Sunday, April 16, 2017

Masjid Agung Covenhagen, Denmark

Menara terkecil, boleh jadi cocok untuk menyebut menara di Masjid Agung Covenhagen di Denmark ini. Tingginya hanya 20 meter berdenah segi delapan dan sangat ramping seperti sebuah tiang listik tegangan tinggi, hanya saja di ujungnya dilengkapi dengan satu kubah berukuran kecil dan ornamen bulan sabit. Namun Simbol tetaplah simbol seberapapun ukurannya, tetap saja menegaskan kehadirannya.

Hamad Bin Khalifa Civilisation Center

Nama resmi masjid terbesar di Denmark ini adalah Hamad Bin Khalifa Civilisation Center, secara harfiah berarti “Pusat Peradaban Hamad Bin Khalifa”, aslinya adalah Masjid Agung dilengkapi dengan fasilitas pendukungnya. Digunakannya nama petinggi negara Qatar sebagai nama dari masjid ini karena memang sumber dana pembangunannya di danai oleh pemerintah Qatar.

Terwujudnya pusat ke-Islaman ini telah begitu lama dinanti nanti oleh muslim Denmark. Penolakan keras terjadi sejak rencana pembangunannya digulirkan termasuk penolakan dari para elit politik terutama dari Partai Rakyat Denmark (DPP) dengan kebijakan anti immigran-nya. Ditambah lagi dengan masalah penerbitan kartun Nabi Muhammad oleh salah satu media di negara itu dan membangkitkan aksi protes keras dari berbagai negara memiliki andil pada tegangnya hubungan pemeluk agama minoritas dan mayoritas di Denmark.

Hamad Bin Khalifa Civilisation Center
Vingelodden 1, 2200 København N, Denmark
situs resmi: hbkcc.dk
telp: +45 70 60 55 45



Kerasnya penolakan terhadap pembangunan masjid ini bahkan tercermin pada saat upacara peresmian pembukaan masjid tersebut yang nyaris tanpa kehadiran dari para petinggi partai dan pejabat tinggi di negara tersebut. Meskipun demikian dengan keluarnya izin pembangunannya secara resmi pemerintah dan masyarakat Denmark telah menerima kehadiran masjid pertama tersebut.

Masjid Agung Denmark ini merupakan Masjid terbesar di Denmark sekaligus sebagai bangunan pertama yang dibangun sebagai masjid sebenarnya di negara itu, sekaligus juga menara berukuran kecil yang dibangun di halaman depan masjid ini merupakan menara masjid pertama yang berdiri di salah satu negara Skandinavia tersebut.

Masjid Pertama Denmark Ahirnya Berdiri

Setelah melewati masa pertikaian politik selama bertahun tahun serta serangkaian aksi protest bertajuk “not in my backyard” sebagai bentuk penolakan pembangunan masjid di negara itu sekalipun harus dibangun di halaman belakang, Muslim Copenhagen ahirnya mendapatkan  apa yang selama ini di-impikan selama bertahun tahun dan diresmikan pembukaanya pada hari Kamis tanggal 19 Juni 2014. Pendanaan pembangunannya mencapai 150 juta kroner (€20.1 juta Euro, atau$27.2 juta dolar Amerika)  

Masjid Agung Covenhagen, gedung utamanya yang berada di sebelah kiri ditambah dengan gedung kedua yang disebelah kanan dengan tulisan besar "Hamam Bin Khalifa Civilisation Center.

Sepetak lahan seluas 6,700 m2 (72,118 kaki2) yang berada diantara gedung dealer mobil dan gedung pergudangan di kawasan berpenduduk dengan pendapatan rendah di pinggiran kota Covenhagen, menjadi simbol penerimaan masyarakat mayoritas disana bagi sebuah masjid yang sangat dibutuhkan oleh sekitar 200 ribu muslim Denmark.

Di dalam komplek tersebut terdiri dari sebuah bangunan masjid lengkap dengan menaranya yang kecil dan ramping, pusat kebudayaan Islam, stasiun televisi, pusat kebugaran, pusat kepemudaan dan rumah jompo. Menara masjid ini sangat mungil, tingginya hanya 20 meter dengan ornamen bulan sabit dipuncaknya. Ruang utama masjid dapat menampung sekitar 900 jemaah sekaligus ditambah dengan area balkoni dapat menampung sekitar 600 jemaah khusus wanita.

Tidak banyak tokoh politik Denmark yang hadir dalam upacara peresmian masjid ini pada hari Kamis tersebut, menimbulkan persepsi media tentang sikap skeptis dari para politisi negara itu, terutama sejak diketahui bahwa pendaan pembangunan masjid tersebut berasal dari Negara Kaya Minyak Qatar yang dianggap bermasalah dengan HAM dan dituding melakukan tindakan kurang terpuji dalam upaya menjadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola tahun 2022.

Suasana saat peresmian masjid

Dalam peresemian tersebut, Pemerintah Qatar diwakili oleh satu delegasi yang dipimpin oleh menteri urusan agama Qatar, H E Dr Ghaith bin Mubarak Al Kuwari.  Dalam sambutannya beliau menggambarkan upacara peresmian masjid tersebut sebagai upaya untuk mencatatkan dalam sejarah tentang pertalian antara Denmark dengan Dunia Islam.

Beliau juga menyatakan bahwa pemerintah Qatar berupaya berkontribusi, melibatkan diri dalam inisiatif positif bagi dialog antar budaya dan peradaban serta saling pengertian antar manusia, Pemerintah Qatar dengan senang hati mendukung pembangunan kompleks masjid tersebut dan berhadap akan menjadi jembatan untuk saling pengertian antara rakyat Denmark dan Dunia Islam.

Sementara pimpinan Konsul Muslim Denmark dalam sambutannya mengatakan bahwa peresmian masjid tersebut sebagai sebuah “quantum leap” dalam sejarah muslim di Denmark dan sejarah hubungan  muslim Denmark dengan dunia Islam secara keseluruhan. Beliau juga memanjatkan do’a bagi pemerintah dan rakyat Qatar.  Al-Hamad juga menyerahkan sebuah souvenir kenang kenangan untuk disampaikan kepada Ayah dari Emir Qatar yang merupakan pendonor pembangunan masjid tersebut.

Interior Masjid Agung Covenhagen

Turut hadir salam upacara peresmian tersebut, Duta besar Qatar untuk Belanda, Kahlid bin Fahad Al Khater, para pejabat senior kementerian dari Qatar dan Denmark, pelajar dan mahasiswa, alim ulama dan Jemaah muslim Denmark. Dan seluruh rangkaian acara peresmian tersebut diliput dan disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi Al-Jazeera dan stasiun televisi Nasional Qatar.

Sumber Pendanaan

Muslim Dernmark yang bergabung di dalam wadah organisasi Konsul Islam Denmark pada awalnya melakukan penjajakan permintaan bantuan dana dari Negara Kuwait dan Saudi Arabia, sampai kemudian melalui pemberitaan stasiun Televisi Al-Jazeera keinginan muslim Denmark untuk membangun masjid tersebut menarik perhatian (mantan) Emir Qatar, Emir Hamad bin Khalifa Al Thani.

Bermula dari sanalah kemudian semua pendanaan pembangunan masjid tersebut ditanggung oleh pemerintah Qatar, dan nama masjid ini pun kemudian mengabadikan nama (mantan) Emir Qatar, Emir Hamad bin Khalifa Al Thani. Emir Qatar, Emir Hamad bin Khalifa Al Thani mengundurkan diri dari jabatannya karena faktor usia dan kemudian menyerahkan jabatan Emir kepada putranya di bulan Juni 2013.

Bersanding antara Menara Masjid Covenhagen yang mungil dengan bendera Denmark dan Qatar.

Selain membantu pembangunan masjid, pihak donor juga berharap berdirinya masjid tersebut menjadi satu landasan bagi terbukanya sebuah dialog antara muslim Denmark dengan para pemeluk agama lainnya di negara tersebut, dan itu sebabnya pada momen peresmian masjid ini, panitia juga mengundang perwakilan dari berbagai tokoh lintas agama.

Sebagai salah satu negara di Timur Tengah yang terkenal sebagai negara yang kaya minyak, Qatar memang aktif memainkan perannya di Eropa baik di bidang da’wah maupun dibidang bisnis. Di kancah sepakbola selain telah terpilih sebagai penyelenggara Piala Dunia tahun 2022, Qatar juga membeli klub sepakbola liga Eropa salah satunya adalah Klub Paris Saint-German, di bidang industri, Qatar diketahui telah memborong saham peruhaaan raksasa otomotif Eropa Volkswagen (VW), dan di kancah media Qatar juga memiliki stasiun tivi Al-Jazeera yang cukup terkemuka di dunia internasional.

Referensi



No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA