Sunday, December 25, 2016

Islam Dan Masjid di Pulau Christmas

Lokasi Pulau Christmas berada sekitar 350 km di sebelah selatan pulau Jawa.

Dimanakah Pulau Christmas

Pulau Christmas atau pulau Natal adalah sebuah pulau kecil beriklim tropis di Samudera Hindia yang merupakan wilayah territorial Australia. Lokasinya terpisah sekitar 2600 kilometer ke arah barat dari lepas pantai Kota Perth di Australia Barat, dan 350 kilometer sebelah selatan pulau Jawa, Indonesia. Meski berjarak sampai 350 kilometer, pulau Jawa merupakan tetangga terdekat pulau Christmas.

Luas keseluruhan pulau Christmas hanya sekitar 135 km2 sedikit lebih kecil dari pulau Weh (156,3 km²) di kota Sabang, provinsi Aceh. Sekitar 63% wilayah pulau Christmas merupakan taman nasional dengan beraneka ragam flora dan fauna-nya yang unik, beberapa bagian dari hutan tropis di pulau ini merupakan wilayah hutan purba dan belum terjamah, menjadikan sebagai rumah yang nyaman bagi berbagai flora dan fauna endemik. Salah fauna-nya yang menarik wisatawan adalah Red Crab atau Kepiting Merah dengan populasi mencapai sekitar 100 juta ekor hidup di lantai hutan pulau ini. Aktivitas petambangan phosphate di pulau ini sudah berjalan selama bertahun tahun dan sejauh ini belum ada laporan kerusakan lingkungan dari aktivitas pertambangan tersebut.

Flaying Fish Cove atau Stellement atau Kampong Melayu di Pulau Christmas, dengan fasilitas pengapalan phosphate terlihat di bagian yang menjorok ke tengah laut.

Pulau Christmas seringkali muncul di media internasional dalam keterkaitan-nya dengan para imigran dan para pencari suaka dari Negara Negara yang sedang ternggelam dalam konflik berkepanjangan menjadikan pulau ini sebagai pulau tujuan dalam upaya mereka untuk mencapai daratan Australia. Penanganan pihak berwenang Australia seringkali menjadi sorotan dunia internasional dan sempat memicu kecamaman dan ketegangan dengan Indonesia.

Dengan penghuni tetap sekitar 1500 jiwa, pulau Christmas juga dikenal memiliki penduduk yang unik yang merupakan pembauran dari berbagai etnis, terdiri dari Etnis China, Melayu dan Eropa yang kebanyakan datang dari daratan Australia ke pulau terpencil tersebut. Keragaman kultur dan agama dipulau ini ditandai dengan berdirinya beragam tempat ibadah seperti Gereja Kristen, Kuil Ummat Budha dan Masjid bagi umat Islam. Mereka tinggal di ujung utara pulau terdiri dari beberapa pemukiman penduduk yakni; Settlement atau Flying Fish Cove atau Kampong, Silver City, Poon Saan, dan Drumsite. Mayoritas penduduk pulau ini adalah etnis China Australia.

Asal Muasal Nama Christmas

Pulau Christmas pertama kali ditemukan oleh pelaut Inggris, Captain William Mynors dalam pelayarannya dengan kapal Royal Mary milik British East India Company melintasi pulau ini pada hari Natal tahun 1643 tepat 373 tahun lalu pada saat artikel ini diterbitkan. Karenanya beliau kemudian menamakan pulau yang baru ditemukannya tersebut dengan nama Pulau Christmas (pulau Natal).

Masjid di Kampong Melayu Pulau Christmas pada tanggal 15 Nopember 1938

Pulau ini sudah dimasukkan ke dalam peta navigasi pelaut Inggris dan Belanda di awal abad ke 17 sebelum tahun 1666, karena di tahun tersebut seorang kartografi Belanda bernama Pieter Goos menerbitkan sebuah peta dan memasukkan pulau tersebut dengan nama pulau Mony, nama Mony sendiri tidak diketahui dengan pasti. Catatan kunjungan pertama ke pulau ini muncul dalam catatan Navigator Inggris William Dampier, yang lego jangkar di dekat pulau ini di tahun 1688 dan menyatakan bahwa pulau tersebut merupakan pulau kosong tak berpenghuni. Damier berlabuh di pantai barat pulau Christmas (kini sekitar di sekitar daerah Dales), dua orang kru-nya diperintahkan untuk turun dan memeriksa pulau itu menjadikan dua orang tersebut sebagai dua orang yang pertama kali menginjakkan kakinya di pulau Christmas.

Sejarah Singkat Pulau Christmas

Pulau Christmas di aneksasi oleh Kerajaan Inggris pada tanggal 6 Juni 1888 setelah Sir John Davis Murray menemukan kandungan phosphate murni di pulau itu. Segera seteah itu sebuah pemukiman kecil terbentuk di Flying Fish Cove oleh G. Clunies Ross, Sang pemilik pulau Cocos (Keeling) yang berada sekitar 900 kilometer barat daya pulau Christmas dalam upaya nya untuk mendapatkan kayu dan pasokan bagi pembangunan industry di pulau Cocos.

Masjid At-Taqwa di Pulau Christmas saat ini berdiri di tepian pantai di tengah Kampung Melayu, warga muslim pulau Christmas.

Pertambangan Phosphate dimulai di pulau Christmas tahun 1890 dengan menggunakan para pekerja paksa orang orang melayu dari pulau Singapura, Malaya dan China, itu sebabnya hingga kini penduduk pulau Christmas di dominasi oleh etnis China dan Melayu. Tidak ada penduduk asli atau pribumi di pulau Christmast.

John Davis Murray yang kemudian dikirim sebagai pengawas pertambangan mewakili perusahaan Phosphate Mining and Shipping Company. Dikemudian hari Murray dikenal sebagai "King of Christmas Island" atau Raja Pulau Christmas sampai tahun 1910, saat dia menikah dan menetap di London.

Masjid Pulau Christmas di perangko Australia

Secara administrasi Pulau Christmas dikontrol bersama oleh British Phosphate Commissioners dan District Officers Kerajaan Inggris untuk wilayah Koloni yang berkedudukan di Singapura. Sampai kemudian dikendalikan sepenuhnya oleh Pemerintah Inggris di Singapura, sebagai bagian dari wilayah administrasi kolonial Inggris Singapura.

Dimasa perang dunia ke-dua pulau Christmas senasib dengan Indonesia, sama sama jatuh ke tangan pasukan Jepang, pada bulan November 1943, lebih dari 60% penduduk pulau Christmas di evakuasi ke camp tahanan di Surabaya (Indonesia) menyisakan penduduk pulau ini kurang dari 500 orang China dan Melayu serta 15 orang Jepang. Pulau Christmas sempat menjadi pusat pengujian senjata nuklir oleh pemerintah Inggris diantara tahun 1956 dan 1958 sebagai bagian dari Operasi Grapple.

Satu tempat dua nama

Pada tahun 1957, pulau Christmas diserahkan kepada Pemerintah Australia oleh Kerajaan Inggris dengan konpensasi sebesar £2.9 Juta Pundsterling diserahkan pemerintah Australia kepada pemerintah Singapura berdasarkan perkiraan cadangan phosphate yang ada di pulau itu. Dan sejak tahun 1997, Pemerintah Federal Australia menyatukan administrasi Pulau Christmas dengan Pulau Cocos (Keeling) ke dalam kesatuan Administrasi dengan nama Australian Indian Ocean Territories (Wilayah Teritorial Australia di Samudera Hindia) dikepalai oleh seorang Administratur yang berkedudukan di Pulau Christmas.

Islam di Pulau Christmas

Berdasarkan data Biro pusat statistic Australia dari sensus tahun 2001 populasi penduduk pulau Christmas adalah 1,508 jiwa dan diperkiraan tahun 2006, populasi pulau Christmas adalah 1,493 jiwa, dengan komposisi etnis terdiri dari 70% China, 20% Eropa, dan 10% Melayu. Bila merujuk kepada data CIA World Factbook, agama agama yang dianut penduduk pulau Christmas terdiri dari Budha 36%, Kristen 18%, Islam 25% dan agama serta kepercayaan lainya 21%. Sedangkan Bahasa yang digunakan oleh penduduk pulau ini terdiri dari Bahasa Inggris sebagai Bahasa resmi, Bahasa China dan Bahasa Melayu.

Masjid Pulau Christmas, bangunan madrasah sedikit terlihat di belakang menara

Dari komposisi tersebut, islam merupakan agama terbesar kedua di pulau Christmas yang dianut oleh orang orang Melayu disana, setelah penganut agama Budha yang mayoritas di anut oleh warga etni China. Mayoritas etnis melayu muslim di pulau Christmas tinggal di Flying Fish Cove atau Kampong Melayu atau biasanya hanya disebut “Kampong” saja dan kadang kadang pula disebut dengan settlement.

Muslim di pulau Christmas ini merupakan keturunan dari para pekerja paksa dari Singapura dan Malaya yang dibawa ke pulau ini oleh pemerintah colonial Inggris sebagai pekerja di pertambangan phosphate. Selama beberapa generasi mereka mempertahankan ke-Islaman mereka hingga ke generasi saat ini.  

Masjid di Pulau Christmas

Masjid At-Taqwa
Cove Kampong, Christmas Island, Western Australia, 6798,
Flying Fish Cove, Christmas Island 6798, CHRISTMAS ISLAND


Kampung Melayu atau Kampong tempat mereka menetap kini sudah tertata sebagai hunian yang nyaman lengkap dengan masjid sejejer dengan rumah rumah susun penduduk disana yang semuanya menghadap ke pantai.  Masjid At-Taqwa namanya, selain sebagai tempat peribadatan, masjid ini juga mengelola Madrasah bagi anak anak yang dimulai pukul 3:30 sampai pukul 5:00 sore setiap harinya. Kampong memiliki sebuah pelabuhan kecil yang menjadi tempat berlabuh kapal-kapal wisatawan. Pemandangannya sangat cantik dengan garis pantai yang elok dipandang mata.

Muslimin di kawasan Christmas Island diizinkan untuk menggelar budaya Islam tradisional, sebagaimana di Indonesia dan Malaysia dalam memperingati hari kematian, pengajian, khitanan, syukuran, maulidan dan perayaan lainnya yang didukung warga dalam kerukunan yang damai dalam hidup, bersanding dan bersama.  Di tengah beragamnya etnis di pulau migran, masyarakat Muslim di sana tetap hidup damai. Bahkan, pemerintah setempat menerapkan libur untuk hari besar tiap etnis dan umat beragama, termasuk dua hari raya besar umat Islam (Idul fitri dan Idul adha).***

Baca Juga


2 comments:

  1. Tentram bgt kayaknya jauh dari keramaian

    ReplyDelete
  2. Hi there, Ι discovered your website by way of Google whilst
    searching fοr ɑ similar subject, your site
    came up, it appears ɡood. I haᴠe bookmarked it in my google bookmarks.

    Ηi tһere, simply Ьecome alert to your blog thru
    Google, and located thɑt it'ѕ trᥙly informative.
    Ӏ'm gonna Ƅe careful f᧐r brussels. Ι'll appreciate if you proceed thіs
    in future. Mɑny other folks will probablу be benefited out of y᧐ur writing.

    Cheers!

    ReplyDelete

Dilarang berkomentar berbau SARA