Minggu, 21 Mei 2017

Masjid Nurul Huda Gelgel, Masjid Pertama di Bali

Berdiri megah di tengah kampung Gelgel, Klungkung, Bali, Masjid Nurul Huda merupakan masjid pertama yang dibangun di pulau Bali sejak abad ke 14.

Rumah Pertama Muslim Bali

Gegel adalah sebuah desa di kecamatan Klungkung, kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Desa ini memiliki keistimewaan tersendiri mengingat faktor sejarahnya yang cukup panjang. Sejarah yang berhubungan dengan perjalanan masuknya Islam ke Pulau Bali. Salah satu keistimewaan desa ini adalah adanya aturan setempat yang mengharuskan kepada desa disana dari kalangan ummat Islam.

Inilah permukiman muslim tertua di pulau Bali. Dari sinilah sejarah komunitas Islam di Pulau Dewata bermula. Di desa yang berjarak sekitar enampuluh kilometer arah timur Denpasar ini pula banyak jejak-jejak penyebaran Islam masih terlihat hingga kini. Saat ini setidaknya ada sekitar 280 kepala keluarga atau sekitar 700 jiwa yang hidup di desa itu.

Masjid Nurul Huda Gelgel  
Jl. Waturenggong desa Gelgel
Kec. Klungkung, Kabupaten Klungkung
Provinsi Bali



Memasuki kampung Islam Gelgel jika dari arah selatan (Denpasar), kita akan melewati perempatan yang di tengah-tengahnya berdiri patung prajurit Kerajaan Gelgel tempo dulu. Dari perempatan tersebut, kita bisa langsung melihat menara masjid Nurul Huda yang terkenal di Kampung Gelgel.

Nama-nama masyarakat Kampung Gelgel dulunya masih membawa nama-nama khas Bali seperti: Wayan, Made, Nyoman atau Ketut. Tetapi seiring perjalanan jaman, nama-nama Bali tidak dipakai lagi dan diganti nama-nama modern yang berbau Islami.

Sebagai permukiman muslim, Kampung Gelgel punya tradisi beda dengan daerah lain di Bali —yang didominasi para kerabat yang beragama Hindu. Di bulan-bulan tertentu, Kampung Gelgel menggelar pentas seni “ Rodatan”, sebuah pentas musik Islami yang dimainkan warga sekitar.

Masjid Nurul Huda Gelgel denga menaranya yang menjulang tinggi

Di kampung ini, bisa dijumpai masjid tertua di Bali. Nurul Huda, demikian nama masjid itu. Tempat ibadah itu berdiri megah di tengah-tengah Kampung Gelgel. Di halaman masjid yang cikal-bakalnya dibangun sekitar abad ke-14 ini, terdapat sebuah menara tua tegak menjulang setinggi 17 meter.

Diantara yang menarik dari masjid ini adalah mimbar masjidnya yang terbuat dari kayu jati dan dihias dengan ukiran mutif daun dan tumbuh tumbuhan yang merupakan salah satu ciri dari seni Islami yang melarang penggunaan gambar mahluk bernyawa. Bentuk mimbar di masjid ini memiliki banyak kemiripan dengan mimbar mimbar kuno yang ada di masjid masjid kuni di pulau Jawa seperti contoh mimbar kuni di Masjid Sendang Dhuwue dan masjid Mantingan.

Di mimbar ini juga terdapat inskripsi yang menjelaskan renovasi masjid ini di tahun 1280 Hijriah bertepatan dengan tahun 1863 Miladiyah. Dari inskripsi tersebut dapat diketahui prbaikan masjid ini diakukan pada tanggal 7 Juli 1280H / 1863M. meskipun tidak diketahui secara pasti kapan masjid ini pertama kali dibangun namun dipastikan bahwa masjid ini telah berdiri disana jauh sebelum tahun 1863M.

Catatan perbaikan masjid ditahun 1860

Sejarah Islam Kampung Gelgel

Islam sudah menyebar di Gelgel sejak lama. Sejarah itu berawal saat Raja Gelgel, Ketut Dalem Klesir, berkunjung ke Majapahit disekitar abad ke 14 Miladiyah atau sekitar tahun 1357M untuk menghadiri pertemuan raja raja Nusantara di Ibukota Majapahit. Saat pulang ke Klungkung, Ketut Dalem dikawal empatpuluh prajurit muslim dari Majapahit.
  
Sesampai di pulau Bali Ke-40 pengawal tersebut diizinkan oleh Raja bali untuk menetap, tanpa mendirikan kerajaan tersendiri seperti halnya kerajaan Islam di pantai utara Pulau Jawa pada masa kejayaan Majapahit. Para pengawal muslim itu hanya bertindak sebagai abdi dalam kerajaan Gelgel menempati satu pemukiman dan membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Nurul Huda Gelgel, yang kini merupakan tempat ibadan umat Islam tertua di Pulau Dewata. Saat pertama kali dibangun masih sangat sederhana beratap alang-alang dengan tiang dari pohon kelapa.  

Fasad depan Masjid Nurul Huda Gelgel.

Sejak berdiri Masjid Nurul Huda dari zaman Kerajaan Gelgel   telah mengalami beberapa tahapan renovasi dan rehab, sampai akhirnya pada tahun 1989 M bertepatan dengan tahun 1409 H. Masjid Nurul Huda dibangun ulang dengan konstruksi beton berlantai II, dan bagian atapnya masih tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dan renovasi terakhir dilakukan pada Tahun 2010 M /Tahun 1431 H.

Sejak awal berdiri dimasa kerajaan Gelgel, Masjid ini bernama “Masjid Nurul Huda” yang berarti “cahaya petunjuk” sampai sekarang belum berganti nama, dan jenis tipologi masjid ini adalah “Masjid Bersejarah” meskipun bukti-bukti sejarah hampir tidak bisa dipertahankan karena termakan usia, namun diyakini Masjid inilah yang pertama kali dibangun di Bali seiring dengan masuknya Islam pertama ke Bali.

Kelompok para prajurit Muslim dari Majapahit inilah yang disebut sebagai moyang keturunan masyarakat Islam Kampung Gelgel yang ada sekarang ini. Mereka inilah penyebar Islam pertama di Bali. Mereka tak hanya berdiam di Gelgel. Sebagian ada yang tinggal di Kampung Lebah, Kusamba, serta Kampung Toyapakeh di Nusa Penida.***

Referensi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang berkomentar berbau SARA