Minggu, 11 Juni 2017

Mengenal Masjid Masjid Tua Jakarta (Bagian 1)


Tulisan ini sengaja kami posting di bulan Juni sebagai bagian dari upaya menolak lupa pada sejarah. Di bulan Juni setiap tahun, Provinsi DKI Jakarta merayakan hari jadinya yang di hitung sejak penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah dari Portugis dan menandai berdirinya Jayakarta sebagai sebuah Kesultanan dan kini dijadikan sebagai hari jadi nya DKI Jakarta.

J
akarta, selaku ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia, memiliki sederet masjid masjid tua dan bersejarah, sebagian besar masih berdiri dan difungsikan hingga hari ini. Keberadaan masjid di wilayah Jakarta sudah menjadi bagian integral dari sejarah perjalanan kota Jakarta. Artikel ini akan menyajikan ulasan tentang masjid masjid tua di Jakarta sejak masa awal (Kesultanan) Jayakarta hingga masa awal Kemerdekaan Republik Indonesia.

Seiring dengan ditetapkannya tanggal 22 Juni 1527 sebagai titik awal berdirinya kota Jakarta, maka dapat disebut bahwa sejarah kota Jakarta dimulai pada tanggal 22 Juni 1527 tersebut. Di awali dengan kemenangan Fatahillah atau Falatehan atau Fadhilah khan memimpin pasukan gabungan Demak dan Cirebon dibantu oleh pasukan Banten mengalahkan dan mengusir Portugis yang bersekutu dengan Pajajaran dari Sunda Kelapa.

Fatahillah merupakan panglima pasukan Demak di masa pemerintahan Sultan Trenggono. Sultan Trenggono memerintahkan beliau untuk menggabungkan pasukannya dengan pasukan dari Kesultanan Cirebon dibawah pemerintahan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Penyerbuan tersebut juga dibantu oleh Pasukan dari Banten dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin (Putra Sunan Gunung Jati).

Masjid “Si Pitung” Al AlamMarunda, Jakarta Utara

1. Masjid Al-Alam Marunda (1527)

Saat penyerbuan ke Sunda Kelapa tahun 1527 tersebut, Fatahillah bersama pasukannya sempat mendirikan sebuah masjid kecil di kawasan Marunda, Jakarta Utara, sebagai tempat mereka beribadah. Masjid tua berukuran kecil itu bernama Masjid Al Alam. Meski ukurannya tidak terlalu besar, masjid berarsitektur tradisional ini cukup kokoh dengan tiang tiang beton antik berukuran besar dan tembok yang cukup tebal. Di tahun 1975 pemerintah provinsi DKI Jakarta menetapkan Masjid Al Alam sebagai Cagar Budaya. Bila melihat tahun pembangunannya, Masjid Al Alam ini merupakan masjid tertua di Jakarta.

Kisah tutur menyebutkan bahwa pembangunan masjid ini juga dibantu oleh para wali yang memiliki karomah yang memiliki karomah yang tinggi. Kisah ini memang cukup masuk akal karena Sunan Gunung Jati sendiri merupakan salah satu tokoh Wali Songo, dan sejarah Nasional kita pun mencatat bahwa berdirinya kesultanan Demak dan Kesultanan Cirebon tidak lepas dari peran Wali Songo.

Masjid Al-Alam Cilincing

2. Masjid Al-Alam Cilincing (1527)

Masjid ini mungkin tidak setenar "kembaranya" Masjid Al Alam Marunda yang lebih dikenal dengan nama masjid si pitung, namun masjid yang juga didirikan oleh fatahillah saat akan merebut sunda kelapa dari Portugis ini sangat besar nilainya bagi sejarah jakarta dan indonesia. Kini masjid ini sehari hari dikelola oleh “Yayasan Masjid Al-Alam Cilincing Jakarta Utara”. Untuk menyelamatkan tempat bersejarah ini, pada 1972 dilakukan pemugaran masjid oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, saat masih dipimpin Gubernur Ali Sadikin, dan bangunan ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Berdasarkan versi sejarah Dinas purbakala DKI Jakarta, masjid ini dibangun pada 22 Juni 1527, persis sama dengan HUT kota Jakarta.  Menjadikannya sebagai masjid tertua yang ada di jakarta bersama dengan masjid Al-Alam Marunda yang dibangun ditahun dan oleh orang yang sama. Letaknya berada di jalan rekreasi cilincing Jakarta utara, tepatnya di sebelah pasar ikan cilincing atau 18 Km dari pusat Kota Jakarta.

Fatahillah dan pasukannya berhasil menaklukkan Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1257. Beliau kemudian mengganti nama Bandar tersebut dari Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang bermakna Kota Kejayaan. beliau memegang langsung tampuk pemerintahan di Jayakarta, namun kemudian beliau memutuskan kembali ke Cirebon untuk berdakwah serta memenuhi permintaan Sunan Gunung Jati untuk memperluas wilayah kesultanan Cirebon ke wilayah sekitarnya.

Jabatan pemerintahan di Jayakarta diserahkan Oleh Fatahillah kepada Ki Bagus Angke atau Ratu Bagus Angke atau Pangeran Tubagus Angke yang juga menantunya. Dan disaat yang hampir bersamaan Maulana Hasanuddin dinobatkan sebagai Sultan Pertama di Kesultanan Banten. Kekuasaan atas Jayakarta kemudian diteruskan oleh Pangeran Jayakarta Wijayakrama, pada tahun 1596 menggantikan Tubagus Angke yang sudah berusia lanjut.

Masjid Agung Kesultanan Jayakarta, Tak Berbekas

Di masa kekuasaan Pangeran Jayakarta ini, Belanda sudah mulai menancapkan kukunya di Jayakarta hingga menimbulkan ketegangan diantara keduanya, sampai kemudian memuncak menjadi pertempuran terbuka tahun 1610. Pasukan Belanda dibawah pimpinan Jenderal Jan Pieter Coen tidak mampu menghadapi pasukan Jayakarta yang dibantu oleh pasukan Banten dan Inggris hingga ahirnya melarikan diri ke markas besar V.O.C di Ambon.

Masjid Jami’ As-Salafiyah Jatinegara Kaum dari arah Makam Pangeran Jayakarta

Dalam serangan kedua kalinya di tahun 1619, J.P. Coen berhasil mengalahkah pasukan Jayakarta dan membumihanguskan kota itu hingga tak bersisa, dan mengganti nama Jayakarta dengan Batavia pada 12 Maret 1619. Sisa sisa kejayaan Jayakarta sebagai sebuah entitas kekuasaan yang pernah berkuasa di wilayah Jakarta selama sekitar 92 tahun (22 Juni 1527 hingga 12 Maret 1619), nyaris tak berbekas.

Bangunan keraton dan Masjid Agung-nya pun hanya tinggal cerita, salah satunya muncul di catatan penulis Belanda, Adolf Heuken S.J, menyebutkan bahwa beberapa puluh meter di sebelah selatan hotel Omni Batavia sekarang ini yang terletak di jalan Kali Besar dan Jalan Roa Malaka Utara, Jakarta utara, pernah berdiri bangunan masjid tertua di Jakarta, namun bangunan masjid tersebut sudah tak bersisa. Diperkirakan masjid yang dimaksud merupakan masjid Agung Kesultanan Jayakarta yang dibumihanguskan oleh Belanda bersama dengan Keraton Jayakarta.

Penghancuran total Bandar Jayakarta oleh Pasukan J.P.Coen tidak lepas dari upaya nya untuk mengikis habis pamor Kesultanan Jayakarta dari wilayah tersebut, termasuk menghapus segala sesuatu yang berbau kesultanan dan Islam, terbukti dengan kebijakannya setelah berkuasa beliau mengeluarkan larangan pembangunan masjid di dalam wilayah kota Batavia.

3. Masjid Jami’ As-Salafiyah Jatinegara Kaum (1620)

Paska keruntuhan Bandar Jayakarta, Pangeran Jayakarta bersama keluarga dan pengikut setianya menyingkir ke wilayah Jatinegara Kaum (Klender, Jakarta Timur). Disana beliau mendirikan kawasan baru, menyusun strategi dan terus menerus melakukan perlawan terhadap penjajahan Belanda. Di Jatinegara Kaum beliau membangun masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Jami’ As-Salafiyah pada tahun tahun 1620.

Sepanjang hidupnya setelah kehilangan kekuasaan, Pangeran Jayakarta beserta pengikutnya tak pernah berhenti melakukan perlawanan terdahap penjajahan Belanda, sampai beliau wafat di-usia tua dan dimakamkan di dekat masjid yang beliau bangun bersama pengikutnya. Masjid Jami’ As-Salafiyah hingga kini ramai dikunjungi oleh para Jemaah begitu-pun dengan makam beliau.

Jejak Sejarah Putra Pangeran Jayakarta di Kabupaten Bekasi. Kiri ; Masjid Al-Mujahidin Cibarusah pertama kali dibangun oleh Pangeran Senapati. Kanan: Rumah kediaman Raden Rangga di Cikarang Barat, kini dikenal dengan Saung Ranggon atau Rumah Tinggi.

Antara Jayakarta dan Cibarusah

Masih di tahun 1619 Pangeran Jayakarta memerintahkan putra mahkota beliau, Pangeran Senapati, menyingkir dari Jayakarta untuk melanjutkan perjuangan dan syi’ar Islam. Pangeran Senapati meninggalkan Jayakarta melalui jalur laut dan berlabuh di pantai utara Bekasi kemudian melanjutkan perjalanan darat hingga ahirnya tiba di wilayah yang kini dikenal dengan nama Cibarusah di kabupaten Bekasi berbatasan dengan Kabupaten Bogor, sama seperti ayahandanya, Pangeran Senapati pun membangun Masjid Masjid di tempat baru tersebut yang kini dikenal dengan nama Masjid Al-Mujahidin Cibarusah.

Sementara Putra Pangeran Jayakarta yang lain bernama Raden Rangga menyingkir melalui jalur darat hingga ke wilayah Cikarang Barat, kabupaten Bekasi. Rumah kediaman beliau selama tinggal disana kini dikenal dengan nama Saung Ranggon atau Rumah Tinggi dan ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan nilai Tradisional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, provinsi Jawa Barat. Rumah panggung sederhana berbahan kayu tersebut masih terawat hingga kini dan disebut sebut sebagai bangunan tertua di Kabupaten Bekasi.

Perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda di Batavia tak pernah usai di berbagai sektor, salah satu tokoh perlawanan masyarakat Betawi yang sangat melegenda adalah Si Pitung. Tokoh legenda ini kerap kali menghabiskan waktunya berdiam diri berlama lama di Masjid Al Alam yang merupakan peninggalan Fatahillah, pendiri Jayakarta yang sudah berubah nama menjadi Batavia itu.

Di masjid ini juga Si Pitung kerap kali bersembunyi dari kejaran pasukan Kompeni Belanda, legenda masyarakat menyebutkan bahwa Si Pitung seakan tak terlihat oleh Pasukan Belanda saat bersembunyi di masjid ini, itu sebabnya dikemudian hari Masjid Al-Alam yang dibangun oleh Fatahillah itu juga disebut sebagai Masjid Si Pitung.

Masjid Jami’ Al Atiq, Kampung MelayuJakarta Selatan 

4. Masjid Jami’ Al Atiq Kampung Melayu (1632), Jakarta Selatan

Perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Batavia juga dilakukan oleh Maulana Hasanuddin, Sultan pertama di Kesultanan Banten yang juga merupakan putra pertama Sunan Gunung Jati (Cirebon). Di masa kekuasaannya (1552-1570) Maulana Hasanuddin sempat mengirimkan pasukannya  menyerbu Batavia. Induk pasukannya yang bermarkas di daerah Kampung Melayu.

Di kampung Melayu Pasukan Maulana Hasanuddin mendirikan sebuah Mushola untuk keperluan mereka beribadah. Mushola yang kemudian disebut sebagai Masjid Kandang Kuda karena berada di perkampungan tukang Sado, kemudian berubah menjadi Masjid Jami’ Kampung Melayu. Sejauh ini tidak ditemukan bukti otentik terkait tahun awal pembangunan masjid ini selain dari kisah tutur masyarakat setempat. Nama masjid ini kemudian di ubah menjadi Masjid Al-Atiq pada tahun 1970-an oleh Pak Ali Sadikin, Guburnur DKI Jakarta saat itu,

5. Masjid Al-Anshor Pekojan (1648) Jakarta Barat

Pelarangan pembangunan masjid di wilayah kota Batavia tidak di indahkan oleh muslim pendatang yang berasal dari Hadramaut (Yaman) dan Gujarat (india) yang oleh Penjajah Belanda di generalisir sebagai orang Moor. Penyebutan Moor bagi Muslim pendatang di Batavia oleh Belanda ini menyiratkan trauma masa lalu bangsa Eropa terhadap Islam. Moor adalah Suku bangsa Muslim di Benua Afrika bagian utara (kini Maroko dan Sekitarnya).

Masjid Al Anshor PekojanJakarta Barat 

Bangsa Moor ini di bawah pimpinan Tarikh Bin Ziyad pada abad ke 7 menyerbu dan menaklukkan Eropa barat (Spanyol dan sebagian Prancis) dan kemudian mendirikan Emperium Islam Andalusia yang berpusat di Istana Alhambra di Cordoba (Spanyol). Berawal dari sejarah tersebut, Bangsa bangsa di Eropa Barat men-jeneralisir Muslim sebagai orang Moor termasuk menyebut Muslim di Kesultanan Sulu (kini di Philiphina Selatan) sebagai orang orang Moor yang dikemudian hari dan hingga kini dikenal dengan sebutan Bangsa Moro.

Muslim India dan Hadramaut ini sebelumnya tinggal di Banten lalu menjalankan bisnis mereka di kota Batavia yang oleh Belanda dijadikan Ibukota di tanah Jajahannya yang disebut Hindia Belanda.Di tahun 1648, atau sekitar 29 tahun setelah bedirinya Batavia Muslim India yang tinggal di kawasan Pekojan (kecamatan Tambora, Jakarta Barat) mendirikan Masjid Al-Anshor di Jalan Pengukiran.

Kawasan Pekojan kala itu merupakan kawasan hunian muslim dari India. Kata ‘Koja’ pada kata “Pekojan” sendiri berasal dari kata "Khoja", daerah di India asal para pedagang tersebut. Kata “Koja” di duga juga diduga berasal dari kain tenun yang biasa dipakai untuk ikat kepala oleh orang-orang Banten. Dan bagaimanapun, seperti disebutkan tadi, muslim India di Pekojan ini sebelumnya adalah mukimin di Wilayah Banten sebelum kemudian pindah ke Batavia. (bersambung ke bagian 2)

Baca Detil Artikelnya



1 komentar:

  1. We still cannot quite think We could come to be sort checking important points
    located onn your blog post. My chilpdren and i are
    sincerely thankful to your generosity and with giving me
    possibility pursue our chosen profession path. Just you important information I of
    your web-site.

    BalasHapus

Dilarang berkomentar berbau SARA