Wednesday, August 17, 2016

Masjid Lawang Kidul (MLK) Palembang (Bagian 3)

Pelataran depan Masjid Lawang Kidul dengan prasasti wakaf di bagian depan mihrab nya

Wakaf Kyai Marogan

Seperti telah disebutkan sebelumnya, l
ahan seluas 2104 meter persegi tempat masjid Lawang Kidul ini bediri beserta bangunan masjid dan seisinya merupakan wakaf dari Kiai Merogan yang aslinya di Ikrarkan di depan Paduka Pangiran Penghulu Fatih Agama Muhammad ‘Aqil disaksikan empat penghulu lainnya, pada hari Ahad tanggal 6 Syawal 1310H. Kemudian dijelaskan lagi didalam akta pengganti ikrar wakaf nomor W.3/001/BA.03.2/05/1990 tanggal 4 Jumadil Awal 1411H / 22 Nopember 1990M.

Pengesahan Nadzir Nomor W.5/001/BA032/05/1990 Tanggal 4 Jumadil Awal 1411H / 22 Nopember 1990M. Sertifikat Nomor 953/1993 tanggal 10 Maret 1993. Tanggal 6 Syawal 1310H atau bertepatan dengan tahun 1890M yang merupakan tanggal dari pernyataan wakaf dari Kyai Merogan yang kini dijadikan rujukan sebagai tahun pembangunan masjid ini.

Prasasti Salinan Akta wakaf Kiai Marogan

Salinan Akta Wakaf

Berikut ini adalah salinan akta wakaf yang sudah kami alih aksara. Ada beberapa bagian kata dan kalimat bewarna merah adalah bagian yang kami belum fahami atau bahkan bisa jadi kami salah dalam membacanya, termasuk beberapa perlengkapan atau perabot di dalam masjid yang disebutkan dalam akta yang bertanggal 6 Syawal 1310H/1890 M.

Cap Penghulu
Tandatangan
Penghulu Muhammad ‘Aqil

Surat Tanda Munjaz Wakaf Lillahita’ala Nomor Empat Belas

Kepada hari Ahad tanggal enam Syawal Seribu Tiga Ratus Sepuluh, betul berhadap di muka Roada Agama Paduka Pangiran Penghulu Fatih agama Muhammad ‘Aqil serta empat khotib Penghulu yang berteken di bawah ini yaitu Kiagus Haji Ma’ruf Haji Akhmad Haji Abdul Rokhman Kiagus Haji Abdul Karim – Alih seseorang laki laki nama Masagus Haji Abbdul Hamid Bin Masagus Mahmud Alias Kanang, umur delapan puluh tahun lebih kurang.

Orang ‘alim mengajar di Palimbang, Jiwa di Kampung empat ulu – karena dia orang akan membuwat surat keterangan nazar Munjiz wakaf lillahita’ala – maka Roada agama periksa (menerima) kepadanya yang diya orang di dalam Sihat badan nya dan simpurnah Aqalnya lagi ja’zal tashrif min ghoir ‘akroha wal ajbar – kemudian maka terikrarlah uleh Masagus Haji Abdul Hamid Al-Mazkur

dari aku ada punya milik yaitu duwa masjid di negeri Palimbang, Satu masjid di Kampung karang Baru marogan, dan lagi satu masjid di kampung lima ilir Lawang Kidul sarat pekakas pekakas yang ada di dalam itu masjid yang tersebut seperti Setulub setulub dan lampu lampu dan kandil kandil dan satrun satrun dan Gerubuk gerubuk semuanya pada yang ada di dalam itu duwa masjid yang tersebut pada masa sekarang”.

“Juga aku nazarkan dengan nazar manjiz aku ‘abdikan waqaf lillahita’ala selama lamanya. Di tempat orang orang berbuat ibadah dan sembahyang. Tidak harus lagi ahli waris yang kubuwat juwal atau gadaikan atau bahagi waris aku tidak rhido duniya akhirat. Sehadangan catang sarot Aku Masagus Haji Abdul Hamid Al-Muzakir berteken dibawah ini dihadapan roada agama yang tersebut demikianlah adanya.

Khotib Penghulu, tanga tangan, Ki Agus Haji Ma’ruf
Khotib Penghulu, tanda tangan, Haji Akhmad
(Haji Masagus Abdul Hamid)
Khotib Penghulu, tanda tangan, Haji Andul Rohman
Khotib Penghulu, tanda tangan, Ki Agus Abdul Karim

Kiri depan adalah adalah prasasti salinan akta wakaf dari Kiai Marogan

Sejarah Pembangunan Masjid Lawang Kidul (MLK)

Rumah ibadah ini dibangun dan diwakafkan ulama Palembang Kharismatik, Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang pada tahun 1310 H (1890 M), angka tahun pembangunan ini merujuk kepada tanggal di akta wakaf dari Kyai Merogan di depan Penghulu Muhammad ‘Aqil pada hari Ahad tanggal 6 Syawal 1310 Hijriah, yang bertepatan dengan tahun 1890 Miladiah (masehi).

Beliau lebih dikenal sebagai Kiai Merogan, merujuk kepada tempat tinggal dan pusat aktifitas da’wah beliau yang berada di muara sungai Ogan di Kawasan Seberang Ulu, tak jauh dari stasiun Kereta Api Kertapati. Sungai Ogan merupakan salah satu dari sekian banyak anak Sungai Musi.

Plakat Renovasi bangunan tambahan Masjid Lawang Kidul

Sejak dibangun tahun 1890 masjid Lawang Kidul telah dilakukan pemugaran tahun 1983-1987. Meskipun sebagian besar materialnya asli, ada beberapa bagian yang terpaksa diganti, terutama bagian atapnya yang semula genteng belah bamboo, kemudian diganti dengan genteng kodok. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Material bangunan asli bangunan masjid ini terdiri atas campuran kapur, telur, dan pasir. Sedangkan bahan kayunya –tiang, pintu, atap, dan bagian penunjang lainnya- terbuat dar kayu Ulin atau dalam bahasa Palembang disebut Kayu Onglen.

Sebagaimana disebutkan di plakat yang dipasang di beberapa bagian masjid ini, Renovasi bangunan tambahan Masjid Lawang Kidul dilasanakan mulai tanggal 7 Januari 2008 dan selesai pada tanggal 20 Juni 2012 dengan dana sebesar lebih kurang Rp. 1 (satu) Milyar Rupiah dari sodaqoh jariyah muslim dan muslimat.

Ornamen atap mihrab dan dan puncak atap masjid Lawang Kidul dengan bentuk yang unik

Siapakah Kiai Merogan

Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang atau Kiai Merogan dilahirkan tahun 1811 dan wafat pada tanggal 31 Oktober 1901. Ayahnya adalah seorang ulama dan pedagang sukses. Beliau cukup lama menetap di Mekkah, kemudian pulang ke kampung halaman – bersama murid-muridnya, Kiai Merogan berda’wah menggunakan perahu hingga ke daerah pelosok di Sumatera Selatan.

Selama tinggal di Mekah beliau sempat membangun Tiga pemondokan jemaah haji bagi para jemaah dari Nusantara dan sekitarnya. Di tanah air beliau, selain Masjid Lawang Kidul dan Masjid Kiai Merogan di Palembang, Kiai Merogan masih memiliki peninggalan berupa masjid di Dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir (Ogan Ilir). Sayang, kebakaran hebat pernah menghaguskan Kampung Karangberahi pada antara tahun 1964-1965. Kebakaran ini juga, diduga menghanguskan peninggalan berupa karya tulis Kiai Merogan. Makam beliau berada di areal Masjid Kiai Merogan, di kawasan Seberang Ulu, Kota Palembang dan hingga kini makam beliau terawat baik dan senantiasa ramai peziarah. 

Kiai Marogan diketahui juga mempunyai seorang Adik Laki Laki bernama KH. Masagus Abdul Aziz lebih dikenal dengan sebutan Kiai Mudo karena usianya yang lebih muda dari Kiai Marogan. Bila Masagus Abdul Hamid lebih dikenal sebagai Kiai Marogan karena pusat aktivitasnya yang berada di Muara Sungai Ogan, adik beliau, KH Masagus Abdul Aziz lebih dikenal luas di daerah Belida yang membentang di sepanjang aliran Sungai Belida seperti Gelumbang, Gumai, Kartamulia, Betung, Sukarame, Lembak dan sekitarnya. Baik Sungai Belida maupun Sungai Ogan merupakan anak sungai Musi yang sama sama bermuara ke sungai Musi. (selesai)

---------------------------

Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA