Tuesday, May 10, 2016

Islam di Bahama

BAHAMA adalah negara kepulauan di laut Karibia dengan sistem pemerintahan berbentuk commonwealth Inggris Raya. Ratu Elizabeth II adalah kepala negara Bahama diwakili oleh seorang Gubernur Jenderal.

Tahukah Kamu Dimanakah letak Bahama

Bahama atau Bahamas atau nama resminya The Commonwealth of The Bahamas, adalah sebuah negara pulau yang berbentuk persemakmuran di Karibia. Sebagai negara persemakmuran, Ratu Elizabeth II merupakan kepala negara Bahama sedangkan kepala pemerintahannya di pegang oleh Seorang Perdana Menteri. Ratu Elizabeth II menunjuk seorang gubernur Jenderal untuk mewakili dirinya di Bahama. Wilayah Bahama memiliki lebih dari 700 pulau yang terdiri dari pulau pulau besar dan kecil serta pulau karang. Luas keseluruhan wilayah daratan-nya adalah 13.878 km2, hampir setara dengan luas provinsi Sulawesi Utara (13,851.64 km2), sedangkan luas keseluruhan Bahama termasuk wilayah lautnya adalah 470,000 km2.

Bahama beribukota di Nassau yang terletak di pulau New Providence. Keseluruhan pulau di Bahama memiliki permukaan datar dengan ketinggian tak lebih dari 15-20 meter dari permukaan laut (mdpl). Titik tertinggi di Bahama hanya 63 mdpl, berada di puncak gunung Alvernia di Cat Island. Bahama bertetangga dengan Cuba, Pulau Hispanola (Republik Dominika dan Haiti) di sebelah selatan, di sebelah tenggaranya berbatasan dengan pulau Turks and Caicos, sedangkan disebelah timur lautnya berbatasan dengan negara bagian Florida Amerika Serikat. Bagi yang biasa membaca artikel misteri, hampir keseluruhan wilayah Bahama masuk dalam wilayah yang disebut segitiga Bermuda.

Sekilas Tentang Bahama

Columbus dari Spanyol merupakan pelaut Eropa pertama yang menemukan kepulauan Bahama, namun demikian Bahama tidak pernah menjadi koloni Spanyol, justru pada tahun 1718 Bahama menjadi Koloni Inggris. Suku asli disana sudah menjadi korban perbudakan sejak masa Portugis menancapkan kukunya disana sampai ahirnya dihapuskan pada tahun 1834 pada masa penjajahan Inggris. Bahama memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tanggal 10 Juli 1973, namun tetap mempertahankan hubungan dengan Inggris sebagai sebagai sebuah negara Commonwealth. Saat ini keturunan para budak dan suku Afrika merdeka yang mendiami Bahama mencapai 90% dari keseluruhan populasi negara itu.

Jumlah penduduk Bahama di tahun 2013 mencapai 319.031 jiwa, terdiri dari  83% etnis Afro-Bahamian, 15% kulit putih, 0.7% tidak tercatat, 0.6% etnis Asia dan 0.3% dari etnis lainnya. Bahasa resmi Bahama adalah bahasa Inggris dan Bahamian. Bahama memiliki mata uang Bahamian dollar (BSD) namun dolar Amerika digunakan secara luas di negara ini. Penduduk asli Bahama disebut Lucayan yang merupakan bagian dari suku Arawakan yang berbahasa Taino, tempat dimana Columbus mendarat untuk pertama kalinya di dunia baru (benua Amerika) pada tahun 1492.

Dalam hal pendapatan perkapita, Bahama merupakan salah satu negara terkaya di benua Amerika setelah Amerika Serikat dan Kanada. Dengan sumber pendapatan utamanya berasal dari pariwisata dan sektor finansial. Nama Bahama berasal dari bahasa Spanyol ‘Baja Mar’ (laut dangkal) yang mencerminkan kondisi perairan di kepulauan tersebut, dan Bahama (The Bahamas) merupakan satu dari ‘hanya’ dua negara di dunia yang nama resminya dimulai dengan awalan “The” bersama dengan “The” Gambia di benua Afrika.

Agama Agama di Bahama

Merujuk kepada wikipedia tentang Bahama Agama yang dianut penduduk Bahama di dominasi oleh agama Kristen, terdiri dari Baptis 35.4%, Anglikan 15.1%, Katholik Roma 13.5%, Pentekosta 8.1%, Gereja Tuhan 4.8%, Methodist 4.2%, Kristen lainnya 15.2%, Protestan lainnya 12%, tidak beragama atau tidak diketahui 3%, dan pemeluk agama lain nya terdiri dari 2% termasuk di dalamnya Yahudi, Islam, Baha’I, Hindu, Rastafaria, dan penganut Obeah.

Islam di Bahama

Muslim di Bahama merupakan kelompok minoritas, namun belum ada angka pasti tentang jumlah muslim yang ada di Bahama. Wikipedia dan CIA World Fact Book tidak menyebutkan jumlah ataupun rasion muslim di Bahama secara spesifik sebagaimana disebutkan di alenia sebelumnya. Hanya laporan PEW Forum di halaman 32 yang menyebut jumlah muslim di Bahama dengan sedikit spesifik yakni 0.1% dari total penduduk Bahama. Beberapa laporan perjalanan muslim yang pernah singgah ke Bahama menyebutkan ada sekitar 60 orang jemaah yang menhadiri sholat Jum’at berjamaah di Masjid kota Nassau.

Kecilnya jumlah tersebut merefresentasikan besarnya tantangan bagi muslim disana yang kesehariannya hidup ditengah tengah lingkungan non muslim. Namun demikian cukup menggembirakan bahwa di Bahama sudah ada satu Masjid yang cukup megah di kota Nassau meski masih dalam upaya untuk kemungkinan menyuarakan azan dari menaranya 5x sehari. Sejarah Islam di Bahama di mulai sejak awal 1970-an ketika beberapa mahasiswa yang sudah memeluk Islam selama kuliah di luar negeri kembali ke kampung halaman dan mulai berkumpul untuk mendalami Islam bersama sama.

Sejarah Awal

Sejarah setempat menunjukkan bahwa Islam sudah ada Bahama sejak masa perbudakan dan banyak dari mereka yang cukup terdidik, namun kerasnya perbudakan membuat Islam tidak bertahan melalui masa teramat sulit tersebut. Informasi tentang keberadaan muslim di Bahama selama masa perbudakan dapat ditemukan di kantor Pencatatan Umum Pemerintah dibawah Kementrian pendidikan Budaya. Di dalam sebuah buklet berjudul “Aspek Perbudakan” halaman 15, catatan itu menyebutkan bahwa, “….di tahun 1802 diantara para jemaah gereja terdapat 140 orang kulit putih, 35 orang bebas dan 1078 Negro dan budak lainnya. Pada saat pertama kali datang banyak diantara orang Negro tersebut menyebut diri mereka pengikut Muhammad.  Namun kemudian mereka semua telah dibabtis sebanyak 93 orang dewasa dan 41 orang bayi dalam waktu kurang dari setahun…”.

MASJID di Kota Nassau, Ibukota Bahama

Pada halaman 25 buklet yang sama ditemukan bukti lebih lanjut dari sebuah surat yang ditulis dalam hurup Arab oleh Budak Afrika yang sudah diimerdekakan dan tinggal di Carmichael 1831 CO23/84 415-20. Surat tersebut ditujukan kepada Gubernur Sir James Carmichael Smyth, dari Budak Afrika merdeka yang tinggal di Adelaide. Budak Afrika yang sudah merdeka tersebut diyakini bernama Abul Keli, seorang bangsawan Afrika dari suku Ibo yang kemudian ditangkap oleh pedagang budak karena dianggap sebagai dagangan potensial, namun kemudian dia diselamatkan oleh intervensi berkali kali oleh angkatan laut kerajaan Inggris Raya yang menangkap kapal pedagang budak tersebut dan membawanya ke Bahama. Surat berbahasa Arab tersebut juga mengutip ayat Al-Qur’an dan sangat menarik karena kemampuan-nya menulis surat tersebut menghapus mitos bahwa semua budah Afrika adalah buta hurup.

Sejarawan terkenal, Michael Kraton, menyatakan dalam bukunya "A History of the Bahamas," "Dengan mempertimbangkan rute pengiriman yang biasa digunakan; besar kemungkinan bahwa sebagian besar orang Negro Bahama berasal dari bagian utara Afrika. Diantara mereka ditemukan berkulit sawo matang dari suku Mandingoes, Fulani dan Hausa .. " Fakta historis dan sosiologis menujukkan bahwa Mandingoes, Fulani dan Hausa suku yang mayoritas beragama Islam.

Timbuktu adalah nama yang seringkali di ucapkan oleh lidah orang orang tua Bahama dari Abaco hingga ke Inagua. Namun demikian sebagian besar orang Bahama sendiri tidak tahu bahwa Timbuktu adalah kota tua di Afrika yang sudah ada sejak sekitar tahun 1000 oleh nenek moyang orang Afrika yang kini menjadi orang Bahama. Disebutkan di dalam encyclopedia Britannica bahwa, “pada tahun 1310 Raja Mandingo, Kankan (Gongo) Musa memiliki masjid baru dibangun dan Timbuktu menjadi pusat pembelajaran Islam dan Budaya.

Dan diyakini muslim yang sama pula yang memberi alasan mengapa Christopher Columbus berlayar ke arah timur. Karena sudah di sebutkan di dalam Al-Qur’an, sehingga setiap muslim sangat faham bahwa bumi itu bundar dan sangat mungkin untuk menjelajahinya melalui jalur laut. Perjalanan global sudah menjadi pembicaraan biasa diantara kaum muslimin pada saat Eropa masih bersikukuh bahwa bumi itu datar.  Bangsa Moors dari wilayah Timbuktu telah menguasai Spanyol dari tahun 711 hingga tahun 1492.

Basil Davidson dalam bukunya "Africa", mencatat bahwa, “dalam perjalanannya ke Mekah melewati Kairo di tahun 1324, Mansa Musa yang Agung dari Mali telah menceritakan dongeng perjalanan petualangan laut yang dramatis. Dia mengatakan bahwa pendahulunya telah mengirimkan 2 kali ekspedisi besar, yang pertama empat ratus kapal dan yang berikutnya dua ribu kapal, menyeberangi lautan dalam upaya mengetahui ada apa disisi dunia yang lain namun hanya satu kapal saja beserta kru nya yang kembali.***

No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA