Thursday, June 22, 2017

Mengenal Masjid Masjid Tua Jakarta (Bagian 4)

Lima Masjid Tua Jakarta urutan ke 16 - 20 : (16). Masjid Az Zawiyah Pekojan, (17). Masjid Langgar Tinggi Pekojan. (18). Masjid Jami' At Taibin Senen. (19). Masjid Jami' Matraman. (20). Majid Jami' Cikini Al-Ma'mur

Masjid memanglah tidak sekedar tempat untuk beribadah bagi kaum muslimin, namun juga menjadi jejak sejarah sebuah peradaban. Lima masjid berikut ini menjadi saksi peradaban Muslim dari berbagai etnis yang tinggal di Batavia (kini Jakarta). Setiap masjid memiliki memiliki garis sejarahnya sendiri seperti sidik jari pada jari jari tangan kita yang tak sama satu dan lainnya.

(16). Masjid Az-Zawiyah Pekojan (1812) Jakarta Barat SKM

Masjid Az-Zawiyah Pekojan merupakan salah satu masjid tua Jakarta yang berada di kawasan Pekojan. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas pada tahun 1812M (26 tahun setelah Masjid Jami’ Kebon Jeruk), Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Dan juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan kitab "Fathul Mu'in" atau kitab kuning yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai rujukan di kalangan pesantren tradisional.

Masjid Az Zawiyah Pekojan

Habib Ahmad bin Hamzah Alatas juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor. Ketika dibangun, masjid ini tidak saja merupakan sebuah bangunan untuk ibadah semata namun juga merupakan tempat penyelenggaraan pendidikan islam.  Kini bangunan masjid ini dikelola oleh Yayasan Wakaf Al-Habib Ahmad Bin Hamzah Alatas.

Masjid Az-Zawiyah berada tidak jauh dari jalan Pekojan Kecil, awalnya hanya berupa mushola kecil, Mushola ini kemudian diwakafkan hingga sekarang dan kemudian menjadi sebuah masjid. Kawasan Pekojan juga dikenal sebagai Kampung arab meskipun pada awalnya dihuni oleh Muslim dari India. Saat ini di Pekojan terdapat 4 Masjid Jami’ dan 26 mushola beberapa diantaranya sudah eksis sejak era kolonial.

Masjid Langgar Tinggi Pekojan

(17). Masjid Langgar Tinggi Pekojan (1829) Jakarta Barat

Portal Resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebutkan bahwa Masjid Langgar Tinggi dibangun pada tahun 1249H bertepatan dengan tahun 1829M. pertama kali dibangun oleh seorang muslim dari Yaman bernama Abu Bakar Shihab diatas tanah wakaf dari Syarifah Mas’ad Barik Ba’alwi. Bangunan tersebut lalu diperluas oleh Said Naum. Masjid Langgar Tinggi ini tak jauh dari Masjid Jami’ Annawier, Pekojan yang juga merupakan salah satu Masjid tua di Jakarta,

Langgar Tinggi dibangun dengan luas lantai dasarnya 8 meter x 24 meter. Lantai atas digunakan sebagai masjid. Sebagian lantai bawah digunakan sebagai penginapan para pedagang yang mondar-mandir dengan perahu dan rakit. Termasuk penginapan untuk para kolega Abubakar Shihab dari luar kota. Sebagian lagi dijadikan tempat tinggal pengurus masjid. Kini, seluruh lantai bawah digunakan untuk toko perangkat shalat, termasuk tasbih, buku-buku agama, serta minyak wangi khas Timur Tengah dan India. Ada minyak misik, minyak buhur, sampai minyak ular. 

Masjid Jami' At Taibin Senen

(18). Masjid Jami Attaibin Senen (1815) Jakarta Pusat

Awalnya, masjid ini diberi nama Masjid Kampung Besar, didirikan oleh para pedagang muslim Pasar Senen sekitar tahun 1815, atas prakarsa mereka sendiri dan dengan dana swadaya. Dalam perjalanan sejarahnya masjid ini menjadi saksi dukungan dari para pedagang di pasar senen terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda dengan memberi dukungan logistik kepada para pejuang yang dikumpulkan di masjid ini.

Masjid ini juga menjadi tempat menyusun strategi menghadapi kekuatan belanda. Khususnya dalam pertempuran Senen, Tanah Tinggi dan Keramat. Di masjid ini pula para pejuang berkumpul dan mendapat siraman rohani. Tak heran, setelah keluar dari masjid ini, semangat juang mereka semakin menyala-nyala.

Kini, ditengah gencar berubahnya wajah kota Jakarta, Mesjid Jami Attaibin seakan tenggelam oleh gemerlap gedung-gedung pencakar langit di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Meski begitu, kesejukan masjid ini kian terasa. Di sinilah para pegawai gedung-gedung itu sembahyang. Lingkungannya yang asri, menambah kekhusukan ibadah.

Masjid Jami' Matraman

(19). Masjid Agung Matraman (1837) Jakarta Pusat

Masjid Matraman di Jakarta Pusat dulunya merupakan musholla perkampungan pasukan Mataram dalam dua kali penyerbuan mereka yang tak berjaya terhadap Belanda di Batavia di tahun 1648 dan 1649 dan kemudian menjelma menjadi Masjid Agung Pertama di Jakarta. Nama Matraman untuk wilayah ini disinyalir berawal dari kata Mataraman yang kemudian berubah menjadi Matraman seperti yang dikenal saat ini.

Masjid Agung Matraman bukanlah satu satu nya masjid tua di Jakarta yang berkaitan dengan anggota pasukan Mataram, selain masjid ini sebelumnya telah berdiri Masjid Al-Ma’mur di Tanah Abang dibangun tahun 1704 atau sekitar 133 tahun lebih dulu dari Masjid Jami Matraman dan Masjid Jami’ Al-Mansyur di Kampung Sawah Lio Jembatan Lima dibangun tahun 1717 atau 120 tahun lebih dulu dari Masjid Agung Matraman.yang juga sama sama dibangun oleh para keturunan pasukan Mataram yang menetap di sekitar Batavia.

Di dalam Masjid Agung Matraman masih tersimpan kalender yang terbuat dari kayu bertuliskan  bahasa Arab dan hurup Latin. Kalender ini konon biasa digunakan oleh orang Mataram untuk mengetahui hari dan sampai sekarang pun masih digunakan sebagai ciri khas dari Masjid Agung Matraman.

Di depan Masjid Agung Matraman terdapat dua makam tua. Konon, kedua makam itu makam prajurit Mataram, mereka adalah Wanandari dan Wandansari. Namun masih simpangsiur apakah makam itu ada di situ sebelum dibangun masjid atau setelah masjid itu ada. Beberapa pihak yang mengetahui keberadaan makam tua itu, tak jarang menziarahi makam tersebut.

(20). Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur (1860), Jakarta Pusat

Di tepi Kali Ciliwung, membelakangi Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta, Berdiri kokoh melewati waktu lebih dari 150 tahun, sebuah masjid tua yang sarat dengan sejarah. Namanya Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur, namun lebih dikenal dengan nama Masjid Cikini. Masjid itu merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta, di bangun diatas tanah milik pelukis ternama Raden Saleh dalam tahun 1860. Masjid tua yang menyimpan kisah perjuangan panjang kaum muslimin mempertahankan hak atas masjid ini.

Masjid Jami' Cikini Al-Ma'mur

Di masa penjajahan Belanda Masjid Cikini sempat sempat dipindahkan ke pinggir kali Ciliwung, lalu dipindahkan lagi oleh ummat Islam ke tempatnya saat ini, kemudian terancam digusur oleh pemerintah Belanda dengan alasan akan dibangun Gereja dan justru membangkitkan perlawanan dari muslim disana dan membangkitkan ketersinggungan muslim pulau Jawa yang menggalang dukungan dibawah komando para tokoh pergerakan dari Syarekat Islam termasuk HOS Tjokroaminoto, KH Mas Mansyur, H Agus Salim, dan Abikoesno Tjokrosoeyoso. Gencarnya reaksi menentang dari umat Islam ternyata menciutkan nyali Belanda. Dan pertentangan mereda pada tahun 1926.

Di Masa kemerdekaan, di tahun 1964 saat situasi politik sedang genting gentingnya menjelang G30S/PKI Kementrian Agraria RI yang menerbitkan SK hak milik berupa sertifikat tanah atas nama Dewan Gereja Indonesia (DGI). Dalam sertifikat itu disebutkan bahwa tanah di sekitar Masjid Cikini ::: termasuk tanah yang di atasnya dibangun masjid itu ::: diklaim milik DGI. Kala itu menteri Agraria di jabat oleh Hermanses SH, sedangkan Perdana Menteri saat itu adalah Dr. J Leimena yang juga menjabat sebagai direktur RS. Cikini.

Sampai tahun 1970-1975, pihak rumah sakit tetap bersikeras menyatakan bahwa tanah Masjid Cikini adalah bagian dari kompleks rumah sakit. Upaya perundingan dilaksaksanakan tahun 1987 antara Gubernur KDH DKI, Pengurus Masjid dan DGI. Kemudian berlanjut di tahun 1989 hingga tahun 1990. Dan ahirnya pada hari Jumat  24 Mei 1991, Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Admodarminto atas nama pemerintah RI dihadapan jamaah Masjid Cikini mengumumkan sertifikat tanah atas nama DGI yang mencakup tanah Masjid Cikini telah dicabut. Tanah masjid telah dikembalikan kepada umat Islam dengan sertifikat tersendiri atas nama Yayasan Masjid Al Ma'mur yang diketuai oleh Mayjen (purn) HM Joesoef Singedekane, mantan gubernur Jambi. Perjuangan sepanjang 27 tahun itu ahirnya berbuah manis.***

Bersambung ke bagian 5.

--------------------------------------

Masjid Detil Artikel-nya

Masjid Jami Attaibin Senen

Sunday, June 18, 2017

Mengenal Masjid Masjid Tua Jakarta (Bagian 3)

Lima Masjid Tua Jakarta bagian ke-tiga : (11). Masjid An-Nawier, (12). Masjid Angke, (13) Masjid Tambora. (14) Masjid Krukut dan (15). Masjid Kebun Jeruk. 

Di bagian ketiga ini akan mengulas selayang pandang lima masjid tertua di Jakarta yang semuanya dibangun pada abad ke 18, menariknya bahwa masjid tersebut dibangun oleh muslim Batavia yang berasal dari berbagai akar budaya. Seperti Masjid Annawier di Pekojan (1760) yang dibangun oleh Muslim Arab di Batavia, kemudian ada Masjid Jami’ Al-Anwar, Angke (1761) atau Masjid Angke yang dibangun oleh muslim Thionghoa, sama seperti masjid Krukut dan Masjid Jami’ Kebon Jeruk (1786).

Di masa penjajahan Belanda muslim Thionghoa di Batavia juga dimasukkan ke dalam kelompuk pribumi karena agama Islam yang di anutnya, sehingga disamakan dengan orang Jawa, Sunda, Banten, Sumbawa dan sebagainya. Tambora yang kini menjadi nama kelurahan sekaligus kecamatan di Jakarta Barat, memang mengabadikan nama Gunung Tambora di pulau Sumbawa. Masjid Jami Tambora yang masih kekar berdiri hingga kini dibangun oleh seorang ulama yang berasal dari sekitar Gunung Tambora. Berikut sekilas tentang lima masjid tertua di Jakarta tersebut.

11. Masjid An-Nawier Pekojan (1760) Jakarta Barat

Masjid An Nawier dididirkan tahun 1180H / 1760M, dua belas tahun setelah berdirinya Masjid Kampung Baru Pekojan oleh komunitas India. Masjid An Nawier lebih dikenal dengan sebutan Masjid Pekojan, di dirikan oleh diatas lahan wakaf dari Syarifah Fatimah binti Husein Al Idrus, seorang muslimah dari jazirah Arabia yang tinggal di Pekojan, makam beliau kini berada di bagian belakang masjid ini. Konon Masjid An Nawier ini dahulunya menjadi induk dari masjid-masjid sekitar Batavia.

Masjid An-Nawier Pekojan

Pada mulanya masjid ini berupa surai kecil yang pembangunannya di ketuai oleh Daeng Usman Bin Rohaeli sampai tahun 1825M. Kemudian diteruskan oleh Komandan Dahlan tahun 1825-1860M. Makam Komandan Dahlan kini berada di sebelah utara masjid yang dikelilingi batu pahatan besar. Pada tahun 1926 masjid ini diperluas dan diperindah oleh Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus, beliau merupakan seorang muslim kaya raya yang semasa hidupnya ikut menyelundupkan senjata untuk para pejuang Aceh melawan Belanda.

Di masjid inilah tempat Habibb Usman Bin Yahya, mufti Islam di Batavia mengajar. Habib kelahiran Pekojan 1238H dikenal produktif menulis buku buku agama. Diantara 50 buku karangannya masih digunakan di pengajian pengajian. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Habib Ali Alhabsyi atau lebih dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang, yang kurang lebih seabad lalu mendirikan majelis taklim Kwitang.

12. Masjid Jami’ Al-Anwar, Angke (1761) Jakarta Barat

Berdasarkan sumber Oud Batavia karya Dr F Dehan, Masjid Jami’ Al-Anwar, Angke didirikan pada hari Kamis, tanggal 26 Sya’ban 1174 H yang bertepatan dengan tanggal 2 April 1761 M oleh seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim bernama Ny. Tan Nio yang bersuamikan orang Banten, dan masih ada hubungannya dengan Ong Tin Nio, istri Syarif Hidayatullah (sunan Gunung Jati). Arsitek pembangunan masjid ini adalah Syaikh Liong Tan, dengan dukungan dana dari Ny. Tan Nio.

Masjid Jami' Angke

Sejarah Masjid Jami’ Al-Anwar, Angke, ini memiliki benang merah dengan Masjid Jami An-Nawier di Pekojan, yakni sama sama memiliki keterkaitan dengan perisitiwa berdarah pembunuhan masal orang Tionghoa di Batavia tahun 1740 oleh bala tentara VOC atas perintah Jenderal Adrian Valckenier (1737-1741). Orang Orang Tionghoa Batavia banyak yang melarikan diri dan bersembunyi dan mendapatkan perlindungan dari orang orang Islam dari Banten yang tinggal di Kampung Goesti, dan kemudian hidup bersama di kampung tersebut.

Kelompok inilah yang kemudian membangun Masjid Jami’ Al-Anwar, Angke pada tahun 1761 sebagai tempat beribadah dan markas para pejuang menentang penjajah Belanda. Masjid Jami’ Al-Anwar, Angke konon juga sering dipakai sebagai tempat perundingan para pejuang dari Banten dan Cirebon. Kampung Goesti ini merupakan kampong orang Bali di Batavia yang sudah berdiri sejak tahun 1709.

Keberadaan Muslim di Kampung Goesti ini lagi lagi di-generalisir oleh pemerintah Belanda dengan menyebut semua penduduk pribumi disana sebagai muslim. Sebagaimana disebutkan oleh Heuken, orang Belanda menganggap kaum pribumi adalah orang-orang yang tinggal di tanah Jawa. Karena tinggal di tanah Jawa, mereka disebut orang Jawa. Jadi, orang pribumi itu orang Jawa. Orang Jawa itu Islam, maka orang Bali yang beragama Hindu dan tinggal di Batavia yang notabene ada di pulau Jawa juga dianggapnya sebagai orang Islam. Karena orang Islam itu pribumi maka orang Tionghoa yang Muslim pun dianggap sebagai Pribumi.

Masjid Jami' Tambora

(13). Masjid Jami’ Tambora (1761)

Terletak di Jl. Tambora Masjid (dahulu Jl. Blandongan) Nomor 11, Kelurahan Tambora, Kec. Tambora, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Masjid Jami’ Tambora dibangun pada tahun 1181 H (1761 M) oleh Kiai Haji Moestoyib, Ki Daeng, dan kawan-kawan. Mereka berasal dari Ujung Pandang, dan lama tinggal di Sumbawa tepatnya di kaki Gunung Tambora. Kemudian dibuang ke Batavia oleh Kompeni Belanda dan dijatuhi hukuman kerja paksa. Setelah lima tahun ia dibebaskan lalu membangun masjid sebagai tanda syukur.

Sejak masjid selesai dibangun, peribadatan dipimpin oleh K.H. Moestoyib sampai wafat. Haji Mustoyib dikuburkan di halaman depan masjid ini. Masjid ini diperluas dan dipugar menyeluruh pada tahun 1980. Kemudian kepemimpinan dialihkan pada Imam Saiddin sampai wafat, setelah itu beberapa kali mengalami pergantian pimpinan, dan terakhir tahun 1370 H (1950 M) pimpinan dipegang oleh Mad Supi dan kawan-kawannya dari Gang Tambora. Pada tahun 1945 masjid dijadikan markas perjuangan melawan NICA, bulan Oktober 1945 diserang tentara NICA dan akhirnya Mad Supi dan kawan-kawan ditawan Belanda.

