ke laut lalu menghilang ke dalam rona merah matahari yang sedang terbut dan kilauan cahayanya di permukaan air laut. Seorang pria tua diantara mereka kemudian bergumam “Dia pasti akan kembali lagi, kembali dalam waktu yang lebih baik”. Sementara anggota tentara merah yang menjaga disana mengaku terbangun dari tidur mereka oleh suara seperti benturan banturan batu yang teramat keras kemudian melihat sesosok wanita berpakaian putih tiba tiba muncul begitu saja dari puing puing reruntuhan dan saat melintasi mereka tercium aroma mawar yang semerbak.

legenda lainnya menyebutkan bahwa tentara merah yang terlibat dalam penghancuran Masjid Bibi Heybat semuanya mati dalam keadaan menggenaskan. Ada yang mati karena tenggelam, tertimpa batu besar bahkan ada yang mati kesetrum. yang namanya legenda tetaplah legenda dan teramat sulit untuk dipisahkan dengan fakta. namun yang benar benar terjadi adalah 63 tahun setelah dihancurkan masjid itu memang berdiri kembali alias dibangun ulang dalam bentuk yang lebih baik di masa yang lebih baik seperti yang di ucapkan sosok wanita berpakaian putih sebagaimana disebutkan dalam legenda tadi. Dan Nyatanya bahwa masjid ini memang telah menjadi salah satu ikon yang memiliki kesan teramat mendalam bagi warga setempat.***

[Dari berbagai sumber]

---------- ooo000ooo ----------

Baca Juga



Wednesday, April 27, 2016

Masjid Heydar - Baku, Azerbaijan

MEGAH DI MALAM HARI. Masjid Heydar di kota Baku, Azerbaijan. Tampak mewah dalam balutan warna ke emasan dari sinar lampu yang menyinarinya di malam hari.
Azerbaijan salah satu negara berpenduduk mayoritas muslim, berada di tepian Laut Kaspia. Meski berpenduduk mayoritas muslim, negara ini secara tegas menganut sistem sekuler di pemerintahannya yang memisahkan agama dari politik dan ketatanegaraan. lebih dari itu di negara ini pelajaran agama tidak masuk dalam kurikulum pendidikan nasional. beberapa pengamat politik menyebut bahwa elit politik negara ini masih belum sepenuhnya bebas dari pengaruh Soviet yang menguasai negara ini selama beberapa puluh tahun sehingga mengikis sedikit demi sedikit pemahaman mereka tentang Islam, sehingga menjadi wajar pada saat negara ini kembali merdeka seiring dengan ambruknya Uni Soviet para elitnya lebih memilih sekulerisme sebagai landasan politiknya.

Namun demikian, secara individu, muslim di negara ini tetap tidak mau kehilangan identitas ke-Islaman mereka, pun dengan pemerintahannya. Sebagian besar muslim di Azerbaijan menganut faham Syi’ah, sementara Suni merupakan minoritas, meski belum ada laporan gesekan yang berujung tindak kekerasan pernah terjadi di negara tersebut. Beberapa pihak menengarai bahwa “kerukunan” diantara dua kelompok ini terjalin sebagai dampak dari beberapa faktor diantaranya adalah kerasnya gaung Nasionalisme yang dikumandangkan oleh penguasa Uni Soviet saat berkuasa di negara itu masih membahana hingga hari ini. Ditambah dengan factor kedua yakni rendahnya pemahaman mereka akan ajaran Islam yang kini lebih banyak dijalankan berdasarkan tradisi turun temurun dari nenek moyang.

TANPA WARNA WARNI. Ciri khas masjid di Kaukasus dan Azerbaijan adalah bangunan luarnya tanpa warna warni yang menyolok meski dengan berbagai deril ornamen yang menawan.

Gagasan Persatuan Ummat Islam Azerbaijan

Pemerintah Azerbaijan dibawah kepemimpinan presiden Ilham Aliyev menggagas ide persatuan ummat Islam Azerbaijan. Ide ini tentu saja untuk meredam perselisihan diantara pada penganut Syi’ah dan Suni di negara tersebut. Salah satu wujud dari ide tersebut dengan dibangunnya masjid Nasional di Ibukota Baku dan diberi nama Masjid Heydar. Masjid yang begitu megah ini dibangun atas perintah langsung dari presiden Ilham Aliyev beliau sendiri bahkan berkali kali melakukan inspeksi mendadak terhadap progress pembangunan masjid ini.

Heydar mosque atau masjid Heydar merupakan masjid terbesar di kota Baku, Ibukota Republik Azerbaijan sekaligus disebut sebut sebagai masjid terbesar di kawasan kaspia dan sekitarnya. Dengan luas area mencapai 12 ribu meter persegi dilengkapi dengan empat Menara setinggi 95 meter. Sebagai masjid nasional, masjid ini terbuka bagi semua pemeluk Islam tanpa memandang mazhab, aliran dan faham yang mereka anut.



Proyek masjid ini mengambil tempat di distrik Binagati kota Baku, pembangunannya dimulai bulan September tahun 2012, dan diselesaikan dalam waktu dua tahun, dibawah pengawasan langsung dari presiden Azerbaijan yang berulang kali meninjau perkembangan pembangunan masjid tersebut, termasuk pembangunan tiga jalan akses menuju masjid Heydar ini. Bangunan masjid mewah ini diresmikan oleh presiden Ilham Aliyev pada tanggal 26 Desember 2014. pembangunan masjid ini diperkirakan menghabiskan dana sekitar 10 juta manats.

Nama Tokoh Nasional

Sesuai dengan ide pembangunannya sebagai pemersatu ummat Islam nasional, penamaan masjid inipun mengambil nama tokoh nasional Azerbaijan, nama Heydar diambil dari nama mendiang pemimpin besar Azerbaijan, Heydar Aliyev, yang tak lain adalah ayah dari Presiden Ilham Aliyev. Dimasa kempemimpinan Heydar Aliyev, Azerbaijan mengalami perkembangan yang cukup pesat semasa negara tersebut masih bergabung bersama uni Soviet (1970-1980) hingga dimasa merdeka. Sosok Heydar Aliyev yang menetapkan pondasi perjuangan bagi kemerdekaan Azerbaijan meskipun kemerdekaan belumlah tercapai dimasa itu. Beliau juga yang menetapkan bendera tiga warna Azerbaijan dalam salah satu sesi Majelis tertinggi Nakhchivan di masa Uni Soviet.

MEWAH. Tampak megah meski dengan satu warna pada sisi luar masjid dengan empat Menara menjulang tinggi ini, namun bertabur cahaya warna warni dan meriah di malam hari.

Heydar Aliyev juga terpilih sebagai presiden Azerbaijan tahun 1993 setelah berahirnya perang akibat pendudukan oleh Armenia. Dimasa kepemimpinan Heydar Aliyev telah dibangun lebih dari 500 masjid baru di Azerbaijan, ratusan masjid telah diperbaiki, semasa hidupnya Heydar Aliyev juga pernah menunaikan Ibadah Haji dan berkesempatan berdoa di dalam Ka’bah.

Imam Suni dan Syi’ah satu atap

Masjid Heydar di kota Baku ini menjadi symbol persatuan Ummat Islam di Azerbaijan. Di masjid ini Suni dan Syiah sholat bersama sama dengan imam secara bergantian setiap pekan baik dari Suni maupun dari Syiah. Hafiz Abbasov secara teratur ditunjuk sebagai Imam Sunni bergantian dengan Rufat Garayev sebagai Imam Syiah di masjid tersebut. Sebuah harmoni yang sepertinya teramat sulit dilaksanakan di negara negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya termasuk di Indonesia.

AROMA SEKULER. Upacara peresmian Masjid Heydar. Agak terlihat aneh bagi orang Indonesia atau Muslim di negara lainnya, acara peresmian masjid (di dalam masjid) tapi tamunya menggunakan kursi meski tetap membuka alas kaki dan Ibu Negaranya tampil tidak dengan busana Muslimah.

Masjid Terbesar di Kaukasus

Beberapa laporan media menyebut masjid Heydar di kota Baku ini sebagai masjid terbesar dengan Menara tertinggi di kawasan Kaukasus. Empat Menara setinggi 95 meter yang berdiri di empat penjuru masjid ini dilengkapi dengan empat elevator untuk menuju ke puncak Menara. Keindahan masjid ini juga di lengkapi dengan kaligrafi dari ayat ayau Al-Qur’an. selain empat elevator di Menara, masjid ini juga dilengkapi dengan escalator, 4 escalator untuk ke ruang Jemaah laki laki dan 2 escalator ke ruang Jemaah khusus wanita.
Kapasitas masjid ini diperkirakan mencapai lebih dari 2000 jemaah. ruang sholat utamanya seluas 900 meter persegi  ditambah dengan ruang sholat khusus Jemaah wanita seluas 350 meter persegi. di lantai dasar masjid disediakan tempat parkir dan beberapa ruangan untuk peruntukan umum termasuk untuk kantor pengelola.

SIDAK PRESIDEN. Presiden Ilhan Aliyev bersama Istrinya Mehriban Aliyeva dalam salah satu kunjungannya meninjau pembangunan masjid Heyadar.
Dari sisi arsitektur masjid masjid di kota Baku termasuk juga Masjid Heydar ini dapat dikenali dari bentuk-nya yang sederhana namun dengan rancang bangun yang mengagumkan. Beberapa masjid masjid bersejarah bertebaran di kota ini dengan rancangan yang memiliki kemiripan dengan masjid Masjid Heydar meski dengan skala dan zaman yang berbeda. seperti contoh adalah Masjid Goy yang dibangun tahun 1912.

Lalu Komplek Masjid Bibi Heybat, yang juga terdapat makam tokoh tokoh terkemuka penyebar Islam di Azerbaijan, sampai kini dikenal sebagai salah satu bangunan yang sangat terkenal di Azerbaijan. ditambah lagi dengan bangunan masjid Taza Pir yang merupakan salah satu bangunan terkemuka di kota Baku dibangun tahun 1905 dan selesai tahun 1914. Berdirinya Masjid Heydar ini menambah jejeran bangunan Islam ternama di kota Baku Khususnya dan Azerbaijan pada umumnya.***

---------- ooo000ooo ----------

Baca Juga

n Islam di Azerbaijan (bagian-1) n Islam di Azerbaijan (bagian-2) n Masjid Saint Petersburgn Masjid Sentral Perm (Perm Central Mosque) n Masjid Akhmad Kadyrov Chechnya n Masjid Agung Makhachkala Dagestann Masjid Agung Magas Ingushetia n Masjid Moscow Historical Mosque (MHM) n Masjid Memorial Moskow n Masjid Katedral, Masjid Agung kota Moskow n

Tuesday, April 26, 2016

Islam di Azerbaijan (Bagian-2)

Azerbaijan cukup berhasil memadukan dengan elok kawasan kota tuanya dengan laju pembangunan di ibukota negara. Foto diatas mempelihatkan flame tower yang menjadi kebanggaan warga kota Baku di latar belakang sementara di latar depannya berdiri dengan indah Masjid Taza Pir, salah satu masjid bersejarah di kawasan kota tua Baku.

Islam di Azerbaijan Dimasa Uni Soviet

Di masa kekuasaan Uni Soviet, sebagian besar dari 2000 (dua ribu) masjid yang sebelumnya aktif di Azerbaijan di tutup oleh penguasa di tahun 1930-an, meski kemudian beberapa diantaranya boleh dibuka kembali selama perang dunia ke dua. Soviet kemudian mempromosikan kesadaran nasionalisme bagi rakyat Azerbaijan, sebagi pengganti identitas sebelumnya yang melekat sebagai bagian dunia Islam.

Selama perang dunia kedua otoritas soviet membentuk Badan Agama Islam Transcaucasia di Kota Baku sebagai lembaga pengatur Islam di Kaukasus. yang berdampak pada dihidupkannya kembali Lembaga Islam seperti di masa kekuasaan Tsar. Pada masa soviet dibawah pimpinan Leonid Brezhnev dan Mikhail Gorbachev, Petinggi Soviet di Moskow mendorong pemimpin Muslim di Azerbaijan untuk mengunjungi dan menjadi tuan rumah para pertemuan negara negara Islam, dengan tujuan untuk mengesankan adanya kebebasan beragama dan kondisi kehidupan superior yang dinikmati oleh umat Islam di bawah kekuasaan komunis Soviet.

Selama Azerbaijan berada dibawah Uni Soviet hanya ada 17 Masjid di negara itu yang boleh dibuka dan digunakan. Di tahun 1980 hanya dua masjid besar dan lima masjid kecil yang berfungsi di Kota Baku dan hanya sebelas masjid lainnya yang berfungsi sebagai masjid di seluruh wilayah Azerbaijan. Muslim disana kala itu mengadakan peribadatan berjamaah secara sembunyi sembunyi di tempat tempat rahasia.

Satu satunya tempat di Azerbaijan dimana symbol symbol Islam bebas digunakan adalah pusat Islam Syi’ah Konservatif di kota Nardaran, sekitar 25 kilometer di timur laut dari pusat kota Baku, disana juga di tempat tersebut juga terkenal dengan tempat suci Syi’ah dari abad ke 13 masehi. Kontradiktif dengan bagian wilayah Azerbaijan lainnya di Nardaran, penduduknya taat beragama, di mana jalan-jalan menampilkan spanduk spanduk agama dan kebanyakan wanita mengenakan cadar di area publik. Partai Islam yang merupakan partai oposisi di Azerbaijan didirikan di kota ini dan berpusat di sana. Selain Suni dan Syi’ah di Azerbaijan juga terdapat kelompok kelompok Sufi.

ADU TINGGI. Menara masjid Sahidlar yang berdiri tak tak jauh dari Flame Tower di pusat kota Baku, seakan adu tinggi dengan gedung tertinggi dan terindah di Azerbaijan itu.  Dari jauh, Masjid ini terlihat seperti liliput dibandngkan dengan bangunan Flame Tower yang ada di sebelahnya itu.

Islam di Negara Sekuler

Seiring dengan meredupnya Uni Soviet dan merdeka nya Azerbaijan, terjadi pertumbuhan jumlah masjid yang luar biasa dinegara tersebut. Banyak diantara bangunan masjid tersebut dalam pembangunannya dibantu oleh negara negara Islam seperti Iran, Oman dan Saudi Arabia yang juga berkontribusi memasok Al-Qur’an dan tenaga pengajar. Hingga tahun 2014 diperkirakan sudah berdiri lebih dari 2000 masjid di Azerbaijan.

Pasal 7 Konstitusi Azerbaijan menyatakan bahwa Azerbaijan adalah negara Sekuler di Pasal 19 Konstitusi nya dengan tegas menyatakan pemisahan antara agama dengan negara dan menyatakan persamaan hak semua agama, termasuk juga karakter sekuler dalam sistem pendidikannya. artinya bahwa tidak ada kurikulum pelajaran agama dalam sistem pendidikan Azerbaijan.

Para politisi sekuler di Azerbaijan telah menyuarakan keprihatinan tentang kebangkitan politik Islam, namun yang lain berpendapat bahwa Islam di Azerbaijan hanya memainkan peran yang sangat terbatas di bidang politik dan hanya sebagian kecil dari populasi mendukung gagasan untuk melaksanakan hokum bernafaskan Islam. Hal ini disebabkan tradisi sekularisme yang sudah berjalan cukup lama di Azerbaijan. Kemdati demikian menurut beberapa analis, pada jangka panjang, jika politisi sekuler tidak berhasil memperbaiki kondisi, maka kemungkinan penduduk akan mengekspresikan ketidakpuasan mereka melalui politik Islam.***

MASJID HEYDAR. Masjid terbesar dan termegah di Azerbaijan dan kawasan sekitarnya. Masjid ini dibangun oleh presiden Ilham Lamiyev sebagai pemersatu ummat Islam di Azerbaijan. di masjid ini jemaah suni dan syi'ah sholat bersama dipimpin oleh imam dari suni dan syi'ah secara bergiliran setiap minggu.

Ide Persatuan Islam Azerbaijan

Presiden Ilham Aliyev yang sedang berkuasa menggulirkan sebuah gagasan persatuan ummat Islam Azerbaijan untuk menghindari dan menganulir perselisihan antara Syi’ah yang mayoritas dengan Suni yang minoritas, sedangkan arah kebijakan pemerintahannya justru berusaha menjalin kembali kedekatan dengan Turki sebagai tetangga serumpun. salah satu idenya adalah dengan membangun Masjid yang diperuntukkan bagi semua muslim tanpa memandang golongannya. Masjid Heydar berdiri megah di Pusat Kota Baku dibangun selama dua tahun dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Ilham Aliyev di tahun 2014.

Di Masjid ini, dan mungkin juga hanya di masjid ini satu satunya di dunia, yang imam sholatnya di atur bergiliran antara Imam dari Syi’ah dan Suni. Selain itu, presiden Ilham Aliyev juga gencar membangun kembali masjid masjid yang dulu sempat dihancurkan atau rusak selama kekuasaan Uni Soviet termasuk membangun ulang masjid bersejarah yang dikenal sebagai Masjid Bibi Heybat. Di masjid ini juga terdapat mausoleum penyebar Islam di kota Baku dan beliau disebut sebut merupakan keturuanan dari Rosulullah S.A.W.*** [selesai]

---------- ooo000ooo ----------

Baca Juga

Islam di Azerbaijan (Bagian-1)

Di tepian Laut Kaspia. Azerbaijan berada di tepian Laut Kaspia, bertetangga dengan Iran di Selatan, Rusia dan Georgia di utara dan Armenia di sebelah barat. Sedangkan wilayah otonomi Nakhchivan berada diantara Armenia dan Iran, terpisah cukup jauh dari wilayah induk Azerbaijan.

Mengenal Azerbaijan

Azerbaijan adalah negara Eropa Timur yang sekuler dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Secara geografis Azerbaikan berada kawasan pegunungan Kaukasus di tepian laut Kaspia, Baku nama ibukotanya, berada di semenanjung Absheron yang menjorok ke laut Kaspia. Sebelum merdeka, Azerbaijan merupakan bagian dari Uni Soviet. Berbatasan dengan Rusia dan Georgia di sebelah utara, laut Kaspia di sebelah timur, Iran disebelah selatan serta Armenia disebelah timur. Azerbaijan memiliki wilayah Exclave atau wilayah yang terpisah jauh dari wilayah induk negaranya, yakni wilayah Nakhchivan yang yang terpisah dari wilayah induk Azerbaijan oleh wilayah negara Armenia, berbatasan dengan Iran dan sedikit dengan wilayah Turki.

Azerbaijan pertama kali di memproklamirkan kemerdekaannya di tahun 1918 sebagai Republik Democratik Azerbaijan, menjadikannya sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim pertama yang berbentuk demokratik dan sekuler, sekaligus juga menjadi negara mayoritas muslim pertama yang memiliki gedung operas, teater dan universitas modern. Tahun 1920 atau dua tahun setelah proklamasi kemerdekaan, Azerbaijan bergabung dengan Uni Soviet, namanya pun berubah menjadi Azerbaijan Soviet Socialist Republic. Seiring dengan runtuhnya Uni Soviet, Azerbaijan kembali memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 30 Agustus 1991, satu bulan sebelum dibubarkannya Uni Soviet secara resmi.

Di tahun yang sama pecah perang yang dipicu oleh keinginan penduduk di wilayah Nagorno-Karabakh untuk mendirikan negara sendiri dibantu oleh Armenia karena memang mayoritas penduduk di wilayah tersebut mayoritas dari etnis Armenia. hingga perang usai,  Wilayah Nagorno-Karabakh secara de fakto telah menjadi sebuah Republik Independen namun tidak memiliki pengakuan dari dunia Internasional kecuali oleh Armenia. Azerbaijan menjadi anggota PBB di tahun 1992.

Keseluruhan wilayah Azerbaijan, termasuk wilayah Nagorno-Karabakh yang memisahkan diri dan exclave Nakhchivan adalah seluas 86,600 km2 atau kira kira hampir sama dengan luas wilayah propinsi Sumatera Selatan (85.679 km2). sedangkan penduduk Azerbaijan sejumlah 9,165,000 jiwa di tahun 2011, atau hampir setara dengan penduduk Jakarta (9.607.787 jiwa, tahun 2010). Dari total penduduknya hampir 52% tinggal di kawasan perkotaan. Orang orang Azerbaijan biasa disebut Azeri atau Azeris.

Baku, Ibukota Azerbaijan merupakan kota metropolis ditepian Laut Kaspia. Meski politik negara ini menganut sistem sekuler, namun tetap berupaya mempertahankan ke-Islaman nya. Kehadiran masjid bertebaran di negara ini seperti salah satunya dalam foto diatas anda akan dengan mudah menemukan masjid Turki di tengah kota Baku diantara 3 Tower Of  Flame yang menjadi ikon kota Baku. 

Mayoritas penduduknya ber-etnis Azerbaijani (91.60%), Lezgian (2.02%), Armenian (1.35%), Russian (1.34%) dan Talysh (1.26%), lain lain (2.43%).  Sebagian besar penduduk ber-etnis Armenia tinggal di wilayah yang memisahkan diri Nagorno-Karabakh. Bahasa resmi Azerbaijan adalah Bahasa Azerbaijan yang digunakan oleh 92% penduduk, Bahasa Azerbaijan sendiri merupakan bagian dari Bahasa Turki karena memang memiliki keterkaitan etnis dengan Turki. Selain itu juga digunakan Bahasa Rusia dan Bahasa Inggris.

Kehidupan Beragama di Azerbaijan

Sebagai sebuah negara sekuler, Konsitusi Azerbaijan tidak menetapkan agama resmi yang diakui negara. Namun menjamin kebebasan beragama bagi penduduknya. Azerbaijan tercatat sebagai negara yang memiliki tingkat pengembangan SDM yang sangat tinggi dibandingkan dengan negara negara eropa timur lainnya, termasuk dalam perkembangan ekonomi dan tingkat pengangguran yang rendah begitu pula dengan tingkat buta aksara.

Sekitar 95% dari total populasi Azerbaijan memeluk agama Islam. Dan diperkirakan 85% dari muslim disana menganut Syi’ah, karena memang secara geografis bertetangga langsung dengan Republik Islam Iran, menempatkan Azerbaijan sebagai negara dengan penganut Syi’ah terbesar kedua di dunia, setelah Iran.  Hanya sekitar 15% muslim disana yang menganut Islam Suni.

Selain Islam, sebagian kecil penduduk Azerbaijan memeluk agama Kristen (3.1%) sebagian besar adalah Kristen Ortodox Rusia, Georgia dan Russian Armenian Apostolic, sebagian kecil lainnya memeluk agama Katholik Roma, Protestan, dan penganut Ajaran Yahudi Kuno yang di anut oleh sekitar 10,000-20,000 yang tinggal di Azerbaijan

Islam di Azerbaijan

Berbagai laporan menyebutkan hal senada tentang jumlah muslim di Azerbaijan yang merupakan mayoritas di negara tersebut. CIA World Fact Book menyebutkan angka 91.6%, Berkley Center ditahun 2012 menyebutkan angka 93.4%), dan di tahun 2009 Pew Research Center mengumumkan hasil penelitian mereka bahwa 99.2% penduduk Azerbaijan merupakan penganut agama Islam. Sebagian besar muslim disana menganut Syi’ah.

Syi’ah memiliki akar yang kuat di daerah selatan yang berbatasan dengan Iran termasuk kota Baku selaku ibukota negara dan wilayah Lenkoran, sedangkan Suni yang merupakan minoritas di negara tersebut sebagian besar tinggal dibagian utara yang bertetangga dengan Republik Dagestan, Rusia.

Selama 71 tahun negara tersebut berada dibawah Uni Soviet membuat kehidupan beragama memang menjadi sesuatu yang terlarang, setelah merdeka sejak tahun 1991, para pemimpin di negara tersebut menjadikan Azerbaijan sebagai negara sekuler namun tetap memberikan jaminan bagi kebebasan beragama. Namun pemerintah tidak mengambil bagian kebijakan dalam pendidikan agama Islam dengan tidak memasukkan mata pelajaran agama di dalam kurikulum pendidikan.

Masjid Bibi Heybat, salah satu masjid bersejarah di Azerbaijan. Pernah dihancurkan semasa pendudukan Uni Soviet di Azerbaijan, namun kemudian di rekonstruksi setelah Azerbaijan kembali memperoleh kemerdekaannya.

Dari laporan laporan media masa menyebutkan bahwa pemerintah negara tersebut juga tidak memperkenankan digunakannya symbol symbol agama di sekolah maupun di kantor kantor pemerintahan termasuk di dalamnya tidak diperkenankan untuk menggunakan hijab bagi para muslimah. Akumulasi dari semua permasalahan tersebut menjadikan agama lebih banyak dijalankan sebagai sebuah tradisi turun temurun.

Masuknya Islam Ke Azerbaijan

Islam pertam akali masuk ke Azerbaijan dibawa oleh muslim awab di abag ke tujuh masehi, secara berkelanjutan menggantikan ajaran Kristen dan kultus kultus paganism yang pernah ada sebelumnya. di abad ke enam belas, Shah pertama dari Dinasti Safavid, Islamil I (1486-1524) menjadikan Syi’ah sebagai agama negara, kendatipun sebagian muslim disana mengana Suni. Dijadikannya syi’ah sebagai agama negara menimbulkan ketegangan antara penguasa dinasti Safavid dengan Penguasa dinasti Usmaiyah (Turki) yang menganut Suni.


di abad ke sembilanbelas, terjadi gelombang migrasi besar besaran dari Azerbaijan yang berada dibawah kendali Rusia sebagai akibat serangkaian perang antara Russia dengan dinastia Usmani (Turki) dan dengan sendiri nya sejak saat itu, populasi syi’ah di Azerbaijan menjadi mayoritas hingga saat ini. Antagoni antara Suni dan Syi’ah menyurut di penghujung abad ke sembilanbelas seiring dengan ditumbuhkannya rasa nasionalisme serta seiring dengan kebijakan pengusa yang meulai menekankan pada warisan budaya Turki dan berupaya menolak pengaruh dari Iran. [Bersambung]

---------- ooo000ooo ----------

Baca Juga