Minggu, 30 Juni 2019

Apakah Ada Masjid di Bhutan? (Bagian 2)

Meskipun google map mengkatagorikan masjid Jharna Jamma masjid ini sebagai masjid Bhutan, namun bila diperiksa secara seksama, lokasi masjid ini justru berada di sisi jalan yang masuk wilayah kota Jaigaon, India bukan di sisi jalan yang berada di wilayah kota Phuensholing yang merupakan wilayah Bhutan. Batas antara kedua negara ini berupa ruas jalan yang disebut boarder road.

Bila memasukkan kata kunci “Masjid di Bhutan” ke kolom pencarian google akan muncul tiga nama masjid yang langsung ditampilkan di google-map. Masjid ke-dua dari tiga masjid tersebut adalah masjid Jharna Jamma Masjid, menyusul dibawahnya ada Guabari Puran Mashjid. Kedua masjid tersebut akan kita ulas berikut ini.

JHARNA JAMMA MASJID 

Sama seperti Dantak Mosque yang dibahas pada postingan sebelumnya, kami juga nyaris tak menemukan hasil apapun terkait dengan Jharna Jamma Masjid ini. Bilae merujuk kepada data di google maps masjid ini berada di kota Jaigaon, provinsi Bengala Barat, India. Bukan berdiri di wilayah Bhutan. Akan tetapi mengapa pencarian google justru mengkatagorikan masjid ini sebagai masjidnya muslim Bhutan?.

Republika memberikan sedikit informasi tentang masjid ini. Dalam salah satu artikelnya, republika menyebutkan tentang Masjid Jaigaon yang menjadi tempat ibadah bagi muslim Bhutan. Meski Republika tidak merinci dengan tepat lokasi masjid ini dan menyebutnya berada di wilayah Bhutan meski menyandang nama Masjid Jaigaon, google map menunjukkan bahwa masjid ini berada di wilayah kota Jaigaon, India, bukan di wilayah kota Phuentsholing, Bhutan.


Sedikit informasi tambahan tentang masjid ini muncul di Youtube yang menampilkan suasana sholat Idul Fitri 1440H/2019 yang baru lalu. Ruangan masjid ini tampak cukup luas meski sangat sederhana. Ruang mihrabnya ditandai dengan tirai kain, sedangkan mimbarnya hanya berupa undakan kecil untuk membuat khatibnya berada di posisi lebih tinggi. Khutbahnya disampaikan dalam bahasa arab. setelah sholat Idul Fitri dilanjutkan dengan semacam ceramah dalam bahasa setempat, pengumpulan infak sodaqoh dan Sholawatan.

Apakah Jharna Jamma Masjid ada di Bhutan

Kota Jaigaon di provinsi West Bengal (Benggala Barat), India, memang berbatasan langsung dengan kota Phuentsholing di wilayah Bhutan. Kedua kota ini merupakan kota perbatasan antara kedua Negara, diantara keduanya terdapat satu ruas jalan yang disebut Indo-Bhutan Road. Di sisi timur ruas jalan ini merupakan wilayah kerajaan Bhutan sedangkan di sisi barat ruas jalan merupakan wilayah Repuplik India. Dan masjid Jharna Jamma Masjid ini berada di sisi barat ruas jalan tersebut dan tentunya masuk ke dalam wilayah Republik India.

Hanya saja memang, untuk menuju ke masjid Jharna Jamma Masjid ini dari wilayah Bhutan sudah berbelok ke selatan sebelum tiba di gerbang perbatasan antara kedua Negara. Lokasi masjid ini berada sekitar 850 meter di sebelah selatan gerbang perbatasan antara Bhutan dan India.

Jharna Jamma Masjid
Jaigaon, Bengala Bar. 736182, India


Satu satunya informasi tentang bentuk masjid ini di dapat dari unggahan Rezak Ali google map pada bulan Oktober 2014. Menunjukkan bangunan masjid sederhana namun permanen, dua lantai lengkap dengan dua menara ramping di atap masjid. Tampak dalam foto tersebut sepertinya suasana sholat hari raya. Ada tulisan Eid Mubarak di atas pintu masjid dan hiasan bendera bendera kecil yang dipasang di untaian tali sepanjang jalan dan ke bangunan masjid. Belum ada informasi sama sekali terkait tentang berapa Jemaah masjid ini, kapang dibangunnya dan bagaimana pengelolaannya.

GUABARI PURAN MASJHJID 

Masjid berikutnya atau yang ketiga yang dikatagorikan google sebagai masjid Bhutan adalah Masjid Guabari Puran Mashjid. Lokasi masjid Guabari Puran masdjid ini benar benar berada di dalam wilayah kota Jaigoan, terpuat sekitar 1,8 km sebelah barat dari gerbang perbatasan antara India dan Bhutan. Meskipun demikian, gerbang perbatasan antara India dan Bhutan ini dijaga oleh masing masing petugas ke dua Negara dan memberikan kemudahan bagi warga kedua Negara untuk melintas perbatasan.

Guabari Puran Mashjid
Guabari Main Road ,Jaigaon G.P II Jaigaon, Alipurduar Pin-736182 W.B,
Jaigaon, West Bengal 736182, India


Tidak ada foto tentang masjid ini baik di google map maupun sumber lainnya. Street view pun belum tersedia di dua masjid Jaigoan ini. Guabari pada nama masjid ini merujuk kepada nama tempatnya berada semacam nama kelurahan, dan nama yang sama juga digunakan untuk menyebut nama jalan yang melintas di depan masjid ini.

Bila benar bahwa dua masjid ini merupakan masjid tempat muslim Bhutan beribadah, sepertinya memang muslim disana kesulitan untuk mendirikan masjid di Negara mereka sendiri. Konstitusi Bhutan memang hanya mengakui dua Agama yakni Budha sebagai agama resmi dan agama Hindu meskipun Hindu dan melarang agama lainnya.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sabtu, 29 Juni 2019

Apakah Ada Masjid Di Bhutan? (Bagian 1)

Merujuk kepada peta google map, ada satu masjid di wilayah Bhutan, lokasinya berada di kota Simtokha. Masih dari google map tampak satu bangunan masjid kecil yang sangat sederhana di halaman komplek bangunan.

Dengan mengetikkan kata kunci “Bhutan Mosque” kolom pencarian google, muncul tiga nama masjid di google map, paling atas pencarian muncul “Dantak Mosque" disambung dengan tulisan masjid dalam aksara arab. Disusul oleh dua nama masjid berikut nya yakni Jharna Jamma Masjid dan Guabari Puran Mashjid. Dua masjid yang disebut belakangan menurut google map lokasinya berada di wilayah Jaigaon, West Bengal, India. Maka kita mulai telusuri dari yang pertama yakni “Dantak Mosque” atau Masjid Dantak.

Dantak Mosque, Semtoka

Google-map telah mencantumkan nama “Dantak Mosque” lengkap dengan lokasi akuratnya. Bumthang - Ura Highway, Semtokha, Bhutan. Menilik kolom komentar, lokasi masjid ini sudah ada dua review tertua yang berasal dari setahun yang lalu sejak dari tanggal saat kami mengakses (19 Juni 2019), artinya lokasi masjid ini sudah ditandai di peta setidaknya sejak setahun yang lalu.

Tidak ada informasi apapun yang muncul di pencarian selanjutnya tentang masjid ini selain di situs savetravel.com yang juga memuat foto yang di unggah oleh Muhiuddin Ikram lengkap dengan peta lokasinya berdasarkan google-map. Sehingga mau tidak mau harus mengolah data yang sangat minim itu untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang Masjid Dantak (Dantak Mosque) yang dimaksud.

Dantak Mosque
Bumthang - Ura Hwy, Semtokha, Bhutan



Penanda di peta di google-map juga sudah dilengkapi dengan foto yang dimuat oleh akun google badar Uddin pada bulan mei 2019 itu artinya baru sebulan yang lalu. Akun ini sudah teregister di google sebagai local guide level 5. Foto yang di unggahnya menunjukkan Jemaah yang sedang berkumpul di dalam ruangan.

Masjid Dantak di google map
Foto berikutnya adalah dua lembar foto yang di unggah oleh Muhiuddin Ikram pada bulan september 2017 yang menunjukkan suasana sholat berjamaah di pekarangan. Muhiuddin Ikram adalah local guide level 4. Dua foto yang di unggah beliau tampaknya lebih otentik dibandingkan foto pertama.

Menjejak unggahan unggahan foto beliau di google sepertinya beliau memang tinggal di Buthan, salah satu dari dua fotonya di masjid Dantak menunjukkan beliau bersama anak laki laki mungkin putra beliau dan salah satu unggahannya tentang perusahaan Southtech Bhutan Private Limited yang berjarak hanya 1,6 km dari Masjid Dantak atau sekitar 4-5 menit berkendara.

Merujuk kepada situs https://www.southtechgroup.com/ Southtech Bhutan Private Limited merupakan perusahaan Bangladesh yang beroperasi di Bhutan. Dan melihat dari nama-nya Muhiuddin Akram yang sangat Islami, memang lebih cocok sebagai nama orang Bangladesh dibandingkan dengan nama orang Bhutan yang mayoritas mutlak merupakan non muslim.

Foto pertama unggahan Muhiuddin Ikram menunjukkan dengan jelas sebuah bangunan persegi berukuran kecil dengan tulisan Masjid di atas pintunya ditambah dengan lukisan sederhana ornamen bulansabit dan bintang yang merupakan lambang internasional Islam. Dilihat dari ukuran dan bentuk bangunan serta pagarnya, bangunan masjid tersebut terlalu kecil bila dibandingkan foto dalam ruangan yang di unggah oleh badar Uddin pada mei 2019.

Google juga sudah melengkapi tempat tersebut dengan google street view yang di unggah pada bulan Mei 2013. Di lokasi yang dimaskud terdapat sebuah komplek bangunan dalam pagar yang menyerupai bangunan mushola di kampung kampung di Indonesia, berupa bangunan sederhana segi empat dengan atap limas bertingkat, hanya saja dari lambang lambang yang ada dibangunan nya tidak menunjukkan bangunan tersebut adalah masjid.

Komplek tempat dimana Masjid Dantak berada di halaman nya.
Di sisi jalan raya di depan bangunan ini juga terdapat papan nama yang sengaja dikaburkan oleh pihak google itu masih dapat terbaca sebagian besar dan juga tidak mengindikasikan bahwa itu adalah bangunan masjid. Papan pengenal lainnya hanya berupa gambar puncak gunung.

Komparasi Foto

Bila diteliti lebih jauh memang ada kemiripan antara foto pertama dari muhiuddin akram dengan foto yang muncul di street view. Logo yang terdapat pada dinding bangunan yang ada di foto muhiuddin akram sama persis dengan logo yang ada di dinding bangunan di steet view, begitupun dengan bentuk bangunan dan pagar halamannya.

Merujuk kepada dua gambar tersebut sepertinya bangunan masjid kecil yang ada di foto muhiuddin akram yang di unggah pada September 2017 belum dibangun setelah tahun 2013 karena pada image yang ada di google street view bulan Mei 2013 di lokasi masjid itu berdiri masih berupa bangunan terbuka sepertinya merupakan tempat parkir kendaraan.

Analisa foto milik Muhiuddin Ikram. Masjid yang ada di foto atas tampaknya berada di halaman komplek tersebut, di lokasi yang pada citra street view masih berupa bangunan terbuka tempat parkir kendaran.

Kesimpulan tentang Masjid Dantak Mosque

Masjid Dantak Mosque di kota Semtokha ini kemungkinan adalah bangunan masjid yang menumpang tempat di lahan tempat nya berdiri saat ini, dan dibangun setelah tahun 2013. Tujuannya kemungkinan besar untuk menyediakan tempat ibadah bagai para pekerja migran muslim termasuk yang berasal dari Bangladesh yang berkerja di perusahaan Bangladesh yang beroperasi di Bhutan.

Dimanakah kota Semtokha itu ?

Kota Semtokha hanya berjarak sekitar 7,7 km dari kota Thimpu, ibukota Kerajaan Bhutan. Dapat ditempuh dengan berkendara selama kurang dari setengah jam. Mengingat kondisi topografi kerajaan Bhutan yang berada di pegunungan Himalaya, jalanan dari Thimpu ke Semtokha atau sebaliknya harus melalui jalanan terjal di pegunungan yang berkelok kelok dan cukup berbahaya namun berpanorama yang memukau.

Analisa foto berikutnya yang diunggah oleh Muhiuddin Ikram yang tampak sedang sholat berjamaah di halaman masjid Dantak di bulan September 2017, sepertinya dalam suasana Sholat Idul Adha 1438 H yang jatuh di bulan September 2017.
Semtokha atau kadang kadang juga dilafalkan Simtokha, terkenal sebagai salah satu kota wisata dunia, di kota ini terdapat kuil Ummat Budha yang disebut Kuil Semtokha atau Semtoka Dzong. Kuil tersebut dibangun dibibir tebing terjal pada tahun 1629 oleh Zhabdrung Ngawang Namgyal, sang pemersatu Bhutan dan merupakan yang pertama di bangun di Bhutan dengan bentuk dan lokasi yang demikian itu.

Republika pernah melaporkan tentang masjid muslim Bhutan di kota Phuentsholing yang berbatasan dengan India, sekaligus menjadi gerbang Bhutan ke dunia luar satu satunya yang berada di perbatasannya dengan India. Apakah benar ada masjid muslim Bhutan di kota itu?. Simak di posting selanjutnya “Apakah Ada Masjid di Bhutan (Bagian 2).***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Minggu, 23 Juni 2019

Menjejak Islam di Bhutan

Kerajaan Bhutan dikenal sebagai kerajaan Budha di sisi timur pegunungan Himalaya berbatasan dengan China di Utara dan India di Selatan. Kerajaan ini memiliki alam yang masih perawan dan mempesona dan kehidupan tradisional yang kuat hingga kerap kali digelari sebagai Kerajaan Shangri-La terahir di bumi.

Bhutan; The Last Shangri-La Kingdom

Bhutan merupakan salah satu dari sedikit Negara asia yang masih berbentuk kerajaan, bahkan bisa jadi menjadi satu satunya kerajaan yang masih eksis di bumi dengan tatanan tradisionalnya yang masih sangat kental. Modernisasi nyaris tak menyentuh kerajaan ini, namun penduduknya terkenal sebagai rakyat yang paling bahagia di Asia dan dunia. Indeks pembangunan negaranya didasarakan kepada indeks Gross National Happiness yang takkan ditemukan di GBHN Negara lain.

Wilayah kerajaannya terhimpit diantara India dan Tibet (yang kini dikuasai China). India menjadi satu satunya pintu masuk dan keluar dari Bhutan melalui kota Phuentsholing yang berbatasan langsung dengan kota Jaigaon di provinsi Benggala Barat, India. Perbatasan mereka di utara dengan Tibet sudah lama ditutup rapat sejak Tibet di kuasai China dan berujung sengketa perbatasan antara Bhutan dengan China.

Karena posisi strategisnya kota Phuentsholing menjadi ibukota perdagangan bagi Bhutan, bank Negara bahkan berkantor di kota itu. Gerbang perbatasan Bhhutan dan kantor imigrasi kedua Negara berdiri disana, meski penduduk kedua Negara memiliki hak istimewa dalam melintasi perbatasan, berbeda dengan pengunjung dari Negara lain yang harus mengurus izin yang cukup rumit untuk bisa masuk ke wilayah Bhutan.

Kehidupan masyarakat begitu kental dengan dogma agama Budha sebagai agama resmi Negara dan mereka sangat menghormati raja dan keluarganya. Alam mereka masih perawan, dengan landscape pegunungan Himalaya timur yang memukau, kehidupan sederhana pedesaan dapat ditemukan dibagian manapun Negara ini yang terkenal dengan ribuan kuil kuil kuno bertebaran dari puncak gunung hingga dinding dinding batu terjal pegunungan.

wilayah Kerajaan Bhutan berada diperbatasan antara China dan India.
Keindahan panorama kerajaan ini dipadu dengan kehidupan tradisional penduduknya tak pelak memuatnya mendapatkan julukan dengan berbagai nama negeri dongeng. Bhutan sendiri secara harpiah bermakna “Negeri Naga Petir’ sedangkan penduduknya menyebut Negara mereka “Rakyatnya menyebut kerajaan mereka sebagai “Druk Yul” yang berarti “Negeri Naga”, kamu akan dengan mudah menemukan gambar naga di bendera dan lambang kerajaannya. Dan diantara para pengelana dan pengembara tak segan segan menyebut Kerajaan Bhutan sebagai “The Last Shangri-La Kingdom” atau “Kerajaan Shangri-La terahir”

Angin perubahan di negeri Naga Petir

Raja Jigme Singye Wangchuk menjadi raja Bhutan terahir yang berkuasa dengan kekuasaan mutlak sebagai raja pemegang tampuk kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan. Namun secara mengejutkan beliau mengumumkan akan melepaskan jabatannya di tahun 2008, tak hanya itu, beliau juga berencana memangkas kekuasaan absolut raja, membuka jalan bagi pemilihan umum untuk memilih perdana menteri dan DPR sebagai penggerak roda pemerintahan.

Keputusan yang diumumkannya di hadapan 8.000 penggembala hewan yak, biksu, petani, dan siswa pedesaan pada 18 Desember 2005 dan disebarkan melalui harian Kuensel itu justru menuai keberatan dari rakyatnya yang mengkhawatirkan akan terjadinya praktek KKN oleh para pejabat dikemudian hari. Nyatanya, Dasho Jigme Khesar Namgyal Wangchuck, benar benar menyerahkan kekuasaan kepada putra tertuanya yang masih bujangan ditahun 2006.

Raja Jigme Singye Wangchuk sudah menjadi raja sejak usia 17 tahun menggantikan ayahandanya yang wafat di tahun 1972 sangat dicintai rakyatnya dan senantiasa hidup sederhana bersama ke empat istrinya, lebih suka tinggal di rumah kayu khas Bhutan ketimbang tinggal di Istana kerajaan di dalam benteng, tak pernah menjelaskan alasannya mundur dari kekuasannya sebagai raja yang harusnya berkuasa seumur hidup.

Thimpu, ibukota dan kota terbesar di Bhutan. Gedung tertinggi di foto itu adalah pusat pemerintahan Bhutan.
Dasho Jigme Khesar Namgyal Wangchuck kini memerintah kerajaan Bhutan yang sudah mulai menerapkan sistim demokrasi yang di inisiasi oleh ayahnya. Raja baru ini baru menemukan permasurinya di tahun 2011, pernikahan mereka menjadi Royal Weding yang menginspirasi kebahagiaan seisi negeri, foto pernikahan mereka bahkan diabadikan dalam uang kertas 100 ngultrum Bhutan.

Seperti Apakah Kerajaan Bhutan

Kerajaan Bhutan adalah salah satu dari sedikit Negara di dunia yang benar benar tidak pernah mengalami penjajahan oleh bangsa asing sepanjang sejarahnya. Wilayah mereka bahkan tak sempat tersentuh oleh silih bergantinya emperium besar yang pernah berkuasa di India maupun di China. Dinasti Islam Mughal yang merupakan dinasti Islam terbesar yang pernah berkuasa di hampir seluruh wilayah anak benua India itu pun, wilayahnya tak sampai menyentuh wilayah Bhutan.

Secara geografis, Bhutan hanya bertetangga dengan Tibet (China) di Utara dan India disebelah selatan. Muka buminya di dominasi pegunungan, mulai dari rata rata ketinggian 200 meter dari permukaan laut di sebagian selatan negaranya hingga ke ketinggian 7000 meter dari permukaan laut di bagian utara-nya yang merupakan sisi timur Himalaya. Tak salah bila menyebut kerajaan ini sebagai kerajaan gunung atau bahkan ada yang menjulukinya sebagai salah satu negeri diatas awan.

Luas keseluruhan wilayahnya hanya 38.394 km2 atau setara dengan luas daratan provinsi Sulawesi Tenggara (38.067 km2). Sedangkan jumlah penduduknya sebanyak 727.145 (tahun 2017) jiwa atau sekitar 20% lebih sedikit dibandingkan seluruh penduduk di provinsi Papua Barat (915.400 jiwa)

Gangkar Puensum (7,570mdpl) di Dochula pass merupakan puncak tertinggi di Bhutan. Gunung ini terkenal sebagai gunung yang belum pernah ditaklukkan manusia pendaki manapun.
Penduduknya diwajibkan menggunakan busana tradisional dalam kehidupan mereka sehari hari. Orang asing tidak dapat berkunjung ke Bhutan melalui agen wisata yang ditunjuk oleh pemerintah dengan prosedur yang cukup rumit dan tidak dapat bebas berkelana sesuka hati kecuali ketempat tempat yang sudah diatur. Budha Vajrayana yang dianut oleh 74.8% penduduk merupakan agama resmi satu satunya yang diakui oleh Negara, disusul kemudian oleh Hindu (22,6%) yang menjadi minoritas utama di Negara itu. Ajaran Budha memang sudah dikenal oleh masyarakat Bhutan sejak abad ke 7 Miladiyah.

Adakah Muslim di Bhutan?

Sedikit sekali informasi yang tersedia mengenai keberadaan muslim di Bhutan. Kebijakan negaranya yang semi tertutup turut andil kepada kurangnya informasi menyangkut hal itu.   Menurut Adherents,com, muslim di Bhutan mencapai 5%. Sedangkan CIA factbook mengklaim bahwa ummat islam di Bhutan hanyalah kurang dari 1% dari total penduduknya di tahun 2009. Sedangkan lembaga riser Pew Reseach Centre memperkirakan bahwa muslim di Bhutan ada sekitar 1% atau sekitar 7000 jiwa dari keseluruhan penduduk negara terebut.

Perkembangan Islam di Bhutan cukup menarik bila mencermati data dari Pew Reseach Forum  yang menyebutkan bahwa pada 1990 terdapat sekitar 6.000 Muslimin di Bhutan. Kemudian, pada 2010 meningkat menjadi 7.000 jiwa dan pada 2030, diprediksi akan meningkat menjadi 9.000 jiwa.

Merujuk kepada republika, perkembangan Islam di Bhutan cukup sulit mengingat kebijakan Negara yang melarang dakwah Islam di wilayah Negara itu. Ditambah lagi dengan buruknya citra yang dimunculkan oleh media (barat) berdampak buruk terhadap pandangan masyarakat setempat terhadap Islam.

Haa Valey atau lembah Haa, salah satu landscape Bhutan yang menawan.
Menurut US Library of Congress, komunitas Muslim Bhutan baru mulai terlihat eksis pada 1989. Angkanya sangat kecil dan tak banyak mendapatkan hak kebebasan beragama. Sebagai negara yang menjadikan Buddha sebagai agama resmi negara, Bhutan tak banyak menerapkan kebebasan beragama bagi rakyatnya. Namun seiring dengan mulai diterapkannya sistim demokrasi, Bhutan mulai mengakui keberadaan agama Hindu disana sedangkan pemeluk agama lainnya termasuk Muslim Bhutan masih harus berjuang untuk mendapatkan pengakuan resmi dari Kerajaan.

Meski Islam tak diakui, bukan berarti Islam dilarang. Muslimin hidup sebagaimana rakyat Bhutan pada umumnya. Mereka memiliki hak sebagai warga negara serta memiliki hak untuk bekerja. Tradisi vegetarian masyarakat Bhutan justru memudahkan muslim disana mendapatkan makanan halal.

Baiknya tatanan masyarakat yang sudah berabad abad hidup taat pada raja di kehidupan tradisional, ditambah lagi dengan kebijakan pemerintahnya yang telah sejak lama secara resmi melarang peredaran tembakau dan kebijakan lain yang sejalan dengan ajaran Islam justru menjadi nilai tambah tersendiri bagi kehidupan muslim di Bhutan. Sehingga secara umum Muslim di Bhutan dapat menjalani kehidupan mereka dengan nyaman.

Namun demikian, dengan tidak diakuinya Islam oleh kerajaan berdampak langsung kepada tidak adanya organisasi induk yang mengayomi muslim disana, tidak ada lembaga verifikasi halal ataupun lembaga lembaga Islam lainnya yang menopang kehidupan muslim disana apalagi untuk mendirikan lembaga dakwah yang memang secara jelas dakwah Islam dilarang dinegara itu, dan sepertinya kebijakan itu juga berlaku bagi semua agama lain nya.***

Selanjutnya “Apakah Ada Masjid di Bhutan?”

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sabtu, 22 Juni 2019

Masjid Andalusia Islamic Center, Bogor


Berdiri megah di kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor, Masjid Andalusia menjadi salah satu masjid pavorit warga Bogor Raya. Dengan arsitektur bangunan yang menawarn ditambah dengan fasilitasnya yang cukup lengkap.

Masjid Andalusia adalah masjid megah yang berada di dalam komplek Islamic Center Andalusia di Jalan H. Juanda kawasan Sentul City, Desa Citaringgul, kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Masjid Andalusia dibangun tahun 2006 yang lalu, pembangunan masjid ini merupakan bagian dari komplek Islamic Center Andalusia yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung termasuk kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Andalusia.

Sebagaimana dijelaskan di situs resminya, Andalusia Islamic Center (AIC) hadir karena kepedulian akan masalah besar bangsa dan umat Islam Indonesia yang di dominasi oleh kemiskinan, keterbelakangan pendidikan serta rendahnya moralitas baik ditingkat birokrasi maupun swasta. Besar harapan dengan segala kekurangan Andalusia Islamic Center (AIC) dapat menjadi Oase Spiritual, Intelektual dan pemberdayaan penguaatan finansial umat yang berdasarkan pada nilai-nilai luhur spiritual Islam.

Masjid Andalusia Islamic Center
Masjid Andalusia STIE Tazkia, Jl. Ir H Juanda No.78 Sentul City
Citaringgul, Kec. Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat 16810



Masjid dan kompleks Islamic Center ini digagas oleh Yayasan Tazkia yang dipimpin oleh M. Syafii Antonio (beliau adalah seorang mu’alaf yang merupakan pakar ekonomi syariah). Beliau menyampaikan bahwa pembangunan Andalusia Islamic Center ini terinspirasi akan kejayaan peradaban kekhalifahan islam di Andalusia (kini Spanyol). Selain kemakmuran rakyat di wilayah tersebut pada waktu itu, kesuksesan mencetak ribuan ilmuwan muslim di berbagai bidang adalah menjadi inspirasi utama.

AIC diharapkan bisa wadah pendidikan dan pencerahan umat Islam di Indonesia, khususnya di Jadebotabek. Keberadaannya, sebagai oase spiritual dan intelektual yang dilandasi nilai-nilai Islam yang sejuk, damai, ramah, progresif, mendorong kemajuan ekonomi dan bisnis sebagai bagian dari ibadah, serta pemberdayaan umat berwawasan rahmatan lil ‘aalamiin.

Ruang sholat utama Masjid Andalusia.
Sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Andalusia Islamic Center, Syaripudin Kusin Sardi, Masjid Andalusia berdiri di atas lahan seluas 1 hektare dengan luas bangunan masjid 1.250 meter dan dapat menampung sekitar 2.500 jema’ah sekaligus. Bangunan masjidnya terdiri dari tiga lantai, ruang perubadatan utama berada di lantai dua dan tiga sedangkan di lantai satu merupakan area pendukung lainnya termasuk ruangan Alhambra. Dan saat ini (Juni 2019) Masjid Andalusia ini sedang dalam proses perluasan di sisi timurnya dan sudah dalam tahap finishing.

Salah satu keunikan masjid Anadalusia ini adalah disediakannya area istirahat bagi para Jemaah. Lantai tiga masjid ini di hari hari biasa digunakan sebagai tempat istirahat bagi Jemaah laki laki, sedangkan untuk Jemaah wanita disediakan tempat istirahat di ruang Alhambra di lantai dasar. Untuk tempat berwudhu tersedia di tiga lokasi. Ada tempat berwudhu di samping kolam di taman samping tempat parkir sepeda motor. Lalu ada area berwudhu dan toilet di lantai dasar, dan area berwudhu dan toilet di lantai mezanin, setelah menaiki tangga pertama menuju ruang sholat utama.

Ornamen indah di bagian dalam kubah Masjid Andalusia.
Ruang Al-Hambra di lantai dasar masjid Andalusia ini merupakan sebuah aula yang cukup besar dengan kapasitas mencapai 600 orang dan juga disewakan untuk umum untuk berbagai keperluan termasuk acara pernikahan. Selain itu masjid ini juga dilengkapi dengan kantin, minimarket, miniatur ka’bah, toko buku, hingga ruang Ruang 4T Quran & Gedung Abdurrahman Bin Auf.

Ruang 4T Qur’an maksudnya adalah ruang tahsin, tahfidz, tarjamah dan tafsir. Ruang belajar 4T Quran terletak disebelah kanan masjid andalusia, bangunan berlantai 2 dengan bentuk memanjang kearah timur ini juga memiliki nama lain yakni Tazkia Quranic and Business Center. nama ini mengemuka sebab gedung abdurrahman bin auf ini memiliki area minimarket, ATM Center dan Toko Buku yang teletak di lantai 1 gedung.

Gedung Abdurrahman bin Auf, Terhubung langsung dengan Masjid Andalusia di sisi selatan.
Sedangkan lantai 2 gedung Abdurrahman bin auf digunakan untuk ruang pembelajaran comprehensive quranic learning andalusia yang dinamai 4T Quran Andalusia. meliputi tahsin, tahfidz, tarjamah dan tafsir. ruang dengan AC dan puluhan kursi kuliah ini sengaja disiapkan untuk mendukung kenyamanan belajar dalam kelas. Kajian untuk umum di masjid ini diselenggarakan setiap bakda sholat Subuh, Zuhur dan Magrib. Di dalam kompleks yang sama juga berdiri kampus STIE Tazkia (Tazkia University College Of Islamic Economics), TK Islam Terpadu Tazkia (Tazkia Global Islamic School).

Meski berada di lingkungan kampus, masjid ini terbuka untuk umum. Area parkirnya cukup luas, parkir kendaraan roda empat ada di sebelah kiri gerbang utama, parkir kendaraan roda dua berada di belakang masjid, berdekatan dengan lapangan tempat miniatur Ka’bah berada dan tidak ada tarif parkir dan petugas petugas disini pun cukup ramah terhadap pengunjung. Hanya saja selayaknya tempat ibadah, ada himbauan tertulis untuk berbusana Islami / sopan, dan dilarang merokok di lingkungan masjid.

Lantai mezanin, sebelah kiri tempat wudhu jemaah wanita, sebelah kanan tempat wudhu jemaah pria. naik ke tangga menuju ke ruang sholat utama di lantai dua.
Bangunan masjid Andalusia ini dibangun dalam arsitektur masjid modern. Dengan bentuk dasar bangunan kubus, beratap beton. Sebuah kubah besar dengan dominasi warna biru dihias dengan ornamen geometris perpaduan bewarna biru, kuning emas dan putih. Puncak kubah hanya dihias dengan satu bentuk lancip tanpa ornament tambahan.

Empat menara menjulang tinggi dibangun di empat sudut atap masjid. Ke empat menara yang dibangun ramping ber-ujung lancip. Fasad bangunan menaranya di hias dengan jendela jendela kaca dengan hiasan mozaik warna warni. Ujung lancip menara dihias dengan ornament zigzag berwarna putih dan biru. Bangunan masjid yang sangat menawan.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga