Sunday, July 23, 2017

Masjid Manoa Satu Satunya di Hawaii (Bagian 2)

Hanya ornamen di bagian atap dan pagar serta lengkungan di terasnya yang sedikit memberikan perbedaan antara bangunan Masjid di Manoa ini dengan bangunan lain disekitarnya.

“Pembelian” Masjid di Manoa

Para anggota pendiri organisasi ini berupaya mempromosikan penggalanangan dana bagi pembukaan sebuah Islamic Center di Hawaii. Merujuk kepada penulis di Star Bulletin, Nadine W. Scott, James Abdullah Roushey mulai bertemu dengan Pangeran Abdulaziz Bin Fahad Al-Faisal dari Saudi Arabia dengan hasil yang cukup menggembirakan.

Pangeran Abdulaziz Bin Fahad Al-Faisal tidak saja siap membantu untuk pembangunan masjid namun juga membangun gedung pusat pendidikan dan kebudayaan, rumah makan, pertokoan dalam sebuah komplek pusat ke-Islaman (January 12, 1979).

Meskipun dalam perjanjian disebutkan bahwa Pangeran Abdulaziz Bin Fahad Al-Faisal mengambil tanggung jawab untuk pembangunan tersebut dengan pembentukan badan usaha Saudi Arabia namun demikian dalam pelaksanaannya hanya disebut sebagai hamba Allah yang menyumbangkan dana untuk pembangunan masjid dan komplek pemakaman muslim di Hawaii. Pendonor dari Saudi Arabia tersebut memang meminta tidak disebutkan namanya meskpun diketahui seringkali berkunjung ke Masjid manoa setiap melakukan perjalanan bisnis ke Hawaii.

Masjid Manoa dibangun antara tahun 1979 dan 1980. Pemilihan lokasi masjid ini salah satunya adalah karena kedekatannya dengan University of Hawaii dan merujuk kepada penjelesan Farook Wang. Alasan lainnya adalah bahwa sebagian dari bangunan yang dibeli dapat disewakan untuk membantu pemasukan keuangan masjid.

Masjid Manoa lebih dekat.

Dari sisi arsitektur, Masjid di Manoa ini memang sama sekali tidak mirip dengan bangunan masjid seperti yang kita kenal, karena memang bukanlah bangunan masjid yang dibangun dari awal untuk sebuah masjid, melainkan sebuah bangunan megah yang dibeli oleh muslim Hawaii dan kemudian di alihfungsi sebagai masjid tanpa merombak struktur luar bangunannya. Itu sebabnya, tak ada aksen Islam yang tercermin dari bangunan itu.

Berdirinya The Muslim Association of Hawaii

Pada tanggal 28 April 1983, Makhdoom Shah menjalin kerjasama antara the Hawaii's Muslim community dan Muslim di kemiliteran dengan mengangkat PFC Tyrone James (Abdul Shakur Ali) yang meruopakan Schofield Barracks sebagai Penanggung Jawab Muslim di dinas kemiliteran.

Organisasi Muslim Student Association dengan sukarela dibubarkan pada tanggal 30 November 1990 karena tak memenuhi syarat untuk pendaftaran ulang di Hawaii's Business Registration Division. (Hawaii State Archives/Government Records Collection Hawaii Corporations (Dissolved) Case Files [series 158] Muslim Students Association of Hawaii, Inc., File no. 40625D2 [1990 MFL 81]).

Selanjutnya dibentuk organsasi The Muslim Association of Hawaii (MAH) yang dibentuk pada 4 February 1997. Para pengurusnya terdiri dari Nizar Hassan, Nafez Hasan, Ather Dar, Anwar Kazi and dan Lionel E. Price.

Di Hawaii Orang Muslim bertambah 3 orang tiap Bulan

Laporan media lokal di bulan November 2001 menyebutkan bahwa “berislam kini sedang menjadi tren baru di kalangan mahasiswa dan masyarakat Hawaii”. Hakim Ouansafi, presiden Muslim Association of Hawaii, menyatakan, mualaf di Hawai bertambah paling sedikit tiga orang perbulan.

Kebanyakan mualaf, kata dia, adalah perempuan. Jika rasio nasional antara mualaf pria dengan wanita adalah 1 : 4, maka rasio mualaf pria-wanita di Hawaii adalah 1 : 2. Kebanyakan dari mereka, terutama yang di Honolulu, adalah keturunan Afrika-Amerika. ”Beberapa di antaranya menemukan Allah saat mereka dalam proses penyembuhan dari ketergantungan terhadap obat-obatan dan alcohol.

Di wilayah West Coast lain lagi. Beberapa orang mualaf adalah anggota militer. Bila di Honolulu para mualaf itu sebelumnya mengaku tak beragama, maka di wilayah West Coast, umumnya mereka sebelum berislam adalah penganut suatu agama.

Interior Masjidnya sederhana namun lengkap dengan mihrab dan mimbarnya.

Cromwell Crawford, pimpinan Departemen Agama di University of Hawaii-Manoa, mempunyai penjelasan mengenai tren pindah agama di Hawaii ini. Menurut dia, efek dari Tragedi 11 September terhadap psikologis bangsa adalah, seluruh warga jadi memperhatikan tentang kefanaan hidup ini. ”Mood pun jadi berubah, para lajang mencari ikatan, keluarga menjadi semakin erat, dan orang kembali mencari pegangan agama,”

Tak hanya Islam yang diuntungkan dengan kondisi ini, kata dia, agama lain juga. ”Mereka yang semula tak beragama, kini mencari pegangan agama.” Mengapa kebanyakan wanita? ”Dalam mengekspresikan mood ini, wanita lebih mendalam ketimbang pria,”.

Penyusunan Sejarah Islam di Hawaii

Sejarah Islam di Hawaii dikumpulkan lagi oleh Mona Darwich, dosen senior di University of Hawaii, dalam tesisnya yang berjudul Inside and Outside the Mosque: Oral Histories of Hawaii’s Muslims. Dia menuliskan tesisnya setelah mengumpulkan banyak bahan pustaka dan mewawancarai 33 orang nara sumber. Ia juga mendokumentasikan puluhan pemuda yang tengah belajar Islam dan memfilmkan kisah Achmed Djuneid, seorang remaja Muslim di Hawaii.

Wawancara juga dilakukannya melalui email para mahasiswa yang dulu mendirikan organisasi Muslim Hawaii sudah kembali ke negaranya masing-masing. Dua di antaranya adalah Dr Makhdoom Shah, asal Kuwait dan Dr Pramudita Anggraita, asal Indonesia.***(habis)

Referensi

the.honoluluadvertiser.com - More in Hawai'i turn to Islam
hawaiifreepress.com  - Kona Mosque Plan Questioned
lilyardas.wordpress.com  - Komunitas Muslim di Hawaii Hanya Ada 1 Masjid


Saturday, July 22, 2017

Masjid Manoa Satu Satunya di Hawaii (Bagian 1)

Masjid di Manoa, Hawaii, tidak mirip masjid ?. tentu saja karena memang bangunan ini merupakan gedung yang dibeli oleh asosiasi muslim Hawaii dan kemudian di jadikan masjid tanpa mengubah bentuk aslinya.

Hawaii adalah negara bagian Amerika yang ke-50. Terletak di area tropis di tengah-tengah Samudra Pasifik, Hawaiii berpenduduk lebih kurang 1,200,000 jiwa dengan komposisi penduduk ras Asia (Jepang, China, Filipina dan Vietnam) sebanyak 42%, sementara kulit putih sebanyak 27% dan warga asli Hawaii hanya 10%. Sisanya merupakan bangsa lain seperti Timur Tengah dan ras kulit hitam, termasuk diantaranya mengaku memiliki dua atau lebih ras, hasil pernikahan antar ras di Hawaii sejak masa lampau. Dari total penduduk Hawaii, diperkirakan terdapat lebih kurang 3,000 orang Muslim di Hawaii.

Masjid Manoa merupakan satu-satunya masjid yang ada di Hawaii dikelola oleh Muslim Association of Hawaii (MAH). Lokasinya berada di pulau Oahu, pulau tempat kota Honolulu berada. Saat ini beberapa warga muslim di pulau-pulau lain sedang menjajaki upaya untuk membangun Masjid untuk komunitas Muslim di sana. Bangunan masjid yang tidak seperti bangunan masjid yang biasa kita kenal ini memiliki sejarah yang cukup panjang dan cukup menarik bahwa dalam proses kelahiran masjid dan organisasi Islam di Hawaii ini ada peran serta muslim dari negara negara asia termasuk dari Indonesia.

Muslim Association of Hawaii
1935 Aleo Pl, Honolulu, HI 96822
situs resmi : www.iio.org
Telepon : +1 808-947-6263



Berdirinya Asosiasi Muslim Hawai

Asosiasi Muslim Hawai atau Muslim Association of Hawaii (MAH), sebelumnya dikenal dengan nama Asosiasi Mahasiswa Muslim Hawai atau The Muslim Student Association (MAS), sudah memulai aktivitas mereka di Hawai sejak lebih dari 30 tahun yang lalu.

The Muslim Student Association (MSA) merupakan organisasi yang dibentuk oleh sekelompok mahasiswa muslim di University of Hawaii di Manoa, para mahasiswa muslim ini berasal dari berbagai Negara seperti India, Pakistan, Afghanistan, Indonesia, Malaysia dan dari negara negara Timur Tengah.

Secara tidak resmi Organisasi tersebut sudah eksis sejak tahun 1968, merujuk kepada the Honolulu Advertiser (10/23/1973 ). Pada masa itu muslim Hawai menyelenggarakan sholat berjamaah di seuah cottage di kawasan East West Center sebelum kemudian berdirinya Masjid di Manoa.

Seperti bangunan tempat tinggal biasa dan seperti kebanyakan bangunan di pulau Hawaii, hanya interiornya saja yang disesuaikan sebagai ruangan masjid. Bangunan masjid di Manoa ini menjadi satu satunya masjid di Hawaii sampai saat ini.

Pada tanggal 23 Juli 1979 The Muslim Students' Association of Hawaii, secara resmi menjadi organisasi muslim pertama yang mewakili muslim di Hawai. Sekitar 90% anggota organisasi ini tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa, namun demikian merujuk kepada Makhdoom Shah pimpinan organisasi ini saat itu, nama organisasi ini tetap dengan nama lamanya karena pada dasarnya setiap muslim diperintahkan untuk senantiasa belajar sepanjang hidupnya. (Honolulu Star Bulletin, 09/11/79: E14).

Peran Muslim Asia dan Indonesia

Sebagaimana dinyatakan di dalam draf anggaran dasar pertamanya, disebutkan bahwa organisasi ini didirikan oleh: Najibullah Lafraie, James Abdullah Raushy, Saad Abdul Rahim (Haji Saad Abdul Rahim Shih Ming Wang), Abdul Haq, Makhdoom Shah, Nasir A. Saidy, Mohammad Yusuf Popal, Mohammad Bilal Farooq, Mohammad Haniff, Pramudita Anggraita, Hussain Haikal Latif, Abdul Zainal, M. Asad Khan, Nazir Ahmad, Mohammad Ashraf dan Zamir Uddin. (tentunya dengan mudah anda menemukan nama muslim Indonesia dari deretan nama tersebut.

Pada tahap awal The Muslim Student Association of Hawaii berkantor di P.O. Box 2028, 1777 East-West Road, Honolulu, Hawaii 96848 as of July 23, 1979. (Hawaii State Archives/Government Records Collection Hawaii Corporations (Dissolved) Case Files [series 158] Muslim Students Association of Hawaii, Inc., File no. 40625D2 [1990 MFL 81]).

Haji Saad Abdul Rahim Shih Ming Wang pada saat itu merupakan Imam dan pimpinan spiritual Muslim Hawaii pertama adalah pria kelahiran Cina, pensiunan diplomat karir yang sebelumnya bertugas di Arab Saudi dan Kuwait, lulusan Universitas Al Azhar Kairo. Dari deretan nama di atas anda terdapat mahasiswa Indonesia, Pramudita Anggraita, yang dikemudian hari kembali ke tanah air dan menjabat sebagai Deputi Bidang Penelitian Dasar dan terapan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).***

Bersambung ke Bagian 2

Sunday, July 16, 2017

Masjid Shat ̣Gombuj, Tertua di Bangladesh

Masjid Shat Gombuj di Bangladesh disebut sebut sebagai Masjid paling Impresif dari era negara itu masih sebagai bagian kesultanan Tughlaq.

Nama masjid tua bersejarah di Bangladesh ini memang sedikit membingungkan. Orang Bangladesh menyebutnya 'Shat Gombuj Masjid' yang berarti Masjid 60 Kubah, sedangkan kubah masjid ini jumlahnya adalah 81 kubah bukan 60 kubah. Yang berjumlah 60 justru adalah pilar pilar atau tiang tiang yang ada di dalam masjid bukan kubahnya.

Bisa jadi kesimpangsiuran penyebutan nama tersebut karena kesalahan penyebutan oleh masyarakat setempat. Bisa jadi nama masjid ini sebenarnya adalah “Shat Amud Masjid” dari Bahasa arab/parsi yang berarti “Masjid 60 pilar” namun kemudian kata “Amut” terdengar dan dilafalkan “Gombuj” dalam Bahasa Bangladesh yang berarti “kubah” hingga kini.



Masjid Shaṭ Gombuj atau The Sixty Dome Mosque atau Shaṭ Gombuj Moshjid dan lebih dikenal dengan nama Shait Gambuj Mosque atau Saith Gunbad Masjid atau 81 Domes Mosque, adalah masjid tua di Bagerhat, Bangladesh yang sudah terdaftar sebagai cagar budaya dunia UNESCO di tahun 1985.

Masjid ini juga merupakan masjid terbesar di Bangladesh yang pernah dibangun di masa negara itu masih berbentuk Kesultanan dan sekaligus juga merupakan masjid tua bersejarah yang disebut sebut sebagai Bangunan monumental Islam yang paling impresif diseluruh jazirah India.

Masjid Shaṭ Gombuj berada di distrik Bagerhat disebelah selatan Bangladesh di daerah Khulna. sekitar 3 Mill jaraknya dari kota pusat kota Bagerhat. Sedangkan Bagerhat sendiri berjarak sekitar 200 mill dari Dhaka, ibukota negara Bangladesh.

Sejak tahun 1985 Masjid Shat Gombuj ini telah tercatat sebagai situs warisan dunia UNESCO.

Masjid Shat gombuj berukuran panjang 160 kaki, dan lebar 108 kaki sehingga luas area masjid ini mencapai 17280 kaki persegi, dibangun di abad ke 15 masehi atas rancangan arsitek Khan Jahan Ali dengan gaya Tughlaq.

Di pertengahan abad ke 15, Sekelompok kaum muslimin mulai membangun kampung di tengah hutan mangrove di daerah Sundarbans, dekat dengan pantai di distrik Bagerhat dipimpin oleh seorang tokoh muslim yang dikenal dengan nama Khan Jahan Ali.

Beliau menjadi tokoh utama kota tersebut dimasa pemerintan Sultan Nasiruddin Mahmud Shah, yang kemudian dikenal sebagai 'Khalifalabad'. Khan Jahan menghiasai kota yang dibangunnya dengan selusin masjid dan dari sekian banyak masjid tersebut yang diketahui adalah Masjid Shat Gombuj ini.

Masjid Shat Gombuj ini merupakan masjid yang paling terkenal dari era kesultanan tersebut dan diketahui sebagai masjid terbesar dalam ukurannya sekaligus merupakan masjid terbesar dengan kubah banyak pada masanya.

Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1442 dan selesai pada tahun 1459. Selain digunakan sebagai tempat sholat, masjid ini juga digunakan sebagai Madrasah dan ruang pertemuan.

Tembok masjid Masjid Shaṭ Gombuj dibangun tidak biasa karena dibuat begitu tebal seperti layaknya sebuah benteng, batu batanya dibuat tirus yang merupakan ciri khas batu bata di masa Tughlaq. atap masjid ini terdiri dari 77 buah kubah yang dibangun tidak terlalu tinggi, 77 kubah ini terdiri dari 11 baris kubah dalam 7 banjar ditambah lagi dengan kubah di masing masing empat penjuru bangunannya sehingga keseluruhan kubahnya menjadi 81 kubah.

Interior Masjid Shat Gombuj

Dari 81 kubah di atap masjid dan di puncak empat menaranya itulah masjid ini kemudian dikenal sebagai Masjid 81 kubah atau 81 Dome’s Mosque. Meskipun memiliki empat menara, hanya dua dari empat menara tersebut yang (dulu) digunakan sebagai tempat menyuarakan azan.

Bagian dalam masjid ini di domonasi oleh begitu banyak pilar dan lorong yang tercipta diantara pilar pilar tersebut. masing masing pilar bundar dihubungkan dengan lengkungan. Banyaknya pilar dan lengkungan ini yang merupakan penopang struktur atap masjid.

Ada 7 lorong melintang di dalam masjid dan 11 lorong membujur di dalam masjid ini yang tercipta diantara tiang tiang masjid yang terdiri dari 60 pilar pilar bundar dari batu. Dinding masjidnya sendiri sangat tebal mencapai hingga enam kaki dan sedikit tirus membuatnya benar benar seperti sebuah benteng.

Dengan ukurannya yang lumayan besar, masjid ini dilengkapi dengan 11 pintu masuk berlengkungan besar di sisi timur dan masing masing 7 pintu di sisi utara dan selatan yang juga berfungsi sebagai ventilasi udara dan masuknya cahaya ke dalam masjid. Gaya arsitektur masjid ini menampilkan gaya arsitektur masa kekuasaan Tughlaq yang pernah berkuasa di jazirah India dan masjid ini merupakan salah satu warisan dari masa itu.***


Saturday, July 15, 2017

Masjid Islamic Center Santa Ana

The Islamic Center Santa Ana

Dibangun oleh Muslim Champa di Amerika Serikat

Terusir dari kampung halaman dan dari tanah kelahiran, tak memadamkan cahaya Islam dari muslim champa di Santa Ana, California, Amerika Serikat ini. Puluhan tahun lalu mereka dan keluarganya mengungsi ke Amerika Serikat untuk menyelamatkan diri dan kini komunitas muslim Champa ini tetap mempertahankan ke-Islaman mereka dan lebih dari itu mereka mampu menebarkan cahaya Islam kepada komunitas warga Amerika Latin yang juga tinggal di lingkungan mereka.

Kini sebuah Masjid dan Islamic Center sudah berdiri sebagai pusat aktivitas ke-islaman mereka, tidak hanya bagi muslim Champa namun juga di gunakan dan dikelola bersama sama dengan muslim Amerika Latin. Masjid dan Islamic Center ini juga telah menjadi rumah pemersatu bagi Muslim Champa dan Muslim Amerika Latin sekaligus menjadi masjid pertama di wilayah selatan California yang menggunakan Bahasa Spanyol (yang merupakan Bahasa warga Amerika Latin) sebagai salah satu Bahasa pengantar di masjid mereka.

Islamic Center Of Santa Ana
1602-1610 E First St, Santa Ana
CA 92701 Amerika Serikat



Sejarah Muslim Champa di Amerika

Di awal tahun 1980-an gelombang besar pengungsi Kamboja melarikan diri dari negara mereka ke Amerika Serikat untuk menghindari apa yang disebut oleh dunia internasional sebagai “killing fields” atau ladang pembantaian, sebuah pembunuhan masal paling menakutkan dalam sejarah Indocina yang dilakukan oleh rezim komunis Khmer Merah pimpinan Pol Pot.

Banyak dari mereka yang kemudian datang ke Orange County dan tinggal di kawasan Minnie Street di Santa Ana, California, menempati apartemen dengan sewa murah di kawasan tersebut. Di tahun 1982, lima dari pengungsi Kamboja ini membentuk the Indo-Chinese Muslim Refugee Association of the United States (IMRA) bersama dengan beberapa anggota lainnya.

Mereka mengumpulkan berbagai sumberdaya, menyewa sebuah apartemen kecil dan mulai bahu membahu membantu warga muslim Kamboja lainnya yang tinggak di kawasan tersebut. Termasuk memberikan kursus Bahasa inggris gratis, konsultasi gratis serta menjadi penterjemah dadakan bagi para tetangga mereka yang tidak mampu berbahasa Inggris.

Di tahun 1983 mereka menerima dana tunjangan untuk pertama kalinya sebesar $64,000 dari Kantor Federal Urusan Penempatan Pengungsi Amerika Serikat (Federal Office of Refugee Resettlement) untuk tunjangan kerja, dan program tersebut berlanjut baik cakupan maupun nilai nya.

The Islamic Center Santa Ana sebelumnya merupakan bangunan tempat pemulasaran jenazah.

Seiring perjalanan waktu, kebutuhan komunitas pun kemudian ditambahkan ke dalam program tersebut termasuk berbagai macam jenis pelatihan, program selepas jam sekolah bagi remajam pendidikan usia dini hingga ke akses kesehatan dan resolusi trauma.

Beberapa tahun berlalu lembaga yang dibentuk oleh muslim kamboja ini tidak saja semata mata mengurusi warga Kamboja saj, namun juga merambah menangani pengungsi dari wilayah lainnya termasuk dari Vietbam, Laos, Iran, Iraq, Afganistan, Rusia, Ukraina, Bosnia, Ethiopia dan Somalia.

Organisasi ini menjalin kerjasama dan saling dengan para klien serta lembaga lembaga terkait, sejak memulai aktivitas mereka di tahun 1983 hingga saat ini, lembaga tersebut telah menangani penyaluran dana lebih dari $20,000,000 baik dari individu maupun dari public yang digunakan untuk membantu ribuan pengungsi mendapatkan pekerjaan, memperbaiki taraf mereka dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik termasuk program kesehatan, peningkatan pengetahuan, kemampuan keluarga pengungsi.

Lima belas keluarga Muslim Kamboja di Santa Ana pada awalnya menggunakan sebuah ruangan kecil di apartemen sebagai mushola di lingkungan apartemen sewaan tempat tinggal mereka. Komunitas muslim ini kemudian secara pasti terus berkembang seiring dengan bergabungnya para pengungsi Kamboja dari daerah lainnya pindah ke Santa Ana agar dapat hidup berdekatan dengan saudara sedaerah dengan Bahasa, suku, tradisi dan agama yang sama. Dan mushola kecil itupun sudah tak mampu lagi memadai.

Membangun Masjid dan Islamic Center Santa Ana

Masjid dan Islamic Center Santa Ana ini memang tidak mirip sama sekali dengan bangunan masjid yang biasa kita kenal. Harap maklum, karena memang bangunan tersebut dulunya adalah sebuah bangunan tempat pemulasaran jenazah yang kemudian dibeli oleh komunitas Muslim Kamboja dan dirombak menjadi masjid dan pusat ke-Islaman, dan baru di buka sekitar sebulan yang lalu (Juni 2017) dan diberi nama The Islamic Center of Santa Ana (ICSA), dan tidak saja diperuntukkan bagi muslim Champa Kamboja namun juga menjadi rumah bagi Muslim Amerika Latin.

Interior Masjid Islamic Center Santa Ana

35 tahun setelah itu, Komunitas muslim Kamboja ini bersama sama menggalang dana untuk membeli bekas gedung pemulasaran jenazah yang sudah tidak terbengkalai untuk dijadikan masjid. Gedung pemulasaran jenazah yang sudah lama terbengkalai tersebut kemudian di renonasi dan ubah fungsi menjadi masjid dan Islamic Center, seluruh proses renovasi selesai dan mulai digunakan bulan lalu.

Merangkul Warga Latin

Sekitar 78% warga Santa Ana merupakan para imigran dan keturunan Amerika Latin dan sehari hari menggunakan Bahasa Spanyol selain Bahasa Inggris. menyadari hal itu IMRA melaui ICSA melakukan langkah langkah pendekatan kepada lingkungan mereka yang mayoritas berasal dari Amerika Latin tersebut, dan hal tersebut membuahkan hasil.

Seiring berjalannya waktu da’wah yang dilakukan muslim Champa ini telah menarik perhatian warga Latin di Santa Ana, kini menjadi pemandangan biasa di masjid dan di Santa Ana bila ada kegiatan peribadatan ataupun aktivitas sosial terjadi pembauan antara muslim Champa dan muslim Amerika Latin. Bahkan di masjid Islamic Center Santa Ana juga menggunakan Bahasa latin sebagai salah satu Bahasa pengantar dan Bahasa khutbah sholat jum’atnya.

Tidak saja aktivitas peribadatan, ICSA juga mengorganisir beragam aktivitas sosial seperti yang paling populer mengorganisir dapur umum gratis untuk warga sekitar dan mengadakan Taco Trick Iftar, semacam mobil rumah makan bergerak untuk melayani muslim untuk berbuka puasa yang dikelola bersama sama oleh muslim Champa dan Muslim Latin Jemaah Masjid dan ICSA ini.

Pembauran dan persatuan muslim Champa dengan Muslim Latin ini terjadi secara alamiah. Warga Amerika Latin merupakan minoritas di AS, dan muslim Champa yang hidup Santa Ana ditengah tengah warga Latin ini dengan sendirinya menjadi kaum minoritas ditengah minoritas. Dan digunakannya Bahasa Spanyol sebagai Bahasa pengantar di Masjid dan Islamic Center Santa Ana, menjadi magnet tersendiri bagi warga Latin di Santa Ana.***

Referensi

Saturday, July 8, 2017

Masjid Sentral Glasgow, Skotlandia

Masjid Sentral Glasgow, Skotlandia

Masjid Sentral Glasgow atau Glasgow Central Mosque adalah Bangunan Masjid pertama dan terbesar di Skotlandia, Inggris Raya. Berdiri megah di tepian selatan sungai Clyde di distrik Gorbals di dalam wilayah central Glasgow. Masjid ini dibangun tahun 1983 dan dibuka secara resmi untuk umum pada tanggal 8 Mei  1984 oleh Abdullah Abdullah Omar Nasseef, selaku sekretaris Jenderal organisasi Liga Muslim Dunia.

Mayoritas muslim di Glasgow pada era awal merupakan muslim yang berasal dari India dan Pakistan yang kemudian tinggal di Distrik Gorbals yang sebelumnya masuk sebagai para migran ke Skotlandia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, menyusul kemudian kedatangan migran dari Irlandia, komuitas yahudi dan italia yang juga masuk ke Glasgow pada periode yang sama.

Glasgow Central Mosque 
1 Mosque Avenue, Gorbals, Glasgow G5 9TA
United Kingdom+44 141 429 3132 ‎
T: 0141 429 3132
F: 0141 429 7171



Masjid pertama di Glasgow pada mulanya dibangun di Oxford Street di tahun 1944, namun masjid tersebut sudah tidak lagi memadai seiring dengan perkembangan komunitas muslim yang terus bertamah, sampai kemudian dibangun masjid yang refresentatif seperti saat ini atas rancangan dari Coleman Ballantyne Partnership.

Saat ini Masjid Sentral Glasgow dikelola oleh Jamiat Ittihad-ul-Muslimin, Glasgow Central Mosque and The Islamic Centre yang terdaftar sebagai badan amal di skotlandia dengan nomor SC013142.

Masjid Sentral Glasgow berdiri di atas lahan seluas 16000 meter persegi dan diperluas dan dikembangkan dengan penambahan fasilitas Islamic Center yang terhubung langsung dengan bangunan utama masjid. Islamic center ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti fasilitas olahraga dan pendukungnya, ruang pertemuan, perpustakaan, kafetaria serta menyediakan fasilitas pendidikan dan layanan lainnya bagi komunitas muslim disana.

Masjid Sentral Glasgow dengan jembatan tua di sungai clyade di sebelahnya 

Pembangunan masjid ini menghabiskan dana sebesar tiga juta poundseterling. Pelataran masjid dirancang dengan gaya arabia. satu sisi bangunannya dilengkapi dengan dengan taman sedangkan sisi lainnya dilengkapi dengan jejeran fasad dengan jejeran jendela berlengkung.

Pelataran masjid ini menjadi salah satu yang menarik perhatian di masjid ini selain dari menaranya yang menjulang tinggi, dan tentu saja kubah besar di atap utamanya yang dirancang sedemikan rupa sehingga memungkinkan cahaya matahari secara alami menerangi ruang dalam masjid ini di siang hari.

Bangunan masjid ini juga menggunakan kombiasi arsitektur Islam dengan tetap menggunakan karakteristik material batu merah tua sebagaimana banyak digunakan pada bangunan bangunan tua di di Glasgow.

Bulan Sabit di atas masjid Sentral Glasgow

Pintu masuk utama dilengkapi dengan satu lengkungan yang dihias dengan pintu kaca berhiaskan motif flora. Dengan ukurannya yang cukup besar, Masjid Sentral Glasgow mampu menampung Jemaah sebanyak 2500 jemaah sekaligus. termasuk area khusus untuk Jemaah wanita yang mampu menampung hingga 500 jemaah.

Ada tiga imam yang bertugas di masjid ini yakni Imam Abdul-Ghafoor, Imam Habib-ur-Rahman dan Imam Omair Malik. Selain sebagai tempat penyelenggaraan sholat berjamaah, Masjid Sentral Glasgow juga  menyediakan layanan konsultasi Islam dengan tiga imam masjid ini termasuk konsultasi tentang pernikahan, hukum Islam, rumah tangga dan sebagainya.

Interior Masjid Sentral Glasgow

Masjid Sentral Glasgow juga menyelenggarakan pendidikan untuk berbagai kalangan dari berbagai usia, layanan pernikahan secara Islam yang sudah diakui oleh undang undang negara, layanan kunjungan dari anak anak sekolah ke masjid hingga layanan penyelenggaraan jenazah hingga pemakaman.

Khusus untuk menyuarakan azan, pengurus masjid ini menyiarkannya secara langsung melalui sinyal radio UHF sehingga bagi para Jemaah muslim di Glasgow dapat mengetahui waktu sholat melalui gelombang 454.40625 MHz. Selain itu masjid ini juga memiliki ruang serbaguna yang dapat digunakan untuk acara pernikahan dan keperluan lainnya.***


Friday, July 7, 2017

Masjid Madni Bradford Inggris dengan Menara Terindah di Eropa

Masjid Madni di Kota Bradfor, Inggris, terpilih sebagai masjid dengan menara terindah di Eropa pada tahun 2010 yang lalu.

Masjid Madni atau Madni Jamia Masjid atau Madni Mosque adalah salah satu masjid di kota Bradford, Inggris. Lokasi masjid ini berada di jantung komunitas muslim Bradford. Masjid Inggris satu ini dikenal dengan pendekatannya yang unik. Suasana masjid yang penuh kehangatan kepada para pengunjung, dan selalu ada salah satu jemaah atau pengurus yang siap membantu pengunjung ataupun tamu yang datang kesana.

Masjid Madni di kota Bradford ini memang memiliki catatan tersendiri dengan prestasi yang dicapainya di Inggris. Di tahun 2007, masjid Madni terpilih sebagai Model masjid terbaik untuk sistem kerja komunitas masjidnya, menyisihkan lebih dari 1000 masjid yang ada di Inggris Raya. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Islam Channel.

Madni Mosque (Islamic Cultural & Educational Association)
101 Thornbury Rd, Bradford BD3 8SA, Inggris Raya
situs resmi : www.icea.org.uk
Telp: +44 1274 667986



Menara Terindah di Eropa tahun 2010

Selain prestasi sebagai model terbaik untuk kerja komunitas muslimnya, Masjid Madni Bradford ini, di tahun 2010 terpilih sebagai masjid dengan menara terindah di Eropa, mengalahkan 50 masjid pesaing untuk memenangkan gelar "menara Eropa yang paling indah" yang digelar oleh parlemen Eropa.

Empat menara yang terdapat di beberapa masjid telah memenangkan hadiah, termasuk menara masjid di Stockholm, Roma, Oslo dan Granada di Spanyol, kata penyelenggara acara yang diorganisir oleh COJEP internasional, lembaga amal pemuda yang dibentuk oleh para imigran Turki di Perancis, yang juga merupakan mitra OSCE dan Dewan Eropa.

Para juri kompetisi tersebut terdiri dari sebuah "multi konfesional, multi etnis, bahkan jurinya termasuk seorang rabbi Yahudi, seorang teolog Protestan Swiss dan seorang pendeta Anglikan, mereka mengamati ke 53 menara masjid di 13 negara sebelum melakukan pilihan menara masjid mana yang terbaik.

Salah satu dari empat menara Masjid Madni Bradford

Hanya masjid yang berusia di bawah usia 50 tahun yang memenuhi syarat untuk mengikuti kontes tersebut, dan bukan masjid bersejarah, itu sebabnya panitia tidak mengikutsertakan masjid masjid bersejarah di Andalusía, Bosnia atau Paris karena kompetisi tersebut memang berkaitan dengan imigrasi umat Islam ke Eropa dalam kurun kurang dari 50 tahun terahir.

Juri membuat keputusan mereka tidak semata mata atas dasar pertimbangan estetika tetapi juga bagaimana cara menara masjid itu berfungsi yang dibangun di dalam lingkungan perkotaan. dan yang paling menarik adalah bahwa Ide dari kompetisi ini adalah untuk menunjukkan bahwa menara masjid tidak boleh menjadi alasan untuk dicurigai dan ditakuti, sebagaimana disampaikan oleh panitia perhelatan tersebut..

Tentang Masjid Madni

Masjid Madni dibangun tahun 2008 oleh dan untuk komunitas muslim disana yang cukup besar. Bangunannya terdiri dari tiga lantai, pintu utamanya ditempatkan di lantai dasar dan dilengkapi dengan área resepsionis. Ruang sholat utama berada di lantai dasar masjid yang menjadi tempat penyelenggaraan sholat berjamaah setiap hari.

Kubah dan menara Masjid Madni Bradford.

Selain ruang sholat, masjid Madni juga dilengkapi dengan ruan kelas yang digunakan untuk ruang belajar mengajar (madrasah) termasuk kelas untuk dewasa, terdapat juga perpustakaan di lantai dasar ini yang juga diperuntukkan bagi masyarakat umum.

Lantai bawah masjid digunakan untuk aktivitas bagi remaja dan anak anak serta aktivitas lainnya yang membutuhkan ruangan yang cukup besar. ruangan ini juga digunakan untuk aktivitas belajar memanah. di lantai dua ini juga terdapat ruang sholat, ruang kelas dan ruangan khusus untuk penyelenggaraan jenazah.

Sementara lantai atas masjid ini digunakan untuk menampung jemaah sholat jum’at yang tak tertampung di ruang sholat utama di lantai dasar masjid, termasuk untuk penyelenggaraan berbagai acara acara peringatan hari hari besar Islam.***

Sunday, July 2, 2017

Masjid Besar Ainul Yaqin Sunan Giri, Gresik

Masjid Besar Ainul Yakin Sunan Giri dulunya berada di atas bukit Kedaton lalu dipindahkan ke Bukit Giri

Masjid Besar Ainul Yakin Sunan Giri atau biasa disebut Masjid Sunan Giri, terletak di komplek makam Sunan Giri di Bukit Giri, Kelurahan Giri, kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik provinsi Jawa Timur. posisinya hanya beberapa langkah disebelah makam Sunan Giri melewati jalan kecil disamping sejejeran makam makam tua. Untuk sampai ke masjid ini pengunjung akan melewati sebuah lorong yang dikiri kanannya dipenuhi kios kios pedagang menjajakan perlengkapan ibadah, cindera mata, dan barang-barang lainnya.

Kios-kios yang dikelola oleh Paguyuban Pedagang Lorong Masjid Sunan Giri. Semakin siang, semakin ramai peziarah yang berkunjung ke makam dan Masjid Sunan Giri ini, dan lorong ini pun bisa disesaki oleh para peziarah yang berlalu lalang. Makam Sunan Giri telah menjadi salah satu objek wisata rohani yang menarik para wisatawan dari berbagai pelosok tanah air.

Masjid Sunan Giri
Bukit Giri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur 61124
GPS: -7.1691319, 112.6316857.



Butuh sedikit perjuangan untuk mencapai masjid ini. Dari area parkir kendaraan harus menapaki jalan mendaki sejauh kurang lebih satu kilo meter. Cukup melelahkan, bagi mereka yang tidak kuat jalan kaki, tersedia andong (delman) maupun ojek. Memasuki lokasi ada sekitar enam blok pemakaman yang terletak di kiri dan kanan pintu gerbang, juga di sisi tangga menuju masjid.

Sedangkan, makam utama tempat Sunan Giri dimakamkan terletak di areal sebelah kiri masjid. Ada sekitar 300 makam di sekitar kompleks Sunan Giri itu. Bentuk nisannya nyaris sama dan tanpa nama. Terbuat dari batu andesit, yang banyak digunakan pula untuk membuat candi atau arca di zaman kejayaan Hindu dan Budha.

Sejarah Masjid Sunan Giri

Kehadiran masjid ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah penyebaran agama Islam di daerah Gresik, terutama yang dilakukan oleh Raden Paku Ainul Yaqin, salah seorang dari Wali Songo yang bergelar Sunan Giri. Masjid Sunan Giri didirikan pada 1544 atas prakarsa Nyi Ageng Kabunan (cucu Sunan Giri), lantaran setelah Sunan Giri meninggal pada 1506 banyak para peziarah berdatangan ke Makam Sunan Giri, dan para pengikutnya pun berpindah tempat dan tinggal di sekitar Bukit Giri, agar lebih dekat ke makam Sang Sunan.

Masjid Sunan giri jelang waktu magrib

Masjid tersebut sebenarnya adalah bangunan masjid dari komplek pesantren Sunan Giri di Bukit Kedaton yang dibangun tahun 1399 saka, pada saat itu pesantren Sunan Giri di Bukit Kedaton mengalami perkembangan pesat, sehingga kemudian dibangunlah sebuah musolla untuk shalat jamaah serta untuk kegiatan-kegiatan peantren. Tahun 1407 Saka/1481 Miladiyah dipugar dengan memperluas bangunan dan masjid itu dinamakan masjid Jamik.

Pada saat itu Sunan Giri diangkat sebagai penasihat oleh Raden Patah selaku Sultan Demak pertama, sekaligus sebagai ketua dari para wali maka langgar itu kemudian dijadikan masjid Jamik. Meskipun bangunan ini ukurannya relatif kecil namun cukup indah dan artistik penuh ukiran dan kaligrafi huruf arab serta ayat suci Al-Qur’an. Atap masjid terbuat dari sirip kayu, pondasinya terbuat dari batu-batu berukir sampai sekarang tetap dalam keadaan utuh di atas bukit Kedaton.

Setelah 10 tahun sunan Giri wafat, perhatian masyarakat beralih pada makam Sunan Giri, di Bukit Giri, maka terjadilah perpindahan penduduk, mereka banyak bertempat tinggal di Bukit Giri. Melihat hal itu maka tergeraklah hati Nyi Ageng Kabunan (cucu ketiga Sunan Giri yang menjanda) untuk memindahkan masjid dari Bukit Kedaton Kebukit Giri dekat makam Sunan Giri.

Mihrab Masjid Sunan Giri

Pemindahan dilakukan pada tahun 1544 Masehi.  Dalam waktu yang relatif singkat masjid berdiri dengan ukuran 150 m2. Masjid tersebut kemudian berganti nama menjadi Masjid Sunan Giri Ainul Yakin. Berdirinya masjid ini direkam dalam ukiran ber-aksara arab ditempatkan di atas pintu utama masjid. Tulisan tersebut berbunyi “Masjid ini dibangun oleh seorang janda (perempuan) cucu Sunan Giri ketiga pada tahun 684 H atau 1544 M. Tulisan tersebut dibuat oleh Haji Ya’kub Rekso Astono tahun 1856 M,

Masjid ini sendiri sampai sekarang telah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama dilaksanakan pada tahun 1857 ketika masjid ini berusia sekitar 313 tahun dan kondisi bangunan masjid dari kayu itu yang semakin lapuk. di tahun yang sama juga didirikan masjid wedok (masjid khusus kaum wanita) dan konon juga bekas masjid dari Sunan Prapen cucu dari Sunan Giri.

Tahun 1789 M diadakan perluasan oleh H. Ya’kub Rekso Astono, terkait hal tersebut, sda pendapat yang mengatakan bahwa bangunan masjid inti yang terlihat saat ini justru hasil karya H. Ya’kub ini, sedang masjid asli yang dipindahkan oleh Nyi Ageng Kabunan dari dari Giri Kedaton ke tempat ini adalah bangunan yang kini menjadi masjid wedok.

Atap limas bersusun tiga di masjid Sunan Giri 

Perbaikan selanjutnya terjadi di era Indonesia merdeka. Di tahun 1950 Masjid Sunan Giri mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Proses perbaikan dipimpin oleh H. Zaenal Abidin selaku juru kunci makam bersama masyarakat Giri memperbaiki masjid ini dalam dalam waktu tiga bulan.

Perluasan halaman masjid dilakukan tahun 1957 oleh Panitia Kesejahteraan Makam dan Masjid Sunan Giri. Perluasan halaman tersebut dilakukan dengan memindahkan pendopo masjid dari depan masjid ke kesebelah utara, serta penggantian atap masjid dari atap sirap menggunakan atap genteng dan memperluas bak penampungan air hujan guna keperluan air bersih.

Perbaikan perbaikan kecil terus dilakukan hingga era 1970-an. Renovasi terahir dilakukan pada tahun 1982, peresmiannya dilakukan oleh Bupati KDH  Tingkat II Gresik pada tanggal 17 Desember 1982. Kini luas bangunannya mencapai 1.750 m² sudah berkali kali lipat luasnya dari ukuran semula, di atas lahas seluas 3.000 m².

Unik bukan ? pintu gapura masjid berbentuk gapura candi

Monumen Sejarah

Masjid Ainul Yakin Sunan Giri ini sudah menjadi monument sejarah yang dilindungi oleh negara sejak dari masa penjajahan Belanda. Di zaman Hindia Belanda, masjid ini terdaftar sebagai peninggalan sejarah, didaftar dalam “monumenten ordonantie” dengan nomor staat blaad 238 pada tahun 1931. Kini berada di bawah pengawasan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Arsitektur Masjid Ainul Yakin Sunan Giri

Seperti lazimnya masjid-masjid tua di seluruh Nusantara maka Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri ini pun memiliki bentuk kubah yang khas, yaitu kubah atap limas dengan tiga undakan. Akulturasi dengan budaya sebelum Islam sangat kental terlihat di masjid ini, yang paling menyolok adalah adanya beberapa pintu gerbang berupa gapura paduraksa termasuk pintu masuk utama ke masjid ini.

Dibagian dalam masjid akan kita temukan sokoguru dari kayu yang berjejer menopang struktur atap masjid ini. Masing masing masing sokoguru ini berdiri diatas umpak dari batu. Umpak batu di hias dengan warna emas, bagian bawah tiang dihias dengan ukiran yang meruncing juga dengan warna emas.

Interior Masjid  Sunan Giri

Batang sokoguru terbuat dari sebatang kayu berukuran besar, di profil sekelilingnya, di cat dengan warna hijau muda. Di setiap pertemuan sokoguru dengan soko alangnya juga dihias dengan ukiran yang meruncing bewarna emas. Hampir seluruh materi kayu di dalam masjid ini di cat dengan warna hijau muda. Di bawah atap utama menggantung lampu antik menjuntai di atas ruang utama.

Mihrab masjid terdiri dari tiga bagian ceruk. Sebalah kiri di tempatkan sebuah jam berdiri berukuran besar. Ceruk tengah merupakan tempat imam dengan dan paling kanan merupakan ceruk dimana mimbar tempat khatib ditempatkan. Mimbar berukir dari kayu ini juga dicat dengan paduan hijau muda dan warna emas.

Sebagai rumah ibadah, masjid ini begitu ramai dikunjungi jamaah untuk shalat rawatib (shalat lima waktu) maupun shalat Jumat, bahkan pada bulan-bulan besar, seperti bulan Muharam, Dzulhijjah, dan Rabi’ul Awal (Maulid), masjid ini ramai dikunjungi peziarah dari luar pulau Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan***.