Saturday, February 4, 2017

(Masjid) Hagia Sophia Istanbul

Dari gereja menjadi Masjid berahir sebagai Musium.

Hagia Sophia, atau Aya Sofia satu dari bangunan bersejarah dunia yang masih berdiri hingga saat ini. Bangunan yang memiliki arti penting karena faktor sejarah, arsitektural, keagungan, ukuran serta fungsinya. Nama Haga Sophia sendiri telah identik dengan kota Istanbul meskipun Istanbul bukanlah satu satunya kota dunia yang memiliki bangunan dengan nama tersebut.

Haga Shopia hingga hari ini berstatus sebagai museum sejak tahun 1935. Sebelumnya Haga Shopia sempat difungsikan sebagai masjid selama 482 tahun atau hampir lima abad lamanya. Perubahan tersebut seiring dengan runtuhnya Emperium Usmaniyah dan berganti dengan Republik Turki yang didirikan oleh Mustafa Kemal Pasha atau lebih dikenal dengan nama Attaturk.

Kota Istanbul tidak saja memainkan perang teramat penting bagi Turki, namun juga bagi peradaban. Letak geografisnya yang berada di garis batas benua Eropa dan Asia menjadikan kota ini sebagai titik pertemuan peradaban timur dan barat sepanjang sejarah. Kehancuran dan kejayaan diwaktu bersamaan pernah di alami kota ini, begitupun dengan bangunan bangunan bersejarah yang masih berdiri di kota ini hingga hari ini termasuk salah satunya adalah Haga Shopia.



Berawal Sebagai Gereja

Hagia Sophia pada awalnya merupakan gereja terbesar yang pernah dibangun oleh Emperum Romawi Timur di Konstantinopel. Bangunan ini pernah tiga kali dibangun di lokasi yang sama. Ketika pertama kali berdiri bangunannya diberi nama Megale Ekklesia (Gereja Besar). Perubahan nama terjadi setelah abad ke 5, tempat tersebut disebut sebagai Hagia Sophia (Holy Wisdom / Kebijaksanaan Suci) karena Gereja tersebut juga digunakan sebagai tempat penobatan penguasa, serta menjadi Katedral terbesar sepanjang sejarah Byzantium.

Bangunan Gereja pertama dibangun oleh Kaisar Konstantios (337-361) pada tahun 360 atau dipenghujung masa kekuasaannya. Bangunan pertama tersebut beratapkan kayu dan dibangun cukup tinggi layaknya bangunan Basilica, namun kemudian ludes terbakar dalam rusuh massa pada tahun 404 sebagai akibat dari ketidaksetujuan antara Istri Kaisar Arkadios (395-405) yang bernama Ratu Eudoksia dengan Ioannes Chrysostomos yang merupakan patriarch Konstantinopel.

Potret mozaik sang patriarch ditemukan masih berada di tembok tymphanon yang berada disisi utara bangunan gereja, padahal pada saat itu beliau sudah dalam pengasingan. Tidak ada yang tersisa dari bangunan pertama tersebut, namun ada batu bata yang ditemukan di gudang museum bertuliskan “Megale Ekklesia” di duga batu bata tersebut merupakan remah yang tersisa dari bangunan gereja pertama tersebut.

Interior Hagia Sophia saat masih difungsikan sebagai masjid

Bangunan Gereja kedua dibangun ditempat yang sama oleh Kaisar Theodosios II (408-450) pada tahun 415. Bangunan tersebut diketahui memiliki lima ceruk dan pintu masuk yang monumental namun masih beratap kayu. Namun, lagi lagi bangunan tersebut luluh lantak oleh rusuh masa yang dikenal dengan Nika Revolts pada tanggal 13 Januari 532. Atau di tahun kelima naik tahtanya Kaisar Justinianos (527-565), kala itu kelompok Biru yang mewakili para aristocrat dan kelompok hijau yang mewakili para pedagang dan saudagar berkolaborasi menentang Kaisar.

Puing puing dari bangunan kedua ini sempat ditemukan dalam eskavasi yang dipimpin oleh
A. M. Scheinder dri the Istanbul German Archeology Institute, dua meter dibawah tanah ditemukan beberapa sisa reruntuhan termasuk anak anak tangga dari pintu monumental, bagian dasar kolom kolom bangunan dan beberapa temuan lainnya, dan sebagai tambahan beberapa pernik arsitektural dari pintu masuknya yang monumental tersebut dapat dilihat di taman sebelah barat.

Gereja ketiga dibangun oleh Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles), yang merupakan dua arsitek pembaharu pada masa itu atas perintah dari Kaisar Justinianos (527-565). Informasi dari sejarawan Prokopios menyatakan bahwa pembangunanya dimulai pada tanggal 23 February 532, dan selesai dalam waktu cukup singkat selama lima tahun, dibuka secara resmi pada tanggal 27 Desember 537.

Hagia Shopia saat ini
Berbagai sumber menunjukkan bahwa pada hari pembukaan Hagia Shopia, Kaisar Justinianos memasuki bangunan tersebut dan berkata “My Lord, thank you for giving me chance to create such a worshipping place,” yang kemudian dilanjutkan dengan kalimat “Süleyman, I beat you”. Secara harfiahnya bermakna “Terima kasih Tuhan telah memberiku kesempatan membangun Tempat Ibadah ini” lalu dilanjutkan dengan “Sulaiman Kukalahkan Kau”. Merujuk kepada Kuil Sulaiman di Jerusalem. (Dalam sejarah Islam kuil yang dimaksud oleh sang Kaisar tak lain adalah Masjidil Aqso di kota Al-Quds, Palestina). Bangunan Gereja ketiga yang dibangun pada Kaisar Justianos inilah yang masih berdiri hingga hari ini.

Bangunan gereja ketiga ini menggabungkan tiga rancangan tradisional basilica dengan kubah pusat dalam rancangannya. Ketinggian kubah utama dari permukaan lantai mencapai 55.6 meter dengan radius masing masing 31.87 meter dari utara ke selatan dan 30.86 meter dari timur ke barat.

Kaisar Justinianos memerintahkan kepada semua provinsi dibawah kekuasaannya untuk mengirimkan material bangunan terbaik untuk digunakan bagi pembangunan Hagia Shopia sehingga pembangunan gereja untuk ketiga kalinya itu haruslah merupakan yang terbesar dan teragung. Kolom kolom pualam yang digunakan pada struktur bangunannya di ambil dari kota kuno Anatolia dan Suriah dan sekitarnya termasuk dari kota kota Aspendus Ephessus, Baalbeek dan Tarsa.

Interior Hagia Sophia dengan satu partisi putih panjang di dalam masjf.

Batu pualam putih diambil dari Pulau Marmara, green porphyry diambil dari Pulau Eğriboz, Pualam merah muda dari Afyon, sedangkan pualam kuning diambil dari Afrika Utara. Elemen dekoratif pada bagian interior yang digunakan untuk menutup dinding bagian interior dibuat dengan cara membagi dua sama besar satu blok batu pualam kemudian menyatukannya lagi untuk mendapat bentuk yang benar benar simetris.

Sebagai tambahan, untuk bagian struktur bangunannya termasuk kolom kolom yang digunakan diangkut dari Kuil Artemis di Ephessus, termasuk 8 kolom diambil dibawa dari Mesir digunakan sebagai penopang kubah. Keseluruhan struktur bangunannya menggunakan 104 kolom (tiang), 40 kolom pada bagian bawah dan 64 kolom pada bagian atas.

Keseluruhan dinding Hagia Sophia kecuali satu bagian yang di tutup dengan batu pualam, dihias dengan mozaik. Emas, perak, kaca terakota, dan batuan warna warni digunakan untuk membentuk mozaik dimaksud. Mozaik nya membentuk pola pola tumbuhan dan bentuk geometris dari abad ke 6 Miladiyah, bentuk mozaik yang berasal dari masa
Iconoclast.

Mihrab Masjid Hagia Sohia, Istanbul.

Selama masa kekuasaan Emperium Romawi Timur, Hagia Sophia digunakan sebagai gereja kekaisaran, tempat dimana para Kaisar dinobatkan. Tempat penobatan tersebut berada di tempat yang lantainya ditutup dengan batu warna warni membentuk rancangan sirkular.

Konstantinopel sempat jatuh ke tangan Kekuasaan Bangsa Latin pada tahun 1204 - 1261 yang mengakibatkan kehancuran kota Konstantinopel berikut bangunan Gereja Hagia Sophia. Pada tahun 1261 pada saat pasukan Romawi Timur berhasil merebut kembali Konstantinopel, mereka mendapati Hagia Sophia dalam kondisi rusak parah.

Hagia Sophia Sebagai Masjid

Pada hari Jum’at tanggal 23 Maret 1453, Muhammad Al-Fatih atau Fatih Sultan Mehmed (1451-1481) dari dinasti Usmaniyah berhasil menaklukkan konstantinopel, menadai berahirnya masa kekuasan Romawi Timur (Byzantium) di wilayah tersebut berganti dengan kekuasaan Islam. Al-Fatih kemudian mengganti nama Kota Konstantinopel menjadi Istambul, melakukan perbaikan terhadap Hagia Sophia dan menjadikannya sebagai masjid setelah selama satu milennium berfungsi sebagai gereja.

Panel Kaligrafi terbesar di dunia di Hagia Sophia

Bangunan menara kemudian ditambahkan atas rancangan arsitek Mimar Sinan. Pembangunan empat menara di Masjid Hagia Sophia ini tidak dilakukan bersamaan. Pada masa Al-Fatih dibangun sebuah menara di bagian selatan. Pada masa Sultan Salim II, dibangun lagi sebuah menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad III, dibangun lagi dua buah menara sekaligus dan diubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja. Termasuk, mengganti tanda salib pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit.

Sebuah bangunan madrasah kemudian dibangun pada sisi utara Hagia Sophia pada masa Al-Fatih, namun bangunan tersebut kemudian dirobohkan pada abad ke 17. Seiring perubahan fungsi menjadi masjid, Hagia Sophia mengalami berbagai perubahan, Mihrab dan Mimbar ditambahkan menggantikan altar, kemudian ditambahkan juga Maksurah sebagai tempat khusus bagi Sultan dan kerabatnya, serta ditambahkan pula Muezzin mahfili yang merupakan tempat khusus bagi muazin untuk meneruskan ucapan imam.

Pada masa kekuasaan Sultan Abdülmecid’s (Sultan Abdul Majid 1839-1861), dilakukan renovasi terhadap Masjid Hagia Sophia oleh Fossati, beliau juga membangun kembali bangunan Madrasah yang dirobohkan di abad ke 17 dilokasi yang sama. Reruntuhan bangunan madrasah ini ditemukan pada penggalian tahun 1982.

Interior Hagia Sophia dari area istirahat khusus untuk Sultan.

Lampu perunggu yang berada di dua sisi mihrab merupakan hadiah kepada masjid dari Kanuni Sultan Süleyman (1520-1566) sekembalinya beliau dari Budin. Dua buah kubus dari pualam yang berada di dua sisi pintu masuk utama berasal dari era (abad ke 3 - 4 sebelum masehi) dibawa khusus dari Bergama dan diserahkan ke Masjid sebagai hadiah dari Sultan Murad III (1574-1595).

Pada masa kekuasaan Sultan Abdülmecid Antara tahun 1847 dan 1849, dilakukan renovasi ektensif terhadap Hagia Sophia yang dilaksanakan oleh perusahaan Swiss Fossati brothers, pada masa itu, Hünkâr Mahfili (tempat Sultan melaksanakan sholat) yang sebelumnya berada di mihrab dibongkar dan dibuatkan yang baru di depan mihrab sisi kiri.

Kaligrafi besar berdiameter 7,5 hingga 8 meter di masjid ini merupakan karya kaligrafer Kadıasker Mustafa İzzet Efendi yang kemudian dipasangkan pada beberapa titik struktur bangunan Hagia Sophia. Masing masing Kaligrafi bertuliskan Lafadz Allah, Muhammad, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hasan dan Husen. Panel panel Kaligrafi berbentuk bundar ini dikenal sebagai panel kaligrafi berukuran terbesar di dunia Islam.

Hagia Sphia di malam hari

Berahir Sebagai Musium

Seiring dengan runtuhnya Emperium Usmaniyah dan terbentuknya Republik Turki dibawah komando Mustafa Kemal Atatürk, Hagia Sophia di alih fungsi sebagai Musium sejak tanggal 1 Februari 1935, setelah selama 482 tahun berfungsi sebagai masjid. Berdasarkan akta tahun 1936 Hagia Sophia di daftarkan sebagai “Ayasofya-i Kebir Camii Şerifi mewakili Fatih Sultan Mehmed Foundation for maoseleum, akaret, muvakkithane dan madrasah yang berada di 57 pafta, 57 island dan 7th parcel. Sejak saat itu semua aktivitas ke-islaman terhenti di Hagia Sophia.

Upaya mengembalikan fungsinya sebagai masjid telah dilakukan oleh pemerintahan Turki dibawah pemerintahan Presiden Erdogan sejak tahun 2013, namun gagasan itu juga direspon unjuk rasa sebagian orang di Turki. Di bulan Mei tahun 2015 untuk pertama kali diperdengarkan lagi lantunan ayat suci Al-Qur’an di Hagia Sophia dalam sebuah acara pameran bertajuk cinta nabi.

Pada bulan suci Romadhan tahun 2016 yang lalu pemerintah Turki mengeluarkan izin sementara penggunaan kembali Hagia Sophia sebagai masjid selama bulan suci Romadhan. Keputusan tersebut telah menimbulkan ketersinggungan dari pemerintah Yunani. Dari faktor sejarah Yunani merupakan penerus Kekaisaran Romawi dan tentu saja memiliki keterikatan yang kuat dengan Hagia Sophia. Setelah masa izin nya berahir, Hagia Sophia kembali sebagai Musium.

Kini, sebagai sebuah musium, Hagia Sophia dapat dikunjungi dengan bebas oleh kalangan manapun, tanpa harus mematuhi tata krama sebagaimana memasuki sebuah bangunan masjid. Beberapa pernik dari masa sebelumnya memang masih dapat dilihat, karena memang pada saat bangunan ini di ubah menjadi masjid tidak secara keseluruhan menghapus semua ornamen di dalam masjid ini termasuk mozaik mozaik kuno yang menghias bagian interiornya, ditambah lagi dengan upaya dari para peneliti yang melakukan upaya menemukan pernik pernik gereja dibalik mozaik, dan ornamen Islami yang ditambahkan semasa kekuasaan Islam telah merusak beberapa bagian tersebut dan memunculkan kembali beberapa lukisan kuno era Kristen di Hagia Sophia.

Hagia Sophia di malam hari

Paralelisasi Sejarah

Bagaimana situasi di tanah air Indonesia pada saat kejatuhan Konstantinopel ke tangan Muhammad Al-Fatih di tahun 1453?. Di Abad ke 15 Miladiyah bagian barat pulau Jawa berada dibawah kekuasaan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Daerah sekitar kota Cirebon saat ini berada di bawah kendali Ki Gde Ing Tapang sebagai Syah Bandar Muara Jati, bagian dari kerajaan Pajajaran.

Merujuk kepada buku Sekitar Komplek Makam Sunan Gunung Jati dan Sekilas Riwayatnya, Pada tahun 1456 (tiga tahun setelah kemenangan Al-Fatih atas Byzantium di Konstantinopel) Pangeran Cakrabuwana, putra Prabu Siliwangi dari Subang Larang (Putri Ki Gde Ing Tapang) pulang ke tanah Jawa dari Jazirah Arab dan mendirikan Nagari Caruban Larang. Negeri ini diresmikan oleh Prabu Siliwangi, dan Pangeran Cakrabuana diberinya gelar “Sri Manggana“.  Cakrabuana lalu membangun Istana Pakungwati, sesuai nama puterinya yang lahir ketika dia masih di Mekkah.

Negeri Caruban dikemudian hari berubah menjadi Kesultanan Cirebon oleh Sunan Gunung Jati pada sekitar tahun 1478, sebagai kesultanan kedua di Nusantara setelah kesultanan Demak. Susul menyusul kemudian berdirinya Kesultanan Jayakarta dan Kesultanan Banten. Maknanya bahwa Masa berdirinya kesultanan kesultanan di Indonesia bersamaan dengan masa dinasti Emperium Usmaniyah (Turki).***

Referensi


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA