Minggu, 15 April 2012

Masjid Said Naum, Jakarta

Masjid Said Naum, Kebon Kacang, Jakarta (foto : AKDN)
Masjid Said Naum dibangun di atas bekas lahan pekuburan, wakaf dari Almarhum Said Naum. Pembangunan masjid ini atas gagasan dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Masjid dengan rancangan eksentrik ini dirancang oleh Atelier Enam Architects and Planners / Adhi Moersid. Masjid Said Naum dikelola oleh Pemerintah DKI Jakarta dan Yayasan Saïd Naum selesai dibangun tahun 1977 diatas lahan seluas 15'000 m².

Said Naum atau Syekh Said Naum adalah seorang Kapitan Arab pertama untuk wilayah Pekojan dimasa kolonial Belanda berkuasa di Batavia di awal abad ke 19. Beliau juga saudagar muslim kaya raya dari Palembang yang memiliki armada kapal dagang sendiri. Di tahun 1883 Syekh Said Naum mendanai perbaikan dan perluasan Masjid Langgar Tinggi Pekojan yang masih berdiri kokoh hingga kini, dan mewakafkan salah satu lahan tanah miliknya untuk digunakan sebagai lahan pemakaman umum yang kini berubah menjadi rumah rumah susun dan Masjid Said Naum[i].

Lokasi Masjid Said Naum

Masjid Said Naum
Kebon Kacang 9 No. 25, Kelurahan Kebon Kacang
Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat
DKI Jakarta 10240 - Indonesia


Sejarah Masjid Said Naum

Pembangunan Masjid Said Naum ini disayembarakan oleh pemda DKI pada tahun 1975 untuk mendapatkan rancangan yang iinginkan. Sayembara itu kemudian dimemenangkan oleh Atelier Enam Architects and Planners / Adhi Moersid.yang berhasil membuat rancangan yang memapu memenuhi kriteria utama nya yang harus merepresentasikan karakter arsitektur tradisional dan cocok dengan lingkungan sekitar dan menggunakan material local. Atas alasan itu pulalah bangunan masjid yang selesai pembangunannya tahun 1977 ini mendapatkan penghargaan honourable Mentiion dari Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1986[ii].

Lahan yang kini menjadi lahan Masjid Said Naum pada awalnya adalah lahan pemakaman umum wakaf dari Syekh Said Naum di awal abad ke 19. Gubernur DKI (kala itu) Ali Sadikin berencana memindahkan pemakaman umum tersebut untuk kemudian membangun komplek rumah susun di sana, mengingat lokasinya yang sudah tidak sesuai lagi bagi peruntukan pemakaman umum. Rencana tersebut tak pelak lagi mendapat tentangan dan protes dari masyarakat  luas.

interior Masjid Said Naum
(foto : AKDN)
Sebagian ulama mengharamkan proses ‘penggusuran makam’ sebagian lagi membolehkan dengan beberapa persyaratan, termasuk di dalamnya untuk tetap memanfaatkan lahan tersebut bagi kepentingan kemaslahatan ummat Islam agar amal jariah bagi yang mewakafkan tanah tersebut tetap mengalir. Ahli waris yang anggota keluarganya dimakamkan di areal ini sempat melayangkan gugatan ke dua pengadilan negeri Jakarta sekaligus di tahun 1975 namun semua gugatan tersebut kandas dan proses pembongkaran makam tetap dijalankan dibawah kawalan pasukan polisi dan tentara [iii]

Setelah musyawarah panjang antara pemerintah DKI Jakarta dengan para tokoh masyarakat dan alim ulama disepakati bahwa di lahan bekas pekaman umum tersebut juga akan dibangun sarana ibadah berupa Masjid dan madrasah yang pembangunan serta pengelolaannya berada di bawah kendali para tokoh masyarakat dan ulama bersama pemerintah DKI Jakarta. Selain itu untuk menjamin bahwa masjid dan madrasah tersebut berkekuatan hukum tetap dan tidak akan diambil alih pemerintah di kemudian hari maka dibentuk Yayasan Wakaf Said Naum yang akan mengelola masjid dan seluruh fasilitasnya. Kontroversi dan protes masyarakat-pun berahir.

Masjid Said Naum diresmikan penggunaannya oleh Menteri Dalam Negeri, Amir Machmud pada tahun 1975. Proses pembangunan masjid Said Naum dibiayai oleh Pemprov DKI Jakarta dan sebagai konsekwensinya Pemprov berhak membangun rumah susun di sebagian tanah wakaf tersebut. Masjid Said Naum juga dilengkapi dengan bangunan sekolah mulai dari Taman Kanak Kanak, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).Selain itu Meskipun begitu pemprov DKI tidak memberikan dana operasional bagi penyelenggaraan Masjid Said Naum. Sejak diresmikan penggunaannya hingga saat ini biaya pengelolaan masjid di dapatkan dari jemaah masjid dan dari pengelolaan parkir dari lahannya yang cukup luas.

arsitektural indonesia asli dengan atap limas bersusun di olah - 
sedemikian rupa oleh perancang masjid dengan memutar atap 
puncak masjid menghadirkan bentuk baru tanpa menghilangkan
bentuk tradisionalnya (foto : AKDN)
Arsitektural Masjid Said Naum

Rancangan Masjid Said Naum ini dapat disebut sebagai suatu rancangan yang sangat berhasil dalam upaya menghadirkan kosa bentuk masjid tradisional Jawa ke dalam ungkapan ungkapan modern Masjid yang dirancang arsitek Adhi Moersid dan tim ini jelas memperlihatkan usaha serius mengakomodasi dua kepentingan berbeda yaitu merepresentasikan karakter arsitektur lokal/tradisional dengan pendekatan modern [iv][v].

Menurut catatan tertulis dari sang arsitek, pada waktu menggarap rancangan ini sebenarnya tidak ada pretensi mengupas kemudian merumuskan bagaimana tradisi dan unsur arsitektur tradisional dapat dimasukkan kedalam rancanngan dengan mengikuti aturan atau teori tertentu. Namun yang dicoba dilakukan adalah mencarikan landasan untuk memberikan makna pada ungkapan arsitekturnya baik yang terasa maupun yang tidak terasa.

bentuk baru dari atap masjid tradisional Indonesia pada masjid
Said Naum, bentuk baru dari stock lama (foto : AKDN)
Salah satu landasan perancangan adalah keyakinan bahwa islam merupakan ajaran atau ideology yang kemanapun ia datang tidak secara langsung membawa atau memberikan bentuk budaya berupa fisik. Dimana pun islam datang ia siap memakai berbagai bentuk local/tradisional untuk dijadikan identitas fisiknya. Dari sini kita menemukan banyak bangunan bangunan tradisional yyang dengan mudah dapat berubah fungsinya menjadi masjid diberbagai masyarakat yang telah memeluk agama Islam.

Arsitektur islam dapat juga dinyatakan sebagai manifestasi fisik dari adaptasi yang harmonis antara ajaran Islam dengan bentuk bentuk local. Oleh karena itu arsitektur islam bisa amat kaya akan ragam dan jenisnya sebagaimana yang diungkapkan arsitek muslim turki Dogan Kuban bahwa tidak ada homogenitas dan kesatuan dalam bentuk dari apa yang disebut arsitektur Islam. Konsep inilah yang dipakai sanga arsitek sebagai focus sentral dalam mendisain masjid bernuansa modern diatas tanah wakaf warga keturunan mesir bernama Said Naum.

sinar matahari menerobos masuk
dari celah antara atap puncak 
dengan atap di bawahnya (AKDN)
Dari segi bentuk, gubahan pertama yang menarik perhatian adalah design atap masjid. Karena arsitektur atap merupakan salah satu cirri menonjol dalam arsitektur tradisional di Indonesia/Jawa, dapatlah dimengerti jika design ini mencoba mengambil kembali karakteristik atap masjid tradisional namun direvitalisasi.

Penampilan masjid di dominasi atap yang mencoba menggubah kembali atap tumpang atau meru tradisional yang sering ditampilkan dalam bangunan sacral di Jawa atau Bali ke dalam perwujudan baru (sumber : masjid 2000org/N Luthfi). Berbeda pada bangunan tradisional, bagian atas diputas 90 derajad dari bentuk massa bangunan masjidnya hal ini jelas memperlihatkan uusaha menarik dalam menampilkan gagasan baru untuk merevitalisasi bentuk atap local/tradisional tersebut. Bentuk seperti itu tampaknya berkembang lebih lanjut kemudian hari pada bangunan masjid masjid modern ainnya di Indonesia seperti Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makasar dan masjid Pusdai (Islamic Center) di Bandung.

bentuk atap tersebut sebenarnya juga memperlihatkan kesamaan profil dengan tipe atap tumpang dengan saka guru ditengah ruang sholat untuk menyangga atap kedua maupun ketiganya. Namun empat saka guru tersebut di dalam rancangan ini dihilangkan agar di dapat pandangan secara jelas kea rah mihrab dan tersedia ruang tempat shalat dengan bebas.

ketiadaan 4 sokoguru di tengah
masjid sebagai penyanggah atap
menghadirkan ruang yang lebih
lega di dalam masjid (AKDN)
Konsekwensi penghilangan kolom kolom saka guru di tengah tengan ruangan tersebut adalah diperlukannya struktur bentang cukup lebar. Tampaknya pilihan struktur rangka baja telah dipakai untuk menggantikan struktur kayu yang biasa pada masjid tradisional. Namun yang sangat menarik disini adalah dikembangkannya kembali konsep system atap lama pada struktur atap yang rigid sebagai self bearing structure untuk menutup ruang dengan bentang lebar. Design ini dengan jelas memeragakan pemanfaatan teknologi yang di adaptasikan dengan tradisi lokal.

Pencahayaan alami yang masuk ke ruang sholat memberi suasana nyama bagi setiap pengguna. Sementara pada bagian atas terlihat balok struktur rangka atap yang menjadi self bearing structure dari system atap tradisional yang si ekspose.

Yang juga terlihat sangat menonjol dalam rancangan masjid yang berdenah segi empat simetris ini adalah kenyamanan ruang ruangnya, yang terjadi sebab adanya bukaan di semua sisi dindingnya sehingga tercapai penghawaan silang dengan baik. Disetiap sisi dinding masjid terdapat lima jendela kayu lengkung yang lebar dengan beberapa diantaranya dipakai sebagai pintu. Uniknya bukaan bukaan ini tidak menggunaan daun jendela/pintu tetapi deretan kayu berukir/berulir berjarak tertentu dengan arah vertical yang mengisi luas jendela tersebut. model jendela seperti ini mengingatkan kepada rumah rumah tradisional betawi maupun masjid masjid lama di ajakarta yang dibangun sejak abad ke 18.

Bukaan tanpa daun jendela pada 
setiap sisi bangunan seperti ini 
menjadikan angin bebas bertiup 
ke dalam masjid (kompas4/11/01)
Bukaan tanpa daun jendela pada setiap sisi bangunan seperti ini menjadikan angin bebas bertiup ke dalam bangunan sehingga tercapai penghawaan silang. Nampaknya ini merupakan salah satu kunci kenyamanaan karena mengadaptasi kondisi iklim lokal (sumber masjid2000/N.luthfi).

Penggunaan sirkulasi yang mudah dan jelas juga memberi kenyamaan tersendiri dari bangunan berkarakter public ini. selain itu penggunaan bentuk atap juga sangat cocok untuk bangunan yang memiliki curah hujan tinggi bajkan adanya selasar yang lebar pada semua sisi yang dapat melindungi ruang dalam / interior dari hujan dan silai akibat panas matahari luar semakin menambah kenyamanan ruang ruang masjid.

Pencahayaan alami yang dramatis dan sayup sayup lembut yang memasuki ruangan sholat baik dari samping maupun dari lubang cahaya dari pertemuan bidang miring atap yang diputar dengan atap dibawahnya sangatlah mendukund suasana kekhusu’an  sementara lampu di tengah langit langit atap sangat serasi dengan geometri yang memberikan cahaya iluminasi bagaimanapun efek pencahayaan ini memberikan kenyamanan sangat bagi setiap pengguna ketika berada di dalam masjid.

Area luar bangunanan dirancang dengan berbagai leveldengan tanaman berbeda pada masing masing tempat. Pepohonan disekeliling batas dan sebagai pengisi antar baris paving lantai menyediakan baangan dan atmosfir yang relative sejuk yang mengalir secara silang kedalam bangunan.tata letak bangunan dan penataan lanskap tersebut jelas hendak menjadikan area yang tenang, sejuk dan damai bagai oase ditengah hiruk pikuk area urban kota Jakarta. Ini menunjukkan desain bangunan yang sangat adaptif dengan iklim local.

Masjid Said Naum di rindangnya pepohonan di lahan parkirnya
(foto : AKDN)
Dengan demikian baik penampilan masjid dalam ruang dan bentuk tata letak dan penataan lanskap tampaknya sangat mendekati ideal. Kehadirannya begitu nyaman bagi kegiatan ritual ibadah seperti sholat, I’tikaf (berdiam diri dalam masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah) perenungan hingga muhasabah (mengevaluasi diri).

Ini semua tidak lepas dari kuatnya ungkapan ungkpan karakter local atau lokalitas dalam rancangan masjid baik secara keseluruhan maupun detail detailnya. Ungkapan lokalitas memang banyak di olah dan menjadi cirri penting dalam rancangan masjid modern ini. bahkan materialnya menunjukkan material lokal kecuali bahan bahan baja untuk struktur atap. ini yang tampaknya patut menjadi contoh dan perlu dikembangkan perancang/arsitek untuk bangunan masjid khususnya dan bangunan lain pada umumnya di negeri kita tercinta, Indonesia.

Foto Foto Masjid Said Naum

nuansa tradisional tanah air (Betawi) sangat kental di bagian ini.
(foto : AKDN)
platform masjid Said Naum ditinggikan dari permukaan tanah
disekitranya (foto : AKDN)
nyaris tak ada pembeda antara bukaan daun pintu dengan 
jendela masjid yang dirancang saling menyerupai (foto : AKDN)
sejuk dan tenang ditengah hiruk pikuk Jakarta yang panas dan
bising (foto : AKDN)

Referensi 

[i] Bujangmasjid.blogspot.com – masjid langgar tinggi pekojan jakarta
[ii] Akdn.org – said naum mosque
[iii] Majalah.tempointeraktif.com - setelah mesin menggiling makam
[iv] Bambang Setia Budi, Masjid Said Naum Ungkapan Lokalitas dalam Masjid Modern, harian Kompas 4 November 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang berkomentar berbau SARA