Saturday, September 30, 2017

Masjid Ferhat Pasha Banjaluka Bosnia & Gerzegovina

Masjid Ferhat Pasha Setelah rekonstruksi

Masjid Ferhat Pasha ini menjadi salah satu saksi bisu etnic cleansing terhadap muslim bosnia yang terjadi di Banjaluka di tahun 1993. Upaya pembersihan muslim di Banjaluka dan di wilayah Bosnia Herzegovina lainnya akan dikenang selamanya sepanjang sejarah peradaban manusia sebagai tindakan biadap secara massif yang terjadi di era Modern Eropa di penghujung abad ke 20.

Masjid Ferhat Pasha adalah Masjid Agung di kota Banjaluka, Republik Federasi Bosnia & Herzegovina. Masjid ini dinamai Masjid Ferhat Pasha sebagai penghormatan kepada Sanjak-bey Ferhat-paša Sokolović yang merupakan Gubernur emperium Usmaniyah di wilayah Sanjak Bosnia. Masjid ini pertama kali dibangun tahun 1579 dan merupakan salah satu warisan arsitektur terbaik dari abad ke 16 di Banjaluka.

Ferhat Pasha Mosque | Ferhat-pašina džamija
Kralja Petra I Karađorđevića, Banja Luka 78000
Bosnia dan Herzegowina



Seiring dengan runtuhnya Uni Soviet di tahu 1990-an, berbagai negara anggota federasi negara Soviet memproklamirkan kemerdekaan begitupun dengan negara negara sekutunya termasuk Republik federasi Yugoslavia yang terdiri dari beberapa negara bagian termasuk Bosnia & Herzegovina yang penduduknya mayoritas Muslim.

Upaya kemerdekaan negara negara bagian Yugoslavia mendapat pertentangan keras dari ernis Serbia yang merupakan etnis terbesar di Federasi tersebut yang pada ahirnya berujung kepada upaya paksa dengan tindakan brutal yang disebut oleh PBB dan dunia internasional sebagai tindakan “etnic cleansing” (pemberangusan etnis) dalam artian sebenarnya.

Muslim Bosnia & Herzegovina yang menjadi korban terparah dari malapetaka tersebut. Puluhan ribu jiwa atau bahkan lebih, terbunuh menjadi korban pembantaian brutal termasuk muslim di kota Banjaluka. Pada malam hari 7 Mei 1993 milisi Serbia menyerbu kota Banjaluka melakukan tindakan biadab tak terperi terhadap muslim Bosnia.

Tercatat sekitar 60.000 muslim bosnia dan minoritas Kroasia menjadi korban peristiwa itu termasuk yang di bantai, di tawan ataupun terusir dari Banjaluka dalam keadaan yang teramat memprihatinkan.

Masjid Ferhat Pasha sebelum dihancurkan oleh milisi Serbia.

Milisi Serbia juga melakukan bumi hangus terhadap semua yang berbau muslim di Bajaluka, menghancurkan rumah rumah yang ditinggalkan, membuldozer atau meledakkan masjid masjid di kota tersebut. Masjid Ferhat Pasha menjadi salah satu masjid yang menjadi sasaran penghancuran, masjid ini diratakan dengan tanah menggunakan bulldozer hingga tak bersisa sama sekali.

Rekonstuksi Masjid Ferhat Pasha

Bosnia & Herzegovina dan seluruh semenanjung Balkan kembali normal paska pengerahan pasukan perdamaian besar besaran oleh PBB. Muslim Banjaluka berangsur kembali ke kampong halaman mereka yang tersisa dalam puing puing reruntuhan termasuk masjid masjid tempat mereka beribah.

Dalam suasana damai yang baru pulih, muslim Banjaluka memulai kembali kehidupan mereka, bukan dari nol tapi dari titik minus dibawah nol. Mereka bahkan tak lagi memiliki tempat tinggal yang layak apalagi tempat ibadah. Bantuan dunia internasional mengalir ke wilayah itu untuk memulihkan situasi.

Empat belas tahun setelah dihancurkan oleh Milisi Sebia, Masjid Ferhat Pasha ini mulai di rekonstruksi. Pemerintah Turki yang kemudian mendanai proses rekonstruksi tersebut bersama dengan pemerintah Bosnia Herzegovina. Sebuah proses rekonstruksi yang tak mudah, membangun kembali sesuatu yang sudah sama sekali tak bersisa.

Masjid Ferhat Pasha saat ini setelah direkonstruksi

Penolakan Etnis Serbia

Rekonsruksi masjid ini bukan tanpa kendala. Upaya pertama untuk rekonstruksi sebenarnya sudah dilakukan di awal tahun 2001. Namun, lagi lagi etnis Serbia kembali berulah dengan menolak proses rekonstruksi hingga terjadi kerusuhan. Seorang jurnalis independen dari banjaluka mengatakan bahwa keadaan memang sudah berubah setelah perang namun masih jauh dari toleransi dan re-integrasi.

Dia menuliskan demikian sebagai saksi mata pada saat upacara peletakan batu pertama rekonstruksi masjid Ferhat Pasha, namun kemudian keadaan memanas dan berubah menjadi brutal ketika kendaraan bus yang ditumpangi Jemaah yang hadir dalam upacara tersebut di lempari dan dibakar masa perusuh etnis Serbia. Dia menuliskan dalam laporannya bagaimana nafas kebencian masih menggelora di Banjaluka.

Sembilan tahun rekonstruksi

Muhamed Hamidovic, mantan Pimpinan Fakultas Arsitektur Sarajevo yang memimpin proses restorasi. Sebuah proses yang tak mudah dimulai dengan mengumpulkan semua sketsa dan foto masjid sebelum dihancurkan, termasuk upaya beliau mengumpulkan kembali semua sketsa masjid ini yang pernah ia buat pada saat dia masih menjadi mahasiswa di masa Federasi Sosialis Yugoslavia termasuk sketsa rehab masjid tersebut paska gempa di tahun 1968 ditambah dengan semua digram, denah dan gambar teknik yang pernah dibuat dimasa itu.

Rekonstruksi adalah proses pembangunan kembali dengan (sedapat mungkin) menggunakan material asli dari bangunan yang telah dihancurkan. Tim rekonstruksi harus bekerja keras menjejak satu persatu setiap serpihan material masjid ini dengan melakukan wawancara kepada penduduk setempat. Satu persatu serpihan material itu dikumpulkan dari berbagai tempat yang berserakan di sekitar Banjaluka setelah 14 tahun penghancuran.

Interior Masjid Ferhat Pasha

Beberapa potongan batu bahkan ditemukan sudah berada di bengkel tukang batu, tertimbun timbunan puing dan sampah hingga di dasar sungai. Dan tidak semua material yang ditemukan tersebut masih dapat digunakan kembali karena sudah mengalami kerusakan parah.

Ada 3500 pecahan material yang ditemukan oleh tim rekonstruksi atau sekitar 65% dari bangunan masjid asli, sisanya tidak dapat ditemukan kembali. Dari sekian banyak pecahan tersebut hanya satu bagian yang ditemukan masih relative utuh berupa sebuah pilar masjid yang ditemukan oleh anggota klup penyelam banjaluka di dasar danau Banjaluka.

Satu persatu kepingan yang ditemukan diidentifikasi keterkaitannya dengan bangunan masjid Ferhat Pasha, anggota tim ini menggunakan arsip arsip dari era Usmaniyah untuk mengidentifikasi masing masing kepingan tersebut. Termasuk untuk mendapatkan material bangunan pengganti untuk bagian yang sudah tidak dapat ditemukan lagi.

Sebuah system computer dirancang khusus untuk memindai masing masing pecahan material tersebut untuk menentukan lokasinya tempatnya berada pada bangunan masjid Ferhat Pasha. Sedangkan lokasi asli masjid ini masih dapat dikenali dari landasan pondasi masjid yang masih tersisa termasuk juga kesaksian penduduk muslim setempat yang selamat dari malapetaka 1993.

Suasana peresmian pembukaan kembali Masjid Ferhat Pasha setelah rekonstruksi

Pembukaan Kembali Masjid Ferhat Pasha

Butuh waktu 9 tahun yang melelahkan untuk membangun kembali masjid Ferhat Pasha ini sesuai bentuk aslinya dan menggunakan sebagian besar material aslinya. Dan hasilnya memang cukup menakjubkan, bangunan masjid ini kembali tampil di tempatnya berada dalam bentuk aslinya, menjadikannya sebagai bangunan hasil rekonstuksi terbaik dan terbesar di Balkan setelah rekonstruksi Jembatan Mostar yang begitu terkenal dan juga merupakan peninggalan Dinasti Usmaniyah dan dibuka tahun 2004.

Upacara pembukaan kembali masjid Ferhat Pasha dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2016.atau sekitar 23 tahun setelah masjid tersebut dihancurkan oleh milisi Serbia. Upacara pembukaan kembali masjid ini dihadiri setidaknya 20.000 orang yang tumpah ruah membanjiri sekitar masjid ini dalam haru biru.

Namun demikian, semua tak sama lagi. Dari puluhan ribu warga muslim Banjaluka sebelum perang, kini tersisa sekitar 8000 jiwa muslim saja di kota itu dibandingkan dengan 30.000 jiwa dimasa sebelum perang di tahun 1992.

Bagi Muhamed Hamidovic selaku ketua tim rekonstruksi masjid Ferhat Pasha beserta seluruh anggota tim-nya, selesainya proyek rekonstruksi ini merupakan sebuah kebanggaan dan kepuasan tersendiri dan tentu saja menjadi modal berharga bagi proyek rekonstruksi selanjutnya terhadap lebih dari 2.500 situs sejarah dan budaya yang hancur selama perang di Bosnia & Herzegovina dan tentu saja teramat membantu memulihkan situasi, suasana dan ingatan indah semasa sebelum perang.***

====================================
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam
==================================== 

Referensi


Baca Juga


Sunday, September 24, 2017

Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Jusuf Makassar

Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Jusuf

Masjid Al-Markaz Al-Islami yang dikelola Yayasan Islamic Cenler ini merupakan masjid termegah dan terbesar di titik sentral kawasan timur Indonesia, kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Masjid yang monumental tersebut berdiri kokoh sebagai pusat peradaban dan pengkajian Islam serta mencerminkan kebanggaan dan identitas masyarakat Sulawesi Selatan yang agamis, beradab, dan bernapaskan Islam.

Masjid megah ini dirancang oleh arsitek yang telah menggawangi pembuatan berbagai masjid besar, Ir. Ahmad Nu’man. Arsitekturnya terinspirasi dari Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Meskipun begitu, bentuk masjid tidak melupakan unsur arsitektur khas Sulawesi Selatan. Hal ini terlihat dari atap berbentuk kuncup segi empat yang mengambil ilham dari Masjid Katangka, Gowa masjid tertua di Sulawesi Selatan dan rumah Bugis-Makassar pada umumnya.

Masjid Al-Markaz Al-Islami (Islamic Center Makassar)
Jl. Masjid Raya No.92 C, Timungan Lompoa
Bontoala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90151



Secara keseluruhan, pondasi bangunan sangat kuat dengan 450 tiang pancang berkedalaman 21 meter. Untuk bagian atap digunakan bahan tembaga atau tegola buatan Italia. Dinding lantai satu menggunakan keramik, sedangkan lantai dua dan tiga menggunakan batu granit.

Dinding mihrab yang merupakan sentralisasi visual berbahan granit hitam berhiaskan ragam kaligrafi segi empat dari tembaga kekuning-kuningan. Kaligrafi ini terdiri dari beberapa ayat dan surat Al-Quran, di antaranya: “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah”. Sementara itu, di atas mihrab tertulis surat Al-Baqarah: 144, “Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

Masjid juga memiliki menara setinggi 84 meter, dengan ukuran 3 x 3 meter. Tinggi menara ini hanya kurang 1 meter dari menara Masjid Nabawi. Pada ketinggian 17 meter menara tersebut terdapat bak penampungan air bervolume 30 m3.

Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Jusuf

Keunikan lain masjid ini terletak pada namanya. Sejak akhir Desember 2005, melalui rapat pengurus Yayasan Islamic Center di Jakarta, disepakatilah nama Al-Markaz Al-lslami Jenderal M. Jusuf. Nama ini merupakan penghargaan terhadap mantan Ketua BPK (alm) Jenderal M. Jusuf, pencetus gagasan pembangunan kompleks masjid dan pendidikan Islam tersebut.

Namun, kala itu M. Jusuf meminta kepada pengurus agar tidak menggunakan namanya untuk masjid kecuali jika “waktunya sudah tepat”. Maka para pengurus menafsirkan bahwa M. Jusuf tidak menolak namun meminta penyematan nama tersebut dilakukan setelah beliau tiada.

Akhirnya disepakati, untuk sementara, nama yang digunakan untuk masjid yang berdiri di bekas kampus Universitas Hasanuddin itu adalah Masjid Al-Markaz Al-Islami (Masjid Pusat Islam atau Masjid Islamic Center). Masjid ini pun resmi digunakan sebagai Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam di Makassar.

Hingga kini nama Al-Markaz Al- Islami itu tetap dipertahankan dan akan dilengkapi dengan nama pemrakarsa dan pendirinya, yakni Jenderal M. Jusuf. Dengan demikian, masjid ini secara lengkap akan bernama Masjid Al- Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf.

.
------------------------------------------------------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------------------
.

Baca Juga


Saturday, September 23, 2017

Masjid Sunan Bonang Rembang

Masjid Sunan Bonang di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Masjid Sunan Bonang adalah masjid yang dipercaya dibangun oleh Sunan Bonang. Sunan Bonang atau Maulana Makdum Ibrahim lahir pada tahun 1465 Masehi, salah satu dari sembilan Walisongo yang menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa khususnya pesisir timur pantai utara. Lebih tepatnya di Desa Bonang Kecamatan Lasem Rembang Jawa Tengah.

Masjid Sunan Bonang berada di desa Bonang yang terletak dalam wilayah Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, masjid ini menjadi salah satu bukti dan peninggalan dari perjalanan dakwah Sunan Bonang di Rembang dan sekitarnya. Lokasi masjid ini saat ini sekitar 50 meter disebelah selatan makam Sunan Bonang.

Sebelum menjadi desa daerah ini merupakan sebuah hutan yang terkenal dengan sebutan Alas Kemuning. Di awal awal dibangunnya masjid ini, masyarakat setempat tidak menyebutnya masjid namun menyebut bangunan ini sebagai Omah Gede atau Rumah Besar karena bentuknya yang berupa sebuah bangunan berukuran besar. Masyatakat setempat kala itu merasa heran karena bangunan masjid ini disebut sebut berdiri secara tiba tiba ditengah hutan.

Masjid Sunan Bonang
Bonang, Lasem, Kabupaten Rembang
Jawa Tengah 59271. Indonesia


Bisa jadi karena memang sunan Bonang kala itu tinggal menyendiri di tengah hutan dan jauh dari masyarakat sekitar, sehingga tidak ada masyarakat yang mengetahui proses pembangunan masjid ini sampai kemudian mereka menemukan atau melihat bangunan tersebut pada saat sudah jadi, rampung atau sudah selesai sehingga terkesan terjadi dengan tiba tiba.

Dengan berdiriya sebuah masjid yang mereka sebut sebagai Omah Gede secara tiba tiba itu mereka menganggap terjadi karena karena kekramatan seorang wali kekasih Allah, menjadikan masyarakat sekitar menjadi heran, sebab dipandang sebagai kejadian yang aneh, sehingga masyarakat Bonang sangat ingin datang untuk melihat adanya masjid tersebut.

Namun demikian cerita tutur yang berkembang menyebutkan bahwa Sunan Bonang membangun masjid ini dalam waktu satu malam dan kekramatan beliau sehingga begitu banyak yang datang belajar dan berguru kepada beliau baik dari bangsa manusia maupun bangsa Jin.

Kala itu Sunan Bonang termasuk orang yang dituakan, sehingga rakyat disitu sangat tunduk dan menghormati akan kepribadian Kanjeng Sunan Bonang. Kesempatan yang baik itu beliau gunakan untuk bertabligh dan mengajarkan tentang maksud agama Islam. Mulai saat itulah para santri-santri berdatangan, baik mereka yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur atau Jawa Barat untuk berguru dan menimba ilmu dari Sunan Bonang.

Makam Sunan Bonang di Desa Bonang, Lasem

Keterbatasan sumber sumber tertulis terkait sejarah masjid ini, sehingga sampai saat ini belum diketahui dengan pasti tentang tarikh pendirian masjid ini. Sebagian besar sumber sejarah masjid ini beserta sejarah Sunan Bonang di Lasem berupa kisah tutur yang disampaikan turun temurun dari generasi ke generasi.

Makam Mbah Jejeruk

Masjid Sunan Bonang di Desa Bonang ini dipercaya sebagai masjid pertama yang dibuat oleh Sunan Bonang setelah beliau mendapatkan kewaliannya. Dari sekian banyak murid murid beliau yang datang dari berbagai penjuru Nusantara, salah satunya adalah Sultan Machmud, Raja Minangkabau (di provinsi Sumatera Barat) belajar agama di masjid ini, sampai beliau wafat. Oleh masyarakat Bonang, Sultan Machmud dimakamkan di daerahnya. Sekarang, makam itu lebih dikenal dengan sebutan makam Mbah Jejeruk.

Masjid Keramat

Masjid Sunan Bonang di kecamatan Lasem ini sudah beberapa kali dipugar, namun demikian sisa-sisa kekeramatannya masih terlihat. Sumur yang ada di samping masjid, dikabarkan masih asli. Di dekat masjid itupun ada makam yang dipercaya sebagai makam Mbah Sarido, imam masjid tersebut beserta keluarganya.

Menurut cerita, keangkeran masjid ini dapat dirasakan oleh sejumlah penduduk, sehingga tidak ada yang berani berbuat seenaknya sendiri. Kabarnya, seorang jemaah masjid pernah tidur di dalam masjid ini. Namun, ketika ia bangun, ia sudah berada di dekat salah satu makam yang ada di samping masjid. Berdasarkan penuturan masyarakat, jemaah masjid ini bukan hanya kalangan manusia. Konon, banyak pula bangsa jin yang menjalankan ibadahnya di masjid Sunan Bonang. Agaknya, mereka pun ingin mendapatkan karomah dari masjid ini.

Masjid Sunan Bonang

Menurut keterangan juru kunci makam Sunan Bonang, masjid ini memiliki dua bagian. Serambi depan direhab dengan arsitektur modern, untuk menampung jumlah jama'ah. Sedangkan bagian utama tetap dibiarkan asli tanpa perubahan. Namun tetap dirawat secara teratur.

Mimbar di Teras Masjid

Di teras masjid Sunan Bonang di Lasem, terdapat sebuah mimbar berukuran cukup besar dari kayu jati dan berukir indah. Menurut cerita, mimbar ini merupakan sumbangan dari seorang donator dari kabupaten Jepara untuk menggantikan mimbar lama di masjid Sunan Bonang.

Namun (masih menurut cerita) meskipun telah di ukur sedemikan rupa pada saat pembuatannya, dan di ukur berulang kali pada saat akan ditempatkan di tempatnya, mimbar baru ini ternyata tidak bisa masuk ke lokasinya di samping mihrab di dalam Masjid Sunan Bonang, itu sebabnya hingga kini mimbar baru tersebut diletakkan di teras masjid.

Mengenal Sunan Bonang

Nama lengkap Sunan Bonang adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim beliau adalah putra dari Raden Rochmat (Sunan Ampel) dengan Ny. Ageng Manila (Dewi Tjondrowati) putri dari Raden Arya Tedja, salah satu tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban. Raden Makdum Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 1465 M.

Raden Maulana Makdum Ibrahim sudah dikirim ayahnya untuk belajar ke Mesir sampai beliau berusia dewasa dan kembali ke tanah air. Beliau kemudian mengabdikan ilmunya di pondok pesantren yang dipimpin oleh ayahnya. Sampai kemudian beliau memulai memulai kehidupan baru dengan membuka hutan belantara Alas Kemuning yang kini dikenal dengan nama Desa Bonang.

Masjid Sunan Bonang

Di Alas Kemuning beliau membina pengajaran Islam kepada masyarakat setempat sampai kemudian nama beliau dikenal hingga ke berbagai daerah, santri berdatangan untuk berguru kepada beliau. Disebutkan juga bahwa beliau juga pernah belajara agama di kerajaan Samudera pasai di masa kejayaan Majapahit, itu sebabnya beliau juga dikenal sebagai tokoh yang mulai memasukkan pengaruh Islam di kalangan bangsawan Majapahit.

Raden Ibrahim Sunan Bonang menjadi Muballigh dan Imam di wilayah pesisir sebelah utara, mulai dari Lasem sampai Tuban. Disanalah Sunan Bonang mendirikan pondok-pondok sebagai tempat penggemblengan para santri dan muridnya. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Sunan Bonang tidak menikah sampai beliau wafat, tetapi dalam riwayat lain menyebutkan bahwa R. Ibrahim Sunan Bonang menikah dengan Dewi Hirah putri dari R. Jaka Kandar serta mempunyai keturunan satu yang bernama Dewi Rukhil.

Dewi Rukhil menikah dengan Sunan Kudus Ja’far Shodiq. Dari pernikahan Ja’far Shodiq dengan Dewi Rukhil binti Sunan Bonang lahirlah R. Amir Khasan yang wafat di Karimunjawa dalam status jejaka. Raden Maulana Makdum Ibrahim Sunan Bonang wafat tahun 1525M, dalam usia kurang lebih 60 tahun, dimakamkan di rumah kediaman beliau (Ndalem) di desa Bonang Lasem. Setengah riwayat menyebutkan bahwa makam beliau terletak di Tuban, ada pula yang mengatakan di Madura.

Referensi


Baca Juga


Saturday, September 16, 2017

MASJID RAYA BAYUR, KABUPATEN AGAM

Masjid Raya Bayur (by IG | @een_optimo)

Masjid Raya Bayur adalah salah satu masjid tua di sekitar Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Masjid yang dibangun pada awal abad ke-20 ini berlokasi tidak begitu jauh dari jalan raya yang menghubungkan Kota Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam, dengan Kota Bukittinggi.
.
Masjid Raya Bayur memiliki beberapa keunikan yang khas seperti kubah persegi empat di tengah atap bangunan utama, empat menara di setiap sudut kubah utama, dan kubah kecil persegi empat di atas mihrab.
.
Dinding masjid dilapisi papan berukir yang disapu nuansa gelap. Tang-tiang penyangga masjid yang terbuat dari tembok dihiasi warna lembut sehingga sangat serasi dengan dinding masjid.
.
Masjid Raya Bayur
Jorong Kapolo, Koto Nagari Bayua
Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam
Sumatera Barat, Indonesia



Renovasi Masjid Raya Bayur

Bentuk masjid ini sedikit banyak telah mengalami perubahan hingga menjadi seperti yang tampak saat ini. Pada awal tahun 2000, masyarakat setempat berupaya merenovasinya secara menyeluruh. Partisipasi para tokoh masyarakat dari Kenagarian Bayur dan warga di tanah rantau membuat renovasi masjid dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, dan diresmikan pada tanggal 8 September 2004

Renovasi meliputi perbaikan bangunan dan penataan lingkungan masjid, seperti pembenahan ruang terbuka, area parkir, dan taman masjid. Hal ini dilakukan agar lingkungan masjid tampak lebih asri. Renovasi terahir Masjid Raya Bayur ini ditangani oleh Arsitek Ir. Hendri Tanjung.
  
Pascarenovasi, masjid ini tampak indah dengan perpaduan gaya arsitektur pagoda Thailand dan gonjong rumah gadang khas Minangkabau. Hal tersebut dapat dilihat pada menara kecil di empat sudut atap bangunan utama. Struktur atap dirancang mengikuti pola bangunan rumah panggung dengan atap bersusun tiga yang menjadi ciri khas bangunan masjid Nusantara zaman dahulu.

Masjid Raya Bayur di Malam Hari (foto minangtourism.com)

Masjid Raya Bayur memiliki beberapa keunikan yang khas seperti kubah persegi empat di tengah atap bangunan utama, empat menara di setiap sudut kubah utama, dan kubah kecil persegi empat di atas mihrab. Dinding masjid dilapisi papan berukir yang disapu nuansa gelap. Tang-tiang penyangga masjid yang terbuat dari tembok dihiasi warna lembut sehingga sangat serasi dengan dinding masjid.

Ketika kaki melangkah memasuki area masjid, tampak air mancur terus memancar. Melangkah ke belakang masjid, terdapat kolam ikan yang tertata rapi. Di kiri-kanan kolam ikan tersebut terdapat tempat wudhu. Keseluruhan luas bangunan masjid ini adalah 2.260 meter persegi dengan daya tampung Jemaah sekitar 1000 orang.

Di sebelah utara masjid terdapat sebuah pondok pesantren tua. Santri- santrinya selalu meramaikan masjid dengan berbagai kegiatan, mulai dari belajar berceramah, khotbah, hingga tata cara shalat jenazah. Tak dimungkiri, para santri tersebut menyemarakkan masjid yang menjadi sentra pengembangan ajaran Islam di Kenagarian Bayur ini.

Referensi



Sunday, September 10, 2017

Masjid Agung Akçakoca Turki

Masjid Agung Akcakoca 

Turki dikenal luas di dunia internasional sebagai Negara yang pernah menjadi pusat Pemerintahan Emperium Usmaniyah (Turki Usmani / otoman) dan wilayahnya menguasai lebih dari separo dunia. Sebagai Negara yang pernah menjadi ibukota kekhalifahan Islam, Turki dikenal dengan masjid masjidnya yang megah.

Masjid merupakan fitur yang lekat dengan Turki, dan Negara ini juga memiliki ciri khas tersendiri dalam seni bina bangunan masjidnya yang dikenal dengan gaya bangunan masjid Usmaniyah, ditandai dengan bangunan masjid yang tinggi besar, kubah setengah lingkaran berukuran besar di atap masjid dan menara menaranya yang lancip tinggi menjulang.

Alamat Masjid Akçakoca
Yalı Mahallesi, Plaj Sk. 1a,
81650 Akçakoca/Düzce, Turki




Selain masjid masjid bergaya Usmaniyah, Turki juga memiliki ciri khas masjid Seljuk yang merupakan nenek moyangnya orang Turki, Masjid Seljuk tidak jauh berbeda dengan Masjid Dinasti Usmaniyah hanya saja atap masjidnya tidak selalu berkubah besar, namun tetap dengan menara menaranya yang menjulang.

Masjid Agung Akçakoca Yang Aneh

Masjid masjid Turki yang dibangun di era modern pun tetap dengan mempertahankan ciri ciri tersebut baik masjid yang dibangun di dalam negeri Turki maupun masjid masjid yang dibangun oleh pemerintah Turki di berbagai negara lainnya. Dari sekian banyak masjid tersebut ada satu masjid yang menarik perhatian warga Turki karena dibangun tidak seperti biasanya yakni Masjid Agung di Kota Akçakoca.

Masjid Agung di Kota Akçakoca, Republik Turki ini menjadi daya tarik tersendiri di dalam negeri Turki maupun bagi wisatawan asing, karena bentuk bangunannya yang tidak mengikuti lazimnya arsitektur masjid di Turki. Dan dengan sendirinya rancangan bangunan masjid ini terbilang aneh bagi kebanyakan orang Turki.

Masjid di kota Akçakoca justru memadupadankan seni bina bangunan masjid dari bentuk tenda Otok Turki, dengan bentuk oktagonal yang digunakan oleh Bangsa Seljuk di masa lampau. Sementara interiornya didekorasi dengan kaca patri, kubah dan rangka atapnya menggunakan beton yang keseluruhannya mencapai berat 32 ton.
.
Interior Masjid Agung Akcakoca

Masjid dengan arsitektur kontemporernya, ini dibangun tahun 1989 dan dibuka untuk umum tahun 2004 yang lalu. Tinggi kubahnya mencapai 31 m dan tinggi menara adalah 58 m. Masjid ini dirancang oleh arsitek Ergun Subaşı dilengkapi dengan sepasang menara kembar mengapit bangunan utamanya.

Atap masjid ini dibangun dengan bentuk lancip bersudut octagonal, arsitekturnya ditangani oleh Ergün Subaşı, yang memang terinspirasi dari bentuk tenda bangsa Seljuk di masa lalu. Struktur atap masjid ini berdiri diatas 8 beton bertulang dilengkapi dengan menara masing masing setinggi 31 meter. Berat atap masjid ini keseluruhan disebut sebut mencapai 32 ton dan atapnya dilapis dengan tembaga.

Rancang bangun masjid seperti ini sampai saat ini masih merupakan satu satunya di Turki, wajar bila kemudian begitu menarik perhatian warga Turki sendiri yang berkunjung ke kota tersebut. Cerita menarik dari imam masjid ini bahwa dari sekian banyak pengunjung masjid ini datang karena penasaran dengan bentuknya yang tak lazim.

Dan menurut beliau dari beberapa pengunjung tersebut ada yang mengaku sudah begitu lama tidak ke masjid dan baru masuk masjid lagi setelah melihat masjid tersebut sekaligus melaksanakan sholat di dalamnya. Maklumlah, Turki sendiri secara politik sejak runtuhnya ke-khalifahan di era 1920-an, menganut system politik sekuler.

Sebegitu penarasannya orang Turki dengan masjid yang katanya aneh dan tak lazim itu, tampaknya cukup layak untuk dimasukkan ke dalam ittenary list bila anda sedang berkunjung kesana. Jangan lupa ajak ajak saya ya. He he he.

Referensi



Saturday, September 2, 2017

Masjid Selimiye Edirne, Turki

Masjid Selimiye, Edirne, Turki (foto dari mujgan istanbul di panoramio)

Masjid Selimiye atau dalam Turki disebut dengan Selimiye Camii dan dalam Bahasa Arab disebut dengan Jami’ Salimiyah, adalah masjid bersejarah peninggalan emperium Usmaniyah (Turki Usmani) di kota Edirne. Masjid ini dibangun atas perintah Sultan Selim II karenanya dinamai Masjid Selimiye. Pembangunannya dilaksanakan antara tahun 1568 sampai 1574 dan dirancang oleh arsitek Mimar Sinan.

Masjid Selimiye merupakan salah satu dari mahakarrya Mimar Sinan yang dikenal sebagai arsitek terbesar emperium Usmaniyah. Bangunan masjid ini pernah dikonservasi tahun 1954-1971 dan masih berfungsi hingga hari. Sebagai sebuah mahakarya masjid ini diabdikan dalam lembaran uang kertas pecahan 10.000 lira Turki lira dari 1982-1995. Komplek Masjid Selimiye ini juga telah didaftarkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2011.

Keseluruhan komplek masjid ini seperti komplek masjid masjid Turki lainnya disebut sebagai Külliye, semacam Islamic Center, terdiri dari bangunan masjid sebagai pusatnya di dukung dengan bangunan bangunan lainnya termasuk kompleks madrasah, perpustakaan, rumah sakit, dan Hamam (pemandian umum khas Turki). Ditambah lagi dengan Pusat pengkajian dan pembelajaran Hadist, kantor pengurus dan pengelola serta jejeran pertokoan.



Karya Monumental Mimar Sinan

Karya Mimar Sinan memang dikenal luas sebagai ciri khas dari masjid masjid dari era Emperium Usmaniyah dengan ciri yang sangat kental dan langsung dapat dikenali dari bentuk dan bentuk bangunan masjidnya. Hampir keseluruhan masjid masjid besar dari era ini ditandai dengan bangunan masjid yang tinggi besar, kubah berukuran besar mendominasi atap bangunan masjid dan menara yang ramping menjulang tinggi dan runcing seperti sebatang pensil.

Kubah Masjid Selimiye ini dirancang dengan bentuk kubah bertingkat tingkat, kubah utama ditopang oleh beberapa bangun semi kubah. Kubah utama masjid ini setinggi 43,24 meter dengan diameter 32,25 meter, sedangkan beratnya mencapai 2000 ton. Struktur atapnya yang bertingkat tingkat ini, dari luar tampak seakan berdinding berlapis lapis dengan beberapa penopang dinding berukuran besar disetiap sisi dan sudut bangunan. Dibagian atas nya diletakkan kubah berukuran lebih kecil. Struktur ini sebenarnya adalah struktur penyanggah atap masjid, struktur dindingnya yang tampak berlapis dibangun dengan keperluan untuk menahan beban 2000 ton struktur atap betonnya.

Begitupun dengan lengkungan lengkunan besar yang tampak baik dari luar maupun dari dalam masjid juga merupakan struktur penyanggah atap, semacam tiang gantung untuk menahan beban struktur diatasnya. Di setiap sisi bawah lengkungan besar tersebut ditempatkan jendela jendela kaca berukuran besar selain sebagai sumber cahaya dan keindahan namun juga berfungsi untuk mengesankan ruangan yang lebih besar dari aslinya. Total keseluruhan ada 384 Jendela di masjid ini sehingga, pencahayaan di masjid Selimiye ini disebut sebut lebih baik dibandingkan dengan di (masjid) Hagia Sophia dan Masjid Sulaymaniye.

Masjid Selimiye, Edirne, Turki (foto ahmet sertturk di panoramio)

Menara dan Pelataran

Masjid Selimiye memiliki empat menara tinggi yang dibuat begitu ramping menjulang seakan menusuk langit. Menara menara ini pada masanya memang digunakan sebagai tempat muazin mengumandangkan azan dari balkoni yang sengaja dibangun untuk keperluan itu. Dimasa kini hal tersebut sudah digantikan dengan sistem tata suara elektronik sehingga muazin tidak lagi perlu memanjat menara saat akan mengumandangkan azan.

Masjid Selimiye memiliki pelataran tengah yang terbuka yang berada di lingkungan masjid dikelilingi serangkaian koridor beratap kubah kubah berukuran kecil, area ini juga merupakan area sholat tambahan pada saat ruang sholat di dalam masjid sudah tidak dapat menampung keseluruhan Jemaah.

Bila di tanah jawa pelataran tengah ini semacam alun alun, namun alun alun memiliki multi fungsi sedangkan area pelataran di masjid ini hanya untuk keperluan peribadatan, meski diluar waktu sholat memang kerap kali digunakan oleh para Jemaah untuk bersantai di ruang terbuka.

Interior Masjid Selimiye

Area pelataran tengah di dominasi oleh bentuk bentuk lengkungan yang menghubungkan antar pilar pilar beton dan pilar pilar batu pualam. Corak warna batu lengkungannya belang belang mengingatkan pada pola yang sama di istana Alhambra dan Cordoba di Spayol yang dibangun pada masa Abasiyah. Corak demikian juga dapat ditemukan di Masjidil Haram yang pada masanya memang pernah berada di bawah kekuasaan Emperium Usmaniyah . Corak demikian itu kemudian menyebar keseantero masjid di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia.

Hampir setiap detil bangunan masjid ini ditangani dengan cermat, begitu banyak profil dari batu batu alam yang digunakan untuk memperindah masjid ini, bahkan sekujur empat badan menaranya di hais dengan batu alam berprofil hingga ke ujung menara.

Mimar Sinan menyelaraskan dengan apik setiap transisi pertemuan antar struktur dengan seni Muqornas berupa ukiran batu alam berbentuk stalaktit (bantu menggantung) dengan denah sarang lebah, butuh ketelitian yang kesabaran yang tinggi dalam proses pembuatan semua karya seni tersebut pada zaman dimana proses pertukangan maupun manufaktur dengan teknologi permesinan belum secanggih saat ini.

Aerial view Masjid Selimiye

Kubah utama masjid yang berukuran besar di atapnya itu menghasilkan ruang utama di bawahnya di dalam masjid, sedangkan bangun semi kubah yang berada dibawah kubah utama menghasilkan ruang ruang ceruk berukuran besar di ke empat sisi di dalam masjid, salah satu cerukan itu kemudian di-olah sedemikian rupa untuk difungsikan sebagai mihrab. Sisi yang berseberangan menjadi tempat pintu utama sedangkan dua sisi di kiri dan kanan menjadi pintu samping.

Mihrab, Mimbar dan Mahfil

Mihrab di masjid ini dibangun seperti sebuah gapura paduraksa berukuran besar yang menempel ke tembok, dibuat dari bahan batu berukir, ruang mihrabnya berupa cerukan ke dalam tembok dengan dua bentuk pilar di sisi kiri dan kanannya. Mimbarnya dibangun cukup tinggi sebagai tempat khatib menyampaikan kutbah, lokasinya tidak disamping mihrab tapi justru berada agak ke tengah di samping pilar besar sebelah kanan.

Di depan mimbar ini tepat dibawah kubah utama, dibangun satu tempat khusus berupa panggung berukir sebagai tempat muazin meneruskan suara imam agar terdengar oleh seluruh Jemaah. Jangan lupa pada masa itu belum ada perangkat pengeras suara. Tempat ini dalam Bahasa Turki disebut Mahfill.

Referensi


Baca Juga