Sabtu, 11 Juni 2016

Masjid Rabbani Ouakam Senegal

Di teluk Ouakam kota Dakar, Masjid Rabbani dibangun oleh muslim setempat dengan cara gotong royong selama lima tahun lebih. Menurut legenda masjid ini dibangun atas petunjuk dari Allah melalui mimpi tokoh muslim setempat.

Dibangun atas Petunjuk langsung dari Allah

Legenda tentang orang suci atau para wali bukan semata mata hanya ada di Indonesia, di Negara Senegal yang berada di bagian barat benua Afrika pun, kisah yang sama meski dengan nama yang berbeda juga terjadi dan populer disana. Penyebaran Islam di Senegal tak lepas dari peran para tokoh tokoh Sufi yang hadir di kawasan tersebut memperkanalkan Islam sejak sebelum masa penjajahan Prancis. Saat ini, hampir semua masjid masjid besar disana memiliki keterkaitan dengan salah satu tokoh Islam terkemuka disana. Salah satu yang cukup menarik adalah Masjid Rabbani atau oleh media Eropa lebih dikenal sebagai Masjid Divinity di kawasan Ouakam dipinggiran kota Dakar.

Menurut legenda setempat masjid ini dibangun atas petunjuk langsung dari Allah kepada Syeikh Muhamed Seyni atau biasa dipanggil Sangabi melalui mimpinya pada malam Jum’at tanggal 28 Juni tahun 1973. Disebutkan dalam legenda tersebut bahwa Syeikh Muhamed Seyni melihat ada masjid di langit dan diperintah untuk menyaksikan masjid tersebut lalu mengikutinya sampai mendarat di bumi. Saat masjid itu mulai bergerak beliau mulai mengikuti masjid yang terbang ke di atas desanya terus bergerak hingga ke teluk Ouakam dan turun disana. Beliau mengitari masjid tersebut dan melihat Tulisan Allahu Akbar di atas pintu besarnya yang ditulis dengan warna emas. Setelah itu masjid tersebut menghilang.


Dibangun dengan Tangan

Mohamed Seyni memerintahkan pengikutnya untuk membangun masjid tersebut pada tahun 1992. Pekerjaan dimulai tahun itu juga meski dengan situasi yang tak mudah. Lokasi yang ditunjuk berada di teluk tepi laut yang sulit untuk dijangkau dan tidak ada transportasi umum yang tersedia ke daerah tersebut sehingga cukup menyulitkan bagi para pengikutnya. Sebagai Khalifah dari Tharikat yang dipimpinnya Syeikh Seyni sendiri tidak memiliki cukup cadangan dana untuk pembangunan masjid tersebut ditambah lagi dengan kritikan dari banyak pihak yang mengatakan “bagaimana mungkin seseorang yang bahkan tidak memiliki kemampuan untuk membangun rumahnya sendiri dengan baik, dapat membangun masjid besar dua lantai”. Tapi keyakinan Muhammad Seyni tak tergoyahkan, Bahwa Allah yang memberinya perintah membangun masjid ditempat itu tidak akan menolongnya, dan dia tidak butuh bantuan dari siapapun termasuk dari negara.

Para pengikut Sangabi memberikan kontribusi pembiayaan meskipun penghasilan mereka tidak seberapa, beberapa orang kaya juga turut berpartisipasi mendanai proyek tersebut. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh almarhum El Hadj Ibrahima Sakho (RTA), sejak itu pekerjaan pembangunan dimulai, murni dengan cara manual tanpa bantuan peralatan berat sama sekali dan dilakukan secara gotong royong oleh para pengikut Sangabi. “kita lakukan apa yang kita mampu lakukan dengan dua tangan kita, Allah yang akan membereskan sisa nya” begitu motto yang disampaikan oleh Sangabi.

Masjid Rabbani Ouakam, indah dengan latar belakang teluk Ouakam di tepian samudera Atlantik

Tahap konstruksi

Penggalian lubang pondasi masjid ini dilakukan secara manual hingga memakan waktu berhari hari secara bergantian oleh para Jemaah. saat penggalian sudah hampir selesai hujan deras pun turun. para Jemaah begitu khawatir dengan situasi itu, mengingat lokasi nya yang berada di tepi laut di kaki perbukitan sangat rentan dengan derasnya aliran air dari daerah yang lebih tinggi dan di khawatirkan akan merusak lubang galian yang sudah mereka gali, belum lagi air akan menggenangi lubang tersebut sedangkan mereka sama sekali tidak memiliki pompa untuk mengeringkannya nanti. Hal tersebut mereka sampaikan kepada Syeikh Seyni, beliau dengan tenangnya menjawab "Siapa yang memiliki Hujan ?, Allah swt, jawab pengikutnya. Dan masjid itu dibangun atas perintah Allah, Mustahil Allah akan merusak suatu perkara yang sudah dimulai atas perintahnya”.

manakala hujan deras sudah berlalu, tidak ada kerusakan yang terjadi pada lubang yang sudah digali untuk pondasi itu dan tidak ada genangan air sama sekali, sehingga proses pembangunan dapat dilanjutkan tanpa hambatan. Pembangunan dilanjutkan dengan cara yang benar benar manual, tanpa bantuan peralatan yang memadai, semuanya dilakukan dengan tangan, termasuk mengaduk semen dan pasir hingga mengangkat dan memindahkannya hingga ke puncak Menara semuanya dilakukan dengan tangan atau dipanggul dibahu. Perempuan dan anak-anak tidak ketinggalan, masing-masing membantu yang bisa mereka lakukan. Pada saat proses pengecoran para Jemaah berjejer rapi memindahkan adukan semen dalam ember secara estafet. Tradisi yang mirip dengan tradisi gotong royong di Indonesia.

Proses pembangunan masjid Rabbani Ouakam.

Bagian yang paling berbahaya dari pembangunan masjid ini adalah pada saat pembangunan menaranya. dari foto foto dokumentasi pembangunannya, terlihat para Jemaah yang memiliki nyali luar biasa berdiri dengan tanpa rasa takut di ujung Menara masjid ini saat proses pembangunannya sedang berlangsung. Disebutkan bahwa selama proses pembangunan masjid ini para Jemaah melakukan pekerjaan nya sambil tak henti hentinya melantunkan zikir La Illakha Illala. Mohamed Seyni yang menggagas pembangunan masjid ini berkali kali meneteskan air mata hari melihat semangat para pengikutnya dalam membangun masjid tersebut. Mohamed Seyni sendiri sebelumnya sudah terlibat dalam pembangunan masjid Agung Touba sebagai akuntan.

Proses pembangunan masjid ini seluruhnya selesai dalam waktu 5 tahun 5 bulan 5 hari sejak pertama kali dimulai dan diresmikan pada bulan Oktober 1997 dihadiri oleh ribuan pengikut Muhamed Seyni yang selama lima tahun bekerja keras dalam artian sebenarnya membangun masjid tersebut dengan tangan mereka. Masjid Rabani disebut sebut sebagai yang memiliki arti khusus, Bila Ka’bah adalah awal waktu maka Masjid Rabbani adalah Ujung waktu, Bila Ka’bah diturunkan sebelum kedatangan Khalifah pertama maka Masjid Rabbani dibangun setelah khalifah terahir, bila Ka’bah ada di timur, maka masjid Rabbani ada di barat.


Mohamed Seyni

Mohamed Gueye Seyni, lahir pada tanggal 19 Juli 1926 di desa Ouakam, Beliau adalah salah satu pengikut dekat Syeik Amadou Bamba, pendiri dari Tharikat Maouridiyyah yang berpusat di kota Touba. Muhamed Seyni pernah ditunjuk menjadi Akuntan dalam pembangunan Masjid Agung Touba sehingga beliau cukup memiliki pengalaman dalam pembangunan sebuah masjid. Syeikh Seyni Wafat pada tahun 2007.

Tentang Desa Ouakam

Desa Ouakam atau Wakam merupakan salah satu desa dipinggiran kota Dakar (ibukota Senegal). Mayoritas penduduk desa ini adalah para nelayan dari suku Lebou. Di masa penjajahan desa ini merupakan markas para penembak jitu pasukan Senegal. Kini desa ini menjadi markas bagi beberapa pasukan militer termasuk pasukan Akademi Militer Nasional dan pangkalan Militer Angkatan Udara Senegal.

Masjid dan mausolium biasanya berdekatan, adalah suatu yang lumrah di Senegal. 


--------------------------------

Baca juga


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang berkomentar berbau SARA