Sunday, May 21, 2017

Masjid Nurul Huda Gelgel, Masjid Pertama di Bali

Berdiri megah di tengah kampung Gelgel, Klungkung, Bali, Masjid Nurul Huda merupakan masjid pertama yang dibangun di pulau Bali sejak abad ke 14.

Rumah Pertama Muslim Bali

Gegel adalah sebuah desa di kecamatan Klungkung, kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Desa ini memiliki keistimewaan tersendiri mengingat faktor sejarahnya yang cukup panjang. Sejarah yang berhubungan dengan perjalanan masuknya Islam ke Pulau Bali. Salah satu keistimewaan desa ini adalah adanya aturan setempat yang mengharuskan kepada desa disana dari kalangan ummat Islam.

Inilah permukiman muslim tertua di pulau Bali. Dari sinilah sejarah komunitas Islam di Pulau Dewata bermula. Di desa yang berjarak sekitar enampuluh kilometer arah timur Denpasar ini pula banyak jejak-jejak penyebaran Islam masih terlihat hingga kini. Saat ini setidaknya ada sekitar 280 kepala keluarga atau sekitar 700 jiwa yang hidup di desa itu.

Masjid Nurul Huda Gelgel  
Jl. Waturenggong desa Gelgel
Kec. Klungkung, Kabupaten Klungkung
Provinsi Bali



Memasuki kampung Islam Gelgel jika dari arah selatan (Denpasar), kita akan melewati perempatan yang di tengah-tengahnya berdiri patung prajurit Kerajaan Gelgel tempo dulu. Dari perempatan tersebut, kita bisa langsung melihat menara masjid Nurul Huda yang terkenal di Kampung Gelgel.

Nama-nama masyarakat Kampung Gelgel dulunya masih membawa nama-nama khas Bali seperti: Wayan, Made, Nyoman atau Ketut. Tetapi seiring perjalanan jaman, nama-nama Bali tidak dipakai lagi dan diganti nama-nama modern yang berbau Islami.

Sebagai permukiman muslim, Kampung Gelgel punya tradisi beda dengan daerah lain di Bali —yang didominasi para kerabat yang beragama Hindu. Di bulan-bulan tertentu, Kampung Gelgel menggelar pentas seni “ Rodatan”, sebuah pentas musik Islami yang dimainkan warga sekitar.

Masjid Nurul Huda Gelgel denga menaranya yang menjulang tinggi

Di kampung ini, bisa dijumpai masjid tertua di Bali. Nurul Huda, demikian nama masjid itu. Tempat ibadah itu berdiri megah di tengah-tengah Kampung Gelgel. Di halaman masjid yang cikal-bakalnya dibangun sekitar abad ke-14 ini, terdapat sebuah menara tua tegak menjulang setinggi 17 meter.

Diantara yang menarik dari masjid ini adalah mimbar masjidnya yang terbuat dari kayu jati dan dihias dengan ukiran mutif daun dan tumbuh tumbuhan yang merupakan salah satu ciri dari seni Islami yang melarang penggunaan gambar mahluk bernyawa. Bentuk mimbar di masjid ini memiliki banyak kemiripan dengan mimbar mimbar kuno yang ada di masjid masjid kuni di pulau Jawa seperti contoh mimbar kuni di Masjid Sendang Dhuwue dan masjid Mantingan.

Di mimbar ini juga terdapat inskripsi yang menjelaskan renovasi masjid ini di tahun 1280 Hijriah bertepatan dengan tahun 1863 Miladiyah. Dari inskripsi tersebut dapat diketahui prbaikan masjid ini diakukan pada tanggal 7 Juli 1280H / 1863M. meskipun tidak diketahui secara pasti kapan masjid ini pertama kali dibangun namun dipastikan bahwa masjid ini telah berdiri disana jauh sebelum tahun 1863M.

Catatan perbaikan masjid ditahun 1860

Sejarah Islam Kampung Gelgel

Islam sudah menyebar di Gelgel sejak lama. Sejarah itu berawal saat Raja Gelgel, Ketut Dalem Klesir, berkunjung ke Majapahit disekitar abad ke 14 Miladiyah atau sekitar tahun 1357M untuk menghadiri pertemuan raja raja Nusantara di Ibukota Majapahit. Saat pulang ke Klungkung, Ketut Dalem dikawal empatpuluh prajurit muslim dari Majapahit.
  
Sesampai di pulau Bali Ke-40 pengawal tersebut diizinkan oleh Raja bali untuk menetap, tanpa mendirikan kerajaan tersendiri seperti halnya kerajaan Islam di pantai utara Pulau Jawa pada masa kejayaan Majapahit. Para pengawal muslim itu hanya bertindak sebagai abdi dalam kerajaan Gelgel menempati satu pemukiman dan membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Nurul Huda Gelgel, yang kini merupakan tempat ibadan umat Islam tertua di Pulau Dewata. Saat pertama kali dibangun masih sangat sederhana beratap alang-alang dengan tiang dari pohon kelapa.  

Fasad depan Masjid Nurul Huda Gelgel.

Sejak berdiri Masjid Nurul Huda dari zaman Kerajaan Gelgel   telah mengalami beberapa tahapan renovasi dan rehab, sampai akhirnya pada tahun 1989 M bertepatan dengan tahun 1409 H. Masjid Nurul Huda dibangun ulang dengan konstruksi beton berlantai II, dan bagian atapnya masih tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dan renovasi terakhir dilakukan pada Tahun 2010 M /Tahun 1431 H.

Sejak awal berdiri dimasa kerajaan Gelgel, Masjid ini bernama “Masjid Nurul Huda” yang berarti “cahaya petunjuk” sampai sekarang belum berganti nama, dan jenis tipologi masjid ini adalah “Masjid Bersejarah” meskipun bukti-bukti sejarah hampir tidak bisa dipertahankan karena termakan usia, namun diyakini Masjid inilah yang pertama kali dibangun di Bali seiring dengan masuknya Islam pertama ke Bali.

Kelompok para prajurit Muslim dari Majapahit inilah yang disebut sebagai moyang keturunan masyarakat Islam Kampung Gelgel yang ada sekarang ini. Mereka inilah penyebar Islam pertama di Bali. Mereka tak hanya berdiam di Gelgel. Sebagian ada yang tinggal di Kampung Lebah, Kusamba, serta Kampung Toyapakeh di Nusa Penida.***

Referensi


Saturday, May 20, 2017

Islam di Swiss

Swiss atau Switzerland terkenal luas di dunia internasional dengan jasa perbangkan-nya, termasuk juga dengan produk produk asesoris militer yang begitu mendunia.

Apa yang terpikir di benak anda saat mendengar nama Swiss?. Nama Negara ini nyaris identik dengan perbankan, disebut sebut sebagai tempat ter-aman untuk nyimpan duit. Juga dikenal sebagai Negara netral, tidak ikut ikutan blok manapun bahkan kelompok Negara non blok sekalipun, juga tidak pernah ikuta campur dalam perang dunia. Meski kemudian Swiss menjadi “negeri netral yang tidak netral” manakala berhadapan dengan Islam dalam kasus menara masjid yang berhembus tahun 2009 lalu dan berujung kepada pelarangan menara masjid di seluruh wilayah negara tersebut.

Isu tersebut berkembang menjadi lebih menarik, manakala dedengkot pengusung pelarangan menara masjid itu dikemudian hari disebut sebut oleh berbagai media justru berbalik simpati terhadap Islam dan bahkan kemudian mengumumkan dirinya telah memeluk Islam yang dulu dimusuhinya. Urusan menara dan azan di Swiss telah menjadi isu internasional. Tahun 2011 lalu, presiden Swiss bahkan menyatakan dalam salah satu kampanye pemilunya bahwa “azan tak akan terdengar di Swiss”. Perkembangan Islam di Swiss memang cukup cerah, wajar bila kemudian semakin meningkatnya jumlah mualaf disana juga meningkatkan kekhawatiran dari pihak yang berseberangan.

Swiss merupakan salah satu negara yang menjadi markas PBB beserta berbagai organisasi-nya, juga dikenal luas sebagai negara tempat lahir sekaligus markas besarnya Palang Merah Internasional. FIFA selaku induk organisasi sepakbola dunia itu juga bermarkas disana. Dari sisi militer, Swiss merupakan salah satu negara dunia yang memiliki jumlah pasukan perang terbesar di dunia didasarkan pada rasio jumlah penduduknya. Produk industri negara ini tersebar hingga ke pelosok dunia dan rata rata dengan bangga menggunakan bendera negaranya sebagai logo produk termasuk berbagai jenis belati yang begitu populer di kalangan para pecinta alam dan paramiliter.

Lambang negaranya yang berbentuk palang bewarna merah itu tak pelak menuai penolakan dari berbagai negara Islam yang kemudian memaksa para produsen di negara tersebut mengganti logo dagangnya itu dengan tulisan Swiss Made, agar dapat diterima di berbagai negara Islam. Tak sampai disitu, imigran muslim di Swiss bahkan sempat meminta penggantian bendera nasional mereka yang dianggap melanggar hak warga negara yang tidak beragama Kristen di negara tersebut.

Masjid Yang dibangun pemerintah Saudi Arabia di Jenewa.

Sekilas Tentang Swiss

Swiss atau Switzerland  adalah republik federasi yang berada di Eropa Tengah. Luasnya relatif kecil hanya 421,285 kilometer persegi dan berpenduduk 7,5 juta jiwa. Negara beribu kota Bern itu terdiri dari 26 negara bagian yang disebut “Canton”. Secara geografis, Swiss dibatasi oleh Jerman, Prancis, Italia, Austria dan Lienchtenstein.

Tak heran jika negara itu memiliki empat bahasa resmi, yakni; Jerman, Prancis, Italia dan Romansh. Sebanyak 75% penduduk Swiss berbahasa Jerman, 20% berbicara bahasa Prancis, 4% berbahasa Italia, dan sisanya berbicara dalam berbagai bahasa.

Swiss adalah negeri yang sangat cantik. Bahkan Ramadhan KH, punjangga besar itu pernah menulis, “Tuhan pasti tersenyum ketika Ia menciptakan Swiss”. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari pegunungan Alpen. Merupakan gunung-gunung tinggi yang menyeberangi daerah selatan-tengah negeri itu.

Pada tahun 2006 dan 2007, kota Zurich yang merupakan kota terbesar di Swiss, dinobatkan sebagai kota yang memiliki kualitas hidup terbaik di dunia.

Islam Masuk ke Swiss

Kehidupan Islam di negara di pegunungan Alpen ini dimulai saat para pelaut Muslim dari Andalusia (Spanyol) membangun sebuah negeri di Prancis Selatan. Kemudian para pelaut Muslim itu menaklukkan negeri-negeri di sana menuju ke arah utara, sehingga pada tahun 939 M/321 H sampailah mereka ke wilayah St Gallen di Swiss.

Masjid Pusat kebudayaan Turki.

Lalu, mereka memindahkan armadanya ke sana dengan tujuan untuk mengamankan Andalusia. Salah satu caranya dengan membangun berbagai menara pengintai dibeberapa tempat di pegunungan Alpen. Bahkan sebagian wilayah pegunungan Alpen ini akhirnya dikuasai oleh pasukan Islam, sehingga memudahkan mereka untuk masuk ke wilayah itu dari arah laut.

Raja Teutons yang menguasai Jerman saat itu pernah mengirimkan utusannya kepada raja Abdurrahman an-Nasir pemimpin kerajaan Islam Andalusia untuk membicarakan keberadaan tentara Islam di wilayah St Gallen. Setelah dinasti Islam di Andalusia runtuh, sebagian umat Islam di sana kembali berhijrah untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan tentara Kristen, mereka memasuki wilayah Swiss selatan dan memutuskan untuk menetap di sana. Mereka bergabung dan menyatu dengan penduduk setempat.

Di pertengahan abad ke-14 Hijriah, Swiss kembali menjadi tempat hijrahnya umat Islam. Sebagian kecil umat Islam mengungsi ke sana setelah Perang Dunia II berkecamuk. Berkat kebaikan akhlak dalam menyebarkan nilai-nilai Islam, beberapa penduduk asli Swiss memeluk agama Islam.

Seorang yang termasuk dalam golongan pertama masuk Islam adalah penyair Swiss Frithjof Schuon, sebelumnya ia menganut sebuah agama di Prancis yang beraliran kependetaan. Karena minatnya yang besar kepada Islam ia memutuskan untuk pindah ke Aljazair dan mengucapkan syahadat di sana.

Setelah mempelajari Islam ia kembali ke Swiss sambil terus mendakwahkan agama barunya itu. Setelah masuk Islam ia dikenal dengan nama as-Shaykh `Isa Nur al-Din Ahmad al-Shadhili al Darquwi al-Alawi al-Maryami. Dari tangan dinginnya ada beberapa warga Swiss yang menyatakan memeluk Islam.

Muslim di Swiss

Umat Islam di Swiss terus bertambah jumlahnya disebabkan masuknya imigran-imigran Muslim dari negara lain dan banyak penduduk asli Swiss yang memeluk Islam. Sensus tahun 1951 umat Islam di Swiss hanya berjumlah sekitar 2,000 orang, berkembang menjadi 30 ribu orang di akhir tahun 70-an.

Menurut hasil sensus pada 2009, umat Islam di Swiss mencapai 400 ribu atau 5% dari total penduduk Swiss. Sementara perempuan di Swiss yang masuk Islam sampai tahun 2009,  menurut Monica Nur Sammour-Wust, tokoh Muslimah di sana, jumlahnya sekitar 30 ribu orang. Terjadi penurunan jumlah penduduk muslim di Swiss berdasarkan sensus tahun 2001 yang menunjukkan penduduk Muslim di Swiss berjumlah 310,807 dengan persentase yang masih sama 4.26%.

Masjid Jenewa dari sudut yang lain.

Kota Basel menjadi kota dengan jumlah umat Islam terbanyak di Swiss. Kaum Muslimin di Swiss sebagian besar adalah imigran dari Arab, Kosovo, Turki, dan Afrika. Sebagian lainnya yaitu para diplomat, pekerja profesional, pegawai di PBB dan pelajar yang sedang menempuh studi disana. Umat Islam di Swiss membentuk komunitas sendiri-sendiri sesuai etnis dan kewarganeraannya, termasuk warga Indonesia yang menetap di sana.

Merujuk kepada data Wikipedia, daerah daerah dengan konsentrasi muslim melebihi 5% meliputi daerah daerah di daerah daerah yang penduduknya berbahasa Jerman terdiri dari:

Basel-Stadt (6.72% ), Glarus (6.50%), St. Gallen (6.13%), Thurgau (5.94%), Schaffhausen (5.80%), Aargau (5.49%), Solothurn (5.39%) dan Zürich (5.33%). Sementar Jenewa (Geneva) menjadi satu satunya wilayah yang penduduknya tidak berbahasa Jerman yang memiliki warga musim sedikit di atas rata rata atau sekitar 4,35%.

Sekitar 88.3% muslim Switzerland merupakan para pendatang (56.4% dari wilayah bekas Yugoslavia (sebagian besar adalah orang orang Bosnia, Albania dan Kosovo), 20.2% dari Turkey dan 6% dari Afrika yang sebagian besar berasal dari Negara Negara di Afrika Utara yang wilayahnya berseberangan langsung dengan Eropa.

Masjid dan Organisasi Islam di Swis

Ketika Islam mulai berkembang di Swiss, kaum Muslim mendirikan sebuah Islamic Center yang pertama di kota Jenewa. Aktivitas Islamic Center itu sangat sederhana, hanya untuk tempat shalat berjamaah dan menerbitkan majalah Islam berbahasa Arab dan Prancis.

Akan tetapi,  semua kegiatan itu tidak berjalan lama, pada akhirnya Islamic Center ini ditutup. Baru pada tahun 1972 berdirilah persatuan Islam pertama yang bertujuan untuk mendirikan masjid pertama di Swiss. perkumpulan itu menetapkan tujuh orang pimpinan sebagai pelaksananya, ketujuh orang tersebut mewakili negara-negara Islam yang berkantor di Jenewa dan sekaligus berperan sebagai penasehat.

Mereka menetapkan peraturan-peraturan dan mendaftarkan organisasi ini secara resmi. Berkat kesungguhan para pimpinannya usaha tersebut berhasil, pemerintah Swiss memberikan izin untuk mendirikan masjid dan Islamic Center-nya. Setahun kemudian, tepatnya tahun 1973, Raja Faisal (raja Saudi Arabia saat itu) berkunjung ke Swiss dan meletakkan batu pertama untuk mendirikan King Faisal Center yang lokasinya tidak jauh dari kantor PBB.

King Faisal Center mencakup sebuah mesjid yang cukup besar, perpustakaan dan sekolah gratis untuk anak-anak muslim. Kini, telah berdiri berbagai organisasi Islam modern yang tersebar diberbagai kota di Swiss. Salah satunya adalah Gemeinschaft Islamischer Organisationen der Schweiz (GIOS) yang didirikan di Zurich pada tahun 1989.  Berbagai organiasi Islam dibentuk antara tahun 1990-an hingga tahun 2000 termasuk di dalamnya adalah:

  • 1994 Organisation Muslime und Musliminnen der Schweiz
  • 1997 Basler Muslim Kommission, Basle
  • 1997 Vereinigung Islamischer Organisationen Zürich (VIOZ), Zurich
  • 2000 Koordination Islamischer Organisationen Schweiz (KIOS), Berne
  • 2002 Vereinigung islamischer Organisationen des Kantons Luzern (VIOKL), Lucerne
  • 2003 Dachverband islamischer Gemeinden der Ostschweiz und des Fürstentums Liechtenstein
  • 2006 Föderation Islamischer Dachorganisationen in der Schweiz (FIDS)
  • 2009 Islamic Central Council of Switzerland (ICCS), ger. Islamischer Zentralrat Schweiz (IZRS), Berne - a neo-wahhabi / neo-salafist organization

Masjid jenewa.

Masjid masjid di Swiss dibangun oleh organisasi organisasi Islam disana dan kebanyakan di sokong penuh oleh Negara Negara asal mereka. Seperti Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Turki di Wangen bei Olten yang dibangun dan dikeola oleh warga muslim Turki di Swiss. Setidaknya ada dua masjid di Swiss yang dibangun sebelum era tahun 1980-an dan sebelum derasnya pada imigran muslim dari semenanjung Balkan dan Turki di dekade setalah itu.

Ahmadiyah telah membangun masjid mereka di Zurich tahun 1963 lengkap dengan menaranya yang menjadi menara pertama di Negara tersebut, disusul kemudian pembangunan masjid oleh pemerintah Saudi Arabia di Jenewa tahun 1978. Kini berbagai berbagai masjid dan musola tersebar di berbagai wilayah di Swiss, terutama di daerah daerah perkotaan.

Secara keseluruhan Negara Swiss memiliki empat masjid yang dilengkapi menara yakni Masjid Ahmadiyah di Zurich (1963), Masjid Milik Saudi Arabia di Jenewa (1978), kemudian masjid dan pusat kebudayaan Islam Turki di Wangen bei Olten dan masjid di Winterthur.

Kontroversi Pelarangan Menara

Di tahun 2007 dewan kota Bern telah menolak rencana muslim disana untuk membangun masjid dan pusat kebudayaan Islam terbesar di Eropa yang rencananya akan dibangun di kota itu, tak sampai disitu saja, perseteruan tentang rencana pembangunan masjid di Swiss memuncak di tahun 2009 ketika pemerintah Negara itu mengeluarkan larangan bagi pembangunan menara masjid baru terkecuali bagi empat masjid yang sudah dibangun sebelumnya.

Keputusan kontroversial itu bermula dari rencana pembangunan masjid kedua di Wangen bei Olten yang rencananya dilengkapi dengan menara di tahun 2009. Sebuah inisiatif kemudian mencuat tentang pelarangan menara masjid yang didukung 57.5% pemilih pada referendum dibulan November 2009 yang kemudian menjadi dasar pemerintah Swiss mengeluarkan larangan pembangunan menara masjid baru diseluruh wilayah Negara tersebut.

Tak pelak, keputusan yang mencengangkan tersebut menuai protes dan kecaman keras dari berbagai Negara di dunia termasuk kecaman keras dari pemerintah Indonesia terhadap keputusan rasis yang di usung oleh partai Rakyat Swiss tersebut. Namun kemudian rakyat Swiss, terutama yang mendukung keputusan tersebut terhenyak dengan sebuah fakta tak terduga manakala “Daniel Streich” tokoh yang mengusung iniasitaif pelarangan menara masjid di Swiss itu justru kemudian mengumumkan bahwa dirinya telah memeluk Islam.

Referensi


Sunday, May 14, 2017

Masjid Kruszyniany, Tertua di Polandia

Masjid Kruszyniany merupakan satu dari dua masjid tertua di Polandia, Masjid yang lainnya adalah Masjid Bohiniki.

Desa Kruszyniany merupakan salah satu desa tua di Republik Polandia, sebuah desa yang memiliki warisan masa lalu yang masih bertahan hingga kini. Desa ini merupakan satu dari dua desa Muslim Tatar di Polandia bersama dengan Desa Bohiniki di wilayah Gmina Krynki yang berbatasan langsung dengan Republik Belarusia.

Desa Kruszyniany memiliki pertalian erat dengan desa Bohiniki karena sama sama dua Desa yang dibangun oleh Muslim Tatar di masa lalu, wilayah tersebut merupakan pemberian dari penguasa Polandia, King Jan III Sobieski, melalui traktad Grodno pada tanggal 12 Maret 1679, sebagai imbalan atas keikutsertaan mereka dalam perang melawan Turki.

Wooden Mosque in Kruszyniany / Drewniany Meczet w Kruszynianach
16-120 Krynki, Polandia
kruszyniany.com.pl
+48 502 543 871



Izin pembangunan masjid bagi kaum muslimin di Polandia juga mendapatkan pengesahan dari Parlemen Warsawa di tahun 1556-1557 yang mengizinkan pembangunan masjid dengan izin dari Raja dan Uskup di atas lahan yang diberikan oleh raja. Le,idoam di tahun 1768 memungkinkan muslim disana membangun masjid diatas lahan pribadi maupun di atas lahan milik kerajaan.

Sama seperti Desa Bohiniki, Desa Kruszyniany juga memiliki sebuah masjid tua dari kayu dengan ukuran sedikit lebih besar, dan dibandingkan dengan masjid desa Bohiniki, desa ini bahkan lebih dekat ke perbatasan Polandia dengan Belarusia meski masih sama sama berada di wilayah propinsi yang sama dengan desa Bohiniki.

Masjid Kruszyniany dibuat sekitar abad 16-17 oleh seorang kapten kalvaleri Tartar, Murza Krzeczkowski. Walaupun memang tidak ditemukan catatan resmi tentang kapan masjid ini dibangu. Masjid Kruszniany pertama kali muncul dalam sebuah laporan sejarah di tahun 1829, namun demikian laporan tersebut jelas menunjukkan bahwa masjid tersebut telah ada disana jauh sebelum tahun tersebut.

Masjid tua dari abad ke 17 dan memang sejak awal dibangun dari bahan kayu dan bertahan hingga kini.

Kini hanya dua keluarga Tatar yang masih tingal di desa ini namun masjid ini merupakan tempat persinggahan kaum Tatar untuk merayakan hari-hari besar agama Islam. Masjid yang bentuknya tak berbeda jauh dari masjid Bohoniki ini juga sangat popular oleh penduduk non muslim sebagai obyek wisata. Masjid Kruszyniany telah di syahkan sebagai cagar budaya sejak tanggal 3 Nopember 1960 oleh pemerintah Polandia.

Sebuah pertanyaan menggelitik tentang bentuk masjid masjid tua di Negara Negara Baltik yang hampir semuanya dibangun seperti rumah rumah penduduk kebanyakan dan bahkan lebih mirip dengan sebuah gereja dibandingkan dengan bangunan masjid, hal tersebut di duga karena memang masjid masjid tersebut dibangun oleh para tukang yang beragama Kristen

Para tukang tersebut bahkan belum pernah melihat masjid seumur hidup mereka, maka jadilah masjid yang mereka bangun lebih mirip bangunan biasa yang mereka bangun dengan interior yang sesuai untuk masjid serta arahnya yang mengarah ke kiblat. Dua Masjid tua di Polandia ini ditambah dua Masjid tua di Belarusia dan tiga masjid tua di Lithuania memiliki bentuk yang nyaris serupa karena memang dibangun di era yang hampir bersamaan.

Mimbar dan mihrab di masjid Kruszyniany.

Arsitektur Masjid Kruszyniany

Dibandingkan dengan Masjid Bohiniki, masjid Kruszyniany ini memiliki bentuk yang mirip sebagai sebuah masjid meski sama sama menggunakan bahan kayu sebagai material bangunannya.  Ukuran bangunannya 10x13m, dilengkapi dua dua pintu masuk terpisah untuk Jemaah wanita dan Jemaah pria.

Dua menara yang juga dibangun dari kayu, berdiri mengapit sisi depan masjid ini ditambah dengan satu bentuk menara berukuran kecil di atap masjid sedikit ke tengah. Keberadaan tiga menara ini yang menjadi pembeda antara masjid ini dengan masjid masjid kayu lainnya di Polandia, Belarusia dan Lithuania.

Masjid Krusziniany pertama kali di renovasi tahun 1846 sebagaimana tertulis di salah satu dinding di ruang sholat wanita, renovasi berikutnya dilakukan tahun 19000 dilakukan perbaikan dibagian interior masjid, kemudian renovasi selanjutnya di tahun 1957 yang disebutkan dalam dokumen konservasi merupakan renovasi perbaikan yang cukup besar.

bagian yang menonjol keluar bangunan masjid ini adalah mihrabnya.

Renovasi berikutnya di tahun 1975-1976, dilanjutkan tahun 1992-1993 dilakukan perbaikan atap kubah dan pengecatan bangunan masjid. Dan perbaikan paling ahir dilakukan di tahun 2014 dilakukan perbaikan terhadap masjid ini akibat vandalisme dan juga terhadap pemakaman kaum muslmin yang juga sama sama menjadi korban vandalisme.

Di bagian dalam masjid ini terdiri dari ruang sholat utama di lantai dasar untuk Jemaah pria dan ruang sholat di area balkoni untuk Jemaah wanita. Sebuah mimbar dari kayu berdiri kokoh di dalam masjid ini bersebelahan dengan sebuah mihrab yang berbentuk sebagai sebuah ceruk berbentukss egi empat. Sedangkan diisi luar bangunan, masjid ini dikeliingi oleh pagar dari susunan batu alam setinggi sekitar 60cm.

Referensi




Saturday, May 13, 2017

Masjid Bohoniki, Polandia

Masjid sederhana terbuat dari kayu menjadi cici ciri masjid peninggalan era kejayaan Lithuania pada masa kejayaan Kaisar Vytautas termasuk masuk masjid tua Boniniki di Polandia ini.

Bohiniki adalah sebuah desa kecil di sebaah timur laut Polandia yang berada tak jauh dari garis perbatasan negaranya dengan Republik Belarusia serta Lithuania. Penduduk desa kecil Bohiniki ini tak lebih dari 100 jiwa, namun alam sejarahnya yang begitu panjang memang memiliki keterkaitan dengan Belarusia dan Lithuania, mengingat ketiga negara tersebut pada abad ke 14 pernah terikat dalam persemakmuran.

Dimasa itu, Muslim Tatar dari semenanjung Krimea (Ukraina) masuk ke wilayah Persemakmuran Lithuania-Polandia atas undangan dari Raja Vytautas. Muslim Tatar  yang terkenal sebagai pasukan perang terlatih ini pada awalnya menetap di sekitar ibukota Lithuania dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah persemakmuran tersebut, dan pada saat persemakmuran dibubarkan membentuk negara masing masing, desa Bohiniki kini masuk ke dalam wilayah negara Polandia.

Meczet w Bohonikach
16-100 Bohoniki, Gmina Sokółka, Polandia
Koordinat: 53°23′N 23°36′E



Desa Bohoniki ini merupakan salah satu desa muslim Tatar di Polandia, Muslim Tatar di kawasan Baltik seringkali disebut dengan Lipka Tatar, Lipka merupakan nama lain dari Lithuania, dan Lithuania yang dimaksud adalah wilayah Lithuania di masa lalu yang meliputi wilayah yang jauh lebi luas dibangingkan dengan wilayah republic Lithuania saat ini, dan Polandia merupakan bagian dari wilayah persemakmuran bersama Lithuania-Polandia di masa lalu, begitupun dengan Belarusia, sebagian Ukraina dan Latvia.

Sejarah yang membentang 7 abad itu meninggalkan begitu banyak artefak dari masa lalu termasuk komplek pemakaman muslim yang berusia berabad abad, masjid dan masyarakat muslim Tatar yang masih eksis hingga hari ini di desa Bohiniki, meskipun mereka tak lagi berbicara dalam bahasa Tatar.

Desa Bohiniki merupakan satu dari dua Desa yang dibangun oleh Muslim Tatar di masa lalu, wilayah tersebut merupakan pemberian dari penguasa Polandia, King Jan III Sobieski, di sekitar abad ke 17, kepada kaum Muslim Tatar sebagai imbalan atas keikutsertaan mereka dalam perang melawan Turki.

Masjid Bohiniki dari arah sisi kiblat. bagian yang menjorok keluar dari bangunan utama itu adalah bagian mihrab.

Penduduk desa ini sebenarnya mencapai 3000-an jiwa namun sebagian besar dari mereka tertutama kaum muda sudah pindah ke pusat kota ataupun ke luar negeri untuk kehidupan yang lebih baik, Tersisa orang orang tua masih tinggal dan menetap di desa ini. Di masa kemerdekaan Polandia, kini desa Bohiniki telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional oleh pemerintah Polandia sejak tanggal 20 Nopember 2012 dibawah pengelolaan Badan Cagar Budaya Nasional Polandia.

Masjid Bohiniki

Desa Bohiniki telah lama memiliki sebuah bangunan masjid tua yang dibangun dari kayu dengan arsitektur mirip dengan kebanyakan bangunan rumah rumah penduduk disana. Tidak ada data pasti kapan masjid ini dibangun, mengingat bahwa usia desa ini sudah begitu tua setua usia peradabannya, namun diperkirakan masjid kayu ini dibangun tahun 1873.

Di tahun tersebut terjadi kebakaran yang menghanguskan masjid desa Bohiniki dan kemudian ditahun yang lama dilakukan pembangunan masjid dimaksud. Kebakaran tersebut menghanguskan masjid desa Bohiniki yang terletak di sebelah pemakaman bersejarah di bagian timur dari desa, yang sudah ada sejak sekitar abad kedelapan belas, atau bahkan mungkin sejak abad ketujuh belas.

Interior Masjid Bohiniki, meskipun kecil dibangun dua lantai, Lantai atas (balkoni) hanya untuk jemaah wanita.

Selama Perang Dunia II, masjid ini dihancurkan oleh Wehrmacht, yang mengubah bangunan menjadi sebuah rumah sakit lapangan. Setelah 1945, masjid telah mengalami banyak renovasi kecil. Ada rencana untuk ekspansi masjid, namun terhalang oleh status masjid tersebut sebagai cagar budaya yang harus di konservasi.

Namun demikian, renovasi terhadap masjid ini tetap dilaksanakan tahun 2003 untuk menjaganya dari kerusakan. Atapnya yang semula dari timah dan sudah rudak diganti baru dengan sirap. Dan proses renovasi menyeluruh dilakukan pada tahun 2005. Proses renovasi dilakukan semata mata untuk kepentingan konservasi, seluruh pross dilakukan merujuk kepada bentuk dan material aslinya.

Arsitektur Masjid Bohiniki Tradisi Unik Pengunjung Non Muslim

Penampilan masjid Bohoniki mengingatkan kita pada sekolah di film Little House in The Prairie. Bukan di tengah padang rumput, tapi di tengah hamparan ladang gandum yang luas. Masjid ini merupakan satu dari dua pemukiman asli Tatar yang tersisa. Dibuat pada abad 17 dari kayu. Memiliki dua ruang kecil untuk shalat. Satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Hanya satu pintu masuk, dengan hiasan dinding kutipan dari ayat-ayat Al Qur’an menjadikan masjid ini tampak begitu sederhana.

Masjid Bohiniki dimusim salju yang membeku.

Tidak jauh dari desa ini, di hutan, terdapat pemakaman Islam, dimana makam-makam kuno dan baru berpadu membentuk garis-garis teratur. Nama-nama yang tertulis di makam tersebut kadang dari kata-kata bahasa Arab, namun juga ada yang berbahasa Polandia dengan simbol bulan sabit. Makam ini juga menjadi tempat yang kerap dikunjungi pengunjung Muslim, karena pemakaman ini merupakan salah satu dari tiga pemakaman muslim yang terdapat di Polandia.

Masjid Bohoniki ini juga sangat popular oleh penduduk non muslim sebagai obyek wisata. Lucunya, penduduk non Muslim yang ingin berkunjung ke masjid ini masuk dengan ritual dengan membuat tanda salib, seperti hendak memasuki gereja. Hal ini menunjukkan penghargaan kaum non muslim terhadap masjid setara dengan penghargaan mereka terhadap tempat ibadah mereka sendiri.

Referensi



Sunday, May 7, 2017

Masjid an-Nashr Rotterdam, Belanda

Penampilan Masjid An-Nashr Rotterdam, negeri Belanda ini sama sekali tidak mirip dengan bangunan masjid yang umumnya kita kenal, lebih mirip dengan sebuah bangunan biasa di tengah kota Rotterdam.

Masjid An-Nashr adalah salah satu masjid besar di kota Rotterdam yang dikelola oleh muslim Maroko di Negeri Belanda. Masjid ini bukanlah satu satunya di kota terbesar kedua di Belanda itu. Rotterdam memang dikenal sebagai kota paling ramah terhadap muslim di Eropa, bahkan walikotanya pun dijabat oleh seorang muslim. Rotterdam juga dikenal sebagai kota dengan penduduk imigrannya yang sangat tinggi, sekitar 47% penduduk kota Rotterdam merupakan para imigran, sekaligus juga menjadikan Rotterdam sebagai kota dengan imigran muslim terbesar di Belanda, bahkan mungkin juga di Eropa.

Kurang lebih 13%, sumber lain bahkan menyebut angka 25% warga Rotterdam beragama Islam, labih fantastis lagi bahkan beberapa media menyebut bahwa di tahun 2020 muslim merupakan mayoritas di Rotterdam. Tidak sulit untuk menemukan makanan halal disana. Walikota Rotterdam saat ini beragama Islam. Beliau adalah Ahmed Aboutaleb, warga Belanda yang memiliki garis keturunan Maroko yang menjadi walikota Rotterdam sejak bulan Januari 2009. Beliau adalah satu–satunya walikota muslim di negeri Belanda.

Di Rotterdam, kita dengan mudah menemukan masjid yang banyak tersebar di seluruh penjuru kota. Namun, banyak masjid yang tidak tampak sebagai masjid, karena bangunannya berupa apartemen yang menyatu dengan rumah-rumah, apartemen, atau kantor di sekelilingnya. Hanya satu dua masjid saja yang tampak sebagai masjid, seperti adanya menara dan kubah khas masjid. Pendatang baru mungkin akan kesulitan mencari lokasi-lokasi masjid tersebut, meskipun sebenarnya ada di mana-mana.

Moskee An-Nasr
Van Cittersstraat 55a, 3022 LH Rotterdam, Belanda
Telepon: +31 10 478 1253
Directions:       From Rotterdam Central Station take bus no 38. Stop at beukelsdijk bus stop. take a walk about 4 bloks to the west.




Masjid-masjid tersebut dikelola oleh warga keturunan Turki, Maroko, Pakistan, Somalia, Boznia atau Indonesia. Uniknya, sebagian masjid di Rotterdam dulunya adalah bangunan bekas gereja yang kemudian beralih fungsi menjadi masjid. Oleh karena itu, banyak bangunan masjid di Rotterdam dari luar tampak seperti bangunan gereja, gedung, atau rumah biasa, salah satunya adalah Masjid An-Nashr yang sebelumnya juga merupakan sebuah gereja.

Berawal dari Sebuah Gereja

Masjid An-Nashr dulunya adalah sebuah gereja “Reformed Church yang kemudian dibeli oleh komunitas muslim Rotterdam ditahun 1982 seharga setengah juta Euro dan kemudian direnovasi dan di-ubah-suaikan sebagai masjid. Ditahun 2010 sebuah proyek renovasi besar besaran di umumkan oleh pengelola masjid di dukung oleh sejumlah LSM untuk saling membantu dan bekerja sama dengan yayasan masjid dalam renovasi dan perluasan yang akan memakan biaya lebih dari sepuluh juta Euro. Upaya tersebut merupakan usaha untuk mewujudkan Masjid an-Nashr di kota Rotterdam dalam penampilan barunya.

Panitia pembaharuan masjid berkeinginan untuk menjadikan masjid tersebut sebagai masjid terbesar di benua Eropa, serta ingin menambahkan bangunan-bangunan lain untuk  penyempurnaan fungsi masjid sebagai lembaga sosial dan kebudayaan di samping fungsinya sebagai tempat peribadatan. Ali At-Tasyi, Direktur Yayasan Masjid An-Nashr menjelaskan bahwa masjid mengalami pembaharuan dalam penampilan dan pelebarannya setelah beberapa pihak tertentu pada tahun-tahun terakhir ini menutup sebagian lokasi masjid karena rapuh dan hampir runtuh.

Papan nama masjid Rotterdam ini satu satunya petunjuk bahwa gedung dipertigaan jalan ini adalah bangunan masjid. itupun bagi mereka yang bisa membaca aksara Arab gundul.

Masjid Terbuka

Masjid An-Nashr dan masjid masjid di Rotterdam membuka diri bagi kunjungan dari pihak manapun termasuk dari para mahasiswa non muslim. Seperti yang terjadi pada 1 April 2005 ketika 30 mahasiswa Katholik melakukan kunjungan ke Masjid An-Nahsr. Dalam kunjungan tersebut mereka diterima dan dipandu langsung oleh Imam masjid.

Masjid An-Nashr dan Gaya Belanda Menghargai Ulama

Namanya Khalil el-Moumni, beliau adalah imam Masjid An-Nasr. Beliau dikenal dengan sikap dan pernyataannya yang keras menolak Homoseksual, yang disampaikan dalam setiap kesempatan termasuk dalam acara wawancara di saluran televisi.

Sikap tersebut menuai kontroversi mengingat di Negeri Belanda, Homoseksual itu diperbolehkan oleh negara, tak pelak beliau mendapatkan kecaman dan protes dari berbagai pihak. Sampai ahirnya beliau di jerat dengan Undang undang anti diskriminasi dan dihadapkan ke meja hijau pada bulan Desember 2001.

Di dalam Masjid An-Nashr, sangat lega.

Namun yang terjadi kemudian justru sesuatu yang sangat mengejutkan banyak pihak. Pada tanggal 4 April 2002, pengadilan Rotterdam mengumumkan keputusannya dan menyatakan bahwa meskipun pernyataan Khalil-el-Mournmni melakukan tindakan diskriminasi namun hal tersebut diperkenankan dengan dasar kebebasan mengekspresikan ke-agamaan, karena (sikap beliau) tersebut di dasarkan kepada Al-Qur’an dan Kitab lainnya.

Kemenkumham Belanda tak terima keputusan tersebut dan kembali mengajukan gugatan dan lagi lagi ditolak oleh pengadilan Rotterdam pada tanggal 18 November 2002. Yah. Begitulah Gaya Belanda Menghormati Ajaran Agama meskipun harus menabrak undang undangnya sendiri.***

Referensi

http://www.refdag.nl/opinie/minder_over_meer_met_moslims_spreken_1_114376


Saturday, May 6, 2017

Masjid Kaunas, Lithuania

Terindah di Lithuania, Masjid Kaunas ini merupakan satu satunya masjid di Lithuania yang dibangun dalam bentuk bangunan masjid sebenarnya seperti pada umumnya lengkap dengan kubah besar dan menara, tiga masjid Lithuania lainnya dibangun dari kayu dengan bentuk hampir sama dengan kebanyakan bangunan hunian penduduk setempat.

Kaunas adalah sebuah kota di Republik Lithuania, yang merupakan kota terbesar kedua di Lithuania setelah Ibukota Negara, Vilnius. Kota ini mencakup wilayah seluas 157 km2 dengan jumlah penduduk mencapai 321 ribu jiwa di tahun 2011. Kota Kaunas dilalui oleh dua sungai yakni Sungai Nemunas dan Sungai Neris yang menjadi saksi bisu sejarah panjang kota tersebut.

Sejarah masa lalu kota Kaunas cukup berdarah darah. Sempat menjadi bagian dari wilayah Negara Commonwealth Polandia dan Lithuanian sampai tahun 1795, dan pada saat Negara Commonwealth tersebut terbelah, kota Kaunas menjadi bagian dari Kekaisaran Russia. Ketika pasukan Napoleon dari Prancis berupaya menyerbu Russia, kota Kaunas menjadi laluan pasukan Napoleon, dua kali Pasukan Napoleon melalui kota ini dan dua kali pula Kaunas mengalami kehancuran.

Di kota Kaunas sejak enam abad yang lalu terdapat komunitas kecil ummat Islam dari Etnis Tatar yang kini telah menjadi bagian integral dari Negara tersebut, dan sejak tahun 1930 kaum muslim Tatar di Kota Kaunas ini telah memiliki masjid yang terkenal dengan sebutan masjid Kaunas. Lokasinya berdiri tepat dijantung kota bersebelahan dengan taman Ramybes Park dan dua Gereja Ortodox, diapit oleh dua ruas jalan utama Traku street dan Vytautas boulevard di Ramybes park.

Vytauto Didžiojo mečetė
Totorių. 6, Kaunas 44236, Lituania
musulmonai.lt
koordinat: 54°53'39"N   23°55'42"E



Dari empat masjid tua yang masih ada di Lithuania, Masjid Kaunas merupakan satu satunya masjid tua yang dibangun dengan gaya masjid sebenarnya dari bahan beton lengkap dengan kubah dan menara. Masjid Kaunas juga masjid pertama dan satu satunya yang dibangun dengan dana bantuan dari pemerintah Lithuania sebelum Negara tersebut menjadi bagian dari Federasi Uni Soviet.

Pembangunan masjid Kaunas dilaksanakan bersamaan dengan peringatan 500 tahun wafatnya raja terbesar Lithuania, Vytautas di tahun 1930. Kala itu pemerintah Lithuania menyelenggarakan berbagai even untuk peringatan dimaksud dan bertepatan dengan momen tersebut, muslim Tatar di Kaunas mengajukan rencana membangun sebuah masjid sebagai bagian dari peringatan tersebut.

Sebelumnya Masyarakat muslim Kaunas menyelenggarakan peribadatan di gedung komunitas yang dibangun tahun 1910 oleh seorang muslim Tatar Kaya Raya, Haji Alexander Ilyasevich. Dan Masjid yang akan dibangun direncanakan di lahan disamping gedung milik komunitas muslim tersebut.


Setelah mendapatkan persetujuan dari pemerintah Lithuania, sebagian besar dana pembangunan masjid ini dikucurkan oleh pemerintah sedangkan sisanya ditanggung bersama oleh Muslim Tatar. Sedangkan proyek pembangunannya ditangani oleh arsitek Adolfas Netyksa dan Vaclovas Michnevicus.

Setelah menjalani proses pembangunan selama tiga tahun, seluruh proses pembangunan masjid Kaunas selesai dan diresmikan pada tanggal 15 Juli tahun 1933 dan secara resmi diberi nama Vytautas Didysis Mosque. Bangunan masjid ini cukup indah dengan memadukan gaya masjid Tatar dengan gaya masjid Arabia, meskipun ukurannya tidak terlalu besar sesuai dengan populasi muslim disana.

Exterior masjid tampil sangat menyolok diantara bangunan lainnya, dengan kubah setengah lingkaran berukuran cukup besar di atap bangunan diapit oleh empat kubah berukuran lebih kecil di empat penjuru atap ditambah dengan satu kubah diatas beranda. Di sisi kiblatnya juga dilengkapi dengan mihrab, sementara sebuah menara menjulang di sisi kanan pintu masuk.

Mimbar dan Mihrab Di dalam Masjid Kaunas.

Interior masjid ini terdiri dari ruang sholat utama berukuran 90m² untuk Jemaah laki laki dan ruang sholat Jemaah wanita seluas 45m² yang berada di balkoni terbuka di dalam masjid. Selain itu masjid ini juga dilengkapi dengan ruang pengurusan jenazah, ruang peralatan masjid bersebelahan dengan tangga menuju ke balkon dan menara.

Rangkaian Sejarah Masjid Kaunas

Sedangkan di pekarangan masjid terdapat komplek pemakaman bagi muslim setempat yang berada di sudut  pertigaan ruas jalan Tatars’ street dan Traku Street, dipisahkan oleh pagar. Tidak ada perubahan berarti terhadap bangunan masjid ini seiring perjalanan waktu namun demikian pemakaman umum yang ada disekitarnya telah lenyap diratakan dengan tanah dimasa Uni Soviet, termasuk pemakaman umum yang sudah ada disana sejak tahun 1847.

Penghancuran komplek makam tersebut dimulai tahun 1952, sebagian komplek pemakaman diratakan dengan tanah dengan alasan lokasinya yang sudah tidak tepat lagi karena berada di pusat kota. Namun alasan sebenarnya adalah Pemerintah Uni Soviet tidak merasa nyaman dengan begitu banyak monument dan dan makam kaum muslimin ditempat itu. Ditambah lagi dengan peristiwa demonstasi Solidaritas mahasiswa Kaunas bersama dengan orang orang Hongaria di bulan Oktober 1956 di tempat tersebut memicu penghancuran total seluruh area makam.

Masjid Kaunas di Musim Salju.

Kini lahan bekas pemakaman tersebut dikenal dengan nama Taman Ramybes park (Silence park) atau taman keheningan sesuai dengan suasana tempat tersebut sebelum di ubah menjadi taman hijau oleh pemerintah Soviet. Pemerintah Lithuania juga membangun beberapa prasasti peringatan untuk mengenang bahwa tempat tersebut dahuluna adalah sebuah komplek pemakaman tua. Bangunan bekas tempat tinggal penjaga makam bahkan masih berdiri hingga kini dan dirawat sebagai bagian sejarah. Di Tahun 2006, pemerintah Hongaria menyelenggarakan peringatan peristiwa berdarah di tempat tersebut dan membangun sebuah tugu peringatan disana.

Pembredelan Masjid Kaunas

Pada tahun 1941 masjid ini di tutup dan mengalami penjarahan, kaca kaca jendela nya rusak, karpet, karpet, furniture serta manuskrip Al-Qur’an tua yang ada di masjid ini pun dicuri. Selama periode tahun 1941 hingga tahun 1947 masjid ini masih dibuka dan berfungsi sebagaimana mestinya namun kemudian lagi lagi di tutup dalam kurun waktu yang sangat lama sejak tahun 1947.
                                                                                            
Pada mulanya masjid ini diserahkan kepada Kantor Arsip Kaunas dan digunakan sebagai gudang arsip. Kemudian di tahun 1950 digunakan sebagai tempat sirkus kelompok Valentinas Dikulis. Tahun 1986 masjid Kaunas kembali di ubah fungsi menjadi gedung perpustakaan dan gudang Musium Seni Mikalojus Konstantinas Ciurlionis.

Di musim panas dengan warna langit yang membiru dengan sedikit sapuan awan.

Di periode tahun 1972-1973 bangunan masjid Kaunas kemudian diperbaiki sebagai bagian dari proyek Arsitek Z. Dargis. Sebuah ruang galeri kemudian dibangun pada bagian selatan tembok masjid sebagai bagian dari rencana untuk mendirikan Musium Seni Ketimuran di masjid tersebut, namun rencana itu tidak pernah benar benar terwujud.

Barulah di tahun 1991, setelah Lithuania merdeka dari cengkraman Uni Soviet, bangunan masjid serta lahan seluas 0.84 hektar tempatnya berdiri diserahkan kembali oleh pemerintah Lithuania kepada komunitas muslim Kaunas dan kembali difungsikan sebagai masjid setelah selama 44 tahun di tutup total.

Ditahun 2009 pemerintah Lithuania menetapkan Masjid Kaunas sebagai salah satu Cagar Budaya dan dilindungi oleh Negara dan sampai tahun 2009 masjid ini bertahan sebagai satu satunya masjid berbahan beton yang ada di Negara Negara kawasan laut Baltik, sampai kemudian berdirinya Masjid dan Islamic Center di kota Tallin ibukota Republik Estonia.

Saat ini ada sekitar 260 jiwa muslim Kaunas yang merupakan Muslim Tatar, jumlah yang hampir sama dengan saat perang dunia kedua berahir saat muslim Tatar masuk ke Lithuania dari kawasan Kaukasus, Krimea dan Asia Tengah dan kemudian mendapatkan status kewarganegaraaan Lithuania.

Masjid ini kini turut diramaikan oleh mahasiswa yang datang dari Negara Negara Timur Dekat dan Negara Negara Islam. Di setiap hari Jum’at masjid ini penuh sesak oleh Jemaah sholat jum’at yang meluber hingga kehalamannya., dan jumlah muslim di Kaunas dan Lithuania semakin meningkat dari waktu ke waktu.***

Referensi