Sunday, December 18, 2016

Islam di Pantai Gading

Masjid Agung di kota Yamoussoukro, ibukota pemerintahan Pantai Gading.

Republik Pantai Gading, dalam bahasa Prancis disebut Republique de Cote D'Ivote dan Ivory Coast dalam bahasa Inggris, merupakan sebuah negara di pantai barat benua Afrika, berbatasan langsung dengan Liberia dan Guyana disebelah timur, Burkina Faso di Utara dan Republik Ghana di sebelah timur, sedangkan sisi selatannya menghadap langsung ke Samudera Atlantik. Pantai Gading mulanya ber-ibukota di Abidjan kemudian dipindahkan ke Yamoussoukro di tahun 1983. Menjadikan negara ini sebagai salah satu negara yang memindahkan pusat pemerintahannya. Namun demikian banyak negara, termasuk Amerika Serikat, yang menempatkan kedutaan besarnya di Abidjan, bukan di Yamoussoukro.

Pantai Gading dikenal oleh para pecinta liga sepakbola Inggris dari pemain sepakbolanya yang merumput di liga Inggris dan liga Eropa lainnya, salah satunya yang cukup terkenal adalah Kolo Toure atau bernama lengkap Kolo Habib Toure[i], pesepakbola muslim asli Pantai Gading ini mengundang decak kagum ketika dia berhasil mengantarkan Manchester City sebagai juara liga Inggris [ii].

Bahasa nasional Pantai Gading adalah bahasa Perancis, di samping bahasa Dioula, yang merupakan bahasa asli setempat. Dengan wilayah seluas 322.460 km2, dihuni sekitar 17.327.724 orang, terdiri dari suku asli Afrika 97% (Akan 42%, Gur/Voltaiques 17%, Mende 27%, Krous 11%, lain-lain 3%).


Islam di Pantai Gading

Menurut situs Islamonline, dari 16 juta penduduk Pantai Gading, 60% beragama Islam disusul oleh pemeluk Katolik 22% dan 18% animis. Situs world fact book menyebutkan Agama Islam dianut sekitar 38,6%, Kristen 32,8%, penganut kepercayaan asli setempat 11.9% dan tak beragama 16,7%. world fact book juga menyebutkan bahwa 70% tenaga kerja asing disana beragama Islam dan 20% beragama Kristen[iii]. Sementara penelitian Library of Congress Country Studies, menyatakan bahwa 1 dari 4 penduduk Pantai Gading adalah Muslim, sedangkan Kristen 1 berbanding 8.

PEW yang menyebutkan bahwa muslim di Pantai Gading mencapai angka 36.7% dari jumlah total penduduk atau setara dengan 7.745.000 jiwa berdasarkan data tahun 2009 lalu[iv]. Data tersebut menjadikan Pantai Gading sebagai salah satu negara dengan minoritas muslim yang cukup besar.

Masuknya Islam ke Benua Afrika    

Islam sudah masuk ke benua Afrika sejak abad ke tujuh, pada masa khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan. Beliau mengutus Uqba Bin Nafi menjadi gubernur di Afrika pada 666 M dengan ibukota di Fustat. Uqba Bin Nafi memimpin pasukan menghadapi tentara musuh yang mengacau di Fezzaan (sekarang daerah Libya Selatan) dan Wardan. Uqba Bin Nafi juga lah yang pertama kali menembus padang pasir Sahara, menembus wilayah-wilayah Sudan termasuk Ghana. Pada masa pemerintahan Yazid I, Uqba Bin Nafi memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Maroko di Afrika utara dan sekitarnya[v].

Sebuah Masjid Megah di pusat kota Metropolitan Abidjan

Islam datang ke wilayah Afrika Bagian Barat dalam tiga gelombang. Pertama pada abad ke-9 ketika bangsa Berber (Maroko dan sekitarnya di Afrika Utara) menyebarkan Islam di Ghana. Gelombang kedua terjadi pada abad ke-13, ketika Kesultanan Mali terbentuk dan menyebarkan Islam ke seluruh Sabana di Afrika Barat sampai dengan abad ke-18. Terakhir pada abad ke-19 ketika seorang pahlawan Muslim Mali, yaitu Samore Toure menyebarkan ke arah selatan Afrika.

Masuknya Islam Ke Pantai Gading

Islam masuk ke Pantai Gading pada gelombang ke-2, yaitu pada abad ke-13 ketika Kesultanan Mali berjaya dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Afrika Barat. Sedangkan Kristen baru datang ke kawasan itu pada abad ke-17. Mayoritas pemeluk Islam di Pantai Gading beraliran Sunni, dan mengikuti Madzhab Maliki. Aliran sufi juga dianut oleh sebagian komunitas Muslim Pantai Gading. Aliran sufi yang dianut adalah Qadiriyah dan Tijaniyah.

Pada awalnya, Pantai Gading adalah suatu perkampungan yang sangat terisolasi, didiami tak kurang dari 60 suku, ditemukan oleh para pedagang Portugis dan Perancis pada abad ke-15. Mereka mencari gading dan budak, dan pada akhirnya Perancis menduduki Pantai Gading hingga abad ke-20. Mungkin Pantai Gading adalah sebuah negara di antara sedikit negara yang dibangun penuh dengan pertikaian agama sampai saat ini, yaitu Islam dan Kristen. Islam di utara dan Kristen di selatan, yang saling berebut kekuasaan.

Pertikaian Muslim – Kristen

Pantai Gading sebenarnya adalah sebuah negara kaya, penghasil coklat terbesar di dunia, disamping kopi dan minyak nabati, namun rakyatnya tak kunjung makmur akibat pertikaian berdarah yang tak kunjung usai di negeri tersebut. Konflik berdarah di Pantai Gading telah berlangsung lama terutama pertikaian antara komunitas Muslim dan Kristen disana, yang berurat berakar sejak pembentukan

Pantai Gading adalah Negara bekas jajahan Perancis, pertama kali terbentuk sebagai sebuah sebuah Rpublik otonom dibawah kendali Prancis pada tahun 1893. Tahun 1959 dibentuk kesatuan adat antara Pantai Gading, Benin, Niger dan Burkina Faso, barulah pada tanggal 7 Agustus 1960 Pantai Gading memperoleh kemerdekaan dari Perancis, dan Felix Houphouet-Boigny terpilih sebagai Presiden pertama di Negara Pantai Gading yang baru terbentuk dengan azaz demokrasi. Felix Houphouet-Boigny terpilih kembali secara demokratis pada pemilu presiden tahun 1990, dan beliau wafat pada tahun 1993. Henri Konan Bedie menggantikan beliau sampai dengan tahun 1999.

jemaah di halaman Masjid di Kota Abidjan

Berbeda dengan Felix Houphouet-Boigny yang memerintah secara demokratis dan berupaya mempersatukan Pantai Gading, Henri Konan Bedie justru mengeluarkan kebijakan sectarian yang bertajuk “program kebanggaan atas kemurnian bangsa Pantai Gading”, yang berimplikasi kepada penyingkiran terhadap etnis yang disebut sebagai pendatang dari Mali dan Burkina Faso yang mendiami kawasan utara Pantai Gading dan notabene merupakan wilayah yang meyoritas penduduknya beragama Islam.

Tak pelak upaya tersebut memicu kontroversi dan ketegangan karena dianggap sebagai upaya pencegalan terhadap calon Preiden muslim, Alassane Ouattara yang berasal dari utara yang juga merupakan mantan Perdana Menteri antata tahun 1990-1993 pada era pemerintahan mendian presiden Felix Houphouet-Boigny, beliau juga merupakan mantan pejabat senior di organisasi internasional IMF. Alassane Ouattara termasuk tokoh muslim dari utara yang dianggap bukan penduduk asli, namun berasal dari Burkina Faso.

Alassane Ouattara mundur dari jabatan Perdana Menteri di tahun 1993 pada saat Henri Konan Bedie naik sebagai presiden dan meluncurkan kebijakan rasis tersebut dan menuduh beliau sebagai bukan trah asli Pantai Gading. Kebijakan pemerintah tersebut tak pelak memicu pertentangan politik yang pada ahirnya berujung kepada perang saudara tak berkesudahan.

Pemilu presiden yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober 2000 pun nyaris gagal dilaksanakan akibat kudeta yang dilakukan oleh Jendral Robert Guei pada bulan Desember 1999. Meski ahirnya tetap terlaksana dan dimenangkan Laurent Gbagbo, namun dianggap sebagai kemenangan yang penuh tipu daya. Alassane Ouattara memboikot hasil pemilu, sedangkan Jenderal Robert Guei hengkang keluar negeri dan memobilisasi pemberontakan, dan akhirnya terbunuh pada tanggal 19 September 2002.

Dengan dukungan penuh dari penduduk muslim bagian utara Alassane Ouattara memilih menjadi opposan terhadap Laurent Gbagbo sebagai presiden yang penuh kontroversi dan mendapat dukungan penduduk bagian selatan yang mayoritas Kristen. Tekanan yang begitu kuat yang melibatkan suku dan agama, yang menewaskan ribuan penduduk, memaksa Presiden Laurent Gbagbo mengadakan rekonsoliasi dengan pihak oposisi.

Megahnya Masjid Agung Yamoussoukro 

Perundingan di Paris pada bulan Januari 2003 menghasilkan kesepakatan Laurent Gbagbo bersedia membagi kekuasaan kepada pihak oposisi. Bulan Maret 2003 Seydou Diarra, seorang tokoh muslim dari utara, diangkat sebagai Perdana Menteri Pantai Gading. Sedangkan Alassane Ouattara yang diragukan kewarganegaraannya, pada bulan Juni 2002 telah diakui penuh sebagai warga Negara Pantai Gading.

Namun masalah dan perang saudara tak usai sampai disitu, Presiden Laurent Gbagbo membuat blunder politik paling berat dalam sejarah pemerintahannya, ketika pada tanggal 6 Nopember 2004 pasukan militer-nya mengebom kamp militer Perancis yang menewaskan 31 tentara. Perancis membalas dengan menembak 2 pesawat Sukhoi dan 5 helikopter milik Pantai Gading. Ketegangan pun merebak, baik antara Perancis dan Pantai Gading, maupun sebagian rakyat Pantai Gading yang berkeinginan kuat untuk mengusir warga Perancis keluar dari Pantai Gading. Kehadiran militer Prancis di Pantai Gading merupakan bagian dari pasukan perdamaian internasional di bawah komando PBB.

Tentu saja situasi ini tidak menguntungkan Laurent Gbagbo, di satu pihak memimpin pemerintahan yang sangat tidak stabil, didera pertikaian sectarian antara Kristen dan Muslim, di lain pihak berhadapan dengan Perancis yang pernah menjajah negaranya, dan kecaman dunia intenasional. Perang saudara kembali berkecamuk di Negara tersebut manakala Laurent Gbago enggan menyerahkan kekuasaannya, meski telah kalah dalam pemilu demokratis tahun 2010 oleh lawan politiknya Ouattara, dengan perolehan suara 54,1 persen, unggul dibanding Gbago yang mendapat 45,9 persen.

Alih alih mengakui kemenangan pihak oposisi, Laurent Gbago kemudian malah membatalkan ribuan perolehan suara Ouatarra dan mengumumkan dirinya sebagai pemenang pemilu. Keputusan yang tentu saja ditentang oleh pihak oposisi dan dunia internasional. Pertikaian bersenjata antara dua pihak tak terelakkan, diperkirakan 800 orang tewas dalam pertempuran sepekan tersebut dan sekitar satu juta orang mengungsi hingga ke Negara Negara tetangga.

The Smiling President, Mr. Allasane Ouattara

 Konflik agak mereda setelah Laurent Gbago akhirnya tertangkap oleh pasukan loyalis presiden terpilih yang mendapatkan dukungan internasional, di bunker persembunyiannya pada bulan April 2011, bersama istri dan ibu mertuanya yang ditengarai selama ini memiliki pengaruh begitu kuat atas keputusan dan kebijakannya selama menjabat[vi]

Presiden Muslim Pertama Pantai Gading

Jum’at, 6 Mei 2011, merupakan hari bersejarah bagi muslim Pantai Gading, Mahkamah Agung (MA) Pantai Gading, menetapkan Alassane Ouattara sebagai presiden, lima bulan setelah ia memenangkan pemilu. Alassane Ouattara, menjadi presiden ke empat di Pantai Gading, sekaligus menjadi presiden muslim pertama di Pantai Gading, membuka jalan bagi rekonsiliasi nasional sebagai sebuah Negara damai seperti yang pernah terjadi di era awal kemerdekaan Negara tersebut.

Alassane Ouattara, pria kelahiran Dimbokro pada tanggal 1 Januari 1942, merupakan salah satu tokoh intelektual Muslim Pantai Gading, Doktor pakar ekonomi lulusanUniversity of Pennsylvania. Sangat disegani baik dalam politik maupun karir internasionalnya. Menjabat sebagai Perdana Menteri tahun 1990-1993, kemudian sebagai wakil direktur manajemen di IMF, 1 Juli 1994- 31 Juli 1999, dan kemudian menjadi presiden dari Partai Rally of the Republicans (RDR) 1 Agustus 1999.*** [vii]

Referensi

Artikel Terkait
                                                                                                       

No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA