Sunday, March 19, 2017

Masjid Al Alam Cilincing Jakarta Utara

TERTUA. Masjid Al-Alam Cilincing merupakan satu dari dua masjid tertua di Jakarta Bersama dengan Masjid Al-Alam di Marunda.

Masjid ini mungkin tidak setenar "kembaranya" Masjid Al Alam Marunda yang lebih dikenal dengan nama masjid si pitung, namun masjid yang juga didirikan oleh fatahillah saat akan merebut sunda kelapa dari Portugis ini sangat besar nilainya bagi sejarah jakarta dan indonesia. Kini masjid ini sehari hari dikelola oleh  “Yayasan Masjid Al-Alam Cilincing Jakarta Utara”.

Berdasarkan versi sejarah Dinas purbakala DKI Jakarta, masjid ini dibangun pada 22 Juni 1527, persis sama dengan HUT kota Jakarta.  Menjadikannya sebagai masjid tertua yang ada di jakarta bersama dengan masjid Al-Alam Marunda yang dibangun ditahun dan oleh orang yang sama. Letaknya berada di jalan rekreasi cilincing Jakarta utara, tepatnya di sebelah pasar ikan cilincing atau 18 Km dari pusat kota jakarta.

Masjid Al Alam Cilincing Jakarta
JL Cilincing, RT. 005/04, RT.3/RW.4, Cilincing
Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 17131
Indonesia


Untuk menyelamatkan tempat bersejarah ini, pada 1972 dilakukan pemugaran masjid oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, saat masih dipimpin Gubernur Ali Sadikin, dan bangunan ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Pada saat itu dilakukan penggantian dinding bata setinggi 1 meter, namun tetap mempertahankan keaslian bagian atasnya yang terbuat dari dinding bambu. Sedangkan di sisi Selatan dan Barat dibuat pelataran parkir. Pada 1989 dilakukan perluasan serambi Timur dan Utara, serta membuat tempat wudhu dan WC.

Masjid Al Alam Cilincing memiliki lima pintu masuk, masing masing dua pintu di utara dan selatan serta satu pintu di sisi timur. Serambi berada di sisi Selatan, Timur, dan Utara dengan lantai keramik berwarna merah hati. Pada serambi sisi timur terdapat kentongan kayu dan bedug yang ditopang empat kayu penyangga. Serambi terbuka di sisi Utara ditopang oleh 11 tiang.

Masjid Al-Alam Cilincing di malam hari

Ruang utama Masjid Al Alam Cilincing berukuran 10 x 10 m, dengan empat soko guru dari kayu jati, Dilengkapi dengan mihrab yang menjorok ke luar bangunan menyerupai sebuah relung dengan dinding dari keramik putih yang berhiaskan kaligrafi bertuliskan dua kalimat syahadat, Sebuah mimbar berada di relung yang lebih kecil yang juga terbuat dari keramik warna putih.

Atapnya yang berbentuk limas dan tidak memiliki langit-langit tetapi langsung ditutupi dengan papan berplitur coklat. Dindingnya juga setengah tembok dan setengah kayu. Bagian luarnya ditutup genteng berbentuk limas tumpang dua dengan puncak memolo berbentuk mahkota raja.

Dan di salah satu sisi masjid terletak sebuah kayu berukir yang bertuliskan “Wasiat Sunan Gunung Jati” . Di bawahnya tertulis dalam aksara hanacaraka dan Latin “Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin” dengan terjemahan dalam Bahasa Indonesia “Aku Tititpkan Masjid dan Fakir Miskin”.

Interior Masjid Al-Alam Cilincing

Arsitektur masjid merupakan gaya asli masjid masjid Nusantara. Tiang, soko guru, pintu, dan kayu-kayu induk kabarnya masih asli. Empat soko guru melambangkan iman, Islam, ilmu, amal. Sedangkan jendela yang berjumlah 8, melambangkan jumlah surga.

Di bagian luar di sisi timur laut terdapat sebuah ruangan yang dipergunakan untuk kantor Sekretariat Ikatan Remaja Masjid. Di samping ruangan ini terdapat tempat wudhu dan kamar kecil, berupa bangunan baru. Pada dinding bagian luarnya terdapat tujuh buah kran air.
Di bagian belakang masjid juga terlihat deretan kuburan yang sebagian konon sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun.

Sebuah bangunan pendopo ditambahkan di sisi timur bangunan asli. Lantai pendopo berlapiskan keramik warna coklat dengan  tiang tiang berukir dan dicat warna emas. Atapnya berbentuk limas bersusun dua dan kalau diperhatikan mirip dengan atap bangunan utama masjid.  Bangunan masjid yang asli agak sulit dilihat secarah utuh karena sudah ditutupi oleh pendopo tambahan ini yang lebih tinggi.

Interior Masjid Al-Alam Cilincing

Beda ketinggian permukaan  lantai antara pendopo dan bangunan utama ini menyebabkan Jemaah harus menuruni beberapa anak tangga menuju bangunan utama yang sekan-akan tenggelam karena lantainya lebih rendah sekitar satu meter. Karena masjid ini dibangun di kawasan rawa di dekat laut, maka air rob selalu membuat masjid ini rentan  banjir, itu sebabnya bangunan pendopo yang dibangun belakangan dibangun lebih tinggi.

Di Masjid Al-Alam Cilincing ini terdapat sebuah sumur tua yang terletak di samping masjid. Banyak orang menyakini air sumur tersebut memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. meski berukuran kecil, masjid ini juga selalu didatangi oleh banyak orang dari berbagai daerah untuk beribadah.

Pada saat shalat jumat karena terlalu banyaknya jumlah jamaah, beberapa jamaah bahkan ada yang melakukan ibadah shalat jumat hingga ke samping tempat wudhu dan toilet. Sedangkan pada jumat malam, banyak orang yang datang ke masjid ini untuk melakukan istiqosah bersama. Di bulan suci Romadhan Jemaah masjid ini akan lebih ramai lagi, pelaksanaan sholat Tarawih di masjid ini dilaksanakan 20 rekaat ditambah 3 witir 3 rekaat.

Interior area Pendopo di Masjid Al-Alam Cilincing, dibagian depan merupakan bangunan lama.

Sunda Kelapa, Fatahillah & Sunan Gunung Jati

Sama halnya dengan Masjid Al-Alam Marunda, pembangunan masjid ini dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah bagi anggota pasukan gabungan Kesultanan Demak & Kesultanan Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah selama penyerbuan ke Sunda Kelapa yang dikuasai Portugis.

Sebelum bertolak ke Sunda Kelapa, sesuai perintah Sultan Demak, Fatahillah singgah ke Cirebon untuk menggabungkan pasukannya dengan Pasukan Kesultanan Cirebon, baru kemudian bertolak ke Sunda Kelapa setelah mendapat arahan dari Sunan Gunung Jati. Gabungan pasukan dua kesultanan ini kemudian juga mendapatkan dukungan dari Banten.

Meski demikian, cerita turun temurun mengaitkan sejarah Masjid ini dengan para Wali Songo terutama Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayatullah yang kala itu memang sedang memegang kekuasaan sebagai Sultan di Kesultanan Cirebon. Terlebih lagi sebagian dari masyarakat kita terlanjur mengidentikkan Sunan Gunung Jati dan Fatahillah sebagai sosok atau orang yang sama. Meskipun faktanya beliau berdua adalah dua sosok yang berbeda.

Atap limas penutup ruang sholat utama.

Itu sebabnya kemudian terdapat tulisan wasiat Sunan Gunung Jati di Masjid ini. Wasiat yang sama juga akan anda temukan pada saat berkunjung ke Makam Syech Quro di Pulo Bata di Kabupaten Karawang, meskipun tidak ada keterkaitan antara Syech Quro dengan Sunan Gunung Jati karena diantara dua tokoh ini hidup di masa yang berbeda.

Namun demikian, wasiat tersebut merupakan wasiat yang baik dari sorang Wali dan tentu saja sangat pantas ditempatkan di tempat yang ramai dikunjungi masyarakat luas sebagai pengingat dan nasihat. Sunan Gunung Jati dan Fatahillah sama sama wafat dan dimakamkan di Cirebon.

Makam mereka berdua berada di titik tertinggi Astana Gunung Jati di Gunung Sembung kota Cirebon. Namun dengan berbagai pertimbangan, hanya anggota keluarga keraton saja yang diperkenankan masuk ke komplek makam tersebut, sedangkan masyarakat umum disediakan tempat di luar tembok pemakaman.***

Referensi

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1999). Masjid Kuno Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat.


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA