Saturday, July 9, 2016

Masjid Agung Almaty, Kazakhstan

Kota Apel. Almaty secara harfiah berarti "kota pohon apel" atau "Kota Apel". Masjid terbesar di Kazakhstan dan merupakan masjid utama pada saat Kazakhstan masih ber-ibukota di Almaty. Kota yang indah dengan pemandangan berlatar belakang pegunungan Kaukasus.

Masjid Agung Kota Apel

Almaty adalah ibukota tua Kazakhstan sebelum kemudian dipindahkan ke Astana di tahun 1998. Almaty menjadi ibukota sejak masa Soviet, di mulai pada tahun 1927 setelah sebelumnya pusat pemerintahan berada di kota Kyzyl-orda. Almaty dalam bahasa Kazakh secara harfiah berarti “kota pohon apel”. Satu kota dengan berbagai nama sesuai dengan zamannya, di masa Kekaisaran Rusia (1867 - 1921) kota ini disebut kota Vierny dan di masa Uni Soviet (1921 - 1993) di sebut kota Alma Ata (Bapak nya Apel), dan di masa kemerdekaan menjadi Kota Almaty. Merupakan kota terbesar di Kazakhstan meskipun tak lagi menyandang gelar sebagai ibukota negara. 9% atau sekitar 1,3 juta penduduk Kazakhstan tinggal di kota ini.

Disebut kota pohon apel atau kadang kadang bahkan disebut dengan Apple City, merujuk pada kondisi dimana kota ini disebut sebut sebagai tempat bermulanya pohon apel. Pohon apel merupakan tumbuhan liar di kota ini, tumbuh dimanapun di penjuru kota. Para peneliti menduga pohon apel yang kini tersebar di berbagai penjuru dunia berawal dari kota ini. itu sebabnya hingga kini begitu banyak peneliti yang berdatangan ke kota ini dengan ketertarikan pada pohon apel yang tumbuh liar disana.

Алматы қаласының Орталық Мешiті / The Almaty Central Mosque
ул. Пушкина, 16 (уг.ул. Маметовой), Алматы / Pushkin St,Almaty,Kazakstan
43° 16' 4.09" N  76° 57' 8.73" E



Almaty menjadi Ibukota Kazakstan semasa menjadi bagian dari Uni Soviet antara tahun 1929 hingga tahun 1991. Ketika merdeka pun Kazakhstan masih mempertahankan Almaty sebagai ibukota sampai kemudian dipindahkan ke Astana di tahun 1998. Hingga kini Almaty masih merupakan kota komersial terbesar di Kazakhstan. Kota tua yang berada di ketinggian pegunungan di sebelah selatan Kazakhstan, tak jauh dari perbatasan negara dengan Republik Kyrgystan. Hingga kadangkala Amaty juga disebut sebagai ibukota Kazakhstan di selatan.

Almaty berada di jalur sutra yang populer di abad ke 10 hingga abad ke 14 masehi. Pada masa itu Almaty merupakan salah satu pusat perniagaan, kerajinan dan pertanian serta membuat uang koin resmi di masanya. Kota Almaty muncul pertama kali dalam sejarah tertulis sebagai Almatu di dalam buku dari abad ke 13 masehi.

Tampak Depan. Gerbang besar segi empat tempat pintu masuk utama berada itu biasa disebut Iwan. Masjid Agung Al-maty dibangun dengan empat menara di masing masing sudut bangunan ditambah dengan satu menara utama yang paling tinggi. Di bagian atapnya ada satu kubah Utama ditambah dengan empat kubah yang lebih kecil yang disusun berjejer dari arah iwan hingga ke kubah utama. 

Industrialisasi Kota Almaty mulai terjadi di tahun 1941 ketika pemerintah Uni Soviet melakukan pemindahan masal pabrik pabarik dan pekerja mereka dari wilayah soviet di Eropa ke Kazakhsatan, khusunya ke kota Almaty, menandai perubahan besar besaran wajah kota ini menjadi salah satu kota industri terbesar di seluruh wilayah Uni Soviet. Di masa perang dunia kedua Almaty malah berkembang pesat dengan dipindahkannya berbagai industri dari Moscow ke Almaty termasuk industri militer.

Nama Almaty bagi kota ini secara resmi digunakan pada tahun 1993 menggantikan nama lama Alma Ata yang merupakan nama warisan dari Uni Soviet. Di tahun 1997 ibukota negara Kazakhstan dipindahkan ke Astana berdasarkan dekrit presiden Nursultan Nazarbayev dan pada tanggal 1 Juli 1998 kota Almaty secara resmi menyandang predikat baru dengan status khusus sebagai kota pusat Ilmu pengetahuan, Budaya, Sejarah, Finansial dan Industri.

Masjid Agung Almaty

Central Mosque of Almaty yang kini berdiri megah adalah bangunan masjid yang resmi dibuka pada bulan Juli tahun 1999 dilokasi yang sama dengan masjid sebelumnya yang sudah berdiri sejak tahun 1890. Masjid megah ini merupakan salah satu masjid terbesar di kawasan Asia Tengah dengan daya tampung mencapai 3000 jemaah sekaligus. Pada saat diresmikan Masjid Agung Almaty merupakan masjid terbesar di Kazakhsatan.

INTERIOR Masjid Agung Al-Maty, Megah dan tampak kokoh. Bangunan yang tinggi, dinding tebal, Mihrab penuh dengan ornamen dan Mimbar kayu yang tinggi sangat khas Turki. 

Bangunannya di hias dengan batu pualam lokal diperindah dengan beragam keramik warna warni serta seni mozaik kaca patri yang begitu indah. Motif motif hias di masjid ini menggunakan motif motif tradisional Kazakhstan. Kubah utama masjid ini dibangun setinggi 36 meter dengan diameter 20 meter, bentuk kubah biru toska masjid ini mirip dengan kubah masjid St Petersburg di Rusia. Empat menara mengapir bangunan utama masjid ditambah dengan menara tunggal terpisah yang paling tinggi dengan ketinggian 47 meter.

Bangunan utamanya berdenah segi empat dengan akses masuk melewati iwan menuju ke pekarangan tengah hingga masuk ke masjid yang seluruhnya dibangun di atas pondasi yang ditinggikan dari permukaan tanah disekitarnya.

Pembangunan masjid ini ditangani oleh dua orang arsitek Kazakhstan Baimagambetov dan Sharpiyev, dan selesai tahun 1999. Di tahun 2000, perubahan dilakukan pada bagian kubah masjid dengan mengganti bentuk awalnya yang bewarna emas di ubah dengan bentuk kubah yang khas seperti kubah masjid St. Peterburg, serta ditambahkan Kaligrafi Al-Qur’an oleh Master Kaligrafer dari Turki.

Susasana tarawih dan malam |Ramadhan di masjid Agung Al-Maty

Masjid Agung Almaty merupakan salah satu contoh dari bangunan masjid bergaya Arsitektur Timurid yang ditandai dengan dengan banyaknya pengaruh Arsitektur Persia dengan denah rancangan axial symetry sebagai karakteristik dasar dari struktur bangunan ala Timurid.

Pintu utama masjid ini diletakkan di sebuah iwan yakni sebuah beranda berbentuk gerbang besar berlapis batu pualam dibentuk berupa ceruk tempat dimana pintu utama diletakkan. Sisi depan Iwan dihias dengan dengan kaligrafi Al-Qur’an bewarna purtih diatas warna dasar biru lembut. Disebelah kiri luar pintu masuk dilettakkan lima jam dinding yang masing masing menunjukkan lima waktu sholat wajib.

Dibagian bawah masing masing jam dinding tertulis nama masing masing waktu sholat lima waktu meski semuanya dalam aksara Rusia, namun dibagian paling bawah tertera alamat situ internet masjid ini www.meshet.kz yang jelas menunjukkan statusnya sebagai masjid negara. www. Daun pintu masjid dibuat dari kayu dan dihias dengan ukiran berpola geometris yang sangat rapi bewarna tembaga.

MELAWAN DINGIN. Jemaah sholat di masjid agung Al-Maty yang melakukan sholat di jalan raya harus berjibaku melawan dinginnya salju saat sholat berjamaah.

Masuk ke dalam masjid ini jemaah akan menjumpai ruang besar memanjang menuju ruang sholat utama yang berdenah oktagonal. Hamparan karpet bewarna merah dan hijau mint menutup semua permukaan lantai. Bangunan masjid ini dirancang berlantai dua dengan tipikal bangunan rusia yang megah dan kokoh berbalut batuan pualam alami, berdinding tebal dengan jendea kaca patri motiv warna warni nyaris tanpa bukaan untuk menjaga suhu ruang. Sisi mihrabnya dihias dengan ukiran kayu yang sangat apik demikian juga dengan bebeberapa sudut di dalam ruang masjid ini.

Kota Almaty dan kazakhstan merupakan wilayah empat musim, manakala musim dingin tiba, lapisan salju menyelimuti seluruh kota, muslim disini harus berjibaku melawan dingin untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid. Sederet rekaman photo menunjukkan muslim Kazakhstan yang tak kebagian tempat untuk sholat berjamaah di dalam masjid berjuang menahan dingin melaksanakan sholat di atas hamparan salju di luar masjid. Kita yang tinggal di Indonesia dan kawasan yang tak jauh dari garis khatulistiwa memanglah sangat beruntung dengan iklim yang ramah sepanjang tahun. Pantaslah bila para penyair menyebut negeri kita sebagai tanah sorga, negeri impian bagi orang orang Eropa yang sabanhari berkhayal akan indahnya tinggal di sebuah negeri dengan ribuan pulau tropis yang menawan.***

-------------------------

Baca Juga


No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA