Sunday, February 19, 2017

Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Madrid, Spanyol

Bangunan masif berdinding marmer di pusat kota Madrid ini adalah sebuah masjid dan juga sekaligus sebagai pusat kebudayaan Islam. 

Spanyol yang kini beribukota di Madrid, salah satu Negeri yang pernah menjadi pusat kekuasaan Islam di Eropa semasa kekuasaan Khalifah Bani Umayah yang berkuasa di Andalusia selama 700 tahun sejak penaklukan Tariq Bin Ziyad di tahun 711M. Keruntuhan kekuasaan Islam di Andalusia menjadi titik balik masa keemasan tersebut ketika Raja Ferdinant dan Ratu Issabel memberi dua pilihan kepada ummat Islam Andalusia : tetap tinggal di Andalusia menjadi Kristen atau pergi meninggalkan negeri itu. Dua bangunan mahakarya kejayaan Islam Spanyol masih berdiri kokoh hingga kini Masjid Cordoba dan Istana Alhambra, meski sudah di alihfungsi oleh pemerintah Spanyol.

Kini seiring perjalanan waktu, ummat Islam di Spanyol pelan tapi pasti terus tumbuh, salah satunya disebabkan oleh terus bertambahnya muslim migran dari Negara Negara Islam kawasan Afrika Utara ke Negara tersebut. Saat ini Ada dua Masjid Besar di pusat Kota Madrid yang menjadi pusat Islam di kota yang menjadi markas klub bola Real Madrid tersebut, Yaitu masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Madrid (yang akan kita ulas dalam artikel ini) dan Madrid Central Mosque atau Masjid Abu Bakar, Insya Allah kita bahas dalam artikel berikutnya.

Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Madrid, dalam bahasa Spanyol disebut Centro Cultural Islámico de Madrid atau warga kota Madrid lebih popular menyebutnya dengan Mezquita M.30 (Masjid M-30). Disebut Mezquita M.30 karena lokasi masjid ini yang bersebelahan dengan jalur M-30 kota Madrid. Masjid M-30 merupakan salah satu masjid dan pusat kebudayaan Islam terbesar di Eropa saat ini.

Mezquita M-30 / Centro Cultural Islámico y Mezquita de Madrid
Calle Salvador de Madariaga, 7, 28027 Madrid, Spanyol
centro-islamico.es
+34 913 26 26 10




Sejarah Masjid M-30

Komplek masjid ini dirancang oleh tiga arsitek Polandia dan di danai oleh Pemerintah Saudi Arabia. Diresmikan pada tanggal 24 Rabiul Awal 1413H bertepatan dengan tanggal 21 September 1992M. Peresmian Masjid M-30 dihadiri oleh Raja Spanyol Juan Carlos I dan Pangeran Salman Bin Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia.

Pembangunan Masjid M-30 ini merupakan wujud dari komitmen pemerintah Kerajaan Saudi Arabia bagi syiar Islam terutama penyediaan sarana ibadah bagi kaum muslimin yang tinggal di negeri negeri non muslim serta komitmen pemerintah Kerajaan Spanyol bagi penyediaan fasilitas peribadatan bagi warganya termasuk warga muslim Spanyol yang kini menjadi minoritas di negeri tersebut.

Arsitektural Masjid M-30

Masjid M-30 dirancang dalam gaya modern dengan tidak meninggalkan ciri khas sebuah masjid universal dengan tetap dilengkapi dengan bangunan menara dan balkon. Tanpa bangunan menara dan tulisan besar di fasad depannya akan sulit mengenali bangunan ini sebagai masjid. Dengan bentuknya yang massif dan tak jauh berbeda dengan kebanyakan bangunan disekitarnya.

Interior Masjid Madrid

Hampir keseluruhan dinding bangunan ditutup dengan batu pualam. Interior masjid inipun dihias dengan batu pualam. Jendela jendela di Masjid M-30 di tutup dengan kaca patri warna warni, dengan sentuhan Islami. Satu sisi bangunan masjid yang menghadap ke halaman tengah dilengkapi dengan jendela kaca berukuran besar dengan sentuhan seni Islami. Mozaik islami juga dapat ditemui pada beranda masjid, tampilan luar jendela jendela masjid terutama pada bangunan mihrab sisi luar, serta pada bangunan menara.

Pilar pilar pualam yang ramping penyangga lengkungan lengkungan besar mendomonasi interior masjid ini, layaknya masjid Cordoba dan Istana Alhambra namun lebih sederhana tanpa ukiran seperti di dua bangunan legenda peninggalan dinasti Ummayah tersebut. Lampu lampu Kristal turut memperindah interior masjid ini. halaman tengah Masjid M-30 dirancang terbuka berlantai pualam warna terang dengan sedikit pola sederhana berwarna gelap. Halaman tengah yang dapat difungsikan untuk berbagai perhelatan termasuk sebagai area tambahan bagi jemaah.

Mihrab masjid M-30 dirancang berbentuk setengah lingkaran dengan lengkungan berukir di bagian atasnya. Pualam hijau muda dan merah hati mendominasi mihrab Masjid M-30. Ukiran geometris diaplikasikan di sisi kiri dan kanan mihrab. Kaligrafi alqur’an menghiasi sisi atas mihrab. Sementara mimbar di masjid ini cukup unik, dibuat dari kayu dengan bentuk podium setengah lingkaran.

Pelataran tengah di Masjid Madrid

Satu satunya kubah yang ada di Masjid M-30 ini berada di puncak menaranya. Di ujung tertinggi kubah menara ini dipasang lambang bulan sabit, lambang universal Islam sedunia. sedangkan bangunan utama masjid dan bangunan penunjangnya menggunakan atap genteng tanpa kubah. Masjid M-30 dilengkapi dengan gedung perkuliahan, bangunan tempat wudhu, gymnasium, kafe serta restoran halal (Arabian restaurant) bernama Zahara.

Teror bom Madrid pada 11 Maret 2004 sempat membuat warga muslim Spanyol dan pengurus Masjid M-30 was was. 11 warga muslim turut menjadi korban tewas dalam teror bom tersebut diantara 200 korban tewas lain nya. Meski polisi menduga teror tersebut dilakukan oleh separatis Basque ETA. Namun keterkaitan 3 muslim Maroko yang diduga turut terlibat dalam teror Madrid dan serangan di Cassablanca (Maroko) tak urung membuat warga muslim Spanyol khawatir atas keselamatan diri dan keluarganya.***

Referensi

sacret-destinations.com – madrid mezquita

Saturday, February 18, 2017

Masjid Eyüp Sultan, Istanbul

Penghormatan untuk Sahabat Ayub Al-Anshari. Masjid dan Maosoleum Eyup dibangun oleh Muhammad Al-Fatih sebagai bentuk penghotmatan kepada sahabat Rosulullah, Ayub Al-Anshari yang gugur dalam perang penaklukan Konstantinopel hampir delapan abad sebelum ahirnya Konstantinopel berhasil ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih.

Masjid Eyüp atau Eyüp Sultan Cami merupakan salah satu masjid tertua di Republik Turki dan dalam sejarahnya merupakan masjid pertama yang dibangun setelah Emperium Usmaniyah menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 dan mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul. Pembangunan-nya merupakan bentuk penghormatan kepada Sahabat Rosulullah, Ayub Al-Anshari r.a.

Masjid Eyüp pertama kali dibangun tahun 1458 oleh ‘Sang penakluk Konstantinopel”, Sultan Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmet II. Bangunan tersebut sempat mengalami kerusakan parah akibat gempa dan kemudian dibangun ulang oleh Sultan Selim III yang merupakan penguasa Usmaniyah ke 28 pada sekitar tahun 1800 dengan gaya Baroque.

Masjid Eyüp Sultan
Merkez Mh., Kalenderhane Cd. No:1, 34050 Eyüp/İstanbul, Turki
+90 212 417 70 40



Penghormatan Untuk Abu Ayub Al-Anshori r.a.

Masjid Eyüp memiliki arti teramat penting bagi Muslim Turki, karena faktor sejarahnya yang mengulur jauh hingga ke masa Rosulullah S.A.W. Nama masjid ini dinisbatkan kepada Abu Ayub Al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar, salah seorang sahabat Rosulullah S.A.W, beliau gugur dalam penyerbuan pertama ke ibukota Romawi Timur (Byzantium) di Konstantinopel tahun 668 dimasa dinasti Bani Umayyah. Lalu siapa sebenarnya Abu Ayub Al-Anshari r.a.?

Kisah bermula pada peristiwa Bai’at Aqobah kedua, pada saat itu utusan dari Madinah pergi ke Makkah untuk berbaiat. Ai Aqobah, Abu Ayub Al-Anshari termasuk di antara 70 orang Mukmin yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela.

Hari Jum'at 16 Rabiul Awal / 28 September 622 Nabi Muhammad S.A.W Hijrah dari Mekah ke Madinah. Ketika Rasulullah memasuki kota Madinah, Muslim Madinah berebutan menawarkan rumah mereka sebagai kediaman Rosulullah, namun sejarah menjelaskan kepada kita, saat itu Rosulullah menyatakan beliau akan tinggal di rumah, dimana untanya berhenti.

Dan Allah menentukan pada saat itu, unta baginda Rosulullah berhenti di depan rumah Bani Malik bin Najjar. Salah seorang Muslim tampil dengan wajah berseri-seri karena kegembiraan yang membuncah. Ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkannya, kemudian mempersilakan Rasulullah masuk ke dalam rumah. Nabi SAW pun mengikuti sang pemilik rumah. Siapakah orang beruntung yang dipilih sebagai tempat persinggahan Rasulullah dalam hijrahnya ke Madinah ini, Dialah Abu Ayub Al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar.

Interior. Masjid Eyup dibangun begitu megah dengan sentuhan gaya Baroque setelah diperbaiki dan dibangun ulang pada masa pemerintahan Sultan Selim III. foto kanan bawah adalah makam Ayub Al-Anshari

Sejarah juga mencatat bahwa, bangunan pertama yang dibangun Rosulullah di Madinah adalah Masjid, dan selama proses pembangunan masjid dan sebuah bilik sebagai tempat kediaman Rosulullah disamping masjid berlangsung selama itu pula beliau tinggal di rumah keluarga Abu Ayub Al-Anshori r.a.

Sejak Kafir Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang Madinah, sejak itu pula Abu Ayub r.a. mengalihkan aktifitasnya dengan berjihad di jalan Allah bersama Rosullulah. Ia turut bertempur dalam Perang Badar, Uhud dan Khandaq. Di tiap medan tempur, ia tampil sebagai pahlawan yang siap mengorbankan nyawa dan harta bendanya. Hampir dalam setiap pertempuaran beliau tampil sebagai pengusung panji panji Islam di garda terdepan.

Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang, dengan suara keras atau perlahan adalah firman Allah SWT, "Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun waktu sempit..." (QS At-Taubah: 41). Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali Bin Abu Thalib dan Muawiyah, Abu Ayub berdiri di pihak Ali Bin Abu Thalib tanpa sedikit pun keraguan. Dan kala Khalifah Ali bin Abi Thalib syahid, dan khilafah berpindah kepada Muawiyah dari Bani Umayyah, Abu Ayub menyendiri dalam kezuhudan. Tak ada yang diharapkannya dari dunia selain tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan kaum Muslimin.

Ketika diketahuinya balatentara Islam tengah bergerak ke arah Konstantinopel, ia segera menunggang kuda dan membawa pedangnya, memburu syahid yang sejak lama ia dambakan. Dalam pertempuran inilah ia menderita luka berat. Ketika komandannya datang menjenguk, nafasnya tengah berlomba dengan keinginannya menghadap Ilahi. Maka bertanyalah panglima pasukan waktu itu, Yazid bin Muawiyah, "Apakah keinginan anda wahai Abu Ayub?"

Maosoleum Ayub Al-Anshori di tahun 1855

Abu Ayub meminta kepada Yazid, bila ia telah meninggal agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, sehingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda kaum Muslimin di atas kuburnya, dan diketahuinya bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan.

Meskipun pasukan muslimin dari Bani Umayyah gagal menaklukkan Konstantinopel dalam perang tahun 668-669 tersebut, pengepungan terhadap konstantinopel tersebut berahir dengan perjanjian damai selama 40 tahun antara Byzantium dengan Bani Umayyah. Namun wasiat Abu Ayub berhasil ditunaikan, jazad beliau dimakamkan di samping tembok kota Konstantinopel, di Jantung pertahanan Romawi Timur (Byzantium). Dan kisah perang tersebut meleganda melewati zaman, tidak saja dikalangan kaum Muslimin namun juga dikalangan orang orang Romawi.

Jatuhnya Konstantinopel dan Pembangunan Masjid Eyup

Sekitar 784 tahun setelah gugurnya Abu Ayub dalam pengepungan Konstantinopel oleh Bani Umayyah,  di tahun 1453 Emperium Usmaniyah dibawah Sultan Muhammad Al-Fatih (Sultan Mehmet II) berhasil menaklukkan Konstantinopel, mengganti nama kota itu menjadi Istanbul sekaligus menutup sejarah Byzantium. Paska penaklukan Konstantinopel Sultan Muhammad Al-Fatih menjadikan Istanbul sebagai ibukota baru bagi pemerintahan Emperium Usmaniyah, membangun kota tersebut menjadi pusat peradaban Islam dan dari sana pula wilayah Usmaniyah kemudian melebar hingga ke Azerbaijan di ujung timur dan Al-Jazair di ujung barat.

Di tahun 1485 atau sekitar 32 tahun setelah jatuhnya Konstantinopel Sultan Muhammad Al-Fatih (Sultan Mehmet II) membangun Maosoleum di atas kubur Ayub Al-Anshari sekaligus membangun Masjid Eyup Sultan di lokasi yang sama, sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang Sahabat Rosulullah Ayub Al-Anshari r.a, pahlawan perang Islam dalam perang pengepungan Konstantinopel di masa dinasti Bani Umayyah.

Masjid masjid dari dinasti Usmani memang terkenal dengan kemegahan-nya, seperti Masjid Eyup Sultan ini yang kini menarik perhatian wisatawan dari dalam negeri Turki dan juga dari mancanegara.

Nilai penting masjid Eyup semakin meningkat sepanjang waktu. Disebutkan bahwa masjid ini menjadi tempat penobatan dan pengambilan sumpah para Sultan Emperium Usmaniyah, tidak hanya itu beberapa dari para penguasa Usmaniyah-pun meninggalkan wasiat untuk dimakamkan di komplek Masjid Eyup. Beberapa diantara mereka adalah Sokollu Mehmet Paşa, Ziya Osman Saba, dan Fevzi Çakmak, dengan demikian, Masjid Eyup ini kemungkinan juga merupakan satu satunya komplek masjid di Istanbul yang berhimpitan dengan Maosoleum dan Pemakaman yang membentang disekitarnya di tengah kota Istanbul.

Objek Wisata

Masjid Eyup Sultan kini menjadi salah satu objek wisata menarik di kota Istanbul, berbagai kalangan mengunjungi masjid dan mausoleum ini baik dari kalangan muslim maupun non muslim. Kunjungan untuk umum ke masjid terbuka setiap hari kecuali pada waktu waktu pelaksanaan sholat fardu. Kunjungan ke komplek ini gratis alias tidak ada biaya tiket masuk, namun donasi untuk measjid akan diterima dengan baik.

Salah satu fitur menarik di masjid ini yang menjadi paforit para pengunjung adalah cetakan telapak kaki Nabi Muhammad yang tercetak di batu marmer dilindungi dengan bingkat perak. Di komplek ini juga seperti masjid masjid tua bersejarah di Turki lainnya selalu diramaikan oleh aneka warna burung merpati yang berterbangan dengan bebas di seantero komplek ditambah dengan kawanan kucing kucing khas Turki turut meramaikan komplek masjid dan pamakaman ini.

Interior Masjid Eyup sangat elegan dengan dekorasi ke-emasan, lampu gantung elegan menjuntai dari kubah besarnya dan karpet oriental menghampar menutupi seluruh lantai ruangan. Dinding makamnya di hias dengan keramik hias dari beragam periode. Empat ratus keping keramik ini menjadi keindahan tersendiri. Sebuah teralis yang dipasang di depan kuburan Abu Ayub r.a. di dalam mausoleum terbuat dari perak murni merupakan pemberian dari Sultan Selim III.

Berlatar laut 

Selain diabadikan sebagai nama masjid dan kompleknya, nama Abu Ayub r.a. juga di abadikan sebagai nama Distrik tempat masjid dan makam ini berada yang disebut distrik Eyup. Secara tradisi pada musim semi dan musim panas ada banyak anak anak berpakaian khusus sebelum mereka mengikuti prosesi di masjid ini dan pada hari Jum’at masjid ini dipadati oleh ribuah Jemaah sholat Jum’at.

Legenda Seputar Masjid dan Maosoleum Eyup Sultan

Kisah yang beredar menyebutkan bahwa pembangunan Masjid Eyup dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih atas nasihat gurunya Seyh ül-Islam Akshemsuddin, untuk menemukan makam sang pejuang. Setelah diketemukan, Al-Fatih kemudian mengurus makam tersebut, membangun Maosoleum diatasnya dan juga membangun masjid besar sebagai penghormatan kepada Abu Ayub Al-Anshari r.a.

Disebutkan bahwa Seyh ül-Islam, Akshemsuddin turut membantu pencarian makam tersebut, Setelah seminggu pencarian tak menemukan hasil, Akshemsuddin menggelar sajadahnya disekitar tembok Konstantinopel memohon petunjuk dari Allah S.w.t sampai tertidur disana. Saat beliau terbangun sontak berteriak bahwa makam Abu Ayub berada tak jauh dari tempatnya menggelar sajadah.

Ditemani tiga orang pendampingnya, Akshemsuddin melakukan penggalian ditempat tersebut dan menemukan sekeping batu bertulisan antik menggunakan aksara sufik “inilah makamnya Abu Ayub”. Legenda ini juga menyatakan bahwa Jenazah Abu Ayub r.a. ditemukan masih dalam keadaan utuh seperti baru saja dimakamkan, meski sudah dimakamkan disana hampir delapan abad lamanya.

Interior Masjid Eyup Sultan

Legenda lainnya  menyebutkan bahwa, sebelum penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih, bahkan orang orang Romawi dan penduduk Konstantinopel-pun memandang Abu Ayub di makamnya itu sebagai orang suci. Dan yang mencengangkan, para ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata, "Orang-orang Romawi sering berkunjung dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka mengalami kekeringan.

Seiring perjalanan sejarah selama berabad abad, Istanbul tidak saja menjadi sebuah kota Metropolitan tapi juga menjadi pusat komplek pemakaman tua. Kekuasaan Kristen di Konstantinopel meninggalkan pemakaman tua yang berada di sisi bukit di luar tembok kota, seiring dengan penguasaan muslim atas kota tersebut, pemakaman Muslim hadir bersebelahan dengan pemakaman Kristen, berdiri diam di salah satu sisi kota Istanbul menghadirkan suasana yang seakan akan menghentikan waktu.***

Referensi


Sunday, February 12, 2017

Masjid Hijau (Yesil Cami) Bursa, Turki

Masjid Yesil atau Masjid Hijau di kota Bursa, Turki, merupakan salah satu masjid tertua di Turki. Denah masjidnya tidak umum digunakan dengan denah seperti hurup T terbalik. Ekteriornya menggunakan batu marmer sedangkan interiornya dipenuhi dengan keramik hias buatan tangan.

Tentang kota Bursa tempat masjid ini berdiri telah di ulas dalam posting terdahulu berjudul “Masjid Agung Bursa”. Di bekas ibukota Negara Emperium Usmaniyah ini juga terdapat sebuah masjid tua bersejarah bernama Yesil Cami, atau dalam Bahasa Indonesianya “Yesil” berarti “Hijau”, sedangkan “Cami” (dibaca Jami’) secara harfiah bermakna “Masjid Jami’” karena untuk bangunan mushola atau masjid kecil biasa disebut dengan “Mescid”. Sehingga Yesil Cami secara harfiah dalam Bahasa Indonesia bermakna “Masjid HIjau” atau dalam Bahasa Inggris disebut “Green Mosque”.

Penyebutan Yesil Cami atau Masjid Hijau atau Green Mosque ini berkaitan dengan warna interior masjid ini yang di dominasi warna hijau dan toska. Sama halnya dengan Masjid Sultan Ahmad di Istanbul yang lebih kenal dengan sebutan sebagai Blue Mosque karena langit langit interiornya yang di dominasi warna biru. Yesil Cami atau Green Mosque berdiri di atas sebuah bukit di kota Bursa, di tempat yang kini juga dikenal dengan kawasan Yesil atau kawasan Hijau. Meski demikian, masjid ini juga kerap kali disebut sebagai Masjid Mehmet I merujuk kepada nama pembangunnya.

Meski ukurannya tak sebesar Masjid Agung Bursa (Uu Cami), Green Mosque menghadirkan keindahan tersendiri, masjid ini menampilakn peralihan seni bina bangunan dari era Seljuk Turki ke Era Usmaniyah-Turki dengan kubah besar dan menara tinggi yang dikemudian hari menjadi ciri khas bangunan masjid Emperium Usmaniyah. Green Mosque mulai dibangun tahun 1419 dan selesai tahun 1421 dimasa pemerintahan Sultan Celebi Mehmet.

Green Mosque (Yesil Cami)
Yeşil 16360 Yıldırım/Bursa, Turki


Pembangunan Masjid Yesil (Green Mosque) Bursa

Yesil Cami dibangun oleh arsitek Hacı Ivaz Pasha atas perintah dari Sultan Celebi Mehmet antara tahun 1419 hingga tahun 1421. Bangunan masjid Yesil dihias dengan beraneka ragam ornament yang dibuat secara hand made oleh para pelukis ternama dimasanya termasuk pelukis Haci Ali, Ilyas Ali. Serta seorang seniman ternama bernama Mehmet Mecnun yang melengkapi keindahan masjid ini dengan kemegahan karya keramik lukisnya yang dibuat khusus untuk masjid ini. Selain masjid dikomplek masjid Yesil juga terdapat Maosoleum (bangunan makam) yang berada diseberang jalan dari masjid, lalu juga ada Bangunan Madrasah dan Hamam (pemandian khas Turki)

Keramik Hias Buatan Tangan

Seperti disebutkan di awal tadi bahwa penamaan masjid ini terkait dengan ornamen interior nya yang didominasi warna hijau dari ribuan keeping keramik buatan tangan dari para seniman ternama pada masa itu. Mihrab Masjid Yesil cukup tinggi hingga mencapai 10 meter, rancangan nya sudah menggunakan bentuk cerukan ke dalam tembok dengan ornamen Muqornas (sarang lebah menggantung seperti staklaktit) di sisi atasnya, namun tanpa dilengkapi dengan dua pilar besar di sisi kiri dan kanannya seperti pada masjid masjid Usmaniyah yang dibangun kemudian.

Interior serba hijau di masjid ini yang kemudian menjadi namanya. ada seperangkat pancuran dari terbuat dari batu granit ditengah ruangan masjid ini.

Mihrab Masjid Yesil menampilkan salah satu contoh terbaik dari keindahan keramik hias buatan tangan, sama halnya dengan sebagian besar dari masjid ini juga dihias dengan keramik sejenis sehingga keramik keramik ini menjadi sesuatu yang istimewa dan pembeda masjid ini dengan masjid masjid tua era Usmaniyah lainnya. Area khusus untuk Muazin (Mehfil) termasuk juga area khusus untuk Sultan juga dihias dengan keramik buatan tangan. pada area khusus untuk Sultan keramik yang digunakan bermotif bunga. Dengan begitu banyaknya keramik buatan tangan dimasjid ini menjadikannya sebuah mahakarya dari para seniman keramik pada masa itu.

Berdenah Hurup “T” Terbalik

Keunikan lainnya dari Masjid Yesil di Bursa ini adalah denah bangunannya yang tak biasa. Denah bangunan masjid Yesil berbentuk hurup “T “ terbalik, sehingga secara artifisial membagi ruang sholat di dalam masjid ini menjadi tiga bagian, yakni ruang utama disekitar mihrab dan mimbar kemudian ruangan di sayap kiri dan ruangan di sayap kanan. sedangkan di bagian tengahnya ditempatkan satu pancuran yang berfungsi sebagai tempat berwudhu dari bahan baru pualam.

Mihrab dan mimbar Masjid Yesil Cami Bursa

Untuk penerangan ruangan masjid di sisi mihrab dilengkapi dengan empat pintu yang dibuat menjorok jauh ke dalam tembok dan dilengkapi dengan teralis. dua jendela disisi kiri dan kanan mihrab sedangkan dua jendela lainnya diletakkan di sisi kiri dan kanan ruangan. Jendela jendela ini dihias dengan ukiran batu marmer yang menyajikan ukiran seperti tulisan tulisan tangan yang belum selesai.

Perlu di ingat bahwa arah kiblat sholat dinegara negara Eropa termasuk Turki, arah kiblat sholatnya tidak mengarah ke barat seperti kita di Indonseia tapi mengarah ke selatan, karena wilayah Turki berada di sebelah utara Ka’bah. Dengan demikian fasad atau sisi depan masjid ini berada di sebelah utara bangunan sedangkan sisi mihrabnya berada di sisi selatan. Fasad Masjid Yesil dibuat dari batu batu pualam.

Khusus untuk pintu masuk utamanya dibangunsebagai sebuah gapura besar berbentuk cerukan ke dalam dari bahan marmer dengan ukiran Muqornas di sisi atasnya. Butuh waktu hingga tiga tahun untuk menyelesaikan seluruh ukiran muqornas yang begitu rumit dan ornament lainnya pada gapura di pintu masuk utama Masjid Yesil ini.

Ukiran dan muqornas pada gapura pintu masuk masjid Yesil Cami Bursa.

Tidak ada komunitas masyarakat ataupun perkantoran pemerintahan dari era Usmaniyah ditempat masjid ini berdiri, konon hal tersebut terjadi karena masjid ini sendiri sempat terbengkalai pembangunannya karena wafatnya Sultan Celebi Mehmet pada saat pembangunan masjid sedang berjalan dan belum selesai. Menaranya sendiri baru dibangun pada abad ke 19. Ada juga yang menyatakan bahwa Masjid ini kemudian dijadikan semacam Masjidl Konsul Negara Usmaniyah pada masa itu.

Masjid Yesil sempat mengalami kerusakan akibat gempa bumi di tahun 1855 namun sudah diperbaiki dimasa Gubernur Bursa dijabat oleh Ahmet Vefik Pasha, beliau menunjuk seniman Prancis Léon Parvillée, untuk memulihkan masjid tersebut sesuai aslinya meskipun tidak seratus persen dari bangunan awal, namun Léon Parvillée yang memang terkenal sangat memahami arsitektur Usmani berhasil memulihkan sebagian besar bangunan masjid Yesil ke kondisi aslinya sebelum terjadi kerusakan. 

Maosoleum, Madrasah dan Hamam

Di komplek Masjid Yesil ini selain masjid juga terdapat komplek Makam Sultan Sultan Çelebi Mehmet dan keluarganya di dalam sebuah Maosoleum lokasi berada di seberang jalan dari Masjid Yesil. Seperti masjidnya, mausoleum ini pun di dominasi warna hijau sehingga disebut sebagai Green mausoleum dan sama sama dirancang oleh arsitek is skilful artist Haci Ivaz Pasha. Bangunannya berdenah octagonal di bagian dalamnya juga dihias dengan satu mihrab berukuran kecil, mungkin sekedar penunjuk arah kiblat dan penghias ruangan, karena toh mausoleum bukanlah tempat sholat.

Pintu masuk utama masjid Yesil Cami. butuh waktu 3 tahun untuk menyelesaikan ukiran rumit pada gerbang pintu masuk ini.

Maosoleum ini memang dibangun untuk Sultan dan keluarganya sehingga proses pembangunannya sangat detik dan apik termasuk semua fitur seni nya memiliki keindahan yang menawan. Di dalam area utama Maosoleum ini terdapat makam dari Sultan Çelebi Mehmet, kemudian makam putranya Mustafa, Mahmud dan Yusuf serta makam putrinya yang bernama Selçuk Hatun, Sitti Hatun dan Ayse Hatun serta makam pengasuh Sultan Çelebi Mehmet yang bernama Daya Hatun.

Masjid Yesil juga dilengkapi dengan Madrasah yang letaknya sekitar 100 meter dari masjid, Madrasah Sultaniye begitu namanya. bangunan madrasahnya dikelilingi dengan pelataran dan gazebo berkubah. Madrasah ini dilengkapi dengan pusat pembelajaran dan ruangan untuk para siswa. di tengah tengah halaman-nya terdapat sebuah kolam dengan pancuran yang dibuat dari batu marmer. Dulunya disekitar masjid Yesil juga terdapat pemandian umum khas Turki (Hamam) namun kini sudah tidak ada lagi berganti menjadi pusat perdagangan. Seperti halnya masjid Agung Bursa, Masjid Yesil Cami atau Green Mosque ini juga menjadi salah satu destinasi wisata pavorit di Bursa.

Paralelisasi Sejarah

Tahun 1419, Bila sejajarkan dengan sejarah Indonesia, Usia Masjid Yesil (Blue Mosque) di kota Bursa ini lebih muda 5 tahun dibandingkan dengan Masjid Tua Wapauwe yang sudah lebih dulu dibangun tahun 1414 di Maluku. Pada saat pembangunan masjid Yesil ini dimulai tahun 1419, bersamaan dengan tahun wafatnya Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim di Jawa Timur. Sementara di wilayah barat pulau Jawa sedang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran dengan Prabu Siliwangi sebagai Maharajanya.

Ruangan dalam Masjid Yesil Cami ke arah pintu masuk utama.

Di tahun 1420 pada saat masjid Yesil di Bursa menjelang penyelesaian ahir, di pelabuhan Muara Jati (kini Cirebon) datanglah serombongan pedagang Islam dari Baghdad yang dipimpin Syekh Idlofi Mahdi. Oleh Ki Surawijaya penguasa disana kala itu, Syekh Idlofi diijinkan menetap dan tinggal di kampung Pasambangan yang terletak di Gunung Jati. Disana beliau mulai berdakwah, dan ajaran Islam berkembang begitu cepat.

Itulah awal mula Gunung Jati sebagai Pangguron Islam. Muridnya diantaranya adalah Raden Walangsungsang dan adiknya, Ratu Rarasantang, serta istrinya Nyi Endang Geulis. Raden Walangsungsang dan Ratu Rara Santang adalah anak dari Prabu Siliwangi dari Istrinya yang bernama Subang Larang.***

Referensi


Hasan Basari, Sekitar Komplek Makam Sunan Gunung Jati dan Sekilas Riwayatnya

Saturday, February 11, 2017

Ulu Cami, Masjid Agung Bursa, Turki

Masjid dua puluh kubah. Masjid Ulu Cami atau Masjid Agung Bursa di Turki ini dibangun dengan dua puluh kubuh merepresentasikan dua puluh masjid yang dijanjikan oleh Sultan.

Apa dan dimanakah Bursa

Bursa adalah salah satu kota tua di Turki yang memiliki perangan teramat penting badi sejarah Turki, sekaligus juga merupakan kota terbesar ke 4 setelah Istanbul, Ankara dan Izmir. Bursa, adalah kota tempat Turki Usmani atau Dinasti / Emperium / Kekaisaran / Ke-Khalifahan Usmaniyah berawal. Lokasi Bursa yang cukup dekat dengan Konstantinopel (kini Istanbul), telah menjadi pilihan lokasi yang strategis oleh para penguasa baik dari bangsa Arab maupun Seljuk yang memang berlomba-lomba untuk bisa menaklukan Konstantinople saat itu.

Tahun 1075 bangsa Muslim Seljuk telah menguasai kota ini. 22 tahun setelahnya Pasukan Perang Salib (Crusaders) yang pertama datang, merebut kota ini. Setelah itu Bursa selalu menjadi perebutan silih berganti. Baik oleh Crusaders maupun Muslim Seljuk. Bangsa Turki mengalami perpindahan ke daerah Anatolia sepanjang abad ke 12 dan 13 kemudian menumbuhkan  entitas entitas pemerintahan kecil dipimpin kepala suku atau panglima perang mereka. Termasuk Ertugrul Gazi yang mendirikan pemerintahan kecil di dekat Bursa.

ULU CAMI tertulis pada dinding depan pintu utama masjid utama di kota Bursa ini, dalam bahasa Indonesia mungkin sepadan dengan Istilah Masjid Jami'. Foto bawah adalah pancuran, tempat wudhu yang tersedia di halaman masjid. Pancuran seperti ini dapat ditemukan di semua masjid dari era dinasti Usmaniyah.

Pada tahun 1317, Osman atau Usman (anak dari Ertugrul Gazi) mengepung Bursa hingga jatuh ke dalam kekuasaannya pada tahun 1326 dan menjadikan kota ini sebagai ibu kota. Osman inilah yang selanjutnya mendirikan Emperium Usmaniyah yang oleh orang Eropa disebut dengan Kekaisaran Otoman karena ketidakmampuan menyebutkan dengan baik Nama Osman atau Usman. Selama 39 tahun Bursa menjadi Ibukota Usmaniyah sampai tahun 1365.

Ibukota Emperium Usmaniyah kemudian dipindahkan ke kota Edirne dan bertahan hingga 90 tahun, namun ahirnya dipindahkan lagi ke Istanbul setelah Sultan Mehmet II atau Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Byzantium di Konstantinopel tahun 1453.  Istanbul menjadi ibukota terahir Emperium Islam Usmaniyah selama 469 tahun hingga dibubarkannya Emperium tersebut di tahun 1922 oleh Kemal Attaturk lalu mendirikan Republik Turki yang kini kita kenal sekaligus memindahkan lagi Ibukota negara ke Ankara hingga hari ini.

Grand Mosque of Bursa  
Murat Aklar Nalbantoğlu Mahallesi
Ulucami Caddesi No:2, 16010 Osmangazi
Bursa, Turki
Telepon: +90 224 220 21 66
Geographic coordinates: 40.183841°N 29.061960°E



Bursa terletak di Turki bagian barat, ditepian laut Marmara yang memisahkannya dengan Istanbul. Bursa juga merupakan wilayah Turki yang berada di tanah Benua Asia. Selain dikenal sebagai kota bersejarah, Bursa juga merupakan kota industry dan sudah menjadi semacam sentranya industry otomotif bagi berbagai merek mobil Eropa. Dari Istanbul yang dikenal luas sebagai “ibukotanya Turki” di Eropa, Bursa dapat dicapai melalui perjalanan darat dan ferry penyeberangan sekitar 4 jam perjalanan.

Bursa juga menjadi destinasi favorit turis karena menyimpan banyak peninggalan sejarah Islam. Kota Bursa, Banyak tempat-tempat bersejarah yang bisa dikunjungi disana. Seperti mesjid-mesjid yang menjadi tujuan wisata, seperti Masjid Agung Bursa (Ulu Cami) yang merupakan mesjid terbesar di Turki, Green Mosque, Emir Sultan Ildirim Bayezit Cami, dan Orhan Cami. Selain dari itu, kota Bursa konon juga merupakan asal muasal dari Kebab Turki yang terkenal itu. Dan di Kota Bursa ini juga, menjadi tempat peristirahatan terahir pendiri Emperium Usmaniyah, Osman dan putranya Orhan Gazi.

Masjid Agung Bursa (Ulu Camii)

Masjid Agung Bursa atau Bursa Grand Mosque atau Bursa Ulu Cami adalah masjid tua yang berada di kota Bursa. Lokasi masjid ini berada di Atatürk Boulevard di kawasan kota tua Bursa. Dibangun dengan perpaduan gaya Seljuk - Usmaniyah, pada tahun 1396 hingga tahun 1399, atas perintah dari Sultan Yıldırım Bayezid I. Rancangan dan pembangunan masjid ini dilaksanakan oleh Arsitek Ali Neccar di tahun 1396–1399. Pembangunan masjid ini merupakan janji dari Yıldırım Bayezid I pada saat memenangkan perang Battle of Nicopolis in 1396.

SISI UTARA. Kiblat atau arah sholat di Turki kira kira mengarah ke selatan karena letak Ka'bah di kota Mekah berada di selatan wilayah Turki, sehingga pintu masuk utama Masjid Agung (Ulu Cami) Bursa berada di sisi utara, Mimbar dan Mihrabnya di sisi selatan. Sisi utara Masjid Agung Bursa ini ditandai dengan dua menaranya yang mengapit pintu utama.

Cerita yang beredar disana menyebutkan bahwa masjid Agung Bursa atau Ulu Cami ini dibangun dengan dua puluh kubah berhubungan dengan Janji dari Yıldırım Bayezid I yang akan membangun 20 masjid apabila berhasil memenangkan perang melawan Pasukan Salib di  Perang Nicopolis. Namun rencana ini akhirnya diubah menjadi membangun masjid dengan 20 kubah. Para pengamat seni bina arsitektur masjid menyebutkan bahwa masjid Agung Bursa ini sebagai masjid dengan gaya  arsitektur murni Bangsa Seljuk.

Masjid Agung Bursa merupakan masjid terbesar di Bursa sekaligus merupakan landmark arsitektur Seljuk karena memang menggunakan begitu banyak elemen dari arsitektur dinasti Seljuk yang sangat kental, dan pembangunannya pada Era awal emperium Usmaniyah. Badan dunia UNESCO telah memasukkan Masjid Agung Bursa (Ulu Cami) ke dalam daftar warisan budaya dunia di tahun 2014 dengan menyebut Masjid Agung Bursa sebagai salah satu masjid terpenting dalam sejarah Islam.

Bangunanya berdenah persegi panjang dengan luas mencapai 2200 m2. Ada dua puluh kubah dibagian atapnya yang menjadi ciri khas masjid ini. kubah kubah tersedbut terdiri dari empat baris, masing masing baris terdiri dari lima kubah, ditopang oleh 12 tiang persegi empat yang juga berukuran sangat besar. Jejeran tiang tiang besar tersebut menghasilkan lorong lorong dan ruang yang tercipta diantara jejerannya, dibawah masing masing kubah. Hal ini menciptakan privasi tersendiri bagi Jemaah. Selain dua puluh kubah besar, masjid ini juga dilengkapi dengan dua Menara.

KOLEKSI KALIGRAFI. Masjid Agung Bursa memiliki begitu banyak karya kaligrafi dari 41 Kaligrafer ternama di masa-nya. kaligrafi kaligrafi tersebut di lukis di dinding, tiang hingga pada lempengan panel berukuran besar dan kecil. 

Bagian yang cukup unik dari masjid Agung Bursa ini adalah, adanya tempat wudhu di dalam masjid, yang dalam Bahasa setempat disebut şadırvan. Letaknya setelah melewati pintu utama dibawah kubah kaca yang juga menjadi sumber cahaya matahari yang lembut ke dalam ruangan masjid. Interiornya yang serba horizontal dan pencahayaan yang tidak terlalu terang benderang memang sengaja dibuat demikian untuk menghadirkan suasana tenang dan damai serta kontemplatif.

Kaligrafi
                                                      
Di dalam masjid ini terdapat 192 inskipsi yang ditulis tangan oleh 41 ahli penulis kaligrafi ternama di masa itu. Dengan koleksi kaligrafi-nya Masjid Agung Bursa merupakan contoh terbesar kaligrafi di dunia. Kaligrafi kaligrafi tersebut ditulis baik di bagian dinding masjid, tiang tiang besarnya serta lempengan lempengan besar dan kecil. Daun pintu dan Mimbar dibuat dengan apik oleh para pemahat yang memang ahli dibidangnya dari jenis kayu terpilih dan bermutu. Ukiran pada mimbar masjid ini mengambil ukiran dengan model tata surya. Sebuah pintu berumur ratusan tahun yang merupakan pintu Ka’bah di Mekah ditampilkan di masjid ini dalam sebuah kotak kaca.

Pintu Ka’bah dan Legenda Masjid Agung Bursa

Ekterior Masjid Agung Bursa seluruhnya terbuah dari bahan batu. Satu unit pancuran air penuh ornamen ditempatkan di pelataran masjid di depan menara masjid. Menara kembar yang tampak identik satu dengan lain yang mengapit masjid ini sebenarnya dibangun pada waktu yang berbeda. Satu menara di sisi barat merupakan bangunan menara yang dibangun bersamaan dengan pembangunan masjid pada saat awal, sedangkan menara yang berada disebelah timur dibangun kemudian oleh Sultan Mehmet I pada abad ke 15.

FITUR INTERIOR MASJID AGUNG BURSA. Kiri atas : Pancuran tempat berwudhu di dalam Masjid Agung Bursa, Kanan Atas : Mihrab Masjid Agung Bursa, bergaya Seljuk. Kanan bawah : Sisi kiblat Masjid Agung Bursa. Kiri Bawah : Kubah transparan Masjid Agung Bursa.

Sebagaimana bangunan masjid tua yang pekat dengan sejarah, ada sebuah legenda yang tersebar sejak ber-abad lalu. Konon kata legenda yang berkembang disekitar Karagöz dan Hacivat, konon disebutkan bahwa seni pertunjukan bayangan boneka (seperti pertunjukan wayang kulit di Jawa) yang berkembang di kota Bursa para tokohnya itu diambil dari cerita para para pekerja bangunan Masjid Agung Bursa ini.

Diceritakan bahwa dua pekerja bernama Karagöz dan Hacivat mempunyai tabiat buruk suka mengganggu para pekerja lainnya dengan gurauan dan lelucon yang berakibat kepada terlambatnya pekerjaan mereka membangun masjid ini dan mengungang kemarahan dari Sultan dan berbuntut kepada pemberian hukuman kepada mereka.

Legenda lainnya terkait dengan pancuran tempat wudhu yang ada di dalam ruangan masjid. Konon disebutkan bahwa pada saat akan dibangun masjid ditempat tersebut sempat terhambat pada saat proses pembebasan lahan karena ada seorang wanita tua yang tidak mau melepaskan lahan dan rumahnya untuk dibebaskan sebagai lahan pembangunan masjid tersebut.

Namun pada ahirnya belau justru dengan sukarela melepaskan rumah dan lahannya untuk dibeli oleh Sultan bagi keperluan pembangunan masjid tersebut setelah terus terusan bermimpi hal yang sama, nah sebagai bentuk penghormatan kepada wanita tersebut, arsitek masjid ini dengan sengaja membangun sebuah pancuran tempat wudhu di dalam masjid ini di lokasi persis bekas rumah wanita tua tersebut.

Masjid Agung Bursa di malam hari, dengan kemilai cahaya lampu termasuk juga cahaya dari kendaran yang lalu lalang di ruas jalan Attaturk di sebelah selatan masjid ini.

Objek Wisata

Saat ini Masjid Agung Bursa (ulu cami) telah menjadi salah satu objek wisata yang menarik perahtian wisatawan dari mancanegara. Masjid terbuka setiap hari untuk kunjungan wiisatawan di luar waktu sholat, dan para pengunjung diharuskan untuk berpakaian sopan dan sederet aturan lainnya sebagaimana layaknya masuk ke dalam masjid.

Paralelisasi Sejarah Turki Vs Sejarah Indonesia

Pada saat Masjid Agung Bursa dibangun di Turki tahun 1396, di Nusantara sedang berkuasa Kerajaan Majapahit sedangkan di sisi barat pulau Jawa berada dibawah kendali Kerajaan Sunda. Masjid Agung Bursa ini dibangun 13 tahun setelah Deklarasi pendirian Kerajaan Gelgel di Bali (1383), Dalem Ktut Ngelesir didampingi oleh Patih Agung Arya Patandakan dan Kyai Klapodyana (Gusti Kubon Tubuh) menghadap Prabu Hayam Wuruk saat upacara Cradha dan rapat tahunan negeri-negeri vasal imperium Majapahit. 

Beliau (Raja Gelgel) kembali ke Bali dikawal oleh pasukan khusus majapahit yang semuanya beragama islam, menjadi awal masuk-nya Islam ke Pulau Bali. Masjid Agung Bursa di Turki Selesai dibangun tahun 1399, setahun setelah itu, Tahun 1400, di Nusantara, Raja Gelgel pertama, Dalem Ketut Ngulesir wafat.*** 

Referensi


Sunday, February 5, 2017

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Aerial View Masjid Jakarta Islamic Center

Dari Lokasi Prostitusi Menjadi Pusat Pengkajian Islam

Sulit membayangkan bahwa lahan tempat masjid ini berdiri dulunya adalah bekas lahan prostitusi atau lokalisasi Karamat Tunggak di wilayah Jakarta Utara. Tapi begitulah faktanya. Situs resmi masjid ini menyebut kehadiran Jakarta Islamic Centre (JIC) yang merubah tanah hitam menjadi tanah putih, "min al-dzulumaat ila an-nuur", diharapkan mampu menampilkan citra baru yang memancarkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang menyejukkan nurani.

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Islamic Center Jakarta atau Jakarta Islamic Centre (JIC), adalah organisasi Non Struktural di bawah Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta. Dibangun para era kepemimpinan Gubernur Sutiyoso. Rancangannya ditangani oleh Prof. Muhammad Nu’man yang terkenal dengan mahakarya arsitekturnya, beberapa diantara-nya adalah Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki, Masjid at-Tin Jakarta, Masjid Indonesia atau Masjid Soeharto di Bosnia serta Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan.

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)
Jl, Kramat Jaya, Kelurahan Tugu Utara
Kecamatan Koja, Kotamadya Jakarta Utara
Provinsi DKI Jakarta



Mengubah Tanah Hitam Menjadi Putih

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre) yang berdiri megah saat ini sebelumnya adalah Lokasi Resosialisasi (Lokres) Kramat Tunggak dengan nama resmi Panti Sosial Karya Wanita (PKSW) Teratai Harapan Kramat Tunggak, bahasa sederhana-nya adalah Pusat Lokalisasi para WTS atau PSK, yang terletak di jalan Kramat Jaya RW 019, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Kotamadya Jakarta Utara, menempati lahan seluas 109.435 m2 terdiri dari sembilan Rukun Tetangga (RT).

Lokres Kramtung tidak saja terkenal di Indonesia, namun juga terkenal hingga ke Asia Tenggara sebagai pusat jajan terbesar bagi para pria hidung belang, yang pada ahirnya menimbulkan begitu banyak masalah sosial seiring dengan perkembangannya yang luar biasa, bisa dibayangkan bila pada saat dibuka tahun 1972, di tempat ini terdapat 300 orang WTS dengan 76 orang germo dan menjelang ditutupnya Lokres tersebut di tahun 1999, jumlahnya sudah membengkak 1.615 orang WTS dan 258 orang germo. Mereka tinggal di 277 unit bangunan yang memiliki 3.546 kamar.

Selain masalah sosial yang ditimbulkannya Lokres ini menciderai citra Jakarta yang tidak bisa dipisahkan dari sejarahnya sebagai sebuah kultur Betawi yang sangat identik sebagai komunitas Islam yang terbuka, bersemangat multikultur, toleran dan sangat mencintai Islam sebagai identitas utama kebudayaan mereka. Kondisi ini menimbulkan desakan tidak henti-hentinya dari ulama dan masyarakat agar komplek tersebut segera ditutup. Merespon hal tersebut Dinas Sosial bersama Universitas Indonesia melakukan penelitian di tahun 1997 dan merekomendasikan penutupan komplek pelacuran tersebut.

Interior Islamic Center Jakarta

Pada tahun 1998 dikeluarkan SK Gubernur KDKI Jakarta No. 495/1998 tentang penutupan panti sosial tersebut selambat-lambatnya akhir Desember 1999. Pada 31 Desember 1999, Lokres Kramat Tunggak secara resmi ditutup melalui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 6485/1998. Selanjutnya Pemda Provinsi DKI Jakarta melakukan pembebasan lahan eks lokres Kramat Tunggak.

Setelah dibebaskan banyak muncul gagasan terhadap lokasi bekas Kramat Tunggak tersebut, ada yang mengusulkan pembangunan pusat perdagangan (mall), perkantoran dan lain sebagainya. Namun Gubernur H. Sutiyoso justru menggaungkan ide membangun Islamic Centre dilokasi tersebut. Sebuah ide yang cemerlang yang menyatukan kelompok-kelompok lain yang awalnya berbeda-beda.

Pada tahun 2001 Gubernur Sutiyoso mengadakan Forum Curah Gagasan dengan seluruh elemen masyarakat untuk mengetahui sejauhmana dukungan masyarakat. Gagasan untuk membangun Jakarta Islamic Centre (JIC) dikemukakan Gubernur Sutiyoso kepada Prof. Azzumardi Azra (Rektor UIN Syarif Hidayatullah) di New York di sela-sela kunjungannya ke PBB pada tanggal 11-18 April 2001 dan mendapatkan respon yang sangat positif.

Ekterior Masjid Jakarta Islamic Center. Ada kemiripan yang cukup kuat antara foto kiri atas dan foto kanan bawah dengan Masjid Agung At-Tin di Jakarta Timur.

Master plan pembangunan JIC dirumuskan pada tahun 2002 setelah konsultasi terus menerus antara masyarakat, ulama, praktisi lokal maupun regional hingga international. Di tahun yang sama dilakukan studi banding ke Islamic Centre di Mesir, Iran, Inggris dan Perancis kemudian dilanjutkan dengan perumusan Organisasi dan Manajemen JIC.

Masjid Jakarta Islamic Center diresmikan pada tanggal 4 Maret 2003 Luas bangunan masjidnya mencapai 2200 meter di atas lahan tanah seluas 109,435 m2 dan mampu menampung hingga 20.680 jemaah sekaligus. Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre) ditetapkan tahun 2003 melalui SK Gubernur KDKI No. 99/2003. Kemudian dilalkukan penetapan Badan Pengelola Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamci Centre) melaui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 651/2004 pada bulan April 2004.

Namun selanjutnya, kehadiran JIC tidak sekedar hanya merubah tanah hitam menjadi putih, atau hanya sebuah masjid saja, melainkan lebih dari itu JIC diharapkan menjadi salah satu simpul pusat peradaban Islam di Indonesia dan Asia Tenggara yang menjadi simbol kebangkitan Islam di Asia dan Dunia. Ciri peradaban yang dimaksud adalah dengan adanya kelengkapan fasilitasi fungsi-fungsi kemakmuran masjid yang terdiri dari fungsi peribadatan, fungsi kediklatan dan fungsi pedagangan/bisnis.

Interior Masjid Jakarta Islamic Center. Lega dan lapang tanpa tiang tiang penyanggah di tengah tengah ruangan masjid, serta unik dengan ornamen lampu gantung berbentuk ornamen khas Betawi sebagai penghias ruangan.

Arsitektural Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Sebagai sebuah Islamic Center, di dalam komplek JIC ini tidak hanya terdapat bangunan Masjid dengan ukuran sangat besar namun juga dilengkapi dengan fasilitas fasilitas pendukung termasuk komplek gedung perkantoran, aula dan perpustakaan serta fasilitas pendukung lainnya. Kesan megah dan modern sangat terasa pada komplek Islamic Center terbesar Indonesia ini. Sejauh ini JIC juga eksis di dunia maya melalui situs yang mereka kelola.

Gaya Usmaniyah Turki sangat kental pada bangunan masjid ini, baik dalam gaya maupun ukurannya, kesan tersebut sangat terasa saat memandang masjid ini dari kejauhan. Masjid masjid dari era Usmaniyah terkenal dengan ukurannya yang gigantik alias tinggi besar, kubah besar serta menara tinggi yang ramping dan lancip, ditambah dengan area pelataran (court yard) yang memang sudah mentradisi sebelum masa Emperium Usmaniyah. Masjid JIC ini seolah menghadirkan Masjid Usmaniyah (Turki) di Ibukota Negara Indonesia dengan rasa Nusantara

Perbedaan paling menyolok Antara masjid ini dengan masjid Klasik Usmaniyah terlihat jelas di ruang utama masjid yang sama sekali tidak terdapat tiang penyanggah, yang justru menjadi salah satu ciri khas Masjid Usmaniyah. Dalam skala yang lebih kecil, Penggunaan model atap masjid seperti atap masjd JIC ini dapat anda temukan di Masjid Agung Kota Cimahi, Jawa Barat.

Dari kejauhan tampak dengan utuh kemegahan masjid ini beserta sebatang menaranya yang menjulang.

Ruangan masjid tanpa tiang seperti ini telah lama dijadikan standar oleh Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YAMP) bagi 1000 masjid yang telah mereka bangun baik di dalam maupun di luar negeri. Rancangan seperti ini menghadirkan nuansa lebih luas di dalam masjid yang pada Masjid Usmaniyah disiasati dengan pembuatan jendela jendela kaca berukuran besar dalam jumah banyak.

Sebagai pengganti “kekosongan” elemen” tiang penyanggah ini dihadirkan elemen elemen dekoratif khas tradisi Betawi pada langit langit bangunan yang plong tanpa plafon ditambah dengan dominasi warna biru diseluruh langit langit menghadirkan nuansa langit tanpa awan ke dalam masjid ini. Pada kubah besar masjid ini dilengkapi dengan “jendela jendea” transfaran membentuk pola menara menara kecil disekeliling diameter kubah terlihat indah di siang hari saat cahaya matahari menerebos masuk ke dalam masjid melalui jendela jendela tersebut.

Rancangan atap masjid ini memang tampak cukup rumit, sederhananya adalah berupa tumpukan tumpukan atap menyiratkan atap tradisional masjid masjid asli Indonesia. Pada setiap tingkatan atap terdapat sisi vertical dan ditempatkan beberapa jendela kaca berukuran besar menghadirkan penerangan gratis ke dalam masjid dari cahaya matahari disiang hari sekaligus memberikan efek fantastis di dalam masjid.

Untuk menghindari kesan sumpek dan pengap, dinding bagian dalam masjid ini dibalut dengan warna cerah, kontras dengan warna langit langitnya yang lebih gelap, dan area mezanin (lantai dua) nya dibangun tanpa menutupi area sholat utama. Rancangan seperti ini tentu saja juga akan anda temukan di Masjid Agug At-Tin di kawasan TMII, Jakarta Timur, karena memang dirancang oleh arsitek yang sama.

Bangunan bergaya Usmaniyah dengan cita rasa Indonesia.

Mihrab di dalam masjid ini di dominasi oleh Mimbar khatib yang cukup besar. Khatib akan menyampaikan khutbahnya di mimbar yang ditempatkan cukup tinggi hingga dapat telihat oleh Jemaah paling belakang. Posisi imam saat memimpin sholat tidak di dalam mihrab tapi beberapa meter di depan mihrab. Satu buah beduk yang juga berukuran besar ditempatkan di dalam masjid ini di sudut kanan depan. Kehadiran beduk ini tentu saja menghadirkan nuansa yang sangat Indonesia.

Ruang sholat utama masjid ini berada di lantai dua, ada tangga besar menuju ke lantai dua yang mengarah langsung ke pelataran masjid. Selain tangga masjid ini juga dilengkapi dengan perangkat eskalator. Lantai dasar masjid digunakan sebagai area pendukung dan kantor serta area tempat wudhu dan lainnya. Selain di lantai dasar, tempat wudhu juga tersedia di area pelataran yang dibangun cukup unik. Hal yang sama juga akan anda temui di kebanyakan masjid masjid Usmaniyah.

Pelataran masjid ini cukup luas dikelilingi rangkaian koridor tak terputus. Seluruh permukaan pelataran sudah diberikan garis shaf permanen untuk memudahkan Jemaah yang sholat di luar masjid menentukan garis shaf mereka. Sebatang menara ramping menjulang tinggi dibangun tepisah cukup jauh dari bangunan utama masjid.

Bangunan menara berdenah segi empat tidak seperti menara masjid Usmani yang bundar. Melihat menara ini mengesankan sebagai menara masjid Agung Demak dalam bentuk lebih besar dan modern. Ujung menara dilengkapi dengan kubah lonjong berwarna senada dengan kubah utama, di atas kubah terdapat ornamen tusuk sate dengan 5 bentuk bola menyimbolkan lima rukun Islam dan di ujungnya ditempatkan simbol bulan sabit berbentuk simetris ke atas. 

Masjid Masjid rancangan Prof. Muhammad Nu’man memiliki benang merah yang sangat kuat terhadap rancangan masjid masjid dari era ke-khalifahan Islam (Emperium) Usmaniyah yang berpusat di Istanbul, Turki. Namun sudah barang tentu dibangun dengan teknik modern dan di oplos dengan tradisi Islam Indonesia.

Bila Emperium Usmaniyah (Turki) memiliki arsitek ternama Mimar Sinan yang begitu melegenda, sampai sampai pemerintah Turki membangun sebuah masjid megah untuk menghormatinya. Saya pribadi sebagai orang awam arsitektur menganggap Prof. Muhammad Nu’man dengan karya karyanya yang sangat Usmaniyah, sebagai Mimar Sinan-nya Indonesia.*** (dari berbagai sumber, data diolah).

Referensi

situs resmi JIC – http://islamic-center.or.id
jakarta.go.id - Jakarta Islamic Centre