Masjid Jami Tambora tercatat sebagai benda cagar budaya pada tahun 1994, dan telah mengalarni pemugaran, yaitu tahun 1979 oleh Proyek Sasana Budaya dan tahun 1980 Dinas Museum dan Sejarah Daerah Khusus Ibukota Jakarta merenovasi dan menambah ruangan aula dan tempat sholat untuk kaum wanita (sisi selatan) serta penggantian warna cat dinding, dan tahun 1988/1989 oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Masjid Krukut, kini dikenal dengan nama Masjid Jami' Al-Mubarak Krukut. 

(14). Masjid (Jami’ Al-Mubarak) Krukut (1785)

Masjid Krukut adalah salah satu masjid tua di Jakarta, dibangun sesudah tahun 1785 di atas sebidang tanah luasnya 1.000 m2 yang disebut Cobong Baru. Dibangun oleh kaum peranakan Tionghoa di Batavia, setelah memperoleh izin dari Gubemur Jenderal Alting. Izin tersebut diberikan kepada kapitan Cina peranakan (Muslim) yang bernama Tamien Dosol Seeng. Pada abad ke-19 dan abad ke20 masjid ini mengalami perubahan besar. Sebuah mimbar kayu pantas dianggap karya besar seni ukir Tionghoa. Sayang sekali, bentuk ukiran mimbar itu tak tajam lagi akibat dilapisi cat perak tebal pada tahun 1975 dan kini mimbar tersebut raib tak jelas keberadaannya.

Perombakan dan pembangunan total masjid ini dilakukan tahun 1994 14 Januari 1994, diperluas oleh tanah wakaf yang diberikan Syech Abdul Khaliq A Bakhsh dan dilaksanakan oleh Abdul Malik Muhammad Aliun sebagai wakaf untuk umat Islam. Di kawasan Krukut kini sudah hampir tak ada lagi muslim Tionghoa yang bermukim disana dan justru lebih banyak di dominasi muslim keturunan arab.

Masjid Jami' Kebun Jeruk. 

15. Masjid Jami’ Kebon Jeruk (1786) Jakarta Barat

Menurut data dari Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi Jakarta, Masjid Jami’ Kebon Jeruk didirikan oleh seorang Muslim Tionghoa bernama, Chau Tsien Hwu atau Tschoa atau Kapten Tamien Dosol Seeng di tahun 1786 (25 Tahun setelah Masjid Jami’ Al-Anwar, Angke) . Beliau adalah salah seorang pendatang dari Sin Kiang, Tiongkok yang kabur dari negerinya karena ditindas oleh pemerintah setempat. Sesampai di Batavia, ia menemukan sebuah surau yang tiangnya telah rusak serta tidak terpelihara lagi. Kemudian di tempat tersebut, ia dan teman-temannya, sesama pendatang dari Tiongkok mendirikan mesjid dan diberi nama Masjid Kebon Jeruk.

Masjid Jami’ Kebon Jeruk menjadi masjid pertama yang murni dibangun oleh muslim Thionghoa di Batavia dan menjadi masjid pertama di kawasan pusat bisnis Glodok. Di halaman sebelah timur masjid terdapat makam Fatimah Hwu yang merupakan istri Chau Tsien Hwu. Nisan dari makam yang bertarikh 1792M ini cukup unik dengan bentuk naga bertulisan huruf cina berbunyi “Hsienpi Men Tsu Mow” yang artinya “inilah makam China dari keluarga Chai”, dan menggunakan pertanggalan Arab. ****

(Bersambung ke bagian 4)

Saturday, June 17, 2017

Mengenal Masjid Masjid Tua Jakarta (Bagian 2)

Lima Masjid Masjid Tua di Jakarta Bagian 2 ; (6). Masjid Al-Arif Pasar Senen (1695), (7). Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang (1704 ) Jakarta Pusat, (8). Masjid Jami’ Al-Mansyur Sawah Lio, Jakarta (1717), (9). Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta (1736), (10). Masjid Kampung Baru Pekojan (1748) Jakarta Barat.

Melanjutkan posting bagian pertama, berikut ini adalah lima masjid masjid tua di Jakarta berikutnya dimulai dari urutan ke enam hingga ke sepuluh. Dari enam masjid tua berikut ini, Masjid Al-Arif di Pasar Senen merupakan masjid tertua dari empat lainnya, dibangun pada abad ke 17 masehi, disusul kemudian oleh empat masjid lainnya yang dibangun di abad k3 18 masehi. 

6. Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen

Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta yang berada di kawasan Pasar Senen Jakarta Pusat. Pekarangan masjid ini menjadi salah satu tempat parkir paforit bagi para pengguna kendaraan roda dua. Masjid ini diperkirakan dibangun pada abad ke 17 oleh seorang bangsawan kesultanan Gowa (Sulawesi Selatan) Upu Daeng Arifuddin, dan nama beliau kemudian di abadikan sebagai nama masjid ini.

Pada mulanya masjid ini disebut Masjid Jami Jagal Senen, Karena memang dibangun ditengah tengah perkampungan para tukang jagal hewan ternak di pasar Senen, baru kemudian di tahun 1969 namanya diganti dengan nama Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen.  Masjid ini didirikan oleh seorang pedagang dari Bugis, Upu Daeng H Arifuddin bersama dengan masyarakat setempat sekitar tahun 1695. Selain untuk syiar Islam, juga sebagai tempat beribadah para pedagang, masyarakat dan perantau. Dengan dana seadanya ditambah sumbangan para jamaah, masjid itu akhirnya berdiri dengan nama Masjid Jami' Kampung Jagal.

Masjid Al-Arif Pasar Senen

Upu Daeng Arifuddin, dikenal sebagai keturunan Raja Goa dan juga pejuang yang disegani saat melawan kolonial Belanda. Arifuddin wafat pada tahun 1745. Makamnya terletak di bagian barat masjid. Ada pula makam empat sahabat Arifuddin. Masjid ini pernah direnovasi atas sumbangan pengusaha garmen asal Pondokkopi, Jakarta Timur, sebesar Rp 400 juta. Masjid Al-Arif sempat terancam dibongkar pada tahun 1969 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, yang berniat melebarkan area Pasar Senen.

7. Masjid Al-Ma'mur Tanah Abang (1704 ) Jakarta Pusat

Maulana Hasanuddin bukanlah satu satunya yang pernah melakukan penyerbuan ke Batavia. Sultan Agung dari Mataram pun pernah dua kali melakukan penyerbuan ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Sisa sisa pasukan Mataram ini tidak semuanya kembali ke wilayah Mataram, sebagian menetap diluar tembok kota Batavia.

Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang pertama kali dibangun pada tahun 1704 oleh bangsawan Kerajaan Islam Mataram pimpinan KH Muhammad Asyuro. Masjid Jami’ Al-Makmur Tanah Abang bukanlah satu satunya masjid di kota Jakarta yang dibangun oleh pasukan Mataram, selain masjid ini ada Masjid Jami Al-Mansyur di Jembatan Lima dan Masjid Jami’ Matraman yang juga dibangun oleh pasukan Mataram.

Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang

Kini masjid yang seumur dengan sejarah keberadaan Tanah Abang ini terkepung oleh hingar bingar pusat perdagangan Tanah Abang, Di kiri kanan masjid jami ini sudah tidak ditemukan lagi perumahan penduduk karena hampir seluruh daerah sekitarnya menjadi pusat kegiatan bisnis. Halaman depan masjid ini bahkan sudah tergerus dalam arti sebenarnya oleh perkembangan pusat bisnis Tanah Abang, pekarangan depannya habis dipakai untuk pelebaran jalan dan disesaki oleh para pedagang dan parkir kendaraan. 

8. Masjid Jami Al-Mansyur Kampung Sawah Lio (1717), Jakarta Barat

Maulana Hasanuddin bukanlah satu satunya yang pernah melakukan penyerbuan ke Batavia. Sultan Agung dari Mataram pun pernah dua kali melakukan penyerbuan ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Sisa sisa pasukan Mataram ini tidak semuanya kembali ke wilayah Mataram, sebagian menetap diluar tembok kota Batavia. Salah satu diantaranya adalah Pangeran Cakrajaya, salah satu putra beliau bernama Abdul Malik kemudian mendirikan Masjid Jami’ Al-Mansyur di kampung Sawah Lio Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat pada tahun 1130 Hijriah atau tahun 1717 Miladiyah, 69 tahun setelah berdirinya Masjid Al-Anshor oleh Muslim India di Pekojan.

Masjid Jami Al-Mansyur Sawah Lio

Tiga abad setelah berdiri, Masjid Al-Mansyur ini menjadi saksi dari kiprah pahlawan nasional KH. Mohammad Mansyur yang namanya kemudian di abadikan sebagai nama masjid Jami bersejarah ini. Di masa awal setelah proklamasi kemerdekaan, masjid ini digunakan oleh KH. Muhammad Mansur sebagai tempat mobilisasi pejuang sekitar Tambora untuk melawan Belanda, Sebuah pertempuran frontal pernah terjadi di muka masjid antara pejuang RI yang berlindung di masjid dengan tentara NICA yang kala itu masuk dari Pelabuhan Sunda Kelapa bergeser ke selatan menuju daerah Kota lalu menyebar ke sekitar Tambora.

Baku tembak itu dipicu oleh tindakan berani KH. Mohammad Mansur mengibarkan bendera Merah Putih di atas kubah menara masjid ini. Sesudah peristiwa tersebut KH. Muhammad Mansur lalu dipanggil ke Hofd Bureau (Polsek) untuk diadili dan ditahan atas tindakannya itu. KH. Muhammad Mansur wafat pada tanggal 12 Mei 1967. Pada tahun 1980 berdasarkan SK Mendikbud serta SK Gubernur DKI, Masjid Jami’ Al-Mansyur di daftarkan sebagai cagar budaya.

Masjid Kramat Luar Batang

9. Mesjid Luar Batang (1736)

Masjid Keramat Luar Batang atau Masjid Luar Batang diperkirakan berdiri pada tahun 1736, Sembilan belas tahun setelah Abdul Malik mendirikan Masjid Jami’ Al-Mansyur di Jembatan Lima. Lokasi Masjid Luar Batang ini berada di luar tembok kota Batavia, meski tidak telalu jauh dari benteng VOC. Tidak ada angka yang benar benar pasti mengenai tahun berdirinya masjid ini, angka tahun 1736 tersebut merupakan rangkuman dari berbagai laporan dan berita mengenai masjid ini, baik dari catatan pelaut Cina maupun dari berita berita kotan Batavia.

Masjid Luar Batang tidak bisa dilepaskan dari Alhabib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al 'Aydrus, ulama besar tanah Betawi yang berasal dari Hadramaut (Yaman). Nama masjid ini diberikan sesuai dengan julukan Habib Husein, yaitu Habib Luar Batang. Semasa hidupnya beliau sangat disegani oleh pemerintah Kolonial Belanda. Beliau wafat dimasa penjajahan Belanda pada tanggal tanggal 24 Juni 1756 dan sejak masa itu kawasan Masjid dan makam Habib Husein di Luar Batang ini dikenal dengan sebutan Keramat. Sebutan yang sama pun digunakan oleh Belanda untuk menyebut makam tokoh tokoh Pergerakan Islam Indonesia di berbagai Negara Jajahannya termasuk di Afrika Selatan.

Masjid Kampung Baru Pekojan

10. Masjid Kampung Baru Pekojan (1748) Jakarta Barat

Se-abad setelah pembangunan Masjid Al-Anshor di jalan Pengukiran, kelurahan Pekojan dan 12 tahun setelah Habib Husein membangun Masjid Luar Batang, Muslim India di Batavia membangun masjid kedua mereka di jalan jalan Bandengan, masih di wilayah kelurahan Pekojan. Masjid kedua tersebut dikenal dengan nama Masjid Jami Kampung Baru. Dibangun oleh Syeik Abubakar yang merupakan salah satu saudagar muslim India yang tinggal di kawasan tersebut pada tahun 1748. Pembangunan Masjid ini dikarenakan tidak memadai nya lagi masjid Al-Anshor di Jalan Pengukiran untuk menampung Jemaah yang semakin meningkat.  

Komunitas Muslim India di Batavia mendapatkan peluang bisnis yang lebih leluasa paska peristiwa berdarah pembunuhan massal orang orang Tionghoa di Batavia pada tahun 1740. Peningkatan bisnis tersebut diiringi dengan bertambahnya jumlah komunitas muslim pedagang yang datang dari India ke Batavia. Dalam sebuah karangan Belanda pada tahun 1829 masjid kampung Baru ini disebut sebagai Moorsche Tempel (Kuilnya orang orang Moor). Tentang penyebutan ini telah dibahas sebelumnya pada Sub judul Masjid Al-Anshor.*** bersambung ke bagian 3.

-------------------------------------

Baca Detil Artikel masing masing masjid nya berikut


Sunday, June 11, 2017

Mengenal Masjid Masjid Tua Jakarta (Bagian 1)


Tulisan ini sengaja kami posting di bulan Juni sebagai bagian dari upaya menolak lupa pada sejarah. Di bulan Juni setiap tahun, Provinsi DKI Jakarta merayakan hari jadinya yang di hitung sejak penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah dari Portugis dan menandai berdirinya Jayakarta sebagai sebuah Kesultanan dan kini dijadikan sebagai hari jadi nya DKI Jakarta.

J
akarta, selaku ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia, memiliki sederet masjid masjid tua dan bersejarah, sebagian besar masih berdiri dan difungsikan hingga hari ini. Keberadaan masjid di wilayah Jakarta sudah menjadi bagian integral dari sejarah perjalanan kota Jakarta. Artikel ini akan menyajikan ulasan tentang masjid masjid tua di Jakarta sejak masa awal (Kesultanan) Jayakarta hingga masa awal Kemerdekaan Republik Indonesia.

Seiring dengan ditetapkannya tanggal 22 Juni 1527 sebagai titik awal berdirinya kota Jakarta, maka dapat disebut bahwa sejarah kota Jakarta dimulai pada tanggal 22 Juni 1527 tersebut. Di awali dengan kemenangan Fatahillah atau Falatehan atau Fadhilah khan memimpin pasukan gabungan Demak dan Cirebon dibantu oleh pasukan Banten mengalahkan dan mengusir Portugis yang bersekutu dengan Pajajaran dari Sunda Kelapa.

Fatahillah merupakan panglima pasukan Demak di masa pemerintahan Sultan Trenggono. Sultan Trenggono memerintahkan beliau untuk menggabungkan pasukannya dengan pasukan dari Kesultanan Cirebon dibawah pemerintahan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Penyerbuan tersebut juga dibantu oleh Pasukan dari Banten dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin (Putra Sunan Gunung Jati).

Masjid “Si Pitung” Al AlamMarunda, Jakarta Utara

1. Masjid Al-Alam Marunda (1527)

Saat penyerbuan ke Sunda Kelapa tahun 1527 tersebut, Fatahillah bersama pasukannya sempat mendirikan sebuah masjid kecil di kawasan Marunda, Jakarta Utara, sebagai tempat mereka beribadah. Masjid tua berukuran kecil itu bernama Masjid Al Alam. Meski ukurannya tidak terlalu besar, masjid berarsitektur tradisional ini cukup kokoh dengan tiang tiang beton antik berukuran besar dan tembok yang cukup tebal. Di tahun 1975 pemerintah provinsi DKI Jakarta menetapkan Masjid Al Alam sebagai Cagar Budaya. Bila melihat tahun pembangunannya, Masjid Al Alam ini merupakan masjid tertua di Jakarta.

Kisah tutur menyebutkan bahwa pembangunan masjid ini juga dibantu oleh para wali yang memiliki karomah yang memiliki karomah yang tinggi. Kisah ini memang cukup masuk akal karena Sunan Gunung Jati sendiri merupakan salah satu tokoh Wali Songo, dan sejarah Nasional kita pun mencatat bahwa berdirinya kesultanan Demak dan Kesultanan Cirebon tidak lepas dari peran Wali Songo.

Masjid Al-Alam Cilincing

2. Masjid Al-Alam Cilincing (1527)

Masjid ini mungkin tidak setenar "kembaranya" Masjid Al Alam Marunda yang lebih dikenal dengan nama masjid si pitung, namun masjid yang juga didirikan oleh fatahillah saat akan merebut sunda kelapa dari Portugis ini sangat besar nilainya bagi sejarah jakarta dan indonesia. Kini masjid ini sehari hari dikelola oleh “Yayasan Masjid Al-Alam Cilincing Jakarta Utara”. Untuk menyelamatkan tempat bersejarah ini, pada 1972 dilakukan pemugaran masjid oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, saat masih dipimpin Gubernur Ali Sadikin, dan bangunan ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Berdasarkan versi sejarah Dinas purbakala DKI Jakarta, masjid ini dibangun pada 22 Juni 1527, persis sama dengan HUT kota Jakarta.  Menjadikannya sebagai masjid tertua yang ada di jakarta bersama dengan masjid Al-Alam Marunda yang dibangun ditahun dan oleh orang yang sama. Letaknya berada di jalan rekreasi cilincing Jakarta utara, tepatnya di sebelah pasar ikan cilincing atau 18 Km dari pusat Kota Jakarta.

Fatahillah dan pasukannya berhasil menaklukkan Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1257. Beliau kemudian mengganti nama Bandar tersebut dari Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang bermakna Kota Kejayaan. beliau memegang langsung tampuk pemerintahan di Jayakarta, namun kemudian beliau memutuskan kembali ke Cirebon untuk berdakwah serta memenuhi permintaan Sunan Gunung Jati untuk memperluas wilayah kesultanan Cirebon ke wilayah sekitarnya.

Jabatan pemerintahan di Jayakarta diserahkan Oleh Fatahillah kepada Ki Bagus Angke atau Ratu Bagus Angke atau Pangeran Tubagus Angke yang juga menantunya. Dan disaat yang hampir bersamaan Maulana Hasanuddin dinobatkan sebagai Sultan Pertama di Kesultanan Banten. Kekuasaan atas Jayakarta kemudian diteruskan oleh Pangeran Jayakarta Wijayakrama, pada tahun 1596 menggantikan Tubagus Angke yang sudah berusia lanjut.

Masjid Agung Kesultanan Jayakarta, Tak Berbekas

Di masa kekuasaan Pangeran Jayakarta ini, Belanda sudah mulai menancapkan kukunya di Jayakarta hingga menimbulkan ketegangan diantara keduanya, sampai kemudian memuncak menjadi pertempuran terbuka tahun 1610. Pasukan Belanda dibawah pimpinan Jenderal Jan Pieter Coen tidak mampu menghadapi pasukan Jayakarta yang dibantu oleh pasukan Banten dan Inggris hingga ahirnya melarikan diri ke markas besar V.O.C di Ambon.

Masjid Jami’ As-Salafiyah Jatinegara Kaum dari arah Makam Pangeran Jayakarta

Dalam serangan kedua kalinya di tahun 1619, J.P. Coen berhasil mengalahkah pasukan Jayakarta dan membumihanguskan kota itu hingga tak bersisa, dan mengganti nama Jayakarta dengan Batavia pada 12 Maret 1619. Sisa sisa kejayaan Jayakarta sebagai sebuah entitas kekuasaan yang pernah berkuasa di wilayah Jakarta selama sekitar 92 tahun (22 Juni 1527 hingga 12 Maret 1619), nyaris tak berbekas.

Bangunan keraton dan Masjid Agung-nya pun hanya tinggal cerita, salah satunya muncul di catatan penulis Belanda, Adolf Heuken S.J, menyebutkan bahwa beberapa puluh meter di sebelah selatan hotel Omni Batavia sekarang ini yang terletak di jalan Kali Besar dan Jalan Roa Malaka Utara, Jakarta utara, pernah berdiri bangunan masjid tertua di Jakarta, namun bangunan masjid tersebut sudah tak bersisa. Diperkirakan masjid yang dimaksud merupakan masjid Agung Kesultanan Jayakarta yang dibumihanguskan oleh Belanda bersama dengan Keraton Jayakarta.

Penghancuran total Bandar Jayakarta oleh Pasukan J.P.Coen tidak lepas dari upaya nya untuk mengikis habis pamor Kesultanan Jayakarta dari wilayah tersebut, termasuk menghapus segala sesuatu yang berbau kesultanan dan Islam, terbukti dengan kebijakannya setelah berkuasa beliau mengeluarkan larangan pembangunan masjid di dalam wilayah kota Batavia.

3. Masjid Jami’ As-Salafiyah Jatinegara Kaum (1620)

Paska keruntuhan Bandar Jayakarta, Pangeran Jayakarta bersama keluarga dan pengikut setianya menyingkir ke wilayah Jatinegara Kaum (Klender, Jakarta Timur). Disana beliau mendirikan kawasan baru, menyusun strategi dan terus menerus melakukan perlawan terhadap penjajahan Belanda. Di Jatinegara Kaum beliau membangun masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Jami’ As-Salafiyah pada tahun tahun 1620.

Sepanjang hidupnya setelah kehilangan kekuasaan, Pangeran Jayakarta beserta pengikutnya tak pernah berhenti melakukan perlawanan terdahap penjajahan Belanda, sampai beliau wafat di-usia tua dan dimakamkan di dekat masjid yang beliau bangun bersama pengikutnya. Masjid Jami’ As-Salafiyah hingga kini ramai dikunjungi oleh para Jemaah begitu-pun dengan makam beliau.

Jejak Sejarah Putra Pangeran Jayakarta di Kabupaten Bekasi. Kiri ; Masjid Al-Mujahidin Cibarusah pertama kali dibangun oleh Pangeran Senapati. Kanan: Rumah kediaman Raden Rangga di Cikarang Barat, kini dikenal dengan Saung Ranggon atau Rumah Tinggi.

Antara Jayakarta dan Cibarusah

Masih di tahun 1619 Pangeran Jayakarta memerintahkan putra mahkota beliau, Pangeran Senapati, menyingkir dari Jayakarta untuk melanjutkan perjuangan dan syi’ar Islam. Pangeran Senapati meninggalkan Jayakarta melalui jalur laut dan berlabuh di pantai utara Bekasi kemudian melanjutkan perjalanan darat hingga ahirnya tiba di wilayah yang kini dikenal dengan nama Cibarusah di kabupaten Bekasi berbatasan dengan Kabupaten Bogor, sama seperti ayahandanya, Pangeran Senapati pun membangun Masjid Masjid di tempat baru tersebut yang kini dikenal dengan nama Masjid Al-Mujahidin Cibarusah.

Sementara Putra Pangeran Jayakarta yang lain bernama Raden Rangga menyingkir melalui jalur darat hingga ke wilayah Cikarang Barat, kabupaten Bekasi. Rumah kediaman beliau selama tinggal disana kini dikenal dengan nama Saung Ranggon atau Rumah Tinggi dan ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan nilai Tradisional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, provinsi Jawa Barat. Rumah panggung sederhana berbahan kayu tersebut masih terawat hingga kini dan disebut sebut sebagai bangunan tertua di Kabupaten Bekasi.

Perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda di Batavia tak pernah usai di berbagai sektor, salah satu tokoh perlawanan masyarakat Betawi yang sangat melegenda adalah Si Pitung. Tokoh legenda ini kerap kali menghabiskan waktunya berdiam diri berlama lama di Masjid Al Alam yang merupakan peninggalan Fatahillah, pendiri Jayakarta yang sudah berubah nama menjadi Batavia itu.

Di masjid ini juga Si Pitung kerap kali bersembunyi dari kejaran pasukan Kompeni Belanda, legenda masyarakat menyebutkan bahwa Si Pitung seakan tak terlihat oleh Pasukan Belanda saat bersembunyi di masjid ini, itu sebabnya dikemudian hari Masjid Al-Alam yang dibangun oleh Fatahillah itu juga disebut sebagai Masjid Si Pitung.

Masjid Jami’ Al Atiq, Kampung MelayuJakarta Selatan 

4. Masjid Jami’ Al Atiq Kampung Melayu (1632), Jakarta Selatan

Perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Batavia juga dilakukan oleh Maulana Hasanuddin, Sultan pertama di Kesultanan Banten yang juga merupakan putra pertama Sunan Gunung Jati (Cirebon). Di masa kekuasaannya (1552-1570) Maulana Hasanuddin sempat mengirimkan pasukannya  menyerbu Batavia. Induk pasukannya yang bermarkas di daerah Kampung Melayu.

Di kampung Melayu Pasukan Maulana Hasanuddin mendirikan sebuah Mushola untuk keperluan mereka beribadah. Mushola yang kemudian disebut sebagai Masjid Kandang Kuda karena berada di perkampungan tukang Sado, kemudian berubah menjadi Masjid Jami’ Kampung Melayu. Sejauh ini tidak ditemukan bukti otentik terkait tahun awal pembangunan masjid ini selain dari kisah tutur masyarakat setempat. Nama masjid ini kemudian di ubah menjadi Masjid Al-Atiq pada tahun 1970-an oleh Pak Ali Sadikin, Guburnur DKI Jakarta saat itu,

5. Masjid Al-Anshor Pekojan (1648) Jakarta Barat

Pelarangan pembangunan masjid di wilayah kota Batavia tidak di indahkan oleh muslim pendatang yang berasal dari Hadramaut (Yaman) dan Gujarat (india) yang oleh Penjajah Belanda di generalisir sebagai orang Moor. Penyebutan Moor bagi Muslim pendatang di Batavia oleh Belanda ini menyiratkan trauma masa lalu bangsa Eropa terhadap Islam. Moor adalah Suku bangsa Muslim di Benua Afrika bagian utara (kini Maroko dan Sekitarnya).

Masjid Al Anshor PekojanJakarta Barat 

Bangsa Moor ini di bawah pimpinan Tarikh Bin Ziyad pada abad ke 7 menyerbu dan menaklukkan Eropa barat (Spanyol dan sebagian Prancis) dan kemudian mendirikan Emperium Islam Andalusia yang berpusat di Istana Alhambra di Cordoba (Spanyol). Berawal dari sejarah tersebut, Bangsa bangsa di Eropa Barat men-jeneralisir Muslim sebagai orang Moor termasuk menyebut Muslim di Kesultanan Sulu (kini di Philiphina Selatan) sebagai orang orang Moor yang dikemudian hari dan hingga kini dikenal dengan sebutan Bangsa Moro.

Muslim India dan Hadramaut ini sebelumnya tinggal di Banten lalu menjalankan bisnis mereka di kota Batavia yang oleh Belanda dijadikan Ibukota di tanah Jajahannya yang disebut Hindia Belanda.Di tahun 1648, atau sekitar 29 tahun setelah bedirinya Batavia Muslim India yang tinggal di kawasan Pekojan (kecamatan Tambora, Jakarta Barat) mendirikan Masjid Al-Anshor di Jalan Pengukiran.

Kawasan Pekojan kala itu merupakan kawasan hunian muslim dari India. Kata ‘Koja’ pada kata “Pekojan” sendiri berasal dari kata "Khoja", daerah di India asal para pedagang tersebut. Kata “Koja” di duga juga diduga berasal dari kain tenun yang biasa dipakai untuk ikat kepala oleh orang-orang Banten. Dan bagaimanapun, seperti disebutkan tadi, muslim India di Pekojan ini sebelumnya adalah mukimin di Wilayah Banten sebelum kemudian pindah ke Batavia. (bersambung ke bagian 2)

Baca Detil Artikelnya