Sunday, December 4, 2016

Islam di Zanzibar

Zanzibar adalah wilayah semi otonom Republik Persatuan Tanzania, terdiri dari Pulau Zanzibar, Pulau Pemba dan Pulau Mafia. Hampir seluruh penduduk Zanzibar adalah pemeluk agama Islam.

Zanzibar adalah sebuah pulau yang terletak di lepas pantai timur benua Afrika, secara administratif Zanzibar merupakan Wilayah Semi Otonom dari Negara Republik Persatuan Tanzania (United Republic of Tanzania) yang merupakan gabungan wilayah daratan Tanzania dengan wilayah pulau Zanzibar dan sekitarnya. Sebagai Wilayah semi otonom Zanzibar memiliki hak Istimewa untuk memiliki pemerintahannya sendiri dibawah kendali seorang Presiden yang dipilih secara demokratis secara periodik.

Islam memainkan peran penting diantara satu juta penduduk Zanzibar, 99% penduduknya merupakan penganut agama Islam. Bertolak belakang dengan wilayah Tanzania daratan yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan hanya 35% dari penduduknya yang beragama Islam. Zanzibar memiliki sejarah panjang begitu juga dengan sejarah Islam di pulau itu.

Pulau Zanzibar cukup lama berada dibawah kendali Sultan Oman sampai kemudian membentuk kesultanan sendiri dibawah kendali Oman hingga ahirnya bangsa Eropa mendarat disana dan mengambil kendali wilayah tersebut, perjuangan kemerdekaan dan gejolak politik dalam negeri mengantarkan wilayah pulau itu kepada pembentukan negara persatuan dengan Republik Persatuan Tanzania hingga saat ini. meskipun gaung kemandirian sebagai sebuah negara merdeka masih menggema hingga hari ini.

  
Zanzibar Dalam Konteks Sejarah

Pulau Zanzibar, Unguja dan Pemba pada awalnya dihuni oleh orang orang Arab dan Persia kebanyakan berasal dari wilayah Shiraz (Iran) tanpa kehadiran orang orang dari benuda Afrika. Dimasa perbudakan orang orang arab dan Shiraz di Zanzibar melakukan bisnis perdagangan budak, gading dan rempah rempah.

Penjelajah Portugis baru tiba disana pada ahir abad ke 15 Miladiyah, kemudian mengambil alih kendali di wilayah tersebut selama hampir 200 tahun. Di tahun 1689 pulau Zanzibar jatuh ke tangan Kesultanan Oman yang kemudian mengendalikan pulau tersebut selama lebih dari 130 tahun. Kekuasaan Oman kemudian diteruskan oleh Kesultanan Zanzibar yang secara dominan dikendalikan oleh komunitas Arab di Zanzibar.

Sementara itu ada sebagian kecil pemukim disana yang merupakan pembauran bangsa Arab dan Afrika melalui perkawinan yang kala itu merupakan hal yang biasa terjadi. Pembauran bangsa Afrika dan pencampuran suku bangsa tersebut dikemudian hari dikenal sebagai orang orang Shirazi

Meskipun secara resmi pelarangan perdagangan budak sudah disyahkan tahun 1822, namun faktanya hingga pertengahan abad ke 19 Miladiyah, Zanzibar tetap secara aktif menjadi pusat perdagangan budak di kawasan timur benua Afrika bersamaan dengan boomingnya perdagangan rempah rempah.

Masjid Kizimkazi diketahui merupakan masjid tertua di Zanzibar dan dibangun oleh keturunan Rosulullah

Orang orang Afrika tidak saja dijadikan objek perbudakan melalui pelabuhan Zanzibar, namun juga dipekerjakan sebagai pekerja pelabuhan dan di perkebunan rempah rempah disana. Baru di tahun 1878 dibawah tekanan militer Britania Raya, Sultan Zanzibar menandatangani dekrit anti perbudakan dan perdagangan budak secara resmi berahir, meskipun nyatanya perdagangan budak secara rahasia tetap terjadi hingga beberapa dekade setelah itu.

Jerman mengambil alih wilayah Tangayika melalui sebuah perjanjian dengan Britania Raya pada tahun 1886 namun tetap memberikan kemerdekaan kepada Zanzibar. Protektorat Britania atas Pulau Zanzibar ditambahkan lagi pada ahir perang dunia pertama melaui kendali wilayah Tangayika. Di Zanzibar, Britania masih memberikan kekuasaan otonom kepada sultan namun perdagangan budak sudah sama sekali dihentikan. Para budak Afrika yang bekerja di perkebunan Rempah pun mendapatkan sedikit perubahan setelah sekian lama bekerja keras hingga kurus kering.

Kemerdekaan Zanzibar

Zanzibar memperoleh kemerdekaannya pada bulan Desember 1963 sebagai sebuah Monarki Konstitusional dibawah kepemimpinan seorang Sultan, namun partai politiik terbesar disana saat itu, Afro-Shirazi Party (ASP) memboikot pemerintahan dengan dukungan dari dua partai kecil lainnya yang memiliki keterkaitan dengan elite Arab dan kepentingan Inggris.

Hanya satu bulan setelah kemerdekaan, partai ASO dibawah pimpinan John Okello melakukan pemberontakan menggulingkan Sultan dan mengakibatkan korban jiwa ribuan orang arab dan sebagian besar lainnya melarikan diri keluar dari pulau Zanzibar. Segera setelah itu pemerintahan dikuasi oleh ASP yang mengangkat Abeid Karume sebagai perdana menteri baru dan segera setelah itu menandatangani perjanjian dengan Presiden Tangayika Julius Nyerere untuk menyatukan duan negara tersebut menjadi Republik Persatuan Tanzania yang bertahan hingga hari ini.

Masjid Malindi dengan menaranya yang unik merupakan salah satu masjid tertua di Zanzibar

Dengan sejarahnya yang demikian tak lazim, Zanzibar seringkali berada di situasi merugi di dalam jalinan Negara Persatuan Tanzania. Meskipun satu negara namun terbelah dalam garis etnis dan politik tidak pernah sama dan sebangun. Kelompok Arab Zanzibar memiliki keinginan yang kuat bagi pemisahan negara dibandingkan dengan kelompok Shirazi yang lebih bertendensi bagi sebuah penguatan otonomi bagi Zanzibar.

Sebagai bagian dari sebuah negara Federasi, sesungguhnya Zanzibar telah menikmati kekuasaan sendiri secara terbatas, namun undang undang Tanzania melarang setiap partai politik untuk menentang persatuan nasional, artinya melarang segala upaya pemisahan diri Zanzibar dari Tanzania. Hanya saja yang terjadi bahwa partai oposisi Tanzania, Civic United Front (CUF) telah lama memiliki basis politik yang kuat diantara kelompok Arab Zanzibar dan mengupayakan perluasan kekuasaan pemerintahan sendiri bagi Zanzibar.

Seiring kekalahan di Pemilu tahun 1995, para pendukung partai CUF mengalami tindakan keras dari pihak berwenang, penahanan hingga penganiayaan. Pada pemilu tahun 2000 partai CUF melakukan boykot yang berakibat lebih parah lagi, pendukung dan simpatisan partai turun ke jalan di jawab dengan turunnya militer dan polisi Tanzania yang melakukan pembubaran paksa hingga aksi damai tersebut berubah menjadi peristiwa berdarah, sebagaimana dilaporkan oleh lembaga HAM, 35 orang tewas dalam peristiwa itu dan 600 orang lebih terluka.

Tanzania daratan dan Pulau Zanzibar memang memiliki perbedaan yang mencolok, bila di zanzibar muslim merupakan mayoritas sementara di daratan hanya sekitar 35% saja, sedangkan partai berkuasa justru melakukan pengawasan ketat bagi semua lembaga Islam. Seperti teradi di tahun 2001,  ada 20 tokoh muslim Zanzibar yang ditahan aparat karena merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda dengan hari yang ditetapkan oleh pemerintah. Masih ditahun yang sama pemerintah pusat yang dikuasai oleh partai CCM, lagi lagi membuat marah muslim setempat dengan tindakan pemerintah yang mengeluarkan Peratuan Kemuftian yang memberikan wewenang kepada pemerintah untuk mengawasi semua organisasi Islam.

Dalam pemilu yang diselenggarakan bulan Oktober 2005, partai CCM yang berkuasa menuai serangkaian protes dari para pemantau pemilu karena kedapatan adanya warga dari Tanzania daratan yang justru masuk dalam daftar pemilih di pulau Zanzibar. Dua pulau lainnya justru memiliki perbedaan politik yang mendalam, pulau Unguja memberikan dukungan kepada partai pemerintah CCM sementara pulau Pemba justru mendukung kepada partai oposisi CUF.

Kendatipun terjadi kekhawatiran akan tindak kekerasan atas kemenangan partai CCM namun tidak terjadi kerusuhan seperti yang terjadi di tahun 2001. Kemungkinan terjadi karena begitu banyaknya aparat keamanan yang diterjunkan ke lokasi selama proses pemilu berlangsung.

Pihak partai CUF menolak mengakui presiden Baru Zanzbar, namun menyerukan agar masyarakat tetap tenang. Pemerintahan partai CCM di Zanzibar justru mengeluarkan larangan bagi media swasta di Zanzibar. Presiden Tanzania yang baru hasil pemilu –Kikwete- berjanji untuk sebuah dialog guna menjembatani perbedaan yang terjadi dan menyelenggarakan pembicaraan antara CCM dan CUF di bulan Januari 2007.

Islam di Zanzibar

Islam merupakan agama yang dianut mayoritas penduduk Zanzibar. Merujuk kepada data Factbook, lebih dari 99% atau hampir seluruh penduduk pulau ini merupakan pemeluk Islam. Sebagian besar muslim Zanzibar merupakan muslim Suni, meskipun ada sedikit penganut Ahmadiyah.

Salah satu Masjid di pusat keramaian pulau Zanzibar dengan ukiran pintu utamanya yang cukup impresif.

Islam di Zanzibar memiliki akar sejarah yang teramat panjang, Islam sudah masuk dan berkembang di Zanzibar sejak abad ke delapan miladiyah. Dimasa penjajahan Inggris, Zanzibar memainkan peranannya sebagai satu satunya Pusat Intelektual bagi gerakan islamisasi di kawasan negara negara Afrika Timur dibawah kesultanan Zanzibar. Di masa itu, masjid Gofu dan Masjid Barza mempersilahkan para santri dari negara negara Afrika Timur untuk mendapatkan pendidikan Islam disana. Zanzibar Muslim Academy juga memberikan getaran kuat bagi Islam di Afrika Timur.

Kesultanan Zanzibar kala itu membentang dari Cape (Rãs) Asir di pantai Banadir Somalia hingga ke sungai Ruvuma river di Cape Delgado, hingga membentang ke wilayah danau Great Lake dan pengaruhnya jauh lebih luas dari itu. Di masa kejayaan itu terkenal sebuah idiom “bila saja kau mainkan flute di Zanzibar maka seluruh Afrika akan menari”, menunjukkan begitu kuatnya pengaruh kesultanan Zanzibar di masa itu.

Kuatnya pengaruh kesultanan Zanzibar juga merasuk ke ranah bahasa. Bahasa Swahili diketahui merupakan bahasa Afro-Islam merupakan salah satu yang pertama dari tujuh bahasa yang paling banyak digunakan di dunia berkembang dari kesultanan Zanzibar hingga ke Congo, India Barat dan Madagaskar. Tata bahasa Creole yang digunakan di Mauritius meskipun banyak menyerap bahasa Perancis namun sangat bercirikan Bahasa Swahili karena memang ada banyak orang yang berasal dari Zanzibar yang kini menjadi bagian dari bangsa Creole di Mauritius.

Bahasa swahili kini digunakan sebagai bahasa pengantar bagi kaum muslim di kawasan Afrika Timur sama seperti bahasa arab yang digunakan sebagai bahasa pengantar diantara negara negara Islam. Salah satu faktornya adalah dikarenakan bahasa swahili begitu banyak menyerap kata kata dari bahasa arab dibandingkan dengan bahasa Inggris yang justru lebih banyak menyerap dari bahasa latin.

Tokoh tokoh muslim Zanzibar

Sh Abdullah Saleh Farsy dikenal luas sebagai seorang penulis puisi, sejarawan dan ilmuwan Islam di Zanzibar. Beliau dikenal dengan kontribusinya terhadap pengetahuan Islam dan merupakan orang pertama yang menterjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Swahili. 

Tokoh berikutnya adalah Sh. Nassor Bachoo yang dikenal luas sebagai tokoh muslim di kawasan Afrika Timur, khususnya di Tanzania dan Kenya, di Zanzibar sendiri beliau dikenal sebagai tokoh yang kontroversial. Tokoh muslim lainnya yang cukup dikenal adalah (alm) Sh. Amir Tajir yang merupkan mantan kepala Qadi Zanzibar. Sementara para tokoh Muslim yang tergabung dalam organisasi Uamsho yakni organisasi yang bergerak di bidang mobilisasi dan propaganda umat Islam Zanzibar dikenal luas dengan misinya untuk kemandirian Zanzibar sebagai negara mandiri terpisah dari Republik Persatuan Tanzania.***


Saturday, December 3, 2016

Masjid Jabal Nur dan Kisah Kembalinya Suku Tengger ke Pangkuan Islam

Masjid Jabal Nur Dusun Puncak, Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Masjid Jabal Nur merupakan masjid tertinggi di pulau Jawa, karena terletak  di ketinggian lebih dari 2000 meter dari permukaan laut. Diapit gunung Semeru dan Bromo 

Sekilas tak ada yang istimewa dari masjid yang satu ini, ukurannya pun terbilang kecil untuk sebuah masjid jami’. Tapi ada yang teramat istimewa dari masjid kecil ini. Masjid Jabal Nur Hidayatullah nama resminya, disebut sebut sebagai masjid tertinggi di pulau Jawa, lokasinya berdiri di dataran tinggi Tenger berada di ketinggian lebih dari 2000 meter dari permukaan laut. Yang paling istimewa adalah masjid ini merupakan salah satu representasi dari perjuangan panjang selama 20 tahun dua da’i handal mengislamkan kembali warga Suku Tengger.

Topografi dataran tinggi Tengger memang berbukit bukit dan bergunung gunung, wajar bila kemudian masjid Jabal Nur ini pun  berdiri di punggungan bukit dengan bidang bukaan yang tidak terlalu lebar. Bahkan untuk menuju kesana pun butuh perjuangan ekstra menempuh medan yang terjal. Bisa dibayangkan betapa berat perjuangan ustadz muda Ali Farqu, selama 20 tahun malang melintang di kawasan tersebut seorang diri menempuh perjalanan puluhan kilo per hari dengan berjalan kaki demi syiar Islam.

Lokasi Masjid Jabal Nur

Masjid Jabal Nur Hidayatullah
Dusun Puncak, Desa Argosari
Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang
Jawa Timur – Indonesia

Lokasi Masjid Jabal Nur

Sejarah Masjid Jabal Nur

Berdirinya Masjid Jabal Nur ini tak lepas dari peran Ustadz Ali Farqu Thoha, da’i yang sudah menghabiskan 20 tahun untuk berdakwah mengislamkan kembali warga di pegunungan Tengger. Disebut “mengislamkan kembali” karena faktanya menurut Warsito, salah satu dai yang juga aktif berdakwah di kawasan Tengger, sebenarnya agama mayoritas warga Dusun Puncak adalah Islam. Terbukti dengan adanya sejumlah peninggalan berupa mushola dan sebagainya. Tapi, setelah ditinggal juru dakwah, Islam di sana pun redup, bahkan mati.

Setelah ada dai kembali berdakwah, lambat laun gelombang masyarakat yang kembali ke Islam semakin besar. Hingga akhirnya dari sekitar 37 KK atau 250 jiwa, hanya 9 KK yang masih tercacat beragama Hindu. Metoda dakwah yang dijalankan oleh Ustadz Ali Farqu Thoha dengan mengenalkan Islam dari hal yang paling sederhana misalnya dengan mengucap salam. Setiap bertemu dengan warga, selalu mengucapkan salam. Lambat laun, mereka pun terbiasa dan menerima Ali. Ali sendiri dengan medan pegunungan seperti itu, sering menempuh dengan jalan kaki. Gelap, hujan, dan jatuh sudah menjadi menu yang menemaninya selama berdakwah.

Tak hanya tantangan alam, ancaman teror dari pihak pihak yang tak senang dengan perkembangan Islam di kawasan tersebut juga menerpa. Usaha kerasnya ahirnya berbuah manis, satu persatu warga dusun Puncak kembali ber-Islam kemudian diikuti oleh warga dari dusun dusun disekitar dusun puncak lainnnya. Sampai dititik tersebut mulai dibutuhkan tempat ibadah untuk sholat berjamaah serta keperluan lainnya. Bersama sama masyarakat setempat kemudian dibangun sebuah mushola sederhana berukuran 5 x 5 m berdinding papan dan beratap karung.

Masjid Jabal Nur beberapa bulan setelah diresmikan

Berdirinya Masjid Jabal Nur

Ketika digulirkan rencana pembangunan Masjid Jabal Nur di tahun 2009, warga Hindu dusun Puncak sempat berencana untuk membangun sebuah pura yang posisinya tepat berhadap hadapan dengan lokasi bakal masjid. Namun berkat pendekatan tokoh muslim setempat yang sebelumnya adalah tokoh masyarakat Hindu disana, lokasi pembangunan pura digeser sekitar 500 meter ke arah timur dengan metoda pertukaran lahan. 

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Jabal Nur ini dilaksanakan pada tanggal 10 Januari 2009 oleh Wakil Bupati Lumajang Drs. As'at Malik, di hari yang sama beliau juga meresmikan Masjid Al Hidayah Desa Argosari Kecamatan Senduro, sekitar lima kilometer dari Masjid Jabal Nur. Saking sulitnya medan menuju lokasi Masjid Jabal Nur ini, petinggi Kabupaten Lumajang tersebut mau tidak mau harus menumpang ojek yang sudah disiapkan oleh panitia.

Pembangunan Masjid Jabal Nur ini menghabiskan dana sekitar Rp 150 juta lebih. Dananya dari berbagai sumber. Ada dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH), LSM, swadaya, dan aghniya. Dana tersebut memang cukup besar. Pasalnya, membawa material bangunan cukup sulit. Harus digotong sejauh sekitar 3 kilometer. Kontan, ketika masa pembangunan tersebut, para mualaf libur kerja selama lima bulan. BMH adalah salah satu lembaga Amil Zakat Nasional yang konsisten dalam berdakwah, kini BMH telah mengirim ratusan da’i keseluruh pelosok negeri, khususnya daerah-daerah pedalaman.

Setahun kemudian Masjid Jabal Nur Hidayatullah diresmikan langsung oleh Wakil Bupati Lumajang, Drs. H. As’at Malik pada hari Ahad tanggal 18 juli 2010, dalam sambutan Wakil Bupati yang telah dikenal masyarakat sebagai seorang Kiyai ini, menyampaikan terimakasih kepada Baitul Maal Hidayatullah (BMH)  yang telah berperan aktif membina para muallaf tengger lewat para da’i yang ditugaskan didaerah tersebut. berbarengan dengan acara peresmian tersebut BMH juga mengadakan acara, sunnat Massal yang diikuti 20 orang anak, dan pengobatan gratis yang diikuti 1050 orang.

Mungil ::: inilah masjid di lokasi tertinggi di pulau Jawa. Masjid di tengah dusun berselimut kabut diantara dua gunung tersohor pulau jawa, Bromo dan Semeru.

Peresmian tersebut dihadiri sekitar 500 orang mulaf Tengger juga diisi dengan ceramah agama oleh K.H. Makhrus Ali , dan K. H. Habib Alwi Alhabsy dari Lumajang. Kedua tokoh ini begitu bersemangat menyampaikan pesan-pesan agama kepada para muallaf disana, bahkan mereka mewanti-wanti untuk diundang kembali jika ada acara disana, “tanpa disangoni, saya ikhlas” ujar K.H. Makhrus Ali. Begitupun para pesertanya tampak begitu antusias, gemuruh sholawat yang keluar dari suara peserta menggaung diantara lereng-lereng gunung yang terjal, membahana menembus kabut tipis.

Ribuan muallaf tumpah ruah dalam acara peresmian Masjid Jabal Nur Hidayatullah, mereka datang dari berbagai dusun Desa Argosari, Dusun Gedok, Pusung Duhur, dan puncak tempat mereka datang. Untuk mencapai tempat acara para muallaf rela berjalan kaki berpulu-puluh kilo meter, dengan medan jalan yang  terjal, menanjak, menukik, kanan dan kiri dipagari jurang. Ummat muslim yang masih mualaf disana sangat bersyukur telah dibangun masjid yang bisa dipakai untuk ibadah sholat jumat, sholat jamaah lima waktu, pengajian dan Taman Pengajian Al qur’an (TPA).

Berlatar bentang alam yang indah alami

Arsitektural Masjid Jabal Nur

Masjid itu bernama Jabal Nur. “Jabal” artinya gunung, sedangkan “Nur” adalah cahaya (Islam). Menurut, nama itu sengaja dibuat karena ingin Islam menjadi cahaya di puncak tertinggi di Senduro itu. Ukurannya tak terlalu besar sekitar 10 x 8 m, tapi setidaknya cukup jika menampung lebih dari 50 jamaah. Belum lagi di bagian teras luar masjid. Desain masjid dibuat minimalis, tapi modern. Dihiasi kubah bundar besar, menambah masjid ini penuh wibawa. di pucuk kubah bertuliskan “Allah”. Seluruh dinding masjid bercat putih dengan keramik lantai berwarna hijau muda. Yang menambah indah masjid ini, posisinya cukup tinggi dibanding dengan rumah-rumah para penduduk. Bagian tangganya dibikin semacam tangga yang berundak-undak tinggi. Eksotis sekali.

Lokasinya yang berada diketinggian memberikan pemandangan bentang alam yang begitu indah dari masjid ini, sebuah puncak di lereng Semeru yang indah. Dan, akan lebih indah lagi jika berdiri di teras masjid. Panorama mengagumkan akan terlihat jelas. Jurang yang menganga begitu terjal di kanan dan kiri. Masjid yang betul-betul menjadi berkah bagi warga dusun Puncak. Mengingat, bukan hal mudah untuk mendirikannya. Bukan karena dana, tapi juga lahan yang akan dijadikan masjid. Tapi, itu semua berkah setelah mereka hijrah dari Hindu ke Islam. Allah pun mempermudah pendirian masjid tersebut.

Referensi


Sunday, November 27, 2016

Masjid Al-Ijtihaj Lamakera, Pulau Solor

Masjid Al-Ijtihaj di Kampungnya para pemburu paus, Lamakera

Lamakera adalah sebuah desa di pantai ujung timur pulau Solor, Nusa Tenggara Timur. Secara administratif desa ini masuk ke dalam kecamatan Solor Timur, kabupaten Flores Timur, dan selama berabad abad terkenal sebagai desanya para pemburu ikan paus, sebuah propesi yang benar benar langka dan membutuhkan nyali besar untuk menjalaninya. Lamakera adalah satu dari dua desa di NTT yang penduduknya memiliki propesi tak biasa tersebut, desa lainnya adalah desa yang namanya nyaris sama, yakni Desa Lamalera di Kabupaten Lembata.

Sejak tahun 2015 Lamakera dikembangkan oleh Pemkab Flotim sebagai kawasan pariwisata bahari baru bagi para pecinta dunia laut. Di Lamakera dtemukan sejumlah jenis ikan langka yang hidup diperaian ini sejak berabad abad silam. Beberapa diantara hewan hewan laut itu kini bahkan nyaris punah, diantaranya dalah ikan paus, hiu, lumba lumba dan ikan pari manta atau dalam bahasa setempat disebut ikan Moku.

Lamakera merupakan sebuah perkampungan berbasis islam, letaknya yang berada di ujung timur pulau solor menjadikannya sebagai daerah yang cukup strategis karena menjadi tempat pertemuan arus dan mudah menjangkau laut sawu. Orang Lamakera merupakan nelayan ulung yang memulai tradisi perburuan paus biru dengan hanya bermodalkan “gala”(Tombak) dengan bertelanjang dada melesat diatas ganasnya samudera.

Laskar Lamakera nama gelar untuk para penangkap paus desa Lamakera seajak dahulu. Laskar lamakera inilah yang memulai tradisi perburuan paus yang kemudian ditiru desa serumpunnya Lamalera disebelah selatan pulau lomblen (Lembata) yang bermayoritas Katolik dan Kristen protestan. Hanya saja justru desa Lamalera yang di eskpose oleh media massa yang berakibat protes keras dari warga Lamakera.

Kampung yang indah menghadap ke laut lepas berlatar bukit menghijau

Dulunya, Desa Lamakera terdiri dari dua dusun, yaitu Dusun Motonwutun di sebelah timur dan Dusun Watobuku di sebelah barat. Seiring meningkatnya jumlah penduduk di kedua dusun tersebut, sekarang statusnya sudah meningkat menjadi desa, yaitu Desa Motonwutun dan Desa Watobuku. Meski sudah terbagi menjadi dua desa, tapi warga kedua desa tersebut tetap menyebut dirinya sebagai Warga Desa Lamakera.

Untuk mencapai Desa Lamakera, memang butuh sedikit perjuangan. Dari kota Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur dapat ditempuh dengan perahu (kapal motor) selama sekitar dua jam. Satu-satunya kapal motor yang menuju Lamakera adalah Kapal Motor (KM) Rahmat Solor yang dimiliki oleh Warga Lamakera. Setiap hari kapal ini berangkat dari Pelabuhan Larantuka jam 12.00 siang dan tiba di Desa Lamakera sekitar jam 14.00.

Opsi lainnya untuk menuju ke Lamakera, dari Larantuka Anda bisa naik perahu sampai ke Kota Waiwerang, Pulau Adonara kemudian lanjut naik perahu kecil hingga tiba di Lamakera. (edyra). Sampai saat ini tidak ada hotel ataupun penginapan di Desa Lamakera. Namun, pengunjung bisa menginap di rumah warga yang ramah dan terbuka terhadap para pengunjung desa mereka.

Sebagai sebuah desa dengan penduduk beragama Islam, di Lamakera berdiri sebuah masjid megah bergaya modern dengan nama Masjid Al-Ijtihaj. Sebuah bangunan megah dengan menaranya yang tinggi menjulang telah menjadi landmark Lamakera sejak masjid tersebut berdiri. Bagaimana tidak selain sebagai bangunan termegah di seantero desa, masjid ini juga merupakan bangunan tertinggi sekawasan.

Masjid AlIjtihad Lamakera
Desa Watobuku, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur
Provinsi Nusa Tenggara Timur. Indonesia
Koordinat : 8°26'4"S 123°9'49"E


Posisi Lamakera yang berada di bibir pantai dan lokasi masjid ini yang juga berada di tepi pantai membuat menara dan kubah besarnya sudah terlihat dari kejauhan, menjadi semacam mercusuar bagi para nelayan Lamakera yang sedang melaut. Dari bukit batu yang berada di sisi barat desa bangunan masjid ini terlihat tinggi menjulang diantara bangunan rumah rumah penduduk. 

Masjid Al-Ijtihaj Lamakera ini dibangun dengan dana swadaya masyarakat muslim setempat sejak tahun 2012, sebuah upaya dan semangat ke-Islaman yang luar biasa dari muslim setempat dengan segala keterpencilannya, mampu membangun sebuah masjid yang begitu megah, bahkan menara utama masjid ini memiliki ketinggian hingga 45 meter menjadi menara masjid tertinggi di kabupaten Flores Timur dan provinsi NTT.

Masjid Al-Ijtihat mempunyai tujuh pintu, dan masing masing pintu diberi nama sesuai nama tujuh suku yang ada di Lamakera, yaitu Lewoklodo, Ema Onang, Kiko Onang, Lamakera, Hari Onang, Lawerang, dan Kuku Onang. Masjid ini mempunyai lima menara dengan menara utama yang berada di depan masjid menjulang setinggi 45 meter.

Masya Allah Indahnya

Lamakera memiliki pesona alam yang menawan. Pengunjung yang datang kesana dapat memanjat ratusan anak tangga hingga ke puncak menara dengan meminta izin dari takmir masjid. Panorama yang terlihat dari puncak menara sangat menakjubkan. Seluruh Desa Lamakera bisa terlihat dengan jelas lengkap dengan bukit-bukit hijau di belakang desa dan Selat Solor yang berair biru di depannya. Pulau Adonara di seberang selat dan Pulau Lembata di sebelah timur juga terlihat jelas.

Desa Lamakera diapit dua buah tanjung. Di sebelah barat desa namanya Tanjung Watobuku dan di sebelah timur desa namanya Tanjung Motonwutun. Nama kedua tanjung ini kemudian dijadikan nama desa, setelah Desa Lamakera dipecah menjadi dua. Panorama di Tanjung Watobuku sangat cantik. Di tanjung ini terdapat sekumpulan batuan dengan bentuk yang unik. Batu ini dikeramatkan oleh Warga Lamakera.

Tak jauh dari Tanjung Watobuku juga terdapat sebuah pantai yang menarik, namanya Pantai Kebang. Di pantai ini terdapat sebuah batu karang yang menjorok ke laut, bentuknya mirip moncong/mulut buaya. Ada juga batuan berwarna merah di pinggir pantai yang semakin menambah keindahan pantai Di dekat Pantai Kebang juga terdapat padang savana dengan rumput hijau yang menghampar luas. Selain itu, kita juga bisa melihat Gunung Ile Bolang yang berdiri menjulang di Pulau Adonara.

Sejarah Masuknya Agama Islam di Lamakera

Lamakera dari bebukitan 

Kepercayaan nenek moyang masyarakat Lamakera sebelum kedatangan Islam adalah animisme. Seperti di kawasan Indonesia pada umumnya, awal masuknya Islam di Nusa Tenggara Timur melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang dan ulama. Pada abad XV, banyak para pedagang Islam dari berbagai wilayah di Nusantara, seperti para pedagang dari pulau Jawa, Sumatera dan Bugis Makasar yang melakukan perdagangan dan atau menyinggahi berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur sebagai tempat transit sebelum meneruskan pelayaran ke Maluku, Makasar ataupun ke bandar-bandar di pulau Jawa.

Karena faktor tersebut agama Islam paling awal masuk di wilayah Nusa Tenggara Timur adalah di sekitar bandar-bandar strategis yang banyak dikunjungi para pedagang Islam. Tempat-tempat tersebut antara lain : Pulau Solor, Pulau Ende, Pulau Alor, Kota Kupang, dan pesisir utara Sumba Barat. Pulau Solor merupakan tempat yang paling strategis bila ditinjau dari segi perdagangan karena berada pada posisi silang pelayaran dari bandar di pulau Jawa, Sumatera, Makasar ke Maluku atau sebaliknya, dari bandar-bandar di pulau Jawa, Sumatera, Makasar ke pulau Timor dan dari bandar di Makasar ke pantai utara Australia.

Di samping itu di Lamakera terdapat pelabuhan alam yang bagus dan aman sebagai tempat persinggahan kapal dalam rangka menunggu cuaca dan angin yang tepat untuk berlayar. Itulah sebabnya Lamakera yang terletak di ujung timur pulau Solor sebagai tempat yang paling banyak dikunjungi para pedagang dan pelaut Islam dan merupakan salah satu tempat di NTT yang paling awal menerima agama Islam.

Dari arah laut

Keberuntungan yang disebabkan oleh letak yang strategis dalam jalur perdagangan serta tersedianya pelabuhan alam yang aman telah menjadikan masyarakat Lamakera sebagai komunitas yang terbuka untuk menerima segala hal baru yang dibawa para pedagang yang hilir mudik tersebut.

Apalagi tradisi raja Lamakera pada saat itu, adalah mengundang dan menjamu setiap saudagar dari luar yang singgah untuk berdagang dan atau sekedar berteduh dari gangguan musim angin yang kencang. Keramahan tuan rumah seperti yang dicontohkan sang raja tersebut, merupakan kesempatan yang baik bagi para pedagang Islam, untuk lebih mudah memperkenalkan Islam kepada penguasa dan masyarakat Lamakera.

Sekitar abad ke XV, seorang pedagang dari Palembang bernama Syahbudin bin Ali bin Salman Al Farisyi atau yang kemudian dikenal juga dengan Sultan Menanga, merupakan salah seorang tokoh perintis penyebaran agama Islam. Tokoh ini oleh Raja Sangaji Dasi diberi izin menetap di wilayah perbatasan antara kerajaan Lamakera dan Lohayong. Di sana ia mendirikan perkampungan Islam yang diberi nama Menanga.

Melalui pendekatan kekeluargaan, tokoh ini berhasil menjadi menantu kerajaan dengan mengawini putri dari adik Raja Sangaji Dasi. Pada saat bersamaan, ia juga berhasil meng-Islam-kan Raja Sangaji Dasi. Dengan keberhasilan meng-Islam-kan tokoh kunci yakni raja dan keluarganya, maka semakin lancarlah upaya penyebaran agama Islam bagi pengikut dan rakyat di kerajaan tersebut.

Lamakera dengan menara masjidnya yang menjulang menjadi semacam mercusuar bagi para nelayannya

Kemudian pada tahun 1628, dibangunlah sebuah surau bagi pendukung pembinaan penyebaran agama Islam di Lamakera. Tokoh lain yang juga menjadi perintis penyebaran agama Islam di Pulau Solor adalah seorang ulama dari Ternate (Maluku) bernama Sutan Sahar dan istrinya yang bernama Syarifah al Mansyur.

Kecerdasan para pedagang dan ulama dalam menjelaskan ajaran Islam kepada penguasa dan masyarakat Lamakera, telah membuat Islam begitu mudah diterima dan dalam waktu yang tidak begitu lama penguasa dan masyarakat Lamakera yang sebelumnya merupakan penyembah Rera Wulan Tanah Ekang, menjadi penganut Islam yang taat.

Penyebaran Islam di Lamakera dapat berjalan dengan baik dan cepat diterima oleh masyarakat Lamakera karena Sultan Menanga berhasil meng-Islam-kan Raja Sangaji Dasi. Sepeninggal Sultan Mananga, maka untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, penyebaran agama Islam selanjutnya dilaksanakan oleh raja dan dibantu oleh Sultan Syarif Sahar.

Walaupun raja mempunyai kekuasaan dan wewenang yang kuat untuk memerintahkan masyarakatnya, namun dalam hal penyebaran agama Islam tetap dilakukan baik, arif dan bijaksana dengan seruan-seruan yang baik tanpa kekerasan serta pemaksaan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa Raja Sangaji Dasi yang pada saat itu berkuasa, adalah tokoh yang disegani, ditaati dan mempunyai kharisma serta pengaruh yang sangat luas hingga seluruh wilayah Solor Timur, namun masih ada masyarakat di daerah-daerah kekuasaannya tetap menyembah Rera Wulan Tanah Ekang dan baru memeluk ajaran Islam setelah Indonesia merdeka, terutama setelah berkembangnya pendidikan agama Islam di Solor Timur.***

Referensi

goodnewsfromindonesia.org  - lamakera, desa pemburu paus di pulau solor
edyraguapo.blogspot.co.id – lamakera desa pemburu paus di pulau solor 

Baca Juga



Saturday, November 26, 2016

Masjid Pusaka Songak Suku Sasak

Masjid Al-Falah atau lebih dikenal sebagai masjid Pusaka di desa Songak

Masjid Pusaka Songak, adalah masjid tua suku sasak yang berada di Desa Songak, kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Masjid ini sebenarnya bernama Masjid Al-Falah namun lebih dikenal dengan nama Masjid Pusaka. Desa Songak secara tradisi turun temurun hingga kini merupakan masyarakat muslim yang menjunjung tinggi ajaran agama Islam dalam kehidupan mereka. Masjid merupakan salah satu elemen yang teramat penting dalam kehidupan masyarakat Songak yang menurut cerita turut merupakan keturunan dari Raja Selaparang dan Bayan.

Konon, masjid ini dibangun ditempat yang dulunya merupakan tempat bertemunya para wali yang dikemudian hari dibangun masjid sebagai penanda tempat tersebut. Menurut tradisi setempat, Masjid pusaka Songak dibangun sekitar tahun 1309 Miladiyah oleh sembilan orang tokoh yang dikenal dengan nama Ki Sanga Pati. Sebelum kedatangan sembilan orang tersebut, desa Songak telah lama menjadi kota hantu tak berpenghuni karena ditinggalkan seluruh penduduknya yang tidak betah lagi tinggal disana akibat di cap sebagai masyarakat Leak.


Sekitar tahun 1299 sembilan orang tokoh tersebut tiba di desa Songak yang sudah tak berpenghuni dan menetap disana. Mereka sengaja datang dan menetap ke desa Songak untuk menyepi dari keramaian. Setelah bertahun tahun tinggal disana baru kemudian masyarakat di luar wilayah desa itu mengetahui keberadaan mereka dan berangsur kembali tinggal di desa Songak. Nama Songak bagi nama desa ini, konon juga berasal dari kata Sanga pada nama Ki Sanga Pati yang membuka kembali desa itu dengan membawa ajaran Islam, setelah begitu lama ditinggalkan para penghuninya.

Tradisi Masjid Pusaka Songak

Masjid ini diyakini oleh Masyarakat Songak sebagai tempat penyimpanan semua kekayaan Datu Selaparang I. Masjid ini oleh Masyarakat Songak dahulu dijadikan sebagai ajang pertahanan dari serangan musuh perorangan maupun berkelompok. Pada jaman dahulu, mereka yang akan berangkat berperang akan berkumpul di masjid ini untuk berdoa bersama dipimpin oleh pemimpin mereka, setelah berdoa di masjid ini barulah mereka berangkat berperang. Tradisi tersebut disebut dengan tradisi Mangkat. Selain tradisi Mangkat, tradisi lainnya yang diselenggarakan di masjid ini adalah tradisi tahunan pengesahan minyak Ki Sanga Pati yang sekarang terkenal dengan Minyak Songak. Tradisi ini diselenggarakan setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal, sebagai bagian dari Ritual Mulut Adat atau peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W.

Selain tradisi tradisi tersebut masih ada tradisi Ritual Bubur Putiq disetiap bulan Muharram (awal tahun Hijriah) pada tanggal 5 atau tanggal 10 atau paling lambat tanggal 15 Muharram setiap tahunnya. Kemudian disetiap bulan Safar diselenggarakan tradisi Ritual Bubur Beaq, yang kemudian dilanjutkan pada bulan berikutnya dengan penyelenggaraan ritual Mulut Adat seperti telah disebutkan sebelumnya. Hampir sepanjang tahun Masjid Pusaka Songak ini ramai dengan berbagai macam ritual tradisi kecuali tiga bulan yang disebut sebagai Bulan Suwung masjid ini sepi dari aktivitas selain aktivitas rutin sholat wajib lima waktu dan sholat Jum’at.

Masjid Pusaka Songak saat ini

Perkembangan Masjid Pusaka Songak

Masjid Pusaka Songak dibangun dengan atap daun alang alang dan masih dipertahankan hingga saat ini. sejak dibangun tahun 1308 Miladiyah masjid ini baru dilakukan perbaikan bagian atapnya pada tahun 1499 Miladiyah. Perbaikan berikutnya dilakukan tahun 1549 Miladiyah, kemudian secara rutin dilakukan perbaikan atap setiap kurun waktu 25 tahun. Tahun 1719 wilayah Songak yang merupakan bagian dari kerajaan Purwa Dadi, jatuh ke dalam kekuasaan Anak Agung dari kerajaan Karang Asem, Bali. Masjid Pusaka Songak sepi dari aktivitas ke-agamaan secara terang terangan, masayarakat setempat bahkan tak berani menyebutnya sebagai masjid melainkan tempat ibadah atau bahkan Bale Bleq (tempat pertemuan banjar). hal tersebut berlangsung hingga penghujung abad ke 18.

Setelah peralihan penguasa barulah masjid ini kembali semarak. Sekitar tahun 1897-1899 masjid ini mulai dilengkapi dengan Kolam di halaman masjid tua ini. Kolam sebelah kiri untuk jemaah perempuan dan kolam untuk jemaah laki laki di sebelah kanan. Pembangunan tersebut bersamaan dengan pembangunan jembatan penghubung antara desa Songak dengan Desa Rumbuk. Pada masa itu juga dilakukan renovasi terhadap bangunan masjid Pusaka Songak dengan mulai digunakannya bahan bangunan semen namun tetap mempertahankan bentuk dan ukuran aslinya.

Renovasi selanjutnya dilakukan sekitar tahun 1920, saat itu desa Songak kedatangan seorang guru agama dari Darmaji Lombok Tengah yang mulai mengajak muslim Songak kembali menjalankan syariat. Muslim setempat kembali ramai sholat berjamaah di masjid Pusaka Songak.  Di masa itu juga dilakukan penggantian dinding masjid dengan dengan cetakan bata mentah  yang berukuran besar beberapa bahkan hingga berukuran 60 x 80 cm. Pengerjaan tembok ini di motori oleh Jero Kertasih (Kepala desa Songak), Papuq Candra (Penghulu Desa Songak), Papuq Delah (Sesepuh Masyarakat Songak) bersama Tuan guru dari Lopan. Kepengurusan masjid ini selanjutnya diserahkan sepenuhnya kepada penghulu desa yaitu Papuq Candra  Yang kemudian lebih di kenal dengan sebutan Papuq Pengulu sampai beliau wafat sekitar tahun 1980 dalam usia 160 tahun.

Perluasan Masjid Pusaka Songak

Di sekitar tahun 1962 di desa Songak dibangun Masjid baru yang lebih besar bernama Masjid AL-Mujahidin atas prakarsa H. Athar dan sejak tahun 1972 kegiatan peringatan hari besar Islam maupun sholat jum’at mulai dilaksanakan bergilir antara Masjid Pusaka Songak dengan masjid Al-Mujahidin. Di sepanjang tahun 1975 hingga tahun 1987 Masjid Pusaka Songak sempat mengalami perluasan ke tiga sisi bangunannya dengan ditambahkan bangunan tambahan hingga menutupi bangunan utama yang merupakan bangunan asli masjid tersebut. Penambahan bangunan disekeliling masjid asli ini seakan telah menutupi secara keseluruhan bangunan aslinya. Seluruh bangunan tambahan tersebut juga ditinggikan lantainya sama tinggi dengan bangunan asli.

Dikembalikan ke Bentuk Asli

Pada permulaan tahun 1999 masjid ini di kembalikan  seperti  bangunan semula, Dengan susah payah semua Masyarakat mengangkat kembali tanah urugan tahun 1987 secara bergotong royong menggali kembali timbunan tanah yang mengelilingi pondasi bangunan tua tersebut. Membangun kembali tembok bangunan asli yang sempat dirobohkan dan mengembalikan lagi bentuknya seperti semula. Barulah masjid tua berukuran 9 x 9 meter ini kembali kelihatan kokoh berdiri seprti yang kita saksikan sekarang ini.

Tahun 2005 halaman Masjid ini diperluas atas upaya dari Kepala desa Saifullah Aman sekaligus, bersamaan dengan diadakan nya peresmian keberadaan Makam sebengak yang diberi nama Makam Keramat Songak oleh Bupati Lombok timur pada Saat itu di pegang oleh Hajji Ali Bin Dahlan, yang terkenal dengan sebutan Ali Bd. Sedangkan perluasan halaman di sebelah selatan Masjid di  laksanakan  pada ahir tahun 2007, dan dilanjutkan  di bagian utara pada pertengahan tahun 2009.***

Referensi


Baca Juga



Sunday, November 20, 2016

Masjid Agung Darussalam Taliwang

Megah dengan gemerlap lampu lampu yang menerangi bangunan masjid Agung Darussalam di KTC Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Masjid Agung Darussalam merupakah masjid agung kabupaten Sumbawa Barat, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lokasi nya berada di dalam kawasan komplek kantor pemerintahan terpadu kabupaten Sumbawa Barat yang diberi nama komplek KTC – Komutar Telu Center di Kecamatan Taliwang, sebuah komplek pusat pemerintahan kabupaten yang sangat impresif, bila dipandang dari ketinggian komplek pusat pemerintahan kabupaten Sumbawa Barat ini terlihat dengan jelas dibangun dengan denah persegi delapan sebagai salah satu simbol dunia Islam, menyiratkan kehidupan Islami dari masyarakat kabupaten Sumbawa Barat yang secara tradisi terbuka serta siap menerima masukan dari manapun bagi kemajuan kabupaten Sumbawa Barat.

Pembangunan masjid ini merupakan salah satu bangunan yang di dahulukan pembangunannya bersama dengan dua gedung penting lainnya, yakni, gedung Graha Fitra yang merupakan kantor Bupati Sumbawa Barat dan gedung Sekretariat pemerintahan daerah (Sekda) kabupaten, yang disebut sebagai bangunan tiga serangkai. Pemilihan nama Graha Fitrah bagi nama gedung tempat berkantornya Bupati, wakil Bupati dan perangkatnya ini sebagai upaya untuk senantiasa mengingatkan siapapun yang berkantor disana untuk senantiasa kembali kepada fitrah sebagai pengemban amanat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

kubah hijau layaknya kubah masjid nabawi, Masjid Agung Darussalam hadir di komplek pusat pemerintahan kabupaten Sumbawa Barat.

Masjid Agung Darussalam Taliwang selesai dibangun pada bulan Juni 2010 dimasa pemerintahan bupati KH Zulkifli Muhadli, dengan menghabiskan dana sebesar Rp. 32 milyar Rupiah. Luas bangunan masjid ini 15.500 m2 sedangkan luas keseluruhannya dan 48.500 m2, dan berdaya tampung mencapai 8.000 jemaah, menjadikan masjid ini sebagai masjid termegah dan terbesar di kabupaten Sumbawa Barat, dan tentu saja menambah khasanah jejeran bangunan masjid megah di provinsi NTB yang sudah sejak lama dikenal dengan julukan provinsi seribu masjid. 

Secara resmi Masjid Agung Darussalam mulai dipergunakan pada hari kamis 9 Juli 2010. Penggunaan masjid ini mulai diberlakukan untuk dapat dipergunakan dalam menjalankan kewajiban shalat lima waktuBeberapa program kerja yang telah disiapkan oleh pengurus masjid antara lain program pembinaan, penyuluhan, penelitian, bimbingan agama, kajian buku, dan kegiatan ilmiah lainnya

Masjid Darussalam 
Jl. Bung Hatta No.2 Kompleks KTC 
Taliwang, Kab. Sumbawa Barat. Prov. Nusa Tenggara Barat
Indonesia




Masjid Darussalam ditopang oleh 99 tiang yang bermakna 9.9 nama Allah Swt. (Asma’ul Husna), 112 anak tangga yang menunjukkan surat Al-lkhlas sebagai surat ke-112 dalam Al-Quran, dan tiga lantai masjid yang mengimplementasikan tiga prinsip dasar masyarakat Sumbawa Barat. Tiga prinsip dasar tersebut adalah Assalamu’alaikum yang bermakna salam untuk silaturrah’im yang kokoh dalam persaudaraan yang harmonis sehingga menciptakan kedamaian dan keselamatan, Warahmatullahi yang berarti rahmat, serta Wabarakatuh yang berarti berkah.

Sekeliling masjid dihiasi kolam seluas sekitar 5.000 m2. Bagian dalamnya terbuat dari kaca sehingga terlihat dari lantai basement. Selain itu, kolam yang merefleksikan bentuk bangunan tersebut juga dihiasi 120 titik air mancur. Untuk memasuki masjid, jamaah harus melewati sebuah jembatan penghubung yang melintasi sungai. Konsep ini sangat jarang terlihat pada bangunan masjid umumnya.

interior masjid agung Darussalam Taliwang dilihat dari lantai dua

Untuk mengumandangkan azan, masjid menggunakan delapan titik tempat pengeras suara. Jumlah ini mengandung makna bahwa syiar Islam disebarkan ke seluruh penjuru dunia, juga melambangkan delapan kecamatan yang ada di Sumbawa Barat. Kubah besar di atap masjid melambangkan makna tauhid “laa ilaaha illallah”, dikelilingi lima kubah kecil sebagai representasi rukun Islam. Rukun iman direpresentasikan melalui tiang penyangga utama yang berjumlah enam buah. Adapun dua menara yang berada di sisi kanan dan kiri masjid melambangkan dua kalimat syahadat. Interior masjid menampilkan pilar-pilar yang kokoh guna menciptakan skala ruangan yang agung dan megah.

Dominasi warna putih sebagai wujud kesucian dengan kombinasi warna emas dan hijau serta kaligrafi yang menghiasi sepanjang dinding masjid memberi kesan sejuk dan tenang. Selain di ruang utama yang berada di lantai satu, hiasan kaligrafi yang mengelilingi dinding terlihat di lantai dua dan tiga. Kedua lantai ini secara tata bangunan mengelilingi ruang utama masjid dan berfungsi layaknya mezzanine. Sebagai sentralisasi visual pada interior masjid, tepat di bagian tengah bawah kubah dalam terdapat lampu gantung dari kuningan. Lampu seberat sekitar 600 kilogram itu dipenuhi oleh 64 lampu kecil sebagai penerang ruangan.

Masjid Agung Darussalam dengan Tugus Syukur (sebelah kanan foto)

Masjid Agung Darussalam Taliwang ini cukup semarak dengan beragam aktivitas termasuk selama bulan suci Romadhan, salah satu aktivitas nya adalah menyelenggarakan Pesantren kilat yang diikuti oleh  siswa-siswi SD/MI, SMP/MTs, SMA/MAN/SMK. Serta program kompetisi pemilihan da’i cilik.

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke XXIV tingkat provinsi NTB

Hari Rabu malam 9 November 2011, masjid Agung Darussaam Taliwang ini menjadi tuan rumah pelanksaan pembukaan MTQ ke XXIV tingkat provinsi NTB yang berlangsung meriah. Pembukaan MTQ tersebut ditandai dengan pemukulan beduk oleh Gubernur NTB, TGH Zainul Majdi. Acara yang dihadiri ribuan kafilah dan tamu undangan dari seluruh kabupaten / kota di NTB serta masyarakat setempat tersebut turut dimeriahkan dengan atraksi kembang api. Kembang api yang digunakan pada upacara pembukaan MTQ NTB ini merupakan jenis kembang api yang pertama digunakan di Indonesia dan juga akan digunakan dalam pembukaan Sea Games ke-26 di Palembang.

Referensi

sumbawabaratkab.go.id - Kemutar Telu Centre (KTC)
duniamasjid.islamic-center.or.id - masjid-agung-darussalam

Baca Juga