Rabu, 04 Mei 2016

Islamic Center Turath, Estonia

TAK MIRIP MASJID. Bangunan Islamic Center Turath di kota Tallin, Estonia
Islamic Center Turath berada tidak jauh dari bandara Ülemiste kota Tallin, Ibukota Estonia. Secara resminya masjid ini bernama Kultuuri Keskus Turath atau Cultural Center Turath. Tidak ada kata Masjid ataupun Islam di nama resminya. Sama seperti halnya dengan bangunan masjidnya yang sama sekali tidak mirip dengan bentuk masjid pada umumnya. Bangunan masjid yang berdiri diantara gedung gedung bertingkat di kota Tallin diantara hingar bingar kota yang ahirnya mengizinkan pembangunan masjid setelah perjuangan bertahun tahun muslim disana, meski dengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi termasuk tentang penggunaan nama dan bentuk bangunan yang disebutkan tadi.

Masjid ini dapat dicapai menggunakan bus Nomor 65, 15 dan 7. berhenti di perhentian bus Dvigateli, lalu menyeberang jalan dibelakang Universitas. Masjid ini berada di sebelah gedung the big black Microlink building. bila dari pusat kota dapat menggunakan bus nomor 2. kemudian berhenti di disebelah Ülemiste shopping center, lalu menyeberang jalan berbelok ke kiri kemudian ke kanan. Imam Masjid ini Mufti Ildar Muhhamedšin dapat memandu anda menuju masjid ini, beliau mampu berbicara dalam Bahasa Estonia, Russia, Arab, Tatar dan sedikit Bahasa Inggris. Hingga kini, masjid ini merupakan masjid satu satunya di Estonia.

9, Keevise St
11415 Tallinn, Estonia
Mufti Ildar Muhhamedšin  (00 372) 55 94 76 89(00 372) 55 94 76 89
situs resmi www.turath.ee



Berdirinya masjid dan Islamic Center di Kota Tallin, Ibukota Estonia ini tidaklah berjalan mulus. Seperti telah disinggung dalam artikel sebelumnya tentang Islam di Estonia, perdebatan panjang dan penolakan keras mewarnai pembangunan masjid ini sejak baru pada tahap wacana. Pembangunan masjid yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan muslim setempat yang digagas oleh Komunitas Muslim Azeri di negara kawasan Nordic tersebut memicu perdebatan sengit ditengah masayarakat yang mayoritas beragama Kristen di negara itu.

Diperkirakan ada sekitar 10 ribu muslim di Estonia yang berasal dari etnis Tatar dan Azeri (Azerbaijan) yang berimigrasi ke Estonia selama kekuasaan Uni Soviet. Sebelum negara tersebut menjadi bagian Soviet bahkan sudah ada komunitas muslim di kota Narva dan Tallin. Negara baru seperti Estonia yang merdeka penuh setelah runtuhnya Uni Soviet memang tidak serta merta mampu mengintegrasikan seluruh elemen masyarakatnya yang beragam etnis selain etnis Estonia yang merupakan pribumi untuk semua nya menjadi Satu Estonia yang multikultural.

Penolakan keras dari kalangan elit politik partai Kristen yang mengaku mewakili kaum Lutheranis dan Kristen Ortodok yang merupakan mayoritas di Estonia. Namun dengan jumlah 10 ribu jiwa, muslim disana bahkan sudah jauh lebih banyak dibandingkan komunitas Katholik ditambah dengan komunitas Baptis yang ada di negara tersebut. Berita tentang Islam memang sangat jarang muncul di media Estonia dikarenakan sebagian besar muslim disana tidak berbicara dalam Bahasa Estonia dalam kesehariannya tapi berbicara dalam Bahasa Rusia, juga jarang muncul di media berbahasa Rusia dikarenakan rata rata orang Estonia yang menggunakan Bahasa Rusia adalah penganut Kristen Ortodok.

Manakala wacana pembangunan masjid muncul di salah satu media pada bulan januari 2001 langsung mendapatkan tanggapan serius dari masyarakat disana dan memicu depat dan penolakan berkepanjangan termasuk dari parlemen negara tersebut. Namun demikian Walikota Tallin Jüri Mõis mengungkapkan hal yang sedikit berbeda daripada sekedar menolak mentah mentah pembangunan masjid. Beliau fokus pada lokasi masjid yang akan dibangun, harus dalam bentuk yang senada dengan bangunan yang sudah ada sehingga tidak merusak panorama kota serta tentang kemungkinan masa depan terkait dengan pariwisata dan investasi yang akan masuk ke kota itu. Sementara inisiator pembangunan masjid tersebut, Habib Gulijev menyebutkan bahwa kemungkinan wilayah Prita di Kota Tallin sebagai lokasi yang dipilih dengan pemandangan yang baik ke arah laut. Habib Gulijev adalah muslim keturunan Azerbaijan yang meraih sukses di Tallin dengan bisnis import jus pomegranad dari Azerbaijan ke Estonia.

Bagian dalam masjid Turath 
Turath Islamic Center ahirnya berdiri di tahun 2009 dengan berbagai persyaratan yang harus dipatuhi termasuk tidak diperkenankan mengumandangkan azan ke luar bangunan. persyaratan lainnya yang harus tetap dipenuhi adalah agar masjid yang dibangun bentuknya harus menyelaraskan dengan bangunan disekitarnya dan tidak menyolok. itu sebabnya bangunan masjid ini dibangun layaknya sebuah bangunan bertingkat biasa. tidak seperti bangunan masjid yang biasa kita kenal.

Kini muslim disana kini sudah memiliki tempat berkumpul resmi dan permanen untuk menyelenggarakan sholat berjamaah, pengajian dan aktivitas lainnya. Muslim dari berbagai bangsa termasuk dari Estonia sendiri, dari timur tengah, Rusia, Turki, Tatar dan lain lain tumpek plek disana secara akrab dan terbuka. Ildar Muhhamedšin, imam masjid ini selalu dengan ramah kepada siapapun yang datang ke masjid ini. Beliau bahkan masih menyimpan Al-Qur’an pemberian Kakeknya yang sudah wafat.

Dimasa pendudukan Uni Soviet di Estonia, ummat Islam disana berada dalam situasi yang teramat tidak menguntungkan. Untuk sekedar melaksanakan sholat pun mereka harus melaksanakannya secara sembunyi sembunyi karena penguasa komunis saat ini sangat melarang aktivitas peribadatan. Kondisi berubah drastic saat Estonia Merdeka, meski diskriminasi dan sentiment anti Islam juga merebak di negara itu.

Masjid Turath

Masjid Turath terbuka untuk semua muslim, Ruang sholat untuk Jemaah pria disediakan di lantai dua sedangkan Jemaah wanita ruang sholatnya berada di lantai tiga. Masing masing lantai sudah disediakan rak kayu untuk menyimpan alas kaki para jamaah. Jemaah wanita akan bergabung ke lantai dua di balik tirai pada saat sesi pelajaran Bahasa Arab dan kajian lainnya. Ruang sholat di masjid ini cukup leluasa, lengkap dengan mimbar dari kayu berukir tempat khatib menyampaikan khutbah. Seluruh lantainya ditutup dengan karpet merah sajadah. Di beberapa bagian di pasang beberapa hiasan kaligrafi.

Pemisahan ruang sholat antara jema’ah pria dan wanita ini memang hal yang mutlak dalam Islam, namun merupakan hal yang aneh bagi tradisi Eropa. Itu sebab nya hal ini menjadi salah satu hal wajib yang harus dijelaskan kepada non muslim yang berminat untuk berkunjung ke masjid, termasuk juga tentan kewajiban untuk menutup aurat.

Ada jejeran kursi di bagian shaf paling belakang. biasanya digunakan untuk jemaah yang tidak mampu untuk sholat berdiri. ataupun untuk jemaah pengajian yang tidak bisa atau tidak kuat untuk duduk dilantai.
Turath dalam Bahasa Arab berarti Heritage (warisan budaya), digunakannya nama Turath untuk masjid dan Islamic Center ini dikarenakan para pendiri masjid ini berharap para jemaahnya untuk tetap mengingat budaya (Islam) dan memperkenalkan budaya tersebut kepada siapapun yang tertarik kepada agama Islam, sebagai bagian dari usaha untuk membangkitkan kembali Islam di Estonia dari Masjid satu satu nya tersebut.

bila dibandingkan dengan Kota kota besar Eropa lainnya, perkembangan Islam di Estonia dapat dikatagorikan stagnan karena berbagai factor termasuk aturan ke-imigrasian yang mempersulit bahkan melarang masuknya imigran dari negara negara Islam ke negara tersebut. wajar bila kemudian para Pendiri masjid Di Tallin ini memberi nama Turath (Heritage) pada masjid pertama tersebut sebagai do’a untuk senantiasa mempertahankan Islamic Heritage di negara tersebut.

Sebagai pusat ke-Islaman, Masjid Turath ini menyelenggarakan pendidikan Bahasa Arab, Pembinaan pemuda / remaja muslim, sekolah minggu serta mencetak dan mendistribusikan koran koran islami ke seluruh kelompol kelompok pengajian yang tersebar di Estonia dan wilayah Baltik lainnya. Masjid Turath juga menyelenggarakan pernikahan dan pengurusan jenazah secara Islam.***

dari berbagai sumber


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang berkomentar berbau SARA