Saturday, November 18, 2017

Masjid Jamia Cape Town

Masjid Jamia atau Jamia Mosque atau juga seringkali disebut Masjid Ratu Victoria di Cape Town, Afrika Selatan 

Masjid Jamia atau Jamia Mosque atau juga disebut dengan Masjid Ratu Victoria adalah salah satu masjid tua di Afrika Selatan, dan merupakan bangunan kedua yang dibangun dari awal dengan peruntukan sebagai masjid setelah Masjid Awwal, serta merupakan masjid ke-empat di Boo Kap, Cape Town dan Afrika Selatan setelah Masjid Auwal (1794-1798), Masjid Palm Tree (1825) dan Masjid Nurul Islam (1844). 

Pembangunan masjid ini tak lepas dari angina kebebasan dari perbudakan yang semakin berhembus kencang di wilayah Capetown sejak wilayah itu diambil alih oleh Inggris dari tangan Belanda. Hal tersebut berdampak positif bagi perkembangan Islam dan masjid di seluruh wilayah Cape Town. Termasuk kemudian berdirinya Masjid Jamia ini dipertigaan jalan  Chiappini Street dan Castle Streets. Pembangunan masjid ini diperkirakan sudah dilaksanakan sebelum tahun 1850 dan sudah selesai dan digunakan sejak tahun tersebut.

Jamia Masjid
0A Chiappini St, Schotsche Kloof
Cape Town, 8001, Afrika Selatan



Hal ini berdasarkan kepada fakta bahwa ada beberapa laporan tertulis dari para pengelana Eropa yang menuliskan catatan perjalanan mereka mengunjungi masjid ini, salah satunya adalah kunjungan dari Mayson di tahun 1854 yang menerangkan bahwa masjid tersebut sudah berdiri sebagai sebuah masjid besar dengan menara dibangun dengan persetujuan dan dukungan yang baik dari pemerintah kota.

Dia juga menyatakan bahwa pembangunan masjid itu ditujukan bagi semua ummat Islam tanpa memandang perbedaan pandangan diantara kaum muslimin. Sebelumnya ditempat tersebut juga sudah ada masjid dengan ukuran lebih kecil. Dia juga menambahkan bahwa pada saat itu di Cape Town sudah terdapat 12 tempat yang difungsikan sebagai masjid, baik yang berlokasi di rumah para ulama maupun bangunan masjid sebenarnya.

Dan disetiap tempat yang difungsikan sebagai masjid tersebut dilengkapi dengan satu tempat yang disebut mihrab yang menandakan arah ke Mekah dan semuanya sangat bersih, imbuhnya. Masjid ini juga yang dikunjungi oleh Lady Duff Gordon pada hari Jum’at 21 Maret 1862. Catatannya menceritakan tentang indahnya masjid ini dan keramahan pengurus masjid menyambut kedatangannya menjelang pelaksanaan sholat Jum’at, serta menceritakan pengalamannya menyaksikan pelaksanaan sholat Jum’at di masjid ini.

Masjid Jamia Cape Town berada di persimpangan jalan Chiappini Street dan Castle Streets. (foto dari IG @rumin0) 

Hadiah Ratu Victoria

Lahan tempat masjid ini berdiri merupakan pemberian dari pemerintah Inggris di Afrika Selatan sebagai imbalan dari dukungan muslim Cape Town dalam perang perbatasan tahun 1846 melawan pasukan Xhosas. Ratu Victoria menunaikan janjinya memberikan lahan kepada kaum muslimin untuk membangun masjid termasuk juga ha katas lahan di Faure dekat dengan makam Sheikh Yusuf (Al-Makasari).

Lahan tersebut tadinya merupakan lahan milik pemerintah kota Cape Town dan diserahkan secara resmi kepemilikannya kepada Imam Abdul Wahab mewakili muslim Cape Town di tahun 1857. Dua bidang lahan tersebut diserahkan kepada Komunitas Muslim dan dipercayakan melalui Imam Abdul Wahab.

Karena lahan masjid ini merupakan hadiah dari pemerintah Inggris, tak heran bila di masjid ini ada lambang kebesaran kerajaan Inggris yang ditempatkan di atas mihrab masjid, dan ini merupakan masjid satu satunya masjid di dunia yang memiliki lambang kebesaran Prince of Wales di atas mimbar nya.

Tahun pembangunan dan renovasi masjid 

Itu sebabnya masjid ini juga seringkali disebut dengan Masjid Ratu Victoria (Queen Victoria Mosque). Imam pertama masjid ini dijabat oleh Imam Abdulbazier, namun beliau memgang jabatan tersebut hanya beberapa bulan saja dan kemudian diserahkan kepada Imam Abdul Wahab di tahun 1852.

Imam M. Nacerodien selaku imam masjid ini di tahun 1976 menjelaskan bahwa beberapa bagian dari masjid ini masih asli sejak masjid dibangun, termasuk mimbar dan mihrabnya. Beliua juga menjelaskan bahwa masjid ini diresmikan pada tanggal 9 Nopember 1857. Menurut beliau hal tersebut sesuai dengan salah satu pasal di dalam Cape Argus bertanggal 9 November 1957 pada saat perayaan ke 100 tahun berdirinya masjid tersebut.

Mirip Gereja

Masjid masjid di Cape Town dibangun dengan bentuk yang tak jauh berbeda dengan masjid masjid di negara negara Islam di seluruh bagian dunia lainnya. Meskipun memang ada sedikit kemiripan dengan bentuk bangunan gereja. Belanda sendiri bahkan seringkali menyebut bangunan masjid dengan istilah ‘Islamsche Kerk’ (gereja orang Islam).

Perhatikan bentuk bangunannya dengan seksama, denah bangunannya memanjang dengan satu pintu akses di bagian depan ditambah satu beranda seperti layaknya sebuah gereja.

Beberapa sejarawan memberikan penjelasan sederhana untuk hal tersebut adalah karena memang para arsitek pembangun masjid tersebut atau para paenggambar rancangan masjid masjid tersebut kemunginan adalah orang orang non muslim yang bisa jadi bahkan belum pernah melihat masjid seumur hidup mereka, dan mereka merancang bangunan utama masjid seperti bangunan yang biasa mereka buat dengan penyesuaian segala sesuatunya sebagai sebuah masjid.

Masjid Untuk Semua Muslim

Seperti sudah disebutkan di awal tulisan ini, bahwa masjid Jamia ini dibangun dengan penekanan “untuk semua muslim” tanpa memandang mazhab dan perbedaan pandangan diantara kaum muslimin. Hal tersebut terjadi karena memang pada masa itu sedang terjadi semacam perselisihan diantara kaum muslimin disana terutama tentang perbedaan mazhab.

Jemaah muslim di Cape Town yang notabene merupakan muslim dari dan keturunan Indonesia menganut Mazhab Syafi’i dan kemudian terjadi ketidaksepahaman dengan para penganut mazhab Hanafi. Perselisihan tersebut mereda, konon setelah ditengahi oleh Ratu Victoria, salah satunya dengan membangun Masjid Jamia ini.

Dikemudian hari muslim bermazhab Hanafi membangun masjid mereka sendiri di sekitar tahun 1855 di Claremont, yang kini dikenal dengan nama Masjid Hanafi. Yang Insya Allah akan kita bahas pada tulisan berikutnya.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, November 12, 2017

Masjid Haji Abdul Rahman, Kabul - Afganistan

Masjid Haji Abdul Rahman 

Masjid Haji Abdul Rahman atau dikenal juga dengan nama Masjid Agung Kota Kabul merupakan salah satu masjid terbesar di Afganistan dengan daya tampung mencapai hingga 10 ribu jemaah sekaligus. Berdiri megah di pusat kota Kabul, Ibukota Afganistan. Lokasi masjid ini berada di pusat komersil tersibuk di kota Kabul, dekat dengan Pashtunistan Square dan berseberangan dengan Plaza Hotel.

Masjid megah ini dirancang oleh arsitek Afganistan bernama Mir Hafizullah Hashimi. Proses pembangunannya dimulai di penghujung tahun 1990 manakala Taliban sedang berkuasa di negara tersebut namun kemudian sempat terbengkalai seiring dengan pecahnya perang saudara di negara itu yang bermula sejak tahun 2001.

Abdul Rahman Khan Jamia Masjid
Kabul, Afghanistan


Proses pembangunannya dilanjutkan tahun 2003 dengan bantuan dana dari pemerintah kerajaan Saudi Arabia dan keseluruhan pembangunannya selesai dilaksanakan pada tahun 2009, mundur dua tahun dari rencana. Masjid ini juga dilengkapi dengan Madrasah.

Nama masjid ini mengabadikan nama pengusaha Afganistan Haji Abrul Rahman yang merupakan pelopor pembangunan masjid ini dan beliau juga yang melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan masjid ini di tahun 1990 namun beliau wafat sebelum pembangunan selesai dilaksanakan. Cucu beliau yang kemudian melanjutkan pembangunan masjid ini hingga selesai.

Masjid Haji Abdul Rahman dari arah taman Zarnegar Park.

Masjid Haji Abdul Rahman dirancang dengan bentuk masjid Modern dilengkapi dengan satu kubah besar di atap bangunan utama masjid, kemudian ditambah dengan beranda yang memanjang di belakang masjid dilengkapi dengan tiga kubah kecil di atapnya.

beranda masjid ini terhubung langsung dengan area pelataran di sisi belakang bangunan utama yang dikelilingi dengan koridor tertutup di sisi kiri dan kanan pelataran. masing masing koridor tertutup ini dilengkapi dengan tujuh kebah berukuran lebih kecil di atapnya.

Masjid Haji Abdul Rahman dan bangunan tertinggi di kota Kabul

Sebuah gapura besar menjadi pintu masuk utama ke area pelataran masjid ini, dari pelataran Jemaah akan melintasi koridor panjang yang beratap membelah pelataran terbuka masjid, langsung ke pintu masuk utama bangunan masjid utama.

dua menara kembar beridiri di sisi kiri dan kanan bangunan masjid diantara bangunan utama dengan bangunan pelataran masjid. Keseluruhan ekterior masjid ini menggunakan warna senada yakni warna tanah kecoklatan di seluruh bangunannya.

Lokasi masjid ini berdekatan dengan Zarnegar Park yang berfungsi sebagai taman kota atau alun alun bagi kota Kabul, serta bersebelahan dengan komplek kantor walikota Kabul di sisi utaranya.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi

wikipedia - Abdul_Rahman_Mosque

Baca Juga


Saturday, November 11, 2017

Masjid Juma Derbent Tertua di Rusia

Masjid Juma Derbent di Republik Dagestan, merupakan masjid tertua di Rusia

Masjid Juma Derbent | Derbent Juma Mosque | Derbentskaya Dzhuma Mechet' | Дербентская Джума Мечеть adalah masjid tua di kota Derbent di wilayah otonomi Republik Dagestan, Federasi Rusia. Masjid Derbent juga merupakan masjid tertua di wilayah Dagestan sekaligus tertua di wilayah pegunungan kaukasus utara dan Rusia. Pertama kali dibangun tahun 733 (115 Hijriah) pada saat kota Derbent berada di bawah kekuasaan Islam.

Selain masjid Juma, kota Derbent juga memiliki beberapa masjid masjid tua lainnya seperti Masjid Kyrhlyar dari abad ke 17, Masjid Bala dan Masjid Chertebe yang dibangun di abad ke 18, termasuk juga bangunan madrasah yang berasal dari abad ke 15.

Masjid Juma terletak di tengah tengah wilayah kota lama Derbent, yang telah menjadi ikon dari arsitektur kota kuno ini. Di dalam komplek masjid ini juga terdapat bangunan madrasah dan beberapa rumah rumah tua yang dulunya merupakan rumah para ulama tinggal.

Derbentskaya Dzhuma Mechet' | Дербентская Джума Мечеть
7 магал, д. 10, Derbent, Dagestan Republits, Rusia, 368600
djumamechet.ru
+7 872 404-63-68


Tentang Kota Derbent

Derbent adalah salah satu kota tertua di wilayah Republik Dagestan, Rusia. Kota yang memiliki sejarah panjang Islam di pegunungan Kaukasus. Sejarah panjang kota Derbent berkaitan dengan misi Islam yang berhasil menaklukkan Iran pada abad ke-7 masehi.

Derbent merupakan kota terbesar kedua di Republik Dagestan, lokasi kota ini berada di tepian laut Kaspia dan berbatasan langsung dengan republic Azerbaijan disebelah selatan. wilayah kota ini merupakan gerbang antara laut Kaspia dengan pegunungan Kaukasus menjadikan kota ini sebagai laluan selama berabad abad.

Kota Derbent juga disebut sebut sebagai kota tertua di Rusia berdasarkan temuan temuan terdokumentasi dari abad ke 8 sebelum masehi. Dan karena lokasi strategisnya sejarah kota ini penuh dengan pergantian kekuasaan diantara Persia, Arab, Mongol, Timurid, Shirvan dan kerajaan kerajaan Iran dan berahir di tangan Rusia melalui perjanjian Gulistan  antara Iran dan Rusia di tahun 1813.

Pelataran depan masjid Juma Derbent, pohon pohon di depan masjid ini konon bahkan lebih tua dari bangunan masjidnya sendiri karena sudah tumbuh dan berdiri disana sejak masa areal ini masih berupa kuil pemujaan dimasa pra Islam.

Sejarah Masjid Juma Derbent

Kekuatan Islam dimasa khulafaurrasyidin berhasil menguasai kota Derbent di tahun 654 dibawah komando Arab military leader Maslama Ibn Abd-al-Malik dan menyebut kota ini sebagai Bab al-Abwab seiring dengan keberhasil pasukan islam menaklukkan seluruh wilayah Persia.

Segera setelah itu, kota Derbent berubah menjadi kota penting di wilayah tersebut dan agama Islam mulai berkembang dikota ini dan wilayah sekitarnya. Dari sini wilayah Islam meluas hingga ke wilayah Kaukasus timur laut termasuk Turki, Azerbaijan dan Rusia.

Pada tahun 733, tujuh masjid dibangun di wilayah ini. Salah satunya adalah Masjid Juma, masjid tertua yang hingga saat ini masih berdiri kokoh. Masjid Juma yang dibangun pada 115 Hijriah atau 733-734 masehi dan merupakan masjid terbesar dan berfungsi sebagai masjid utama sekaligus merupakan bangunan terbesar di wilayah tersebut pada saat itu.

Bangunannya yang kokoh dan besar dan banyak ruangan, membuat masjid ini sempat di ubah menjadi penjara di masa Uni Soviet berkuasa.

Bangunan masjid ini berukuran panjang 68 m (timur – barat) dan lebar 28 m (utara-selatan) sedangkan tinggi kubah utamanya mencapai 17 m. dilengkapi dengan gedung madrasah dan bangunan bangunan rumah tempat tinggal para ulama di sekitar masjid.

Khalifah Harun Ar-Rasyid dari Dinasti Abasiyah (763-809) pernah tinggal di Derbent dan menjadikan kota ini memiliki reputasi yang sangat disegani sebagai pusat budaya dan perdagagangan. merujuk kepada sejarawan arab saat itu penduduk kota ini melampaui 50 ribu jiwa dan merupakan kota terbesar di Kaukasus di abad ke 9 masehi.

Kekuasaan khalifah Islam bertahan di wilayah ini hingga lebih dari dua abad dan mulai melemah di penghujung abad ke 9. Kota Derbent menjadi pusat kekuasaan Ke-Emiran yang kemudian kekuasaan atas wilayah ini silih berganti sampai ahirnya menjadi wilayah Rusia di tahun 1813.

Mihrab dan mimbar masjid juma derbent

Masjid Juma Derben pernah mengalami restorasi ditahun 1368-1369 untuk memulihkan kondisinya akibat kerusakan karena gempa bumi oleh Baku Tazhuddin. kemudian perluasan dilaksanakan dan perbaikan keseluruhan komplek masjid ini pernah dilaksanakan tahun 1815.

Hingga 1300 tahun setelah berdirinya masyarakat masih bisa menikmati struktur asli dari masjid ini. sayangnya, perubahan politik menjadi sejarah kelam fungsi masjid sebagai tempat ibadah, pada tahun 1930 ketika Uni Soviet (USSR) menguasai wilayah ini.

Pemerintah Soviet yang komunis menjalankan kampanye anti agama. Pada tahun 1938, polisi rahasia Soviet (NKVD) menanggalkan semua atribut keislaman di Masjid Juma dan menjadikan masjid sebagai penjara kota hingga tahun 1943.

Salah satu ruang diantara lorong lorong di dalam masjid juma Derbent

Namun, pada 1943 pemerintah Soviet mulai membuat keputusan lunak, dengan mengembalikan masjid tersebut kepada ummat Islam dan membolehkan umat Islam menjadikan kembali Masjid Juma sebagaimana mestinya.

Saat ini, Masjid Djuma tetap berdiri dengan arsitektur aslinya dengan taman dan pohon rindang di lokasi masjid. Empat pohon besar berada disamping bangunan bermenara dan kubah ini. Jasa Masjid ini luar biasa besar dalam melahirkan ulama-ulama muslim yang mendakwahkan Islam ke wilayah Rusia dan Kaukasia.

Restorasi

Keseluruhan komplek masjid ini beserta kawasan kota tua derbent telah direstorasi oleh pemerintah federal Rusia di tahun 2015 yang lalu. restorasi terhadap masjid tertua di Kaukasus utara ini selesai pada tanggal 15 Juli 2015. Proses restorasi tesebut dilakukan untuk memulihkan kondisi masjid ini dan bangunan disekitarnya dengan tetap menjada ke asliannya. proyek restorasi tersebut dilakukan dalam rangkaian peringatan hari jadi kota Derbent yang ke 2000 tahun.

Tempat wudhu nya yang unik

Tidak hanya Komplek Masjid Juma Derbent yang di restorasi namun termasuk juga benteng Naryn-Kala dan kawasan disekitarnya termasuk jaringan jalan raya tua di sekitarnya sepanjang sekitar 20 Km. Restorasi tersebut melibatkan para ahli dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (Russian Academy of Sciences) para arkeolog serta sejarawan terkemuka.

Pemerintah Rusia menganggarkan 616.3 juta rubles dari anggaran belanja federal untuk proses restorasi kawasan bersejarah ini, dengan tujuan utamanya tentu saja adalah untuk mengkonservasi bangunan bangunan dan pendukungnya yang telah menjadi cagar budaya nasional Rusia.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi

en.wikipedia.org – derbent
derbentmuzei.ru - dzhuma-mechet

Baca Juga


Sunday, November 5, 2017

Masjid Nurul Islam Muka Kuning – Batam

Masjid Nurul Islam - Muka Kuning diantara sakura yang bermekaran.

Masjid Nurul Islam Muka Kuning ini menjadi salah satu masjid paling unik di Indonesia. Di masjid ini sholat Tarawih selama bulan Romadhon dilaksanakan dua ship untuk mengakomodir jemaah yang bekerja di ship yang berbeda. Saking ramainya, jemaah yang hadir saat sholat Tarawih memadati setiap jengkal lantai masjid hingga ke pekarangan dan tempat parkirnya.

Apa dan dimana Muka Kuning itu

Muka Kuning, adalah nama deerah di Pulau Batam, propinsi Kepulauan Riau. Daerah  itu kemudian disulap menjadi kawasan industri maju dengan nama Batamindo Industrial Park hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Singapura. Saya sendiri hingga kini belum tahu mengapa daerah itu diberi nama Muka Kuning.

Kawasan industri ini dibangun (tadinya di tengah hutan belantara pulau batam) dengan fasilitas lengkap. Infrastruktur sebagai kawasan industri sudah dipersiapkan sejak awal termasuk kawasan hunian bagi para pekerja nya yang ditempatkan ditengah tengah kawasan, biasa disebut dengan dormitory yang diperuntukkan bagi karyawan lajang. Ada blok khusus untuk para staf di Blok S dan blok khusus untuk karyawan yang sudah menikah (berkeluarga) di blok M.

Masjid Nurul Islam Muka Kuning Batam dari arah Gerbang utama Batamindo, terlihat menaranya yang menjulang diantara bunga sakura yang sedang bermekaran begitu indahnya.

Kawasan ini juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang lainnya termasuk didalamnya adalah community center, supermarket, mini market, rumah sakit, pujasera dan tentu saja Masjid Nurul Islam. Satu lagi fasiltas penunjang yang begitu menarik minat kala itu adalah WARTEL, bagi anda yang seumuran saya pasti ingat apa itu wartel alias Warung Telekomunikasi. Maklumlah kala itu Hand Phone masih belum populer seperti sekarang ini, wartel adalah tumpuan harapan untuk berkomunikasi dengan sanak keluarga yang jauh dimata hingga rela antri hingga tengah malam.

Sekitar tahun 1996 salah satu tetanggaku, Muslim Bangladesh, sempat terperangah ketika beliau ku ajak berangkat bareng untuk sholat hari raya di lapangan community Centre Muka Kuning, tak jauh dari Masjid ini. apa sebabnya ?. dia takjub menyaksikan begitu banyak kaum muslimin yang hadir disana. Lebih takjub lagi menyaksikan jemaah muslimah di bagian belakang yang memutih dengan mukenanya.

Masjid Nurul Nurul Islam dari arah barat

Dengan polos-nya dia bertanya “wanita ikut sholat hari raya di lapangan juga ?” dan dengan polos juga kujawab “ya iya dong, kok nanya nya begitu?”. “Di Bangladesh, wanita dilarang seperti itu. . .” ujarnya. “tapi disini boleh ya” lanjut dia. Sejujurnya waktu itu, aku memang agak kaget dengan penjelasan beliau. Tapi ya sudah lah. Seperti kata pepatah melayu, Lain lubuk lain ikan nya, begitupun lain ladang lain pula belalangnya.

Batamindo Industrial Park (BIP) – Muka Kuning ini bukanlah satu satunya kawasan industri di Pulau Batam, masih banyak sederet kawasan industri lainnya. Pulau Batam memang di kembangkan sebagai kawasan industri di masa pemerintahan Pak Harto dibawah kendali Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau Batam Industrial Development Authority disingkat BIDA atau lebih dikenal dengan “Otorita Batam” yang di ketuanya ditunjuk langsung oleh Presiden. Dikemudian hari Otorita Batam berubah menjadi Badan Penguasaan Batam (BP Batam) disahkan dengan Peraturan Pemerintah No. 46.[i]

Masjid Nurul Islam – Muka Kuning
Batamindo Industrial Park (Mukakuning)
Batam, Kepulauan Riau 29433, Indonesia[ii]




Masjid Nurul Islam yang diresmikan oleh Prof. DR. B.J. Habibie pada tanggal 26 Oktober 1991 menjadi sentral kegiatan ibadah dan dakwah yang dilakukan oleh para karyawan. Awalnya masjid ini memang satu satunya tempat ibadah di kawasan tersebut. Pada awalnya aktivitas di masjid ini ramai di setiap malam minggu dengan di isi berbagai kajian ke islaman. Dikemudian hari aktivitas dan program kerja masjid ini sudah semakin berkembang pesat dan dibentuk grup kerja yang diberi nama Nurul Islam Grup (NIG). Tentang profil dan apa saja aktivitas grup ini dapat langsung berkunjung ke situs internetnya di nurulislamgroup.co.id

Aku dan Masjid Nurul Islam

Remaja Masjid Nurul Islam ini memang sangat giat dan aktif. Secara pribadi saya sangat berterima kasih kepada para aktivis remaja Masjid Nurul Islam Muka Kuning, khusus-nya bagi yang aktif pada periode 1996-1997 dibawah pimpinan Sdr. Siswoyo[iii]. Saya tidak ingat satu persatu nama nama mereka, tapi saya tidak akan pernah lupa amal baik mereka semua. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya untuk kita semua.

Nurul Islam dari sisi yang lain
  
Salah satu penggalan memori di masjid ini adalah ketika basah kuyup kehujanan saat sholat Jum’at. Hari itu cuaca cerah saat saya dan seorang teman berangkat ke masjid ini. tiba disana, bagian dalam masjid sudah penuh sesak begitupun halamannya, mau tak mau kami berdua kebagian tempat di luar masjid tepatnya di halaman rumput sebelah selatan masjid. Cuaca masih cerah saat khutbah dimulai dan perlahan mendung menjelang khutbah berahir.

Dan benar saja, mendung makin pekat saat sholat akan dimulai. Takbir pertama, guntur menggelegar hujan turun mendadak begitu deras dan lebih deras lagi air yang mengguyur kepalaku yang berdiri tepat dibawah cucuran atap masjid. Sekujur tubuh basah kuyup sejak rokaat pertama dan setiap kali sujud harus menahan nafas karena hamparan sajadah yang tergenang air hujan. Usai sholat, sesama jemaah yang kebagian sholat diluar sepertiku tidak hanya saling besalaman tapi juga saling ledek karena sama sama basah kuyup. Itu salah satu momen tak terlupakan di Masjid Nurul Islam yang satu ini.


Bukan tanpa alasan bila hari ini aku kangen tempat ini, mungkin karena sudah terlalu lama tak kembali kesana. Mungkin juga karena aku mulai lupa seperti apa suasana di dalamnya saat itu, apalagi kini. yang pasti sudah lama sekali berlalu. mungkin juga karena memang tak alasan untuk kembali. namun memang tak ada alasan untuk melupakan. Selamat Ulang Tahun untuk Jeanie Hanneke Diana. Terima kasih sudah menjadi salah satu saksi bahwa aku memang pernah ada di dunia ini.

Sakura di Masjid Nurul Islam


Pihak pengelola kawasan Industri Batamindo memang menanam berbagai jenis pohon untuk menghijaukan kawasan ini. salah satu jenis pohon yang ditanam disana adalah jenis sakura yang menghasilkan bunga yang sangat indah pada musim berbunga yang bertepatan dengan musim berbunganya sakura di Jepang. Kini bunga bunga indah itu menjadi keindahan tersendiri bagi warga Muka Kuning khususnya dan bagi warga Batam umumnya.

Sakura di halaman Masjid Nurul Islam, menara masjid di latar belakang
begini pemandangan di sepanjang jalan di depan masjid Nurul Islam saat sakura berbunga.
Masjid nurul Islam dari sisi selatan
Masjid Nurul Islam tampak keseluruhan dari sudut tenggara.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

 Referensi

Saturday, November 4, 2017

Surau Lubuk Bauk Tanah Datar

Surau Lubuk Bauk (📷 IG @galihwwardhana)

Surau Lubuk Bauk atau kadang keliru disebut sebagai Masjid Lubuk Bauk terletak di Nagari Lubuk Bauk, Kecamatan Batipuh Baruh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Surau ini didirikan pada 1896 memakai nama tempat berdirinya dan rampung pada 1901.

Tidak banyak yang mengetahui Surau Lubuk Bauk ini, namun setelah menjadi salah satu lokasi syuting film Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, masjid ini kembali dikenal oleh masyarakat se-nusantara. Film tersebut yang diangkat dari karya novel Buya Hamka. Kabarnya di sini Buya Hamka belajar mengaji dan tidur di surau dekat rumahnya.

Surau Nagari Lubuk Bauk
Batipuh Baruah, Batipuh, Kabupaten Tanah Datar
Sumatera Barat 27125



Meskipun hanya sebentar, yaitu dari tahun 1925 hingga tahun 1928, Hamka remaja yang berasal dari Tanjung Raya, Kabupaten Agam, menjadikan surau kuno tersebut sebagai tenpat untuk mengaji dan sekaligus rumah untuk menimba ilmu. kini ruas jalan yang membentang di depan surau ini dinamai Jl. Dr. Hamka.

Pembangunan Surau Lubuk Bauk

Surau Lubuk Bauk atau kadang keliru disebut sebagai Masjid Lubuk Bauk terletak di Nagari Lubuk Bauk, Kecamatan Batipuh Baruh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Surau ini didirikan pada 1896 memakai nama tempat berdirinya dan rampung pada 1901.[1]

Menurut ceritanya, surau ini dibangun oleh para ninik mamak yang berasal suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku sekitar tahun 1896 dan diperkirakan selesai tahun 1901. Tanah surau ini berasal dari wakaf Datuk Bandaro Panjang.

Sebagaimana umumnya surau di Minangkabau, keberadaan surau ini dikhususkan sebagai pusat pendidikan non-formal setempat. Letaknya berdampingan dengan Masjid Al-Ula yang menyelenggarakan salat jemaah, dikelilingi rumah penduduk, dan dibatasi jalan raya di sebelah utara.

Surau Lubuk Bauk dipertahankan bentuknya sejak dibangun hingga saat ini meskipun telah melewati beberapa kali pemugaran. Ttampak foto sebelah kanan adalah foto surau Lubuk Bauk di tahun 1921 sedangkan disebelah kanan adalah foto Surau Lubuk Bauk di tahun 2013, Tak ada perubahan berarti selain pada bagian tangga depannya.

Arsitektur Surau Lubuk Bauk

Surau ini dibangun sepenuhnya dengan bahan utama kayu Surian dengan luas 154 meter persegi dan tinggi bangunan sampai ke puncak kurang lebih 13 m dengan corak bangunan dari Koto Piliang yang dapat dilihat dari susunan atap dan adanya menara. Dengan material kayu konstruksinya tidak mengalami kerusakan berarti walaupun beberapa kali dilanda gempa besar dan angin kencang.

Bangunan-nya berdenah bujur sangkar, dengan luas 154 meter persegi. Ada 30 tiang kayu penyangga berbentuk segi delapan yang menopang bangunan dan saling terhubung dengan sistem pasak tanpa paku besi. Lantai satu memiliki denah berukuran 13 x 13 meter. Letaknya ditinggikan sekitar 1,4 meter dari permukaan tanah, membentuk kolong. Kolong bangunan ditutup membentuk lengkungan-lengkungan yang pada bagian atasnya dihiasi ukiran berpola tanaman sulur-suluran.

Mihrab dibuat menjorok ke luar berukuran 4 x 2,5 meter dinaungi atap gonjong, bentuk atap yang terdapat pada rumah gadang. Pada setiap sisi ruangan, terdapat jendela, kecuali pada mihrab. Pintu masuk terletak di sisi timur sejajar dengan mihrab. Di atas pintu (ambang pintu) terdapat tulisan basmalah yang dibuat dengan teknik ukir dan di belakangnya ditutup dengan bilah papan.

Pada sebelah kanan pintu, terdapat tangga yang mengubungkan ke lantai dua. Lantai ini berdenah 10 × 7,50 meter. Di tengah-tengah ruangan lantai dua, terdapat tiang dengan tangga melingkar untuk ke lantai tiga, yang memiliki denah lebih sempit berukuran 3,50 × 3,50 meter.

Ukiran cap izin pemerintah Penjajah Belanda di Surau Lubuk Bauk

Keunikan dari Surau Lubuk Bauk adalah memiliki ukiran khas Minangkabau dan cap izin Belanda yang berupa mahkota Kerajaan Belanda. Cap tersebut terukir pada dinding gonjong surau. Setiap ukiran di surau, seperti ukiran motif kaluak paku, ukiran aka cino hingga motif itiak pulang patang menyimpan arti filosofinya sendiri.

Berada di pinggir jalan raya Batusangkar—Padang, bangunan surau terletak lebih rendah sekitar 1 meter dari jalan raya. Dalam kompleks bangunan, terdapat tiga kolam atau disebut luhak dalam bahasa setempat yang dulunya difungsikan untuk wudu. Selain itu, terdapat bangunan mirip rangkiang yang digunakan untuk menaruh beduk.

Atap bangunan terbuat dari seng, bersusun tiga. Tingkat pertama dan kedua berbentuk limas dengan permukaan cekung, sedangkan tingkat ketiga berupa atap berdenah silang dengan gonjong di empat sisinya. Terdapat semacam baluster di antara atap lantai satu dan lantai dua.

Susunan atap dengan bangunan menara tersebut melambangkan falsafah hidup masyarakat Minangkabau. Bahkan diyakini dulunya oraganisasi Muhammdiyah sebelum berkembang di kauman Padang Panjang, lebih dulu berkembang di Lubuk Bauk tersebut sehingga perannya memiliki peran besar dalam melahirkan santri dan ulama yang selanjutnya menjadi tokoh pengembang agama Islam di Sumatra Barat.

Pada bagian puncak, terdapat elemen berupa semacam gardu, berdenah segi delapan berdinding kayu dengan jendela-jendela semu yang diberi kaca di setiap sisinya. Struktur ini berfungsi sebagai menara, yang dapat dinaiki melalui tangga spiral di lantai dua. Atap mnara dibuat bersusun membentuk kerucut dengan bentuk susunan buah labu dihiasi kelopak daun mirip padmanaba pada bangunan Hindu. Eksterior berupa ukiran Minang melekat pada dinding menara berupa pola tumbuhan pakis yang didominasi wama merah, kuning, dan hijau.

Interior Surau Lubuk Bauk

Penggunaan

Di Minangkabau, masjid merupakan salah satu syarat berdirinya permukiaman atau nagari, sementara setiap suku yang menghuni nagari biasanya memiliki surau. Oleh sebab itu, banyak masjid dan surau di Minangkabau yang letaknya berdampingan. Keberadaan surau umumnya dikhususkan sebagai pusat pendidikan non-formal.

Berdiri berdampingan dengan Masjidil Ula yang didirikan pada 1898, Surau Lubuk Bauk digunakan terbatas untuk tempat belajar mengaji anak-anak atau tempat pertemuan bagi masyarakat setempat. Di ruang mengaji, terdapat sejumlah papan panjang (reha) yang ditata melingkar menghadap ke papan tulis.

Peninggalan Sejarah

Dalam perkembangannya Surau Lubuk Bauk tersebut termasuk salah satu benda peninggalan sejarah yang telah dilakukan kajiannya pada tahun 1984 oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumatra Barat bahkan juga sudah dilaksanakan pemugaran  Surau Lubuk Bauk pada tahun anggaran 1992/1993.

Surau ini ditetapkan sebagai cagar budaya di bawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Batusangkar dan menjadi salah satu daya tarik wisata terkenal di Tanah Datar.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, October 29, 2017

Crystal Mosque Kuala Trengganu

Masjid Kristal Kuala Trengganu

Crystal Mosque atau masjid Kristal adalah masjid di Kuala Trengganu, Negeri Trengganu, Malaysia. Masjid ini berada di Taman Tamadun atau taman Budaya Islam (Islamic Heritage Park) di pulau Wan Man, Kuala Trengganu. Pulau Wan Man ini berada di tepian pantai timur Trengganu, salah satu pulau kecil dari ratusan pulau kecil di Malaysia.

Disebut Masjid Kristal, karena memang begitu banyak Kristal yang digunakan untuk pembangunan masjid ini. Meskipun tentu saja material bangunan pada umumnya seperti baja dan beton bertulang tetap dipergunakan untuk pembangunan masjid ini. Hanya karena dominasi material Kristal pada bagian ekteriornya yang menjadikan masjid ini disebut dengan Masjid Kristal.

Masjid Kristal
Pulau Wan Man, 21000 Kuala Terengganu
Terengganu, Malaysia
itc.gov.my



Pembangunannya dilaksanakan pada tahun 2006 hingga tahun 2008 dan dibuka secara resmi oleh Raja Malaysia ke 13 Yang di-Pertuan Agong, Sultan Mizan Zainal Abidin yang juga merupakan Sultan Terengganu, pada tanggal 8 Februari 2008

Turut hadir dalam upacara peresmian tersebut Perdana Menteri Dato' Seri Abdullah Ahmad Badawi. Sedangkan Yang Di-Pertuan Agong, Tuanku Mizan Zainal Abidin hadir bersama Raja Permaisuri Agong, Tuanku Nur Zahirah berangkat ke Peresmian Masjid Kristal di Pulau Wan Man, Kuala Terengganu pada 8 Februari 2008 jam 6.00 petang.

Masjid Kristal di siang hari

Pembangunan masjid ini disebut sebut menghabiskan dana sekitar The RM250 juta ringgit Malaysa, berdekatan dengan masjid ini terdapat banyak replika bangunan bangunan masjid terkenal dunia.

Masjid ini memiliki luas 2.146 meter persegi dan berkapasitas 700 jamaah. Selain itu, masjid ini juga dilengkapi dengan sarana teknologi dan jaringan WiFi sebagai akses internet guna membaca al-Qur'an elektronik.

Penggunaan teknologi lainnya pada masjid ini adalah pada system tata cahayanya yang memungkinkannya tampak bersinar di malam hari dalam dominasi warna hijau yang menyejukkan mata.

Referensi


Baca Juga