Sabtu, 29 Maret 2025

Masjid Jami Indrapura Pertama dan Tertua di Kabupaten Batubara

Masjid Jami' Indrapura.
 
Masjid Jami’ Indrapura adalah masjid tua bersejarah di kabupaten Batubara provinsi Sumatera Utara. lokasinya berada di Dusun satu Desa Tanah Merah kecamatan Air Putih kabupaten Batubara provinsi Sumatera Utara.
 
Masjid ini disebut sebut sebagai masjid tertua di kabupaten Batubara dibangun pada masa kesultanan Indrapura dan kini berstatus sebagai benda cagar budaya. Di komplek masjid ini terdapat komplek pemakaman raja Indrapura diantaranya Makam Datuk Abdul Wahab dan pemakaman umum, selain itu juga terdapat Kantor Kedatukan Tanah Datar.
 
Masjid Jami Indrapura
Desa Tanah Merah, Kecamatan Air Putih
Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara 21256


Sejarah Pembangunan
 
Situs bapedabatubara menyebutkan Masjid Indrapura dibangun dimasa penjajahan Belanda sekitar tahun 1920 sedangkan situs Simas Kemenag menyebutkan masjid ini dibangun tahun 1935, sedangkan sumber dari pengurus masjid menyebutkan dibangun tahun 1936 oleh Raja Kerajaan Tanjung.
 
Masih menurut pengurus masjid, status kepemilikan tanah tapak masjid ini masih merupakan milik dari keluarga Tanjung. Di pekarangan masjid ini terdapat makam para keluarga raja dan ada juga seorang pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, Syarifuddin yang setiap tanggal 17 Agustus diadakan acara ziarah ke makam pahlawan tersebut.
 
Masjid Jami' Indrapura.

Namun demikian, Jurnal Ilmiah Teknik Unida Vol. 5 No. 2 Des 2024 menyebutkan bahwa Masjid Jami’ Indrapura didirikan pada tahun 1937 Masehi (1355 Hijriah) dan
merupakan masjid pertama sekaligus tertua di Kabupaten Batu Bara.
 
Masjid ini adalah peninggalan Kesultanan Indrapura pada masa pemerintahan Panglima Besar Tengku Busu Said Ahmad, yang merupakan putra kedua dari Said Osman Syahabuddin, seorang bangsawan Arab, dan Tengku Embung Badariah, putri Kesultanan Siak Sri Indrapura keempat.
 
Masjid Jami' Indrapura.

Arsitektur Masjid Jami’ Indrapura
 
Bangunan masjid ini memiliki luas 27x16 meter persegi, sedangkan luas lahannya mencapai 42x40 meter persegi. Terdiri dari bangunan utama masjid dan satu bangunan menara. Bangunan utama masjid dibangun dengan struktur dan berdinding kayu beratap seng. Atap tunggalnya dilengkapi dengan sebuah kubah bawang berbahan alumunium bediri diatas penopang berdenah sedi delapan.
 
Bangunan menaranya dibangun dari beton berdenah segi delapan dengan landasan berdenah segi empat, puncak menara dilengkapi dengan kubah bewarna hijau tanpa balkon namun ada celah untuk menempatkan pengeras suara.
 
Interior Masjid Jami' Indrapura.

Aktivitas Masjid
 
Kegiatan rutin masjid meliputi Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, penyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu
 
Badan Kemakmuran Masjid Jami Indrapura juga mengelola Raudhatul athfal (RA) Al-Kautsar, Akreditasi C dan Madrasah Diniyah Takmiliyah awaliiyah Al-kautsar.
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
 
Rujukan
 
Jurnal Ilmiah Teknik Unida Vol. 5 No. 2 Des 2024


Sabtu, 22 Maret 2025

Masjid Jami’ Ambon

Masjid Jami' Ambon.

Masjid Jami' Ambon merupakan salah satu masjid tertua di kota Ambon sekaligus menjadi bangunan ikonik sejarah Islam dan sejarah kota Ambon yang tetap dipertahankan bentuk aslinya sejak dibangun hingga saat ini. Faktor sejarah pula yang menjadi salah satu alasan mengapa masjid ini tetap dipertahankan meskipun disebelahnya telah dibangun masjid yang lebih besar yakni Masjid Raya Al Fatah.
 
Masjid Jami Ambon tetap digunakan untuk sholat berjama’ah sehari hari meskipun setelah pendirian Masjid Al-Falah. Namun karena lokasinya yang bersebelahan maka untuk sholat Jum’at dipusatkan di Masjid Raya Al-Fatah.
 
Masjid Jami’ Ambon
Jl. Sultan Babullah Kel Honipopu, Sirimau, Kota Ambon, Maluku
 

Bangunan masjid Jami Ambon yang kini berdiri merupakan bangunan yan g dibangun sejak tahun 1936 hingga 1940 dan sudah di renovasi 2 kali, namun bentuk asli dari masjid yang dibangun pertama kali tetap terjaga.
 
Sejarah Masjid Jami Ambon
 
Masjid Jami Ambon pertama kali didirikan pada tahun 1860 M di atas tanah wakaf yang diberikan oleh seorang janda bernama Kharie. Pembangunannya dipimpin oleh H. Abdul Kadir Hatala. Saat itu masjid ini berupa bangunan semi permanen beratap rumbia dengan tiang dan dinding kayu.
 
H. Abdul Kadir Hatala kemudian menjadi imam pertama masjid ini, Setelah wafat, beliau digantikan oleh H Ahmad Hatala, yang merupakan adiknya. Dan kemudian setelah Ahmad Hatala juga meninggal, jabatan imam diganti dengan Haji Ahmad Oei.
 
Masjid Jami' Ambon (kiri) dan Masjid Raya Al-Fatah (kanan) yang dibangun kemudian. Kedua masjid ini masih difungsikan sebagaimana biasa kecuali untuk sholat Jum'at dan sholat dua hari raya dipusatkan di Masjid Raya Al-Fatah.

Pada tahun 1898 atau 36 tahun setelah dibangun, bangunan masjid awal tersebut tidak lagi mampu menampung jemaah yang terus bertambah, maka dibangun lah bangunan masjid baru yang lebih besar dengan atap seng.
 
Pada tahun 1933, kota Ambon dilanda banjir akibat meluapnya Sungai Wai Batu Gajah. Sedemikian dahsyatnya banjir tersebut sehingga menghanyutkan rumah-rumah penduduk di kiri dan kanan sungai tersebut. Termasuk masjid yang berbentuk semi permanen ini, ikut hancur pula diterjang banjir bandang.
 
Bangunan Masjid Modern dibangun
 
Pembangunan kembali masjid baru yang bangunannya lebih permanen, dilaksanakan pada tahun 1936 dengan dana yang bersumber dari swadaya murni masyarakat muslim Pulau Ambon. Pembangunannya melibatkan tukang asal Padang bernama Zainudin Wiwih. Pembangunan masjid baru tersebut dirampungkan pada tahun 1940, menjelang masuknya tentara Jepang ke Indonesia.
 
Pada masa itu, masjid Jami berada diatas sebidang tanah curam. Jembatan dan jalan yang ada saat ini berada dibawahnya. Setelah ditimbun barulah seperti saat ini. Masjid Jami adalah yang kedua di Kota Ambon, setelah masjid Hatukau di Batu Merah, yang saat ini bernama masjid An-Nur. Lokasi sekitar Masjid Jami dulunya ditumbuhi pepohonan dan bambu.

Masjid Jami' Ambon sekitat tahun 1970-an.
 
Zainudin membangun Masjid Jami Ambon, setelah berhasil menyelesaikan masjid Kailolo di Maluku Tengah. Zainudin merupakan orang yang sangat berjasa dalam proses pembangunan Masjid Jami. Dibantu masyarakat, Masjid Jami kembali diisi oleh warga untuk melaksanakan sholat berjamah. Karena pada saat itu, hanya Masjid  Agung An'Nur Negeri Hatukau (Batumerah) dan Masjid Jami yang mempunyai kapasitas daya tampung untuk sholat berjamaah.
 
Menjelang berakhirnya Pemerintahan Kolonial Belanda di Maluku, tentara Belanda yang bersiap menghadapi kedatangan balatentara Jepang dengan cara membuka keran minyak yang berada di sebelah hulu Sungai Wai Batu Gajah sehingga permukaan sungai digenangi oleh minyak yang terbakar. Akibatnya, masjid itu pun turut terbakar. Namun, umat Islam di Ambon segera membangun kembali masjid yang terbakar itu,
 
Masjid Jami’ Ambon selamat dari bom sekutu dimasa perang dunia kedua, manakala pasukan sekutu membombardir kota Ambon, meskipun bangunan disekitar masjid ini porak poranda dihantam bom masjid ini tetap utuh.
 
Begitu pula ketika pecah pemberontakan kaum separatis RMS (Republik Maluku Selatan), mereka pernah pula seenaknya memasuki bangunan suci umat Islam itu dan menangkap empat orang yang berada di dalamnya, termasuk seorang khatib masjid.

Masjid Jami Ambon dipotret sekitar tahun 1970-an (Forman, Harrison). Suasana kota yang belum seramai saat ini, Jalan Sultan Babullah didepan masjid masih berupa jalan tanah dan tanah kosong disamping masjid kini berdiri Masjid Raya Al-Fatah.
 
Masjid yang terletak di dekat sungai dan menghadap ke tepi laut, pernah mengalami kerusakan akibat diterjang ombak danbadai. Sampai kini, Masjid Jami Ambon menjadi salah satu tempat berkunjung wisatawan karena perannya yang bersejarah itu, terutama kaum muslimin yang berkunjung ke kota Ambon, pasti menyempatkan shalat di masjid ini.
 
Tahun 2004 masjid ini direnovasi dengan melakukan penggantian lantai masjid, atap, menara, dan juga kubah masjid, tanpa merubah bentuk aslinya.
 
Pengelolaan Masjid
 
Sejak tahun 1940, Masjid Jami Ambon dikelola oleh sebuah yayasan yang baru dibentuk pada tahun itu juga. Di samping untuk shalat Jumat, shiolat dua hari raya, dan shalat lima waktu, Masjid Jami Ambon ini juga dimakmurkan dengan berbagai kegiatan keagamaan
 
Karena daya tampung masjid belum memadai, sementara jumlah jamaah semakin membludak maka pengurus masjid mengusahakan untuk memperluas bangunan masjid, pada tahun 1960 Penguasa Perang Daerah Maluku menghibahkan lahan tanah yang letaknya berdekatan dengan masjid.

Masih asli. Dapat langsung dibandingkan foto masjid ini dimasa kini dengan foto sebelumnya, tidak ada perubahan berarti pada bangunan masjid ini.

Namun, kerena masjid ini memiliki sejarah khusus kemudian diputuskan untuk membangun masjid baru (yang kini dikenal sebagai Masjid Raya Al-Falah)  dengan ukuran lebih besar dilahan hibah tersebut tanpa mengusik bangunan asli Masjid Jami’ Ambon
 
Arsitektur Masjid Jami Ambon
 
Masjid yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Masjid Raya Alfatah, terdiri dari 9 pintu utama berukuran panjang 3 meter dengan lebar skeitar 2 meter. Enam pintu utama berjejar dari samping kiri dan kanan bangunan masjid. Sementara tiga lainya menghadap depan.
 
Ada 36 jendela kecil berbentuk kerucut (kubah) dipasang mengelilingi badan masjid. Bahan pintu maupun jendela dari kayu linggua dan kayu kani. Kedua jenis kayu diyakini tahan lama diantara jenis lainya. Juga terdapat dua kubah didepan pintu masuk, dengan tinggi sekitar 7-8 meter.
 
Mimbar Pemberian Bung Hatta
 
Mimbar asli Masjid Jami’ Ambon merupakan pemberian dari wakil Presiden Muhammad Hatta saat melakukan kunjungan pertama ke Ambon, tahun 1953. Namun setelah itu, mimbar tersebut diberikan ke Masjid Jami Tulehu.
 

Masjid Jami Ambon ditahun 1981

Gotong Royong Masyarakat Muslim dan Kristen
 
Dalam proses berdirinya, Umat Muslim dan Kristen secara bergotong royong menyelesaikanya. Tahun 1933 masyarakat Muslim dan Kristen tinggal dan berbaur, terutama disekitaran Silale. Masyarakat Kristen yang lebih banyak membantu pada saat itu berasal Negri Latuhalat dan Amahusu. Selain yang sudah menetap di Silale. Masyarakat Kristen membantu, baik dengan tenaga maupun bantuan makan dan minuman.
 
“Dulu di daerah Silale itu dihuni oleh orang Kristen seluruhnya. Jadi orang angkat pasir dari pantai ke lokasi pembangunan masjid, itu orang Kristen memberikan minuman-minuman (air) dan sebagainya. Ada yang datang dari Latuhalat, terutama Amahusu dan Benteng.
 
Tegel Lantai dari Italia
 
Sempat terjadi gejolak soal perbaikan lantai Masjid Jami yang dinilai sudah tidak layak lagi digunakan sebagai tempat sujud, belum lama ini. Banyak batangan tehel berukuran 20 x 40 cm yang telah rusak. Olehnya itu perlu diganti dengan tehel yang baru. Namun sebagian pengurus Masjid Jami menolak untuk dilakukan perbaikan. Mereka kuathir keaslian lantai akan pudar, jika tehel yang berasal dari Italia tahun 1933 itu diganti.

Masjid Jami' Ambon.

Tehel dari Italia itu merupakan usaha sendiri dari sang Tukang Zainudin. Namun atas berbagai pertimbangan, akhirnya tehel yang berwarna kuning kecoklatan ini dibongkar dan digantikan dengan tehel berukuran sedikit besar yang merupakan sumbangan dari seorang dermawan.  Beruntung tehel yang terpasang di 4 Tiang utama yang juga berasal dati negri Pizza ini masih tetap dipertahankan. Tehel untuk tiang ini, bercorak putih kebiruan.
 
Tehel Italia yang dulunya menutupi seluruh lantai masjid Jami itu, kini masih tersisa sekitar 5 meter, yang berada ditengah-tengah luas areal dalam lantai Masjid. Sebagian bahan luar negri yang masih ada, itu tetap akan dijaga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah berdirinya Masjid Jami.
 
Disinggahi Buya Hamka
 
Masjid Jami memiliki banyak sejarah. Selain arsitektur bangunan yang masih tetap dipertahankan, Masjid ini juga pernah menjadi tempat persinggahan Ulama terkemuka, Buya Hamkah dalam perjalanan Dakwahnya. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama ini datang ke Kota Ambon sebelum didirikanya masjid raya Alfatah.
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
 
Rujukan
 
 

Selasa, 27 Agustus 2024

Masjid Muhammadan Warisan Muslim India di Kota Padang

Masjid Muhammadan Kota Padang (foto dari akun google huda putra)

Masjid Muhammadan merupakan salah satu masjid tertua di kota Padang setelah Masjid Raya Ganting (Gantiang). Lokasinya berada dikawasan yang oleh masyarakat Minangkabau dijuluki sebagai Kampung Keling di kawasan sehiliran Batang Arau di sekitar pelabuhan Muara tepatnya di Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, yang merupakan kawasan kota tua Kota Padang.
 
Masjid Muhammadan
Jl. Pasar Batipuh, Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat 25134
 
 
  
 
Julukan Kampung Keling terhadap kawasan tersebut karena dimasa lalu kawasan ini memang merupakan tempat bermukimnya komunitas muslim yang berasal dari wilayah Keling (Kalingga / Dravida / Tamil) di India Selatan. Bangunan masjid Muhammadan berdiri megah diantara jejeran bangunan pertokoan sekaligus tempat tinggal.
 
Posisi masjid tersebut tidak terlalu jauh dari Kelenteng See Hien Kiong yang juga merupakan salah satu bangunan bersejarah di kota Padang. Saat ini, selain digunakan untuk aktivitas ibadah umat Islam, masjid berlantai tiga ini menjadi salah satu daya tarik wisata terkenal di kawasan Kota Tua Padang dengan banyak bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda berdiri di sekitar masjid tersebut.
 
Masjid Muhammadan kota Padang, warisan masa lalu yang masih terjaga keaslian bangunan-nya hingga kini.

Sejarah Masjid Muhammadan
 
Masjid Muhammadan tercatat sebagai salah satu masjid tertua di Kota Padang selain Masjid Raya Ganting yang merupakan masjid tertua di kota itu. Masjid ini dibangun pada tahun 1843 oleh komunitas Muslim asal India.
 
Mereka kemungkinan datang bersama tentara Inggris dan membentuk pemumikan di dekat pelabuhan Muara yang saat itu menjadi pusat perniagaan.Tempat masjid ini berdiri oleh masyarakat Minangkabau dijuluki sebagai Kampung Keling.
 
Mihrab dan mimbar Masjid Muhammadan kota Padang (foto dari akun google @Ardi_ FQ)

Masjid ini pada awalnya terbuat dari kapur, pasir, dan gula. Pada awal abad ke-20, konstruksinya ditingkatkan menggunakan semen tanpa mengubah bentuk aslinya dan masih dipertahankan sesuai bentuk tersebut hingga saat ini.
 
Menurut dokumentasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPSB) setempat, terdapat inkripsi beraksara Jawi dalam bidang segi empat terbuat dari marmer bertuliskan angka "9-12-1343 H" (sekitar tahun 1924). Inkripsi ini diduga merupakan tanggal renovasi masjid dari bahan kayu menjadi tembok.
 
 
Hal tersebut sejalan dengan foto dokementasi foto tahun 1920-an koleksirijksmuseum Belanda yang menunjukkan bentuk masjid ini serupa dengan bentuknya saat ini, meskipun bangunan disekitarnya sudah mengalami perubahan.
 
Aktivitas Masjid Muhammadan kota Padang
 
Keberadaan masjid ini turut berperan dalam penyebaran agama Islam dan perjalanan sejarah Kota Padang. Pada 1964, masjid ini mulai menyelenggarakan kegiatan didikan subuh bagi anak-anak yang kelak bergulir menjadi program rutin tiap pekan di masjid-masjid Kota Padang. Jamaah Tabligh Sumatera Barat pertama kali bermarkas di masjid ini.
 
Arsitektur
 
Gaya masjid masjid India selatan terlihat sangat kental di Masjid Muhammadan kota Padang ini dengan ciri khas utamanya adalah menara dengan ukuran yang tidak terlalu besar dilengkapi dengan kubah bawang. Warna hijau dan putih mendominasi bagian serambi.
 
Tampak depan Masjid Muhammadan kota Padang (foto dari akun google @Rahmat Irfan Denas)

Fasad tersebut disangga oleh tujuh tiang, termasuk tiang ujung kiri dan kanan yang menyatu dengan sebuah bangunan berbentuk menara. Bagian atas salah satu menara sempat runtuh sepanjang satu meter akibat gempa bumi pada 2009, yang tak lama kemudian diperbaiki dengan bantuan dari Yayasan Satu Untuk Negeri tvOne.
 
Masjid ini memiliki denah berukuran lebar 15 meter dan panjang 25 meter. Bangunannya terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar merupakan tempat sholat, sementara lantai dua dan tiga merupakan tempat istirahat yang juga digunakan untuk beberapa keperluan lain seperti memasak.
 
Di tempat sholat, tidak terlihat mimbar seperti umumnya masjid-masjid yang ada di Padang, melainkan hanya jendela berbentuk seperti mimbar dan ditutupi kain hijau berlambang bulan dan bintang.
 
Tradisi Serak Gulo
 
Tradisi Serak Gulo (Tebar Gula) adalah sebuah tradisi menebarkan gula yang dibungkus dengan kain warna warni dari atap masjid Muhammadan kepada masyarakat yang berkumpul di halaman masjid.
 
Tradisi Serak Gulo di Masjid Muhammadan Kota Padang tahun 2022 (foto dari akun google @ M.Hafiz Halim)

Tradisi ini diselenggarakan oleh warga muslim keturunan India di kota Padang sebagai bentuk penghormatan kepada Sahud Hamid yang dikenal sebagai tokoh penyebar Islam di India. Tradisi Serak Gulo merupakan pembuka Maulid Sahul Hamid yang diselenggarakan setiap 1 Jumadil Akhir, selama 10 hari.
 
