Sunday, October 9, 2016

Masjid Jummah Port Louis Mauritius

Sentuhan India sangat kentara di ekterior masjid Jummah di kota Port Louis, Mauritius ini. karena memang muslim disana sebagian besar berasal dari India, bahkan para pekerja yang membangun masjid ini, di datangkan langsung dari India.

Mauritius adalah sebuah negara pulau yang terletak di Samudera Hindia sebelah barat daya, berjarak sekitar 900km kea rah timur dari pulau Madagaskar atau sekitar 2000km dari lepas pantai benua Afrika bagian Tenggara. Mauritius terdiri dari Pulau Mauritius sebagai pulau terbesar dan beberapa pulau kecil lainnya yang berdekatan yakni pulau Cargados Carajos, Rodrigues dan Kepulauan Agalega. Pulau Mauritius memilki luas 1.836km2 atau sedikit lebih kecil dibandingkan dengan pulau Morotai di provinsi Maluku Utara yang memiliki luas 2.266km2. Mauritius merupakan negara berbentuk Republik Parlementer dipimpin oleh seorang presiden sebagai kepala negara dan seorang Perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Ibukotanya berada di Port Louis di pulau Mauritius.

Masjid Jummah merupakan masjid utama di kota Port Louis, Ibukota Mauritius. Disebut sebagai masjid Jummah atau Masjid Jum’at karena memang masjid ini merupakan masjid yang digunakan untuk pelaksanaan sholat Jum’at berjemaah. Hampir sama dengan halnya Masjid Jami’ di Indonesia. Tidak semua masjid menyelenggarakan sholat Jum’at selain penyelenggaraan sholat lima wajib lima waktu. Sebelumnya masjid ini dikenal dengan nama Mosquée des Arabes atau Masjidnya orang Arab sebelum kemudian di ubah menjadi Masjid Jummah. Masjid ini pertama kali dibuka pada tanggal 20 Oktober 1852 saat ini dikelola oleh Cutchi Maiman Society.

Seperti kebanyakan masjid masjid yang berada di pusat kota, di depan masjid Jummah Port louis inipun ramai dengan para pedagang yang menjajakan dagangannya.

Masjid Jummah di Port Louis ini telah menjadi salah satu penanda kota tersebut, aspek sejarahnya yang begitu dominan serta arsitektural dan lokasinya yang strategis menjadikan masjid ini salah satu objek kunjungan bagi wisatawan yang berkunjung kesana baik muslim maupun non muslim, untuk sekedar menikmati detil ekterior dan interior masjid ini hingga menikmati bentangan kota Port Louis dari atap masjid. Kunjungan bagi wisatawan umum dibuka setiap waktu kecuali diwaktu sholat dan semua wisatawan diminta untuk berpakaian sopan.

Masjid Jummah bukanlah satu satunya masjid di Port Louis, masjid kedua yang dibangun setelah masjid ini adalah masjid dengan ukuran lebih kecil di daerah yang kemudian dikenal dengan Malabar Town, dengan daya tampung tidak lebih dari seratus jemaah dan berjarak hanya beberapa kilometer dari pusat kota. Kementrian Pariwisata Mauritius bahkan menyebut Masjid Jummah sebagai bangunan tempat ibadah terindah di seluruh negara Mauritius.

The Jummah Mosque Port Louis
Royal Road, A1,Queen St,Port Louis,Mauritius
jummahmasjid.org
Telepon : +230 242 1129
Koordinat : 20°9′35.5″S 57°30′17.5″E


Dari aspek sejarah, Masjid Jummah Port Louis ini merupakan salah satu bangunan tempat ibadah paling penting dan tertua di Mauritius. Lokasinya berada di ruas jalan Royal Street berdekatan dengan kawasan China Town di jantung kota Port Louis. Sejak dibangun masjid ini telah memainkan peranan vital bagi komunitas muslim Mauritius hingga hari ini.

Keberadaan masjid ini sudah bermula dari tahun 1850, merupakan bagian dari rumah kediaman dari Jama Shah, seorang ulama dari daerah Kutch, India, yang kemudian dibangun menjadi masjid. Makam beliau berbalut batu pualam berada di samping masjid ini. Bangunan masjid ini dibangun dengan perpaduan gaya arsitektur India, Creole dan Seni bina Islam.

Masjid Jummah Port Louis disekitar tahun 1890

Di tahun 1852 sekelompok anggota komunita pedagang di Port Louis terdiri dari Joonus Allarakia, Casseem Hemeem, Joosub Satardeenah, Elias Hamode, Abdoollah Essack, Ab doorahim Allanah, Ismael Ibrahim dan Omar Yacoob, membeli dua properti di Queen Street, Port Louis, dengan total harga senilai Rs 6,800. Proses pembelian tersebut dilaksanakan pada tangga 20 Oktober 1852, dari pembelian tersebut kemudian dibuat ketetapan diantara para muslim bahwa para pengusaha musim telah melakukan pembelian dengan ketetapan sebagai berikut,

... baik sebagian ataupun keseluruhannya, dengan nama mereka sendiri ataupun mewakili keseluruhan jemaah muslim Mauritius yang memberikan mereka kuasa. Pembelian tersebut dinyatakan bahwa sejumlah uang yang digunakan untuk melakukan pembayaran properti tersebut bukan merupakan uang milik mereka secara pribadi namun dari jemaah muslim Mauritius secara keseluruhan. . . .

Dari Halaman tengah Masjid Jummah. 

Periode Masjid Orang Arab

Salah satu gedung dari dua properti yang dibeli sementara waktu digunakan sebagai tempat ibadah selama proses pembangunan masjid berlangsung. Ismael Jeewa yang memimpin para jemaah sebagai imam. Di tahun 1853 sebuah masjid berukuran kecil telah selesai dibangun dan sudah layak untuk digunakan untuk pelaksanaan sholat. Bacosse Sobedar, imam dari masjid Camp des Lascars, yang kemudian menghias mihrab masjid baru tersebut sehingga kemudian selama beberapa tahun masjid tersebut pun dikenal dengan nama Mosquée des Arabes atau masjidnya orang Arab. Bangunan masjid pertama tersebut yang kemudian masyarakat umum secara salah kaprah menyebutnya sebagai masjid orang Arab, mampu menampung 200 orang Jemaah, merupakan bangunan asli dari Masjid Jummah di Port Louis ini.

Periode Masjid Jummah

Seiring dengan semakin meningkatnya populasi muslim di kota Port-Louis, dibutuhkan bangunan masjid yang lebih luas untuk dapat menampung jemaah yang sudah membludak. Sehingga di antara tahun 1857 dan 1877, para pengusaha muslim disana melakukan pembelian terhadap tujuh petak lahan disekitar masjid dengan luas keseluruhan mencapai tiga perempat hektar senilai Rs 134,260 dan kemudian dihibahkan untuk pembangunan masjid.

Interior Masjid Jummah Port Louis, langgam bangunan dinasti Mughal sangat terasa.

Sebagian dari dana pembelian tersebut berasal dari dua sen Rupee yang disisihkan oleh para pengusaha muslim yang melakukan perdagangan gandum dari setiap karung-nya, dana tersebut dikumpulkan dari para pedagang muslim disana selama beberapa tahun. Dan dalam salah satu dokumen pembelian disebutkan dengan tegas bahwa pembelian lahan untuk perluasan masjid Jummah dilakukan oleh keseluruhan komunitas muslim Mauritius. Dan pada ahirnya keseluruhan lahan disekitar masjid menjadi milik masjid Jummah, yang berbatasan langsung dengan empat ruas jalan yang disekitarnya yakni Royal Road, New Little Mountain (kini menjadi Joseph Rivière), Queen and Little Mountain (kini menjadi Jalan Masjid Jummah). 

Proyek perluasan dimulai tahun 1878 dengan pengawasan dari Jackaria Jan Mahomed. Artisans, dipimpin oleh Ishaq Mistry, sedangkan material bangunan dikirim dari India. Namun penyakit yang diderita oleh para pekerja dan kurangnya pasokan bahan bangunan membuat penyelesaian pembangunan masjid tertunda hingga tahun 1895. Proyek perluasan masjid tersebut menempati hampir keseluruhan lahan yang dibeli namun tetap menyisakan sedikit ruang untuk disewakan kepada para pelaku bisnis.

bagian dari properti masjid Jummah.

Sebagian besar penanganan ahir bangunan masjid ini yang berhubungan dengan ke-ahlian khusus untuk pekerjaan finishing interior dan ekterior ditangani oleh para pekerja berpengalaman yang juga didatangkan langsung dari India, maka tidak mengherankan bila pengaruh seni bina bangunan sangat kental di masjid ini. para pekerja dari India tersebut tinggal di lokasi proyek pembangunan selama proses pembangunan berlangsung. Sedangkan untuk biaya transportasi mereka dari India tidak terlalu menjadi masalah karena beberapa anggota panitia pembangunan masjid ini juga merupakan para pemilik kapal yang senantiasa berlayar pulang pergi India-Mauritius dan sebaliknya.

Arsitektur bangunan perluasan masjid ini merupakan paduan pengaruh dari Seni bangunan bangsa Moor (Maroko) dan tentu saja pengarus seni bina bangunan Mughal (india). Bangunan masjid baru dari proyek perluasan tersebut disatukan dengan bangunan masjid lama, keseluruhan ruang masjid lama kini menjadi ruang sholat utama di terangi dengan lampu gantung dari kaca. Sebatang pohon Almond India atau Pohon Badamia yang memang sudah ada sebelum proyek perluasan masjid dilaksanakan dibiarkan berdiri di tengah tengah pelataran masjid ini, yang merupakan bagian dari lahan yang dibeli pertama kali untuk masjid lama di-tahun 1852.

pilar pilar berukuran besar dengan lengkungan beton berukir di bagian selasar menghadap ke halaman tengah dilengkapi dengan bangku bangku panjang bagi jemaah masjid yang sedang berada disana, ataupun bagi para pengunjung lainnya. 

Pengurus Masjid Jummah Mauritius

Imam masjid ini di jabat oleh Muhammad Fakii Ali dari Kenya. Beliau juga menjadi kepala sekolah Madrasah di Masjid Jummah yang salah satu kurikulumnya mengajarkan Hafalan Al-Qur’an. Upacara kelulusan madrasah ini diselenggarakan malam hari disetiap tanggal 27 Ramadhan bertepatan dengan masa masa Laylat al-Qadr. Khatib Masjid dijabat oleh Muhammad Ishaq Qadiri Razvi dari Pakistan.

Dewan pengurus masjid ini dipilih setiap tiga tahun oleh para anggota the Cutchi Maiman Society of Mauritius. Setelah masa bakti tiga tahun diadakan pemilihan ulang atau diperpanjang masa baktinya. Ketua Dewan Pengurus (Mutawalli) saat ini dijabat oleh Nissar Ahmad Ramtoola.***

---------------

Baca Juga



No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA