Sunday, October 15, 2017

Lala Tulpan Masjid Bunga Tulip di Ufa

Merah semerah bunga tulip yang sedang mekar, sesuai dengan namanya, Masjid Tulip Yang Sedang Mekar.

Lala Tulpan adalah salah satu masjid masjid besar di Rusia. Lokasinya berada di kota Ufa, Boshkortostan.Lala Tulpan berarti “Bunga tulip yang mekar” nama yang pas dengan arsitektur masjidnya, perhatikan bentuk menara kembar masjid ini yang pada bagian ujungnya dibuat menyerupai bunga tulip yang sedang mekar atau dalam Bahasa setempat disebut “lala tulpan”.

Lala Tulpan atau tulip yang sedang mekar, tak hanya mengacu pada menaranya, mekar seperti bunga pada musim semi. Nama itu juga berbicara tentang mekarnya kegiatan keagamaan dan budaya setelah era runtuhnya Uni Soviet. Sejarah mencatat, pada 2001, Presiden Vladimir Putin menyelenggarakan pertemuan dengan Talgat Tadzhuddin dan ulama Muslim lainnya di Lala Tulpan, Ufa.

Menara kembar bunya tulip di masjid ini dibangun setinggi 53 meter, adalah nomor tiga tertinggi di Rusia setelah Masjid Akhmad Kadyrov di Kota Grozny dan Masjid Qolsharif di Kazan. Bangunan ini bisa menampung seribu jamaah. Masjid modern ini dibangun antara 1990 dan 1998 berdasarkan desain arsitek modernis, Wakil Davlyatshin.

Masjid Lala Tulpan
ul. Komarova, 5, Ordzhonikidze district
Ufa, Respublika Bashkortostan
Rusia,450044
telp : +7 347 242-22-33
Coordinates:   54°49'10"N   56°3'20"E



Pembangunan Masjid Lala Tulpan dimulai pada 1989. Pada waktu itu, Uni Soviet ada di bibir kehancuran. Ketidakpastian yang besar melanda ke seluruh negeri, seperti investasi besar yang tak jelas bakal kembali.  Lokasi pembangunan Lala Tulpan sempat terbengkalai selama tujuh tahun. Pada 1997, konstruksi dimulai lagi dan masjid itu akhirnya rampung setahun kemudian, menawarkan simbol kemajuan dan stabilitas.

Sejak selesai dibangun pada 1998, masjid ini menjadi objek wisata populer di kota Ufa. Struktur yang megah namun unik bagi masjid ini menjadi pengingat tersendiri tentang sebuah ketahanan kebudayaan dan keagamaan di Rusia dan keimanan warganya ditengah ideologi ateis yang dianut Uni Soviet di masa lalu. Pembangunan menara monumental dan indah Lala Tulpan kini terkenal bagi dunia yang mungkin tak terbayangkan pada era kekuasaan Uni Soviet.

Arsitektur Masjid Lala Tulpan

Menara
kembar masjid ini berdiri megah di sisi depan bangunan utama, mengapit pintu masuk ke masjid. Pintu masuk utamanya berada dibawah serangkaian tiga tumpukan atap segi tiga terbuka. di setiap ruang antara tumpukan atap tersebut ditempatkan jendela jendela kaca berukuran besar sebagai sumber cahaya alami ke dalam masjid.

Bangunan utamanya sama sekali tidak mirip dengan bangunan masjid pada umumnya.

Rancangan masjid ini memang terdiri dari serangkaian struktur geometris yang cukup rumit, menciptakan bentuk masjid yang tak lazim,  dan dengan sendiri sama sekali tak memungkinkan untuk menempatkan kubah di atap bangunan masjidnya. Hasilnya, bangunan terlihat dari atas seperti kubus yang dibongkar.

Warna merah cerah sangat menyolok terutama pada bagian atap dan puncak menaranya yang memang sengaja di cat warna merah cerah agar benar benar tampak seperti bunga tulip yang sedang mekar, dipadu dengan warna putih. penggunaan warna merah dan putih pada masjid ini sama sekali kontradiksi dengan kebiasaan menggunakan warna abu abu pada bangunan di era Uni Soviet.

Ruang interior masjid ini pun dengan sendirinya terbentuk bersudut sudut. Dekorasi di dalam masjid ini cukup minimalis, bagian bawah dindingnya ditutupnya dengan ubin bercorak sementara lampu gantung raksasa bergelayut dari langit-langit. Jendela jendela kaca masjid ini menggunakan kaca patri demikian juga dengan jendela besar di ruang mihrab, ruang yang tercipta dari pertemuan titik titik geometris bangunannya. Sebuah mimbar berukuran besar di tempatkan disamping kanan mihrab.

Di dalam Masjid Lala Tulpan

Masjid Lala Tulpan ini mampu menampung sekitar 300 jemaah di ruang utamanya ditambah dengan sekitar 200 jemaah di lantai mezanin-nya. Masjid ini juga dilengkapi dengan madrasah, ruang meeting ruang makan, ruang pelatihan yang mampu menampung sekitar 100 siswa dan asrama.

Sejarah Ufa

Ufa adalah ibu kota dan kota terbesar di Republik Bashkortostan, Rusia. Sebuah kota pusat industri, ekonomi, sains, dan budaya republik itu. Ufa disebut sebagai pusat Muslim di Rusia. Kota itu berawal dari sebuah benteng yang dibangun atas perintah Ivan yang kejam pada 1574 dan asalnya menggunakan nama bukit tempat kota itu berdiri, Tura-Tau. Pada abad ke-18, Ufa menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, manufaktur, dan budaya Rusia.

Ufa Municipal Public Bank didirikan pada 15 Desember 1876. Pada 1918, Ufa menjadi tempat kediaman seluruh pemerintahan provisional Rusia. Pada 14 Juni 1922, Ufa menjadi Ibu kota pemerintahan otonomi Bashkir dalam Republik Sosialis Soviet. Penemuan minyak di Bashkiria menjadikan Ufa salah satu pusat pengilangan minyak Soviet.

Masjid Lala Tulpan di musim salju yang membeku

Pada Perang Dunia II, menyusul penarikan mundur Soviet ke arah timur pada 1941, Ufa menjadi basis pemerintahan Soviet di wilayah Ukraina. Selain ibu kota republik, Ufa juga menjadi pusat Distrik Ufimsky meskipun tak menjadi bagian administratifnya.

Bashkortostan, tempat asal orang orang Bashkir

Bashkortostan merupakam negara merdeka di dalam Federasi Russia dan sepanjang sejarahnya merupakan Republik yang paling independen dalam sejarah Russia. Republik ini merupakan tempat asal orang-orang Bashkir. Secara historis, Muslim Bashkir tinggal bersama komunitas Tatar dan komunitas etnis Rusia lainnya. 

Bashkortostan memiliki bahasanya sendiri ‘bahasa Bashkir’ yang digunakan bersama dengan Bahasa Russia, dan keduanya di akui sebagai Bahasa resmi di Republik tersebut. Budaya yang bercampur aduk ini memberikan karakter kosmopolitan di Bashkortostan.

Masjid Lala Tulpan

Penguasa kota telah berupaya untuk memasarkan Ufa sebagai tempat yang memelihara warisan budayanya, tetapi juga modern dan siap menjadi tuan rumah bisnis global, para wisatawan, dan berbagai konferensi internasional.

Lala Tulpan berdiri di kawasan itu sebagai simbol sempurna bagi citra publik, mewakili wajah kontemporer sementara memelihara akar agama yang dalam dari orang Bashkir dan Kota Ufa.
Kehadiran masjid seperti ini di Ufa tak mengejutkan bagi mereka yang mengetahui sejarah kawasan itu. Sejarah mencatat, Ufa sebagai salah satu pusat kehidupan Islam dan budaya yang penting di Rusia. 

Sejak zaman Catherine yang Agung, kota ini sudah menjadi rumah bagi Central Muslim Board of Spiritial Administration (CMSB Rusia), sebuah organisasi yang mewakili masyarakat Muslim di tingkat nasional. CMSB menyelamatkan tekanan terhadap agama pada era Soviet dan masih berlokasi di kota ini hingga kini, bekerja untuk kebutuhan Muslim negeri itu.
***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Saturday, October 14, 2017

Masjid Mukhtarov Vladikavkaz

Masjid Mukhtarov berdiri di pusat kota Vladikavkaz di tepian sungai Terek dan berlatar belakang punggung pegungungan Kaukasus, memberikan pemandangan yang menawan.

Pada saat tulisan ini di Upload Masjid Mukhtarov ini tepat berusia 109 tahun sejak masjid ini diresmikan pada tanggal 14 Oktober 1908. Masjid Mukhtarov adalah masjid bersejarah di tepian sungai Terek di pusat kota Vladikavkaz.

Peresmian masjid ini dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 1908, pembangunannya menghabiskan dana sebesar ro ribu rubel Rusia dan semuanya ditanggung oleh Murtuza Mukhtarov seorang milioner ternama dari kota Baku, Azerbaijan. Proses pembangunanya telah dimulai sejak tahun 1900.

Vladikavkaz Central Mosque | Мечеть Мухтарова
ul. Kotsoyeva, 62, Vladikavkaz
Resp. Severnaya Osetiya-Alaniya, Rusia, 362008


Sebagai Tanda Cinta

Murtuza Mukhtarov membangun masjid ini sebagai bentuk rasa cinta Muslim Azerbaizan kepada Muslim Osetia, secara pribadi Murtuza Mukhtarov sendiri memutuskan untuk membangun masjid di kota itu, kota yang telah mempertemukan dengan wanita pujaannya yang dikemudian hari menjadi istrinya.

Murtuza-aga Mukhtarov menikah dengan Lisa Tuganova, putri dari Jenderal Hamby Tuganova dan pesta pernikahannya dilaksanakan di Vladikavkaz. Setelah menikah beliau membotong istrinya tinggal di kota Baku, Azerbaizan.

Arsitek Józef Plośko yang dipercaya membangun masjid ini merancangnya terinspirasi dari masjid Al-Azhar dan gaya masjid masjid di Kairo, Mesir. Józef Plośko juga yang mengarsiteki Istana Mukhtarov di kota Baku, Azerbaijan.

Masjid Mukhtarov dari seberang Sungai Terek

Masjid Mukhtarov sangat terkenal karena lokasinya yang menjadikan posisi masjid memiliki background nya yang dramatis dengan jejeran pegunungan Kaukasus di latar belakangnya dengan bentang alam dan aliran air sungai Terek disebelahnya.

Masjid ini merupakan masjid bagi muslim suni di kota tersebut termasuk bagi komunitas muslim Ingushetia yang tinggal di Vladikavkaz sebelum kemudian mereka terusir dari kota tersebut dan dari wilayah Ossetia Utara di tahun 1990-an.

Dimasa kedudukan Uni Soviet masjid ini sempat dialihfungsikan sebagai Musium Adat dan baru di tahun 1996 bangunan masjid ini dikembalikan lagi kepada Lembaga Spiritual Muslim Osetia Utara dan beberapa kali telah mengalami restorasi, untuk memulihkan kondisinya termasuk akibat kerusakan parah oleh ledakan bom di tahun 1996.

Sisi depan Masjid Mukhtarov

Restorasi pertama setelah serah terima, dilaksanakan pada tahun 1997, kemudian di tahun 2006 dan 2008. Masjid Mukhtarov ini telah dimasukkan ke dalam daftar bangunan bersejarah yang dilindungi sejak tahun 1934.

Beberapa penulis setempat menumpahkan rasa kecewa mereka yang merasa terganggu dengan pembangunan gedung berlantai 12 di belakang masjid ini yang mereka sebut sebagai sesuatu yang telah merusak pemandangan keindahan latar belakang masjid ini yang langsung berpanorama pegunungan Kaukasus.

Apa dan Dimanakah Vladikavkaz

Vladikavkaz adalah kota terbesar sekaligus ibukota dari Republik Ossetia Utara-Alania yang merupakan bagian dari Federasi Russia. Letaknya berada di barat daya wilayah Ossetia Utara di kaki pegunungan Kaukasus, kota ini dilalui oleh Sungai Terek, dihuni oleh sekitar 300 ribu jiwa.

Di musim salju yang membeku

Kota Vladikavkaz pertama kali dibangun tahun 1784 sebagai benteng pertahanan selama penaklukan oleh Russia ke wilayah Kaukasus dan cukup lama menjadi pangkalan militer utama Russia untuk kawasan Kaukasus. Kota ini kemudian berkembang menjadi pusat peleburan logam, pemurnian minyak hingga bahan kimia dan industri manufaktur.

Nama kota ini sempat beberapa kali berganti nama, tahun 1931-1944 dan tahun 1954-1990 baik orang Rusia maupun orang Ossetia menyebutnya Ordzhonikidze (Орджоники́дзе) diambil dari nama Sergo Ordzhonikidze, tokoh gerakan Bolshevik Georgia.

Sempat berganti nama menjadi Dzaudzhikau (Дзауджика́у) dalam bahada Russia dan Dzæwdžyqæw (Дзæуджыхъæу) dalam bahasa Ossetia. Sedangkan nama Vladikavkaz adalah nama kota ini dalam bahasa Russia yang digunakan kembali di tahun 1990 beberapa saat sebelum keruntuhan Uni Soviet sedangkan dalam bahasa Ossetia nya kembali menjadi Dzæwdžyqæw.

Vladikavkaz sempat mengalami pahit getir kancah perang sipil Russia maupun perang dunia kedua. Bulan Februari 1919 kota ini sempat diserbu oleh pasukan General Anton Denikin yang merupakan tokoh anti komunis Ossetia namun berhasil dikalahkan pasukan merah di bulan maret 1920.

Interior Masjid Mukhtarov

Di bulan November 1942 Vladikavkaz kembali menjadi ajang perang tatkala Nazi Jerman menyerbu kota ini namun lagi lagi digagalkan oleh pasukan merah. Kerusakan parah melanda kota ini saat menjadi target pengeboman dalam perang sipil di tahun 1999, 2008 dan 2010.

Bahkan walikota Vitaly Karayev tewas ditembak oleh penembak tak dikenal pada tanggal 26 November 2008. Begitupun dengan penggantinya, walikota Kazbek Pagiyev 31 December 2008, juga mengalami nasib tragis yang sama, terbunuh oleh penembak tak dikenal.

Etnik dan Agama

Penduduk kota Vladikavkaz terdiri dari beberapa kelompok etnis, Etnis Ossetia merupakan etnis terbesar di kota ini ( (59.51%) disusul oleh etnis rusia (27.59%), Etnis Armenia (3.89%) dan Etnis Georgia (2.32%). Islam menjadi agama terbesar kedua yang di anut penduduk kota ini setelah penganut agama Kristen Ortodok.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, October 8, 2017

Moscow Cathedral Mosque

Masjid Katedral Moskow atau Moscow Cathedral Mosque tampak berdiri kokoh lebih tinggi dan lebih menyolok dibandingkan dengan stadion olimpiade 1980 di pusat kota Moscow, Russia. Pemandangan seperti ini menjadi hajatan 2 kali setahun di masjid ini ketika ummat Islam menyemut saat melaksanakan sholat Idul Fitri dan Idul Adha.

Moscow Cathedral Mosque berdiri megah bersebelahan dengan Olympic Indoor Stadium / Stadion Olimpiade 1980 di pusat kota Moskow, kini menjadi masjid terbesar di Rusia sekaligus menjadi landmark baru bagi ibukota Rusia tersebut. Masjid Katedral Moskow merupakan masjid tertua kedua di Moskow, berdiri sejak tahun 1904, (bila di Indonesia masjid ini hampir seumur dengan usia Masjid Raya Al-Mashun di kota Medan).

Nama “Katedral” untuk menyebut sebuah masjid besar memang terdengar sangat aneh bagi kebanyakan orang Indonesia, penyebutan nama masjid ini memang unik, boleh jadi karena budaya masyarakat Kristen Ortodox Rusia yang terbiasa menyebut gereja besar sebagai Katedral, maka masjid besar di kota Moskow inipun di sebut sebagai Masjid Katedral. Dalam bahasa Rusia masjid ini juga disebut masjid Sabornaya atau Masjid Agung karena memang fungsinya sebagai masjid agung bagi kota itu.

Disebut juga dengan nama ‘mosque at Prospect Mira’ karena memang lokasinya yang berada di jalan prospect mira (perdamaian) dan dilokasi itu berdiri megah stasiun kereta Prospect Mira, sementara sebagian orang juga menyebutnya sebagai Masjid Tatar (Tatar Mosque) Karena memang awalnya jemaah masjid ini didominasi oleh muslim Etnis Tatar.

Masjid Katedral juga merupakan kantor bagi muftiyat Russia. Masjid Katedral ini selain menyelenggarakan sholat lima waktu, sholat Jum’at, trawih, dua sholat Idul Fitri, peringatan hari hari besar Islam juga menyediakan perpustakaan Islam dan Maktab atau lembaga pendidikan Islam. Di tempat ini pula berlangsung aktivitas umat yang ingin bersedekah, berzakat, atau bahkan minta didoakan keluarganya.

Moscow Cathedral Mosque
2b Minskaya st. (Prospec Mira)    
+7 (495) 4498113, +7 (499) 5021906, +7 (495) 4498113
Situs Resmi : http://www.mmechet.ru/
Koordinat geografi : 55°46'44"N   37°37'36"E



Masjid Sabornaya dibangun pada tahun 1904 oleh arsitek Nikolai Alekseyevich Zhukov. Seluruh biaya pembangunan ditanggung saudagar muslim bernama Saleh Yusupovich Yerzin. Dan hanya dalam tempo lima bulan, masjid pun selesai dibangun. Pada 27 November 1904, imam masjid pertama Badridin Hazrat Alimov mengajukan permohonan pada pemerintah Moscow untuk menggunakan masjid ini sebagai tempat ibadah.

Di masa pemerintahan refresif soviet, ketika masjid masjid ditutup, imam masjid ditangkap bahkan sebagian dari mereka dibunuh, namun masjid Katedral ini menjadi satu dari sangat sedikit masjid di Rusia yang lolos dari tindakan represif pemerintah.sebuah kenyataan yang menyisakan pertanyaan hingga detik ini “mengapa pemerintah tidak menutup masjid Katedral ?”.

Sebagian sejarawan percaya hal tersebut dilakukan pemerintah Soviet sebagai bentu apresiasi kepada usaha imam Masjid Katedral yang berhasil mencarikan hubungan diplomatik pemerintahan sosialis Soviet yang beraliran komunis dengan dunia Islam.

Pihak kepolisian dan departemen terkait di kota Moscow setiap tahun memang menyiagakan para petugasnya untuk kelancaran hajatan ummat Islam di kota itu melaksanakan sholat Idul Fitri dan Idul Adha. ribuan orang yang memadati ruas jalan di sekitar masjid ini mau tidak mau harus dipersiapkan sedemikian rupa oleh semua pihak terkait dan menjadi telah menjadi pemandangan rutin di kota ini.

Kedekatan imam masjid dengan berbagai petinggi politik Negara tetangga ini yang kemudian membuat Kremlin memberikan sediit konsesi kepada Masjid Katedral dan tetap mempertahankan beberapa masjid lainnya antara 50 hingga 100 masjid di seluruh soviet. Dan ada sekitar 300-an di era 80-an. Pemerintah Soviet memang tetap menjalin hubungan dengan Negara Negara Islam, tercatat berbagai pemimpin dari Negara Negara Islam pernah berkunjung ke Masjid Katedral ini di era Uni Soviet termasuk presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Presiden dan Proklamator Indonesia Sukarno, Presiden Libya Muammar al-Gaddafi, dan lain lain.

Komposisi jemaah masjid selama perang berubah total, masjid seolah olah menjadi tempat berteduhnya kaum wanita, anak anak, dan orang orang cacat akibat perang dan mereka yang baru kembali dari medan tempur. Dibalik segala kesulitan, Jemaah dan pengurus masjid mengumpulkan makanan dan pakaian bagi masyarakat korban perang ataupun bagi keluarga korban perang. Pemimpin tertinggi Uni Soviet pun pernah mengirimkan telegram untuk muslim Moskow dengan pesan,

“Terima Kasih atas segala perhatian dan sokongan kepada kekuatan bersenjata pasukan merah. Terimalah salam dan penghormatan saya untuk pasukan merah. Stalin”

Pembangunan Kembali Moscow Cathedral Mosque

Sejak dibangun tahun 1904 Masjid Katedral Moscow ini semakin hari semakin tak mampu lagi menampung Jemaah yang semakin membludak. hal itu yang kemudian bergulir rencana untuk membangun masjid yang lebih besar. Rencana perluasan masjid Katedral ini mulai digulirkan pada peringatan se-abad masjid Katedral 28 Mei 2004.

LAMA DAN BARU ; Foto atas adalah Masjid Katedral Moskow sejak di bangun tahun 1904 hingga tahun 2011, tampak seolah bersembunyi dibalik bangunan stadion Olimpiade 1980 kota Moskow. Bandingkan dengan foto bawah, Masjid Katedral setelah pembangunan kembali tahun 2015, justru Stadion Olimpiade yang seolah bersembunyi di balik begitu besarnya bangunan masjid ini. Wajar bila disebut sebagai Masjid Sabornoya (Masjid Agung).

Acara tersebut turut dihadiri oleh wakil walikota Moskow Mikhail Men, Pesiden Muftiyat Rusia sheikh Ravil Gainutdin, Sekjen World Islamic Call Association (Libya) Mohamed Ahmed Sheriff, Mufti Kyrgyzstan Murataev Agee Zhumanov, Mufti Republik Kazakhstan Abdsattar Derbesali, mufti Tajikistan Amanullo Nemadzade, Wakil presiden OSCE Parliamentary Assembly (Turkey) Mevzet Yalchintash dan Imam-Khatib Masjid Katedral Moskow Hazrat Biljalov Rais.

Rencana perluasan masjid tersebut telah disetujui oleh Presiden Medvedev yang tercatat sebagai satu satunya presiden yang pernah berkunjung ke Masjid Katedral Moskow. Sedangkan Perdana menteri Vladimir Putin menjadi orang pertama yang menyampaikan ucapan selamat atas perayaan se-abad Masjid Katedral Moskow.

11 September 2011 bangunan lama masjid Cathedral Moscow dirobohkan total sebagai bagian dari proyek pembangunan kembali dan perluasan masjid tersebut. di robohkan nya bangunan bersejarah tersebut tak pelak mengundang reaksi protes dari berbagai kalangan baik muslim maupun non muslim yang menyayangkan dihancurkannya bangunan bersejarah tersebut.

Proses pembongkaran bangunan lama masjid Katedral ini menjadi legal karena sejak ahir 2008 bangunan Masjid Katedral tidak lagi tercatat sebagai benda warisan budaya, meskipun sebelumnya di bulan Juni tahun yang sama masjid ini dimasukkan dalam daftar baru di masukkan ke dalam daftar benda warisan budaya dan monument sejarah, sehingga dengan sendirinya pada saat pelaksanaan pembongkaran, bangunan tersebut tidak terlindungi oleh undang undang cagar budaya Rusia.

Interior Masjid Katedral Moskow

Pihak pengurus masjid dan Muftiyat Rusia berpendirian bahwa masjid tersebut sudah tidak memadai untuk menampung jumlah jemaah yang terus membludak sepanjang waktu, ditambah lagi dengan posisi kiblatnya yang sedikit melenceng. Pada awalnya, rencananya masjid ini hanya akan di preteli menjadi bagian bagian kecil untuk kemudian dirakit kembali menjadi bagian dari masjid baru yang akan dibangun dilokasi tersebut.

Masjid Katedral Moskow menjadi bangunan tempat ibadah pertama di Rusia yang dirobohkan sejak tahun 1978. Proyek pembangunan masjid baru yang lebih besar dan representative di atas lahan yang sama tersebut rencananya baru akan selesai pada tahun 2013 dan keseluruhan pembangunannya diperkirakan baru akan selesai pada tahun 2014 atau 2015.

Peresmian Moscow Cathedral Mosque

Setelah melalui proses pembangunan selama 4 tahun, Moscow Cathedral mosque dengan penampilan baru ini dibuka kembali secara resmi pada tanggal 23 September 2015 bertepatan dengan malam Idul Adha oleh Presiden Russia Vladimir Putin. acara tersebut turut dihadiri oleh presiden Turki Recep Tayeb Erdogan dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas serta beberapa perwakilan negara negara arab dan negara negara Islam.

Pembangunan kembali masjid ini ditangani oleh arsitek Ilyas Tazhiyev, dan menghabiskan biaya sebesar $170 juta dolar Amerika. $100 juta dolar merupakan sumbangan dari pengusaha sekaligus senator Rusia, Suleyman Kerimov yang menyumbang pembangunan masjid ini untuk mengenang ayahnya, diantara para donator lainnya termasuk presiden Palestina Mahmoud Abbas yang menyumbang sebesar $26,000 sedangkan pemerintah Turki menyumbang mimbar serta mihrab untuk masjid ini.

Masjid Katedral Moskow dan sekitarnya

Arsitektur Masjid Catheral Moscow

Moscow Catherdral Mosque ini memiliki luas ruang 19.000 meter persegi terdiri dari enam lantai dan diperkirakan mampu menampung hingga 10.000 jemaah sekaligus. menjadikannya sebagai masjid terbesar di Russia dan Eropa. bandingkan dengan ukuran sebelumnya yang hanya mampu menampung 1500 jemaah saja.

Masjid ini dilengkapi dengan sebuah kubah besar berdiameter 27 meter setinggi 40 meter, dilengkapi dengan sepasang menara setinggi 75 meter (menara masjid lama hanya 20 meter). Kubah atap dan menaranya di lapisi dilapis emas begitupun dengan bagian interior masjid ini yang mengggunakan 12 kg emas sebagai dekorasi ditangani oleh para seniman ahli dari Turki yang mengangani semua ornament masjid ini yang memadukan seni Islami dan seni tradisional Russia.

Sebagai fasilitas tambahan di komplek masjid ini juga akan dilengkapi dengan hotel, gedung kantor Muftiyat, aula, gedung parkir, perkantoran perwakilan bagi berbagai komunitas muslim, Pusat Kebudayaan Islam dan pertokoan yang menyediaan beraneka buku buku Islam, perlengkapan sholat hingga makanan halal yang di olah sesuai dengan syariat.

Russia merupakan rumah bagi 23 juta muslim, dan Islam merupakan agama terbesar kedua di Russia setelah agama Kristen Ortodox. Angka tersebut setara dengan sekitar 17% dari keseluruhan penduduk Russia, sedangkan Kristen Ortodox sekitar 46.8 persen.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Saturday, October 7, 2017

Masjid Agung Manonjaya Tasikmalaya

Ba'da Sholat Jum'at di Masjid Manonjaya.

Masjid Agung Manonjaya dibangun pada tahun 1837 M, ada pula yang menyebutkan dibangun pada tahun 1832 M, menjadikan masjid ini sebagai masjid tertua di Tasikmalaya. Masjid kebanggaan warga Tasikmalaya, Jawa Barat, ini terletak di Dusun Kaum Tengah, Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya. Lokasi masjid ini berbatasan dengan jalan Tangsi disebelah utara, sebelah selatan berbatasan dengan jalan Kauman dan Markas Komando Militer 0612 Manonjaya, sebelah timur Sekolah Dasar Negeri 11 Manonjaya dan alun-alun.

Masjid Bersejarah

Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Masjid Manonjaya menjadi kawasan cagar budaya (purbakala) yang wajib dilindungi dan dilestarikan, berdasarkan UU Kepurbakalaan pada 1 September 1975 bersama sama dengan Masjid Agung Sumedang. Keputusan ini diperkuat lagi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 5 Tahun 1992 yang menyatakan bahwa Masjid Agung Manonjaya sebagai bangunan cagar budaya yang harus terus dilestarikan.

Masjid Agung Manonjaya
Jl. RTA Prawira Adiningrat, Manonjaya
Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat 46197



Arsitektur Yang Unik

Masjid Agung Manonjaya memiliki luas sekitar 1.250 meter persegi, berdiri di atas lahan seluas 6159 meter persegi dikelilingi oleh pagar tembok. Paras bangunan ditinggikan sekitar 1 meter diatas tanah, berpondasi massif dan berdenah bujursangkar. Struktur bangunannya ditopang oleh 60 tiang yang disebut dalem swindak. Diantara tiang tiang tersebut ada yang berdiameter 50-80 sentimeter yang terletak di beranda masjid.

Tepat di depan beranda itu juga bisa menikmati keindahan dan kekokohan dua buah menara yang pada masa lalu biasa digunakan muazin untuk mengumandangkan azan ke seluruh pelosok kota. Kedua menara itu persis mengapit pintu gerbang utama yang menghadap langsung ke alun-alun Manonjaya.

Arsitektur Masjid Agung Manonjaya ini memadukan desain Eropa dengan aristektur tradisional Sunda dan Jawa. Nuansa tradisional itu sangat terasa dengan bentuk dari elemen bangunan, seperti ruang shalat untuk wanita, serambi (pendopo) di sebelah timur, dan mustaka (memolo) dari tanah liat yang konon merupakan peninggalan dari Syekh Abdul Muhyi, ulama asal Pamijahan, Tasikmalaya Selatan.

Atap antik Masjid Agung Manonjaya

Beberapa unsur bangunan yang sangat khas dan melambangkan percampuran unsur tradisional dengan Eropa klasik itu adalah atap tumpang tiga, serambi (pendopo), dan struktur saka guru yang terdapat di tengah-tengah ruang shalat. Kekhasan lainnya dari masjid ini adalah keberadaan tiang saka guru yang berjumlah 10 buah.

Konstruksi tiang-tiang saka guru tampak berbeda dibandingkan konstruksi serupa yang lazim ada di bangunan masjid-masjid masa lalu dan masa kini. Bila Masjid Agung Demak menggunakan tiang saka guru yang terbuat dari kayu, sebaliknya tiang saka guru Masjid Manonjaya ini menggunakan material pasangan batu bata. Masing-masing tiang saka guru berbentuk persegi delapan dengan diameter 80 cm.

Seperti umumnya masjid-masjid yang dibangun di masa lalu, Masjid Agung Manonjaya ini juga menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari kayu jati, kapur, dan tanah liat. Ketiga material itu digunakan sebagai bahan struktur rangka dan campuran tembok masjid.

Masjid Agung Manonjaya di sekitar tahun 1890-1921

Kekhasan lainnya dari masjid ini adalah keberadaan mustaka (memolo) di atas atap tertinggi masjid. Keberadaan memolo ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh kebudayaan Jawa di tanah Sunda sekalipun. Konsep memolo itu merupakan adaptasi dari bangunan saktal yang ada di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada masa Hindu.

Dari total luas lahan sekira 6.159 m2, terbagi menjadi beberapa bagian yaitu bangunan utama masjid dengan luas sekitar 637,5 m2 dan bangunan tambahan 289,5 m2. Denah ruang utama persegi panjang berukuran 22,8 × 16,7 m dan dibatasi oleh dinding. bangunana utama dilengkapi dengan pintu di sisi timur, utara, dan selatan, masing-masing pintu terdiri atas dua daun pintu. Dinding timur terdapat pintu utama dan merupakan batas dengan serambi timur.

Sejarah Masjid Agung Manonjaya

Keberadaan masjid tersebut tidak lepas dari sejarah Tasikmalaya. Adanya Masjid Manonjaya ini, karena Manonjaya pernah menjadi ibu kota Tasikmalaya. Pembangunan Masjid Agung Manonjaya terkait erat dengan perpindahan Ibukota Kabupaten Tasikmalaya (saat itu masih bernama kabupaten Sukapura) dari Sukaraja (dahulu bernama pasir panjang) ke Manonjaya (saat itu masih bernama Harjawinangun) pada tahun 1832. Pada masa itu Sukpura dibawah pemerintahan Bupati Wiradana VIII selaku bupati Sukapura ke VIII. Perencana dan penata bangunan Masjid Agung Manonjaya adalah Patih Raten Tumenggung Danuningrat.

Masjid Agung Manonjaya dari arah jalan raya

Perubahan nama dari Harjawinangun menjadi Manonjaya ditetapkan dengan surat Keputusan Gubernur Jenderal Belanda (Besluit Gubernemen) Nomor 22 Tanggal 10 Januari 1839. Mulai saat itu, masyarakat Sukapura mulai membiasakan diri menyebut kawasan tersebut menjadi Manonjaya. Terdapat beberapa variasi angka tahun pembangunan masjid ini, kemungkinan besar karena tahun 1832 merupakan tahun perpindahan ibukota Kabupaten dan dimulainya pembangunan masjid dan tahun 1837 merupakan tahun selesainya pembangunan masjid Agung Manonjaya.

Hal tersebut sejalan dengan plakat pembangunan yang ada di masjid ini. Dari plakat yang dibuat oleh Depdikbud Kanwil Prop. Jabar disebutkan bahwa; pembangunan masjid Agung Manonjaya dilaksanakan pada tahun 1837 oleh RT. Danuningrat. Kemudian pada tahun 1889 didirikan bangunan tambahan oleh RTA Wiraadiningrat. Sedangkan perbaikan masjid pertama kali dilakukan tahun 1974 dengan dana swadaya masyarakat dan bantuan dari Bapak H. Amir Mavhmud. Perbaikan berikutnya dilakukan tahun 1977 dan tahun 1991 dengan dana swadaya masyarakat. Perbaikan dengan dana APBN dri depdikbud dilakukan tahun 1991-1992. Dan diresmikan tanggal 18 Februari 1992 oleh Kepala bidang Muskala Depdikbud Prop Jabar, Drs H. Arsim Nalan N.

Pembangunan yang dilakukan oleh RTA Wiraadiningrat tahun 1889 adalah menambahkan bangunan pendopo di depan bangunan utama, beranda dengan pilar pilar beton bergaya Eropa di sisi depan bangunan dan penambahan dua bangunan menara kembar disisi kiri dan kanannya. Pengaruh Eropa terlihat kental pada sisi beranda masjid ini.

Masjid Agung Manonjaya pada saat proses renovasi paska gempa

Renovasi Paska Gempa 2009

Gempa 7.3 skala richter yang terjadi Rabu, 2 September 2009 menghancurkan masjid Agung Manonjaya. 61 tiang penyangga masjid ini tak mampu menahan kuatnya gempa. Bagian depan masjid roboh seketika. Kayu-kayu penyangga atap masjid yang berserakan. Untungnya, saat kejadian tak ada orang di dalam masjid. Kerusakan akibat gempa tahun 2009 ini menimbulkan kerusakan parah pada bangunan masjid ini dan sama sekali tidak aman untuk digunakan bagi kegiatan peribadatan. Proses perbaikan berjalan lamban, Otoritas daerah tidak berani mengambil langkah perbaikan mengingat bahwa masjid tersebut berstatus sebagai bangunan cagar budaya milik negara dibawah tanggung jawab pemerintah pusat.

Setelah terbengkalai nyaris satu tahun lebih, tokoh masyarakat setempat berinisiatif melakukan renovasi terhadap bangunan tersebut dengan dana swadaya masyarakat, karena lambannya proses birokrasi terkait dana pembangunan kembali masjid tersebut. Pemprop Jabar dan Pemkab Tasikmaya pernah mengucurkan dana untuk pembangunannya namun karena lemahnya pengawasan mengakibatkan proses pembangunan jauh dari harapan sehingga bebeberapa bagian bangunan di bongkar dan dibangun ulang dengan dana swadaya. Hingga Bulan Romadhan tahun 2012, tiga tahun paska gempa proses renovasi masjid ini baru berjalan 60%, meski demikian warga disana sudah memanfaatkannya untuk aktivitas peribadatan.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi

jabarprov.go.id - Masjid Manonjaya
kemenag.go.id – Masjid Manonjaya

Baca Juga