Sabtu, 04 November 2017

Surau Lubuk Bauk Tanah Datar

Surau Lubuk Bauk (πŸ“· IG @galihwwardhana)

Surau Lubuk Bauk atau kadang keliru disebut sebagai Masjid Lubuk Bauk terletak di Nagari Lubuk Bauk, Kecamatan Batipuh Baruh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Surau ini didirikan pada 1896 memakai nama tempat berdirinya dan rampung pada 1901.

Tidak banyak yang mengetahui Surau Lubuk Bauk ini, namun setelah menjadi salah satu lokasi syuting film Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, masjid ini kembali dikenal oleh masyarakat se-nusantara. Film tersebut yang diangkat dari karya novel Buya Hamka. Kabarnya di sini Buya Hamka belajar mengaji dan tidur di surau dekat rumahnya.

Surau Nagari Lubuk Bauk
Batipuh Baruah, Batipuh, Kabupaten Tanah Datar
Sumatera Barat 27125



Meskipun hanya sebentar, yaitu dari tahun 1925 hingga tahun 1928, Hamka remaja yang berasal dari Tanjung Raya, Kabupaten Agam, menjadikan surau kuno tersebut sebagai tenpat untuk mengaji dan sekaligus rumah untuk menimba ilmu. kini ruas jalan yang membentang di depan surau ini dinamai Jl. Dr. Hamka.

Pembangunan Surau Lubuk Bauk

Surau Lubuk Bauk atau kadang keliru disebut sebagai Masjid Lubuk Bauk terletak di Nagari Lubuk Bauk, Kecamatan Batipuh Baruh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Surau ini didirikan pada 1896 memakai nama tempat berdirinya dan rampung pada 1901.[1]

Menurut ceritanya, surau ini dibangun oleh para ninik mamak yang berasal suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku sekitar tahun 1896 dan diperkirakan selesai tahun 1901. Tanah surau ini berasal dari wakaf Datuk Bandaro Panjang.

Sebagaimana umumnya surau di Minangkabau, keberadaan surau ini dikhususkan sebagai pusat pendidikan non-formal setempat. Letaknya berdampingan dengan Masjid Al-Ula yang menyelenggarakan salat jemaah, dikelilingi rumah penduduk, dan dibatasi jalan raya di sebelah utara.

Surau Lubuk Bauk dipertahankan bentuknya sejak dibangun hingga saat ini meskipun telah melewati beberapa kali pemugaran. Ttampak foto sebelah kanan adalah foto surau Lubuk Bauk di tahun 1921 sedangkan disebelah kanan adalah foto Surau Lubuk Bauk di tahun 2013, Tak ada perubahan berarti selain pada bagian tangga depannya.

Arsitektur Surau Lubuk Bauk

Surau ini dibangun sepenuhnya dengan bahan utama kayu Surian dengan luas 154 meter persegi dan tinggi bangunan sampai ke puncak kurang lebih 13 m dengan corak bangunan dari Koto Piliang yang dapat dilihat dari susunan atap dan adanya menara. Dengan material kayu konstruksinya tidak mengalami kerusakan berarti walaupun beberapa kali dilanda gempa besar dan angin kencang.

Bangunan-nya berdenah bujur sangkar, dengan luas 154 meter persegi. Ada 30 tiang kayu penyangga berbentuk segi delapan yang menopang bangunan dan saling terhubung dengan sistem pasak tanpa paku besi. Lantai satu memiliki denah berukuran 13 x 13 meter. Letaknya ditinggikan sekitar 1,4 meter dari permukaan tanah, membentuk kolong. Kolong bangunan ditutup membentuk lengkungan-lengkungan yang pada bagian atasnya dihiasi ukiran berpola tanaman sulur-suluran.

Mihrab dibuat menjorok ke luar berukuran 4 x 2,5 meter dinaungi atap gonjong, bentuk atap yang terdapat pada rumah gadang. Pada setiap sisi ruangan, terdapat jendela, kecuali pada mihrab. Pintu masuk terletak di sisi timur sejajar dengan mihrab. Di atas pintu (ambang pintu) terdapat tulisan basmalah yang dibuat dengan teknik ukir dan di belakangnya ditutup dengan bilah papan.

Pada sebelah kanan pintu, terdapat tangga yang mengubungkan ke lantai dua. Lantai ini berdenah 10 × 7,50 meter. Di tengah-tengah ruangan lantai dua, terdapat tiang dengan tangga melingkar untuk ke lantai tiga, yang memiliki denah lebih sempit berukuran 3,50 × 3,50 meter.

Ukiran cap izin pemerintah Penjajah Belanda di Surau Lubuk Bauk

Keunikan dari Surau Lubuk Bauk adalah memiliki ukiran khas Minangkabau dan cap izin Belanda yang berupa mahkota Kerajaan Belanda. Cap tersebut terukir pada dinding gonjong surau. Setiap ukiran di surau, seperti ukiran motif kaluak paku, ukiran aka cino hingga motif itiak pulang patang menyimpan arti filosofinya sendiri.

Berada di pinggir jalan raya Batusangkar—Padang, bangunan surau terletak lebih rendah sekitar 1 meter dari jalan raya. Dalam kompleks bangunan, terdapat tiga kolam atau disebut luhak dalam bahasa setempat yang dulunya difungsikan untuk wudu. Selain itu, terdapat bangunan mirip rangkiang yang digunakan untuk menaruh beduk.

Atap bangunan terbuat dari seng, bersusun tiga. Tingkat pertama dan kedua berbentuk limas dengan permukaan cekung, sedangkan tingkat ketiga berupa atap berdenah silang dengan gonjong di empat sisinya. Terdapat semacam baluster di antara atap lantai satu dan lantai dua.

Susunan atap dengan bangunan menara tersebut melambangkan falsafah hidup masyarakat Minangkabau. Bahkan diyakini dulunya oraganisasi Muhammdiyah sebelum berkembang di kauman Padang Panjang, lebih dulu berkembang di Lubuk Bauk tersebut sehingga perannya memiliki peran besar dalam melahirkan santri dan ulama yang selanjutnya menjadi tokoh pengembang agama Islam di Sumatra Barat.

Pada bagian puncak, terdapat elemen berupa semacam gardu, berdenah segi delapan berdinding kayu dengan jendela-jendela semu yang diberi kaca di setiap sisinya. Struktur ini berfungsi sebagai menara, yang dapat dinaiki melalui tangga spiral di lantai dua. Atap mnara dibuat bersusun membentuk kerucut dengan bentuk susunan buah labu dihiasi kelopak daun mirip padmanaba pada bangunan Hindu. Eksterior berupa ukiran Minang melekat pada dinding menara berupa pola tumbuhan pakis yang didominasi wama merah, kuning, dan hijau.

Interior Surau Lubuk Bauk

Penggunaan

Di Minangkabau, masjid merupakan salah satu syarat berdirinya permukiaman atau nagari, sementara setiap suku yang menghuni nagari biasanya memiliki surau. Oleh sebab itu, banyak masjid dan surau di Minangkabau yang letaknya berdampingan. Keberadaan surau umumnya dikhususkan sebagai pusat pendidikan non-formal.

Berdiri berdampingan dengan Masjidil Ula yang didirikan pada 1898, Surau Lubuk Bauk digunakan terbatas untuk tempat belajar mengaji anak-anak atau tempat pertemuan bagi masyarakat setempat. Di ruang mengaji, terdapat sejumlah papan panjang (reha) yang ditata melingkar menghadap ke papan tulis.

Peninggalan Sejarah

Dalam perkembangannya Surau Lubuk Bauk tersebut termasuk salah satu benda peninggalan sejarah yang telah dilakukan kajiannya pada tahun 1984 oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumatra Barat bahkan juga sudah dilaksanakan pemugaran  Surau Lubuk Bauk pada tahun anggaran 1992/1993.

Surau ini ditetapkan sebagai cagar budaya di bawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Batusangkar dan menjadi salah satu daya tarik wisata terkenal di Tanah Datar.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang berkomentar berbau SARA