Ritual ini dimulai dengan berdoa bersama. Sebelum ditebarkan, gula yang dibungkus kecil dengan kain berwarna-warni dimasukan ke dalam karung dan dibawa ke atas atap Masjid Muhamadan. Pada penyelenggaraan Serak Gulo hari Sabtu 21 Maret 2015, panitia menyiapkan sekitar 3 ton gula.  
 
Menurut panitia penyelenggara, tradisi ini berasal dari daerah Nagor India, dengan makna filosofis dari tradisi ini adalah memberikan ilmu dan kebaikan dengan simbol gula yang melambangkan betapa manisnya ilmu yang dibawa Sahud Hamid. 
 
Tradisi Serak Gulo di Masjid Muhammadan Kota Padang.

Tradisi ini hanya ada di tiga negara yakni di India, Singapura dan Indonesia. khusus di Indonesia tradisi ini hanya ada di Kota Padang dan kini sudah masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Tradisi ini juga telah menjadi kalender event Pariwisata Kota Padang.
 
Tradisi Ramadhan
 
Saat Ramadhan, Masjid Muhammadan menjalankan tradisi yang telah dilakukan turun temurun. Pengurus mendatangkan seorang hafiz (orang yang hafal Al Quran) untuk menjadi imam sholat tarawih setiap malamnya.
 
Sholat tarawih di masjid ini dilakukan sebanyak 20 rakaat dan tiga rakaat untuk slalat witir. Setiap malamnya, sang imam akan membaca satu jus ayat Al Quran saat shalat tarawih dan witir. Bacaan Imam bisa lebih dari satu juz bilamana hitungan hari Ramadhan kurang dari 30 hari.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
Surau Lubuk Bauk Tanah Datar
Masjid Raya Bayur, Kabupaten Agam
Mesjid Nurul Iman kota Padang
Masjid Ganting - Padang
 
Referensi
 
https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Muhammadan
https://pemilu.tempo.co/read/news/2015/03/21/242651816/Warga-Keturunan-India-Rayakan-Ritual-Serak-Gulo
https://pemilu.tempo.co/read/news/2015/03/21/242651816/Warga-Keturunan-India-Rayakan-Ritual-Serak-Gulo
https://travel.tempo.co/read/1849872/mengenal-kampung-keling-di-sumatera-barat-dan-masjid-muhammadan
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/238420-muhammadan--masjid-india-di-kampung-china

Minggu, 07 April 2024

Masjid Agung Tirana, Masjid Terbesar di Balkan

Masjid Agung Tirana, belum sepenuhnya selesai tapi keindahannya sudah terlihat.
 
Masjid Agung Tirana atau lebih dikenal sebagai Masjid Namazgâh (Xhamia e Namazgjasë) karena lokasinya yang berada di alun-alun Namazgâh . Dikenal juga dengan nama Xhamia e Madhe e Tiranës , adalah masjid agung di kota Tirana, ibukota Albania sekaligus juga merupakan masjid terbesar di negara tersebut dan terbesar di kawasan semananjung Balkan.
 
Meski sudah tampak begitu megah, namun masjid ini secara resmi belum menyelesaikan seluruh proses pembangunannya dan belum dibuka baik untuk peribadatan maupun untuk kunjungan umum.
 
Masjid Agung Baru Tirana
Distrik Tiranë, Albania
41.325620, 19.821153
 
 
Sejarah
 
Setelah jatuhnya komunisme di Albania, pada tahun 1991, Muslim Albania sering mengeluh karena didiskriminasi . Meskipun dua katedral untuk umat Katolik dan Ortodoks Timur dibangun, pada tahun 2016 umat Muslim Albania masih belum memiliki masjid pusat dan harus salat di jalanan. Saat hari raya Islam, Skanderbeg Square dipenuhi jamaah Islam, karena masjid Ethem Bey hanya berkapasitas 60 orang. Hujan membuat khutbah Jumat tidak bisa dilaksanakan.
 
Pada tahun 1992, presiden saat itu, Sali Berisha, meletakkan batu pertama sebuah masjid yang akan dibangun di dekat alun-alun Namazgja, dekat dengan parlemen, namun pembangunan tersebut tidak pernah selesai setelah ketua parlemen, Pjetër Arbnori, seorang Katolik, menentang rencana tersebut.
 
Presiden Erdogan saat meresmikan pembangunan masjid Agung Tirana.

Alasan penolakannya karena lokasi pembangunan masjid tersebut berdekatan dengan gedung parlemen sehingga mengesankan bahwa Albania adalah sebuah Republik Islam.
 
Keputusan pembangunan masjid diambil pada tahun 2010, oleh Walikota Tirana saat itu, Edi Rama yang mengumumkan pembangunan masjid tersebut secara mendadak. Dia menilai bahwa pembangunan masjid dinilai perlu karena sudah terdapat 114 gereja namun hanya 8 masjid (dari 28 pada tahun 1967).
 
Keputusan walikota tersebut mengundang komentar negatif dari Menteri Perhubungan, Sokol Olldashi, berpendapat bahwa pengumuman Rama adalah kampanye politik, terkait dengan pemilu lokal yang diselenggarakan pada Mei 2011.
 
Masjid Agung Tirana saat pembangunan.

Olldashi menuduh wali kota, yang juga pemimpin oposisi Sosialis, menipu masyarakat. Denah pusat kota yang dirancang oleh Studio Arsitektur Perancis, yang telah disetujui oleh pemerintah kota, tidak termasuk masjid.
Dewan kota membalas dengan mengatakan bahwa menteri "hanya melemparkan lumpur ke arah walikota."

Danaan untuk pembangunan masjid berasal dari organisasi Muslim Turki utama yang dikelola negara, Diyanet. Pada tahun 2015, presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan mengunjungi Albania untuk upacara pe
resmian proyek pembangunan masjid tersebut .
 
Masjid Agung Tirana

Arsitektur
 
Masjid ini memiliki empat menara setinggi 50 m, sedangkan kubah tengahnya setinggi 30 meter. Lantai pertama masjid akan mencakup pusat kebudayaan dan fasilitas lainnya, termasuk perpustakaan   dan ruang konsfrensi .
 
Masjid ini dibangun di atas lahan seluas 10.000 meter persegi dekat gedung parlemen Albania dan akan memiliki kapasitas hingga 5000 orang untuk salat sekaligus di dalam masjid.
 
Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menyebut pembangunan masjid ini oleh pemerintah Turki sebagai “simbol unik persaudaraan antar bangsa” pada upacara peletakan batu pertama pada tahun 2015. ***
 
Follow & Like akun Instagram kami di  @masjidinfo  dan  @masjidinfo.id
🌎  informasi gudang masjid di nusantara dan mancanegara.
--------------------------------------------------- - ----------------
 
Baca Juga

Sabtu, 06 April 2024

Masjid Bayrampasa Isa Bey Mitrovica, Masjid Terbesar di Kosovo

Masjid Bayrampasa Isa Bey Mitrovica.

Mitrovica,
adalah salah satu kota terindah di Balkan, adalah contoh langka dari hidup berdampingan. Kota ini menampung warga Albania dan Serbia di bagian selatan dan utara. Selain itu, tempat ibadah terbesar di Kosovo berada di Mitrovica, faktor lain yang menjadikan kota ini istimewa.
 
Mitrovica terpecah menjadi dua selama perang Kosovo pada tahun 1999. Sejak itu, umat Islam termasuk Bosnia, Turki dan Albania tinggal di bagian utara sedangkan Serbia mayoritas berpenduduk di selatan. Divisi ini tetap utuh meski 15 tahun setelah perang.
 
Menyerupai Berlin sebelum tahun 1990, kota ini dipisahkan oleh sungai Ibre di mana barikade batu dibangun. Barikade kini telah disingkirkan. Namun, orang-orang Serbia di utara menolak pemindahan tersebut, sehingga mereka mengganti barikade batu dengan menanam pohon pinus.
 
Masjid Bayrampasa Isa Bey Mitrovica.

Nama kota ini pada abad pertengahan adalah Demetrius. Setelah penaklukan oleh dinasti Usmaniyah, kota ini diubah menjadi Mitrovica. Alun-alun Mitrovica di selatan menjadi pusat kehidupan selama musim panas.
 
Mitrovica dihiasi dengan banyak karya seni arsitektur. Salah satunya adalah Masjid Motrovica yang berdiri di samping jembatan Ibre. Bangunan tua lainnya yang lagi ada di Mitrovica adalah perpustakaan yang dibangun pada tahun 1928. Lantai dasar diubah menjadi pusat perbelanjaan.
 
Dihiasi dengan berbagai landmark peninggalan Usmaniyah, Mitrovica menikmati kemajuan ekonomi pada abad ke-19. Dikenal dengan tambangnya yang kaya, saat ini wilayah ini merupakan salah satu wilayah industri paling maju di negara ini.
 
Masjid Bayrampasa Isa Bey Mitrovica.

Masjid Bayrampasa
 
Masjid Bayrampasa atau Masjid Isa Bey atau lengkapnya disebut Masjid Bayrampasa Isa Bey Merkez Camii atau Xhamia Bajrampasha atau Bayram-Pašina džamija, adalah masjid di pusat kota Mitrovica merupakan masjid terbesar dalam ukuran dan paling modern di Republik Kosovo. Masjid bergaya Turki Usmaniyah ini dibangun persis dilokasi masjid sebelumnya yang kondisinya sudah sangat menghawatirkan paska perang Kosovo.
 
Pembangunan ulang masjid ini didanai oleh pemerintah kotapraja Bayram Paşha di Istanbul dan dibangun oleh satu konsorsium Turki (Turkish Economic and cultural agency). Bangunan masjidnya berukuran 2500 meter persegi termasuk ruang sholat dan area lainnya. Dan kini menjadi Landmark kota Metrovica.
 
Xhamia e Zallit  
Bayrampasa Isa Bey Merkez Camii
Masjid di Mitrovica
Alamat: Luan Haredinaj, Mitrovicë
 
 
Wacana pembangunan masjid ini telah dimulai tahun 2011 ketika mufti dari Bayrampasa Izet Sener dan rekan-rekannya berkunjung ke Mitrovica dan bertemu dengan Walikota Mitrovica Avni Kastrati. Mufti Bayrampasa menyatakan kesiapan untuk membangun ulang masjid Isa Bey peninggalan sejarah dinasti Usmani yang terletak di alun alun Mitrovica dan kondisinya rusak parah akibat perang.
 
Dibangun pada tahun 2014, diatapi oleh kubah besar dan dibingkai oleh dua menara setinggi 48m, mencakup 2.500m2 dan dapat menampung 4.200 jamaah. Bergaya neo-Ottoman klasik dan didekorasi dengan mewah, dinamai menurut kota Turki Bayrampaşa (di pinggiran Eropa Istanbul), yang namanya sendiri berasal dari perwira militer Turki Bayram Pasha yang merupakan Wazir Agung Kekaisaran Ottoman pada tahun 1637 -1638.
 
Masjid Bayrampasa Isa Bey Mitrovica.

Dana pembangunan masjid ini merupakan sumbangan dari mufti Bayrampaşa sebesar 2 juta euro, semua bahan diimpor dari Turki, termasuk pasirnya. Ini membuat bangunan itu mendapat julukan "Masjid Pasir" (xhamia e Zallit) oleh banyak penduduk Albania di Mitrovica.
 
Ini sebenarnya mencemooh karena ini adalah salah satu simbol kebijakan hegemonik Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan di Kosovo. Bangunan ini juga disebut Masjid Isa-Bey (Xhamia Isa Beg, Isa-begova džamija) untuk mengenang masjid kecil Utsmaniyah yang dibangun di lokasi ini pada tahun 1530. Rusak parah selama perang Kosovo, yang terakhir diratakan dengan tanah untuk dibangun masjid yang kini berdiri.
 
Di belakangnya masih ada beberapa rumah berukir dari akhir periode Usmaniyah yang merupakan bagian dari syariah (distrik keagamaan dan komersial) dengan beberapa toko perhiasan dan patung Safet Boletini (1974-1999) yang diresmikan pada tahun 2015.
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga