Saturday, September 23, 2017

Masjid Sunan Bonang Rembang

Masjid Sunan Bonang di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Masjid Sunan Bonang adalah masjid yang dipercaya dibangun oleh Sunan Bonang. Sunan Bonang atau Maulana Makdum Ibrahim lahir pada tahun 1465 Masehi, salah satu dari sembilan Walisongo yang menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa khususnya pesisir timur pantai utara. Lebih tepatnya di Desa Bonang Kecamatan Lasem Rembang Jawa Tengah.

Masjid Sunan Bonang berada di desa Bonang yang terletak dalam wilayah Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, masjid ini menjadi salah satu bukti dan peninggalan dari perjalanan dakwah Sunan Bonang di Rembang dan sekitarnya. Lokasi masjid ini saat ini sekitar 50 meter disebelah selatan makam Sunan Bonang.

Sebelum menjadi desa daerah ini merupakan sebuah hutan yang terkenal dengan sebutan Alas Kemuning. Di awal awal dibangunnya masjid ini, masyarakat setempat tidak menyebutnya masjid namun menyebut bangunan ini sebagai Omah Gede atau Rumah Besar karena bentuknya yang berupa sebuah bangunan berukuran besar. Masyatakat setempat kala itu merasa heran karena bangunan masjid ini disebut sebut berdiri secara tiba tiba ditengah hutan.

Masjid Sunan Bonang
Bonang, Lasem, Kabupaten Rembang
Jawa Tengah 59271. Indonesia


Bisa jadi karena memang sunan Bonang kala itu tinggal menyendiri di tengah hutan dan jauh dari masyarakat sekitar, sehingga tidak ada masyarakat yang mengetahui proses pembangunan masjid ini sampai kemudian mereka menemukan atau melihat bangunan tersebut pada saat sudah jadi, rampung atau sudah selesai sehingga terkesan terjadi dengan tiba tiba.

Dengan berdiriya sebuah masjid yang mereka sebut sebagai Omah Gede secara tiba tiba itu mereka menganggap terjadi karena karena kekramatan seorang wali kekasih Allah, menjadikan masyarakat sekitar menjadi heran, sebab dipandang sebagai kejadian yang aneh, sehingga masyarakat Bonang sangat ingin datang untuk melihat adanya masjid tersebut.

Namun demikian cerita tutur yang berkembang menyebutkan bahwa Sunan Bonang membangun masjid ini dalam waktu satu malam dan kekramatan beliau sehingga begitu banyak yang datang belajar dan berguru kepada beliau baik dari bangsa manusia maupun bangsa Jin.

Kala itu Sunan Bonang termasuk orang yang dituakan, sehingga rakyat disitu sangat tunduk dan menghormati akan kepribadian Kanjeng Sunan Bonang. Kesempatan yang baik itu beliau gunakan untuk bertabligh dan mengajarkan tentang maksud agama Islam. Mulai saat itulah para santri-santri berdatangan, baik mereka yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur atau Jawa Barat untuk berguru dan menimba ilmu dari Sunan Bonang.

Makam Sunan Bonang di Desa Bonang, Lasem

Keterbatasan sumber sumber tertulis terkait sejarah masjid ini, sehingga sampai saat ini belum diketahui dengan pasti tentang tarikh pendirian masjid ini. Sebagian besar sumber sejarah masjid ini beserta sejarah Sunan Bonang di Lasem berupa kisah tutur yang disampaikan turun temurun dari generasi ke generasi.

Makam Mbah Jejeruk

Masjid Sunan Bonang di Desa Bonang ini dipercaya sebagai masjid pertama yang dibuat oleh Sunan Bonang setelah beliau mendapatkan kewaliannya. Dari sekian banyak murid murid beliau yang datang dari berbagai penjuru Nusantara, salah satunya adalah Sultan Machmud, Raja Minangkabau (di provinsi Sumatera Barat) belajar agama di masjid ini, sampai beliau wafat. Oleh masyarakat Bonang, Sultan Machmud dimakamkan di daerahnya. Sekarang, makam itu lebih dikenal dengan sebutan makam Mbah Jejeruk.

Masjid Keramat

Masjid Sunan Bonang di kecamatan Lasem ini sudah beberapa kali dipugar, namun demikian sisa-sisa kekeramatannya masih terlihat. Sumur yang ada di samping masjid, dikabarkan masih asli. Di dekat masjid itupun ada makam yang dipercaya sebagai makam Mbah Sarido, imam masjid tersebut beserta keluarganya.

Menurut cerita, keangkeran masjid ini dapat dirasakan oleh sejumlah penduduk, sehingga tidak ada yang berani berbuat seenaknya sendiri. Kabarnya, seorang jemaah masjid pernah tidur di dalam masjid ini. Namun, ketika ia bangun, ia sudah berada di dekat salah satu makam yang ada di samping masjid. Berdasarkan penuturan masyarakat, jemaah masjid ini bukan hanya kalangan manusia. Konon, banyak pula bangsa jin yang menjalankan ibadahnya di masjid Sunan Bonang. Agaknya, mereka pun ingin mendapatkan karomah dari masjid ini.

Masjid Sunan Bonang

Menurut keterangan juru kunci makam Sunan Bonang, masjid ini memiliki dua bagian. Serambi depan direhab dengan arsitektur modern, untuk menampung jumlah jama'ah. Sedangkan bagian utama tetap dibiarkan asli tanpa perubahan. Namun tetap dirawat secara teratur.

Mimbar di Teras Masjid

Di teras masjid Sunan Bonang di Lasem, terdapat sebuah mimbar berukuran cukup besar dari kayu jati dan berukir indah. Menurut cerita, mimbar ini merupakan sumbangan dari seorang donator dari kabupaten Jepara untuk menggantikan mimbar lama di masjid Sunan Bonang.

Namun (masih menurut cerita) meskipun telah di ukur sedemikan rupa pada saat pembuatannya, dan di ukur berulang kali pada saat akan ditempatkan di tempatnya, mimbar baru ini ternyata tidak bisa masuk ke lokasinya di samping mihrab di dalam Masjid Sunan Bonang, itu sebabnya hingga kini mimbar baru tersebut diletakkan di teras masjid.

Mengenal Sunan Bonang

Nama lengkap Sunan Bonang adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim beliau adalah putra dari Raden Rochmat (Sunan Ampel) dengan Ny. Ageng Manila (Dewi Tjondrowati) putri dari Raden Arya Tedja, salah satu tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban. Raden Makdum Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 1465 M.

Raden Maulana Makdum Ibrahim sudah dikirim ayahnya untuk belajar ke Mesir sampai beliau berusia dewasa dan kembali ke tanah air. Beliau kemudian mengabdikan ilmunya di pondok pesantren yang dipimpin oleh ayahnya. Sampai kemudian beliau memulai memulai kehidupan baru dengan membuka hutan belantara Alas Kemuning yang kini dikenal dengan nama Desa Bonang.

Masjid Sunan Bonang

Di Alas Kemuning beliau membina pengajaran Islam kepada masyarakat setempat sampai kemudian nama beliau dikenal hingga ke berbagai daerah, santri berdatangan untuk berguru kepada beliau. Disebutkan juga bahwa beliau juga pernah belajara agama di kerajaan Samudera pasai di masa kejayaan Majapahit, itu sebabnya beliau juga dikenal sebagai tokoh yang mulai memasukkan pengaruh Islam di kalangan bangsawan Majapahit.

Raden Ibrahim Sunan Bonang menjadi Muballigh dan Imam di wilayah pesisir sebelah utara, mulai dari Lasem sampai Tuban. Disanalah Sunan Bonang mendirikan pondok-pondok sebagai tempat penggemblengan para santri dan muridnya. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Sunan Bonang tidak menikah sampai beliau wafat, tetapi dalam riwayat lain menyebutkan bahwa R. Ibrahim Sunan Bonang menikah dengan Dewi Hirah putri dari R. Jaka Kandar serta mempunyai keturunan satu yang bernama Dewi Rukhil.

Dewi Rukhil menikah dengan Sunan Kudus Ja’far Shodiq. Dari pernikahan Ja’far Shodiq dengan Dewi Rukhil binti Sunan Bonang lahirlah R. Amir Khasan yang wafat di Karimunjawa dalam status jejaka. Raden Maulana Makdum Ibrahim Sunan Bonang wafat tahun 1525M, dalam usia kurang lebih 60 tahun, dimakamkan di rumah kediaman beliau (Ndalem) di desa Bonang Lasem. Setengah riwayat menyebutkan bahwa makam beliau terletak di Tuban, ada pula yang mengatakan di Madura.

Referensi


Baca Juga


Saturday, September 16, 2017

MASJID RAYA BAYUR, KABUPATEN AGAM

Masjid Raya Bayur (by IG | @een_optimo)

Masjid Raya Bayur adalah salah satu masjid tua di sekitar Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Masjid yang dibangun pada awal abad ke-20 ini berlokasi tidak begitu jauh dari jalan raya yang menghubungkan Kota Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam, dengan Kota Bukittinggi.
.
Masjid Raya Bayur memiliki beberapa keunikan yang khas seperti kubah persegi empat di tengah atap bangunan utama, empat menara di setiap sudut kubah utama, dan kubah kecil persegi empat di atas mihrab.
.
Dinding masjid dilapisi papan berukir yang disapu nuansa gelap. Tang-tiang penyangga masjid yang terbuat dari tembok dihiasi warna lembut sehingga sangat serasi dengan dinding masjid.
.
Masjid Raya Bayur
Jorong Kapolo, Koto Nagari Bayua
Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam
Sumatera Barat, Indonesia



Renovasi Masjid Raya Bayur

Bentuk masjid ini sedikit banyak telah mengalami perubahan hingga menjadi seperti yang tampak saat ini. Pada awal tahun 2000, masyarakat setempat berupaya merenovasinya secara menyeluruh. Partisipasi para tokoh masyarakat dari Kenagarian Bayur dan warga di tanah rantau membuat renovasi masjid dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, dan diresmikan pada tanggal 8 September 2004

Renovasi meliputi perbaikan bangunan dan penataan lingkungan masjid, seperti pembenahan ruang terbuka, area parkir, dan taman masjid. Hal ini dilakukan agar lingkungan masjid tampak lebih asri. Renovasi terahir Masjid Raya Bayur ini ditangani oleh Arsitek Ir. Hendri Tanjung.
  
Pascarenovasi, masjid ini tampak indah dengan perpaduan gaya arsitektur pagoda Thailand dan gonjong rumah gadang khas Minangkabau. Hal tersebut dapat dilihat pada menara kecil di empat sudut atap bangunan utama. Struktur atap dirancang mengikuti pola bangunan rumah panggung dengan atap bersusun tiga yang menjadi ciri khas bangunan masjid Nusantara zaman dahulu.

Masjid Raya Bayur di Malam Hari (foto minangtourism.com)

Masjid Raya Bayur memiliki beberapa keunikan yang khas seperti kubah persegi empat di tengah atap bangunan utama, empat menara di setiap sudut kubah utama, dan kubah kecil persegi empat di atas mihrab. Dinding masjid dilapisi papan berukir yang disapu nuansa gelap. Tang-tiang penyangga masjid yang terbuat dari tembok dihiasi warna lembut sehingga sangat serasi dengan dinding masjid.

Ketika kaki melangkah memasuki area masjid, tampak air mancur terus memancar. Melangkah ke belakang masjid, terdapat kolam ikan yang tertata rapi. Di kiri-kanan kolam ikan tersebut terdapat tempat wudhu. Keseluruhan luas bangunan masjid ini adalah 2.260 meter persegi dengan daya tampung Jemaah sekitar 1000 orang.

Di sebelah utara masjid terdapat sebuah pondok pesantren tua. Santri- santrinya selalu meramaikan masjid dengan berbagai kegiatan, mulai dari belajar berceramah, khotbah, hingga tata cara shalat jenazah. Tak dimungkiri, para santri tersebut menyemarakkan masjid yang menjadi sentra pengembangan ajaran Islam di Kenagarian Bayur ini.

Referensi



Sunday, September 10, 2017

Masjid Agung Akçakoca Turki

Masjid Agung Akcakoca 

Turki dikenal luas di dunia internasional sebagai Negara yang pernah menjadi pusat Pemerintahan Emperium Usmaniyah (Turki Usmani / otoman) dan wilayahnya menguasai lebih dari separo dunia. Sebagai Negara yang pernah menjadi ibukota kekhalifahan Islam, Turki dikenal dengan masjid masjidnya yang megah.

Masjid merupakan fitur yang lekat dengan Turki, dan Negara ini juga memiliki ciri khas tersendiri dalam seni bina bangunan masjidnya yang dikenal dengan gaya bangunan masjid Usmaniyah, ditandai dengan bangunan masjid yang tinggi besar, kubah setengah lingkaran berukuran besar di atap masjid dan menara menaranya yang lancip tinggi menjulang.

Alamat Masjid Akçakoca
Yalı Mahallesi, Plaj Sk. 1a,
81650 Akçakoca/Düzce, Turki




Selain masjid masjid bergaya Usmaniyah, Turki juga memiliki ciri khas masjid Seljuk yang merupakan nenek moyangnya orang Turki, Masjid Seljuk tidak jauh berbeda dengan Masjid Dinasti Usmaniyah hanya saja atap masjidnya tidak selalu berkubah besar, namun tetap dengan menara menaranya yang menjulang.

Masjid Agung Akçakoca Yang Aneh

Masjid masjid Turki yang dibangun di era modern pun tetap dengan mempertahankan ciri ciri tersebut baik masjid yang dibangun di dalam negeri Turki maupun masjid masjid yang dibangun oleh pemerintah Turki di berbagai negara lainnya. Dari sekian banyak masjid tersebut ada satu masjid yang menarik perhatian warga Turki karena dibangun tidak seperti biasanya yakni Masjid Agung di Kota Akçakoca.

Masjid Agung di Kota Akçakoca, Republik Turki ini menjadi daya tarik tersendiri di dalam negeri Turki maupun bagi wisatawan asing, karena bentuk bangunannya yang tidak mengikuti lazimnya arsitektur masjid di Turki. Dan dengan sendirinya rancangan bangunan masjid ini terbilang aneh bagi kebanyakan orang Turki.

Masjid di kota Akçakoca justru memadupadankan seni bina bangunan masjid dari bentuk tenda Otok Turki, dengan bentuk oktagonal yang digunakan oleh Bangsa Seljuk di masa lampau. Sementara interiornya didekorasi dengan kaca patri, kubah dan rangka atapnya menggunakan beton yang keseluruhannya mencapai berat 32 ton.
.
Interior Masjid Agung Akcakoca

Masjid dengan arsitektur kontemporernya, ini dibangun tahun 1989 dan dibuka untuk umum tahun 2004 yang lalu. Tinggi kubahnya mencapai 31 m dan tinggi menara adalah 58 m. Masjid ini dirancang oleh arsitek Ergun Subaşı dilengkapi dengan sepasang menara kembar mengapit bangunan utamanya.

Atap masjid ini dibangun dengan bentuk lancip bersudut octagonal, arsitekturnya ditangani oleh Ergün Subaşı, yang memang terinspirasi dari bentuk tenda bangsa Seljuk di masa lalu. Struktur atap masjid ini berdiri diatas 8 beton bertulang dilengkapi dengan menara masing masing setinggi 31 meter. Berat atap masjid ini keseluruhan disebut sebut mencapai 32 ton dan atapnya dilapis dengan tembaga.

Rancang bangun masjid seperti ini sampai saat ini masih merupakan satu satunya di Turki, wajar bila kemudian begitu menarik perhatian warga Turki sendiri yang berkunjung ke kota tersebut. Cerita menarik dari imam masjid ini bahwa dari sekian banyak pengunjung masjid ini datang karena penasaran dengan bentuknya yang tak lazim.

Dan menurut beliau dari beberapa pengunjung tersebut ada yang mengaku sudah begitu lama tidak ke masjid dan baru masuk masjid lagi setelah melihat masjid tersebut sekaligus melaksanakan sholat di dalamnya. Maklumlah, Turki sendiri secara politik sejak runtuhnya ke-khalifahan di era 1920-an, menganut system politik sekuler.

Sebegitu penarasannya orang Turki dengan masjid yang katanya aneh dan tak lazim itu, tampaknya cukup layak untuk dimasukkan ke dalam ittenary list bila anda sedang berkunjung kesana. Jangan lupa ajak ajak saya ya. He he he.

Referensi



Saturday, September 2, 2017

Masjid Selimiye Edirne, Turki

Masjid Selimiye, Edirne, Turki (foto dari mujgan istanbul di panoramio)

Masjid Selimiye atau dalam Turki disebut dengan Selimiye Camii dan dalam Bahasa Arab disebut dengan Jami’ Salimiyah, adalah masjid bersejarah peninggalan emperium Usmaniyah (Turki Usmani) di kota Edirne. Masjid ini dibangun atas perintah Sultan Selim II karenanya dinamai Masjid Selimiye. Pembangunannya dilaksanakan antara tahun 1568 sampai 1574 dan dirancang oleh arsitek Mimar Sinan.

Masjid Selimiye merupakan salah satu dari mahakarrya Mimar Sinan yang dikenal sebagai arsitek terbesar emperium Usmaniyah. Bangunan masjid ini pernah dikonservasi tahun 1954-1971 dan masih berfungsi hingga hari. Sebagai sebuah mahakarya masjid ini diabdikan dalam lembaran uang kertas pecahan 10.000 lira Turki lira dari 1982-1995. Komplek Masjid Selimiye ini juga telah didaftarkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2011.

Keseluruhan komplek masjid ini seperti komplek masjid masjid Turki lainnya disebut sebagai Külliye, semacam Islamic Center, terdiri dari bangunan masjid sebagai pusatnya di dukung dengan bangunan bangunan lainnya termasuk kompleks madrasah, perpustakaan, rumah sakit, dan Hamam (pemandian umum khas Turki). Ditambah lagi dengan Pusat pengkajian dan pembelajaran Hadist, kantor pengurus dan pengelola serta jejeran pertokoan.



Karya Monumental Mimar Sinan

Karya Mimar Sinan memang dikenal luas sebagai ciri khas dari masjid masjid dari era Emperium Usmaniyah dengan ciri yang sangat kental dan langsung dapat dikenali dari bentuk dan bentuk bangunan masjidnya. Hampir keseluruhan masjid masjid besar dari era ini ditandai dengan bangunan masjid yang tinggi besar, kubah berukuran besar mendominasi atap bangunan masjid dan menara yang ramping menjulang tinggi dan runcing seperti sebatang pensil.

Kubah Masjid Selimiye ini dirancang dengan bentuk kubah bertingkat tingkat, kubah utama ditopang oleh beberapa bangun semi kubah. Kubah utama masjid ini setinggi 43,24 meter dengan diameter 32,25 meter, sedangkan beratnya mencapai 2000 ton. Struktur atapnya yang bertingkat tingkat ini, dari luar tampak seakan berdinding berlapis lapis dengan beberapa penopang dinding berukuran besar disetiap sisi dan sudut bangunan. Dibagian atas nya diletakkan kubah berukuran lebih kecil. Struktur ini sebenarnya adalah struktur penyanggah atap masjid, struktur dindingnya yang tampak berlapis dibangun dengan keperluan untuk menahan beban 2000 ton struktur atap betonnya.

Begitupun dengan lengkungan lengkunan besar yang tampak baik dari luar maupun dari dalam masjid juga merupakan struktur penyanggah atap, semacam tiang gantung untuk menahan beban struktur diatasnya. Di setiap sisi bawah lengkungan besar tersebut ditempatkan jendela jendela kaca berukuran besar selain sebagai sumber cahaya dan keindahan namun juga berfungsi untuk mengesankan ruangan yang lebih besar dari aslinya. Total keseluruhan ada 384 Jendela di masjid ini sehingga, pencahayaan di masjid Selimiye ini disebut sebut lebih baik dibandingkan dengan di (masjid) Hagia Sophia dan Masjid Sulaymaniye.

Masjid Selimiye, Edirne, Turki (foto ahmet sertturk di panoramio)

Menara dan Pelataran

Masjid Selimiye memiliki empat menara tinggi yang dibuat begitu ramping menjulang seakan menusuk langit. Menara menara ini pada masanya memang digunakan sebagai tempat muazin mengumandangkan azan dari balkoni yang sengaja dibangun untuk keperluan itu. Dimasa kini hal tersebut sudah digantikan dengan sistem tata suara elektronik sehingga muazin tidak lagi perlu memanjat menara saat akan mengumandangkan azan.

Masjid Selimiye memiliki pelataran tengah yang terbuka yang berada di lingkungan masjid dikelilingi serangkaian koridor beratap kubah kubah berukuran kecil, area ini juga merupakan area sholat tambahan pada saat ruang sholat di dalam masjid sudah tidak dapat menampung keseluruhan Jemaah.

Bila di tanah jawa pelataran tengah ini semacam alun alun, namun alun alun memiliki multi fungsi sedangkan area pelataran di masjid ini hanya untuk keperluan peribadatan, meski diluar waktu sholat memang kerap kali digunakan oleh para Jemaah untuk bersantai di ruang terbuka.

Interior Masjid Selimiye

Area pelataran tengah di dominasi oleh bentuk bentuk lengkungan yang menghubungkan antar pilar pilar beton dan pilar pilar batu pualam. Corak warna batu lengkungannya belang belang mengingatkan pada pola yang sama di istana Alhambra dan Cordoba di Spayol yang dibangun pada masa Abasiyah. Corak demikian juga dapat ditemukan di Masjidil Haram yang pada masanya memang pernah berada di bawah kekuasaan Emperium Usmaniyah . Corak demikian itu kemudian menyebar keseantero masjid di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia.

Hampir setiap detil bangunan masjid ini ditangani dengan cermat, begitu banyak profil dari batu batu alam yang digunakan untuk memperindah masjid ini, bahkan sekujur empat badan menaranya di hais dengan batu alam berprofil hingga ke ujung menara.

Mimar Sinan menyelaraskan dengan apik setiap transisi pertemuan antar struktur dengan seni Muqornas berupa ukiran batu alam berbentuk stalaktit (bantu menggantung) dengan denah sarang lebah, butuh ketelitian yang kesabaran yang tinggi dalam proses pembuatan semua karya seni tersebut pada zaman dimana proses pertukangan maupun manufaktur dengan teknologi permesinan belum secanggih saat ini.

Aerial view Masjid Selimiye

Kubah utama masjid yang berukuran besar di atapnya itu menghasilkan ruang utama di bawahnya di dalam masjid, sedangkan bangun semi kubah yang berada dibawah kubah utama menghasilkan ruang ruang ceruk berukuran besar di ke empat sisi di dalam masjid, salah satu cerukan itu kemudian di-olah sedemikian rupa untuk difungsikan sebagai mihrab. Sisi yang berseberangan menjadi tempat pintu utama sedangkan dua sisi di kiri dan kanan menjadi pintu samping.

Mihrab, Mimbar dan Mahfil

Mihrab di masjid ini dibangun seperti sebuah gapura paduraksa berukuran besar yang menempel ke tembok, dibuat dari bahan batu berukir, ruang mihrabnya berupa cerukan ke dalam tembok dengan dua bentuk pilar di sisi kiri dan kanannya. Mimbarnya dibangun cukup tinggi sebagai tempat khatib menyampaikan kutbah, lokasinya tidak disamping mihrab tapi justru berada agak ke tengah di samping pilar besar sebelah kanan.

Di depan mimbar ini tepat dibawah kubah utama, dibangun satu tempat khusus berupa panggung berukir sebagai tempat muazin meneruskan suara imam agar terdengar oleh seluruh Jemaah. Jangan lupa pada masa itu belum ada perangkat pengeras suara. Tempat ini dalam Bahasa Turki disebut Mahfill.

Referensi


Baca Juga


Sunday, August 27, 2017

Masjid Ortakoy Istanbul

Masjid Ortakoy (by kerimburakcinar)

Masjid Ortakoy adalah salah satu masjid tua bersejarah di kota Istanbul, Masjid Ortakoy ini resminya bernama Büyük Mecidiye Camii (Masjid Agung Kekaisaran Sultan Abdülmecid) namun karena lokasinya yang berdekatan dengan pelataran dermaga Ortakoy masjid ini justru lebih dikenal dengan nama Masjid Ortakoy atau dalam Bahasa Turki disebut Ortaköy Camii. Lokasinya masuk dalam wilayah Beşiktaş, kota Istanbul, Turki.

Lokasinya persis ditepian selat Bosporus dengan pemandangan yang menawan, menjadikan kawasan disekitar masjid ini sebagai salah satu kawasan pavorit wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung. pada masanya Masjid ini merupakan salah satu masjid resmi Kekhalifahan Usmaniyah Turki. Kini masjid Ortakoy menjadi salah satu masjid paling terkenal di Istanbul.

Masjid Ortaköy | Ortaköy Camii
Mecidiye Mahallesi, Mecidiye Köprüsü Sk. 1/1, 34347 Beşiktaş/Istanbul, Turki
Coordinates: 41°2′49″N 29°1′37″E



Masjid Romantis

Turki. Masjid Ortakoy di Istanbul ini terkenal sebagai masjid romantis, warna temboknya yang pinki alias merah muda ditambah dengan lokasinya yang berada di tepian selat Bosporus serta landcape tempatnya berdiri menghadirkan pemandangan yang menakjubkan berlatar belakang jembatan Bosporus yang menjadi penghubung wilayah Turki di sisi Eropa dan wilayah Turki di sisi Asia.

Selain itu masjid ini juga berdada dipusat keramaian wisatawan di Istanbul disekitarnya bertebaran kedai teh dan kopi khas Turki tempat wisatawan bersantai menikmati pemandangan teluk Bosporus di Istanbul. disekitar masjid ini juga terdapat berbagai macam rumah makan dan galeri seni.

Walaupun memang sedikit kontradiktif karena di sekitar tempat ini juga terdapat bar dan kelab malam, maklumlah karena memang Istanbul merupakan kota metropolitan dan Turki menganut sistem politik sekuler.

Kelihatan bagian pinki nya ? (foto by @uniform_kilo_kilo)

Sejarah Masjid Ortakoy

Di lokasi ditempat dimana kini Masjid Ortakoy ini berdiri seharusnya adalah sebuah masjid yang dibangun oleh menant dari Vizier Ibrahim Pasha di tahun 1721, hanya saja bangunan tersebut luluh lantak dalam kerusuhan Patrona Halil.

Sementara masjid yang kini berdiri dibangun oleh Mahmut Aga atas perintah dari Sultan Abdülmecid. Peletakan batu pertamanya dilakukan tahun 1853 dan dibangun antara tahun 1854 hingga 1856 diatas reruntuhan istana Cantemir (Cantemir Palace).

Rancangan masjid Ortakoy ini ditangani oleh arsitek Armenia, Garabet Balyan dan anaknya Nigogayos Balyan yang juga merancang Istana dan Masjid Dolmabahçe, yang tak jauh dari lokasi masjid Ortakoy ini. Dua arsitek Armenia ini merancang Masjid Ortakoy ini dengan gaya Neo-Baroque yang elegan.

Arsitektur Masjid Ortakoy

Sebagai sebuah masjid resmi kesultanan, Masjid Ortakoy dibangun dengan dilengkapi area Harem dan Kantor Sultan berupa gedung dua lantai berdenah U di sisi barat laut dan menyatu dengan bangunan utama masjid. Ruang utama masjid berdenah segi empat yang berada di bawah kubah utama masjid.  

Interior bawah kubah masjid Ortakoy (foto : wikipedia)

interior masjid ini sarat dengan beragam ukiran dan karya seni Neo Baroque dengan sapuan warna merah muda (pink) yang dominan, sama seperti salah satu sisi tembok luar masjid ini, itu sebabnya wisatawan asing yang melihat masjid ini menyebutnya sebagai masjid Romantis.

Fasad masjid ini yang terbagi bagi beberapa bagian oleh oleh pilar pilar besar memberikan celah untuk menempatkan serangkaian ukiran dan relief pada dinding luar masjid ini menampilkan tampilan yang lebih dinamis pada bangunan masjid ini. bangunannya yang begitu tinggi juga memungkinkan ditempatkannya jejeran dua susun jendela kaca besar untuk memberikan cahaya alami ke dalam masjid.

Dari segi ukuran, Masjid Ortakoy ini terbilang mungil dibandingkan dengan bangunan bangunan masjid lainnya di Istanbul, namun karena lokasinya dan rancangannya yang tak umum menggunakan gaya baroque menjadikan masjid ini memiliki ke istimewaan nya tersendiri.

Jendela jendela masjid ini yang besar selain menjadi sumber penerangan di dalam masjid di siang hari dan menghadirkan bayangan indah di permukaan air selat bosphorus di malam hari dari cahaya yang keluar dari masjid melalui jendela jendela besar nya itu. dan hal lain yang yang cukup menarik di masjid ini adalah terdapat beberapa panel kaligrafi yang dibuat sendiri oleh Sultan Abdulmajid.

Referensi


Baca Juga


Saturday, August 26, 2017

Masjid Nakhoda Kalkuta, India


Masjid Nakhoda di Kalkuta, Negara bagian West Bengal India.

Masjid Nakhoda adalah masjid tua di kota Kalkuta, India. Sesuai dengan namanya masjid ini memang dibangun oleh Abdur Rahim Osman yang seorang pengusaha perkapalan dan pengiriman barang antar benua di awal abad ke 20 yang lalu. Pembangunannya dimulai pada tanggal 11 September 1926 dan menghabiskan dana sebesar satu juta lima ratus Rupee.

Selain pengusaha, Abdur Rahim Osman juga merupakan pemimpin sekelompok kecil Jemaah muslim Suni dari Kutch yang tinggal di Kalkuta. Kutch adalah nama sebuah distrik di negara bagian Gujarat, India bagian barat berbatasan langsung dengan Pakistan.

Nakhoda Masjid নাখোদা মসজিদ
Jacquaria Street, Rabindra Sarani
Chowringhee North, Bow Barracks
Kolkata, West Bengal 700073
India



Sejak dibangun hingga saat ini, masjid Nakhoda merupakan masjid terbesar di kota Kalkuta, Besarnya ukuran masjid ini hingga mampu menampung 10.000 jemaah sholat sekaligus. Lokasinya yang berada di pusat kota di ruas jalan Jacquaria berdekatan dengan pertigaan jalan antara jalan Chitpore Road dan jalan Mahatma Gandhi Road, membuat masjid ini senantiasa ramai dikunjungi Jemaah maupun wisatawan.

Pemilihan lokasi serta arsitektur masjid Nakhoda ini memang cukup menarik. Bangunannya terdiri dari empat lantai, sebagian besar dari lantai dasarnya yang menghadap ke jalan raya dipergunakan sebagai pertokoan dan lantai diatasnya yang difungsikan sebagai masjid, di Indonesia masjid seperti ini, salah satunya terkenal dengan nama "Masjid Kota" di kota kecamatan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, Masjid Madinah Al-Mubarokah Sampit namanya atau lebih dikenal dengan nama “Masjid Kota”.

Secara keseluruhan bangunan masjid ini dirancang dengan meniru bangunan “Maosoleum Kaisar Akbar” atau bangunan makam Kaisar Akbar, salah satu Kaisar termashur dari Kekaisaran Islam Mughal yang pernah berkuasa hampir di seluruh wilayah jazirah India saat ini. Kemasyuran Kaisar Mughal satu ini bahkan menginspirasi Bolywood memproduksi sinetron televisi berlatar belakang kehidupan sang Kaisar dan sempat booming di salah satu stasiun tv swasta di Indonesia.
Sudut bangunan Masjid Nakhoda, bagian bawahnya dijadikan pertokoan

Kaisar Akbar bernama asli Abu’l-Fath Jalaludin Muhammad Akbar I atau dikenal juga dengan nama Shahanshah Akbar e-azam atau Kaisar Akbar yang Agung (lahir 15 Oktober 1542 – wafat 27 Oktober 1605) merupakan cucu dari Zaheeruddin Muhammad Babur, pendiri dinasti Mughal, pada ahir masa pemerintahan Kaisar Akbar, wilayah kekuasaannya sudah meluas hingga ke sebagian besar wilayah utara dan tengah India saat ini. Saat beliau wafat jenazahnya dimakamkan di sebuah Maosoleum di Sikandra, Agra, Negara bagian Uthar Pradesh, India.

Di masa kekuasaannya beliau memang memberikan perhatian lebih terhadap dunia arsitektur, seni dan budaya, wajar bila sejak masa pemerintahannya arsitektur dinasti Mughal mencuat ke dunia internasional dan menjadi salah satu warisan seni arsitektur dunia hingga saat ini dan pengaruhnya begitu kuat pada seni arsitektur Islam.

Maosoleoum nya di Sikandra memang dibangun begitu indah dengan torehan karya seni bagaikan sebuah istana, menjadikannya sebagai salah satu warisan arsitektur menawan di India hingga saat ini. Sangat wajar bila kemudian Abdur Rahim Osman, sang saudagar muslim di Kalkuta itu kemudian terinspirasi untuk membangun masjid di Kalkuta dengan menjiplak bangunan makam Sang Kaisar.

Masjid Nakhoda di latar belakang diantara kesibukan warga Kalkuta,

Meski dibangun dengan meniru bangunan Maosoleum tentu saja bagian dalam masjid Kalkuta ini tidak ada kuburannnya, karena memang dibangun sebagai masjid. Secara umum bangunan masjid Nakhoda sebagian besar memang menampilkan bentuk dari Maosoleum Kaisar Akbar termasuk warna merahnya yang tampak cerah dan meriah itu.

Bangunan dari dinasti Mughal dapat dikenali dari beberapa pernik khas diantaranya adalah bentuk kubah nya yang selalu berbentuk seperti bawang, terdapat begitu banyak menara, selalu saja terdapat balkoni dibagian bawah kubah menara, begitu banyak lengkungan digunakan pada pertemuan antar pilar serta bangunan yang tinggi besar dan bagian beranda yang dibuat begitu tinggi, biasa dikenal dengan nama Iwan.

Batuan alami yang digunakan untuk membangun Iwan (gapura) masjid nakhoda ini terbuat dari batu granit yang didatangkan langsung dari daerah Tolepur, sedangkan warna merah pada tembok dinding bangunan dari era Mughal ini kebanyakan karena memang menggunakan batu alam bewarna merah (red stone). Meskipun beberapa bagian Masjid Nakhoda ini menggunakan pewarna cat pada temboknya.

Sudut bangunan masjid Nakhoda yang bagian bawahnya digunakan sebagai pertokoan.

Masjid Nakhoda di Kalkuta ini tidak saja bangunannya yang begitu besar dan terdiri dari empat lantai namun juga ditambah lagi dengan area pelataran tengah yang tedapat diantara Iwan dan bangunan masjidnya. Ukiran ukiran rumit termasuk penggunaan Muqornas yakni ukiran pada bagian bawah lengkungan dan kubah yang berbentuk seperti stalaktit bertebaran di masjid ini.

Bangunannya dilengkapi dengan tiga kubah besar dan dua menara setinggi 151 kaki ditambah lagi dengan 25 bentuk menara yang lebih kecil berukuran antara 100 kaki hingga 117 kaki. Bangunan masjid ini akan tampak lebih indah lagi pada peringatan hari hari besar Islam karena dihias sedemikian rupa dengan aneka lampu lampu hias yang menarik.

Pertokoan di sekitar masjid ini menyediakan beraneka ragam dagangan khas muslim India dan salah satu yang menjadi pavorit wisatawan adalah Attar yakni minyak wangi alami yang disuling dari beraneka bunga. Kini, Masjid dengan mayoritas bewarna merah ini menjadi salah satu objek wisata menarik di Kalkuta, India, terlebih lagi dengan usianya yang cukup tua menjadikannya salah satu warisan budaya di kota pelabuhan terkemuka di India tersebut.

Referensi

kolkata.org.uk – nakhoda mosque
mapsofindia.com - nakhoda-mosque
wikipedia - kutch district
Wikipedia – nakhoda masjid

Baca Juga

Masjid Taj Mahal
Masjid Jami Delhi
Masjid Jami’ Cheraman, Masjid Pertama di India

Sunday, August 20, 2017

Masjid Tengku Ampuan Jemaah, Selangor, Malaysia

Masjid Diraja Tengku Ampuan Jemaah, Shah Alam (foto Safwan abd rahman)

Masjid Tengku Ampuan Jemaah Adalah masjid megah di Malaysia. Masjid ini berada di Bukit Jelutong, Section U8 dekat dengan Shah Alam, Malaysia. Masjid Ampuan Jemaah merupakan Masjid Negeri atau masjid resmi yang kedua bagi Negeri Selangor setelah Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah di wilayah section 14 yang juga dikenal dengan Masjid Biru Selangor.

Masjid Tengku Ampuan Jemaah mulai dibangun tahun 2010 dimulai dengan upacara peletakan batu pertama dan penentuan arah kiblat masjid, dan selesai dibangun tahun 2013 dan diresmikan oleh Sultan Selangor, Sultan Sharafuddin Idris Shah pada tanggal 17 Maret 2013. Upacara peresmian tersebut juga dihadiri oleh Menteri Besar Selangor, Tan Sri Abdul Khalid Ibrahim.

Masjid Diraja Tengku Ampuan Jemaah
Bukit Jelutong, 40150 Shah Alam, Selangor, Malaysia



Pada saat upacara peresmian masjid ini, Sultan Selangor mengeluarkan titah Sultan kepada pengurus masjid ini untuk senantiasa memikul tanggung jawab yang diamanahkan, senantiasa bersikap amanah, berwibawa dan professional serta dapat bekerjasama antara satu sama lain dengan erat dalam menjalankan program untuk memakmurkan masjid ini. Beliau juga mengharapkan agar masjid ini menjadi tempat bagi ummat Islam di kawasan tersebut bersatu padu dengan semangat persaudaraan yang kukuh dan teguh.

Masjid ini kadangkala juga disebut dengan nama Masjid Bukit Jelutong merujuk kepada lokasinya berdirinya. Jelutong sendiri merupakan nama pohon, dalam bahasa Indonesia-nya adalah Pohon Jelutung.

Pembangunan masjid ini ditangani oleh oleh Sime Darby Properties bekerjasama dengan Bukit Jelutong.Construction menghabiskan dana sekitar RM 25,5 juta Ringgit Malaysia. Biaya pembangunan masjid ini merupakan sumbangan dari Sime Darby Property dan keluarga Kesultanan Selangor melalui Dana Wakaf Almarhum Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah yang masing-masing menyumbangkan RM 6 juta Ringgit Malaysa.

Megah dengan rancangan ala masjid Timur Tengah dilengkapi dengan satu kubah besar dan empat menara di masing masing empat penjuru bangunannya.

Turut menyumbangkan dana untuk pembangunan masjid ini dari penduduk Bukit Jelutong melalui kutipan dana wakaf sebanyak RM 2,5 Juta Ringgit Malaysia dan dana sumbangan dari Kerajaan negeri Selangor RM 11 Juta Ringgit Malaysia.

Rancangan masjid ini bergaya masjid masjid Timur Tengah dilengkapi dengan empat menara di masing masing empat penjuru bangunannya. Berdiri diatas lahan seluas 2.07 hektar masjid ini mampu menampung kira kira sebanyak 4000 jemaah sekaligus.

Masjid Negeri Selangor yang kedua ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung termasuk di dalamnya adalah aula serbaguna, ruang ruang kuliah, taman bermain bagi anak anak, perpustakaan dan berbagai fasilitas penunjang lain-nya.

Interior Masjid Diraja Tengku Ampuan Jemaah

Nama masjid ini mengabadikan mendiang Permaisuri Tengku Ampuan Jemaah yang merupakan permaisuri dari Sultan Selangor, mendiang Sultan Sir Hisamuddin Alam Shah. Karena Sultan Hisamuddin Alam Shah juga merupakan Raja Malaysia (Yang Dipertuan Agong yang kedua) dengan sendirinya mendiang Tengku Ampuan Jemaah juga merupakan Ratu Malaysia (Raja Permaisuri Agong) yang kedua.

Sekilas Tentang Sistem Pemerintahan Malaysia

Seperti anda baca di alenia sebelumnya, peresmian Masjid ini dihadiri juga oleh Menteri Besar Selangor, lalu jabatan apakah Menteri Besar Tersebut. Menteri Besar adalah pejabat pemangku pemerintahan sehari hari di wilayah Kesultanan. Untuk memahami hal tersebut, ada baiknya kita sedikit memahami tentang system pemerintahan di Malaysia.

Perlu diketahui bahwa, Malaysia merupakan sebuah Negara berbentuk Kerjaan Federasi yang terdiri dari 12 Kesultanan atau Negeri ditambah dengan 3 Provinsi dan beberapa wilayah persekutuan. Masing masing 12 Kesultanan (Negeri) tersebut dipimpin oleh Sultan dan pemerintahan sehari hari-nya ditangani oleh seorang Menteri Besar yang dipilih melalui Pemilu.

Masjid Diraja Tengku Ampuan Jemaah di malam hari.

Tiga wilayah provinsinya (Sabah, Serawak dan Malaka) di pimpin oleh seorang Gubernur yang dipilih melalui pemilu, tiga wilayah ini bukan Kesultanan sehingga tidak memiliki Sultan, termasuk wilayah Malaka yang kesultanannya sudah dibubarkan oleh Penjajah Belanda semada Belanda menjajah wilayah tersebut, sedangkan wilayah persekutuan merupakan wilayah federal yang merupakan wilayah khusus dan dibawahi langsung oleh Perdana Menteri Malaysia, Salah satu wilayah persekutuan di Malaysia adalah wilayah kota Kuala Lumpur dan Putrajaya.

Kepala Negara Malaysia sebagai sebuah Federasi adalah Raja Malaysia bergelar “Yang Dipertuan Agong” dijabat dan dipilih secara bergiliran diantara12 Sultan dari 12 Kesultanan yang membentuk Kerajaan Federasi Malaysia. Gubernur dan kepala wilayah persekutuan tidak memiliki hak pilih dan dipilih untuk jabatan ini, meskipun hadir sebagai peninjau dalam proses pemilihan tersebut. Sedangkan kepala pemerintahan Negara dipimpin oleh seorang “Perdana Menteri” yang dipilih melalui pemilu atau dalam bahasa Malaysia disebut “Pilihan Raya”. (dari berbagai sumber)

Baca Juga


Saturday, August 19, 2017

Masjid Jami Kuala Lumpur Malaysia

Masjid Jami' Kuala Lumpur, Masjid pertama dan tertua di kota Kuala Lumpur, Malaysia

Masjid Jami’ Kuala Lumpur diketahui merupakan masjid tertua di kota Kuala Lumpur, Ibukota Negara Malaysia. Area di sekitar masjid ini merupakan cikal bakal kota metropolitan Kuala Lumpur sekaligus menjadi bagian tertua dari kota ini. Konon, kondisi daerah disekitar masjid ini yang merupakan pertemuan antara dua sungai atau Kuala (atau tempuran dalam istilah Jawa dan Sunda) yang berlumpur lah yang kemudian menjadi nama dari Ibukota Negara Malaysia ini.

Masjid tua ini memiliki beraneka ragam varian nama sebutan mulai dari Masjid Jamek, Jami Masjid, Jamek Mosque, Masjid Jame, Jalan Tun Perak Jamek Mosque, Masjid al-Jami' dan Friday Mosque of Kuala Lumpur namun lebih dikenal dengan nama Masjid Jami’ Kuala Lumpur.

Sejak dibangun tahun 1897, bentuk masjid ini tetap dipertahankan sebagaimana aslinya meskipun kini Masjid Jami’ Kuala Lumpur terlihat seperti istana liliput diantara gedung gedung jangkung yang begitu sangar berdiri disekitarnya. Mirip dengan suasana Masjid Hidayatullah di kawasan Setia Budi Jakarta Selatan.



Sejak dibangun tahun 1897 (kira kira sezaman dengan Sultan Abdul Samad Building), Masjid Jami’ Kuala Lumpur ini menjadi masjid utama di kota Kuala lumpur untuk penyelenggaraan sholat Jum’at dan aktivitas ke-Islaman, dan dengan sendiri nya juga berfungsi sebagai “Masjid Nasional” pada saat Malaysia merdeka di tahun 1957. Baru kemudian dengan selesainya pembangunan Masjid Negara di tahun 1967 fungsi sebagai masjid utama dan Masjid Nasional berpindah ke Masjid Negara.

Hampir semua bangunan dan aset nasional Malaysia menyandang kata “Negara” yang bermakna sebagai milik “Kerajaan / Negara / Federasi” Malaysia secara Nasional, untuk membedakannya dengan kata “Negeri / Kesultanan” yang bila di Indonesia kira kira sama dengan atau setingkat “provinsi” yang dipimpin oleh “Sultan” atau “Gubernur” dan posisi yang setingkat dengan-nya.

Seperti contoh Masjid Negara di Kuala Lumpur, kata “Negara” pada nama masjid tersebut bermakna sebagai masjid “Nasional” Malaysia, begitupun dengan “Zoo Negara” (Kebun Binatang Nasinal), “Perpustakaan Negara” (Perpustakaan Nasional)  dan sebagainya.

Foto lama Masjid Jami' Kuala Lumpur yang berada di pertemuan dua sungai, perhatikan tangga melingkar yang menghadap ke arah sungai, merupakan akses bagi para pengguna transportasi sungai.

Sejarah Pembangunan Masjid Jami’ Kuala Lumpur

Pembangunan Masjid Jami’ Kuala Lumpur ini dilakukan oleh pemerintah Inggris di tahun 1857 yang kala itu berkuasa di Malaysia. Sumber sumber lain menyatakan bahwa masjid ini dibangun tahun 1909 dan dibuka secara resmi oleh Sultan Selangor pada tanggal 23 Desember 1909. Pembangunan masjid ini di danai oleh pemerintah kolonial Inggris, Kesultanan Selangor dan masyarakat muslim setempat secara swadaya.

Arthur Benison Hubback ditunjuk sebagai arsitek pembangunan masjid ini dalam kapasitasnya sebagai arsitek kota dan sebelumnya bertugas di India yang saat itu juga merupakan wilayah jajahan Inggris. Di Kuala Lumpur beliau bekerja di departemen pekerjaan umum dan sekaligus ditunjuk untuk mengawasi proyek pembangunan masjid ini.

Lokasi masjid ini berada di pusat kota pada sebuah tanjung di pertemuan Sungai Klang dan Sungai Gombak pada hari ini menjadi Jalan Tun Perak. Dibangun di lahan bekas pemakaman Melayu sebelum kawasan tersebut menjadi kawasan perkotaan. Pada masa itu areal ini belum seramai saat ini dan cukup terpencil dengan letaknya yang berada di lahan pertemuan dua sungai yang membentuk sebuah tanjung / kuala.

Foto Masjid Jami' Kuala Lumpur saat ini dengan bangunan tambahan di kiri dan kanan bangunan lama, tangga melingkar yang sudah dipulihkan namun taman dengan pohon pohon kelapanya kini menghilang.

Pemerintah Inggris membangun masjid Jami’ ini diperuntukkan bagi pegawai negeri sipil berbangsa melayu / muslim yang bekerja bagi pemerintah jajahan Inggris ketika itu. Dari daerah inilah kota yang menjadi pusat pemerintahan jajahan dan kemudian semakin berkembang dan menjadi kota Kuala Lumpur yang sekarang kita kenal.

Reka bentuk masjid Jami Kuala Lumpur ini mengikuti gaya masjid masjid tradisional di wilayah India Utara, tempat dimana sang arsitek (Arthur Benison Hubback) sebelumnya tinggal dan bertugas untuk pemerintah jajahan Inggris di India.  Sebagaimana Masjid masjid di India, masjid Jami Kuala Lumpur ini juga dilengkapi dengan halaman tengah atau “Sahn”.

Tak mengherankan bila gaya arsitektur Islam Mughal (India) begitu kental pada masjid ini. Reka bentuknya sangat mirip dengan Masjid Jami Delhi di Old Delhi India atau Masjid Badshahi di Lahore Pakistan namun dalam ukuran yang lebih kecil. Ada tiga kubah bawang di atap bangunan utama masjid dan ditambah dengan area sahn atau pelataran tengah.

Masjid Jami' Kuala Lumpur di malam hari.

Tiga kubah bawang berukuran besar bertengger di atas bangunan utama ditambah dengan begitu banyak menara menara kecil menghias bagian atap masjid ini. Ragam hias di luar dan di dalam masjid ini juga begitu kental dengan sentuhan seni bina Islam Mughal, yang kini sangat jarang ditemukan di masjid masjid yang dibangun di era mideren. Dapat dikatakan bahwa Masjid Jami’ Kuala Lumpur ini merupakan contoh terbaik dari arsitektur resmi pemerintah jajahan Inggris di Malaysia. Selain sentuhan Mughal yang kental, masjid ini juga dipengaruhi oleh seni bina bangunan Moor (Maroko).

Penggunaan kombinasi warna batu merah dan putih sangat mirip dengan Masjid Agung di Cordoba, Spanyol, begitu menyolok pada dinding eksterior masjid ini. Sedangkan kemiripan dengan masjid masjid Maroko dapat ditemukan pada barisan tiang tiang penyangga atap yang diberi lengkungan berpadu dengan kisi kisi serta detail susunan bata merah, semen dan marmer.

Ke Masjid Jami’ Kuala Lumpur Naik Sampan

Dari sebuah lukisan yang dibuat oleh Dr Peter Barbor, cucu dari Arthur Benison Hubback yang merupakan arsitek masjid ini, tampak bahwa tangga tangga batu masjid ini dulunya dibuat sebagai akses bagi para Jemaah yang menggunakan sampan (perahu) yang merupakan sarana transportasi penting pada masa itu.

Masjid Jami' Kuala Lumpur di tahun 1910
Masjid Jami' Kuala Lumpur di tahun 2015, bandingkan suasana-nya dengan foto tahun 1910 di atas. 

Meski area tersebut sempat dijadikan taman seiring dengan fungsinya yang tak lagi sebagaimana dulu, namun kemudian tangga tangga tersebut di revitalisasi dan dikembalikan ke bentuknya semula. Di masa lalu tangga tangga tersebut juga merupakan akses bagi Jemaah masjid untuk berwudhu ke sungai.

Sejarawan Malaysia berupaya memulihkan area sekitar masjid ini sebagaimana aslinya termasuk “memulihkan” tangga tangga batu masjid ini yang mengarah ke sungai sebagai bagian dari upaya konservasi, meskipun beberapa bagiannya ditemukan rusak akibat proses pengerukan sungai selama beberapa dekade. Sejarawan setempat juga menyesalkan ditebangnya beberapa pohon kelapa yang sudah berusia sangat tua dan sudah ada sejak areal tersebut masih berupa pemakaman umum melayu.

Upaya konservasi masjid ini dan seluruh areal disekitarnya termasuk bagian di sisi sungai, merupakan upaya untuk mempertahankan ke-aslian masjid ini dan sekitarnya, yang tentu saja teramat penting bagi sejarah kota Kuala Lumpur khususnya maupun bagi sejarah Malausia umumnya.

Referensi

scriptersnews.blogspot.co.id – himpunan gambar klasik masjid jamek
malaysia.panduanwisata.idmasjid jamek kuala lumpur

Baca Juga