Monday, September 5, 2011

Masjid Agung Karawang (bagian II)

Pelataran depan Masjid Agung Karawang
Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya Masjid Agung Karawang (bagian I) klik untuk kembali ke bagian I

Renovasi, Perbaikan dan pembanguan Masjid Agung Karawang

Adipati Singaperbangsa Bupati Karawang (memerintah 1633-1677M), semula berkantor di daerah Udug-udug. Kemudian karena berbagai pertimbangan, ia memindahkannya ke pelabuhan Karawang. Di tempat ini telah ada pasar, masjid Agung, dan sarana penunjang lain, termasuk pelabuhan itu sendiri yang memperlancar kegiatan lalu lintas perdagangan, pemerintah, dan sebagainya. di dekat masjid Agung dibangun alun-alun yang ditanami 2 pohon beringin di bagian kanan kirinya, kantor dan pendopo kebupaten, kantor keamanan dan tempat tahanan. Adipati Singaperbangsa memperindah bangunan masjid dan direnovasi diselaraskan dengan kantor kabupaten yang baru dibangun.

dari balik terali pagar alun alun
Bupati Karawang pada waktu itu merupakan bawahan dari Sultan Agung yang bertekad untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa dan sekitarnya dan Karawang dipersiapkan menjadi pusat penyerangan tentara Mataram terhadap kedudukan tentara VOC /Kompeni di Batavia, dan Karawang juga menjadi lumbung padi sebagai pusat logistik dari peperangan tersebut. Hampir selama 44 tahun Adipati Singaperbangsa melaksanakan tugas pemerintahannya dengan memfungsikan masjid Agung Agung Karawang sebagai tempat ibadah dan memotivasi masyarakat agar berperan serta dalam menunaikan tugas-tugas kenegaraannya.

Adipati Singaperbangsa wafat pada tahun 1677 M dan dimakamkan di Manggung Ciparage , tiga Bupati penerusnya masing masing Panatayuda I,II dan III tidak berkantor di Babakan Kartayasa, dan tidak melanjutkan perbaikan terhadap Masjid Agung Karawang. Raden Anom Wirasuta atau Panatayuda I (menjabat 1677 - 1721 M) berkantor di Waru dekat Loji, Pangkalan. Raden Martanegara atau Panatayuda III (menjabat 1732 - 1752 M) juga berkantor di Waru Pangkalan

Pada masa Bupati Karawang V yaitu Raden Muhamad Soleh atau Panatayuda IV (memerintah 1752 - 1786M), Kantor bupati dipindahkan kembali ke Babakan Kertayasa. Bupati V  ini, dikenal sebagai dalem nalon. Bupati ini mendapat kehormatan "naik nalon". Dari pemerintahan Kolonial Belanda, dan pada waktu itu hal tersebut  jarang terjadi. Ia termasuk pembina Masjid Agung, dan waktu meninggal Dunia ia dimakam kan dekat Masjid ini, tahun 1993 atas persetujuan para sesepuh, kerangka jenazahnya dipindahkan dan dimakamkan kembali di komplek makam Bupati Karawang di Desa Manggung Jaya Cilamaya. 

Puncak atap limas Masjid agung Karawang
Masa Penjajahan Kolonial Belanda

Sejak masa Bupati Karawang VI  sampai Bupati Karawang IX yakni antara tahun 1786 - 1827, tidak ada petunjuk dilakukannya perbaikan yang berarti apalagi perluasan bangunan dan sebagainya. Sebab sejak tahun 1827 para Bupati Karawang IX sampai bupati XXI atas kebijakan pemerintahan Kolonial Belanda tidak lagi berkantor di kota Karawang melainkan ke Wanayasa dan Purwakarta, Sehingga dapat dipahami apabila para Bupati yang berkedudukan di Wanayasa dan Purwakarta perhatiannya kurang terhadap pembinaan Masjid Agung secara langsung, kemunginan dipercayakan kepada wedana atau camat yang bertugas di kota Karawang
.
Masa kemerdekaan

Setelah berlakunya Undang Undang no 14 tahun 1950 tentang pembentukan daerah daerah Kabupaten di lingkungan Propinsi Jawa Barat maka kabupaten Karawang terpisah dari kabupaten Purwakarta dan Ibukotanya kembali di Karawang. Sedangkan Bupati Karawang masa itu dijabat oleh Raden Tohir Mangkudijoyo yang memerintah tahun 1950 - 1959, pada tahun 1950 atas persetujuan para Ulama dan Umat Islam, Mesjid Agung diperluas pada arah bagian depan dengan bangunan permanen ukuran 13 x 20 m ditambah menara ukuran kecil dan satu Kubah ukuran  3 x 3 m dengan tinggi 12 m, atap dari seng adapun luas tanah mesjd termasuk makam adalah 2.230 m.

Bangunan Masjid agung karawang yang kini kita lihat berdiri megah di pusat kota Karawang adalah bangunan hasil pembangunan yang diresmikan pada tanggal 28 Januari 1994 oleh Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana. Tercatat dalam prasasti pembangunan ucapan terima kasih kepada 4 perusahaan yang berkonribusi pada pembangunan masjid ini masing masing (1) PT. Bintang Puspita Dwi Karya, (2) PT. Argo Pantes, (3) PT. Astakona Megahtama dan (4) PT. Bestland Pertiwi. Prasasti tersebut ditandatangani oleh Bupati Karawang H. Sumarno Suradi dan Ketua DPRD Kabupaten Karawang H. Jamil Sfiuddin. Sedangkan bangunan menara yang menjulang tinggi di depan masjid diresmikan oleh Bupati Karawang H. Dadang S Muchtara pada tanggal 11 Agusutus 2006.

kaligrafi besar di atas mihrab masjid Agung Masjid Karawang
Arsitektur Masjid Agung Karawang

Sejatinya masjid Agung Karawang dibangun dalam arsitektur khas Indonesia dalam skala yang lebih besar, dengan atap limas bersusun tiga dengan empat sokoguru utama menopang atap masjid. Plafon masjid dibiarkan terbuka untuk member ruang bagi masuk nya cahaya matahari ke dalam ruang masjid dan bagi kepentingan sirkulasi udara. Bagian dalam masjid dibangun dua lantai berbentuk mezanin member ruang terbuka cukup luas dibagian depan masjid bagi jemaah di lantai dua untuk dapat melihat ke lantai utama masjid.

Di tiga masjid berdiri kokoh masing masing 6 pilar bundar cerminan enam rukun Islam. Dan ketiga sisi masjid agung ini dibangun dengan dinding berkerawang / berongga memungkinkan sirkulasi udara secara alami dan keindahan tersendiri bagi bangunan masjid ini. di sisi selatan masjid berdiri gedung remaja masjid dan tempat bersuci. Sedangkan disisi mihrab lantai dua juga difungsikan sebagai kantor pengelola masjid.

Sisi mihrab Masjid Agung Karawang
Pada sisi mihrab dibagian kiri dan kanannya terikir indah kaligrafi Allah dan Muhammad dalam ukuran besar. Kaligrafi Al-qur’an juga terlukis indah di sisi kiri dan kanan dinding masjid bagian dalam. Kaligrafi dan lukisan geometris turut memperindah sisi migrab masjid ini.

Layaknya masjid khas Indonesia. Disisi selatan masjid ini juga berdiri bangunan kecil terpisah dari masjid sebuah bangunan tempat menyimpan dua buah beduk dalam ukuran besar lengkap dengan kentongan yang juga dalam ukuran besar. Masjid agung yang begitu megah dan besar ditambah dengan pelataran depan yang sudah dilapis dengan keramik ini begitu meriah selama bulan Ramadhan. Terutama di dua hari raya Islam, jemaah masjid ini membludak hingga ke alun alun dan jalan raya disekitar nya. Subhallah sebuah pemandangan yang begitu indah.
                            
Jemaah Idul Fitri Masjid Agung Karawang
Masjid Agung Karawang
Mihrab dan Mimbar Masjid Agung Karawang
Interior Masjid Agung Karawang
Suasana lantai dua masjid Agung Karawang
Jendela dan Dinding sisi selatan di lantai II menghadap ke alun alun
Referensi

buanatirta.blogspot.com - sejarah masjid agung karawang, bagian 2 dan bagian 3
kompasiana.com – misteri masjid agung karawang
pelitakarawang.com – sejarah masjid agung karawang

1 comment:

  1. R. Tohir Mangkudijoyo adalah adik kandung dari nenek saya dari garis ibu, R.Ngt. Johariah Mangkudijoyo, putra-putri dari R. Ali Mangkudijoyo.

    ReplyDelete

Dilarang berkomentar berbau SARA