Saturday, September 17, 2016

Islam di Kamerun


Kamerun adalah negara yang berada di pantai barat bagian tengah benua Afika berbatasan dengan Nigeria, Chad, Republik Afrika Tengah, Republik Congo, Gabon dan Equatorial Guinea. Nama Kamerun muncul dari orang orang Portugis yang mendarat di pantai kamerun tahun 1472 dan melihat banyak usang di perairannya, sehingga menamakannya Rio des Cameroes (Sungai Udang).

Dengan wilayah seluas 475.440 km2, Ibukora negaranya berada di kota YAOUNDE (semula beribukota di Buea) dan terbagi dalam 10 propinsi. Penduduk Kamerun cukup padat, dihuni sekitar 16.063.678 orang, terdiri dari suku asli Afrika (black African) sebanyak 99%, yaitu Cameroon Highlander, Bantu, Fulani, Kirdi dan suku asli Afrika lainnya. Selebihnya adalah pendatang dari Eropa dan Arab. Mata uang yang digunakan adalah Comnmunaute Financiere Africaine Francs (XAF), dan US $ 1,- berharga sekitar 581.2 XAF.

Kamerun juga dikenal mempunyai tradisi sepakbola yang handal, sejak diperkenalkan oleh Jerman pada tahun 1926. Pernah menjuarai Piala Afrika sebanyak 5 kali (1965-1980), dan terakhir, Kamerun dikenal dunia karena menjadi peserta pada Worldcup sejak tahun 1982. Kamerun juga banyak menelorkan pemain kelas dunia antara lain Roger Milla, Patrick Mboma, dan Samuel Eto’o.

Bek Persib Jadi Mualaf. Abanda Herman (berpeci putih), Salah satu pesebakbola asal Kamerun yang maang melintang di persepakbolaan di Indonesia.  di tahun 2013 mengucapkan dua kalimah sahadat di Masjid Kiara Condong Bandung. kala itu dia memang sedang memperkuat tim kesebelasan Maung Bandung, Persib.

Kamerun seringkali disebut sebagai Miniatur nya Afrika karena keberagaman nya mulai dari keberagaman iklim, budaya, agama kelompok etnit nya, bahkan bahasa nasionalnya pun menggunakan dua bahasa yakni Bahasa Inggris mayoritas digunakan di wilayah utara yang merupakan bekas jajahan Inggris, sekaligus Bahasa Prancis yang mayoritas digunakan dibagian selatan yang merupakan bekas jajahan Prancis ditambah lagi dengan 24 bahasa lokal. Iklimnya mulai dari iklim tropis di kawasan pantai hingga ke daratan sedangkan di daerahnya beriklim panas. Agama Islam dianut sekitrar 20%, Kristen (Katholik dan Protestan) 40% dan animis 40%

Islam dan Kemerdekaan Kamerun

Portugis adalah kolonial Barat pertama yang masuk ke Kamerun, yaitu sekitar abad ke-15 (tahun 1472), diikuti Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis. Orang-orang Barat ini datang ke Kamerun untuk memperebutkan perdagangan budak. Perdagangan budak ini berakhir pada abad ke-19 (1845), dan Kamerun dijadikan protektorat Inggris.

Namun pada tahun 1884, Jerman yang diwakili oleh Gustav Nachtigal mengadakan perjanjian dengan Raja Doula, dan pada tahun 1885, Baron von Soden ditunjuk sebagai Gubernur Kamerun. Ketika terjadi perang dunia pertama (1916-1918), Inggris dan Perancis berhasil mengusir Jerman dari Kamerun, kedua negara terakhir berbagi kekuasaan di Kamerun.

Abanda Herman bukanlah satu satunya pesebakbola Kamerun yang menemukan hidayahnya di luar negeri. di tahun 2014, 23 Pesebakbola Kamerun masuk islam berbarengan saat mengikuti kamp latihan di Dubai Uni Emirat Arab.

Perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan dari para penjajah dimulai setelah perang dunia kedua, yaitu ketika pada tahun 1955 muncul revolusi di daerah kekuasaan Perancis yang dipelopori oleh Union des Populations Camerounaises (UPC), yang disponsori oleh suku Bamileke dan Bassa.

Bapak kemerdekaan Kamerun, seorang pejuang muslim sejati dari suku Fulani, El-Haji Ahmadou Babatoura Ahijo (lahir pada Agustus 1924), berhasil membawa bangsa Kamerun memperoleh kemerdekaan, ketika pada tahun 1958 melalui partainya l’Union Camerounaise menguasai parlemen. Akhirnya pada tanggal 1 Januari 1960, Ahijo memproklamasikan kemerdekaan Kamerun, dan beliau ditunjuk sebagai Presiden pertama. Pada awalnya pmerintahan Ahijo kurang berjalan mulus, karena penduduk bagian selatan yang didominasi Kristen dan berbahas Perancis belum bisa menerima kemerdekaan.

Untuk itu, pemerintah Kamerun di bawah Ahijo mengadakan referendum pada bulan Oktober 1961. Hasil referendum adalah, penduduk bagian utara yan didominasi Islam dan berkiblat ke Inggris lebih menginginkan bergabung dengan Nigeria, sedangkan pendudukan bagian selatan lebih menginginkan pembentukan Republik Federasi Kamerun. Kemelut ini berakhir pada tanggal 20 Mei 1972, ketika disepakati adanya konstitusi baru yang pada intinya membentuk Republik Kesatuan Kamerun.

Pada pemerintahan Ahijo ini ada dua hal yang perlu dicatat, yaitu pertama mempersatukan dua daerah yang bersengketa, daerah utara berbasis koloni Inggris dan daerah selatan berbasis koloni Perancis, kedua berhasil memajukan pertanian dan industri, sehingga Kamerun menjadi negara Afrika termakmur (ekonomi stabil) dan menjadi salah satu negara Afrika yang mempunyai income per-kapita tertinggi.

Masjid Agung Ngaoundéré, di bagian utara Cameroon

Pada tanggal 6 Nopember 1982, Ahijo mengundurkan diri sebagai presiden karena alasan kesehatan, dan digantikan oleh PAUL BIYA. Ahijo wafat di Dakar, Senegal pada tanggal 30 Nopember 1989. Pada tahun 1988, Paul Biya terpilih kembali sebagai presiden dengan perolehan suara 98,75%. Seiring demokrasi yang semakin tumbuh di Kamerun, maka pada tahun 2004, diadakan pemilu multipartai, dan Paul Biya, sekali lagi tetap terpilih sebagai presiden, dengan peroleh suara 70,90%. Saat ini Kamerun sedang menghadapi persoalan-persoalan perbatasan dengan Nigeria, Chad dan Equatorial Guinea.

Islam di Kamerun

Jauh sebelum bangsa Eropa manapun mengenal Kamerun, Islam sebenarnya telah hadir di Kamerun sejak abad ke 10, dibawa oleh para pedagang Arab yang datang berniaga ke kawasan tersebut sekaligus menyebarkan Islam di wilayah utara. Mereka berdagang emas, garam, tembaga dan budak. Namun Islam baru dikenal secara luas di abad ke 19 atau sekitar tahun 1800-an oleh Etnis Fulani. Etnis Fulani membawa Islam ke Afrika Barat di abad ke-19 atau sekitar tahun 1800-an terutama melalui aktivitas komersial dan Thariqoh Sufi Islam Qadiriyah dan Tijaniyah. Mereka terus tumbuh dan akhirnya menguasai Kamerun bagian utara dan tengah hingga kini. Sedangkan misi Kristen baru mulai bekembang pada abad ke-19, namun hampir menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat Kamerun.

Muslim Kamerun

Penduduk Muslim di Kamerun terdiri dari sekitar 24 persen dari sekitar 21 juta penduduk Kamerun. 27% Muslim Kamerun adalah muslim Suni, 12% Ahmadiyah and 3% Syi’ah, sedangkan sisanya tidak mengikuti kelompok manapun. Menariknya lagi 48% muslim Kamerun mengaku sebagai pengikut salah satu Thariqat Sufi Islam, hal tersebut memang dapat dimengerti mengingat bahwa Islam berkembang disana salah satunya karena memang diperkenalkan secara luas oleh kelompok Thariqat Sufi.

Ketika Kerajaan Kanem Bornu di dekat Danau Chad dipimpin oleh dinasti Saifawa (Sefuwa), yaitu Raja Dunama Dibbalemi masuk Islam pada tahun 1221 (memerintah sampai dengan tahun 1251), maka kejayaan Islam di Afrika Tengah mulai menyebar, mulai dari Chad, Nigeria, Niger maupun Kamerun. Pengaruh Kanem Bornu di Kamerun ini berlanjut hingga abad ke-15. Islam menjadi kekuatan penuh di Kamerun bagian utara, ketika suku Fulani (Fulbe) menguasai daerah itu pada abad ke-18, dan mendirikan kerajaan Adamawa (Adamawa Emirate), yang meliputi Kamerun dan Nigeria. Sultan Adamawa saat ini adalah Issa Maigari, sekaligus sebagai Gubernur propinsi Adamawa.

Suku Fulani memang termasuk salah satu suku unggulan di Afrika, dan paling gigih menyebarkan agama Islam di kawasan itu. Mereka sampai saat ini menguasai pemerintahan modern di Senegal, Guinea (Futa Jallon), Mauritania, Guinea Bissau, Mali, Burkina Faso, Benin, Niger, Chad, Kamerun dan Sudan. Sebelumnya, pada abad ke-17, suku Fulani telah mengekspansi Kerajaan Bamoun yang didirikan oleh Nshare Yen, dan kerajaan Bamoun baru menerima Islam secara utuh pada tahun 1833 ketika Sultan Njoya Ibrahima berkuasa.

Pemandangan di salah satu desa Muslim di Ngoundere, Utara Kamerun.

Sepakterjang suku Fulani, yang notabene adalah Islam, sangat diakui keberadaannya di Kamerun, termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan. Salah satu putra terbaik suku Fulani adalah El-Hajj Ahmadou Babatoura Ahijo, kelahiran Garou, Agustus 1924, proklamator dan bapak kemerdekaan Republik Kamerun. Beliau adalah pejuang muslim dari suku Fulani dan terpilih sebagai presiden pertama Republik Kamerun dari tahun 1960-1982. Sayangnya, estafet kepemimpinannya tak dapat diteruskan oleh kader-kader politikus muslim lainnya, dan justru jatuh ke pihak Kristen, yaitu Paul Biya.

Pada pemilu 2004, salah seorang politikus, scientist dan pejuang muslim Kamerun, yaitu Prof. Dr. Adamou Ndam Njoya, gagal terpilih sebagai presiden Kamerun, dan hanya memperoleh suara 4,5%. Padahal beliau adalah tokoh muslim Kamerun saat ini, dan mempunyai jabatan luar biasa banyaknya, antara lain, sebagai gurubesar University of Cameroon, co-president of World Conference of Religious for Peace (WCRP), founder and president of the Islamic and Religious Studies Institute, Gubernur Foumban dan masih banyak lagi jabatan-jabatan lain yang dipangkunya.

Perjuangan Islam di Kamerun saat ini memang tergolong berat, karena sepeninggal mendiang Ahmadou Ahijo, kekuatan Kristen di sana semakin kokoh. Hal ini disebabkan infrasktuktur kekuasaan Kristen sangat luar biasa, dan dukungan negara bekas kolonial. Isu regional terkait Boko Haram sempat dijadikan alasan pemerintah Kamerun menutup Masjid dan Islamic Center di wilayah bagian Barat negara itu dengan dalih untuk menghindari kenaikan serangan bom bunuh diri dari Boko Haram. Sebuah keputusan yang menuai protes keras dari para ulama dan muslim Kamerun.


Namun, apapun yang terjadi, Islam di Kamerun telah menorehkan tinta emas dalam memperjuangkan kemerdekaan, dan ummat Islam di sana, tentu tak akan tinggal diam, dan akan terus mengembalikan kejayaan masa lalunya.****

No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA