Saturday, May 20, 2017

Islam di Swiss

Swiss atau Switzerland terkenal luas di dunia internasional dengan jasa perbangkan-nya, termasuk juga dengan produk produk asesoris militer yang begitu mendunia.

Apa yang terpikir di benak anda saat mendengar nama Swiss?. Nama Negara ini nyaris identik dengan perbankan, disebut sebut sebagai tempat ter-aman untuk nyimpan duit. Juga dikenal sebagai Negara netral, tidak ikut ikutan blok manapun bahkan kelompok Negara non blok sekalipun, juga tidak pernah ikuta campur dalam perang dunia. Meski kemudian Swiss menjadi “negeri netral yang tidak netral” manakala berhadapan dengan Islam dalam kasus menara masjid yang berhembus tahun 2009 lalu dan berujung kepada pelarangan menara masjid di seluruh wilayah negara tersebut.

Isu tersebut berkembang menjadi lebih menarik, manakala dedengkot pengusung pelarangan menara masjid itu dikemudian hari disebut sebut oleh berbagai media justru berbalik simpati terhadap Islam dan bahkan kemudian mengumumkan dirinya telah memeluk Islam yang dulu dimusuhinya. Urusan menara dan azan di Swiss telah menjadi isu internasional. Tahun 2011 lalu, presiden Swiss bahkan menyatakan dalam salah satu kampanye pemilunya bahwa “azan tak akan terdengar di Swiss”. Perkembangan Islam di Swiss memang cukup cerah, wajar bila kemudian semakin meningkatnya jumlah mualaf disana juga meningkatkan kekhawatiran dari pihak yang berseberangan.

Swiss merupakan salah satu negara yang menjadi markas PBB beserta berbagai organisasi-nya, juga dikenal luas sebagai negara tempat lahir sekaligus markas besarnya Palang Merah Internasional. FIFA selaku induk organisasi sepakbola dunia itu juga bermarkas disana. Dari sisi militer, Swiss merupakan salah satu negara dunia yang memiliki jumlah pasukan perang terbesar di dunia didasarkan pada rasio jumlah penduduknya. Produk industri negara ini tersebar hingga ke pelosok dunia dan rata rata dengan bangga menggunakan bendera negaranya sebagai logo produk termasuk berbagai jenis belati yang begitu populer di kalangan para pecinta alam dan paramiliter.

Lambang negaranya yang berbentuk palang bewarna merah itu tak pelak menuai penolakan dari berbagai negara Islam yang kemudian memaksa para produsen di negara tersebut mengganti logo dagangnya itu dengan tulisan Swiss Made, agar dapat diterima di berbagai negara Islam. Tak sampai disitu, imigran muslim di Swiss bahkan sempat meminta penggantian bendera nasional mereka yang dianggap melanggar hak warga negara yang tidak beragama Kristen di negara tersebut.

Masjid Yang dibangun pemerintah Saudi Arabia di Jenewa.

Sekilas Tentang Swiss

Swiss atau Switzerland  adalah republik federasi yang berada di Eropa Tengah. Luasnya relatif kecil hanya 421,285 kilometer persegi dan berpenduduk 7,5 juta jiwa. Negara beribu kota Bern itu terdiri dari 26 negara bagian yang disebut “Canton”. Secara geografis, Swiss dibatasi oleh Jerman, Prancis, Italia, Austria dan Lienchtenstein.

Tak heran jika negara itu memiliki empat bahasa resmi, yakni; Jerman, Prancis, Italia dan Romansh. Sebanyak 75% penduduk Swiss berbahasa Jerman, 20% berbicara bahasa Prancis, 4% berbahasa Italia, dan sisanya berbicara dalam berbagai bahasa.

Swiss adalah negeri yang sangat cantik. Bahkan Ramadhan KH, punjangga besar itu pernah menulis, “Tuhan pasti tersenyum ketika Ia menciptakan Swiss”. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari pegunungan Alpen. Merupakan gunung-gunung tinggi yang menyeberangi daerah selatan-tengah negeri itu.

Pada tahun 2006 dan 2007, kota Zurich yang merupakan kota terbesar di Swiss, dinobatkan sebagai kota yang memiliki kualitas hidup terbaik di dunia.

Islam Masuk ke Swiss

Kehidupan Islam di negara di pegunungan Alpen ini dimulai saat para pelaut Muslim dari Andalusia (Spanyol) membangun sebuah negeri di Prancis Selatan. Kemudian para pelaut Muslim itu menaklukkan negeri-negeri di sana menuju ke arah utara, sehingga pada tahun 939 M/321 H sampailah mereka ke wilayah St Gallen di Swiss.

Masjid Pusat kebudayaan Turki.

Lalu, mereka memindahkan armadanya ke sana dengan tujuan untuk mengamankan Andalusia. Salah satu caranya dengan membangun berbagai menara pengintai dibeberapa tempat di pegunungan Alpen. Bahkan sebagian wilayah pegunungan Alpen ini akhirnya dikuasai oleh pasukan Islam, sehingga memudahkan mereka untuk masuk ke wilayah itu dari arah laut.

Raja Teutons yang menguasai Jerman saat itu pernah mengirimkan utusannya kepada raja Abdurrahman an-Nasir pemimpin kerajaan Islam Andalusia untuk membicarakan keberadaan tentara Islam di wilayah St Gallen. Setelah dinasti Islam di Andalusia runtuh, sebagian umat Islam di sana kembali berhijrah untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan tentara Kristen, mereka memasuki wilayah Swiss selatan dan memutuskan untuk menetap di sana. Mereka bergabung dan menyatu dengan penduduk setempat.

Di pertengahan abad ke-14 Hijriah, Swiss kembali menjadi tempat hijrahnya umat Islam. Sebagian kecil umat Islam mengungsi ke sana setelah Perang Dunia II berkecamuk. Berkat kebaikan akhlak dalam menyebarkan nilai-nilai Islam, beberapa penduduk asli Swiss memeluk agama Islam.

Seorang yang termasuk dalam golongan pertama masuk Islam adalah penyair Swiss Frithjof Schuon, sebelumnya ia menganut sebuah agama di Prancis yang beraliran kependetaan. Karena minatnya yang besar kepada Islam ia memutuskan untuk pindah ke Aljazair dan mengucapkan syahadat di sana.

Setelah mempelajari Islam ia kembali ke Swiss sambil terus mendakwahkan agama barunya itu. Setelah masuk Islam ia dikenal dengan nama as-Shaykh `Isa Nur al-Din Ahmad al-Shadhili al Darquwi al-Alawi al-Maryami. Dari tangan dinginnya ada beberapa warga Swiss yang menyatakan memeluk Islam.

Muslim di Swiss

Umat Islam di Swiss terus bertambah jumlahnya disebabkan masuknya imigran-imigran Muslim dari negara lain dan banyak penduduk asli Swiss yang memeluk Islam. Sensus tahun 1951 umat Islam di Swiss hanya berjumlah sekitar 2,000 orang, berkembang menjadi 30 ribu orang di akhir tahun 70-an.

Menurut hasil sensus pada 2009, umat Islam di Swiss mencapai 400 ribu atau 5% dari total penduduk Swiss. Sementara perempuan di Swiss yang masuk Islam sampai tahun 2009,  menurut Monica Nur Sammour-Wust, tokoh Muslimah di sana, jumlahnya sekitar 30 ribu orang. Terjadi penurunan jumlah penduduk muslim di Swiss berdasarkan sensus tahun 2001 yang menunjukkan penduduk Muslim di Swiss berjumlah 310,807 dengan persentase yang masih sama 4.26%.

Masjid Jenewa dari sudut yang lain.

Kota Basel menjadi kota dengan jumlah umat Islam terbanyak di Swiss. Kaum Muslimin di Swiss sebagian besar adalah imigran dari Arab, Kosovo, Turki, dan Afrika. Sebagian lainnya yaitu para diplomat, pekerja profesional, pegawai di PBB dan pelajar yang sedang menempuh studi disana. Umat Islam di Swiss membentuk komunitas sendiri-sendiri sesuai etnis dan kewarganeraannya, termasuk warga Indonesia yang menetap di sana.

Merujuk kepada data Wikipedia, daerah daerah dengan konsentrasi muslim melebihi 5% meliputi daerah daerah di daerah daerah yang penduduknya berbahasa Jerman terdiri dari:

Basel-Stadt (6.72% ), Glarus (6.50%), St. Gallen (6.13%), Thurgau (5.94%), Schaffhausen (5.80%), Aargau (5.49%), Solothurn (5.39%) dan Zürich (5.33%). Sementar Jenewa (Geneva) menjadi satu satunya wilayah yang penduduknya tidak berbahasa Jerman yang memiliki warga musim sedikit di atas rata rata atau sekitar 4,35%.

Sekitar 88.3% muslim Switzerland merupakan para pendatang (56.4% dari wilayah bekas Yugoslavia (sebagian besar adalah orang orang Bosnia, Albania dan Kosovo), 20.2% dari Turkey dan 6% dari Afrika yang sebagian besar berasal dari Negara Negara di Afrika Utara yang wilayahnya berseberangan langsung dengan Eropa.

Masjid dan Organisasi Islam di Swis

Ketika Islam mulai berkembang di Swiss, kaum Muslim mendirikan sebuah Islamic Center yang pertama di kota Jenewa. Aktivitas Islamic Center itu sangat sederhana, hanya untuk tempat shalat berjamaah dan menerbitkan majalah Islam berbahasa Arab dan Prancis.

Akan tetapi,  semua kegiatan itu tidak berjalan lama, pada akhirnya Islamic Center ini ditutup. Baru pada tahun 1972 berdirilah persatuan Islam pertama yang bertujuan untuk mendirikan masjid pertama di Swiss. perkumpulan itu menetapkan tujuh orang pimpinan sebagai pelaksananya, ketujuh orang tersebut mewakili negara-negara Islam yang berkantor di Jenewa dan sekaligus berperan sebagai penasehat.

Mereka menetapkan peraturan-peraturan dan mendaftarkan organisasi ini secara resmi. Berkat kesungguhan para pimpinannya usaha tersebut berhasil, pemerintah Swiss memberikan izin untuk mendirikan masjid dan Islamic Center-nya. Setahun kemudian, tepatnya tahun 1973, Raja Faisal (raja Saudi Arabia saat itu) berkunjung ke Swiss dan meletakkan batu pertama untuk mendirikan King Faisal Center yang lokasinya tidak jauh dari kantor PBB.

King Faisal Center mencakup sebuah mesjid yang cukup besar, perpustakaan dan sekolah gratis untuk anak-anak muslim. Kini, telah berdiri berbagai organisasi Islam modern yang tersebar diberbagai kota di Swiss. Salah satunya adalah Gemeinschaft Islamischer Organisationen der Schweiz (GIOS) yang didirikan di Zurich pada tahun 1989.  Berbagai organiasi Islam dibentuk antara tahun 1990-an hingga tahun 2000 termasuk di dalamnya adalah:

  • 1994 Organisation Muslime und Musliminnen der Schweiz
  • 1997 Basler Muslim Kommission, Basle
  • 1997 Vereinigung Islamischer Organisationen Zürich (VIOZ), Zurich
  • 2000 Koordination Islamischer Organisationen Schweiz (KIOS), Berne
  • 2002 Vereinigung islamischer Organisationen des Kantons Luzern (VIOKL), Lucerne
  • 2003 Dachverband islamischer Gemeinden der Ostschweiz und des Fürstentums Liechtenstein
  • 2006 Föderation Islamischer Dachorganisationen in der Schweiz (FIDS)
  • 2009 Islamic Central Council of Switzerland (ICCS), ger. Islamischer Zentralrat Schweiz (IZRS), Berne - a neo-wahhabi / neo-salafist organization

Masjid jenewa.

Masjid masjid di Swiss dibangun oleh organisasi organisasi Islam disana dan kebanyakan di sokong penuh oleh Negara Negara asal mereka. Seperti Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Turki di Wangen bei Olten yang dibangun dan dikeola oleh warga muslim Turki di Swiss. Setidaknya ada dua masjid di Swiss yang dibangun sebelum era tahun 1980-an dan sebelum derasnya pada imigran muslim dari semenanjung Balkan dan Turki di dekade setalah itu.

Ahmadiyah telah membangun masjid mereka di Zurich tahun 1963 lengkap dengan menaranya yang menjadi menara pertama di Negara tersebut, disusul kemudian pembangunan masjid oleh pemerintah Saudi Arabia di Jenewa tahun 1978. Kini berbagai berbagai masjid dan musola tersebar di berbagai wilayah di Swiss, terutama di daerah daerah perkotaan.

Secara keseluruhan Negara Swiss memiliki empat masjid yang dilengkapi menara yakni Masjid Ahmadiyah di Zurich (1963), Masjid Milik Saudi Arabia di Jenewa (1978), kemudian masjid dan pusat kebudayaan Islam Turki di Wangen bei Olten dan masjid di Winterthur.

Kontroversi Pelarangan Menara

Di tahun 2007 dewan kota Bern telah menolak rencana muslim disana untuk membangun masjid dan pusat kebudayaan Islam terbesar di Eropa yang rencananya akan dibangun di kota itu, tak sampai disitu saja, perseteruan tentang rencana pembangunan masjid di Swiss memuncak di tahun 2009 ketika pemerintah Negara itu mengeluarkan larangan bagi pembangunan menara masjid baru terkecuali bagi empat masjid yang sudah dibangun sebelumnya.

Keputusan kontroversial itu bermula dari rencana pembangunan masjid kedua di Wangen bei Olten yang rencananya dilengkapi dengan menara di tahun 2009. Sebuah inisiatif kemudian mencuat tentang pelarangan menara masjid yang didukung 57.5% pemilih pada referendum dibulan November 2009 yang kemudian menjadi dasar pemerintah Swiss mengeluarkan larangan pembangunan menara masjid baru diseluruh wilayah Negara tersebut.

Tak pelak, keputusan yang mencengangkan tersebut menuai protes dan kecaman keras dari berbagai Negara di dunia termasuk kecaman keras dari pemerintah Indonesia terhadap keputusan rasis yang di usung oleh partai Rakyat Swiss tersebut. Namun kemudian rakyat Swiss, terutama yang mendukung keputusan tersebut terhenyak dengan sebuah fakta tak terduga manakala “Daniel Streich” tokoh yang mengusung iniasitaif pelarangan menara masjid di Swiss itu justru kemudian mengumumkan bahwa dirinya telah memeluk Islam.

Referensi


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA