Friday, July 8, 2016

Islam di Kazakhstan

Muslim Kazakhstan dalam kesibukan menyiapkan domba di hari raya Idul Adha di pekarangan masjid Agung Al-Maty.

Tentang Kazakhstan

Republik Kazakhstan adalah sebuah negara pecahan Uni Soviet yang memproklamirkan kemerdekaannya pada 16 Desember 1991. Secara geografis Kazakhstan berada di kawasan Asia Tengah, wilayahnya terkunci di daratan tanpa akses sama sekali ke lautan. Luas Kazakhstan mencapai 2,724,900 Km2, bahkan lebih luas dari luas gabungan seluruh negara Eropa Barat. Dengan luasnya itu menjadikan negara ini sebagai Negara daratan tanpa lautan dengan wilayah terluas di dunia, sekaligus menjadi negara bekas wilayah Soviet terluas kedua setelah Rusia, dan negara terluas ke 9 di dunia.

Kazakhstan juga merupakan negara lintas benua, sebagian besar wilayahnya masuk dalam kawasan Asia bagian Tengah dan sebagian kecil lainnya masuk kawasan Eropa bagian Timur, sehingga memiliki keuntungan geografis dan secara geopolitik layak diperhitungkan. Wilayahnya yang terbentang dari barisan Pegunungan Altai di timur, hingga Laut Kaspia  di barat. Kazakhstan sering disebut dengan “Virgin Lands” karena beberapa wilayahnya yang belum tersentuh sama sekali. Sebagian besar wilayahnya berbatasan langsung dengan Rusia, terutama di sebelah utara dan barat. Di sebelah timur, berbatasan dengan Provinsi Xinjiang, Tiongkok, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Uzbekistan, Turkmenistan, dan Kirgistan.


Kazakhstan, Al-Farabi & Boikonur

Kazakhstan merupakan tanah kelahiran Al-Farabi (870-950), Ahli filsafat Islam dimasa kekuasaan dinasti Abasiyah, beliau berasal dari Farab dan bernama asli Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi' dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir. ia mengenal para filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan Plotinus dengan baik. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa. Selain itu, ia juga dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat musik.

Al-Farabi dikenal dengan sebutan "guru kedua" setelah Aristoteles, karena kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat. Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Pemerintah Kazakhstan memberikan penghormatan kepada Al-Farabi dengan mengabadikan lukisan dirinya di lembaran uang kertas Kazakhstan.

Baikonur adalah sebuah kota di Kazakhstan bagian selatan. Terkenal di dunia internasional dengan kosmodrom-nya atau pusat peluncuran pesawat luar angkasa yang sudah ada sejak masa Uni Soviet. Pesawat luar angkas Uni Soviet, Sputnik, yang melegenda karena keberhasilannya mendarat di bulan, diluncurkan dari tempat ini. Kini Kosmodrom Baikonur di operasikan oleh Pemerintah Rusia dengan status sewa lahan kepada pemerintah Kazakhstan hingga tahun 2050 dengan nilai sewa mencapai US$115,000,000 per tahun. Aidyn Aimbetov adalah astronot Kazakhstan pertama yang meluncur ke angkasa luar dari Kosmodrom Boikonur di tahun 2015.

Al-Farabi di mata uang kertas kazakhstan, Tenge (KZT)

Sejarah Singkat Kazakhstan

Wilayah yang kini menjadi Republik Kazakhstan dalam sejarahnya pada awalnya dihuni oleh suku suku yang hidup nomaden. Selama berabad abad wilayah ini dipengaruhi begitu kuat oleh Turki dan Mongol, pernah juga menjadi bagian dari wilayah dinasti Abasiyah. Di abad ke 13 Gengis Khan dari Mongolia mencaplok wilayah tersebut dan menjadikannya sebagai bagian dari Kekaisaran Mongolia. Wajar bila kini secara genetik Kazakhstan merupakan perpaduan antara etnis Turki dan Mongol.

Kekuasaan Rusia mulai masuk ke wilayah itu di abad ke 18 hingga pertengahan abad ke 19 sampai ahirnya seluruh wilayah tersebut masuk ke dalam kekuasaan Kekaisaran Rusia. Seiring dengan terjadinya revousia Rusia tahun 1917 dan serangkaian perang sipil, wilayah Kazakhstan kemudian menjadi bagian dari Uni Soviet dengan nama Kazakh Soviet Sosialis Republic. Dan ketika Emperium Uni Soviet runtuh di tahun 1991, Kazakhstan menjadi negara terahir yang memproklamirkan kemerdekaan nya lepas dari Uni Soviet.

Kazakhstan pada mulanya beribukota di Almaty hingga tahun 1998 atau tujuh tahun setelah merdeka dari Uni Soviet, ibukota negaranya dipindahkan ke Astana yang merupakan kota baru yang sengaja dibangun sebagai ibukota pemerintahan negara. Hingga kini Astana menjadi kota terbesar ke dua di negara tersebut setelah Almaty.

Agama di Kazakhstan

Jumlah penduduk Kazakhstan sekitar 15.753.460 jiwa, Etnik terbesar Kazakstan merupakan keturunan dari kabilah Turki dan Mongol. Komposisi pemeluk agama di Kazakhstan yaitu 70,2 persen Muslim; 26,6 persen Kristen; 0,1 persen Budha; 0,2 Yahudi dan 2,8 persen Atheis. Sementara 0.5 persen tidak menjawab, kemungkinan Kristen dari campuran Rusia atau Eropa.

Masjid Agung Al-Maty 

Paling Makmur di Asia Tengah

Titik penting Kazakhstan bisa dilihat dari sosok negara ini yang dahulunya tak dikenal karena terpencil di wilayah Asia Tengah, kini menjelma menjadi sebuah negara dengan kekuatan minyak dunia. Ketika masih bergabung dengan Uni Soviet, Kazakhstan hanya dikenal karena masakan khasnya berupa hasil olahan daging kuda. Namun kini, Kazakhstan berubah menjadi negara paling makmur di antara negara-negara Asia Tengah. Dengan cadangan minyak sebesar 29 miliar barel, menjadikan negara ini sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di luar kawasan Timur Tengah.

Cadangan tersebut diperkirakan berlipat ganda pada dasawarsa berikutnya, sehingga mendatangkan pebisnis-pebisnis dari luar negeri. Chevron dan Exxon Mobil dari Amerika Serikat, Total dari Perancis, Gazprom dan Lukoil dari Rusia, serta Chinese National Petroleum Company dari Republik Rakyat Tiongkok sudah mengantri untuk mengeksploitasi minyak. Ladang minyak yang dia buka di Tengiz dan Kazhagan banyak menghasilkan keuntungan bagi Kazakhstan. Tiongkok bahkan merancang jalur pipa sepanjang 1.000 km untuk mengalirkan minyak dari Atasu di Kazakhstan ke Daerah Otonomi Xinjiang di Tiongkok.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Kazakhstan

Hubungan Indonesia dan Kazakhstan

Pemerintah Republik Indonesia telah menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Kazakhstan sejak 2 Juni 1993. Pembukaan hubungan diplomatik secara resmi tersebut merupakan titik awal hubungan kerja sama kedua negara, setelah sebelumnya Indonesia memberikan pengakuannya bagi proklamasi kemerdekaan negara Republik Kazakhstan, pada 16 Desember 1991. Indonesia telah menempatkan kantor Kedutaan besar Republik Indonesia di kota Astana. Duta Besar Republik Indonesia yang berkedudukan di Astana sekaligus merangkap sebagai duta besar dan berkuasa penuh Republik Indonesia untuk Republik Tajikistan. Kunjungan tingkat kepala negara pernah dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Kazakhstan di Bulan September 2013.

Indonesia dan Kazakhstan memiliki banyak kesamaan, berupa sumber daya alam melimpah, yang membuat keduanya dapat memperoleh pendapatan negara yang signifikan. Mayoritas penduduk kedua negara memeluk agama Islam, dengan keanekaragaman budaya yang melimpah dan dapat hidup berdampingan secara harmonis, serta sama-sama memiliki komitmen di bidang penegakan hak asasi manusia, supremasi hukum dan demokrasi.

Islam di Kazakhstan

Islam mulai masuk ke Kazakhstan di abad ke-8 saat bangsa Arab mulai masuk ke Kazakhstan dan memperkenalkan Islam. Bangsa Arab menguasai Transoxania (Mavarannahr) di bagian selatan Kazakhstan, terletak antara sungai Syr-dar’ya dan Amu-dar’ya dan secara bertahap berkembang hingga wilayah utara. Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Irak menguasai wilayah Kazakhstan hingga abad ke-12. Islamisasi pertama kali terjadi pada masa ini, dimana penduduk Kazakhstan saat itu masih banyak menganut Zoroaster (penyembah api), Kristen, Budha dan pagan masih banyak dianut oleh penduduk Kazakhstan. Namun proses Islamisasi ini berakhir ketika Mongol menguasai Kazakhstan pada tahun 1220-an.

Tradisi Islam. Pakaian tradisional Kazakhstan di abadikan dalam salah satu prangko resmi Kazakhstan. Dari pakaiannya terlihat tradisi Islam memang sudah mengakar dalam tradisi dan budaya Kazakhstan, sejak berabad abad yang lalu.

Gelombang kedua Islamisasi terjadi pada abad ke-18 dan 19, ketika Islam mendominasi di bidang politik saat Kazakhstan berada di bawah kekuasaan Tsar Rusia. Kekaisaran Rusia memberi ruang bagi perkembangan Islam dimasa Kazakhstan berada dibawah kendali Kazan Khanate. Gerakan nasionalisme sempat muncul di tahun 1917 digaungkan oleh kelompok nasionalis sekuler yang dikenal dengan Horde of Alash (nama legendaris bagi bangsa Kazakhs) dan mereka berhasil mewujudkannya, namun hanya berlangsung selama dua tahun (1918-1920).

Pemerintahan ini akhirnya dilindas oleh Uni Soviet, dan Kazakhstan akhirnya dijadikan salah satu republik otonom di lingkungan Uni Soviet. Berkuasanya Uni Soviet di Kazakhstan sekligus juga menghentikan perkembangan Islam periode kedua di wilayah tersebut. Seiring dengan runtuhnya Tsar Rusia dan berganti dengan rezim Uni Soviet yang berhaluan Komunis memberangus Nasionalisme dan Islamisasi di Kazakhstan.

Runtuhnya Uni Soviet

Mikhail S. Gorbachev naik sebagai penguasa Soviet pada tahun 1985-1991 dia menunjuk Gennady Kolbin sebagai penguasa di Kazakhstan, menggantikan Dinmukhamed Kunayev yang dianggap oleh pemerintah Moscow melakukan KKN. Namun kepemimpinan Kolbin tak disukai oleh warga Kazakhstan. Pada akhirnya kedudukan Kolbin digantikan oleh Nursultan Nazarbayev, seorang insinyur, pada tahun 1989.

Masjid Agung Oktobe di kota Oktober, Kazakhstan

Ketika Gorbachev mendeklarasikan perestroika, dan diikuti oleh kemerdekaan negara-negara di bawah payung Uni Soviet, pada tahun 1990, maka pada bulan Maret 1990, Kazakhstan mengadakan pemilu multipartai, dan Nursultan Nazarbayev memenangkan pemilu tersebut. Akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1991, Kazakhstan menyatakan kemerdekaannya, dan melepaskan diri dari cengkeraman Uni Soviet, Nursultan A. Nazarbayev terpilih sebagai presiden pertama di era merdeka.

Kemerdekaan negara itu memberikan ruang kepada Islam untuk kembali berkembang di Kazakhstan. Islam tumbuh dengan cepat antara tahun 1990-1995. Pembangunan masjid baru maupun menghidupkan masjid yang terbengkelai ketika komunis Soviet berkuasa dilakukan hampir seluruh kota di seluruh Kazakhstan. Hingga tahun 1991 saja, sudah 170 masjid yang dibuka di negara ini, dan lebih setengahnya adalah masjid masjid baru, dan diperkirakan komunitas Islam saat itu sudah mencapai 230 organisasi yang aktif berdakwah. Edisi al-Qur’an terjemahan pertama dalam bahasa Kazakhs yang didasarkan pada alfabet Cyrillic diterbitkan di Almaty pada tahun 1992.

Perguruan tinggi Islam banyak didirikan, terutama untuk mengkaji literatur-literatur Arab. Dengan ghirah Islam seperti itu, banyak negara-negara Islam yang bersimpati dan akhirnya memberikan bantuan dana demi tegaknya Islam di Kazakhstan, antara lain berasal dari Turki, Mesir dan Saudi Arabia. Mereka memberikan donasi sebesar US $ 10 juta untuk membangun Pusat Kebudayaan Islam (Islamic Cultural Center) di Almaty, dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Nursultan Nazarbayev, Presiden Kazakhstan pada tahun 1993.

Masjid Agung Nur Astana di Astana, Ibukota Kazakhstan

Islam dan Negara

Di tahun 1990 Nulsultan Nazarbayev yang berstatus sebagai Sekjen Partai Komunis Kazakhstan di era Soviet, mendirikan lembaga Islam negara yang lepas dari Otoritas Lembaga Islam Asia Tengah bentukan Uni Soviet yang berfungsi sebagai lembaga induk seluruh organisasi Islam di kawasan Asia Tengah. Nazarbayev kemudian membentuk lembaga Islam sendiri (Mufti) bagi muslim Kazakhstan. Pemisahan diri dari lembaga Mufti Asia Tengah tersebut justru menandai dengan tegas pemisahan agama (Islam) dari Negara.

Konstitusi Kazakhstan tahun 1993 dengan jelas melarang parta politik berbasis agama. Disusul kemudian dengan konstitusi tahun 1995 dengan tegas melarang organisasi apapun yang berlabel suku bangsa tertentu baik secara politik ataupun agama, serta memberikan pengawasan yang ketat terhadap lembaga keagamaan negara luar yang beroperasi di Kazakhstan. Konstitusi 1995 tersebut secara tegas menjadikan negara itu sebagai negara sekuler, Sekaligus menjadikan Kazakhstan sebagai satu satunya negara Asia Tengah yang tidak memberikan status khusus apapun kepada Islam dalam konstitusinya, meskipun negara tersebut menjadi bagian dari Organisasi Konfrensi Islam (OKI).

Kazakhstan menjadi sebuah negara berpenduduk mayoritas muslim namun memproklamirkan diri sebagai negara sekuler. Akan tetapi di sisi lain tetap mempertahankan identitas ke-Islaman-nya. Nursultan Nazarbayev berusaha memainkan peran sebagai penghubung dunia Islam di timur dengan dunia Kristen di barat, menjalin hubungan erat dengan negara negara Islam dan dunia barat namun tetap berupaya mendapatkan dukungan dari Rusia, sebagai contoh nyata adalah ketika di tahun 1994 beliau berkunjung ke ke kota suci Mekah, namun di tahun yang sama beliau juga melakukan kunjungan kenegaraan ke Paus Paulus II di Vatikan.***

-----------------

Baca Juga

Masjid Baiken Dibangun di Bekas Tempat Judi 

No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA